130 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 2, 2025 Seni Grafis Cukil Kayu sebagai Media Perlawanan: Studi Kasus Karya Taring Padi dalam Buku Seni Membongkar Tirani Dwi Wahyuni Hamka1 Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar. Indonesia Email:dwiwahyunihamka@gmail. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran seni grafis cukil kayu teknik hardboard cut sebagai media perlawanan politik dalam karya-karya kolektif Taring Padi yang terdokumentasi dalam buku Seni Membongkar Tirani. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis dokumen, melalui penelaahan sistematis terhadap karya-karya grafis untuk mengungkap narasi visual, struktur simbolik, serta konteks sosial politik yang melatarbelakanginya. Analisis penelitian didasarkan pada teori Sosiologi Seni Janet Wolff, yang memandang karya seni sebagai konstruksi sosial yang dibentuk oleh institusi, sejarah, dan budaya, serta teori Eksistensialisme Syren Kierkegaard, yang melihat penciptaan seni sebagai tindakan sadar, berkomitmen, dan penuh keberanian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karya-karya hardboard cut Taring Padi tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetis, tetapi juga sebagai instrumen propaganda kerakyatan yang menantang ketimpangan struktural, menolak rezim budaya elit, serta meningkatkan kesadaran publik terhadap isu-isu seperti korupsi, militerisme, hak atas tanah, dan keadilan sosial. Dengan demikian, teknik hardboard cut tampil sebagai bentuk aktivisme visual yang strategis dalam lanskap sosial-politik Indonesia kontemporer. Kata Kunci: Seni hardboard cut. Sosiologi Seni Janet Wolff. Eksistensialisme Syren Kierkegaard. Taring Padi This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. International License. Seni Grafis Cukil Kayu sebagai Media Perlawanan PENDAHULUAN Perkembangan seni grafis saat ini terlihat dari aktifnya komunitas seni grafis menyelenggarakan pameran, lokakarya, dan diskusi sehingga mendorong eksplorasi kreatif baru (Diananda, 2. Pada perkembangan seni grafis kontemporer saat ini, beberapa seniman grafis terus bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman dari segi teknis, mengingat sulitnya praktik berkesenian grafis yang sangat bergantung pada mesin cetak. Menurut Wulandari . , komunitas seni grafis di Yogyakarta tidak hanya produktif secara teknis, tetapi juga aktif dalam membangun wacana estetik dan Bahkan dalam kesenirupaan kontemporer, praktik seni grafis seperti monoprint, etsa, hingga screen printing mulai dikembangkan dengan pendekatan lintas media dan konseptual. Ini memiliki keterkaitan erat dimana seni grafis sangat bergantung pada penggunaan teknologi. Hal ini diperkuat oleh Amy Zahrawan . yang menyatakan bahwa beberapa seniman grafis tidak lagi berkutat pada teknik konvesional, tetapi mengalami reposisi estetika melalui eksperimen media hybrid . nalog dan digita. Seniman terus mencari alternatif media yang ramah lingkungan serta mudah didapatkan di luar studio grafis. Dalam kegiatan AuPameran Marka/MatriksAy pada bulan April 2025 bertema Seni Cetak Grafis KontemporerAy. Asikin . selaku kurator juga menyatakan bahwa seniman telah menggunakan dan mengeksplorasi bahan-bahan alternatif serta alat yang tidak biasa. Karya seni grafis yang ditampilkan menggunakan teknik konvensional hingga gabungan digital serta multimedia. Ini mempertegas peran seni grafis dalam era kontemporer yang membuka ruang bagi eksplorasi medium yang lebih lanjut. Meski demikian, pegiat grafis Taring Padi tetap dengan konsistensinya menggunakan teknik cetak konvensional cukil kayu sebagai medium utamanya di tengah perkembangan seni grafis kontemporer di Indonesia saat ini. Karena sifatnya yang mudah direproduksi dan daya jangkau pesannya yang luas, teknik ini sangat efektif untuk propaganda, penyebaran informasi, hingga kritik sosial (Ipung, 2. Selain itu, teknik ini tetap relevan digunakan saat ini dengan fleksibilitas dan kekuatan ekspresifnya, bahkan mendominasi teknik-teknik lain dalam seni grafis (Rusmana & Putra, 2. Yusuf dari Taring Padi menegaskan bahwa melalui keunggulan teknik cukil kayu yang terletak pada kemampuan swadaya produksinya serta aman, mereka mampu memproduksi karya hingga ribuan cetakan dengan satu karya master . Adi . menyatakan bahwa para seniman menggunakan seni cetak sebagai cara untuk menjangkau publik lebih luas melalui reproduksi karya secara masif. Kemunculan karya grafis Taring Padi dengan memanfaatkan kemudahan reproduksi karya hingga ribuan eksemplar yang memungkinkan untuk ditempel di ruang publik, dimulai sejak tahun 1999 pada berbagai momentum menjelang Pemilu. Karya grafis cukil kayunya hadir sebagai upaya kritik terhadap isu-isu sosial politik pasca Orde Baru yang diwarnai dengan ketegangan, ketidakadilan struktural, dan 132 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 2, 2025 konflik ekonomi yang memperkuat kebutuhan akan visual perlawanan, sehingga memperluas ruang eksistensi seni grafis hardboard cut dalam masyarakat (Widodo. Dalam perjalanan seni rupa kontemporer di Indonesia saat ini, seni grafis mengambil peranan yang sangat penting. Seni grafis mampu mengukir serta mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu seni murni yang digunakan sebagai media perlawanan dalam merespon situasi kondisi sosial politik yang berkembang di Indonesia saat ini. Salah satu komunitas seni grafis yang lantang dan keras menyuarakan kritik terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang sangat merugikan dan menindas rakyat adalah Taring Padi. Dalam konsistensinya menggunakan seni grafis teknik cukil kayu sebagai medium utamanya. Taring Padi membangun eksistensinya dan hadir sebagai kolektif seni sekaligus aktor utama menyuarakan kritik sosial dan politik serta membangun budaya kerakyatan yang melekat sebagai identitas kuat bagi Komunitas Taring Padi hingga saat ini. Konsistensi visual dengan muatan isu kerakyatan yang disajikan dalam karya seni grafis cukil kayunya mengukuhkan diri sebagai seniman kerakyatan yang berdiri bersama rakyat. Hal ini dideklarasikan sendiri oleh komunitas Taring Padi dalam AuManifes KebudayaanAy pada tanggal 21 Desember tahun 1998. Melalui AuManifes KebudayaanAy, komunitas pegrafis Taring Padi membangun ideologi Auseni kerakyatanAy yang menjadi landasan/pijakan mereka dalam berkesesnian, berpihak serta berinteraksi dengan Masyarakat. Ideologi berkesenian ini sangat dipengaruhi oleh semangat Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekr. yang diekspresikan melalui media lukisan, dengan rakyat sebagai sumber dan tujuan kebudayaannya (Taring Padi, 2. Menurut Mikke Susanto . sebagai pengamat, pengajar, penulis, pengarsip, dan juga kurator seni, sejak deklarasi itu. Taring Padi menempatkan karya seninya sebagai amunisi dalam perjuangan atas rakyat serta menyatakan diri sebagai oposisi terhadap gagasan Auseni untuk seniAy yaitu filosofi seni yang menjunjung tinggi seni hanya sebagai kepuasan estetika dan ekspresi diri tanpa ada muatan moral, sosial, bahkan politik. Dalam perkembanganya saat ini, seni grafis yang bermuatan politik kurang disorot dan mendapatkan ruang publis yang tentu saja turut mempengaruhi konsistensi seniman maupun tingkat apresiasi seni grafis di tengah masyarakat (Satria Bagus Wicaksana dan Mayang Anggrian, 2. Namun berbeda dengan Taring Padi yang masih konsisten dengan aktivisme visualnya melalui seni grafis hingga saat ini. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, mereka aktif menyebarkan karya dan aktivitasnya melalui media sosial seperti Instagram. YouTube dan website resmi Taring Padi. Selain itu, mereka juga membuat dan menerbitkan beberapa buku yang mendokumentasikan karya dan aktivitas mereka. Dalam konteks sosial budaya kontemporer, hal ini menunjukkan transformasi fungsi seni grafis dari medium ekspresi estetis menjadi media aktivisme visual. Dengan demikian, menarik untuk mengkaji bagaimana teknik hardboardcut berperan dalam strategi propaganda visual Taring Padi dan bagaimana seni rupa dapat menjadi instrumen kesadaran sosial dalam ruang publik Indonesia. Seni Grafis Cukil Kayu sebagai Media Perlawanan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis dokumen, yaitu melalui kajian deskriptif karya-karya seni grafis cukil kayu yang terhimpun dalam buku Seni Membongkar Tirani karya kolektif Taring Padi. Metode ini dilakukan dengan menganalisis secara sistematis dengan membaca, mengidentifikasi, dan menginterpretasi karya-karya grafis dalam buku. Dalam metode ini, peneliti berusaha menggali makna, simbol, narasi visual, dan konteks sosial-politik yang melatarbelakangi penciptaan karya. Pengumpulan data dilakukan melalui kajian Pustaka. Literatur yang dikaji mencakup buku, artikel jurnal, arsip, catatan kuratorial, dan dokumentasi karya grafis komunitas untuk memperkuat interpretasi terhadap karya yang dianalisis. Penelitian ini menggunakan dua teori utama, yaitu teori Sosiologi Seni Janet Wolff . , yang memandang bahwa seni merupakan hasil/produk aktivitas sosial yang dipengaruhi institusi, sejarah, masyarakat, sosial dan budaya, sedangkan teori Eksistensialisme Kierkegaard . menyatakan bahwa seni merupakan tindakan sadar, komitmen dan keberanian dalam menyuarakan keberadaan diri dan pilihan Melalui perspektif Kierkegaard, proses kreatif cukil kayu Taring Padi dipahami sebagai tindakan eksistensial, yaitu sebuah pilihan sadar untuk menjadikan seni sebagai alat perjuangan, bukan sekadar aktivitas estetis. HASIL DAN PEMBAHASAN Tentang Taring Padi Taring Padi merupakan organisasi kolektif independen yang aktif dibidang seni dan budaya dan berlatar belakang seni rupa. Pada tanggal 21 Desember 1998. Taring Padi mendeklarasikan AuManifes KebudayaanAy, pernyataan yang menyatakan diri menjadi oposisi . olongan penentan. bagi doktrin . Auseni untuk seniAy yang hanya memperhitungkan nilai-nilai keindahan demi mengikuti keinginan pasar, menjual kesengsaraan rakyat . anpa menghiraukan nasib rakyat bawa. demi Taring Padi merupakan sebuah organisasi budaya progresif . ergerak maju, perbaikan dari keadaan yang sekaran. Taring Padi menyatakan bahwa tugas mereka adalah membangun kembali AuBudaya KerakyatanAy (Taring Padi, 2. Rumah Taring Padi pada tahun 1998 merupakan lokasi kolektif yang dahulu merupakan kampus Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang terletak di Gampingan, sekarang menjadi gedung Jogja National Museum (JNM) dan berubah Institut Seni Indonesia (ISI) yang sekarang terletak di daerah Sewon. Semangat perlawanan Taring Padi tidak memiliki visi membongkar kemapanan dunia seni rupa Indonesia demi perkembangan wacana seni rupa, namun mereka sepakat untuk berpihak pada perjuangan rakyat. Demi mewujudkan harapan masa depan yang lebih baik, mereka berupaya menggunakan karya seni grafis sebagai amunisi mereka untuk melancarkan kritik dan gugatan terhadap pemerintah (Taring Padi, 2. 134 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 2, 2025 Agar mudah diterima oleh semua lapisan masyarakat karya-karya cukil kayu Taring Padi dibuat dengan menekankan pada ekspresi visual yang realis. Visualisasi narasi gambar selalu mempertimbangkan poin of view dalam bidang gambar sebagai kekuatan ekspresi. Selain itu, karya mereka juga terkadang berbentuk gaya poster propaganda yang dilengkapi dengan tulisan atau narasi untuk memperkuat dan mempertajam pesan yang ingin disampaikan. Pada karya lain, mereka menggabungkan unsur komik, kartun, dan sketsa yang menyegarkan. Untuk menggugah nurani masyarakat, karya-karya grafis Taring Padi memberikan kekuatan imajinasi dalam narasi gambar meskipun terkadang terlihat lucu. Kekuatan elemen rupa mereka berada pada simbol dan ikon yang mudah dikenali masyarakat. Dalam bukunya . , ciri atau identitas Taring Padi menekankan pada ideologi kerja seni, bukan pada konteks estetika. Dalam sejarah seni rupa Indonesia, terdapat kelompok Persagi. Lekra, dan Bumi Tarung yang bergaya realis dalam konteks Persagi menentang karya rupa molek atau Mooi Indie bagi perupa Indonesia yang hanya memandang Indonesia dari sudut pandang eksotisme dan keindahan alam. Lekra dan Bumi Tarung menolak pengaruh Barat yang mencabut individu dari akar budayanya (Burhan, 1. Sedangkan Taring Padi menggunakan ekpresi realisme dalam semangat perlawanan untuk menggugat pemerintah . Taring Padi tidak hanya memperkenalkan karya seni sebagai media pembelajaran, tetapi juga mendekatkan karya seni kepada rakyat. Bagi Taring Padi sendiri, karya seni itu adalah pesan. Kebanyakan karya Taring Padi dihasilkan secara kolektif dan dapat dikelompokan dalam empat bentuk pokok, yaitu baliho atau spanduk, poster, wayang, dan booklet popular bernama Terompet Rakyat (Taring Padi. Eksistensi Seni Grafis Teknik Hardboard Cut Pada Komunitas Taring Padi Situasi Sosial dan Politik sebagai Faktor Eksternal Lembaga kerakyatan Taring Padi sejak mengumumkan kehadirannya di tengahtengah masyarakat, tugas utama mereka adalah membangun budaya kerakyatan dan mendorong perubahan demokratik yang berwatak popular di Indonesia. Mereka dapat dikatakan sebagai aktivis budaya yang menempatkan diri di tengah-tengah Aktivis budaya Taring Padi memiliki dua peran utama dalam memperkenalkan seni kerakyatan, yaitu berusaha menghasut dan mempengaruhi wacana elit. Kedua, yaitu mereka mengorganisasi asosiasi-asosiasi kebudayaan dan kerakyatan yang bertujuan membawa ke arah kemajuan dari kehidupan sosial yang ada di tengah-tengah rakyat. Taring Padi memandang rakyat Indonesia tertindas tidak hanya di bidang ekonomi dan politik, namun juga di sektor budaya. Mereka berhak untuk berekspresi kreatif dalam rangka menciptakan dan mengembangkan serta menentukan kebudayaan mereka sendiri . ttp://mikkesusanto. com/wawancara-dengan-taring-padi. Seperti yang telah diuangkapkan pada pembahasan sebelumnya bahwa lembaga kerakyatan ini sangat menentang doktrin yang menyatakan bahwa seni untuk seni, yang hanya memperhitungkan nilai keindahan demi eksklusivitas, yang selalu Seni Grafis Cukil Kayu sebagai Media Perlawanan diutamakan dan dipertahankan baik melalui lembaga-lembaga budaya Negara dan swasta selama kurun waktu Orde Baru. Lembaga kerakyatan ini sangat bertentangan dengan seni yang individualis, yang menanamkan doktrin-doktrin yang sesat demi mempertahankan posisi status dalam masyarakatnya. Karena dengan demikian, menurut Taring Padi hal itu tentu saja dapat menjauhkan perkembangan seni itu sendiri dengan masyarakat, dengan melihat masyarakat yang terbagi atas beberapa golongan yang dilihat dari kemampuan ekonomi, yaitu terdiri dari golongan atas, menengah, dan golongan bawah, sehingga secara tidak langsung maupun secara langsung menjadi penghalang bagi kalangan masyarakat tertentu untuk menikmati Selain itu, lembaga kerakyatan ini juga sangat menentang terhadap adanya pemerintah atau penguasa yang melalui departemen-departemen yang mengurusi seni dan budaya melakukan hal-hal demi eksklusivitas yang dalam praktiknya berupaya membentuk budaya Indonesia yang hanya dijual keeksotikannya demi untuk kepentingan ekonomi dan kekuasaan. Yang demikian dapat membentuk lembagalembaga yang memfungsikan diri sebagai pengatur dan memilki hak atas pekerja seni, karya seni, serta penentu arah perkembangan seni. Sehingga terbentuk sistem yang mengakibatkan rusaknya moral pekerja seni karena hanya berjuang untuk kepentingan individu tampa memikirkan kepentingan rakyat. Dengan kata lain mengeksploitasi kepentingan rakyat untuk kepentingan individu atau sekelompok/lembaga-lembaga Taring Padi sangat mengecam adanya pengaruh politik Orde Baru yang mementingkan Auekonomi sebagai panglima dan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN)Ay sebagai taktiknya yang mengakibatkan kurangnya pemahaman serta fungsi seni dalam Dengan kata lain, dalam praktiknya. Taring Padi memusatkan perhatiannya dengan melihat gejala-gejala budaya yang terjadi di masyarakat, yaitu mulai dari antimiliterisme, korupsi, neoliberisme, gerakan buruh dan petani, pembebasan perempuan, hingga masalah-masalah lingkungan yang terjadi oleh kaum imperialisme. Lembaga kerakyatan Taring Padi sendiri memiliki misi untuk mengembangkan seni dan budaya berbasis keinginan dan kebutuhan rakyat dengan mengutamakan keterbukaan, kesejahteran sosial, kedaulatan rakyat, keadilan antar generasi, demokrasi, penghargaan atas hak asasi manusia tanpa mengesampingkan kewajiban, perspektif gender, reformasi hubungan global serta pengelolaan lingkungan hidup yang baik (Taring Padi, 2. Dengan demikian, seni tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial, institusi budaya, dan kondisi historis yang membentuknya. Dalam konteks Indonesia pasca-Orde Baru, kondisi politik yang sarat dengan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), represi budaya, dan eksklusivitas lembaga seni telah menciptakan struktur sosial yang menyingkirkan rakyat dari ruang budaya. Dengan menggunakan perspektif Wolff, gerakan Taring Padi dapat dipahami sebagai reaksi terhadap struktur sosial tersebut yakni struktur yang mempertahankan Auseni untuk seniAy, memprioritaskan nilai estetika demi pasar, dan memisahkan seni dari kepentingan rakyat. 136 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 2, 2025 Ketika Taring Padi memposisikan diri Audi tengah rakyatAy, mengelola komunitas, serta membangun kembali budaya kerakyatan, mereka sedang membongkar sistem budaya yang selama ini dikendalikan oleh elit, negara, atau lembaga swasta. Maka, sesuai kerangka Wolff, karya-karya mereka merupakan produk sosial yang lahir dari ketidakadilan, diciptakan dalam konteks aktivisme, dan berfungsi untuk mengganggu serta mengubah relasi kuasa dalam masyarakat. Seni Grafis Teknik Hardboard Cut Sebagai Media Propaganda Kerakyatan Seni grafis teknik hardboard cut ini pernah mencapai masa keemasannya ketika digunakan oleh lembaga kerakyatan Taring Padi dalam menyampaikan aspirasinya. Lembaga kerakyatan ini menggunakan teknik hardboard cut untuk gerakan moral dan Bagi Taring Padi, media hardboard cut ini memiliki banyak kelebihan dalam melakukan propaganda kerakyatan. Salah satunya, yaitu untuk membuat poster misalnya, teknik cetak cukil kayu tidak memiliki kendala dengan variabel jumlah cetakan yang diinginkan. Sementara teknik cetak modern yang menggunakan teknologi harus dalam jumlah relatif banyak agar bisa murah. Selain itu, teknik hardboard cut sangat swadaya, semua bisa dilakukan sendiri. Tangan manusia dan kayu merupakan mesin cetaknya. Lembaga kerakyatan Taring Padi sangat memanfaatkan kemudahan dan keramahan dari teknik ini sebagai seni publik untuk gerakan moral dan penyadaran. Misalnya, dalam praktiknya, melalui pembuatan poster-poster dengan teknik hardboard cut ini yaitu memproduksi atau menggandakan karya yang berpacu pada cetakan, karya-karya poster ini dapat dipajang diberbagai tempat, misalnya memajangnya di dinding-dinding kota, dinding kantor pemerintah, dinding rumah penduduk, dan di tempat-tempat lain yang dengan mudah di tatap oleh orang. Dalam aksinya, praktik Taring Padi, 13 tahun yang lalu sejak berdirinya, mulai dan pertama kalinya menggunakan teknik hardboard cut, yang dicetak dalam bentuk baliho di ruang Pada tahun 1999, beberapa contoh karya hardboard cut Taring Padi, yaitu : AuSemua BersaudaraAo, hardboardcut di atas kertas, 40cmx53cm. Merupakan seri poster kemanusiaan. Sumber: Taring Padi AuSeni Membongkar TiraniAy (Yogyakarta: Lumbung Press, 2. AuBersatulah dalam BersaudaraAy, hardboardcut di atas kertas, poster Sumber: Taring Padi AuSeni Membongkar TiraniAy (Yogyakarta: Lumbung Press, 2. Seni Grafis Cukil Kayu sebagai Media Perlawanan Tindakan Taring Padi yang secara sadar dan tegas berani menyatakan keberpihakannya merupan bentuk tindakan eksistensi. Kierkegaard menekankan bahwa tindakan manusia menjadi bermakna ketika dilakukan sebagai pilihan hidup yang autentik (Kierkegaard. , 1. Proses berkarya grafis teknik hardboard cut yang membutuhkan keterampilan tangan yang tinggi, kedisiplinan, serta kesabaran dan keuletan merupakan manifestasi sikap eksistensialisme Taring Padi, yaitu bagaimana mereka menegaskan bahwa seni bukan hanya tentang sebuah karya, tapi jauh lebih dalam sebagai tindakan moral yang dilakukannya sebagai aktivis budaya. Dalam karya-karya grafisnya. Taring Padi mencoba menggugah warga untuk berpikir jernih agar tidak terlibat konflik SARA. Poster-poster ini pernah diproduksi secara masif 000 eksemplar dan ditmpelkan di ruang publik, setidaknya disebelas kota besar menjelang Pemilu 1999. AuPerdamaian antar umatAy, 1999, hardboardcut di atas kertas. Sumber: Taring Padi AuSeni Membongkar TiraniAy (Yogyakarta: Lumbung Press, 2. AuBuktikan pemilu tanpa tetes darahAy 1999, hardboard cut di atas kertas. Sumber: Taring Padi AuSeni Membongkar TiraniAy (Yogyakarta: Lumbung Press, 2. Karya-karya hardboard cut Taring Padi hingga saat ini selalu setia menyuarakan kegeramannya dalam menggugat kaum imperialisme. Salah satu kesenggangannya, yaitu menyaksikan para penguasa yang menjadikan Soeharto sebagai tauladan dalam melaksanakan taktik koruptornya, setelah orde baru tumbang. Salah satu contoh karya grafis teknik hardboardcut yang munculkan ke ruang publik saat itu adalah seri poster anti korupsi AuCara Melawan KorupsiAy media hardboard cut di atas kertas, 35cm x 50cm. Selain itu, saat kaum tani menghadapi konflik berbagai perkembangan di Indonesia yang disebabkan oleh krisis politik dan ekonomi, khususnya di wilayahwilayah perkebunan, pertambangan dan hutan, dalam aksi perebutan kembali maupun pendudukan tanah oleh penduduk setempat untuk menanami produk pertanian pangan di perkebunan, lembaga kerakyatan Taring Padi kembali membuat poster- 138 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 2, 2025 poster yang dicetak dengan teknik hardboard cut di atas kertas, 40 x 52cm, tidak lain adalah sebagai dampak keprihatinan terhadap nasib para petani. Tanah untuk petaniAy, hardboard cut di atas kertas, 40cm 52cm. Sumber:Taring Padi AuSeni Membongkar TiraniAy (Yogyakarta: Lumbung Press. Pada akhir januari 2004. Taring Padi juga pernah menggantung karya seni grafis dengan teknik hardboardcut nya yang dicetak di atas media kain berukuran 244cm x 122cm, yang berjudul AuBuruh BersatuAy, pada pameran AuSaudari-saudara Tak DikenalAy pada khalayak Dresden di Kunsthaus Dresden. Jerman. Karya hardboard cut yang ditampilkan menggambarkan keadaan hidup para buruh yang tertindas oleh kaum imperialis, yang beberapa hal masih sama dengan saat Indonesia masih berada di bawah rezim Orde Baru. Kurator Kunsthaus Dresden. Christian Mennike, mengungkapkan bahwa karya yang ditampilkan Taring Padi saat itu sangat berbeda dengan yang digambarkan para pekerja seni di Jerman Timur saat itu, saat sebelum runtuhnya tembok Berlin, yang ide karya-karya saat itu berasal dari pemerintah, sementara karya-karya Taring Padi gaya realisme sosial yang di Indonesia dianggap tabu . karena mewakili para seniman yang dituduh antipemerintah. Sebagian besar bahkan semua poster-poster Taring Padi dalam proses penciptaannya dibuat dengan teknik hardboard cut yang pada umumnya dicetak dengan ukuran yang besar melebihi ukuran tripleks, yang dengan itu, lembaga kerakyatan ini berharap dapat meningkatkan kesadaran atas persoalan yang dialami oleh para buruh agar termotivasi untuk membebaskan diri atau memerdekakan diri, sehingga para buruh punya keberanian untuk melawan segala penindasan atas diri AuBuruh BersatuAy, hardboard cut di atas kain, 244cm x 122cm, 2003 Sumber: Taring Padi AuSeni Membongkar TiraniAy (Yogyakarta: Lumbung Press. Seni Grafis Cukil Kayu sebagai Media Perlawanan KESIMPULAN Teknik hardboardcut berperan strategis sebagai media aktivisme visual dalam praktik berkesenian Komunitas Taring Padi. Sifat reproduktif, ekonomis, dan fleksibel dari teknik ini mendukung efektivitas propaganda kerakyatan di ruang publik. Melalui perspektif Wolff, karya-karya mereka terbaca sebagai produk sosial yang lahir dari penindasan struktural dan digunakan untuk mengubah relasi kuasa dengan membangun kembali budaya kerakyatan. Menurut Kierkegaard, pilihan Taring Padi untuk menggunakan seni grafis hardboard cut sebagai medium perjuangan adalah tindakan eksistensial, yakni keputusan sadar dan berani untuk menyatakan keberpihakan moral kepada rakyat melalui seni. Dengan demikian, seni grafis Taring Padi tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi visual, tetapi instrumen perjuangan sosial yang mendorong pembentukan kesadaran kritis masyarakat terhadap ketidakadilan sosial politik di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA