Journal Genta Mulia Volume 16. Number 1, 2025 pp. P-ISSN: 23553790 E-ISSN: 25794655 Open Access: https://ejournal. id/index. php/gm PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI GEOMETRI DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR DI KELAS II SD INPRES PALUPI Sevtin Sri Indra Vebriani Ponamon 1. Herlina2, dan Renawati3 1Pendidikan Profesi Guru. FKIP. Universitas Tadulako. Indonesia 2Pendidikan Profesi Guru. FKIP. Universitas Tadulako. Indonesia 3SD Inpres Palupi. Indonesia * Corresponding Author: hestilondongpadang02@gmail. Abstrak Masalah yang diidentifikasi oleh guru selama proses pembelajaran di kelas II SD Inpres Palupi. Siswa menunjukkan tingkat keaktifan yang rendah dalam proses belajar, yang dapat diatribusikan pada minimnya fasilitas pembelajaran yang tersedia di kelas, seperti buku siswa, serta keterbatasan dalam penggunaan alat peraga atau media pembelajaran oleh guru. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas II SD Inpres Palupi, terdapat indikasi bahwa sebagian besar siswa menunjukkan tingkat keaktifan yang rendah. Hal ini disebabkan oleh minimnya penggunaan media, termasuk media gambar, yang berimplikasi pada kurangnya pemahaman siswa terhadap penjelasan yang diberikan oleh guru. Penelitian ini berfokus pada siswa kelas 2 SD Inpres Palupi, dengan jumlah partisipan sebanyak 28 anak, yang berasal dari SD Inpres Palupi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pada tingkatan rata-rata pra tindakan, siklus 1 mengalami kenaikan sebesar 9,09%, sementara dari siklus 1 ke siklus 2 terdapat peningkatan sebesar 36,36%. Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan dalam penggunaan metode gambar pada pelajaran matematika. Kata Kunci : Matematika. Media Gambar. Hasil Belajar Abstract Problems identified by teachers during the learning process in class II of SD Inpres Palupi. Students show a low level of activity in the learning process, which can be attributed to the lack of learning facilities available in the classroom, such as textbooks, as well as limitations in the use of teaching aids or learning media by teachers. In the implementation of the teaching and learning process in Class II of SD Inpres Palupi, there are indications that most of the students show a low level of activity. This is due to the lack of use of media, including visual media, which has implications for students' lack of understanding of the explanations given by the teache. This study focused on grade 2 students of SD Inpres Palupi, with a total of 28 participants from SD Inpres Palupi. The results obtained showed that at the average level of pre-action, cycle 1 had an increase of 9. 09%, while from cycle 1 to cycle 2 there was an increase of 36. This shows an increase in the use of the picture method in the teaching of Keywords: Mathematics, visual media, learning outcomes PENDAHULUAN Pendidikan adalah suatu proses yang direncanakan dan dilakukan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi manusia secara optimal. Dalam konteks ini, fokus utama pendidikan adalah individu. Pendidikan ditujukan untuk mendorong individu dalam menggali dan mengembangkan potensi mereka agar dapat terwujud secara nyata. Upaya untuk mengembangkan peserta didik menjadi individu yang cerdas dan terampil adalah tugas dan tanggung jawab yang signifikan bagi seorang guru, dan pencapaian ini hanya dapat P-ISSN: 23553790. E-ISSN 25794655 Sevtin Sri Indra Vebriani Ponamon 1. Penigkatan Hasil Belajar diraih melalui proses pembelajaran di sekolah. Guru berperan sebagai faktor utama yang sangat menentukan dalam menciptakan kondisi dinamis dalam pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat dicapai jika guru memiliki sikap optimis selama proses pembelajaran berlangsung (Demon, 2007: . Pemerintah Indonesia, melalui berbagai kebijakan, secara konsisten berusaha untuk meningkatkan kualitas hasil pembelajaran. Berbagai studi menunjukkan bahwa Indonesia telah berhasil memperluas akses pendidikan, namun masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan kualitas hasil pembelajaran. Data pengukuran Programme for International Student Assessment (PISA) selama dua dekade terakhir tidak menunjukkan adanya kemajuan yang signifikan dalam kualitas pendidikan. Hasil Asesmen Nasional (AN) menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan dalam mutu pendidikan antar daerah (Irsyat Zanjani, 2. Pendidikan adalah suatu proses yang memiliki tujuan, yang umumnya diarahkan untuk membentuk pola-pola perilaku tertentu pada anak-anak atau individu yang sedang dalam proses pembelajaran. Amiruddin Siahaan, 2016:6. Pendidikan memiliki tujuan untuk menghasilkan individu yang memiliki iman yang kuat. Tujuan tersebut tercermin dalam akhlak anak didik yang berlandaskan pada kurikulum yang diterapkan dalam berbagai lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal. (Tatang, 2012:. Peran pendidik adalah melaksanakan pengajaran yang inspiratif, di mana melalui kegiatan mengajar, pendidik dapat mengilhami murid-muridnya. (Rusdiana, 2014:. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan saat ini, perlu ditingkatkan hasil belajarnya. Karena hasil pembelajaran memiliki peran yang sangat krusial. Hasil belajar bertujuan untuk mendukung tercapainya pembelajaran, sehingga kualitas pendidikan dapat dinilai baik atau buruk berdasarkan hasil belajarnya. Menurut KBBI (Rohman. Susianti, & Jamaluddin, 2. , nilai merupakan suatu ukuran yang diperoleh melalui penguasaan pengetahuan atau keterampilan, yang dinyatakan dalam bentuk angka hasil dari pelaksanaan tes yang diberikan oleh guru. Hasil belajar diperoleh melalui tiga aspek, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan aspek eksplisit atau umum, sehingga ketiga aspek tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain (Nurbudiyani, 2. Penilaian hasil belajar sangat penting, karena hal ini dilakukan untuk mengevaluasi kekurangan siswa dan guru, sehingga memungkinkan umpan balik untuk perbaikan demi mencapai pembelajaran yang lebih baik. Menurut Nafisah . Daeng dalam Ratumanan mendefinisikan pembelajaran sebagai usaha untuk mendidik peserta didik. Proses pembelajaran merupakan faktor utama dalam meningkatkan dan menghasilkan kualitas siswa. Pembelajaran dianggap sebagai usaha untuk memungkinkan siswa secara aktif mengembangkan pemahaman mereka tentang pengetahuan tertentu. Metode pengajaran dan penggunaan media sangat krusial dalam kelas dan dimanfaatkan oleh guru untuk menyampaikan materi yang menentukan keberhasilan Pembelajaran di sekolah terdiri dari berbagai unsur yang saling berinteraksi dan mempengaruhi keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Unsur yang ada mencakup guru, siswa, kurikulum, dan lingkungan pengajaran. Siswa berfungsi sebagai subjek dalam proses tersebut dan memiliki peranan yang signifikan dalam mencapai keberhasilan kegiatan belajar Guru memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan lingkungan pembelajaran yang efektif, yang mampu mendorong siswa agar terus belajar dengan baik dan penuh Selanjutnya. Lende . menyatakan bahwa kegiatan belajar mengajar merupakan suatu proses interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam satuan pembelajaran. Guru, sebagai salah satu elemen dalam proses belajar mengajar, memiliki peran yang sangat signifikan. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, melainkan juga dapat dianggap sebagai pusat dari proses pembelajaran. Guru berperan sebagai pengatur dan pelaku dalam proses belajar mengajar, mengarahkan pelaksanaan proses tersebut dengan cermat. Oleh karena itu, guru perlu merancang P-ISSN: 23553790. E-ISSN : 25794655 | 107 Sevtin Sri Indra Vebriani Ponamon 1. Penigkatan Hasil Belajar pengajaran agar lebih efektif dan menarik, sehingga materi yang disampaikan dapat menciptakan rasa senang pada siswa dan mendorong mereka untuk mempelajari materi tersebut dengan lebih serius. Dalam analisis terhadap praktik yang umum dilakukan oleh banyak guru dalam proses belajar mengajar, terutama pada mata pelajaran Matematika, terlihat bahwa guru cenderung mengandalkan metode ceramah, tanya jawab, dan pemberian Ketiga metode ini dapat digunakan secara efektif oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran, yaitu meningkatkan hasil belajar siswa. Namun, selama ini, guru cenderung menekankan pembelajaran Matematika secara teori, tanpa memanfaatkan media atau alat peraga dalam penyampaian materi pembelajaran pada mata pelajaran Matematika. Media sejatinya adalah salah satu elemen dalam sistem pembelajaran. Sebagai elemen media, ia seharusnya menjadi bagian yang integral dan harus selaras dengan keseluruhan proses pembelajaran. Media dalam pembelajaran memiliki hubungan yang signifikan dengan hasil belajar. Kehadiran media memungkinkan proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Belajar adalah suatu perubahan perilaku yang cenderung bersifat permanen, yang dihasilkan melalui pengalaman. Dalam proses pembelajaran, akan terdapat hasil yang dicapai, yaitu hasil dari pembelajaran itu sendiri. Hasil belajar adalah kemampuan atau kecakapan yang dapat dicapai oleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran yang telah dirancang dan dilaksanakan oleh guru di sekolah dan kelas tertentu. Media pembelajaran berperan penting dalam mempermudah dan menarik proses belajar mengajar. Hal ini memungkinkan siswa untuk lebih memahami pelajaran dengan lebih baik. Peningkatan kemampuan siswa dapat dicapai karena media tersebut sesuai dengan tujuan pembelajaran. Selain itu, media pembelajaran yang digunakan oleh guru dapat meningkatkan konsentrasi siswa, karena dirancang agar menarik dan mudah dipahami sesuai dengan kebutuhan siswa. Media pembelajaran adalah elemen krusial dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan adanya media, proses pembelajaran menjadi lebih menarik, sehingga siswa dapat dengan mudah memahami informasi yang disajikan secara jelas. Seorang guru perlu mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif untuk menjaga minat siswa, sehingga penggunaan alat bantu dalam proses pembelajaran menjadi penting. Hasil belajar diperoleh melalui pengerjaan soal yang diberikan oleh guru, sehingga hasil pembelajaran setiap anak akan berbeda satu sama lain. Karena pemahaman dan pengetahuan yang dimiliki setiap anak bervariasi satu sama lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar pada anak dapat diuraikan sebagai berikut: Faktor internal mencakup kecakapan, metode belajar, motivasi anak dalam proses pembelajaran, serta minat Faktor eksternal yang berpengaruh mencakup lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat (Hapnita. Abdullah. Yuwalitas, & Rizal, 2. Beberapa sekolah dasar menunjukkan hasil belajar yang masih berada dalam kategori rendah, terutama dalam pembelajaran geometri pada mata pelajaran Matematika. SD Inpres Palupi merupakan salah satu sekolah dasar yang tergolong dalam kategori tersebut. Rendahnya hasil belajar matematika di sekolah tersebut dapat dikaitkan dengan berbagai faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran. Beberapa faktor yang mempengaruhi adalah rendahnya minat siswa terhadap pembelajaran Matematika, kurangnya perhatian siswa, serta kurangnya inovasi dalam metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Faktor eksternal mencakup ketidaksesuaian metode pembelajaran yang diterapkan serta minimnya perhatian dari orang tua terhadap siswa. Dalam konteks pembelajaran, suatu mata pelajaran terdiri dari beberapa bidang materi yang terpisah. Materi dalam mata pelajaran Matematika terdistribusi di semua jenjang, salah satunya mencakup penyajian data. Mengenai hasil belajar. Midianti dan Zainil . menguraikan bahwa terdapat sejumlah variabel yang dapat memengaruhi hasil Variabel yang relevan mencakup minat belajar siswa, kesehatan, kondisi fisik, serta lingkungan, dukungan belajar, dan fasilitas dasar, serta ketepatan dalam proses Matematika adalah mata pelajaran yang diajarkan di setiap tingkat pendidikan di P-ISSN: 23553790. E-ISSN : 25794655 | 108 Sevtin Sri Indra Vebriani Ponamon 1. Penigkatan Hasil Belajar Indonesia, mulai dari sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi. Proses pengajaran di kelas mencakup berbagai elemen yang berperan dalam penetapan kebijakan di sebuah sekolah, termasuk peran instruktur atau tenaga pendidik. Dalam upaya mencapai tujuan pendidikan, guru perlu secara cermat menentukan metode dan media pembelajaran yang tepat, berdasarkan analisis terhadap informasi yang tersedia. Masalah yang diidentifikasi oleh guru selama proses pembelajaran di kelas II SD Inpres Palupi. Siswa menunjukkan tingkat keaktifan yang rendah dalam proses belajar, yang dapat diatribusikan pada minimnya fasilitas pembelajaran yang tersedia di kelas, seperti buku siswa, serta keterbatasan dalam penggunaan alat peraga atau media pembelajaran oleh guru. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas II SD Inpres Palupi, terdapat indikasi bahwa sebagian besar siswa menunjukkan tingkat keaktifan yang rendah. Hal ini disebabkan oleh minimnya penggunaan media, termasuk media gambar, yang berimplikasi pada kurangnya pemahaman siswa terhadap penjelasan yang diberikan oleh guru. Selain itu, terdapat kecenderungan siswa untuk bersikap apatis. Pengajaran cenderung menjadi monoton karena bergantung pada bahasa verbal, sementara skenario pembelajaran yang dirancang tidak cukup menekankan pada aktivitas siswa melalui penerapan media gambar. Di sisi lain, guru cenderung menerapkan metode pembelajaran yang bersifat abstrak dan teoritis, yang mengakibatkan siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi. Hal ini berpotensi menimbulkan kebosanan, kejenuhan, dan bahkan sikap apatis terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Oleh karena itu. Lende . 3: . menekankan bahwa guru perlu memiliki keterampilan dan kemampuan dasar sebelum ruang mandiri dapat Kualifikasi guru memiliki hubungan yang signifikan dengan kualifikasi siswa. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa guru kita mungkin tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk menerapkan kurikulum mandiri. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, penggunaan media pembelajaran, seperti media gambar, menjadi penting. Ketika guru mengajar tanpa memanfaatkan media gambar, pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan cenderung kurang optimal. Metode yang umum diterapkan oleh guru dalam proses pengajaran adalah metode diskusi dan tanya jawab. Kedua metode ini memiliki peran yang signifikan dalam dinamika belajar mengajar. Melihat pentingnya pengaruh penerapan media dalam pembelajaran Guru memutuskan untuk menerapkan media gambar dalam proses pembelajaran Matematika di kelas II SD Inpres Palupi. Keputusan ini diambil karena guru menyadari bahwa penggunaan media gambar sangat penting untuk membantu siswa dalam memahami materi. Dengan adanya media gambar, siswa diharapkan dapat lebih aktif dan terlibat dalam proses belajar sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan adalah teknik analisis data kuantitatif dengan pendekatan pengerjaan soal. Melalui perancangan Penelitian Tindakanan Kelas (PTK). PTK adalah suatu tindakan yang dilaksanakan di dalam kelas untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran (Widayati, 2. Penelitian ini berfokus pada siswa kelas 2 SD Inpres Palupi, dengan jumlah partisipan sebanyak 28 anak, yang berasal dari SD Inpres Palupi Peneliti menerapkan teknik penelitian tindakan kelas berdasarkan model Kemmis dan Taggart, yang melibatkan komponen penelitian tindakan serta pengamatan. Penerapan tindakan dan pengamatan ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, sehingga dilaksanakan secara bersamaan (Widayati, 2. Penelitian ini melibatkan dua siklus tindakan. Siklus pertama dilaksanakan pada minggu pertama, sedangkan siklus kedua dilaksanakan pada minggu kedua. Strategi yang kami terapkan adalah sebagai berikut: P-ISSN: 23553790. E-ISSN : 25794655 | 109 Sevtin Sri Indra Vebriani Ponamon 1. Penigkatan Hasil Belajar Gambar 1. Alur Penelitian PTK Proses Perencanaan Tindakan Dalam tahap awal ini, peneliti akan menyiapkan sejumlah elemen yang diperlukan untuk penelitian, termasuk RPP dan instrumen penelitian yang berkaitan dengan pelaksanaan tindakan perbaikan yang akan diterapkan. Proses ini dapat dimulai dengan menerapkan 5W1H dalam fokus penelitian. Selanjutnya, langkah-langkah persiapan yang dapat diambil adalah sebagai berikut: a. Menyusun RPP, b. Menyiapkan media yang akan digunakan dalam pembelajaran, c. Menyiapkan lembar kegiatan kelompok, d. Menyiapkan lembar observasi, e. Menyusun instrumen tes hasil pembelajaran, dan f. Menyiapkan alat serta sarana yang akan digunakan. (Wicaksono, 2. Proses pelaksanaan tindakan Tahapan kedua melibatkan pelaksanaan tindakan perbaikan, di mana semua strategi dan skenario yang telah direncanakan dalam tahap perencanaan diimplementasikan pada tahap ini dengan merujuk pada kurikulum yang berlaku (Indra et al. , 2. Pelaksanaan tindakan dilakukan sesuai dengan rumusan yang telah ditetapkan, sehingga dapat mencapai tujuan sebagai upaya inovasi dalam menangani suatu masalah yang berpotensi meningkatkan kualitas kelas. Tahap Observasi Pada tahap ini, peneliti melakukan pengamatan dan pengumpulan data yang relevan untuk menentukan hasil dari proses penelitian (Nurdin, 2. Dalam tahap observasi ini, peneliti membutuhkan lembar hasil observasi untuk mencatat data yang ditemukan. Aspek yang perlu diperhatikan terkait kesesuaian pembelajaran dengan RPP adalah pengamatan terhadap guru dalam proses pemberian pembelajaran. Tahap Refleksi Tahapan terakhir melibatkan pengulangan penyampaian mengenai tindakan yang telah dilakukan untuk mengevaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan (Jannah, 2. Pada tahapan refleksi, langkah-langkah yang perlu dilakukan meliputi: mengevaluasi hasil penilaian berdasarkan kesesuaian metode belajar, menilai hasil belajar anak P-ISSN: 23553790. E-ISSN : 25794655 | 110 Sevtin Sri Indra Vebriani Ponamon 1. Penigkatan Hasil Belajar melalui tes di akhir siklus, serta merefleksikan data yang telah dikumpulkan dari Tahapan ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi hasil penelitian terkait kegiatan yang telah dilaksanakan. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum melaksanakan tindakan penyelesaian masalah, peneliti terlebih dahulu melakukan pengambilan data melalui tes yang disebut dengan hasil data pra tindakan, yang disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 1. Hasil analisis data Pra Siklus Hasil Belajar Jumlah Peserta Presentase Matematika Didik (%) Tuntas 36,36% Belum Tuntas 81,81% Jumlah Setelah menganalisis hasil presentase yang diperoleh sebelum tindakan dilakukan, peneliti melanjutkan dengan menerapkan solusi untuk masalah tersebut melalui penggunaan media gambar. Implementasi tersebut dapat dianalisis melalui data hasil belajar yang telah Tabel 2. Hasil analisis data Pra Siklus Hasil Belajar Jumlah Peserta Presentase Matematika Didik (%) Tuntas 45,45% Belum Tuntas 54,54% Jumlah Dilihat dari hasil tes pada siklus pertama terdapat kenaikan daripada hasil tes pada pra tindakan. Dengan presentase 54,54% dengan sebanyak 12 anak yang mendapat nilai di atas KKM dan 45. 45% sebanyak 10 anak mendapat nilai dibawah KKM. Tambahkan 2 foto kegiatan siklus 1 Dari hasil siklus 1 diperlukan adanya evaluasi untuk pelaksanaan siklus 2. Hal tersebut maka perlu diadaknnya siklus kedua, dengan hasil data pada table dibawah ini : Tabel 3. Hasil analisis data Pra Siklus Hasil Belajar Jumlah Peserta Presentase Matematika Didik (%) Tuntas 81,81% Belum Tuntas 18,18 % Jumlah Analisis terhadap data yang diperoleh dari hasil pembelajaran siklus kedua menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada jumlah anak yang mencapai KKM. Presentase menunjukkan bahwa 81,81% dari total siswa, yaitu 18 orang, telah lulus KKM, sementara 18,18% atau 4 siswa masih belum mencapai KKM. Tambahkan foto minimal 2 keg siklus 2 Pembahasan Penelitian tindakan kelas yang dilakukan dengan memanfaatkan media Gambar pada materi Geometri pada pembelajaran matematika di SD Inpres Palupa Kelas II dilaksanakan dalam dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II, dengan pembahasan yang terperinci sebagai Siklus I adalah fase dalam penelitian tindakan kelas. Dalam setiap siklus, terdapat beberapa langkah yang dilakukan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. P-ISSN: 23553790. E-ISSN : 25794655 | 111 Sevtin Sri Indra Vebriani Ponamon 1. Penigkatan Hasil Belajar Hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk data tes yang mencerminkan capaian belajar Siswa kelas II SD Inpres Palupa memanfaatkan media gambar untuk meningkatkan hasil belajar mereka, dan hasil dari kegiatan siklus I tersebut dianalisis secara mendalam. Analisis ini menunjukkan bahwa media gambar memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Hal ini dicapai melalui peningkatan keterlibatan siswa di kelas, serta perbaikan dalam hasil belajar kognitif siswa. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran berbasis gambar berpotensi meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi penyajian data. Siklus II dilaksanakan karena pada siklus I masih terdapat beberapa peserta didik yang belum mencapai standar kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang menjadi capaian pendidik serta untuk memperbaiki kekurangan pada siklus. II. Refleksi pada siklus II ini dilakukan oleh peneliti bersama guru kelas untuk mengevaluasi proses pembelajaran Matematika pada materi penyajian data dengan memanfaatkan media gambar. Hasil refleksi menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran berbentuk gambar dalam pembelajaran Matematika, khususnya pada materi geometri, telah berkontribusi positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Proses pembelajaran berlangsung dengan baik, mengikuti langkah-langkah yang telah ditentukan. Penelitian ini mengindikasikan bahwa terdapat peningkatan dalam prestasi belajar siswa yang dihasilkan dari penggunaan media pembelajaran interaktif yang berbasis Canva. Sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Rahmila et al. 2: 188Ae. , media pembelajaran memiliki potensi signifikan dalam meningkatkan hasil belajar siswa serta berkontribusi pada peningkatan motivasi belajar mereka. Media pembelajaran tidak hanya berfungsi untuk memfasilitasi pendidik dalam menyampaikan materi kepada peserta didik, tetapi juga berpotensi untuk meningkatkan motivasi siswa dalam proses belajar. Penggunaan media pembelajaran memiliki peran penting dalam meningkatkan efektivitas proses pembelajaran, terutama selama kegiatan belajar mengajar berlangsung (Audie, 2019: . Pendapat tersebut didukung oleh Nurseto . 1, . yang menyatakan bahwa media pembelajaran berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan pesan atau informasi belajar. Penyampaian materi dalam proses pembelajaran dari guru kepada siswa memerlukan media untuk memastikan informasi dapat disampaikan dengan lebih efektif. Melalui penggunaan media, proses pembelajaran dapat menjadi lebih interaktif, mendorong siswa untuk berpartisipasi secara aktif di dalam kelas. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran, terdapat interaksi yang signifikan antara pendidik dan peserta Pernyataan ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Widahyu . bahwa melibatkan peserta didik dalam upaya menyelesaikan permasalahan sangat penting, di mana diharapkan peserta didik juga dapat mengembangkan keterampilan dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Oleh karena itu, siswa dilatih untuk menerapkan pemikiran kritis dan memperoleh keterampilan dalam menyelesaikan masalah. SIMPULAN DAN SARAN Dari beberapa pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media gambar dalam pembelajaran geometri pada mata pelajaran Matematika dapat meningkatkan pemahaman dan daya ingat siswa sekolah dasar, yang pada gilirannya menghasilkan hasil pembelajaran yang lebih baik. Hasil pembelajaran yang baik berpotensi untuk meningkatkan kualitas pendidikan serta institusi sekolah. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media gambar menghasilkan hasil yang memuaskan. Media gambar berfungsi sebagai alat pembelajaran yang memiliki fleksibilitas dan efisiensi tinggi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pada tingkatan rata-rata pra tindakan, siklus 1 mengalami kenaikan sebesar 9,09%, sementara dari siklus 1 ke siklus 2 terdapat peningkatan sebesar 36,36%. Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan dalam penggunaan metode gambar pada pelajaran matematika. P-ISSN: 23553790. E-ISSN : 25794655 | 112 Sevtin Sri Indra Vebriani Ponamon 1. Penigkatan Hasil Belajar DAFTAR PUSTAKA