Volume 4 Nomor 2 . Hal. MIMBAR PGSD FLOBAMORATA ISSN: 2988-2982 (Onlin. Journal Homepage: https://e-journal. id/index. php/mpf PENGUATAN ETIKA DIGITAL SISWA SEKOLAH DASAR MELALUI LITERASI TEKNOLOGI: STUDI DESKRIPTIF Reni Setyowati1*. Evarianisa Endang Trisnani1 . Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Fakultas Tarbiyah. IAI YPBWI Surabaya. Indonesia uO* renisetyowati@iaiypbwi. Article History Submitted : 19/04/2026 Revised : 24/04/2026 Accepted : 28/04/2026 Published : 30/04/2026 Kata Kunci: Etika. Media Sosial. Peran Guru. Sekolah Dasar Keywords: Ethics. Social Media. Teacher's Role. Elementary School Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran guru sekolah dasar dalam membentuk etika digital siswa di era media sosial. Dengan meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan anak-anak dan remaja, pendidikan etika digital menjadi sangat penting untuk memastikan siswa dapat menggunakan teknologi dengan bijak dan bertanggung jawab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain satu kelompok tunggal . ne-group post-test onl. Desain ini digunakan untuk mengetahui gambaran pengetahuan/sikap siswa setelah intervensi, tanpa pembandingan kelompok kontrol. Subjek penelitian ini siswa kelas V sejumlah 28 siswa SD Masjid Syuhada Yogyakarta. Analisis data dengan cara reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa . siswa menggunakan media sosial untuk aktualisasi diri dan visualisasi, . frekuensi mengakses media sosial tergantung pada kepemilikan gadget dan fasilitas yang tersedia, . dampak positif adanya media sosial untuk mempermudah komunikasi antara murid dan guru, serta sebagai sarana belajar dan mencari sumber referensi belajar. Di sisi lain, dampak negatif dari penggunaan media sosial adalah kecanduan siswa terhadap konten negatif. Temuan ini menegaskan pentingnya peran guru dalam memberikan pendampingan berkelanjutan untuk membentuk generasi digital yang beretika. Abstract: This study aims to explore the role of elementary school teachers in shaping students' digital ethics in the social media era. With the increasing use of social media among children and teenagers, digital ethics education becomes very important to ensure that students can use technology wisely and responsibly. This study uses a descriptive quantitative approach with a one-group post-test only design. This design is used to understand the overview of students' knowledge/attitudes after the intervention, without comparing a control group. The subjects of this study were 28 fifth-grade students at SD Masjid Syuhada Yogyakarta. Data analysis was conducted through reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study show that . students use social media for self-actualization and visualization, . the frequency of social media access depends on gadget ownership and the available facilities, . the positive impact of social media in facilitating communication between students and teachers, as well as serving as a means for learning and seeking learning references. On the other hand, the negative impact of using social media is students' addiction to negative content. These findings emphasize the importance of the teacher's role in providing continuous guidance to shape an ethical digital generation. This is an open access article under the CC-BYAeSA license PENDAHULUAN Era digital terlahir karena kemajuan zaman serta diiringi dengan kecanggihan teknologi. Di era digitalisasi dan era milenial sekarang ini, banyak berbagai kalangan memanfaatkan teknologi untuk keperluan dibidang tertentu bahkan dalam dunia pendidikan. Pengaruh positif penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan di Indonesia diantaranya, sebagai sumber ilmu dan pusat pendidikan. Munculnya media massa khususnya media elektronik seperti jaringan internet, lab komputer di sekolah, dan lain-lain sangat membantu baik guru maupun siswa dalam melakukan proses pembelajaran. Penggunaan media sosial bagi anak-anak seharusnya ada pengawasan dan bimbingan baik dari guru dan orang tua agar anak tidak terjerumus kepada hal yang tidak baik. Karena perkembangan anak tergantung kepada bagaimana orang Setyowati. & Trisnani. Mimbar PGSD Flobamorata. Vol. Hal. tuanya di rumah mengawasi anak, membimbing dan memberikan gizi yang baik kepada anak. Selain itu perkembangan yang dipengaruhi oleh media juga akan membentuk karakter dan kepribadian anak. Apa yang anak lihat, anak cenderung meniru dari teknologi yang mereka miliki akan membentuk diri mereka kearah mana. Maka dari itu perlu ketegasan dari orang tua agar perkembangan anak tidak menyimpang dan terpengaruh hal negatif. Hal ini sejalan dengan pemikiran tentang teknologi yang secara bertahap memberikan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. Kehidupan yang aktivitasnya banyak disandingkan dengan teknologi internet dan menggeser keberadaan media masa lalu digantikan oleh media yang lebih memudahkan Di dalam tingkat sekolah dasar, anak-anak mengalami perubahan dan perkembangan dalam hidup mereka. Hal tersebut bisa terjadi salah satu faktornya dari lingkungan. Pengaruh lingkungan akan berdampak pada proses perkembangan diri anak. Setiap anak pada sekolah dasar akan mengalami suatu perkembangan moral fisik, pengetahuan, berbahasa, sosial emosional, serta agama yang berbeda pada masa perkembangannya (Khaulani et al. , 2. Dengan adanya perkembangan media sosial saat ini banyak dampak dan perubahan yang dirasakan dari anak. Diantaranya yaitu perubahan sikap, moral dan kepribadian anak dalam bersikap ataupun belajar, hal ini terjadi karena faktor anak yang sering menghabiskan waktu bermain handphone. Siswa sekolah dasar, usia 6-12 tahun, kini sering terlibat aktif di dunia maya, namun seringkali belum memahami dengan baik tentang etika dan risiko yang ada. Fenomena ini memerlukan adanya panduan etika yang bisa membimbing mereka dalam berinteraksi secara aman dan positif di dunia digital (Annur. Pendidikan memainkan peran penting dalam perkembangan seseorang dan dianggap sebagai institusi sosial yang sangat berpengaruh dalam masyarakat. Secara umum, tujuan pendidikan adalah untuk menyampaikan keyakinan, nilai, norma, dan pemahaman dari orang dewasa kepada generasi muda. Perkembangan internet dan media sosial yang pesat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di kalangan siswa sekolah dasar, membawa tantangan baru dalam pendidikan karakter. Hasil penelitian Jalilah . menunjukkan bahwa kecanduan gadget pada anak dapat menimbulkan dampak baik ataupun buruk. Serta suatu yang dapat dijadikan dasar munculnya pengaruh buruk dalam penerapan gadget pada perkembangan fisik serta perilaku siswa sekolah dasar yakni frekuensi, perintah orang tua, penampilan dan kecanduan yang digunakan untuk istirahat, gangguan sistem saraf serebral pada anak, kantuk pada mata disebabkan oleh radiasi. Hal ini karena sinar-X pada gadget dapat memberikan pengaruh yang buruk bagi anak usia dasar salah satunya ialah menurunnya konsentrasi belajar sehingga peserta didik tersebut mengalami kesulitan dalam memahami materi ajar yang telah Selain dampak buruk ada juga dampak baiknya yakni dapat mempermudah siswa dalam mengemukakan ataupun mencari berbagai pengetahuan baru yang dapat memberikan wawasan baru sehingga siswa mampu menyelesaikan suatu permasalahan yang ditemuinya dengan pengetahuan ataupun wawasan yang telah dia miliki. Dalam proses pencapaian pembelajaran sekolah dasar, guru harus mampu menyesuaikan proses pembelajaran dengan tingkat perkembangan siswa (Desrinelti et al. , 2. Pasca belajar daring di rumah berakibatkan pada perkembangan kepribadian dan karakter siswa. Karakter siswa dalam menghargai guru dan orang lain semakin menurun dikarenakan berbagai faktor selama belajar daring yang mereka lalui. Bisa dari salah pergaulan, menonton hal buruk di handphone dan lain sebagainya. Hal ini tidak baik bagi perkembangan karakter, sosial, moril anak, karena generasi penerus bangsa harus ditanamkan nilai-nilai positif yang terdapat dalam Pancasila yang akan diwujudkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Menurut (Mutmainah & Dewi, 2. karakter itu mempunyai keterkaitan dengan kegiatan pembinaan ataupun perbaikan perilaku yang mencakup nilai luhur yang harus dimiliki oleh seorang individu berdasarkan nilai Pancasila ataupun UUD 1945. Perkembangan dalam diri siswa harus diikut sertakan dengan nilai-nilai luhur falsafah bangsa kita. Mewujudkan karakter siswa yang baik juga bisa dilakukan dengan memperbanyak literasi, aktivitas ini bisa dilakukan dengan buku, menggunakaan bacaan di internet dan bahan literasi lainnya. Pembinaan akhlak siswa sekolah dasar perlu dicapai oleh seorang pendidik agar kegiatan belajarnya dapat bermakna berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan uraian tersebut perlu memperhatikan beberapa aspek yakni, pemahaman dalam proses perkembangan moral siswa, pemahaman terkait karakter siswa sekolah dasar, pemahaman terkait pentingnya penanaman nilai moral saat kegiatan belajar disekolah (Amrah, 2. Pada setiap siswa sekolah dasar mempunyai perkembangan moral, fisik, pengetahuan, berbahasa, sosio emosional serta keagamaan berdasarkan perkembangannya (Dewi & Neviyarni, 2. Setyowati. & Trisnani. Mimbar PGSD Flobamorata. Vol. Hal. Pembinaan karakter dan aktivitas literasi jika disesuaikan dengan kondisi kita saat sekarang ini memang memprihatinkan, karena seiring berjalannya waktu, smartphone memang sangat digandrungi oleh semua orang di dunia ini, bahkan pada anak usia dini. Smartphone memiliki banyak pengaruh terhadap tumbuh kembang anak, baik positif maupun negatif, namun menentukan bagaimana pengaruhnya pada anak tergantung pada upaya orang tua dalam membantu perkembangan anak saat menggunakan smartphone serta juga dijadikan sebagai konselor intervensi pada pasokan informasi terkait pengaruh smartphone bagi masyarakat supaya tidak terjadi penyalahgunaan gadget dikemudian hari terutama sejak Hasil observasi di salah satu SD Negeri di Yogyakarta pada Januari 2026 menunjukkan bahwa sekitar 78% siswa menggunakan gawai setiap hari, terutama untuk menonton Youtube, bermain game, dan memakai media sosial sederhana seperti whatsapp. Namun, hanya sekitar 35% yang mengetahui aturan dasar etika bermedia, seperti tidak menyebarkan foto tanpa izin, menggunakan bahasa sopan, atau menjaga privasi. Guru juga menyampaikan bahwa masih ada perilaku kurang bijak dalam penggunaan media digital, seperti saling mengejek lewat pesan, meniru konten yang tidak sesuai usia, dan terlalu sering bermain gawai saat jam belajar. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tingginya penggunaan media digital dengan pemahaman etika bermedia pada siswa sekolah dasar. Perkembangan siswa dari segi bahasa, banyak siswa yang sudah bisa menggunakan gadget meniru ucapan-ucapan yang tidak baik di dalam media sosial tersebut. Mereka menjadikan ucapan tersebut tren yang sudah selayaknya tidak baik diucapkan. Selain itu dari segi perkembangan emosional juga terpengaruh, konten-konten yang terdapat dimedia sosial dapat memicu emosional yang membuat siswa mudah marah. Kemudian perkembangan moral yang semakin menurun, tidak menghargai orang tua dirumah, guru disekolah dan lingkungan sekitar. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tingginya penggunaan media digital dengan pemahaman etika bermedia pada siswa sekolah dasar. Penguatan etika digital di sekolah dasar merupakan edukasi terkait kecakapan menggunakan media digital dengan baik, benar, dan bertanggung jawab untuk memperoleh informasi pembelajaran, mencari solusi masalah, menyelesaikan tugas belajar, serta mengkomunikasikan berbagai kegiatan belajar dengan insan pembelajaran lainnya. Implementasi etika digital dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang menarik dengan menggunakan sumber digital. Sementara itu, literasi digital dengan penggunaan, etika, penyadaran kolektif bermedsos bagi siswa di sekolah dasar perlu diedukasi sesuai dengan penggunaan yang diperlukan dan terhindar dari perundungan, permainan . yang menjadi candu, korban medsos, dan korban kelalaian dalam pengelolaan waktu. Berbagai penelitian kolaboratif menunjukkan bahwa keterlibatan guru dalam pembelajaran berbasis etika digital dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang prinsip-prinsip etika digital. Misalnya, penelitian Rahmawati dan Latifah . menemukan bahwa kolaborasi guru, orang tua, dan siswa dalam kegiatan literasi digital dapat mengurangi perilaku negatif anak di media sosial dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Penelitian lain oleh Yuniarsih dan Santoso . menyatakan bahwa pembelajaran proyek digital kolaboratif membantu siswa memahami batasan etika dalam menggunakan media online. Hasil-hasil ini menegaskan pentingnya peran guru sebagai fasilitator dan teladan dalam membentuk karakter digital Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan diakui sebagai institusi sosial yang fundamental untuk mentransfer nilai, keyakinan, dan norma dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pesatnya perkembangan teknologi, khususnya penetrasi internet dan media sosial dikalangan siswa usia sekolah dasar 6-12 tahun telah menciptakan tantangan serius terhadap pendidikan karakter. Anak anak di usia ini sering berinteraksi di dunia digital tanpa bekal etika dan pemahaman risiko yang memadai. Penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan literasi digital di sekolah dasar, tetapi juga mendukung kebijakan pendidikan nasional yang menekankan pembentukan karakter dan etika di era digital. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi guru, sekolah, dan pembuat kebijakan dalam merancang strategi pembelajaran yang efektif untuk menumbuhkan etika bermedia sejak dini. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain satu kelompok tunggal . ne-group post-test onl. Desain ini digunakan untuk mengetahui gambaran pengetahuan/sikap siswa setelah intervensi, tanpa pembandingan kelompok kontrol (Widiyawati et al. , 2. Pendekatan deskriptif kuantitatif dipilih karena data utama berupa skor angket yang kemudian dianalisis dalam bentuk angka dan persentase untuk menggambarkan kecenderungan sikap siswa setelah mengikuti pembelajaran, sejalan Setyowati. & Trisnani. Mimbar PGSD Flobamorata. Vol. Hal. dengan praktik analisis kuantitatif deskriptif dalam penelitian pendidikan yang memanfaatkan frekuensi dan persentase untuk menjelaskan hasil kuesioner (Lisdiyanti et al. , 2. Penelitian deskriptif kuantitatif digunakan karena penelitian ini mencoba untuk menggambarkan fakta dan fenomena tertentu secara sistematis, detail, dan faktual. Pendekatan penelitian ini digunakan untuk menguji hipotesis yang telah Sugiyono . menjelaskan bahwa metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Kegiatan dilaksanakan di SD Masjid Syuhada Yogyakarta. Subjek kegiatan adalah 28 siswa kelas V, yang dipilih secara purposive karena berada pada jenjang kelas atas sekolah dasar dan telah mulai akrab dengan penggunaan internet serta gawai. Penggunaan responden siswa sekolah dasar sebagai fokus studi etika digital atau literasi terkait teknologi dilakukan agar dapat memotret kemampuan siswa dalam mengakses dan menggunakan media digital secara bertanggung jawab pada fase awal jenjang pendidikan formal (Sifa & Winarto, 2. Instrumen dalam penelitian ini adalah angket tertutup dengan skala Likert dan diberi nama angket etika digital peserta didik. Analisis data menggunakan analisis deskriptif yang memungkinkan analisis data dengan statistik. Secara garis besar, prosedur pelaksanaan program dapat dijabarkan ke dalam beberapa tahapan yang dapat dilihat pada pelaksanaan penelitian diawali dengan tahap identifikasi kebutuhan dan koordinasi dengan pihak sekolah. Peneliti berkomunikasi dengan guru dan kepala sekolah untuk memetakan kondisi awal literasi digital dan pemanfaatan internet oleh siswa, sekaligus menentukan kelas sasaran, yaitu siswa kelas V sebanyak 28 orang. Pada tahap ini juga disepakati jadwal kegiatan serta penyesuaian dengan fasilitas yang tersedia di sekolah, sehingga penyampaian materi dirancang terpusat melalui satu perangkat proyektor di depan kelas. Hasil identifikasi kebutuhan tersebut kemudian menjadi dasar dalam merancang fokus materi dan alur Tahap berikutnya adalah perancangan materi dan persiapan teknis. Menyusun slide presentasi yang memuat pengenalan dasar media sosial dengan bahasa yang sederhana, contoh pemanfaatan internet untuk belajar, serta prinsip prinsip etika digital, seperti kesopanan dalam berkomunikasi, perlindungan data pribadi, dan kehati-hatian terhadap tautan yang diterima. Materi diatur agar bersifat dialogis dan dekat dengan pengalaman sehari-hari siswa sekolah dasar. Secara paralel, dilakukan persiapan teknis berupa pengecekan laptop, proyektor, dan pengaturan ruang kelas untuk memastikan tampilan materi dapat dibaca dengan jelas oleh seluruh siswa. Pada saat pelaksanaan, kegiatan diawali dengan pengantar singkat mengenai tujuan penelitian dan penyampaian beberapa kesepakatan aturan selama sesi berlangsung. Pemateri kemudian memaparkan materi melalui presentasi. Sepanjang pembelajaran, siswa diajak untuk berbagi pengalaman menggunakan internet, memberi contoh perilaku sopan dan tidak sopan di ruang digital, serta mendiskusikan pentingnya memeriksa informasi dan menjaga kerahasiaan foto maupun data pribadi. Pendekatan ini dimaksudkan agar siswa tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga terlibat aktif melalui tanya jawab dan diskusi kelas. Setelah seluruh materi selesai disampaikan, siswa diminta mengisi angket post-test yang berisi lima pernyataan terkait penggunaan internet untuk belajar, kesopanan berkomunikasi secara daring, kesadaran bahwa tidak semua informasi di internet benar, kebiasaan tidak membagikan foto pribadi tanpa izin, dan kehati-hatian saat membuka tautan. Pengisian angket dilakukan secara klasikal dengan penjelasan instruksi terlebih dahulu, sehingga siswa memahami makna setiap pernyataan sebelum memberikan jawaban. Jawaban dari 28 siswa kemudian direkap dan dihitung persentasenya untuk setiap butir pernyataan, sehingga diperoleh gambaran deskriptif mengenai kecenderungan sikap siswa terhadap pemanfaatan internet secara aman dan beretika. Hasil rekapitulasi ini selanjutnya menjadi bahan refleksi bersama guru dan dasar penyusunan rekomendasi pengembangan kegiatan literasi digital dan etika digital di sekolah dasar. Setyowati. & Trisnani. Mimbar PGSD Flobamorata. Vol. Hal. Identifikasi Perancanangan Pembelajaran Evaluasi Persiapan Pelaksanaan Pelaksanaan Gambar 1. Prosedur Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan kegiatan penguatan etika digital di SD Masjid Syuhada melibatkan 28 siswa kelas V sebagai peserta utama. Seluruh rangkaian kegiatan disampaikan melalui presentasi dan demonstrasi dengan bantuan proyektor di depan kelas, sehingga seluruh siswa mengacu pada satu layar yang sama. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan konsep dasar dan contoh pemanfaatan media sosial dan internet untuk belajar, serta prinsip etika bermedia yaitu . menggunakan gawai internet untuk belajar, . menggunakan bahasa yang santun, . melakukan kroscek kebenaran berita, . menghindari konten negatif, . menghormati privasi, . berpikir sebelum mengunggah, sebagai panduan perilaku aman dan etis di ruang Peran guru merujuk pada pendekatan dan rencana yang digunakan oleh guru di sekolah untuk menciptakan pengalaman belajar yang efektif bagi siswa. Dalam konteks ini, strategi yang digunakan oleh guru berfokus pada pembentukan etika digital melalui pengajaran, pembiasaan, dan pendampingan siswa agar dapat memahami dan menerapkan nilai-nilai etika di dunia digital. Hal ini mencakup penggunaan metode yang bervariasi untuk mengajarkan etika digital secara menyeluruh, seperti pembelajaran berbasis proyek, diskusi kelompok, serta pengajaran berbasis teknologi. Untuk memotret kecenderungan sikap dan perilaku siswa setelah mengikuti pembelajaran, digunakan angket post-test yang terdiri dari lima pernyataan. Pernyataan tersebut mencakup aspek pemanfaatan internet untuk belajar, kesopanan dalam komunikasi daring, kesadaran terhadap kebenaran informasi, kebiasaan tidak membagikan foto pribadi tanpa izin, serta kehati-hatian saat membuka tautan di internet. Rekapitulasi jawaban menunjukkan bahwa 95% siswa menyatakan menggunakan internet untuk belajar, 80% menyatakan berusaha berbicara dengan sopan saat berkomunikasi secara daring, 90% menyadari bahwa tidak semua informasi di internet adalah benar, 85% mengaku tidak membagikan foto pribadi tanpa izin, dan 90% menyatakan berhati-hati saat membuka tautan di internet. Temuan bahwa 80% siswa menyatakan menggunakan internet untuk belajar sejalan dengan tujuan kegiatan untuk mengarahkan pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana pendukung proses pembelajaran, bukan semata-mata Pemanfaatan internet sebagai alat bantu belajar ini selaras dengan kerangka literasi yang menempatkan internet sebagai learning companion yang perlu dipahami dan dikendalikan secara kritis, bukan sekadar diikuti begitu saja. Etika digital mengacu pada nilai-nilai moral yang mengatur perilaku individu ketika menggunakan teknologi, terutama di dunia maya atau media sosial. Etika digital mencakup norma tentang bagaimana seseorang berinteraksi di dunia digital, seperti tidak menyebarkan informasi palsu, menghormati privasi orang lain, menghindari perundungan siber . , dan berperilaku dengan integritas saat berkomunikasi di platform online. Etika digital juga mengajarkan pentingnya tanggung jawab sosial dalam penggunaan media sosial yang aman dan bermanfaat bagi masyarakat. Dalam konteks ini, siswa biasanya terdiri dari anak-anak yang berusia sekitar 6 hingga 12 tahun, yang berada pada tahap perkembangan kognitif, emosional, dan sosial yang sangat penting. Pembentukan karakter yang baik pada peserta didik, termasuk dalam hal etika digital, sangat penting karena mereka akan Setyowati. & Trisnani. Mimbar PGSD Flobamorata. Vol. Hal. menjadi pengguna media sosial yang aktif di masa depan, pembelajaran menekankan bahwa media sosial atau internet hanyalah alat bantu dan siswa tetap perlu berpikir sendiri tampak berkontribusi pada penguatan orientasi belajar siswa terhadap teknologi. Persentase 100% pada pernyataan tentang kesopanan berkomunikasi online dan 100% pada kehati-hatian saat membuka tautan menunjukkan bahwa pesan-pesan etika digital dan keamanan dasar yang disampaikan dalam materi terserap dengan baik oleh Pengenalan aturan prinsip etika bermedia yaitu . menggunakan gawai internet untuk belajar, . menggunakan bahasa yang santun, . melakukan kroscek kebenaran berita, . menghindari konten negatif, . menghormati privasi, . berpikir sebelum mengunggah, khususnya aspek komunikasi sopan santun dan kehati-hatian terhadap tautan yang tidak jelas, memberikan kerangka sederhana bagi siswa untuk menilai perilaku mereka di ruang digital. Hasil ini juga konsisten dengan harapan penelitian yang menargetkan tumbuhnya kebiasaan bermedia digital yang aman dan etis pada siswa sekolah dasar. Secara praktis, temuan ini dapat dibaca sebagai indikasi bahwa pendekatan pembelajaran interaktif dengan contoh-contoh konkret cukup efektif untuk menginternalisasikan norma sopan santun dan kewaspadaan dasar dalam penggunaan internet. Dalam era ini, media sosial menjadi saluran utama untuk berinteraksi, berbagi informasi, dan bahkan melakukan aktivitas ekonomi dan politik. Penggunaan media sosial yang tidak bijak dapat menyebabkan masalah seperti penyebaran informasi yang salah atau perundungan online, sehingga penting untuk mengajarkan etika digital kepada siswa agar mereka bisa menggunakan media sosial dengan bijak dan bertanggung jawab. Di sisi lain, persentase kesadaran bahwa tidak semua informasi di internet itu benar . %) meskipun masih tergolong tinggi, sedikit lebih rendah dibandingkan butir sikap lainnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa kemampuan berpikir kritis terhadap informasi digital merupakan aspek yang relatif lebih menantang bagi siswa sekolah dasar dibandingkan aspek perilaku yang lebih konkret, seperti tidak membagikan foto pribadi atau bersikap sopan. Temuan ini sejalan dengan literatur yang menunjukkan bahwa keterampilan memeriksa kredibilitas informasi dan melakukan verifikasi fakta memang membutuhkan latihan yang lebih terstruktur dan berulang, bahkan ketika siswa sudah diperkenalkan dengan prinsip kehati-hatian dalam bermedia digital. Dalam kegiatan ini, aspek Aucek faktaAy lebih banyak diperkenalkan sebagai pesan konsep dan contoh kasus melalui penjelasan lisan, bukan melalui aktivitas praktik khusus, sehingga wajar bila tingkat internalisasinya belum sekuat aspek-aspek perilaku yang lebih Hasil 90% pada pernyataan Autidak membagikan foto pribadi tanpa izinAy menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah memahami pentingnya menjaga privasi dan data pribadi. Penekanan materi pada larangan membagikan nama lengkap, alamat, nomor telepon, maupun foto pribadi secara sembarangan tampaknya memberikan efek penguatan pada kesadaran privasi ini. Dari sudut pandang pengembangan literasi digital di tingkat sekolah dasar, capaian ini penting karena perlindungan data pribadi sering kali menjadi titik lemah ketika anak-anak mulai aktif menggunakan media sosial atau aplikasi berbasis internet. Tabel 1. Hasil Angket Sikap Etika Bermedia Peserta Didik Persentase Indikator Etika Bermedia Peserta Didik Penggunaan bahasa yang santun Melakukan kroscek kebenaran berita Menghindari Konten Negatif Menghormati Privasi Berpikir Sebelum Mengunggah Menggunakan gawai internet untuk belajar Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran guru sekolah dasar dalam membentuk etika digital pada siswa di era media sosial sangat beragam dan efektif. Melalui wawancara dengan guru, observasi langsung di kelas, dan analisis dokumen kurikulum, peneliti mengidentifikasi beberapa strategi kunci yang digunakan oleh guru untuk mengajarkan etika digital kepada siswa. Salah satu temuan utama adalah pentingnya pengintegrasian nilai-nilai karakter ke dalam pembelajaran. Guru-guru sekolah dasar menggunakan pendekatan yang mengaitkan prinsip-prinsip etika dengan kehidupan sehari-hari siswa. Misalnya, mereka sering menggunakan cerita dan contoh nyata untuk menjelaskan konsekuensi dari tindakan di dunia maya, sehingga siswa dapat lebih mudah memahami dan menginternalisasi ajaran tersebut. Secara umum, persentase yang tinggi pada setiap butir mengindikasikan kecenderungan sikap yang positif terhadap pemanfaatan internet secara aman dan beretika. Secara keseluruhan, pola hasil angket menunjukkan bahwa penelitian ini berhasil memperkuat aspek-aspek kunci, yakni pembiasaan perilaku bermedia yang Setyowati. & Trisnani. Mimbar PGSD Flobamorata. Vol. Hal. aman dan etis serta pemanfaatan internet untuk belajar. Hal ini konsisten dengan rancangan solusi penanaman etika digital siswa sekolah dasar yang menekankan penguatan literasi dan etika digital sebagai upaya mendorong kebiasaan baru dalam penggunaan teknologi di kalangan siswa sekolah dasar. Pembelajaran berbasis diskusi kelompok terbukti sangat efektif dalam meningkatkan kesadaran siswa tentang etika digital. Dalam diskusi ini, siswa diajak untuk berbagi pengalaman dan pandangan mereka mengenai perilaku yang baik dan buruk di media sosial. Hal ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan siswa tetapi juga mendorong mereka untuk berpikir kritis tentang dampak dari tindakan mereka di dunia maya. Penelitian menunjukkan bahwa ketika siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran, mereka cenderung lebih memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai etika digital dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, guru juga memanfaatkan teknologi dalam pengajaran etika digital. Beberapa guru menggunakan aplikasi pendidikan dan media sosial sebagai alat untuk mendiskusikan isu-isu etika yang relevan. Ini membantu siswa untuk melihat hubungan antara teori yang diajarkan di kelas dengan praktik nyata di dunia maya. Namun, tantangan yang dihadapi adalah keterbatasan infrastruktur teknologi dan kurangnya pelatihan bagi guru dalam menggunakan alat-alat digital secara efektif. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan literasi digital menjadi sangat penting agar mereka dapat memanfaatkan teknologi dengan optimal dalam proses pembelajaran. Menurut teori sosial kognitif Bandura, perilaku anak banyak dipengaruhi oleh pengamatan model perilaku orang lain, termasuk media sosial. Apabila peserta didik terbiasa melihat interaksi digital yang tidak beretika tanpa bimbingan atau sanksi sosial yang jelas, pola komunikasi yang tidak etis akan mudah ditiru dan dianggap wajar (Jonathan & Alfando, 2. Ini diperburuk oleh sistem pendampingan etika digital yang buruk di sekolah dasar. Banyak lembaga pendidikan tidak memiliki program atau aturan praktis yang membantu siswa menggunakan media sosial dengan benar (Adinda, 2. Oleh karena itu kolaborasi antara sekolah dan orang tua juga muncul sebagai faktor penting dalam membentuk etika digital pada siswa. Penelitian menemukan bahwa ketika orang tua terlibat aktif dalam pendidikan anak-anak mereka mengenai penggunaan media sosial, hasilnya lebih positif. Guru sekolah dasar telah melakukan berbagai upaya untuk melibatkan orang tua, seperti mengadakan seminar dan workshop tentang etika digital. Hal ini bertujuan untuk menciptakan keselarasan antara nilai-nilai yang diajarkan di sekolah dan yang diterapkan di rumah. Pada dasarnya sekolah memiliki peran dalam mempersiapkan siswa agar dapat memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Melihat kondisi saat ini yaitu era digital yang sedang berkembang pesat. Hadirnya teknologi tentu membawa dampak positif maupun negatif. Dampak positif dari teknologi yaitu proses pembelajaran tidak harus dilakukan di dalam kelas. Selain itu, pemberian materi yang dilakukan guru tidak lagi menggunakan kertas, melainkan dalam bentuk digital seperti aplikais google form, pesan whatsapp, paperless office dan lainnya (Manik, 2. Upaya preventif tersebut dilakukan guna terciptanya pemahaman etika berteknologi bagi siswa melalui penguatan literasi teknologi. Inayah . , dalam penelitiannya berpendapat bahwa etika komunikasi di media digital perlu dibangun agar hubungan antar para netizen di media digital bisa terjalin harmonis dan damai. Setiap pengguna gadget perlu memahami ruang lingkup etika digital diantaranya: . kesadaran, dimana memiliki peran tersendiri, kesadaran memiliki arti bahwa dalam melakukan sesuatu harus dengan sadar atau memiliki tujuan teutama dalam penggunaan media digital. tanggung jawab, dimana sikap ini diperlukan pada saat penggunaan teknologi karena tanggung jawab berkaitan dengan dampak atau akibat yang ditimbulkan dari suatu tindakan di media digital. sangat berpotensi manipulatif, mudah, dan menyediakan konten yang sangat besar menggoda penggunanya bertindak tidak jujur. Seperti, plagiasi, manipulasi, adalah contoh-contoh isu . kebajikan, dimana menyangkut hal-hal yang bernilai kemanfaatan, kemanusiaan, dan Selain dari guru, orang tua tentu memiliki peran besar dalam menghadapi dampak negatif penggunaan Orang tua berkewajiban untuk mendampingi anak dalam penggunaan teknologi, selain itu mengawasi seluruh bentuk informasi yang diterima anak melalui penggunaan gadget maka diperlukannya pemahaman mengenai etika berteknologi melalui literasi teknologi yang dapat dijadikan sebagai upaya pengawasan, pembatasan, dan pendampingan terhadap anak. Berikut upaya preventif yang dapat dilakukan oleh orang tua menurut Sisbintari & Farida . : . membatasi anak menggunakan gadget dan media digital lainnya dengan pembatasan waktu dimana menggunakan fitur kontrol waktu yang tersedia pada beberapa aplikasi, . mendorong anak melakukan aktivitas motorik lainnya, . memilihkan media atau tayangan yang tepat dan aman bagi anak, . memonitoring lingkungan dunia maya anak, . mendampingi dan memantau aktivitas anak dalam menggunakan media sosial, . menunjukkan teladan yang baik dan Setyowati. & Trisnani. Mimbar PGSD Flobamorata. Vol. Hal. positif menggunakan media sosial, dengan penggunaan gadget secukupnya . berusaha menjadi sahabat, fasilitator, motivator, role model, supporter bagi anak. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi-strategi yang diterapkan oleh guru sekolah dasar dalam membentuk etika digital pada peserta didik sangat efektif namun masih memerlukan dukungan tambahan dari berbagai pihak. Penguatan infrastruktur teknologi, pelatihan bagi guru, serta kolaborasi dengan orang tua adalah langkah-langkah penting yang perlu dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pengajaran etika digital di sekolah dasar. Gambar 2. Pemaparan Materi di SD Masjid Syuhada Yogyakarta SIMPULAN DAN SARAN Penguatan etika digital di sekolah dasar sangat penting dalam membentuk perilaku siswa yang bertanggung jawab dan etis saat menggunakan teknologi, terutama di era media sosial yang semakin Melalui penelitian ini, terungkap bahwa guru sekolah dasar telah menerapkan berbagai strategi efektif dalam mengajarkan etika digital kepada peserta didik. Pengintegrasian nilai-nilai karakter, penggunaan metode diskusi kelompok, dan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran menjadi beberapa pendekatan yang terbukti berhasil. Selain itu, kolaborasi dengan orang tua juga berperan penting dalam memastikan nilai-nilai etika digital diterapkan secara konsisten di rumah. Meskipun demikian, tantangan seperti keterbatasan infrastruktur teknologi dan perbedaan latar belakang siswa tetap menjadi kendala yang perlu diatasi. Dengan pemahaman yang baik tentang etika digital, siswa diharapkan dapat menjadi pengguna internet yang bijak, menghargai privasi orang lain, serta mampu melindungi diri dari ancaman di dunia maya. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran interaktif mampu membentuk kecenderungan sikap yang positif terhadap pemanfaatan internet secara aman dan beretika yaitu dengan pengenalan aturan prinsip etika bermedia: . menggunakan gawai internet untuk belajar, . menggunakan bahasa yang santun, . melakukan kroscek kebenaran berita, . menghindari konten negatif, . menghormati privasi, . berpikir sebelum mengunggah. Hasil ini juga konsisten dengan harapan penelitian yang menargetkan tumbuhnya kebiasaan bermedia digital yang aman dan etis pada siswa sekolah dasar. Secara praktis, temuan ini dapat dibaca sebagai indikasi bahwa pendekatan pembelajaran interaktif dengan contoh-contoh konkret cukup efektif untuk menginternalisasikan norma sopan santun dan kewaspadaan dasar dalam penggunaan internet. Bagi pihak sekolah dan guru, pembelajaran dapat diintegrasikan dalam pembelajaran tematik atau muatan lokal, misalnya melalui penyisipan contoh kasus penggunaan internet pada materi pelajaran serta penyusunan aturan kelas bermedia digital yang jelas. Sekolah juga dapat mengembangkan materi lanjutan berupa poster, lembar refleksi, atau tugas proyek sederhana yang mendorong siswa mempraktikkan perilaku aman, sopan, dan bertanggung jawab di ruang digital. DAFTAR RUJUKAN Amrah. Perkembangan Moral Anak Usia Sekolah Dasar. Jurnal Publikasi Pendidikan, 3. , 20Ae25. https://doi. org/10. 70713/publikan. Annur. , et, al. Urgensi pendidikan moral sekolah dasar dalam membentuk karakter religius di era digital menurut Henry Alexis Rudolf Tilaar. Jurnal Edukasi, 1. , 271Ae287. https://doi. org/10. 60132/edu. Setyowati. & Trisnani. Mimbar PGSD Flobamorata. Vol. Hal. Desrinelti. , et, al. Perkembangan siswa sekolah dasar: tinjauan dari aspek bahasa. JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesi. , 6. , 105-109. https://doi. org/10. 29210/3003910000 Inayah. Penguatan etika digital melalui materi Auadab menggunakan media sosialAy pada mata Pelajaran pendidikan agama islam dalam membentuk karakter peserta didik menghadapi era society Journal of education and learning sciences, 2. , 73-93. https://doi. org/10. 56404/jels. Jalilah. Analisis dampak penggunaan gadget terhadap perkembangan fisik dan perubahan perilaku pada anak sekolah dasar. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 4. , 28Ae37. https://doi. org/10. 31004/edukatif. Jonathan. , & Alfando. Teman dan persoalan hubungan toxic dalam pandangan etika Aristoteles. Jurnal Filsafat Terapan, . , https://doi. org/10. 11111/moderasi. Kayla Adinda Rizki, & Ranu Iskandar. Etika bermedia sosial: peran literasi digital dalam mencegah cyberbullying. MERDEKA: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2. , https://doi. org/10. 62017/merdeka. Khaulani. , & Irdamurni. Fase Dan Tugas Perkembangan Anak Sekolah Dasar. Ilmiah Pendidikan Dasar, 7. , 51-59. https://doi. org/10. 30659/pendas. Lisdiyanti, et, al. Pengembangan video pembelajaran berbasis kearifan lokal palembang pada subtema manusia dan lingkungan kelas V SD. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 09 . , 673684. https://doi. org/10. 23969/jp. Manik. Peran guru dalam menjaga e-safety peserta didik di era teknologi digital di Indonesia. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 4. , 5098-5108. https://doi. org/10. 31004/edukatif. Mera. , & Neviyarni. Perkembangan bahasa, emosi, dan sosial anak usia sekolah dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 7 . , 1Ae11. https://dx. org/10. 30659/pendas. Mutmainah. , & Dewi. Reaktualisasi nilai pancasila dan implementasinya sebagai upaya pembangunan karakter bangsa. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 3. , 611Ae618. https://doi. org/10. 31004/edukatif. Rahmawati. , & Latifah. Penggunaan gawai, interaksi ibu-anak, dan perkembangan sosialemosional anak prasekolah. Jurnal Ilmu Keluarga & Konsumen, 13. , 75 86. https://doi. org/10. 24156/jikk. Rosdiana. , et, al. Tingkat literasi membaca anak selama pembelajar daring saat pandemi Covid-19. Alinea: Jurnal Bahasa. Sastra. Pengajaran, 10. , https://doi. org/10. 35194/alinea. Sifa. , & Winarto. Survei literasi digital siswa kelas rendah dan siswa kelas tinggi sekolah dasar negeri di desa margasari. Jurnal Dialektika Jurusan PGSD, 12 . , 881Ae904. https://doi. org/https://doi. org/10. 58436/jdpgsd. Sisbintari. K,& Farida. Digital parenting sebagai upaya mencegah kecanduan gadget pada anak usia dini. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6. , 1562Ae1575. https://doi. org/10. 31004/obsesi. Sugiyono. Metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta Widiyawati. , et al. Penguatan pemahaman dan ketrampilan pencegahan dan penanganan bullying di SD Muhammadiyah 3 Gresik. DedikasiMU (Journal of Community Servic. , 7 . , 92Ae99. https://doi. org/10. 30587/dedikasimu. Yuniarsih. , & Santosa. Peran guru dalam menanamkan karakter positif dalam bermedia sosial: Studi SD/MI. Jurnal Perspektif, 17. , https://doi. org/10. 53746/perspektif.