Journal Physical Health Recreation (JPHR) Volume 5 Nomor 4 . September 2025 https://jurnal. id/index. php/JP e-ISSN : 2747- 013X Evaluasi Pembelajaran PJOK bagi Siswa Berkebutuhan Khusus Sekolah Inklusi di UPT SD Negeri 064022 Medan Husni Fadillah1. Aldin Pratama Lase2. Farel Adrian3. Saddam Husein4. Novita Bahri4 . hdhusni@gmail. com1, aldinlase@gmail. com2, fareladrian@gmail. com3, saddamh@gmail. mnovitabhr@gmail. Sekolah Tinggi Olahraga dan Kesehatan Bina Guna. Jl. Alumunium Raya No. Tj. Mulia Hilir. Kec. Medan Deli. Kota Medan. Sumatera Utara 20241 1. Sekolah Tinggi Olahraga dan Kesehatan Bina Guna. Jl. Alumunium Raya No. Tj. Mulia Hilir. Kec. Medan Deli. Kota Medan. Sumatera Utara 202412. Sekolah Tinggi Olahraga dan Kesehatan Bina Guna. Jl. Alumunium Raya No. Tj. Mulia Hilir. Kec. Medan Deli. Kota Medan. Sumatera Utara 20241 3. Sekolah Tinggi Olahraga dan Kesehatan Bina Guna. Jl. Alumunium Raya No. Tj. Mulia Hilir. Kec. Medan Deli. Kota Medan. Sumatera Utara Abstract. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) bagi siswa berkebutuhan khusus di sekolah inklusi UPT SD Negeri 064022 Medan menggunakan model evaluasi CIPP (Context. Input. Process. Produc. Metode penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain evaluatif. Subjek penelitian terdiri dari 1 kepala sekolah, 3 guru PJOK, 6 guru kelas, dan 45 siswa yang meliputi 12 siswa berkebutuhan khusus dan 33 siswa reguler. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara mendalam, kuesioner, dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan triangulasi sumber data. Hasil evaluasi menunjukkan aspek context berada pada kategori baik . kor 3,. , input kategori cukup . kor 2,. , process kategori kurang . kor 2,. , dan product kategori kurang . kor 2,. Faktor penghambat utama meliputi keterbatasan kompetensi guru dalam pembelajaran adaptif, minimnya sarana prasarana khusus, dan belum optimalnya sistem penilaian inklusif. Program pembelajaran PJOK di sekolah inklusi memerlukan perbaikan komprehensif terutama pada aspek implementasi dan evaluasi. Rekomendasi meliputi peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan berkelanjutan, pengembangan kurikulum adaptif, dan penyediaan fasilitas pendukung pembelajaran inklusi. Keywords: pembelajaran PJOK, siswa berkebutuhan khusus, sekolah inklusi, evaluasi CIPP, pendidikan adaptif 1 Introduction Implementasi pendidikan inklusi di Indonesia mengalami perkembangan signifikan sejak dikeluarkannya Permendiknas No. 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif yang menjamin hak pendidikan bagi semua anak tanpa diskriminasi (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2. Sekolah inklusi memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk belajar bersama dengan siswa reguler dalam satu lingkungan pendidikan yang sama, termasuk dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK). Pembelajaran PJOK bagi siswa berkebutuhan khusus di sekolah inklusi memiliki kompleksitas tersendiri karena melibatkan berbagai aspek fisik, motorik, kognitif, dan sosial yang harus disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan individual siswa (Widiyanto & Putra, 2. Pendidikan jasmani adaptif menjadi pendekatan utama yang memungkinkan ABK berpartisipasi secara aman, sukses, dan memperoleh kepuasan dalam aktivitas fisik melalui modifikasi program pembelajaran sesuai kemampuan dan keterbatasan mereka (Rahim & Taryatman. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran PJOK di sekolah inklusi masih menghadapi berbagai tantangan. Studi Syamsi . di Kabupaten Rejang Lebong menemukan bahwa evaluasi pembelajaran pendidikan jasmani ABK di sekolah inklusi berada pada kategori kurang, dengan indikator hasil pembelajaran sebesar 1,83. Penelitian Pramono dan Kustiawati . mengungkapkan bahwa banyak sekolah inklusi belum memiliki guru pendamping khusus dan guru PJOK masih kesulitan menyusun pembelajaran adaptif. Temuan serupa dikemukakan Intifadha dan Tuasikal . yang menunjukkan kurangnya pengetahuan guru PJOK tentang pembelajaran adaptif dan belum tersedianya sarana prasarana khusus untuk siswa inklusi. Dari perspektif teoretis, pembelajaran PJOK inklusif harus mengacu pada prinsip Universal Design for Learning (UDL) yang menekankan fleksibilitas dalam representasi, keterlibatan, dan ekspresi pembelajaran (Rose & Meyer, 2. Teori pembelajaran diferensiasi juga menjadi landasan penting dalam mengakomodasi keberagaman kemampuan dan kebutuhan siswa dalam satu kelas (Tomlinson, 2. Self-Determination Theory menjelaskan bahwa kebutuhan dasar otonomi, kompetensi, dan keterkaitan sosial siswa berkebutuhan khusus dapat dipenuhi melalui pembelajaran PJOK yang adaptif dan inklusif (Deci & Ryan, 2. Evaluasi pembelajaran menjadi komponen krusial dalam memastikan kualitas dan efektivitas program pendidikan inklusi. Model evaluasi CIPP (Context. Input. Process. Produc. yang dikembangkan Stufflebeam . memberikan kerangka komprehensif untuk mengevaluasi program pendidikan secara holistik. Context evaluation mengkaji kesesuaian program dengan kebutuhan. Input evaluation menilai kualitas sumber daya. Process evaluation menganalisis implementasi program, dan Product evaluation mengukur pencapaian hasil pembelajaran. Kesenjangan penelitian . esearch ga. yang teridentifikasi adalah minimnya studi evaluasi komprehensif pembelajaran PJOK inklusif yang menggunakan model CIPP di konteks pendidikan dasar Indonesia. Sebagian besar penelitian sebelumnya bersifat deskriptif atau hanya fokus pada aspek tertentu tanpa evaluasi menyeluruh. Selain itu, belum banyak penelitian yang secara khusus menganalisis pembelajaran PJOK inklusif di Sumatera Utara, khususnya Medan sebagai kota metropolitan dengan keberagaman siswa yang tinggi. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk: . mengevaluasi efektivitas pembelajaran PJOK bagi siswa berkebutuhan khusus di UPT SD Negeri 064022 Medan menggunakan model CIPP. mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam implementasi pembelajaran PJOK inklusif. merumuskan rekomendasi perbaikan program pembelajaran PJOK inklusif. 2 Method Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain evaluatif berdasarkan model CIPP (Context. Input. Process. Produc. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengukur efektivitas program melalui instrumen terstandar, sedangkan pendekatan kualitatif digunakan untuk memahami proses implementasi dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan program. Subjek Penelitian Subjek penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria: . terlibat langsung dalam pembelajaran PJOK inklusif. memiliki pengalaman minimal 2 tahun dalam pendidikan inklusi. bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Subjek terdiri dari 1 kepala sekolah, 3 guru PJOK, 6 guru kelas yang menangani ABK, dan 45 siswa kelas IV-VI yang meliputi 12 siswa berkebutuhan khusus . siswa slow learner, 2 siswa autis ringan, 2 siswa ADHD) dan 33 siswa reguler sebagai pembanding. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian dikembangkan berdasarkan model evaluasi CIPP dengan validitas konten melalui expert judgment dari 3 ahli pendidikan inklusi dan 2 ahli pendidikan jasmani. Instrumen meliputi: . Lembar observasi pembelajaran PJOK inklusif dengan 25 indikator . eliabilitas =0,. Kuesioner evaluasi CIPP untuk guru dan kepala sekolah dengan 40 item (=0,. Panduan wawancara semi-terstruktur. Kuesioner persepsi siswa terhadap pembelajaran PJOK dengan 20 item yang telah diadaptasi untuk ABK (=0,. Lembar dokumentasi program pembelajaran. Prosedur Penelitian Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan (Februari-Mei 2. dengan tahapan: . Studi pendahuluan dan penyusunan instrumen . Pengumpulan data context dan input melalui wawancara, kuesioner, dan studi dokumentasi . Observasi pembelajaran PJOK sebanyak 12 sesi untuk mengumpulkan data process . Evaluasi hasil pembelajaran . melalui tes keterampilan motorik dan kuesioner sikap . Triangulasi data dan penyusunan laporan . Teknik Analisis Data Data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif dengan kategori penilaian: sangat baik . ,26-4,. , baik . ,51-3,. , cukup . ,76-2,. , dan kurang . ,00-1,. Data kualitatif dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman . meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Triangulasi dilakukan melalui sumber data, metode pengumpulan, dan waktu pengumpulan data untuk memastikan validitas temuan. 3 Result Evaluasi Context (Kontek. Hasil evaluasi aspek context menunjukkan skor rata-rata 3,24 yang berada pada kategori baik. Analisis kebijakan sekolah menunjukkan bahwa UPT SD Negeri 064022 Medan telah memiliki visi-misi yang mendukung pendidikan inklusi dengan pernyataan "memberikan layanan pendidikan berkualitas bagi semua siswa tanpa diskriminasi" . kor 3,. Identifikasi kebutuhan siswa berkebutuhan khusus menunjukkan hasil yang baik . kor 3,. dengan adanya asesmen awal yang dilakukan tim multidisiplin. Tabel 1. Hasil Evaluasi Context Pembelajaran PJOK Inklusif Indikator Skor Kategori Kesesuaian dengan kebijakan pendidikan inklusi 3,67 Sangat Baik Identifikasi kebutuhan siswa ABK 3,33 Sangat Baik Analisis lingkungan sekolah 3,11 Baik Dukungan stakeholder 2,89 Baik Rata-rata Context 3,24 Baik Dukungan stakeholder menunjukkan skor terendah . karena keterbatasan partisipasi orangtua ABK dalam program sekolah dan minimnya kerjasama dengan institusi pendukung seperti puskesmas atau pusat terapi. Evaluasi Input (Masuka. Aspek input memperoleh skor rata-rata 2,78 yang berada pada kategori baik namun mendekati batas kategori cukup. Komponen input yang dievaluasi meliputi kualifikasi guru, kurikulum, sarana prasarana, dan sumber daya pendukung. Tabel 2. Hasil Evaluasi Input Pembelajaran PJOK Inklusif Indikator Skor Kategori Kualifikasi dan kompetensi guru PJOK 2,44 Cukup Kurikulum adaptif 3,22 Baik Sarana prasarana pembelajaran 2,33 Cukup Indikator Skor Kategori Sumber daya pendukung 3,11 Baik Rata-rata Input 2,78 Baik Kualifikasi guru PJOK menunjukkan skor terendah . karena dari 3 guru PJOK, hanya 1 orang yang memiliki sertifikat pelatihan pendidikan inklusi. Sarana prasarana juga memperoleh skor rendah . karena belum tersedianya peralatan olahraga yang dimodifikasi untuk ABK dan aksesibilitas fasilitas yang masih terbatas. Evaluasi Process (Prose. Evaluasi proses pembelajaran menunjukkan skor rata-rata 2,15 yang berada pada kategori Observasi terhadap 12 sesi pembelajaran mengungkapkan berbagai kendala dalam implementasi pembelajaran PJOK inklusif. Tabel 3. Hasil Evaluasi Process Pembelajaran PJOK Inklusif Indikator Skor Kategori Perencanaan pembelajaran 2,67 Baik Strategi 1,89 Kurang Pengelolaan kelas inklusif 2,22 Cukup Interaksi guru-siswa 2,44 Cukup Partisipasi siswa ABK 1,78 Kurang Rata-rata Process 2,15 Kurang Strategi pembelajaran adaptif memperoleh skor terendah . karena guru masih menerapkan pendekatan one-size-fits-all tanpa modifikasi signifikan untuk ABK. Partisipasi siswa ABK juga rendah . dengan observasi menunjukkan 67% siswa ABK cenderung pasif atau terisolasi selama pembelajaran. Evaluasi Product (Produk/Hasi. Aspek product menunjukkan skor rata-rata 2,02 yang berada pada kategori kurang. Evaluasi hasil pembelajaran meliputi pencapaian kompetensi motorik, kognitif, afektif, dan sosial siswa ABK. Tabel 4. Hasil Evaluasi Product Pembelajaran PJOK Inklusif Indikator Skor Kategori Pencapaian kompetensi motorik ABK 2,11 Cukup Pencapaian kompetensi kognitif ABK 1,89 Kurang Pencapaian kompetensi afektif ABK 2,33 Cukup Interaksi sosial dan inklusi 1,78 Kurang Rata-rata Product 2,02 Kurang Pencapaian kompetensi kognitif menunjukkan skor terendah . karena metode evaluasi yang belum adaptif dan standar penilaian yang sama untuk semua siswa. Interaksi sosial dan inklusi juga rendah . dengan temuan bahwa 58% siswa reguler masih menunjukkan sikap eksklusif terhadap ABK. Faktor Pendukung dan Penghambat Analisis kualitatif mengidentifikasi faktor pendukung meliputi: . komitmen kepala sekolah terhadap pendidikan inklusi. antusiasme sebagian guru untuk belajar. dukungan sebagian orangtua siswa reguler. Faktor penghambat utama adalah: . keterbatasan kompetensi guru dalam pembelajaran adaptif . % gur. minimnya sarana prasarana khusus. rasio guru-siswa yang tidak ideal . :15 dengan 4 ABK per kela. sistem penilaian yang belum 4 Discussion Hasil evaluasi pembelajaran PJOK inklusif di UPT SD Negeri 064022 Medan menunjukkan gambaran yang beragam dengan kekuatan pada aspek context namun kelemahan pada aspek process dan product. Temuan ini sejalan dengan penelitian Syamsi . yang menemukan evaluasi pembelajaran PJOK ABK di sekolah inklusi berada pada kategori kurang, menunjukkan bahwa tantangan implementasi pembelajaran inklusif merupakan fenomena yang umum terjadi di Indonesia. Aspek context yang baik mengindikasikan bahwa sekolah telah memiliki landasan kebijakan dan komitmen yang kuat terhadap pendidikan inklusi. Hal ini sesuai dengan prinsip bahwa pendidikan inklusi harus dimulai dengan perubahan paradigma dan komitmen institusional (Ainscow et al. , 2. Namun, komitmen yang baik pada level kebijakan tidak otomatis menghasilkan implementasi yang efektif tanpa dukungan sumber daya yang memadai. Keterbatasan pada aspek input, khususnya kompetensi guru dan sarana prasarana, menjadi hambatan utama dalam implementasi pembelajaran PJOK inklusif. Penelitian Pramono dan Kustiawati . mengkonfirmasi temuan ini bahwa banyak guru PJOK belum memiliki kompetensi yang memadai dalam pembelajaran adaptif. Widiyanto dan Putra . menekankan bahwa guru harus memiliki pengetahuan luas dan kreativitas dalam merencanakan pembelajaran adaptif agar dapat mengakomodasi keberagaman kebutuhan siswa. Rendahnya skor pada aspek process menunjukkan kesenjangan antara teori dan praktik pembelajaran inklusif. Strategi pembelajaran yang masih bersifat one-size-fits-all bertentangan dengan prinsip diferensiasi yang menjadi landasan pendidikan inklusi (Tomlinson, 2. Minimnya partisipasi aktif siswa ABK mengindikasikan bahwa pembelajaran belum berhasil menciptakan lingkungan yang truly inclusive. Penelitian Petrova et al. menunjukkan bahwa pendekatan co-teaching dan peer tutoring dapat meningkatkan partisipasi dan interaksi sosial siswa ABK dalam pembelajaran PJOK. Dari perspektif teoritis, rendahnya pencapaian hasil pembelajaran dapat dijelaskan melalui SelfDetermination Theory yang menyatakan bahwa motivasi dan pencapaian siswa bergantung pada terpenuhinya kebutuhan otonomi, kompetensi, dan keterkaitan sosial (Deci & Ryan, 2. Pembelajaran PJOK yang tidak adaptif dan lingkungan yang kurang inklusif gagal memenuhi kebutuhan dasar ini, sehingga berdampak pada rendahnya pencapaian siswa ABK. Temuan tentang rendahnya interaksi sosial dan inklusi sejalan dengan penelitian Salokangas dan Kasemsap . yang menekankan pentingnya pendekatan Individual Reference Norm Orientation (IRNO) dalam meningkatkan penerimaan sosial siswa ABK. Guru PJOK perlu mengembangkan strategi yang tidak hanya fokus pada aspek fisik-motorik tetapi juga memfasilitasi interaksi sosial positif antar siswa. Implikasi praktis penelitian ini menunjukkan perlunya intervensi komprehensif pada multiple Pada level guru, diperlukan program pelatihan berkelanjutan yang tidak hanya memberikan pengetahuan teoretis tetapi juga keterampilan praktis dalam mengimplementasikan pembelajaran adaptif. Pada level sekolah, diperlukan investasi dalam sarana prasarana dan pengembangan sistem penilaian yang inklusif. Pada level sistem, diperlukan kebijakan yang mendukung dengan alokasi sumber daya yang memadai. Kontribusi ilmiah penelitian ini adalah penggunaan model evaluasi CIPP yang memberikan gambaran holistik tentang pembelajaran PJOK inklusif di konteks pendidikan dasar Indonesia. Temuan ini dapat menjadi baseline untuk pengembangan model pembelajaran PJOK inklusif yang lebih efektif dan dapat direplikasi di sekolah lain dengan karakteristik serupa. Keterbatasan penelitian ini meliputi: . fokus pada satu sekolah sehingga generalisasi terbatas. periode observasi yang relatif singkat . sehingga belum dapat mengamati perubahan jangka panjang. tidak mengukur dampak pembelajaran terhadap perkembangan fisik dan psikomotor siswa ABK secara longitudinal. keterbatasan dalam mengontrol faktor eksternal yang dapat mempengaruhi hasil pembelajaran. 5 Conclusion Evaluasi pembelajaran PJOK bagi siswa berkebutuhan khusus di UPT SD Negeri 064022 Medan menunjukkan hasil yang bervariasi dengan kekuatan pada aspek context . ategori bai. namun kelemahan signifikan pada aspek process dan product . ategori kuran. Meskipun sekolah memiliki komitmen kebijakan yang baik terhadap pendidikan inklusi, implementasi pembelajaran PJOK inklusif masih menghadapi tantangan serius dalam hal kompetensi guru, sarana prasarana, strategi pembelajaran adaptif, dan pencapaian hasil pembelajaran. Faktor penghambat utama meliputi keterbatasan kompetensi guru dalam pembelajaran adaptif, minimnya sarana prasarana khusus untuk ABK, penerapan strategi pembelajaran yang belum terdiferensiasi, dan sistem penilaian yang belum inklusif. Rendahnya partisipasi aktif dan interaksi sosial siswa ABK mengindikasikan bahwa pembelajaran belum berhasil menciptakan lingkungan yang truly inclusive. Rekomendasi untuk penelitian lanjutan meliputi: . studi longitudinal untuk mengukur dampak jangka panjang pembelajaran PJOK inklusif terhadap perkembangan siswa ABK. penelitian pengembangan model pembelajaran PJOK inklusif yang kontekstual dengan karakteristik siswa Indonesia. studi komparatif antar sekolah dengan tingkat implementasi inklusi yang berbeda. penelitian action research untuk mengembangkan dan menguji efektivitas intervensi peningkatan kompetensi guru PJOK dalam pembelajaran adaptif. Rekomendasi praktis meliputi pengembangan program pelatihan guru berkelanjutan dalam pembelajaran PJOK adaptif, penyediaan sarana prasarana yang aksesible dan adaptif, pengembangan kurikulum dan sistem penilaian yang inklusif, serta penguatan kerjasama dengan orangtua dan institusi pendukung untuk menciptakan ekosistem pendidikan inklusi yang References