Intek Akuakultur. Volume 4. Nomor 2. Tahun 2020. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-5 Usaha Budidaya Udang di Kabupaten Barru Angga Reni1 Sosial Ekonomi Perikanan. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Maritim Raja Ali Haji. Tanjungpinang. Indonesia 29111 INFO NASKAH ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk megetahui keuntungan usaha budidaya udang di Kabupeten Barru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Pemilihan lokasi penelitian dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha budidaya udang di Kabupaten Barru mendapatkan keuntungan rata-rata sebesar Rp 12. 000,- hingga Rp 350,- pertahunnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha budidaya udang di Kabupaten Barru layak diusahakan yaitu dengan R/C lebih dari 1. Saluran pemasaran usaha budidaya udang ada 2 pola yaitu Saluran Pemasaran I: Pembudiaya udang langsung menjual kepada pedagang pengumpul dan sebagaian pedagang pengumpul biasanya akan mendatangi tambak Saluran Pemasaran II: industri coldstorage atau perusahaan besar dari Kabupaten Barru, langsung mendatangi tambak pembudidaya di desa. Kata Kunci: Usaha budidaya, udang Gedung FIKP Lt. II Jl. Politeknik Senggarang, 29115. Tanjungpinang. Telp : Fax. Email: anggareni@umrah. Shrimp Cultivation Business In Barru District Angga Reni1. Department of Socio-Economic Fishery. Faculty of Marine Science and Fisheries. Raja Ali Haji Maritime University ARTICLE INFO ABSTRACT Keywords This research was conducted in Barru Regency. South Sulawesi Province. The purpose of this study was to determine the benefits of shrimp farming in Barru Regency. The method used in this study is a survey method. The research location was chosen purposively. The results showed that the shrimp farming business in Barru District received an average profit of Rp 12. 000 to Rp 350 per year. The results of the analysis show that the shrimp farming business in Barru Regency is feasible, namely by R / C more than 1 There are 2 patterns of marketing channels for shrimp farming, namely Marketing Channel I: Shrimp cultivators directly sell to collectors and part of the collectors will usually come to farmers' ponds. Marketing Channel II: cold storage industry or large companies from Barru Regency, go directly to the farmers' ponds in the Aquaculture, shrimp. Gedung FIKP Lt. II Jl. Politeknik Senggarang, 29115. Tanjungpinang. Telp : Fax. Email: anggareni@umrah. PENDAHULUAN Wilayah pesisir dan lautan mempunyai peran yang penting sebagai sumber penghidupan bagi penduduk Indonesia. Kedua wilayah ini diperkirakan menjadi tumpuan bagi pembangunan bangsa Indonesia di masa depan. Hal ini disebabkan sebagian besar wilayah Indonesia merupakan wilayah pesisir dan laut yang memiliki berbagai sumber daya alam serta jasa lingkungan yang beragam. Ada Intek Akuakultur. Volume 4. Nomor 2. Tahun 2020. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-5 beberapa sumber daya alam pesisir yang dapat dikelola dan dikembangkan, diantaranya sumber daya perikanan yang mencakup sumber daya perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Perikanan budidaya meliputi Budidaya laut, budidaya payau, dan budidaya air tawar. Semakin menurunnya produksi yang dihasilkan oleh perikanan tangkap, maka usaha pemanfaatan lahan tambak, khususnya budidaya air payau . ambak udan. diharapkan mampu menopang target produksi nasional perikanan (Alikodra. Kegiatan usaha budidaya udang merupakan jenis usaha perikanan yang hampir semua proses produksinya dapat ditargetkan, sesuai dengan keinginan, sejauh mana dapat memenuhi persyaratan pokok dan pendukung kehidupan serta pertumbuhan udang yang optimal. Usaha ini pernah menunjukkan hasil yang memuaskan hingga Indonesia mencapai produsen udang atas di dunia pada yaitu tahun 1994 mampu mencapai angka produksi > 300. 000 ton/tahun . roduksi dari tambak intensif sekitar 60%, tambak sederhan mencapai 20% dan tambak semi intensif sekitar 10%). Sedangkan mulai tahun 1997 hingga sekarang produksi udang Indonesia mengalami penurunan yang tidak sedikit, yaitu kira-kira produksi pertahun berkisar antara 160. 000 ton (Rusmiyati, 2. Teknologi dan sistem untuk mengisolasi pengaruh langsung lingkungan terhadap budidaya udang di tambak telah diketemukan/dikuasai dan sudah berjalan baik, maka selama masa pemeliharaan berlangsung diperlukan perhatian dan monitoring yang serius. Selama tambak udang beroperasi, yang harus diperhatikan diantaranya adalah sebagai berikut: manajemen pakan, pengelolaan air, manajemen lumpur dan tanah dasar, manajemen pakan alami, padat tebar dan lain sebagainnya. Layout tambak yang ada pada tambak-tambak masyarakat, hampir tidak pernah dilakukan perencanaan secara baik, sehingga kesan berantakan baik tambak dan irigasinya. Hal demikian ini yang mengakibatkan tambak-tambak kita belum optimal pada suatu kawasan. Secara umum, tambak yang ada hanya memanfaatkan saluran yang berfungsi sebagai pemasukan sekaligus pembuangan. Kondisi demikian ini yang mengakibatkan menumpuknya sisa pemeliharaan atau waste product tidak mampu terbuang ke laut untuk diuraikan, dan potensi penyebaran penyakit semakin besar . erpelihara dengan bai. Menurut Suseno dalam Arifianti . Tambak adalah genangan air campuran dari laut dan sungai yang di batasi oleh pematang-pematang dan dapat diatur melalui pintu air serta digunakan untuk budidaya ikan, udang dan perikanan ekonomis yang lainnya. Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulis bermaksud melakukan penelitian mengenai usaha budiaya udang di Kabupaten Barru dengan tujuan untuk mengetahui keuntungan dari usaha budidaya yang ada di Kabupaten Barru. BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini di laksanakan di Kabupaten Barru. Penentuan lokasi dilakukan secara purposif, yaitu pada usaha tambak udang windu dan vanname di Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan. dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut merupakan sentra daerah pengembangan usaha budidaya udang windu dan udang vanname di Intek Akuakultur. Volume 4. Nomor 2. Tahun 2020. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-5 Sulawesi Selatan. Waktu penelitian berlangsung selama 3 bulan dari bulan Januari sampai Maret 2014. Metode Pengumpulan Data Metode yang digunakan dalam pengumpulan data, sebagai berikut: Observasi yaitu peneliti melakukan pengamatan secara langsung terhadap proses penyelenggaran kegiatan pada obyek penelitian. Wawancara yaitu pengumpulan data dengan cara tanya jawab kepada pembudidaya udang Analisis Data Analisis Keuntungan Usaha: Analisis keuntungan usaha yaitu analisis yang menghitung besarnya penerimaan dan keuntungan yang diperoleh petani dengan adanya sistem agribisnis selama proses produksi yang dihitung sebagai berikut (Soekartawi, 2. A = TR Ae TC . A = Keuntungan TR = Total Revenue . otal penerimaa. TC = Total cost . otal biay. Dengan kriteria usaha sebagai berikut: TR > TC, usaha rnenguntungkan TR = TC, usaha irnpas TR < TC, usaha rugi Analisis lmbangan Penerimaan dan Biaya (R-C Rati. Menurut Hernanto . , rnenyatakan bahwa untuk rnengetahui tingkat keuntungan yang diperoleh, analisis usaha dapat diketahui dari beberapa analisis antara lain: analisis pendapatan usaha, analisis imbangan penerirnaan dan biaya (R/C rati. dan analisis waktu pengernbalian modal . ayback perio. ycNycI R/C Ratio = ycNya TR = Total Revenue . otal penerimaa. TC = Total cost . otal biay. Dengan kriteria usaha: R/C > 1, usaha rnenguntungkan R/C = 1, usaha impas R/C < 1, usaha rugi HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 : Rata-rata Usaha Budidaya Udang Vanname tambak di Kabupaten Barru pada tahun 2013 Luas . Jenis tambak Jumlah Pembudidaya Tradisional Jenis Penerimaan (R. Biaya (R. Rata-rata /thn (RP) R/C 1,25 Intek Akuakultur. Volume 4. Nomor 2. Tahun 2020. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-5 Tradisional 1,65 semi intensif 1,25 Tradisional 1,68 Tradisional semi intensif 1,97 Tradisional Intensif 1,08 2,39 Tradisional Sumber : Analisis Data Primer 2014 2,09 2,53 Berdasarkan Tabel 1 di atas, diketahui bahwa data usaha budidaya udang vanname dan udang windu di Kabupaten baru melakukan 3 kali siklus produksi Penerimaan rata-rata usaha budidaya udang berkisar antara Rp 333,- sampai 409. 000,- pertahun dengan biaya rata-rata yang dkeluarkan sebesar Rp 42. 000,- sampai Rp 171. 000,- Sumber biaya berasal dari penjumlahan biaya tetap ditambah biaya variabel. dan keuntungan rata-rata sebesar Rp 12. 000,- sampai Rp 247. 350,Tingkat kelayakan usaha budidaya udang dapat diketahui melalui perbandingan antara besarnya penerimaan dengan biaya yang dikenal dengan istilah R/C. Berdasarkan pada informasi yang ditunjukan pada Tabel 1. R/C usaha budidaya udang lebih besar dari 1, ini artinya usaha budiaya udang yang dilakukan oleh pembudidaya udang vanname dan udang windu di Kabupaten Baru secara ekonomis adalah layak untuk dikembangkan. R/C Ratio 1,25 berarti bahwa setiap penambahan modal Rp 1,00 akan memberikan peningkatan penerimaan sebesar 1,25. Saluran Pemasaran Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa saluran pemasaran udang windu dan udang vanname yang ada di Kabupaten Barru Sulawesi Selatan melalui beberapa lembaga diantaranya petani/produsen udang, pedagang pengumpul, pedagang besar, dan eksportir. Adapun Saluran pemasaran yang terdapat pada udang windu dan udang vananame di Sulawesi Selatan dapat dilihat sebagai berikut: Pembudidaya udang Pedagang pengumpul Industri Coldstorage Ekspor II = Pembudidaya udang Industri Coldstorage Gambar 1: Saluran Pemasaran Ekspor Intek Akuakultur. Volume 4. Nomor 2. Tahun 2020. E-ISSN 2579-6291. Halaman 1-5 Gambar 1 di atas menunjukkan bahwa di Kabupaten Barru terdapat 2 saluran pemasaran udang windu dan udang vanamae yaitu: Saluran Pemasaran I: Pembudiaya udang langsung menjual kepada pedagang pengumpul dan sebagaian pedagang pengumpul biasanya akan mendatangi tambak Kemudian akan dijual kepada pedagang besar yaitu perusahaan coldsotarge yang ada di Kawasan Makassar. Selanjutnya pedagang besar akan mengekspor barang ke luar negeri, biasanya di Jepang, korea. Vietnam. Mesir. Uni Eropa, dll. Saluran Pemasaran II : industri coldstorage atau perusahaan besar dari Kabupaten Takalar dan Barru, langsung mendatangi tambak pembudidaya di desa untuk membeli udang dalam jumlah besar, kemudian akan di ekspor ke luar negeri dan rata Ae rata pedagang besar mendatangi petani tambak yang memiliki lahan lebih dari 2 Ha. Menurut Utomo . , dalam penelitiannya menyatakan bahwa pemasaran udang vanamae hanya melibatkan dua lembaga pemasaran, maka saluran pemasaran yang terjadi di tambak desa Gedangan hanya terbentuk 2 pola yaitu: Pola pertama: dari produsen ke konsumen, dan pola ke 2 yaitu: Produsen ke pedagang besar kemudian ke Pengecer. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan usaha budidaya udang di Kabupaten Barru sangat menguntungkan dan layak untuk dilakukan secara ekonomis. Usaha budidaya udang dapat dilakukan dengan menggunakan tambak intensif dan semi intensif dan tradisonal. DAFTAR PUSTAKA