Volume 08 Nomor 02, pp 35-50, 2025 DOI: https://doi. org/10. 33005/jedi. ISSN (Onlin. : 2614-2384 Journal of Economics Development Issues URL:http://JEDI. id/index. php/JEDI Peran dan Dampak Pembangunan Ekonomi Kelautan terhadap Perekonomian Indonesia Pendekatan Input Output Tahun 2020 Lindiawatie Pendidikan Ekonomi. Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. Indonesia. Email: lindiawatie@ymail. Received . 2 Juli 2025 Published: 15 Oktober 2025 ABSTRACT The purpose of research is to determine the role and impact of marine economic development on the Indonesian economy using the 2020 IO Table. The results is marine economic development contributed 24% to the total national economic output in 2020. The sectors within marine economic development that play role and contribute are the marine services sector, marine tourism, marine industry, fisheries, and mining. Among these sectors, the maritime transportation and marine construction sectors have Diffusion Index > 1, meaning they have backward lingkage and are considered second priority, and regarded as strategic sectors. The fisheries and the marine services sector have a Sensitivity Index > 1, meaning they have forward lingkage and are considered third priority. The government should increase focus developing the marine economy, particularly fisheries and marine services, because of their contributed to national economic development while ensuring sustainability by protecting coastal water ecosystems. Keywords: Development. Marine Economy. Input-Output Table ABSTRAK Tujuan riset adalah untuk menentukan peran dan dampak pembangunan ekonomi kelautan terhadap perekonomian Indonesia dengan menggunakan Tabel Input-Output tahun 2020. Hasil analisis Input-Output menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi kelautan di Indonesia berkontribusi sebesar 24% terhadap total output perekonomian nasional Diketahui bahwa sektor-sektor dalam pembangunan ekonomi kelautan yang berperan dan berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi nasional adalah sektor jasa kelautan, pariwisata bahari, industri kelautan, perikanan dan Di antara ketujuh sektor dalam ekonomi kelautan, sektor angkutan laut dan bangunan kelautan memiliki Indeks Penyebaran > 1 berarti memiliki dampak ke belakang dan termasuk prioritas kedua dan dapat dianggap sebagai sektor strategis. Sedangkan sektor perikanan dan sektor jasa kelautan memiliki Indeks Kepekaan >1, berarti memiliki dampak ke depan dan termasuk prioritas ketiga. Pemerintah semestinya meningkatkan perhatian terhadap pengembangan ekonomi kelautan khususnya perikanan dan jasa kelautan karena telah memberikan kontribusi dan peran dalam pembangunan ekonomi nasional seraya menjaga keberlanjutannya dengan melindungi ekosistem perairan pesisir. Kata kunci: Pembangunan. Ekonomi Kelautan. Tabel Input Output Lindiawatie / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. How to cite: Lindiawatie . Peran dan Dampak Pembangunan Ekonomi Kelautan terhadap Perekonomian Indonesia Pendekatan Input Output Tahun 2020. Journal of Economics Development Issues. Vol 8 . , pp 35-50 https://doi. org/10. 33005/jedi. PENDAHULUAN Wilayah Indonesia sebesar kurang lebih 75% terdiri atas lautan dan 25% daratan. Meskipun wilayah lautan lebih luas dibandingkan dengan wilayah daratan tetapi potensi lautan belum sepenuhnya dimanfaatkan dan dikelola untuk meningkatkan pendapatan nasional. Kenyataan yang sesungguhnya menunjukkan bahwa pembangunan di Indonesia pada dasarnya sangat tergantung pada perairan laut. Terbukti sebagian besar wilayah provinsi di Indonesia dihubungkan oleh perairan laut. Sebanyak 37 provinsi berbatasan dengan pesisir, dan hanya satu provinsi yang tidak berbatasan dengan laut, yaitu Provinsi Papua Pegunungan. Total terdapat 38 provinsi. Menyadari fakta tersebut pemerintah mendorong secara perlahan namun pasti untuk menjadikan lautan sebagai sumber pendapatan nasional dan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Berdasarkan UU No 17 tahun 1985 tentang pengesahan Konvensi PBB mengenai Hukum Laut (UNCLOS 1. , luas wilayah laut Indonesia yang semula 3,1 juta Km2 dengan komposisi 2,8 juta Km2 wilayah perairan kepulauan dan 0,3 Km2 wilayah perairan territorial, selanjutnya luas wilayah laut ditambahkan dengan luas Zona Ekonomi Ekskklusif (ZEE) sebanyak 2,7 Km2. Dengan demikian total luas lautan Indonesia menjadi 5,8 juta Km2. Sedangkan luas wilayah daratan sebesar 2,01 juta Km2. Total luas wilayah NKRI yang meliputi lautan 5,8 juta Km2 dan daratan 2,01 juta Km2 sebesar 7,81 juta Km2. Menindaklanjuti hal itu maka pada tahun 2012. Dewan Kelautan Indonesia merumuskan dokumen yang menyatakan pentingnya mendorong ekonomi kelautan sebagai arus utama pembangunan nasional bidang Pembangunan kelautan diarahkan pada 5 pilar kebijakan utama antara lain : mewujudkan budaya bahari, mendorong tata kelola lautan, membangkitkan ekonomi kelautan, meningkatkan keamanan dan keselamatan di laut dan memelihara serta menjaga lingkungan laut (Dewan Kelautan Indonesia, 2. Menurut Kusumastanto. laut Indonesia kaya akan potensi yang besar, diperkirakan sebanyak US$ 171 Milyar per tahun berpeluang dihasilkannya pendapatan nasional dari bidang pembangunan melalui eksplorasi ekonomi kelautan. Kusumastanto menyatakan bahwa pembangunan ekonomi kelautan adalah pembangunan yang berkonsep memanfaatkan sumberdaya kelautan dan fungsi laut secara bijaksana. Apabila potensi tersebut digali secara serius dan penuh komitmen, menjadi keniscayaan bahwa bidang ekonomi kelautan akan dapat mewujudkan kesejahteraan bersama. Besarnya nilai kontribusi Produk Domestik Bruto atau output bidang ekonomi kelautan telah diteliti oleh riset sebelumnya yang menunjukkan adanya peran yang besar dari pembangunan bidang ekonomi kelautan terhadap pendapatan nasional. Sapanli. Kusumastanto. Budiharsono. , & Sadelie. membuktikan pada tahun 2010 diketahui bahwa total output bidang kelautan dihasilkan sebesar 27,39% dari total output nasional. Sedangkan kontribusi PDB bidang kelautan sebesar 30,32 % dari total PDB nasional pada tahun 2010. Selanjutnya pada tahun 2015. Sapanli. Kusumastanto. Budiharsono. , & Sadelie, . kembali mengkaji dan menemukan adanya kenaikan output bidang ekonomi kelautan menjadi sebesar 28,01%. Riset berbeda ditunjukkan oleh Kusumawardhani. yang menyatakan kontribusi bidang kemaritiman Indonesia baru sebesar 11,67% pada tahun 2016, 11,25% pada tahun 2019 dan 11,31 % pada tahun 2020. Kusumawardhani menilai kecenderungan penurunan PDB kemaritiman dan bertahan pada angka 11%. Meskipun terdapat perbedaan penghitungan tetapi substansi yang diambil bukan terletak pada perbedaan tersebut melainkan pada esensi yang membuktikan bahwa pembangunan ekonomi kelautan dapat Lindiawatie / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. memberikan peran yang sangat besar sebagai sumber pendapatan nasional dan sebagai cara untuk meningkatkan kesejahteraan bersama namun apabila dikelola dengan dukungan penuh oleh stakeholder bersama-sama dengan melibatkan para akademisi, swasta dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan bidang ekonomi kelautan. Keberadaan Undang-Undang Kelautan No 32 tahun 2014 yang disahkan pada akhir kepemimpinan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono patut diiadikan tonggak penting untuk mengembangkan, mengeksplorasi, memanfaatkan dan mengelola sumber daya kelautan dan fungsi laut secara bijaksana untuk sebesar-besarnya kemakmuran bangsa dan negara yang berdaulat atas lautan. Berdasarkan realitas di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran dan dampak pembangunan ekonomi kelautan di Indonesia terhadap perekonomian nasional. KAJIAN LITERATUR Salah satu pilar penting yang sangat perlu dikembangkan untuk mencapai kemakmuran Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah aktivitas ekonomi berbasis laut . cean based econom. atau disebut sebagai ekonomi kelautan yang terdiri dari aktivitas ekonomi yang memanfaatkan sumberdaya kelautan atau dikenal sebagai ekonomi kelautan dan aktivitas ekonomi yang memanfaatkan fungsi laut atau dikenal sebagai ekonomi maritim (Kusumastanto. T, 2. Yang dimaksud dengan Sumber Daya Kelautan dalam UU Kelautan No 32 Tahun 2014 adalah sumber daya yang bersumber dari laut yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui dan sumber daya tersebut memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif serta dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Sedangkan ekonomi maritim adalah aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan pelayaran, perdagangan laut atau aktivitas lain yang terkait laut termasuk logistik dan pelabuhan. Untuk membedakan kelautan dengan maritim, diplomat senior Hasjim Djalal menjelaskan bahwa kelautan berkenaan dengan fisik, sedangkan maritim lebih kepada jiwa dan pikiran yang bisa memanfaatkan laut. Dengan demikian ekonomi maritim dapat diartikan aktivitas ekonomi yang langsung atau tidak langsung memanfaatkan wilayah perairan yang meliputi perairan laut teritorial, perairan kepulauan, perairan pedalaman dan Zona Eksklusif Ekonomi termasuk aktivitas di wilayah pesisir serta pulau-pulau kecil ( Hirawan F. Teto C. , & Manoppo N. ,2. OECD . menyatakan belum ada definisi ekonomi kelautan yang diterima secara universal. OECD mengutip pernyataan ekonomi kelautan menurut Komisi Eropa yaitu "ekonomi maritim terdiri dari semua kegiatan ekonomi sektoral dan lintas sektoral yang berkaitan dengan samudra, laut dan pesisir. Ini mencakup kegiatan pendukung langsung dan tidak langsung terdekat yang diperlukan untuk berfungsinya sektor-sektor ekonomi ini, yang dapat berlokasi di mana saja, termasuk di negara-negara terkurung daratan. " Kutipan Park dalam OECD . menyatakan bahwa ekonomi kelautan adalah kegiatan ekonomi yang berlangsung di laut, menerima output dari laut dan menyediakan barang dan jasa bagi laut. Dengan kata lain, ekonomi kelautan dapat didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi yang secara langsung maupun tidak langsung berlangsung di lautan, memanfaatkan hasil laut dan memasukkan barang dan jasa ke dalam kegiatan lautan. Selanjutnya OECD memproyeksikan sektor-sektor dalam ekonomi kelautan yang memiliki prospek pertumbuhan bisnis dan tenaga kerja yang tinggi untuk jangka panjang diantaranya adalah sektor pelayaran . , shipbuilding, offshore wind, marine aquaculture, marine tourism dan maritime surveillance and safety. Hal yang sangat menarik dari pertumbuhan ekonomi yang menggunakan sumber daya alam adalah ditemukannya hubungan yang negatif antara pertumbuhan ekonomi dengan sumber daya alam, bahwa perekonomian yang kaya akan sumber daya alam cenderung tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan perekonomian tanpa sumber daya alam yang substansial. Perekonomian dengan rasio ekspor sumber daya alam terhadap PDB yang tinggi pada tahun 1970 . ahun dasa. cenderung tumbuh lambat selama periode 20 tahun berikutnya, 1970-1990. Hubungan negatif ini tetap berlaku bahkan setelah mengendalikan banyak variabel yang dianggap penting bagi pertumbuhan ekonomi (Sachs. , & Warner. , 1. Riset tersebut juga dikuatkan oleh Singh. Deep Sharma. Radulescu. Balsalobre-Lorente. , & Bansal. P . yang menemukan hubungan negatif antara pendapatan dari sumber daya alam dan pertumbuhan Lindiawatie / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. ekonomi untuk negara-negara negara kaya utama di dunia yaitu Inggris. Prancis. China. Rusia dan Jerman, dengan dampak yang berbeda-beda pada kuantil di setiap negara. Efek positif baik pada kuantil rendah maupun tinggi dari pendapatan sumber daya alam dan pertumbuhan ekonomi hanya diperlihatkan pada negara China dan AS. Kedua riset tersebut menemukan fakta yang sama bahwa sumber daya alam memiliki hubungan negatif dengan pertumbuhan ekonomi. Uji kausalitas Dumitrescu-Hurlin menunjukkan bahwa sumber daya alam dapat memprediksi pertumbuhan ekonomi hanya di China. AS dan tidak ditemukan kausalitas untuk empat negara lain. Namun ketersediaan sumber daya alam untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dapat dijalani secara bersama-sama berdasarkan riset oleh Chambers. , & Guo. -T. Pertumbuhan ekonomi yang memanfaatkan sumber daya alam sebagai faktor produksi menurut Chambers. , & Guo. -T. dapat berjalan berdampingan. Mereka menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan lingkungan yang tidak memburuk dapat seiring sejalan, sepanjang jalur pertumbuhan ekonomi berjalan Mereka mengembangkan model pertumbuhan endogen satu sektor di mana sumber daya alam terbarukan dipostulatkan sebagai faktor produksi sekaligus ukuran kualitas lingkungan. Menurut Dewan Kelautan Indonesia . , apabila dibandingkan dengan negara-negara lain yang memiliki laut, kekayaan sumber daya laut belum menjadi basis ekonomi bagi pembangunan nasional di NKRI karena kontribusi dari bidang pembangunan ekonomi kelautan terhadap PDB dinilai belum optimal. Padahal luas NKRI 75% terdiri dari laut dibandingkan dengan wilayah daratan 25%. Perbandingan kontribusi PDB ekonomi kelautan Indonesia jika dibandingkan negara lain masih jauh dari harapan. Sebagai contoh perbandingan Indonesia dengan China. Negara China memiliki panjang pantai 32. 000 Km dengan luas perairan laut 3 juta Km2. Sedangkan Indonesia memiliki panjang pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada dengan panjang 99. 083 km serta luas laut total 5,8 juta Km2. Tetapi kontribusi ekonomi kelautan terhadap PDB dibandingkan China masih belum signifikan. Wang. , & Wang. ) melaporkan kontribusi PDB ekonomi kelautan Tiongkok mencapai $1. 149,50 Miliar pada tahun 2017, sepuluh kali lipat lebih besar daripada tahun 2001. Kontribusi ekonomi kelautan Indonesia tahun 2001 sebesar 20,15 % dari PDB (Dewan Kelautan Indonesia, 2. Sapanli. Kusumastanto. Budiharsono. , & Sadelie. melaporkan kontribusi ekonomi kelautan terhadap PDB tahun 2015 sebesar 28,01%. Ekonomi kelautan China selama 16 tahun . berkontiribusi 10x lipat. Ekonomi kelautan Indonesia selama 14 tahun . mengalami pertambahan 7,86% dari 20,15 % pada tahun 2001 menjadi 28,01 % pada tahun 2015. Kontribusi ekonomi kelautan Indonesia mengalami kenaikan tapi dianggap belum optimal. Riset yang serupa dengan riset ini telah dilakukan oleh Sapanli. Kusumastanto. Budiharsono. , & Sadelie. yang menggunakan Tabel IO tahun 2010 untuk menganalisis struktur ekonomi kelautan Indonesia dimana diketahui bahwa sektor pariwisata bahari memiliki daya penyebaran yang tinggi. Selanjutnya riset-riset yang menggunakan Tabel IO kebanyakan dilakukan untuk mengetahui kontribusi suatu sektor produksi terhadap perekonomian daerah. Tipka. , & Silooy. menggunakan Tabel IO untuk mengetahui dampak sektor perikanan terhadap perekonomian Maluku yang menunjukkan bahwa sektor perikanan mempunyai pengaruh yang besar terhadap perekonomian di Provinsi Maluku. Riset oleh Kohar. A, . yang menggunakan Tabel IO regional Jawa Tengah untuk mengetahui peranan sektor perikanan di Provinsi Jawa Tengah. Hasilnya adalah sektor perikanan berkontribusi rendah terhadap perekonomian Jawa Tengah. Riset oleh Dault. Kohar. dan Suherman. menggunakan Tabel IO untuk melihat keterkaitan sektor perikanan dengan sektor Hasilnya adalah sektor perikanan lebih dominan terkait ke belakang daripada ke depan. Ini bermakna bahwa sektor tersebut cenderung menarik sektor hulu, apabila dibandingkan dengan sektor hilir atau dengan kata lain sektor tersebut lebih berorientasi memanfaatkan input dari sektor yang lain dari pada sektor tersebut yang menyediakannya METODOLOGI PENELITIAN Analisis Input-Output (IO) dalam perekonomian adalah suatu metode yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara berbagai sektor ekonomi dalam suatu perekonomian. Metode ini dikembangkan oleh Wassily Leontief pada tahun 1930-an. Manfaat Analisis IO adalah : . menganalisis hubungan antara sektor ekonomi sehingga dapat membantu memahami bagaimana berbagai sektor ekonomi saling terkait, . Lindiawatie / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. Mengidentifikasi sektor ekonomi yang strategis sehingga dapat membantu mengidentifikasi sektor ekonomi yang memiliki dampak besar pada perekonomian, dan . membuat perencanaan ekonomi yang lebih efektif yang dapat membantu membuat perencanaan ekonomi dengan mempertimbangkan hubungan antara berbagai sektor ekonomi. Di Indonesia. Tabel IO telah digunakan sejak 1971, 1975, 1980 dan seterusnya hingga saat ini (Djoyodipuro dan Sudigno, 1. Publikasi terbaru adalah Tabel IO 2020 yang diterbitkan pada bulan Januari 2025. Penyusunannya membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang banyak. Tabel IO berguna untuk mengetahui struktur ekonomi suatu negara. Tabel tersebut menggambarkan arus barang dari satu sektor ke berbagai sektor yang menggunakan hasil sektor pertama sebagai input. Terdapat permintaan antara (Kuadran I) dan permintaan akhir (Kuadran II). Permintaan antara artinya permintaan sektor-sektor tertentu terhadap input atau bahan baku dari sektor yang dikategorikan menyediakan input antara . ahan bak. Terdapat juga input primer sekaligus output yang dihasilkan oleh sektor-sektor yang terdiri dari upah tenaga kerja, surplus usaha, penyusutan, penerimaan pemerintah . ajak yang dikeluarkan sektor-sektor usah. (Kuadaran . Sedangkan permintaan akhir adalah konsumsi rumah tangga, perusahaan, pemerintah dan ekspor impor. Sedangkan Kuadran IV adalah jumlah input primer yang juga merupakan jumlah permintaan akhir dan output total. Gambar 1. Bentuk matriks dalam Tabel IO Untuk lebih mudah dalam mengartikulasi angka-angka dalam Tabel IO digunakan bentuk matriks. Bentuk matriks membuat mudah memahami makna angka-angka tersebut. Angka-angka x11,x12 dan seterusnya yang tertera pada baris dan kolom dalam matriks tersebut, pada dasarnya adalah input yang dibutuhkan namun sekaligus juga output yang dihasilkan untuk sektor tertentu. Gambar 1 memperlihatkan komponen-komponen baris dan kolom padaTabel IO. Sebagai contoh. Output X1 atau sektor 1 dihasilkan dari distribusi pada barisan output x11, x12, x13 dan sisanya untuk permintaan akhir (F. Output x11, x12 dan x13 pada dasarnya adalah input yang dibutuhkan sebagai permintaan antara dari sektor produksi yang tertera pada kolom. Dengan demikian output berperan sekaligus digunakan sebagai input untuk sektor produksi yang tercantum pada kolom. Untuk memudahkan pemahaman secara baris dibuat persamaan aljabar sebagai berikut (Cahyono. , & Sumargo. , 2. x11 x12 x13 F1 = X1 x21 x22 x23 F2 = X2 x31 x32 x33 F3 = X3 Secara ringkas, persamaan secara baris dapat ditulis seperti berikut ini : Oc3yc=1 ycuycnyc yaycn = ycUycn , dengan i =1,2 dan 3 Keterangan : ycuycnyc = output sektor i yang digunakan untuk input sektor j = Permintaan akhir sektor i = Jumlah output sektor i Lindiawatie / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. Untuk memahami secara kolom maka dibuat persamaan berikut : x11 x12 x13 V1 = X1 x21 x22 x23 V2 = X2 x31 x32 x33 V3 = X3 Adapun persamaan ringkas secara kolom adalah seperti berikut ini: Oc3yc=1 ycuycnyc ycOycn = ycUycn , dengan i =1,2 dan 3 Keterangan : Vi = Nilai Tambah Bruto atau input primer sektor j Matriks tersebut dapat digunakan untuk memperoleh matriks pengganda. Matriks pengganda dalam Tabel IO sangat dibutuhkan untuk menganalisis dampak perubahan variabel endogen sebagai akibat perubahan pada variabel eksogen dan sebaliknya. Variabel endogen pada Tabel IO adalah output dan input sektor produksi . uadran I) sedangkan variabel eksogen adalah permintaan akhir . uadran II) dan nilai tambah bruto atau input primer . Dalam model IO, output mrmiliki hubungan timbal balik dengan permintaan akhir dan output itu sendiri. Artinya jumlah output yang diproduksi tergantung permintaan akhir, atau sebaliknya. Tahapan untuk mendapatkan matriks pengganda adalah sebagai berikut (BPS, 1. Menghitung koefisien input ycaycnyc = ycuycnyc ycUycnyc Keterangan : = koefisien input sektor ke i oleh sektor ke j ycaycnyc = penggunaan input sektor ke i oleh sektor ke j ycuycnyc = total input sektor ke j = total output Xi ycUycnyc Membuat matriks identitas Setelah koefisien input diperoleh dan membentuk matriks Ad, maka dibuat matriks identitas dimana matriks identitas ini akan menjadi pengurang matriks A. Matriks identitas sebagai berikut : Menghitung matriks pengganda Matriks pengganda diperoleh dari matriks kebalikan, dimana matriks pengganda adalah matriks yang berasal dari matriks hasil pengurangan matriks identitas dengan matriks Ad (I- A. Lindiawatie / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. yaA = . a Oe yaycc )Oe1 Keterangan : = matriks pengganda ya Oe yaycc )Oe1 = matriks hasil pengurangan matriks identitas dengan matriks A Data yang digunakan pada riset ini mengacu pada Tabel IO tahun 2020 yang dirilis pada tahun 2025. Tabel IO yang digunakan merupakan Tabel IO transaksi total Indonesia atas harga dasar dari 185 produk. Namun sebelumnya harus diklasifikasikan sektor-sektor yang termasuk ke dalam bidang pembangunan ekonomi kelautan. Menurut Cahyono. , & Sumargo. dalam menentukan penggolongan sektorsektor perlu diketahui kriteria tertentu yaitu sifat dan jenis komoditi, teknologi pembuatan, prospek masa depan dan peranan atau kegunaan dari setiap komoditi. Untuk memudahkan penghitungan, dilakukan pemisahan atau disagregasi menjadi 2 kelompok besar yaitu pengelompokan sektor-sektor yang termasuk dalam kegiatan ekonomi kelautan dan sektor-sektor yang bukan termasuk kegiatan ekonomi kelautan . on Pemisahan tersebut berawal dari identifikasi 185 sektor dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) yang termasuk ke dalam kegiatan kelautan. Beberapa pengklasifikasian sektor yang termasuk dalam kegiatan ekonomi kelautan mengacu pada riset Colgan. tentang pengukuran dan distribusi ekonomi kelautan. Menurut Colgan. terdapat 4 konsep dalam pengukuran aktivitas ekonomi kelautan yaitu : . Tempat karyawan bekerja, . Tenaga kerja, . Upah dan . PDB. Dari riset Colgan tersebut diperoleh 23 industri ekonomi kelautan yang terdiri dari 48 industri individual yang ditetapkan oleh Sistem Klasifikasi Industri Amerika Utara atau North American Industrial Classification System (NAICS). Ke-23 industri kelautan tersebut dikelompokkan ke dalam 6 sektor antara lain : . Sektor bangunan kelautan . , . Sektor sumber daya kelautan yang dapat diperbaharui . iving resourc. diantaranya perikanan, pengolahan, budidaya, . Sektor mineral diantaranya eksplorasi minyak dan gas, . Sektor jasa perbaikan dan pembuatan kapal . hip and boat building and repai. , . Pariwisata . ourism and recreatio. Transportasi laut. Riset ini menggunakan penggolongan bidang ekonomi kelautan yang telah dikelompokkan oleh Suhana. Sapanli. K dan Fauzi. S . yang juga mengacu pada pengelompokan oleh Colgan tersebut, sebagai berikut : Tabel 2. Klasifikasi sektor-sektor dalam Pembangunan Ekonomi Kelautan Sektor Perikanan Pariwisata Pertambangan Kode Sub sektor Ikan Udang dan crustacea lainnya Biota air lainnya Rumput laut dan sejenisnya Ikan kering dan ikan asin Hasil pengolahan dan pengawetan ikan Penyediaan akomodasi Penyediaan makan dan minum Jasa kesenian, hiburan dan rekreasi Jasa lainnya Minyak bumi Pasir besi dan bijih besi Bijih timah Barang galian segala jenis Lindiawatie / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. Sektor Kode Industri kelautan 050 Sub sektor Barang tambang mineral bukan logam Angkutan laut Garam kasar Jasa pertambangan minyak bumi dan gas alam Jasa pertambangan dan penggalian lainnya Barang-barang hasil kilang minyak dan gas bumi Kapal dan jasa perbaikannya Hasil gas alam dan buatan, pengadaan uap air/air panas, udara dingin dan produk es Jasa angkutan laut Jasa angkutan Sungai, danau dan penyeberangan Bangunan Jalan, jembatan, dan pelabuhan Jasa kelautan Perdagangan selain mobil dan sepeda motor Jasa penunjang angkutan Jasa persewaan dan jasa penunjang usaha Sedangkan sektor-sektor yang bukan termasuk bidang ekonomi kelautan adalah sektor-sektor pertanian . adi, jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan dan lain-lai. , sektor perkebunan . aret, kopi, teh dan lainlai. , peternakan . ernak, susu, unggas dan lain-lai. , sektor pertambangan selain migas, sektor perdagangan dan jasa selain kelautan. Semuanya termasuk ke dalam kelompok besar non kelautan. Setelah dilakukan disagregasi menjadi dua kelompok besar, selanjutnya dilakukan disagregasi sektor-sektor dalan bidang ekonomi kelautan menjadi sub sektor-sub sektor, sehingga terdapat 26 sub sektor yang termasuk ke dalam kegiatan ekonomi kelautan. Model IO dilandasi oleh asumsi-asumsi berikut : . Keseragaman (Homogenit. , artinya setiap sektor ekonomi memproduksi satu jenis barang dengan input yang seragam serta tidak ada substitusi terhadap input dari output sektor yang berbeda. Kesebandingan (Proportionalit. , artinya hubungan antara input dan output mengikuti hubungan fungsi linier, bermakna naik turunnya output sebanding dengan naik turunnya dan . Penjumlahan (Additivit. , artinya total kegiatan produksi dari suatu sektor merupakan penjumlahan dari masing-masing sektor yang terpisah. Berdasarkan asumsi demikian maka model IO bersifat statis, terbuka dan memiliki keterbatasan yaitu koefisien teknis bersifat konstan selama periode proyeksi maka konsekuensinya adalah teknologi yang digunakan juga diasumsikan konstan. Akibatnya perubahan harga dan kuantitas dari input akan selalu sebanding dengan perubahan harga dan kuantitas output (BPS, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk mengetahui peran sektor-sektor dalam bidang ekonomi kelautan terhadap pembangunan kelautan dapat diketahui dari deskripsi jumlah output yang dihasilkan oleh masing-masing sektor, jumlah nilai tambah bruto atau penggunaan input primer masing-masing sektor dan jumlah permintaan akhir dari masing-masing sektor (Tabel . Tabel 3. Output/Input. Permintaan akhir dan Nilai Tambah Bruto (Triliun R. Tahun 2020 Bidang Sektor Output/input Permintaan NTB/input Ekonomi kelautan Perikanan Lindiawatie / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. Bidang Sektor Pariwisata bahari Pertambangan Industri kelautan Angkutan laut Bangunan kelautan Jasa kelautan Total Non ekonomi kelautan Total 1 dan 2 Output/input Permintaan NTB/input Sumber : Data diolah . Pada Tabel 3 diketahui total output yang dihasilkan secara total dari bidang ekonomi kelautan sebesar Rp 6. Sedangkan dari hasil penghitungan output bidang non kelautan diperoleh nilai sebesar Rp Apabila ditotal jumlah output bidang kelautan dengan output non kelautan maka total output keseluruhan sebesar Rp 28. Dari total output yang dihasilkan secara keseluruhan tersebut, maka kontribusi bidang ekonomi kelautan terhadap perekonomian nasional sebesar 24% dari total output secara Sedangkan peran 5 terbesar dari 7 sektor ekonomi kelautan diketahui sebagai berikut : . Sektor jasa kelautan, . Sektor pariwisata bahari, . Sektor Industri kelautan, . Sektor perikanan dan . Sektor Pertambangan. Akan tetapi output bidang ekonomi kelautan tahun 2020 mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan 10 tahun silam. Riset oleh Sapanli. Kusumastanto. Budiharsono. , & Sadelie, . memperlihatkan bahwa output bidang ekonomi kelautan sebesar 27,39% dari total output nasional. Terjadi penurunan sebesar 3,39%. Adapun peran masing-masing sub sektor dalam pembangunan bidang ekonomi kelautan selanjutnya diuraikan secara detil pada Tabel 4. Tabel 4. Peran Sub Sektor dalam Bidang Ekonomi Kelautan Tahun 2020 (Triliun R. Sektor Kode Sub sektor Output NTB Perikanan Ikan Udang dan crustacea lainnya Biota air lainnya Rumput laut dan sejenisnya Ikan kering dan ikan asin Hasil pengawetan ikan Pariwisata Penyediaan akomodasi Penyediaan makan dan 1. Jasa kesenian, hiburan dan Jasa lainnya Minyak bumi Pasir besi dan bijih besi Bijih timah Barang galian segala Jenis Pertambangan Lindiawatie / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. Sektor Industri Kode Sub sektor Barang tambang mineral bukan logam garam kasar Output NTB Angkutan laut Bangunan Jasa kelautan Jasa pertambangan minyak bumi dan gas alam Jasa Barang-barang hasil kilang minyak dan gas bumi Kapal dan jasp Perbaikannya Hasil gas alam dan buatan, pengadaan uap air/air panas, udara dingin dan produk es Jasa angkutan laut Jasa angkutan sungai danau dan penyeberangan Jalan, jembatan dan pelabuhan Perdagangan selain mobil dan 2. sepeda motor Jasa penunjang angkutan Jasa persewaan dan jasa 355. penunjang usaha Sumber : Data diolah . Berdasarkan Tabel 4 diketahui peran masing-masing sub sektor dari sektor-sektor ekonomi kelautan. Pada sektor perikanan diketahui sub sektor ikan memberikan nilai output dan NTB terbesar dibandingkan dengan sub yang lain. Pada sektor pariwisata bahari, diketahui sub sektor yang memberikan nilai output dan NTB terbesar adalah sub sektor penyediaan makan dan minum. Pada sektor pertambangan, diketahui sub sektor yang memberikan nilai output dan NTB terbesar adalah sub sektor barang galian. Pada sektor industri kelautan diketahui sub sektor yang memberikan nilai output dan NTB terbesar adalah sub sektor barangbarang hasil kilang minyak. Pada sektor angkutan laut diketahui sub sektor terbesar output dan NTB adalah sub sektor jasa angkutan laut sedangkan untuk sektor jasa kelautan diketahui sub sektor yang memberikan nilai output dan NTB terbesar adalah sub sektor perdagangan selain sepeda motor dan mobil. Tabel IO dapat juga digunakan untuk mengetahui keterkaitan antar sektor melalui daya penyebaran atau dampak langsung ke belakang . ackward linkag. dan derajat kepekaan atau dampak langsung ke depan . orward linkag. Daya penyebaran adalah ukuran untuk melihat keterkaitan ke belakang. Derajat kepekaan adalah besaran yang menjelaskan dampak yang terjadi terhadap output suatu sektor sebagai akibat dari perubahan permintaan akhir pada masing-masing sektor. Angka-angka yang diperoleh untuk mengetahui daya penyebaran dan derajat kepekaan bersumber dari nilai matriks kebalikan atau matriks pengganda. Data daya penyebaran dan derajat kepekaan sektor-sektor dalam bidang kelautan diperlihatkan pada Tabel 5. Tabel 5. Daya Penyebaran. Indeks DP. Derajat Kepekaan dan Indeks DK Tahun 2020 Sektor Perikanan Pariwisata bahari Pertambangan Daya Penyebaran 1,326 1,120 1,332 Indeks 0,953 0,805 0,957 Derajat Kepekaan 2,797 1,012 1,000 Indeks 1,96 0,71 0,70 Lindiawatie / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. Industri kelautan Angkutan laut Bangunan kelautan Jasa kelautan 1,251 2,103 1,926 1,065 0,899 1,512 1,384 0,765 1,284 1,011 1,002 1,471 0,90 0,71 0,70 1,03 Sumber : Data diolah . Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa daya penyebaran dan derajat kepekaan seluruh sektor dalam bidang ekonomi kelautan memiliki nilai lebih dari 1. Nilai daya penyebaran ini berguna untuk mengetahui keterkaitan ke belakang . ackward lingkage. melalui angka indeks penyebaran. Nilai derajat kepekaan berguna untuk mengetahui keterkaitan sektor ke depan . orward lingkage. melalui angka indeks kepekaan. Dari Tabel 5 diketahui nilai indeks daya penyebaran yang bernilai lebih dari 1 terdapat pada sektor angkutan laut dan bangunan kelautan. Artinya sektor angkutan laut dan bangunan kelautan memiliki keterkaitan ke belakang atau memiliki ketergantungan tinggi terhadap sektor lain. Apabila terjadi kenaikan 1 unit output pada sektor angkutan laut dan bangunan kelautan maka akan mendorong naiknya sektor-sektor lain termasuk dirinya sendiri. Sedangkan untuk derajat kepekaan diketahui sektor perikanan dan jasa kelautan memiliki derajat kepekaan terbesar dengan indeks derajat kepekaan lebih dari 1. Artinya sektor perikanan dan sektor jasa kelautan memiliki keterkaitan ke depan atau daya dorong yang tinggi dibandingkan sektor yang lain. Artinya kenaikan 1 unit output pada sektor perikanan akan mendorong naiknya kebutuhan input dari sektor-sektor lain termasuk sektor itu sendiri. Selanjutnya daya penyebaran dan derajat kepekaan masing-masing sub sektor ekonomi kelautan beserta indek DP dan indeks DK disajikan pada Tabel 6 dan Tabel 7. Tabel 6. Daya Penyebaran dan Daya Kepekaan Sub Sektor Sektor Perikanan Subsektor Ikan Udang dan crustacea lainnya Biota air lainnya Rumput laut dan sejenisnya Ikan kering dan ikan asin Hasil pengolahan dan pengawetan Dampak Dampak Belakang Depan 2,9674 1,6458 1,2554 1,0947 1,2932 1,0497 1,1731 1,5274 2,3018 1,0022 2,3620 1,0122 1,6805 2,0971 1,9152 1,8154 1,0351 1,0263 1,0062 1,0220 Pertambangan Minyak bumi Pasir besi dan bijih besi Bijih timah Barang galian segala enis Barang tambang mineral bukan logam 2,5692 3,3899 3,1597 3,6101 2,9254 1,2867 1,0130 1,0229 1,3098 1,0372 Industri 1,5772 1,0202 Pariwisata Penyediaan akomodasi Penyediaan makan dan minum Jasa kesenian, hiburan dan rekreasi Jasa lainnya Garam kasar Lindiawatie / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. Sektor Subsektor Jasa pertambangan minyak bumi dan gas alam Jasa pertambangan dan penggalian Barang-barang hasil kilang minyak dan gas bumi Kapal dan jasa perbaikannya Hasil gas alam dan buatan, pengadaan uap air/air panas, udara dingin dan produk es Angkutan laut Jasa angkutan laut Jasa angkutan Sungai, danau dan Bangunan Jasa kelautan Dampak Dampak Belakang Depan 1,5543 1,0113 1,5881 1,0961 1,9838 2,0218 1,2084 1,2294 1,6902 1,0287 2,2243 1,0123 2,1280 1,0036 2,1546 1,0128 Jalan, jembatan dan pelabuhan Perdagangan selain mobil dan sepeda Jasa penunjang angkutan Jasa persewaan dan jasa penunjang 1,5696 1,8082 1,2109 1,0510 1,7862 1,1014 Sumber Data diolah . Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa semua sub sektor memiliki daya penyebaran dan kepekaan lebih Artinya sektor-sektor dalam ekonomi kelautan saling terkait ke belakang ataupun ke depan. Dimana antara sektor-sektor memiliki ketergantungan yang tinggi. Apabila satu sektor meningkat sebesar 1 unit output maka akan mendorong peningkatan output sektor yang lain . ackward lingkag. Kemudian apabila 1 unit output naik akan menaikkan kebutuhan input sektor lain . orward linkag. Tabel 7. Indeks Daya Penyebaran dan Indeks Daya Kepekaan Sub Sektor Indeks Indeks Daya Derajat Sektor Subsektor Penyebaran Ikan 1,5660 0,8686 Udang dan crustacea lainnya 0,6625 0,5778 Biota air lainnya 0,6825 0,5540 Rumput laut dan sejenisnya 0,6191 0,8061 Ikan kering dan ikan asin 1,2148 0,5289 Hasil pengolahan dan pengawetan ikan 1,2465 0,5342 Penyediaan akomodasi Penyediaan makan dan minum Jasa kesenian, hiburan dan rekreasi Jasa lainnya 0,8947 1,1165 1,0550 0,9665 0,6893 0,6835 0,6701 0,6806 Minyak bumi 0,6927 0,3469 Lindiawatie / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. Indeks Daya Penyebaran 0,9140 0,8520 0,9734 0,7888 Indeks Derajat 0,2731 0,2758 0,3532 0,2797 Garam kasar Jasa pertambangan minyak bumi dan gas alam Jasa pertambangan dan penggalian lainnya Barang-barang hasil kilang minyak dan gas bumi Kapal dan jasa perbaikannya Hasil gas alam dan buatan, pengadaan uap air/air panas, udara dingin dan produk es 0,8969 0,8839 0,9031 1,1281 1,1497 0,5802 0,5751 0,6233 0,6872 0,6991 0,9612 0,5850 Jasa angkutan laut Jasa angkutan sungai, danau dan penyeberangan 1,0686 1,0223 0,4863 0,4821 Jalan, jembatan dan pelabuhan 0,9393 0,5006 Perdagangan selain mobil dan sepeda motor Jasa penunjang angkutan Jasa persewaan dan jasa penunjang usaha 0,8847 1,0192 1,0068 0,6825 0,5924 0,6208 Sektor Subsektor Pasir besi dan bijih besi Bijih timah Barang galian segala jenis Barang tambang mineral bukan logam Sumber : Data diolah . Tetapi apabila dilihat dari masing-masing indeks sub sektor maka hanya beberapa saja dari sub sektor yang memiliki nilai indeks daya penyebaran dan indeks derajat kepekaan lebih dari 1. Sebagian besar memiliki nilai kurang dari 1. Sub sektor yang memiliki indeks DP lebih dari satu antara lain sub sektor ikan, ikan kering/ikan asin, hasil pengolahan pengawetan ikan, penyediaan makan dan minum, jasa kesenian hiburan dan rekreasi, barang-barang hasil kilang minyak dan gas bumi, kapal dan jasa perbaikan,jasa angkutan laut, jasa angkutan sungai, danau dan penyeberangan, jasa penunjang angkutan dan jasa persewaan dan penunjang usaha. Nilai lebih dari 1 artinya sub sektor tersebut mendorong atau memiliki kemampuan untuk mendorong industri hulunya. Sedangkan derajat kepekaan sub sektor perikanan relatif rendah artinya kemampuan mendorong produktivtas atau pertumbuhan sektor lain dengan menggunakan input sub sektor tersebut relatif rendah atau kurang sensitif. Dengan kata lain sub sektor dalam pembangunan ekonomi kelautan kurang sensitif dalam mendorong pertumbuhan sektor lain tetapi sub sektor ekonomi kelautan mampu mendorong kemampuan industri hulu. Artinya keberadaan sub sektor ekonomi kelautan akan mampu mendorong sisi hulu dari perekonomian. Apabila dimisalkan terjadi shock kenaikan sektor angkutan laut, sektor bangunan kelautan, sektor perikanan dan jasa kelautan dengan asumsi masing-masing kenaikan sebesar 10% maka akan mempengaruhi sektor-sektor yang lain diperlihatkan pada Tabel 8. Tabel 8. Dampak Shock Kenaikan Sektor Angkutan Laut. Sektor Bangunan Kelautan Sektor Perikanan dan Sektor Jasa Kelautan dengan Asumsi sebesar 10% terhadap Sektor yang Lain Sektor Shock Shock Sektor Shock Sektor Shock Sektor Sektor Bangunan Perikanan Jasa Kelautan Angkutan Kelautan Laut Perikanan 5,758747 6,460891 11,70109 0,337919618 Pariwisata bahari 0,039079 0,043844 0,011544 0,002293127 Lindiawatie / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. Pertambangan Industri kelautan Angkutan laut Bangunan kelautan Jasa kelautan Non Kelautan 0,000545 0,90965 10,03381 0,004958 1,510424 2,774808 0,000611 1,02056 0,037937 10,00556 1,694585 3,113131 0,000161 0,268703 0,009989 0,001464 0,446167 0,819655 3,1963E-05 0,053377662 0,001984217 0,000290918 10,08863074 0,162823994 Sumber : Data diolah . Pada Tabel 8 diketahui apabila terjadi shock kenaikan sektor perikanan dan jasa kelautan dengan asumsi kenaikan sebesar 10% maka akan mendorong kenaikan sektor-sektor yang lain. Dari Tabel 8 diketahui shock sektor angkutan laut akan mendorong kenaikan sektor angkutan laut, sektor perikanan, sektor non kelautan, sektor jasa kelautan dan sektor industri kelautan. Shock sektor bangunan kelautan akan mendorong kenaikan sektor bangunan kelautan, sektor perikanan, sektor non kelautan, sektor jasa kelautan dan sektor industri kelautan. Shock sektor perikanan akan menaikkan sektor perikanan itu sendiri, sektor non kelautan, sektor jasa kelautan dan industri kelautan. Sedangkan apabila terjadi shock kenaikan sektor jasa kelautan sebesar 10% akan mendorong kenaikan sektor jasa kelautan itu sendiri, sektor perikanan dan non kelautan. Akan tetapi keempat sektor tersebut tidak bisa dianggap key leading sector atau sektor unggulan karena mereka tidak memenuhi syarat yang ditentukan oleh BPS. Kriteria yang terdapat dalam BPS . adalah suatu sektor dianggap memenuhi kriteria sektor unggulan apabila memiliki kedua nilai indeks baik Indeks Daya Penyebaran dan Indeks Derajat Kepekaan yang bernilai lebih dari 1, yang berarti sektor tersebut membutuhkan input dari sektor yang lain tetapi dia juga mampu menjual produknya untuk dijadikan input antara oleh sektor yang lain. Untuk menentukan sektor prioritas berdasarkan kriteria indeks penyebaran dan indeks kepekaan menggunakan 4 kriteria berikut (Rafiqah. Darsono. , & Sutrisno. Tabel 9. Kriteria Penentuan Skala Prioritas Berdasarkan Indeks Penyebaran dan Indeks Kepekaan Indeks Daya Penyebaran Indeks Kepekaan Prioritas Sektor Tahun 2020 Tinggi > 1 Tinggi > 1 Tinggi > 1 Rendah < 1 Angkutan laut dan bangunan kelautan Rendah < 1 Tinggi > 1 Perikanan dan jasa kelautan Rendah < 1 Rendah < 1 Berdasarkan Tabel 9 diketahui bahwa pada tahun 2020 belum ditemui sektor unggulan dalam bidang ekonomi kelautan di Indonesia. Sektor angkutan laut dan bangunan kelautan menempati urutan prioritas kedua dan disusul oleh sektor perikanan dan jasa kelautan yang menempati prioritas ketiga. Ini mengindikasikan upaya pemerintah dalam mendorong pembangunan ekonomi kelautan belum sepenuhnya berjalan optimal. SIMPULAN Pembangunan kelautan pada periode tahun 2020 memiliki peran dalam meningkatkan pendapatan nasional karena memberikan kontribusi output secara keseluruhan sebesar 24% dibandingkan total output perekonomian nasional. Peran ekonomi kelautan mengalami penurunan sebsar 3,39% jika dibandingkan tahun 2010 yang bernilai 27,39%. Sektor-sektor dalam pembangunan ekonomi kelautan yang memiliki peran besar dalam perekonomian adalah sektor . Sektor jasa kelautan, . Sektor pariwisata bahari, . Sektor industri kelautan, . Sektor perikanan dan . Sektor pertambangan. Sektor angkutan laut dan bangunan kelautan memiliki indeks penyebaran yang lebih besar daripada 1, artinya kedua sektor tersebut relatif memberikan dampak ke belakang bagi sektor lain. Sedangkan sektor perikanan dan sektor jasa kelautan memiliki dampak ke depan terhadap sektor lain karena indeks derajat kepekaan lebih besar daripada 1 artinya kedua sektor ini relatif memiliki peran sisi penawaran yang cukup besar dalam pembangunan kelautan khususnya dan perekonomian nasional secara umum. Akan tetapi diantara keempat sektor tersebut, sektor angkutan laut dan bangunan kelautan memberikan dampak shock yang lebih dominan terhadap sektor-sektor yang lain apabila dibandingkan dengan sektor perikanan dan jasa kelautan. Hal tersebut berarti bahwa sektor Lindiawatie / Journal of Economics Development Issues Vol. 8 No. angkutan laut dan bangunan kelautan dapat dianggap sebagai sektor strategis khususnya dalam bidang pembangunan ekonomi kelautan. Meskipun sektor perikanan dan jasa kelautan pada tahun 2020 relatif belum ternasuk ke dalam sektor strategis serta masuk dalam prioritas ketiga, namun sektor-sektor tersebut tetap perlu mendapat dukungan keberlanjutan, khususnya sektor perikanan yang sangat tergantung pada kualitas ekosistem perairan laut. Untuk itu Pemerintah perlu mendorong perlindungan terhadap ekosistem perairan laut dari pencemaran dan kerusakan akibat antropogenik atau ulah manusia dan mencegah penangkapan yang berlebihan. Selain itu perlu melakukan konservasi terhadap ekosistem pesisir yang meliputi hutan mangrove, lamun dan terumbu karang karena merupakan habitat sumber daya perikanan. DAFTAR PUSTAKA