e-ISSN : x-x HUBUNGAN PERILAKU CUCI TANGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA ANAK SEKOLAH DI SD NEGERI 1 TEGALLINGGAH I Putu Ditha Satriawan1. Desak Made Firsia Sastra Putri2. Minnatun Khasha3 Cucuk Suwandi4 1,2,3,4Program Studi Keperawatan Ners. STIKES Advaita Medika Tabanan Korespondensi Penulis: iputudithasatriawan@gmail. ABSTRAK Latar belakang: Penyakit diare menjadi permasalahan utama di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. Selain penyebab kematian, diare juga penyebab utama gizi kurang yang dapat menimbulkan kematian serta juga menimbulkan kejadian yang sangat Beberapa faktor yang menjadi penyebab timbulnya penyakit diare disebabkan oleh bakteri melalui kontaminasi makanan dan minuman yang tercemar tinja atau kontak langsung dengan penderita. Selain itu, faktor yang paling dominan berkontribusi dalam penyakit diare adalah air, higenis sanitasi makanan, jamban keluarga, dan air. Tujuan: Untuk mengetahui Hubungan Perilaku Cuci Tangan Dengan Kejadian Diare Pada Anak Sekolah di SD Negeri 1 Tegallinggah. Metode: Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian deskritif correlation yang menggunakan pendekatan cross pada 47 orang yang dipilih secara total sampling. Dikumpulkan data dengan kuesioner perilaku cuci tangan dan kejadian diare. Uji statistik yang digunakan adalah korelasi Spearman. Hasil: hasil pengukuran perilaku cuci tangan yang baik 16 orang dengan persentase 0% , perilaku cuci tangan yang cukup 13 orang dengan persentase 27. dan perilaku cuci tangan yang kurang 18 orang dengan presentase 38. Berdasarkan uji Spearman di dapatkan hasil dengan nilai signifikan adalah p=0,000. Simpulan: Ada hubungan perilaku cuci tangan dengan kejadian diare pada anak sekolah SD Negeri 1 Tegalinggah. Kata kunci: cuci tangan, diare, anak sekolah,SD PENDAHULUAN World Health Organization (WHO) tahun 2024 menyatakan bahwa antara 5 dan 10 juta orang meninggal setiap tahun akibat diare, yang terus menjadi penyeba utama kematian secara global Tingkat morbiditas dan kematian yang signifikan terkait dengan diare merupakan indikator yang baik dari tingkat keparahan masalah ini (Malau & Hutapea, 2. Penyakit diare merupakan penyebab kematian ketiga pada anak di bawah 5 tahun dan menyebabkan kematian 832 anak setiap tahunnya. Diare dapat berlangsung selama beberapa hari dan menyebabkan tubuh Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 kekurangan air dan garam yang diperlukan untuk kelangsungan hidup. Di masa lalu, bagi kebanyakan orang, dehidrasi parah dan kehilangan cairan merupakan penyebab utama kematian akibat diare. Kini, penyebab lain seperti infeksi bakteri septik kemungkinan besar menjadi penyebab peningkatan proporsi kematian akibat diare. Anakanak yang kekurangan gizi atau memiliki gangguan kekebalan tubuh, serta orang yang mengidap HIV, adalah kelompok yang paling berisiko terkena diare yang mengancam jiwa Diare merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak diseluruh dunia, termasuk Indonesia. e-ISSN : x-x Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare. Dari tahun ke tahun diare tetap menjadi salah satu penyakit yang menyebabkan mortalitas dan malnutrisi pada anak. Diare atau dikenal dengan sebutan mencret memang merupakan penyakit yang masih banyak terjadi pada masa kanak-kanak dan bahkan menjadi salah satu penyakit yang banyak menjadi penyebab kematian anak yang berusia dibawah lima tahun . Kematian anak di Indonesia sangat tinggi. Indonesia keenam dengan angka kejadian sekitar 6 juta bayi yang mati pertahunnya. Kematian anak dan balita disebabkan oleh penyakit diare, bahkan untuk mengdiagnosis diare, maka pemeriksaan antigen secara langsung dari tinja mempunyai nilai sensifitas mencapai . -90%) (Sasarari et al. , 2. Berdasarkan data Kemenkes tahun 2023, kasus diare pada Mei 2023 Indonesia Angka tersebut turun menjadi 260 kasus pada Juni 2023 dan kembali turun menjadi 177. 780 kasus pada Juli 2023, sedangkan kenaikan kasus terjadi pada Agustus 2023 215 kasus (Kemenkes. Faktor-faktor memengaruhi prevalensi data diare di Bali Akses bersih dan sanitasi: Kurangnya akses air bersih baik dapat Kebiasaan higiene yang buruk, seperti tidak mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dan sebelum makan, dapat meningkatkan risiko diare,jumlah penderita . di kabupaten Tabanan mencapai 5. orang (Dinas Kesehatan Provinsi Bali,2. Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 Cuci tangan adalah suatu prosedur atau tindakan membersihkan tangan dengan menggunakan sabun dan air yang mengalir atau hand rub dengan antiseptik . erbasis alkoho. Cuci adalah proses kotoran dan debu secara mekanis dari kulit kedua belah tangan memakai sabun dan air. Tujuannya adalah untuk menghilangkan kotoran dan debu secara mekanisme dari permukaan kulit dan jumlah mikroorganisme sementara. Perilaku berbeda dengan perilaku cuci tangan yang merujuk pada kata kiasan. Mencuci tangan baru dikenal pada akhir abad ke-19 dengan tujuan menjadi sehat saat perilaku dan pelayanan jasa sanitasi menjadi penyebab penurunan tajam angka kematian dari penyakit menular yang terdapat pada negaranegara kaya . Perilaku ini diperkenalkan bersamaan dengan ini isolasi dan pemberlakuan teknik membuang kotoran yang aman dan penyediaan air bersih dalam jumlah yang mencukupi (Finamore et al. Dengan mencuci tangan, semua orang bisa terhindar dari penyakit. terkadang, orang melakukan sesuatu hal tanpa mencuci tangan karena mereka merasa kalau tangannya masih bersih. Tujuan diselenggarakannya kesehatan sekolah yaitu peserta didiknya dapat belajar, tumbuh menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan oleh peneliti di SD Negeri 1 Teggallinggah pada tanggal 4 April 2023 Dari 10 siswa yang diwawancarai hanya 2 orang yang tidak mengalami diare. selama 3 bulan terakhir terdapat 5 siswa dari 10 siswa dengan siswa kelas 4 dan 5 terkena Setelah ditelusuri anak yang yang pernah mengalami diare kurang e-ISSN : x-x pendekatan cross sectional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas . erilaku cuci tanga. dan variabel terikat . ejadian diar. memahami dan tidak melakukan Cuci tangan pakai sabun(CTPS) dengan baik dan benar, walaupun sering diajarkan oleh guru dan orang tua dirumah. Maka peneliti tertarik untuk meneliti perilaku cuci tangan terhadap kejadian diare pada anak sekolah. Perilaku adalah respon atau reaksi individu terhadap stimulasi yang berasal dari luar atau dari dalam dirinya (Setyobudi et al. Pengertian perilaku menurut Skiner dalam perilaku kesehatan secara umum . terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian SD Negeri 1 Tegallinggah Kecamatan Kabupaten Tabanan. Kepala sekolah Ibu Ni Made Sulasmi. Pd yang dibantu oleh wakil kepala sekolah. Jumlah kelas yang dimiliki oleh SD Negeri 1 Tegallinggah adalah 6 kelas. Jumlah seluruh siswa 95 orang, 39 orang laki-laki dan 56 orang Fasilitias yang ada di SD Negeri 1 Tegallinggah antara lain, ruang pembelajaran umum yang terdiri dari ruang belajar. Adapun ruang penunjang meliputi ruang kepala sekolah, ruang guru, toilet, dan kantin. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif, dengan desain penelitian deskritif Tabel 1 Distibusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di SD Negeri 1 Tegallinggah Jenis kelamin Laki Ae laki Perempuan Total Frekuensi . Persentase (%) Tabel 2 Distibusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur di SD Negeri 1Tegallinggah Umur 10 tahun 11 tahun 12 tahun Total Frekuensi . Persentase (%) Tabel 3 Distibusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku cuci tangan Tegallinggah Perilaku cuci tangan Baik Cukup Kurang Total Frekuensi . Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 di SD Negeri 1 Persentase (%) e-ISSN : x-x Tabel 4 Distibusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kejadian diare tangan di SD Negeri 1 Tegallinggah Kejadian Diare Frekuensi . Persentase (%) Tidak diare Diare Total Tabel 5 Distibusi Frekuensi Responden Berdasarkan Perilaku cuci tangan dengan kejadian diare di SD Negeri 1 Tegallinggah Kejadian Diare Perilaku Total p-value Tidak pernah Pernah Baik 15 . Cukup 2 . ,6%) Kurang 1 . Total Berdasarkan distribusi tabel 1 menunjukkan, bahwa pada siswa kelas IV. V dan VI yang berjumlah 47 orang frekuensi responden sebagian besar berjenis kelamin Perempuan yaitu 29 orang dengan persentase 61. Berdasarkan menunjukkan, bahwa pada siswa kelas VI. V dan VI yang berjumlah 47 orang frekuensi responden sebagian besar berada pada usia 11 tahun yaitu 20 orang dengan persentase 42. Berdasarkan pengukuran perilaku cuci tangan yang baik 16 orang dengan persentase 34. , perilaku cuci tangan yang cukup 13 orang dengan persentase 27. perilaku cuci tangan yang kurang 18 orang dengan presentase 38. Berdasarkan tabel 4 hasil pengukuran kejadian diare didapatkan data sebagian besar pernah mengalami diare sebanyak 29 orang dengan persentase 61. 7% dan siswa tidak pernah mengalami diare sebanyak 18 orang dengan persentase Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat bahwa dari 16 orang anak dengan perilaku cuci tangan baik, sebanyak 1 responden . 3%) anak pernah mengalami diare dan sebanyak 15 responden . 8%) anak tidak pernah mengalami diare. Dari 13 orang Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 anak dengan perilaku cuci tangan cukup sebanyak 11 responden . ,6%). anak pernah mengalami diare dan sebanya 2 responden . ,4%) anak tidak pernah mengalami diare. Dari 18 orang anak dengan perilaku cuci tangan kurang, sebanyak 17 responden . ,4%) anak pernah mengalami diare dan 1 responden . 6%) anak tidak pernah mengalami diare. Perilaku atau aktivitas yang ada pada individu atau organisme itu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari adanya stimulus atau rangsangan yang mengenai individu atau organisme Menurut (Ilmiah & Pendidikan, 2. menyebutkan perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu diperlukan untuk menimbulkan reaksi yakni yang disebut rangsangan. Rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu. Perilaku dapat juga diartikan sebagai aktivitas manusia yang timbul karena adanya stimulasi dan respons serta dapat diamati secara langsung maupun tidak Penelitian dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Purwandari, et al kebiasaan mencuci tangan sebagian besar cukup sebanyak 41,7%. Penelitian e-ISSN : x-x serupa dilakukan oleh Utomo, et al . , perilaku cuci tangan pada usia sekolah dasar sebagian besar cukup sebanyak 38,1%. Hasil penelitian ini sejalan dengan Rompas . menyebutkan bahwa sebagian besar responden anak Sekolah Dasar di SD GMIM 2 Lansot yang perilaku baik dalam mencuci tangan ada 55 orang anak atau sebanyak 93,2%, sebagian anak di SD GMIM 2 Lansot tidak terkena diare sebanyak 18,6%. Ada hubungan antara perilaku cuci tangan pakai sabun dengan kejadian diare pada anak di SD GMIM 2 Lansot. Peneliti mengasumsikan temuan dari hasil penelitian ini sebagian besar responden berperilaku cuci tangan dengan kategori kurang hal ini disebabkan karena kurangnya perilaku cuci tangan yang benar yang disesuaikan dengan alat ukur yaitu kuisioner hasil pengukuran perilaku cuci tangan yang baik 16 orang dengan 0% , perilaku cuci tangan yang cukup 13 orang dengan persentase dan perilaku cuci tangan yang kurang 18 orang dengan presentase 3% Diare adalah suatu keadaan abnormal dari pengeluaran berak dengan frekuensi tiga kali atau lebih dengan melihat konsisten lembek, cair sampai dengan atau tanpa darah dan lendir dalam tinja (Jeinrompas et al. Diare merupakan penyakit menular yang dapat ditularkan melalui tangan yang tidak bersih. Penjamah makanan dengan hygiene perorangan yang rendah dan kebiasaan sanitasi yang tidak baik, lebih sering Penderita diare cair mengeluar kantinja yang mengandung sejumlah ion natrium, klorida, dan bikarbonat. Kehilangan air dan elektrolit ini bertambah bila ada muntah dan kehilangan air juga meningkat bila ada panas. Hal ini dapat Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 metabolik, dan hipovolemia. Dehidrasi merupakan keadaan yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan hipovolemia, kolaps kardiovaskuler dan kematian bila tidak diobati dengan Dehidrasi yang terjadi menurut tonisitas plasma dapat berupa dehidrasi . Menurut derajat dehidrasinya bisa tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan, dehidrasi sedang atau dehidrasi berat (Leksana, 2. Hasil penelitin ini bersesuain dengan Resiyanthi dkk . menyebutkan bahwa sebagian besar anak SD Negeri Awan pernah mengalami diare. serupa juga ditunjukkan pada penelitian yang dilakukan oleh Nurul Wahida Harahap. Karina Sugih Arto. Supriatmo. Dina Arwina Dalimunthe . begitu pula penelitian yang dilalukan oleh Happy Kurnia Sari. Rina Nur Hidayati. Heri Triwibowo . Penelitian dilakukan Hamzah . menyebutkan di Desa Muara Badak Ilir Kabupaten Kutai Kartanegara dengan jumlah sampe 61 responden yang mempunyai balita usia 7-24 bulan, menemukan faktor risiko yang secara signifikan berhubungan dengan kejadian diare adalah perilaku cuci tangan responden. Responden yang tidak mencuci tangan berisiko 6,6 kali lebih besar untuk anak mereka mengalami diare. Peneliti, mengasumsikan kejadian diare pada anak SD Negeri 1 Tegallinggah adalah tangan yang kotor atau terkontaminasi, dimana kondisi tersebut dapat memindahkan bakteri dan virus pathogen dari tubuh, feses atau sumber lain ke makanan. Oleh karena itu kebersihan tangan dengan mencuci tangan perlu mendapat prioritas yang tinggi, walaupun hal tersebut sering disepelekan. Pencucian dengan sabun sebagai pembersih, penggosokan, dan pembilasan dengan air mengalir akan menghanyutkan e-ISSN : x-x mengandung mikroorganisme sehingga terhindar dari pencetus dari terjadinya Berdasarkan tabel 4 hasil pengukuran kejadian diare didapatkan data sebagian besar pernah mengalami diare sebanyak 29 orang dengan 7% dan siswa tidak pernah mengalami diare sebanyak 18 orang dengan persentase 38. Berdasarkan menganalisis hubungan perilaku cuci tangan dengan kejadian diare pada anak SD Negeri1 Tegallinggah, didapatkan hasil ada hubungan yang cukup perilaku cuci tangan dengan kejadian diare pada anak SD Negeri 1 Tegallinggah. Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Lariwu et al . , menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara perilaku mencuci tangan dengan kejadian diare pada Peneliti berasumsi hasil penelitian yang memiliki arah negatif tersebut mengindikasikan bahwa semakin baik perilaku cuci tangan pada anak sekolah dasar maka anak tersebut cenderung tidak mengalami diare. Dengan mencuci tangan pakai sabun merupakan salah satu upaya pencegahan melalui tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun. Tangan manusia seringkali menjadi agen yang membawa kuman daan menyebabkan patogen berpindah dari satu orang atau dari alam ke orang lain melalui kontak langsung atau tidak langsung. Mencuci tangan menggunakan sabun adalah lebih efektif karena lemak dan kotoran yang menempel akan terlepas saat tangan digosok dan bergesek dalam upaya melepasnya. Di dalam lemak dan kotoran yang menempel inilah kuman Sejalan dengan (Sabrina et al. , 2. mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kejadian diare pada anak adalah: sumber air, jamban, kebiasan jajan, dan kebiasaan cuci tangan pada anak. (Prawati, 2. Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 menyebutkan perilaku membersihkan tangan menggunakan sabun sesudah buang air besar termasuk dalam 5 melakukan cuci tangan selain setelah memegang hewan peliharaan, sebelum sebelum makan. Perilaku masyarakat yang membersihkan tangan dengan sabun setelah buang air besar dapat menurunkan kasus kematian akibat Mencuci tangan dengan sabun adalah perlindungan penting karena lingkungan dan makanan. (Prawati, 2. juga mengungkapkan bahwa salah satu cara untuk menurunkan penyakit diare adalah dengan cara mencuci tangan menggunakan sabun. Mencuci tangan dengan sabun dapat Kuman diare tersebut biasanya menyebar melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi serta kontak langsung dengan orang yang Seberapa besar hubungan cuci tangan dengan kejadian diare dari hasil penelitian di dapat data sebagaian besar perilaku cuci tangan kurang dengan pernah mengalami diare sebanyak 18 orang dengan presentase 94,4% berdasarkan uji korelasi dengan menggunakan Spearman di dapatkan hasil dengan nilai signifikan 0,000 dengan p <0,05. Dapat disimpulkan ada hubungan perilaku cuci tangan dengan kejadian diare pada anak sekolah SD Negeri 1 Tegallinggah. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian ada dengan kejadian diare pada anak sekolah SD Negeri 1 Tegallinggah dapat disimpulkan beberapa hal yaitu: Dari sebagian besar jumlah anak usia 4,5 dan 6 tahun di SD Negeri 1 e-ISSN : x-x Tegallinggah berperilaku cuci tangan cukup baik. Pada penelitian ini yang telah dilakukan didapatkan kejadian diare sebagian besar pada anak usia 4,5 dan 6 tahun di SD Negeri 1 Tegallinggah pernah mengalami Ada hubungan perilaku cuci tangan dengan kejadian diare pada anak SD Negeri 1 Tegallinggah. REFERENSI