Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam ISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara Volume 9. Nomor 2. Desembe This is an open access article under the CCBYSA Naskah masuk 23-Juli-2025 Direvisi Diterima Diterbitkan 31-Agustus-2025 19-November-2025 31-Desember-2025 DOI : https://doi. org/10. 58518/alamtara. Framing Gerakan Islam Urban dalam Perspektif Komunikasi Islam: Studi Komparasi Teori Sosial Menurut Charles Tilly. Alberto Melucci. Olivier Roy dan Asef Bayat Achmad Muzammil Alfan Nasrullah Universitas Islam Negeri Madura. Pamekasan. Indonesia muzammil@iainmadura. ABSTRAK: Penelitian ini dilandasi oleh realitas sosial-keagamaan yang semakin kompleks pada era urbanisasi dan globalisasi, ketika gerakan Islam tidak lagi sekadar dipahami sebagai ekspresi spiritual, melainkan juga sebagai fenomena sosial yang membentuk identitas kolektif, solidaritas, serta pola interaksi baru di ruang publik. Fokus kajian diarahkan untuk menelaah bagaimana teori-teori sosial yang dikembangkan oleh Charles Tilly. Alberto Melucci. Olivier Roy, dan Asef Bayat mampu membingkai dinamika gerakan Islam kontemporer, khususnya dalam konteks masyarakat perkotaan dan perubahan global. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka, data dihimpun dari sumber literatur primer maupun sekunder, kemudian dianalisis menggunakan model framing Robert N. Entman. Analisis ini mencakup empat dimensi utama, yaitu pendefinisian masalah, penelusuran penyebab, penilaian moral, serta tawaran solusi yang muncul dari kerangka teoritis keempat pemikir tersebut. Hasil kajian memperlihatkan bahwa teori mobilisasi dan repertoar aksi kolektif dari Tilly, konsep identitas kolektif dari Melucci, gagasan de-teritorialisasi agama oleh Roy, serta ide post-Islamisme yang diperkenalkan Bayat saling melengkapi dalam menjelaskan proses transformasi gerakan Islam yang semakin adaptif, pragmatis, dan bersifat transnasional. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa gerakan Islam perkotaan tidak hanya menjadi reaksi terhadap modernitas, tetapi juga merupakan upaya aktif dalam membangun makna, legitimasi, dan strategi sosial di tengah arus perubahan global. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada pengayaan kerangka teoritis mengenai gerakan sosial Islam, sekaligus memberikan implikasi praktis bagi penguatan moderasi, pengembangan dialog lintas identitas, serta perumusan kebijakan publik yang lebih peka terhadap dinamika keagamaan Achmad Muzammil Alfan Nasrullah Framing Gerakan Islam Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Kata Kunci: Gerakan Islam. Komunikasi Islam. Teori Sosial. Masyarakat Urban. ABSTRACT: This research is based on the increasingly complex socio-religious reality in the era of urbanization and globalization, when Islamic movements are no longer merely understood as spiritual expressions, but also as social phenomena that shape collective identity, solidarity, and new patterns of interaction in the public sphere. The focus of this study is to examine how the social theories developed by Charles Tilly. Alberto Melucci. Olivier Roy, and Asef Bayat are able to frame the dynamics of contemporary Islamic movements, particularly in the context of urban societies and global change. Through a descriptive qualitative approach based on literature studies, data was collected from primary and secondary sources, then analyzed using Robert N. Entman's framing model. This analysis covers four main dimensions, namely problem definition, cause tracing, moral assessment, and solutions offered from the theoretical frameworks of the four thinkers. The results of the study show that Tilly's theory of mobilization and collective action repertoire. Melucci's concept of collective identity. Roy's idea of the de-territorialization of religion, and Bayat's idea of post-Islamism complement each other in explaining the process of transformation of Islamic movements that are increasingly adaptive, pragmatic, and transnational in nature. The findings of this study confirm that urban Islamic movements are not only a reaction to modernity, but also an active effort to construct meaning, legitimacy, and social strategies amid the tide of global change. The main contribution of this study lies in enriching the theoretical framework regarding Islamic social movements, while also providing practical implications for strengthening moderation, developing crossidentity dialogue, and formulating public policies that are more sensitive to contemporary religious dynamics. Keywords: Islamic Movement. Islamic Communication. Social Theory. Urban Society. PENDAHULUAN Dalam era urbanisasi dan modernisasi global, transformasi sosial keagamaan dalam konteks Islam menjadi suatu kebutuhan yang tak terhindarkan. Fenomena tersebut mendorong munculnya gerakan Islam yang merefleksikan perubahanperubahan mendasar dalam masyarakat. Di Indonesia, populasi urban yang terus meningkat membawa tantangan dan peluang baru bagi dinamika praktik Gerakan hijrah, sebagai salah satu contoh, tidak hanya sekadar pergeseran spiritual, tetapi telah berkembang menjadi suatu gerakan sosial yang melibatkan banyak aspek kehidupan sosial, ekonomi, dan politik, sekaligus menciptakan interaksi yang kompleks di antara berbagai komunitas Muslim (Hakim 2. Achmad Muzammil Alfan Nasrullah Framing Gerakan Islam Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Seiring dengan urbanisasi, bentuk-bentuk pembelajaran dan interaksi sosial juga telah mengalami transformasi yang signifikan. Metode pembelajaran Islam yang sebelumnya bersifat konvensional mulai beradaptasi dengan teknologi dan kebutuhan masa kini, menciptakan lingkungan yang lebih interaktif dan responsive (Yusuf 2. Ini merupakan salah satu contoh bagaimana masyarakat Islam berusaha untuk tetap relevan dalam menghadapi tantangan globalisasi, yang sering kali memunculkan keraguan terhadap keaslian ajaran keagamaan dalam konteks modern (Darwis et al. Urgensi kajian gerakan Islam dalam konteks urban dan global tidak dapat Latar belakang historis dan kondisi sosio-politik yang berbeda, seperti di Indonesia, memengaruhi cara gerakan ini dijalankan. Kajian-kajian sebelumnya menegaskan perlunya pendekatan multidisiplin dalam memahami fenomenafenomena ini, sehingga dapat dianalisis lebih dalam untuk menggali esensi dan implikasi sosialnya (Arham 2. Teori-teori sosial yang dipelopori oleh para pemikir seperti Charles Tilly. Alberto Melucci. Olivier Roy, dan Asef Bayat menawarkan kerangka yang kuat dalam memahami dinamika gerakan Islam kontemporer, baik dalam konteks urban maupun global. Tilly, misalnya, menawarkan perspektif tentang bagaimana gerakan sosial muncul dan beradaptasi di tengah struktur sosial yang ada. Ia menekankan pentingnya mobilisasi dan identitas kolektif dalam mencapai tujuan gerakan. 1 Di sisi lain, pemikiran Melucci menyoroti aspek dinamis dari gerakan sosial yang mencakup interaksi antara individu dan kolektif dalam konteks sosial yang lebih luas (Angretnowati and Karolus 2. Pandangan Roy dan Bayat terkait dengan konsep post-Islamism juga menjadi penting dalam memahami bagaimana narasi Islam bertransformasi di tengah modernitas, di mana identitas dan iman sering kali direkonstruksi dalam konteks kebudayaan dan sosial yang lebih global (Al-Hikami et al. Rumusan masalah dalam penelitian ini berfokus pada pertanyaan bagaimana kerangka teori sosial tersebut dapat menjelaskan fenomena gerakan Islam yang 1 (Arrasyid et al. Achmad Muzammil Alfan Nasrullah Framing Gerakan Islam Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 muncul di perkotaan dan dalam konteks global. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan kerangka teoritis baru dalam studi gerakan sosial keislaman. Melalui analisis yang komprehensif, diharapkan kajian ini akan memperkaya pemahaman tentang interaksi antara agama dan konteks sosial yang dinamis, serta menyentuh isu-isu sosial kontemporer yang penting dalam masyarakat Muslim di era modern (Sufratman and Karomi 2. Adanya fenomena gerakan hijrah di kalangan generasi muda menunjukkan bagaimana urbanisasi telah mengubah cara orang berinteraksi dengan agama. Gerakan ini, yang memanfaatkan teknologi informasi dan media sosial, tidak hanya memenuhi kebutuhan spiritual tetapi juga menciptakan jaringan sosial yang memperkuat identitas kolektif (Addini 2. Hal ini memberikan indikasi bahwa perubahan sosial yang terjadi bukanlah hasil dari penolakan terhadap modernitas, melainkan sebagai upaya untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam konteks yang lebih relevan dengan kehidupan kontemporer. Dalam menganalisis fenomena ini, teori-teori yang dirumuskan oleh Tilly dan Melucci memberikan ketajaman dalam pemahaman mobilisasi sosial yang terjadi melalui media-media baru. Tilly memfokuskan pada bentuk dan cara mobilisasi sebagai respons terhadap ketidakpuasan sosial, sementara Melucci berargumen bahwa identitas kolektif yang kuat dapat terbentuk melalui interaksi yang lebih intim di jaringan komunitas (Hidayat 2. Sementara itu, pandangan Roy dan Bayat mengenai post-Islamism menyoroti bahwa dalam konteks global saat ini, identitas keagamaan sering kali mengalami proses pembaruan, dengan cita-cita keagamaan yang beradaptasi secara dinamis dengan tuntutan zaman (Nurhakim and Musthafa 2. Kontribusi penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan kerangka teoritis yang memperkaya studi tentang gerakan sosial keislaman, memberikan wawasan baru mengenai interseksi antara agama dan dinamika sosial di masyarakat, serta memfasilitasi dialog antara teori dan praktik di lapangan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya relevan bagi akademisi, tetapi juga bagi pemangku Achmad Muzammil Alfan Nasrullah Framing Gerakan Islam Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 kebijakan yang berkepentingan dalam memahami dan merespons fenomena sosial keagamaan yang sedang berlangsung di era modern. METODE Penelitian mengenai framing teori sosial gerakan Islam dalam konteks Islam urban dan global ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian Studi Pustaka. Pendekatan kualitatif dipilih karena sesuai untuk mengeksplorasi, memahami, dan menginterpretasikan kompleksitas fenomena sosial, khususnya dalam menganalisis konstruksi makna, ide, dan narasi yang dibangun oleh para teoritisi. Jenis penelitian Studi Pustaka digunakan untuk mendeskripsikan secara sistematis dan mendalam kerangka teoretis yang dibangun oleh Charles Tilly. Alberto Melucci. Olivier Roy, dan Asef Bayat, sekaligus menganalisis titik temu, perbedaan, dan relevansinya dalam konteks gerakan Islam kontemporer di ruang urban dan dinamika global (Darmalaksana Teknik pengumpulan data yang utama adalah studi literatur . ibrary researc. dengan fokus pada buku-buku primer dari setiap tokoh. Buku primer yang menjadi sumber data utama meliputi: From Mobilization to Revolution . dan Social Movements karya Charles Tilly yang membahas repertoir kolektif dan politik kontensius. Nomads of the Present . dan Challenging Codes . karya Alberto Melucci yang mengkaji identitas kolektif dan gerakan sosial Globalized Islam: The Search for a New Ummah . dan Holy Ignorance . karya Olivier Roy yang mendedah dislokasi Islam dalam globalisasi. serta Life as Politics: How Ordinary People Change the Middle East . dan Revolution without Revolutionaries: Making Sense of the Arab Spring . karya Asef Bayat yang memperkenalkan konsep AuSub-PolitikAy kaum biasa dan AuPost-IslamismeAy (Niam et Teknik analisis data yang diterapkan adalah analisis framing model Robert N. Entman. Teknik ini dilakukan dengan mengidentifikasi dan menelusuri empat elemen framing dalam tubuh pemikiran keempat teoritisi tersebut, yaitu: defining problems . endefinisikan masalah inti gerakan Isla. diagnosing Achmad Muzammil Alfan Nasrullah Framing Gerakan Islam Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 causes . endiagnosis judgments . suggesting remedies . enawarkan solusi atau prognosi. (Entman 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Gerakan Islam Urban Melalui Komunikasi Islam Charles Tilly adalah salah satu tokoh penting dalam kajian gerakan sosial yang memperkenalkan beberapa konsep kunci, seperti mobilisasi sumber daya, struktur peluang politik, dan repertoar aksi kolektif. Tilly berargumen bahwa gerakan sosial tidak hanya lahir dari ketidakpuasan sosial, tetapi juga dari kondisi dan struktur yang memungkinkan aksi kolektif terjadi. Dengan demikian, untuk memahami dinamika gerakan sosial, kita perlu melihat bagaimana sumber daya dikelola, bagaimana peluang politik berfungsi, dan cara-cara aksi kolektif dibentuk dan direpresentasikan di masyarakat. Pemikiran Charles Tilly mengenai gerakan sosial, terutama dalam konteks mobilisasi massa dan aksi kolektif, memberikan kerangka yang penting untuk menganalisis dinamika gerakan Islam di perkotaan. Dalam bukunya "From Mobilization to Revolution" Tilly menjelaskan bagaimana kelompok-kelompok sosial yang terorganisir dapat menyampaikan aspirasi dan keluhan mereka melalui serangkaian tindakan kolektif, termasuk protes, demonstrasi, dan kampanye public (Thein et al. Dalam konteks gerakan Islam urban, fenomena ini dapat dilihat dalam bagaimana komunitas Muslim di kota-kota besar di Indonesia berusaha untuk memobilisasi massa dan mengekspresikan identitas mereka di ruang publik. Dalam konteks yang lebih luas, pergerakan Islam urban berfungsi sebagai saluran untuk mengekspresikan ketidakpuasan terhadap kondisi sosial dan politik yang ada. Misalnya. Ismail menunjukkan bahwa dalam konteks Mesir, gerakan Islamisme sering kali berinteraksi dengan masalah sosial dan ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat urban (Ismail 2. Hal ini mempertegas bahwa gerakan kolektif seringkali berakar dari kondisi ketidakadilan sosial dalam lingkungan perkotaan, sesuai dengan pandangan Tilly yang menekankan bahwa pengalaman Achmad Muzammil Alfan Nasrullah Framing Gerakan Islam Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 berbagi di antara anggota kelompok berkontribusi pada mobilisasi kolektif. Akhirnya, dalam perspektif yang lebih luas, kita dapat melihat bahwa gerakan Islam urban tidak dapat dipisahkan dari konteks dinamika sosial, politik, dan ekonomi yang lebih besar. Tilly mendemonstrasikan bahwa keragaman dalam repertoar aksi kolektif mencerminkan struktur sosial yang dinamis, yang berfungsi sebagai wadah bagi berbagai kelompok untuk mengekspresikan kepentingan mereka secara efektif dalam masyarakat yang kompleks dan saling berhubungan Mobilisasi massa dalam konteks ini berfungsi sebagai jembatan antara individu dan komunitas, memungkinkan mereka bersatu dalam memperjuangkan perubahan sosial yang lebih besar. Teori Gerakan Baru (New Social Movement Theor. yang dikembangkan oleh Alberto Melucci berfokus pada berbagai aspek yang terkait dengan dinamika sosial, termasuk isu identitas kolektif, jaringan sosial, dan makna simbolik. Dalam konteks ini, identitas kolektif menjadi fondasi penting bagi penciptaan solidaritas dan keterlibatan dalam sebuah gerakan sosial. Melucci menggambarkan identitas kolektif sebagai konstruksi sosial yang dibentuk melalui interaksi antarindividu dalam suatu kelompok, yang dapat membawa perubahan dalam struktur sosial melalui kebangkitan kesadaran politik dan identitas Bersama (Wiranata and Siahaan 2. Selanjutnya, dalam gerakan Islam global, identitas kolektif ini memegang peranan sentral dalam menciptakan hubungan transnasional antar umat Muslim yang tersebar di berbagai negara. Dalam ranah sosiologi agama, pentingnya mempelajari dinamika identitas kolektif melalui lensa teori Melucci memberi wawasan yang lebih kaya mengenai pergerakan sosial kontemporer. Menggali peran identitas kolektif, jaringan sosial, dan makna simbolik, serta relevansinya dengan gerakan Islam global dapat memperkaya pemahaman kita akan permasalahan yang kompleks dalam masyarakat modern ini (Khasri 2. Melalui pendekatan ini, kita dapat lebih memahami bagaimana gerakan sosial berkembang dalam konteks yang semakin terhubung, dan bagaimana pihak-pihak yang terlibat membangun identitas mereka di tengah tantangan global yang ada. Achmad Muzammil Alfan Nasrullah Framing Gerakan Islam Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Relevansi teori Melucci tidak hanya terletak pada penciptaan identitas kolektif tetapi juga pada bagaimana kelompok dapat bertindak secara koheren dalam mencapai tujuan bersama. Dalam konteks ini, penting untuk mencatat bahwa proses penguatan identitas kolektif dan jaringan sosial tidak selalu berjalan seringkali, kelompok-kelompok ini juga menghadapi konflik internal yang harus dihadapi dan dikelola secara efektif. Karenanya, penelitian lebih lanjut mengenai gerakan Islam global perlu mempertimbangkan aspek-aspek ini dengan cermat, serta tantangan yang muncul di tengah usaha untuk menciptakan solidaritas lintas negara yang kuat dan kohesif. Sedangkan Gerakan Islam Global dan De-territorialisasi Agama dalam konteks perspektif Olivier Roy adalah tema multidimensional yang memerlukan penguraian mendalam dari beragam pandangan dan literatur. Menurut Roy, dalam konteks globalisasi, agama tidak lagi terikat secara eksklusif pada area geografis sebaliknya, ia menjadi fenomena global yang berinteraksi dengan norma dan ideologi lain, menjadi sesuatu yang Aude-territorialAy Untuk memahami ini, penting untuk merujuk pada tantangan yang dihadapi formasi politik Islam dan bagaimana perubahan makna keislaman dialami oleh masyarakat urban di era Dalam konteks ini, pemikiran Olivier Roy berfokus pada fenomena bahwa gerakan Islam dewasa ini sering kali dipengaruhi oleh dinamika global, yang terlihat dalam pergeseran dari komunitas yang terikat secara lokal ke suprastruktur yang lebih inklusif dan global (Setia and Rahman 2. Hal ini sangat relevan ketika kita meneliti perkembangan kelompok-kelompok Islam di Indonesia, yang berupaya menegaskan identitas mereka dalam kerangka gerakan global sambil mempertahankan elemen local (Malik 2. Dari analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa gerakan Islam dalam konteks global dan de-territorialisasi agama menghadapi tantangan ganda, baik dari segi internal, berupa radikalisasi dan puritanisme, maupun eksternal yang dipicu oleh konteks globalisasi. Upaya untuk memperkuat Islam sebagai kekuatan moderat di tengah arus ideologi ekstremis akan membutuhkan pendekatan yang inovatif dan Achmad Muzammil Alfan Nasrullah Framing Gerakan Islam Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 inklusif, serta komitmen untuk membangun dialog yang konstruktif dalam masyarakat yang majemuk. (Husna 2. Penelitian yang lebih lanjut diperlukan untuk menggali lebih dalam bagaimana perubahan ini dapat dipetakan dan bagaimana gerakan masyarakat dapat beradaptasi dalam menghadapi tantangan yang ada. Pembangunan umat Muslim di lingkungan urban telah menjadi topik penting dalam analisis sosial dan politik, khususnya ketika merujuk pada terminologi PostIslamisme dan Quiet Encroachment of the Ordinary sebagaimana dimaksud oleh Asef Bayat. Post-Islamisme sebagai konsep mendiskusikan dinamika di mana gerakan Islam muncul bukan hanya sebagai gerakan politik tetapi juga sebagai respons terhadap modernitas, globalisasi, dan problematika keseharian yang dihadapi oleh masyarakat Muslim di kota-kota. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat Muslim urban mulai mengadopsi pendekatan yang lebih pragmatis dan moderat terhadap agama, menjadikan Islam lebih dari sekadar ideologi politik, melainkan bagian integral dari identitas sosial mereka yang terintegrasi dalam realitas Selain itu, penting juga untuk mencatat bahwa respons terhadap globalisasi dan modernitas dalam demografi Muslim sering kali melibatkan akulturasi, di mana tradisi lama dipertahankan sambil mengadopsi aspek-aspek baru dari budaya global. Akboa menunjukkan bahwa fenomena ini tidak unik dan dapat diamati di masyarakat yang lebih luas, termasuk bagaimana negara-negara dengan latar belakang Islam berinteraksi dengan ideologisasi dan praktik di ruang public (Akboa 2. Hal ini menunjukkan tren di mana identitas Islam bukan hanya dieksplorasi dalam ruang privat, tetapi juga secara publik di berbagai sektor, baik dalam konteks politik maupun budaya. Di satu sisi, kita menyaksikan lahirnya bentuk-bentuk baru dari religiositas yang lebih interaktif dan lebih partisipatif, yang dijelaskan baik oleh Bayat dan karya lainnya seperti yang dilakukan oleh Zuraidi et al. (Zuraidi et al. Di sisi lain, kita juga dihadapkan pada tantangan dari dalam komunitas itu sendiri, di mana perdebatan antara tradisi dan modernitas, ortodoksi dan reformisme secara Achmad Muzammil Alfan Nasrullah Framing Gerakan Islam Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 terus menerus memengaruhi cara umat Muslim urban memahami identitas dan peran mereka dalam masyarakat yang semakin kompleks. Dari berbagai isu dan dinamika yang diidentifikasi, kami menarik kesimpulan bahwa konsep Post-Islamisme dan Quiet Encroachment of the Ordinary disajikan dengan jelas melalui bagaimana masyarakat Muslim berinteraksi dengan Masyarakat Muslim di kawasan perkotaan tidak lagi sepenuhnya berpegang pada ideologi yang kaku, tetapi mulai mengembangkan cara-cara baru dalam beragama yang sekaligus menciptakan ruang bagi integritas dan dialog di tengah perbedaan. Perbandingan Gerakan Islam Gerakan sosial, identitas sosial, globalisasi, praktik urban, serta model framing studi gerakan Islam kontemporer merupakan tema yang saling terkait dalam kajian sosial dan politik. Masing-masing konsep ini memiliki karakteristik dan dampak yang unik, tetapi dapat dianalisis melalui lensa yang saling melengkapi satu sama lain. Dalam sintesis ini, kita akan membahas dan membandingkan keempat konsep tersebut, serta pentingnya pemahaman terhadap model framing dalam memahami gerakan Islam kontemporer. Gerakan sosial, seperti yang dijelaskan oleh Charles Tilly, berfokus pada mobilisasi kolektif untuk mencapai tujuan tertentu dalam konteks sosial yang lebih Tilly menyatakan bahwa gerakan sosial muncul sebagai respons terhadap ketidakadilan atau ketidakpuasan dalam masyarakat, serta terorganisasi dengan baik untuk memprotes dan memberikan suara (Amin 2. Di sisi lain, identitas Malucci mengidentifikasi diri dalam konteks kelompok, baik melalui ras, etnisitas, maupun afiliasi agama (Amin 2. Fenomena ini berperan penting dalam memperkuat gerakan sosial dengan memberikan rasa memiliki dan solidaritas di antara anggota Ketika menganalisis gerakan sosial dalam konteks globalisasi. Roy menyoroti bagaimana proses globalisasi dapat memengaruhi identitas lokal dan dinamika gerakan social (Amin 2. Globalisasi tidak hanya membawa akses terhadap Achmad Muzammil Alfan Nasrullah Framing Gerakan Islam Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 informasi dan teknologi, tetapi juga memfasilitasi pertukaran ide dan nilai-nilai yang dapat mengubah pandangan sosial di tingkat lokal. Dalam konteks ini. Amin mengemukakan bahwa globalisasi Islam, melalui institusi pendidikan seperti pesantren Gontor, menciptakan jaringan yang menyebarkan ideologi tertentu di Indonesia, termasuk Wahabisme (Amin 2. Ini menunjukkan bahwa gerakan sosial tidak terisolasi, melainkan sering dipengaruhi oleh arus global yang lebih Perbandingan antara gerakan sosial dan identitas sosial menunjukkan bagaimana identitas kelompok dapat memperkuat mobilisasi di antara individuindividu yang berbagi latar belakang atau tujuan yang sama. Identitas sosial dapat dilihat sebagai pendorong utama dalam gerakan sosial, karena keinginan individu untuk diakui dan diterima dalam satu kelompok sering kali mendorong mereka untuk berpartisipasi aktif dalam perjuangan kolektif (Amin 2. Di sisi lain, gerakan sosial juga cenderung beradaptasi dengan perubahan identitas yang terjadi akibat pengaruh globalisasi, menciptakan semiotika baru yang membentuk cara individu memahami dan berinteraksi dengan dunia mereka. Dalam konteks praktik urban. Bayat menegaskan pentingnya secara pragmatis memahami dinamika sosial di kota-kota besar, dengan memperhatikan tindakan kolektif yang dilakukan oleh masyarakat sipil dalam menghadapi tantangan urbanisasi (Amin 2. Praktik urban mencakup berbagai bentuk ekspresi sosial yang termasuk dalam gerakan sosial. Bayat juga menekankan bagaimana kelompok-kelompok marginal dapat mengonsolidasikan kekuatan mereka dan melakukan perubahan melalui inovasi sosial yang pragmatis. (Amin 2. Hal ini menunjukkan bahwa gerakan sosial seringkali merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor, termasuk konteks global, identitas sosial, dan realitas Kemudian, dalam kajian mengenai gerakan Islam kontemporer, model framing menjadi alat penting untuk menganalisis bagaimana gerakan ini membentuk narasi dan makna dalam konteks sosial yang berbeda. Melalui framing, ideologi dan tujuan-tujuan gerakan Islam dapat disajikan dengan cara Achmad Muzammil Alfan Nasrullah Framing Gerakan Islam Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 yang dapat diterima oleh masyarakat luas, sehingga mengurangi resistensi dan (Amin Model mengeksplorasi bagaimana asosiasi antara identitas sosial dan gerakan sosial dapat berinteraksi untuk menciptakan resonansi yang lebih dalam di tingkat sosial. Dalam konteks ini, kita dapat melihat bagaimana gerakan sosial terfokus pada isu-isu keadilan sosial, identitas yang bermakna dalam narasi yang dibangun melalui framing, dan pengaruh globalisasi sebagai latar belakang yang mempengaruhi tindakan kolektif. Dengan mengintegrasikan kerangka ini ke dalam analisis kita, gerakan Islam kontemporer dapat dipahami tidak hanya sebagai fenomena lokal tetapi juga sebagai hasil dari interaksi yang kompleks antara faktorfaktor lokal, nasional, dan global. Oleh karena itu, sintesis dan perbandingan gerakan sosial, identitas sosial, globalisasi, praktik urban, dan model framing dalam studi gerakan Islam kontemporer menggambarkan bahwa tidak ada satu faktor yang berdiri sendiri. semua elemen harus diperhitungkan untuk memahami dinamika yang beroperasi dalam masyarakat modern. Memperhatikan saling ketergantungan antara faktorfaktor ini sangat penting untuk membangun pemahaman yang komprehensif sosial dan kolaborasi antara kelompok-kelompok terpinggirkan dalam bentuk gerakan sosial yang aktif. Dengan pendekatan ini, pemahaman kita tentang gerakan sosial, identitas, dan pengaruh global dalam konteks masyarakat urban dapat diperluas. Diharapkan analisis ini akan memberikan wawasan yang lebih dalam tentang peran identitas sosial dan strategi mobilisasi dalam pola-pola gerakan yang lebih luas, serta relevansi frame dalam memahami dan mendukung gerakan Islam KESIMPULAN Gerakan sosial, identitas sosial, globalisasi, dan praktik urban, merupakan empat konsep kunci yang saling berkaitan dalam studi tentang dinamika sosial, terutama dalam konteks Islam kontemporer. Tilly menyoroti pentingnya gerakan sosial dalam membentuk kolektivitas dan identitas masyarakat, yang mencakup Achmad Muzammil Alfan Nasrullah Framing Gerakan Islam Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 upaya kelompok untuk memperjuangkan hak, saluran aspirasi, dan menghadapi kebijakan pemerintahan yang dianggap tidak adil. Praktik ini bersifat dinamis dan sering kali dipengaruhi oleh keterkaitan dengan isu-isu global yang lebih luas, seperti yang dibahas oleh Roy dalam konteks globalisasi. Dalam pandangannya, globalisasi membawa perubahan yang signifikan tidak hanya dalam aspek ekonomi tetapi juga dalam cara orang berinteraksi dan membentuk identitas di berbagai tingkat. Identitas sosial, yang dikaji oleh Malucci, diharapkan tercermin dalam gerakan Islam kontemporer yang berupaya menjawab tantangan zaman modern dengan memperkuat identitas keagamaan dalam konteks masyarakat yang plural. Bayat menambahkan dimensi baru dalam analisis ini dengan membahas praktik urban yang muncul dari pengaruh globalisasi. Dalam konteks ini, komunitas Muslim di kota-kota besar sering kali mengadopsi dan beradaptasi dengan normanorma budaya lokal sambil tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional yang Pembaruan pemikiran ini memungkinkan mereka untuk merangkul perubahan sosial tanpa kehilangan akar budaya dan keagamaan mereka. Model framing studi gerakan Islam kontemporer menekankan pentingnya memahami narasi-narasi yang dibangun oleh gerakan-gerakan ini, seperti yang dilakukan oleh Jama'ah Tabligh dan Muhammadiyah, yang berusaha memberikan respons terhadap tantangan radikalisasi dengan menggulirkan narasi-narasi moderat dan inklusif. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologis, peneliti dapat mendalami pengalaman individual dalam konteks kolektif, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang dinamika pergerakan sosial yang ada hari ini. BIBLIOGRAFI Addini. Agnia. AuFenomena Gerakan Hijrah Di Kalangan Pemuda Muslim Sebagai Mode Sosial. Ay Journal of Islamic Civilization 1 . : 109Ae18. https://doi. org/10. 33086/jic. Akboa. Sema. AuTurkish Civil Society Divided by the Headscarf Ban. Ay Democratization . 610Ae33. https://doi. org/10. 1080/13510347. Achmad Muzammil Alfan Nasrullah Framing Gerakan Islam Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Al-Hikami. Febi J. Dedi Ardiansyah, and Basuki Basuki. AuModerasi Beragama Dalam Kerajaan Islam: Memahami Multikulturalisme Dan Peradaban Islam. Ay Jurnal Inovasi Pendidikan . 325Ae32. https://doi. org/10. 60132/jip. Amin. Ali. AuAlumni Pesantren Gontor Dan Jaringan Islam Global. Ay Journal of Islamic Education Policy 3 . https://doi. org/10. 30984/j. Angretnowati. Yuseptia, and Meike L. Karolus. AuNegara. Gerakan Islam Pasca-Fundamentalis Dan Masa Depan Demokrasi Di Indonesia: Kekuasaan Simbolik Dan Upaya Konsolidasi. Ay Politika Jurnal Ilmu Politik 13 . : 369Ae93. https://doi. org/10. 14710/politika. Arham. Rijal. AuEksplorasi Dinamika Islam. Radikalisme. Dan Demokrasi Dalam Masyarakat Kontemporer. Ay Journal of Islamic Education Studies 2 . 56Ae65. https://doi. org/10. 58569/jies. Arrasyid. Muhammad H. Mohamad Al-Hakim, and Dhea F. Yusuf. AuDinamika Islam Kontemporer. Ay Aij . 73Ae91. https://doi. org/10. 31289/aij. Darmalaksana. Wahyudin. AuMetode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka Dan Studi Lapangan. Ay Pre-Print Digital Library UIN Sunan Gunung Djati Bandung. https://digilib. id/32855. Darwis. Muhajir. Sazliana Sazliana. Maria Ulfa. Fetia Harsa. Muhammad A. Fauzan, and Rona Gusthio. AuIslam Dan Dinamika Kajian Kontemporer. Ay Journal of Humanities Education Management Accounting And Trans 1 . : 732Ae37. https://doi. org/10. 57235/hemat. Entman. Robert M. AuFraming US Coverage of International. Ay Journal of Communication . https://w. edu/download/68919923/00b7d52e6f05d2fc11000 Hakim. Lukman. AuDinamika Hijrah Di Indonesia: Dari Transformasi Spiritual Menuju Gerakan Sosial. Ay Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (Jsa. : 13Ae33. https://doi. org/10. 22373/jsai. Hidayat. Fahri H. AuTrikotomi Filsafat Pendidikan Islam Di Tengah Dinamika Lembaga Pendidikan Islam Kontemporer. Ay Tajdid Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Kemanusiaan 9 . : 1Ae15. https://doi. org/10. 52266/tadjid. Husna. Nurul. AuMakna Dan Hakikat Wasathiyah. Ay Romeo Review of Multidisciplinary Education Culture and Pedagogy 1 . : 87Ae102. https://doi. org/10. 55047/romeo. Achmad Muzammil Alfan Nasrullah Framing Gerakan Islam Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Ismail. Salwa. AuThe Popular Movement Dimensions of Contemporary Militant Islamism: Socio-Spatial Determinants in the Cairo Urban Setting. Ay Comparative Studies in Society and History 42 . : 363Ae93. https://doi. org/10. 1017/s0010417500002504. Khasri. Muhammad R. AuStrukturasi Identitas Umat Beragama Dalam Perspektif Anthony Giddens. Ay Jurnal Sosiologi Agama 15 . : 129. https://doi. org/10. 14421/jsa. Malik. Abdul. AuNew Variants of Ultra-Conservative Islamic Schools in Indonesia: A Study on Islamic School Endeavor With Islamic Group Movement. Ay Power Education . 14Ae28. https://doi. org/10. 1177/17577438231163042. Niam. Fathun. Emma Rumahlewang. Hesti Umiyati, et al. Metode Penelitian Kualitatif. https://repository. com/id/publications/567869/metodepenelitian-kualitatif. Nurhakim. Haditsa Q. , and Izzudin Musthafa. AuFilsafat Pendidikan Dan Teori Pendidikan Perspektif Ali Ahmad Madkur. Ay At-Tarbiyah Al-Mustamirrah Jurnal Pendidikan Islam 5 . : 263. https://doi. org/10. 31958/atjpi. Setia. Paelani, and M T. Rahman. AuKekhilafahan Islam. Globalisasi Dan Gerilya Maya: Studi Kasus Hizbut Tahrir Indonesia. Ay Fikrah 9 . : 241. https://doi. org/10. 21043/fikrah. Sufratman. Sufratman, and Kholid Karomi. AuTren Studi Agama Di Abad Ke21: Sebuah Kajian Perspektif Muslim Progresif. Ay Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (Jire. 232Ae46. https://doi. org/10. 37364/jireh. Thein. Kyawt N. Kris Nugroho, and Siti Aminah. AuRevolutionary Challenges of the Myanmar Generation Z Students and the Impact on the Rapidity of the 2021 Spring Revolution. Ay Jurnal Sosiologi Dialektika 18 . : 124Ae https://doi. org/10. 20473/jsd. Wiranata. I M. , and Hotman Siahaan. AuKonstruksi Identitas Kolektif Warga Desa Adat Dalam Gerakan Tolak Reklamasi Teluk Benoa Di Bali. Ay Jurnal Kajian Bali (Journal Bali Studie. https://doi. org/10. 24843/jkb. Yusuf. Muhammad. AuPenggunaan Teknologi Augmented Reality Dalam Pembelajaran Tafsir Al-QurAoan Pada Lembaga Pendidikan Islam. Ay Academicus 3 . : 1Ae7. https://doi. org/10. 59373/academicus. Achmad Muzammil Alfan Nasrullah Framing Gerakan Islam Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Zuraidi. Evalina. Rosilawati Zainol. Yahaya Ahmad, and Ashfa Achmad. AuDeterminants of Spatial Planning for Urban Resilience in the Islamic Society Setting: A Case Study of Banda Aceh. Indonesia. Ay Planning Malaysia 21. https://doi. org/10. 21837/pm. Achmad Muzammil Alfan Nasrullah Framing Gerakan Islam