vailable at http://ejournal. id/index. php/sastra P-ISSN 2337-7712 E-ISSN 2598-8271 Volume 8 No. 1, 2020 page 79-93 Article History: Submitted: 10-01-2020 Accepted: 28-03-2020 Published: 31-03-2020 LANGUANGE IMPAIREMENT DUE TO UTTERANCE IN 9-YEAROLD CHILDREN GANGGUAN BERBAHASA AKIBAT ALAT UCAP PADA ANAK USIA 9 TAHUN Salsabila Delaria Mulyana 1 Nuryani2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jl. Ir H. Juanda No. Cemp. Putih. Kec. Ciputat. Kota Tangerang Selatan. Banten 15412 Telp. 740 1925 Ekstensi 1829 delaria17@mhs. URL: https://ejournal. id/index. php/sastra/article/view/1367 DOI: https://doi. org/10. 32682/sastranesia. Abstract The problem in this research is language disorder caused by utterance that occurs in 9 year olds. The purpose of his research is to describe form of language disorders due to utterances that occur and causes its. The process of language acquisition in each child will run differently. Many things become his background, one of which is the factor of language disorders that occur in a child. With this disruption the child cannot receive linguistic information well. One of the causes of language disorders in children is due to imperfect speech utilities that are owned. This research will discuss the causes of speech disorders in 9-year-old children due to utterance. The method used descriptive kualitative, to obtain a data is to be directly involved with the respondent, a 9-year-old boy. This involvement is important in order to get data directly. The data taken is in the form of audio or video which is then transcribed as well as conversations between researchers and objects as well as speech partners in the The conclusion is that the respondent experienced a language disorder due to poor speech in the larynx. This disorder makes it difficult for respondents to pronounce the results that are Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). FITK. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dosen pengampu MK Psikolinguistik PBSI. FITK. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta This is an open access article distributed under the Creative Commons 4. 0 Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. A2018 by author and STKIP PGRI Jombang Salsabila & Nuryani Ae Gangguan Berbahasa Akibat produced by laryngeal sounds, such as / h /. Likewise, the factors that cause speech disorders are laryngeal and environments factors. Abstrak Permasalahan dalam penelitian ini adalah gangguan berbahasa akibat alat ucap yang terjadi pada anak usia 9 tahun. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan bentuk gangguan berbahasa dan factor-faktor penyebab gangguang bahasa tersebut. Proses pemerolehan bahasa pada setiap anak akan berjalan dengan berbeda. Banyak hal yang menjadi latar belakangnya, salah satunya adalah adanya faktor gangguan berbahasa yang terjadi pada seorang Dengan adanya gangguaan tersebut anak tidak dapat menerima informasi kebahasaan dengan dengan baik. Salah satu penyebab gangguan berbahasa pada anak adalah akibat tidak sempurnanya alat ucap yang dimiliki. Penelitian ini akan membahas gangguan berbicara dan penyebabnya pada anak usia 9 tahun akibat alat ucap. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitaif untuk mendapatkan data adalah dengan terlibat langsung dengan responden, yakni seorang anak lakilaki berusia 9 tahun. Keterlibatan ini penting guna mendapatkan data secara Data yang diambil berbentuk audio dan video yang kemudian ditranskripsi serta percakapan antara peneliti dan objek sekaligus kawan tutur dalam percakapan tersebut. Simpulan yang didapatkan adalah responden mengalami gangguan berbahasa karena alat ucap yang kurang baik pada bagian Gangguan tersebut menjadikan responden kesulitan untuk mengucapkan konsonal yang dihasilkan dari bunyi-bunyi laringal, seperti /h/. Faktor yang menyebabkan gangguan berbicara adalah adanya faktor laringal dan lingkungan dari subjek penelitian. Kata kunci: Bahasa Anak. Gangguan Berbicara. Pemerolehan Bahasa. Alat Ucap. Pendahuluan Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan setiap manusia di segala kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa mereka menggunakan bahasa yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan yang digunakan sebagai penyambung lidah dan pikiran untuk saling bertukar Salah satu bahasa yang menarik untuk dikaji adalah bahasa anak-anak. Hal ini karena proses pemerolehan yang dipengaruhi oleh lingkungan membuat setiap anak memiliki bahasa yang berbeda-beda. Bahasa merupakan suatu landasan anak untuk dapat mempelajari sesuatu yang ada di lingkungannya. STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 iKemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak. Kurangnya stimulasi akan dapat menyebabkan gangguan bicara dan berbahasa bahkan gangguan ini dapat menetap (Kemenkes RI, 2. Proses berbahasa sendiri memerlukan pikiran dan perasaan yang dilakukan oleh otak manusia untuk menghasilkan kata-kata atau kalimat. Alat bicara yang baik akan menghasilkan tuturan yang baik juga, namun jika memiliki kelainan fungsi otak dan cara berbicara, tentu akan kesulitan dalam proses berbahasa baik produktif maupun reseptif. Peristiwa tersebut disebut gangguan berbahasa. Dilihat dari segi keilmuan gangguan berbahasa ini termasuk dalam kajian linguistik, namun dikarenakan gangguan bahasa ini dialami oleh anak usia 9 tahun, maka ilmu yang mengkaji permasalahan gangguan berbahasa dalam linguistik tersebut adalah kajian psikolinguistik. Dalam perspektif Chaer, ruang lingkup kajian psikolinguistik meliputi esensi bahasa, genealogis bahasa, proses pemerolehan bahasa ibu, proses mental yang melingkupi kegiatan menyusun kalimat, pertumbuhan dan gugurnya bahasa, relasi antara bahasa dan konstruk berfikir, gangguan berbahasa yang muncul pada individu dan cara menyembuhkannya, serta bahasa itu diajarkan (Chaer, 2008:. Dalam narasi yang lain, psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari proses mental yang dilalui oleh manusia dalam berbahasa (Dardjowidjojo, 2014:. Saat ini, hubungan antara bahasa dan otak sangatlah berkaitan erat ditambah dengan adanya temuan empirik mengenai hasil analisis penyakit pada Hal ini juga menjelaskan bahwa gangguan bahasa yang muncul berdasarkan perbandingan antara ketidaknormalan struktur otak dan kesulitan berbahasa yang terjadi. Cidera pada otak berakibat fatal terhadap perkembangan dan kemampuan berbahasa. Adanya kelainan dalam sistem otak yang kompleks dipelajari dalam relasi neuropatologi dan gangguan komunikasi. Gangguan berbahasa dapat terjadi akibat adanya kerusakan atau kelainan pada bagian otak manusia, namun tak dapat dipungkiri bahwa dalam proses berbahasa, tuturan merupakan salah satu aspek penting untuk menyempurnakan tugas alat ucap dalam menyampaikan pikiran yang sudah diolah dalam otak. Chaer mengatakan proes berbahasa diumpamakan seperti proses pada komputer. Diawali dengan menyimpan semua masukan dalam bentuk sandi-sandi elektronik, yang kemudian dapat diangkat kembali ketika diperlukan (Nuryani dan Putra, 2013:. Dalam proses berbahasa, proses koneksi antar bagian-bagian yang baik sangatlah mempengaruhi hasil produksi atau ujaran. Apabila terjadi gangguan koneksi antara satu bagian maupun bagian yang lainnya maka akan menyebabkan gangguan pada manusia itu sendiri atau yang sering dikenal dengan gangguan berbahasa . anguange disorder. Terdapat beberapa ahli yang mengemukakan teori tentang tuturan adalah inti dari ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Salsabila & Nuryani Ae Gangguan Berbahasa Akibat Dalam teori ini diyakini bahwa pikiran merupakan salah satu jenis dari perilaku bertutur yang dimulai dari produksi tuturan (Nuryani dan Putra, 2013:. Salah satu ahli dari kalangan psikologi, sebagai seorang behavioris. Watson menyatakan bahwa kemajuan teori behavioris memandang bahwa apa yang disebut oleh kalangan psikologis sebagai pikiran bukanlah merupakan sesuatu yang pendek tetapi berbicara pada diri kita sendiri, maka dapat diartikan bahwa proses berpikir perlu adanya dukungan dari bahasa yang dapat mengomunikasikan pikirannya. Berpikir hanyalah suatu kegiatan berbicara pada diri sendiri dan tidak akan dimengerti oleh orang lain. Orang yang mengalami gangguan bicara atau afasia akan mengalami kegagalan dalam berartikulasi. Artikulasi merupakan proses penyesuaian ruangan supraglottal. Penyesuaian ruangan didaerah laring terjadi dengan menaikkan dan menurunkan laring, yang akan mengatur jumlah transmisi udara melalui rongga mulut dan rongga hidung melalui katup velofaringeal dan merubah posisi mandibula . ahang bawa. dan lidah (Yunica dkk, 2019 : . Gangguang berbahasa dapat diketahui apabila sudah dituturkan oleh manusia. Jika terdapat gangguan dalam kemampuan berbahasa namun tidak diperlihatkan dalam bentuk tuturan atau berbicara maka penyebab gangguan berbahasa tersebut tidak dapat dideteksi, maka, proses berbahasa sangat berkaitan erat dengan kemampuan berbicara. Mekanisme berbicara adalah tata cara produksi ujaran secara sinergis melibatkan pita suara, lidah, otot-otot yang membentuk rongga mulut serta kerongkongan, dan paru-paru. Menurut Chaer . , gangguan produksi berdasarkan ujaran mekanisme berbicara terdiri atas gangguan berbicara pulmonal . kibat kelainan atau kerusakan pada paru-par. , laringal . kibat kelainan atau kerusakan pada pita suar. , lingual . kibat kelainan atau kerusaka pada lida. , dan resonantal . kibat kelainan atau kerusakan pada rongga mulut dan kerongkonga. (Suhartono dan Sodiq, 2016: 3. berikut berbagai macam gangguan bahasa beserta Gangguan berbicara ini dialami oleh para penderita penyakit paru-paru disebut gangguang akibat factor pulmonal. Biasanya para penderita paru-paru memiliki kekuatan bernapas yang sangat kurang atau mudah lelah, sehingga cara bicaranya pun memiliki nada yang monoton, volume suara yang kecil serta putus-putus. Namun hal itu tidak berpengaruh pada segi semantik dan sintaksis. Gangguan pada pita suara menyebabkan suara yang dihasilkan menjadi serak atau hilang sama sekali . Gangguan berbicara akibat faktor laringal ini ditandai STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 oleh suara yang serak atau hilang, tanpa kelainan semantik dan sintaksis. Artinya, dilihat dari segi semantik dan sintaksis ucapannya bisa diterima. Seperti pada lidah yang sariawan atau terluka, akan terasa pedih jika Untuk mencegah rasa sakit itulah cara berbicara bisa diatur dengan gerak lidah yang dibatasi. Dalam keadaan seperti ini maka pengucapan sejumlah fonem menjadi tidak sempurna. Misalnya dalam kalimat AuDari jauh kayanya rabunAy menjadi AuDayi jauh kenya yabunAy. Pada orang yang terkena stroke dan badannya lumpuh sebelah, maka lidahnya pun lumpuh sebelah dan mengalami Disatria adalah istilah medis yang berarti proses bicara menjadi pelo atau cadel. Gangguan berikutnya adalah akibat faktor resonansi yang menyebabkan suara sengau. Misalnya yang diderita orang sumbing akibat gangguan resonansi pada langit-langit keras . pada rongga mulut. Selain itu juga terjadi pada orang yang mengalami kelumpuhan pada langit-langit lunak . Rongga langit-langit itu tidak memberikan resonansi yang seharusnya sehingga suaranya menjadi bersengau. Penderita penyakit miastenia gravis . anguan yang menyebabkan otot menjadi lemah dan cepat lela. sering dikenali secara langsung karena kesengauan ini. Beberapa jenis gangguan berbahasa di atas adalah gambaran mengenai penyebab terjadi gangguan berbahasa. Gangguan berbahasa dapat terjadi pada siapapun, terutama anak-anak yang masih mengalami pemerolehan bahasa dari manapun dan menghasilkan kata-kata yang terkadang memiliki keunikan sendiri dalam pengucapannya. Penelitian psikolinguistik adalah penelitian yang bersifat kasuistis. Artinya, simpulan yang didapatkan tidak dapat digeneralisasikan antara obyek yang satu dengan obyek yang lain. Oleh karena itu, obyek dalam penelitian psikolinguistik sangat khusus. Dalam penelitian ini. ATP sebagai objek penelitian tidak ada riwayat penyakit khusus yang mempengaruhi proses tumbuh kembang ATP sejak kecil. Akan tetapi, terdapat beberapa kejadian yang menyebabkan berubahnya fungsi alat ucap ATP. Salah satu kejadiannya adalah pada usia 7 tahun. ATP pernah menabrak tembok dinding sekolah saat sedang bermain di jam istirahat dan mengenai bagian gigi depan dan akhirnya terpaksa harus cabut gigi dikarenakan sudah goyang. Tetapi ketika tumbuh, gigi tersebut malah tumbuh ke arah luar mulut yang menghasilkan gigi keluar dari arena mulut dan tidak bisa tertutup rapat dengan sempurna secara tidak sadar. Selain itu, ketika berusia 4 tahun. ATP dianggap sebagai anak autis yang Ia tidak mau menulis, mendengarkan secara tidak fokus, selalu mengganggu temannya, gampang emosi, dan tidak mau diatur. Peneliti di sini juga berperan sebagai guru privat sehingga memudahkan untuk melakukan Sejak mendapatkan pengajaran secara privat ATP bersedia ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Salsabila & Nuryani Ae Gangguan Berbahasa Akibat mendengarkan dan menuruti perintah dalam hal belajar. Peneliti memulai dengan mengajarkan dari hal-hal dasar, seperti menulis awal . arena pada saat itu ia baru memasuki kelas 2 SD dan belum bisa sama sekali menulis huruf-huruf dengan bai. Pada kondisi awal cukup sulit untuk mengajak ATP fokus pada satu kegiatan karena selalu ada saja yang dikerjakan ketika diberikan soal. Akan tetapi, dengan respon pengajar yang baik dan bersedia memperhatikan dan mendengar segala celotehannya dengan baik. ATP mulai terbuka dan banyak bercerita hal-hal positif yang ia alami hari-hari itu. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap gangguan berbahasa yang dimiliki oleh anak laki-laki berusia 9 tahun (ATP) akibat alat ucap yang bermasalah. Penelitian ini akan mendeskripsikan bentuk-bentuk gangguan bahasa dan factor-faktor penyebab munculnya gangguan bahasa tersebut. Metode Penelitian Metode analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Metode analisis ini adalah sebuah metode yang digunakan peneliti untuk menemukan pengetahuan atau teori terhadap penelitian pada satu waktu tertentu. Penulis menggunakan metode deskriptif kualititaf untuk mengungkapkan kata-kata atau ujaran-ujaran yang diproduksi oleh obyek Data yang dikumpulan berupa kata-kata atau ujaran-ujaran yang diproduksi obyek penelitian kemudian dianalisis dengan mengikuti langkah kerja yang telah ditentukan. Langkah kerja dari metode ini adalah menganalisis dan mendeskripsikan kata-kata atau ujaran-ujaran yang diproduksi oleh obyek penelitian, baik berupa kesalahan-kesalahan ujaran yang dialami oleh obyek penelitian (Mukhtar, 2013: . Objek penelitian adalah seorang anak laki-laki berusia 9 tahun 5 bulan yang bernama ATP. ATP lahir di Depok, 4 Agustus 2009 merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Obyek penelitian tinggal di wilayah yang cukup padat Hal tersebut kemungkinan akan sangat berpengaruh pada proses sosialisasi dan adaptasi bahasa. ATP tumbuh dengan baik layaknya anak-anak lain yaitu tinggi dan berat badannya normal untuk seusianya. Dia juga tumbuh dengan kedua orang tua yang masih lengkap. Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari adalah bahasa Indonesia, baik dengan keluarga maupun dengan lingkungan sekitarnya. Meskipun demikian, karena kedua orang tuanya berasal dari suku Jawa maka keduanya masih terbiasa juga bertutur dengan menggunakan bahasa Jawa. Kegiatan pengumpulan data merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dalam sebuah proses penelitian. Dalam kegiatan ini dintuntut menggunakan teknik yang tepat guna mendapatkan data yang sahih. Kesahihan data akan sangat membantu dalam proses analisis data yang komprehensif. Peneliti menggunakan beberapa teknik dalam pengumpulan data, yaitu observasi, awancara mendalam, dan keterlibatan langsung untuk merekam baik audio maupun audio visual. Observasi atau yang disebut pula dengan STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 pengamatan, meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sebuah obyek dengan menggunakan seluruh alat indra . apat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengeca. (Syakhiqoh dan Ahya, 2018: Peneliti melakukan observasi sebelum melakukan wawancara dan Observasi dilakukan bersamaan dengan ketika peneliti melakukan pengajaran secara privat. Selain itu, peneliti melakukan wawancara secara mendalam dengan kedua orang tua obyek, teman-teman, dan beberapa orang yang bersosialisasi dengan obyek penelitian. Dalam proses perekaman, peneliti menggunakan alat rekam berupa handphone yang digunakan untuk merekam baik dalam bentuk audio maupun video setiap aktivitas objek (ATP) dalam waktu 1 bulan. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Berdasarkan hasil rekaman tuturan ATP dalam kegiatan belajar . privat yang dilakukan selama satu bulan, maka dapat diperoleh data sebagai berikut. Tabel 1. Proses Perubahan Fonem dalam Ujaran No. Ujaran Iyat Mou Gauea gaeua Ceuita Teeuus Misala Ahyi Ngumpuwin Kea Kawo Seluwuh Puwuh Paying Labun Men Bewiman Owang Dayi Beui Wuat Arti/Makna Lihat Mau Gara-gara Cerita Terus Misalnya Ahli Ngumpulin Kaya Kalo Seluruh Puluh Paling Rabun Main Beriman Orang Dari Beli Buat ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 Perubahan Fonem /l/Ie/i/ /a/Ie/o/ /r/Ie/eu/ /r/Ie/eu/ /r/Ie/eu/ /ny/Ie/a/ /l/Ie/y/ /l/Ie/w/ /y/Ie/e/ /l/Ie/w/ /r/Ie/w/ /l/Ie/w/ /l/Ie/y/ /r/Ie/l/ /ai/Ie/e/ /r/Ie/w/ /r/Ie/w/ /r/Ie/y/ /l/Ie/u/ /b/Ie/w/ STKIP PGRI Jombang JOURNALS Salsabila & Nuryani Ae Gangguan Berbahasa Akibat Pembahasan Berdasarkan tabel di atas, terdapat beberapa kata yang sering diucapkan secara berulang dalam kesehariannya namun dalam proses pelafalan ATP melakukan kesalahan atau tidak diucapkan sebagaimana mestinya. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan percakapan berikut: P (Penelit. N (Narasumber=ATP). Iyat Ie Lihat P: Tadi siapa? Alfi? Emang Alfi cantik ya? N: Coba aja iyat. P: Kata oga dulu, cantik ga? Kalo cantik teteh cek, kalo enggak, dialog di atas, terlihat bahwa ATP melafalkan kata lihat menjadi iyat. Hal tersebut dapat terjadi karena ia tidak bisa mengucapkan huruf AolAo dengan baik di awal kata sehingga menghilangkan huruf AolAo dan tidak dapat melafalkan huruf AohAo dengan sempurna sehingga diganti huruf AoyAo karena dirasa lebih mudah dalam pelafalannya. Namun tetap tidak menghilangkan fungsi semantiknya yaitu untuk melihat. Mou Ie Mau N: Cantik. P: Ehm hm hm, cewe oga itu? N: Iyad dongg P: Ih, boong. N: Iya. P: Emang dia mau sama oga? N: Mou. Dialog di atas menunjukkan bahwa ATP menyebut kata mou yang berarti mau. Fonem AoaAo dalam kata mau diganti fonem AooAo. Namun tetap tidak menghilangkan makna sebenarnya yaitu bersedia. Gaueua-gaueua Ie gara-gara P: Emang dia mau sama oga? N: Mou (Ma. , gaueua-gaueua . ara-gar. oga ni kan ceitanya . awalnya gini. Gangguan selanjutnya muncul ketika ATP mengucapkan kata gara-gara menjadi gaueua-gaueua. Hal ini dapat terjadi karena ia tidak dapat mengucapkan fonem /r/ dengan sempurna apalagi secara berulang. Namun jika secara sadar dan disengaja ia mampu mengucapkan huruf /r/ cukup baik namun air liurnya pun ikut membanjiri rongga mulutnya dan sedikit kesusahan jika harus mengucap huruf AorAo berulang kali sehingga ia menggantinya dengan fonem AoeuAo yang tidak perlu menggetarkan lidahnya ke langit-langit mulutnya. STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 Ceita Ie cerita P: Emang dia mau sama oga? N: Mou (Ma. , gaueua-gaueua . ara-gar. oga ni kan ceitanya . awalnya ginih, oga lagi makan eh teus tabrakan dug. Aue lu jan kaya gitu dong!Ay terus. ATP mengucapkan kata ceitanya yang seharusnya ceritanya dikarenakan ia tidak mampu mengucapkan fonem AorAo dengan sempurna dan akhirnya menghilangkan fonem AorAo agar lebih mudah diucapkan. Namun tetap tidak menghilangkan makna sebenarnya sebagai kata cerita. Teus Ie terus P: Ko lagi makan bisa tabrakan? Emang makannya jalan-jalan, lari N: Oga lagi apaya makan, am enak juga ya, dug teus . Afinya (Alfiny. jalan, teus . gini,Aykalo jalan liat liat dong. Kata teus yang diucapkan ATP terdapat penghilangan fonem /r/ namun tetap tidak menghilangkan makna sebenarnya. Misala Ie misalnya P: kan ada kitabnya, ada kitab aslinya, dulu kan al quran itu bentuknya itu lembaran, jaman dulu. Terus udah dikumpulin sama orang-orang yang ahli, dikumpulin jadi satu baru dicetak pake mesin supaya tidak terjadi kesalahan. N: kalo misala . ga itu, kita ga nyetak pake mesin misala . Kata misala yang diucapkan oleh ATP terdapat penghilangan fonem /ny/ namun tetap tidak menghilangkan makna sebenarnya. Ahyi Ie Ahli N: kalo misala . ga itu, kita ga nyetak pake mesin misalah . Al-qurannya itu kan ada orang ahyi . teus ga cukup buat manusia ya kalo ga dibikin pake mesin ya P: Oh, iya Terdapat perubahan fonem /l/ menjadi /y/ yang diucapkan oleh ATP pada kata ahli menjadi ahyi karena pengucapan fonem /l/ yang kurang sempurna sehingga menghasilkan bunyi /y/, namun tetap tidak menghilangkan makna Ngumpuwin Ie ngumpulin N: kalo misala . ga itu, kita ga nyetak pake mesin misalah . Al-qurannya itu kan ada orang ahyi . ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Salsabila & Nuryani Ae Gangguan Berbahasa Akibat . teus ga cukup buat manusia ya kalo ga dibikin pake mesin ya P: Oh, iya Terdapat perubahan fonem /l/ menjadi /w/ yang diucapkan oleh ATP pada kata ngumpulin menjadi ngumpuwin karena pengucapan fonem /l/ yang kurang sempurna sehingga menghasilkan bunyi /w/, namun tetap tidak menghilangkan makna sebenarnya. Kea Ie kaya N: Ni misalnya kea . gini jeuek . P: Iya kalo ditulis tangan yang pertama takutnya beda kan. Beda titik doang nanti harusnya AojaAo taunya AohaAo misalnya ya kan beda titik doang tuh padahal. Terdapat perubahan fonem /y/ menjadi /e/ yang diucapkan oleh ATP pada kata kaya menjadi kea. Namun tidak menghilangkan makna sebenarnya. Kawo Ie Kalo N: emang cetak pake mesin berapa jam si? P: cepet berapa menit juga jadi kalo di mesin mah. N: Kawo . di itu mah paying . cepet iya. Terdapat perubahan fonem /l/ menjadi /w/ yang diucapkan oleh ATP pada kata kalo menjadi kata kawo karena pengucapan fonem /l/ yang kurang sempurna sehingga menghasilkan bunyi /w/, namun tetap tidak menghilangkan makna sebenarnya. Seluwuh Ie seluruh N: Ni kan gini teh, misalya . gaada mesin tuh yang bantuin wat . bikin al-quran nanti kan inih ya wat . misal, saya mo . beli, saya mou baca al-quran ya semuanya banyak banget di seluwuh . indonesia bei . tewmasuk bukan orang kwisten . Teus . kaya gini yah Cuma ada segini ga cukup, yauda makanya di cetak pake mesin, dibikin bagus, seet. P: Jadi stoknya terbatas ya kan, udah gitu kalau ditulis manusia lama dong kelarnya nulis setebal ini ya kan satu al-quran 30 juz, makanya pake mesin. Kalau pake mesin, yang pertama bisa banyak cetaknya, yang kedua cepet. Terdapat perubahan fonem /r/ menjadi /w/ yang diucapkan oleh ATP pada kata seluruh menjadi kata seluwuh karena pengucapan fonem /r/ yang kurang sempurna sehingga menghasilkan bunyi /w/, namun tetap tidak menghilangkan makna sebenarnya. STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 Puwuh Ie puluh N: Teh, nih kan udah qulAoan manusia ya yang buat pake mesin. P: terus? N: ko manusianya bisa tau jus tiga puwuh . semuanya? Terdapat perubahan fonem /l/ menjadi /w/ yang diucapkan oleh ATP pada kata puluh menjadi kata puwuh karena pengucapan fonem /l/ yang kurang sempurna sehingga menghasilkan bunyi /w/, namun tetap tidak menghilangkan makna sebenarnya. Paying Ie paling N: emang cetak pake mesin berapa jam si? P: cepet berapa menit juga jadi kalo di mesin mah. N: Kao . di itu mah paying . cepet iya. Terdapat perubahan fonem /l/ menjadi /y/ yang diucapkan oleh ATP pada kata paling menjadi paying karena pengucapan fonem /l/ yang kurang sempurna sehingga menghasilkan bunyi /y/, namun tetap tidak menghilangkan makna sebenarnya. Labun Ie rabun N: Tulisan oga dari jauh keya . P: astagfirullah, rabun? Terdapat perubahan fonem /r/ menjadi /l/ yang diucapkan oleh ATP pada kata rabun menjadi labun karena pengucapan fonem /l/ yang kurang sempurna sehingga menghasilkan bunyi /y/. Jika diperhatikan, kata labun memiliki makna sendiri yaitu turunan dari kata berlabun-labun yang berarti bercakapcakap. Namun karena diksi tersebut masih terdengar asing apabila diartikan sebagai satu kata yang dapat berdiri sendiri, maka tetap tidak menghilangkan makna sebenarnya sebagai kata rabun. Men Ie main N: men . hp nya gini sambil tiduran. P: astagfirullah, oga min jadinya beneran? coba periksa nanti ke Terdapat perubahan fonem /a/ menjadi /e/ yang diucapkan ATP pada kata main menjadi men karena pengucapan fonem yang terkesan buru-buru sehingga mengahsilkan bunyi yang berbeda, dalam bahasa inggris, kata men memiliki makna tersendiri, namun karena tuturan ini dilakukan saat situasi belajar dan menggunakan bahasa Indonesia tetap tidak menghilangkan makna sebenarnya sebagi kata main. Bewiman Ie beriman P: ya jangan arab, huruf-huruf aja N: coba tulisan ini artinya, wahey. dari jauh wahey . owang-owang . rang-oran. yang bewimam . ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Salsabila & Nuryani Ae Gangguan Berbahasa Akibat Terdapat perubahan fonem /r/ menjadi /w/ yang diucapkan oleh ATP pada kata beriman menjadi kata bewiman karena pengucapan fonem /r/ yang kurang sempurna sehingga menghasilkan bunyi /w/, namun tetap tidak menghilangkan makna sebenarnya. Owang Ie orang P: ya jangan arab, huruf-huruf aja N: coba tulisan ini artinya, wahey. dari jauh wahey . owang-owang . rang-oran. yang bewimam . Terdapat perubahan fonem /r/ menjadi /w/ yang diucapkan oleh ATP pada kata orang menjadi kata owang karena pengucapan fonem /r/ yang kurang sempurna sehingga menghasilkan bunyi /w/, namun tetap tidak menghilangkan makna sebenarnya. Dayi Ie dari N: tete. enga min? P: enggala, mata teteh mah bagus N: coba oga baca dayi . jauh Terdapat perubahan fonem /r/ menjadi /y/ yang diucapkan oleh ATP pada kata dari menjadi kata dayi karena pengucapan fonem /r/ yang kurang sempurna sehingga menghasilkan bunyi /y/, namun tetap tidak menghilangkan makna sebenarnya. Bei Ie beli N: Misal, saya mo. beli, saya mou baca al-quran ya semuanya banyak banget di seluwuh . Indonesia bei . tewmasuk bukan orang kwisten . Teus . kaya gini yah Cuma ada segini ga cukup, yauda makanya di cetak pake mesin, dibikin bagus, seet. P: Jadi stoknya terbatas ya kan, udah gitu kalau ditulis manusia lama dong kelarnya nulis setebal ini ya kan satu al-quran 30 juz, makanya pake mesin. Kalau pake mesin, yang pertama bisa banyak cetaknya, yang kedua cepet. Terdapat penghilangan fonem /l/ yang diucapkan oleh ATP pada kata beli menjadi bei. Namun itu tidak merubah makna sebenarnya. Wat Ie Buat P: Iya kalo ditulis tangan yang pertama takutnya beda kan. Beda titik doang ntar harusnya ja taunya ha misalnya yakan beda titik doang tuh padahal N: Ni kan gini teh, misalya . gaada mesin tuh yang bantuin wat . bikin al-quran nanti kan inih ya. STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 Terdapat perubahan fonem /b/ menjadi /w/ serta penghilangan fonem /u/ yang diucapkan oleh ATP pada kata buat menjadi wat. Namun itu tidak merubah makna sebenarnya sebagia kata buat. Temuan-temuan tersebut jJika dikaitkan dengan Teori Watson yang menyatakan bahwa kemajuan teori behavioris memandang bahwa apa yang oleh kalangan psikologis disebut sebagai pikiran bukanlah merupakan sesuatu yang pendek tetapi berbicara pada diri kita sendiri. Hal itu selaras dengan munculnya gangguan berbicara yang disebabkan oleh alat ucap. Pikiran akan memprogram berbagai kosa kata di dalam otak dan hanya diri manusia itu sendiri yang memahami maksud pikiran tersebut sehingga dapat disalurkan ke alat ucap untuk dituturkan. Namun jika ada gangguan pada alat ucap, itu berarti terdapat kesalahan yang muncul dari diri sendiri sehingga penelitian ini dibuat sesuai dengan tujuan utama yaitu melakukan perbaikan jika memang diperlukan. Penyebab Gangguan Berbahasa Secara medis gangguan berbahasa dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu . gangguan berbicara . gangguan berbahasa . gangguan berpikir . gangguan berbahasa terjadi karena gangguan lingkungan sosial. Gangguan berbicara merupakan aktivitas motorik yang mengandung modalitas psikis. Oleh karena itu, gangguan berbicara ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori. Yaitu gangguan mekanisme berbicara, gangguan akibat multifaktorial, dan gangguan psikogenik (Fatmawati dan Mintowati, 2. Berdasarkan analisis di atas, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya gangguan berbahasa pada anak. Gangguan berbicara yang disebabkan: Masalah artikulasi . idah, kerongkongan, pita suara, dan paru-par. Gangguan bersuara Masalah kefasihan Keterlambatan berbicara yang dapat dipicu faktor lingkungan, gangguan pendengaran atau gangguan tumbuh kembang. Gangguan akibat kondisi tertentu seperti: Kesulitan belajar yang dapat menjadi sebab maupun akibat gangguan Serebral palsy atau lumpuh otak Retardasi atau keterbelakangan mental Bibir sumbing Adapun beberapa gangguan yang muncul saat proses belajar yang dialami ATP . dapat disebabkan oleh faktor-faktor berikut. Keterbatasan pendengaran. ISSN 2337-7712ONLINE ISSN 2928-393 STKIP PGRI Jombang JOURNALS Salsabila & Nuryani Ae Gangguan Berbahasa Akibat Keterlambatan koneksi jaringan otot organ wicara . lat artikulas. sehingga anak kesulitan untuk menghasilkan suara. Keterlambatan pemahaman bahasa orang dewasa yang sebelumnya belum pernah didapat atau didengar perkataannya sehingga dirasa panjang dan rumit. Kurang berinteraksi dengan orang lain. Terlalu pasif dalam pergaulan sosial. Kurang dipedulikan orang lain karena dianggap pengganggu sehingga tidak ada orang yang mencoba memahi maksud dati tindak tuturnya. Ketika ditanya jawabannya terkadang di luar topik. Tidak mendapat cukup waktu karena orang lain tidak memberinya kesempatan merespon sementara anak membutuhkan waktu dan perhatian untuk mulai bicara. Rangsangan terlalu banyak dalam arti bahasa yang diajarkan terlalu banyak, seperti banyak tuntutan yang diberikan padahal kondisi anak tidak sama dengan yang lainnya. Terlalu banyak bahasa formal bukan bahasa komunikatif yang diberikan, misalnya tentang angka dan macam-macam warna yang kurang bermanfaat untuk komunikasi harian. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang sudah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa ATP mengalami gangguan berbahasa akibat alat ucap karena faktor laringal dan lingkungann. Terdapat gangguan akibat faktor laringal yaitu gangguan terjadi pada pita suara menyebabkan suara yang dihasilkan menjadi serak atau hilang sama sekali. Terlihat dari hasil penelitian bahwa terdapat banyak kata yang tidak tepat atau bahkan salah karena ketidaksempurnaan alat artikulatoris dalam pengucapan kata. Selain itu. ATP adalah anak yang aktif dan cerdas, namun orang-orang yang belum memahami karakteristiknya dengan baik akan salah paham dengan setiap tindak tuturnya. Hal tersebut mengakibatkan terhambatnya proses pemerolehan karena faktor lingkungan yang kurang mendukung. Selain gangguan berbahasa, gangguan berbicara dan gangguan lainnya dalam kondisi tertentu juga dapat mempengaruhi anak dalam proses pemerolehan bahasa. Jika gangguan tersebut dapat diatasi dengan baik, maka proses pemerolehan bahasa pun akan sempurna. Dengan kata lain, gangguan berbahasa pada ATP disebabkan oleh tidak sempurnanya alat ucap yang dimiliki . serta faktor lingkungan yang kurang mendukung proses pemerolehan bahasa pada masa pertumbuhannya. STKIP PGRI Jombang JOURNALS PRINTEDE-E E-ISSN 2598-8271 Sastranesia: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia Volume 8 No. 1, 2020 References