Jurnal Aspirasi Teknik Sipil (ASPAL) Vol. 3 No. 1 Tahun 2025 DOI: http://doi. 35438/aspal. Karakterisasi Geoteknik Lahan: Integrasi Uji Sondir (CPT) dan Laboratorium Anafi Minmahddun1,* 1Jurusan Teknik Sipil. Universitas Halu Oleo. Kendari. Sulawesi Tenggara *penulis koresponden: anafi. minmahddun@uho. Submit : 30/05/2025 Revisi : 05/06/2025 Diterima : 30/06/2025 Abstrak. Kondisi tanah merupakan faktor kritis yang memengaruhi kelayakan dan keberhasilan proyek konstruksi, terutama pada infrastruktur yang berinteraksi langsung dengan tanah, seperti fondasi dan lereng. Permasalahan geoteknik seperti penurunan berlebih . dan longsor lereng dangkal sering terjadi akibat kurangnya pemahaman terhadap karakteristik tanah. Tanah dengan kandungan lempung tinggi atau kepadatan rendah rentan terhadap perubahan volume dan kejenuhan air, yang dapat mengancam stabilitas struktur. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik tanah di lokasi studi melalui integrasi uji lapangan (Cone Penetration Test/CPT) dan uji laboratorium, guna mengevaluasi daya dukung tanah dan potensi ketidakstabilan lereng. Metode yang digunakan meliputi uji sondir (CPT) di tujuh titik dan uji laboratorium terhadap tujuh sampel tanah untuk analisis sifat fisik dan mekanik, seperti distribusi butiran, batas Atterberg, serta parameter kekuatan geser. Hasil uji sondir menunjukkan dominasi tanah silty sand dengan kepadatan sangat lepas hingga lepas di lapisan atas . Ae2 mete. dan kepadatan menengah hingga padat di lapisan lebih dalam (>6 mete. Uji laboratorium mengidentifikasi variasi klasifikasi tanah, termasuk pasir berlanau (SM), lanau (ML), dan lempung plastis tinggi (CH), dengan nilai kohesi . Ae10 kP. dan sudut gesek dalam . ,85AAe8,38A) yang rendah. Integrasi data menunjukkan potensi longsor tinggi pada lapisan atas akibat kejenuhan air, sehingga diperlukan strategi mitigasi seperti penggunaan fondasi dalam dan sistem drainase yang Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam perencanaan konstruksi yang aman dan berkelanjutan di wilayah dengan kondisi tanah serupa. Kata kunci: CPT. Uji Laboratorium. Klasifikasi Tanah Abstract. Soil conditions are a critical factor influencing the feasibility and success of construction projects, especially for infrastructure that interacts directly with the ground, such as foundations and slopes. Geotechnical issues like excessive settlement and shallow translational landslides often occur due to insufficient understanding of soil characteristics. Soils with high clay content or low density are prone to volume changes and water saturation, which can threaten structural stability. This study aims to examine soil characteristics at the research site by integrating field tests (Cone Penetration Test/CPT) and laboratory tests to evaluate soil bearing capacity and slope instability potential. The methods included CPT at seven points and laboratory tests on seven soil samples to analyze physical and mechanical properties, such as grain distribution. Atterberg limits, and shear strength parameters. CPT results showed a dominance of silty sand with very loose to loose density in the upper layer . Ae2 meter. and medium to dense density in deeper layers (>6 meter. Laboratory tests identified variations in soil classification, including silty sand (SM), silt (ML), and highplasticity clay (CH), with low cohesion . Ae10 kP. and internal friction angle . 85AAe8. 38A). Data integration revealed a high landslide risk in the upper layer due to water saturation, necessitating mitigation strategies such as deep foundations and effective drainage systems. This research provides significant contributions to safe and sustainable construction planning in areas with similar soil conditions. Keywords: CPT. Laboratory Test. Soil Classification Jurnal Aspirasi Teknik Sipil (ASPAL) Vol. 3 No. 1 Tahun 2025 DOI: http://doi. 35438/aspal. Pendahuluan Kondisi tanah merupakan salah satu faktor yang sangat memengaruhi kelayakan dan keberhasilan suatu proyek konstruksi, terutama pada pembangunan infrastruktur yang berinteraksi langsung dengan tanah, seperti fondasi dan lereng. Berbagai permasalahan seperti penurunan tanah, swelling dan scouring dapat menjadi permasalahan yang akan timbul tanpa adanya pemahaman karakteristik tanah yang baik . Ae. Permasalahan geoteknik seperti penurunan berlebih . dan longsor lereng dangkal . hallow translational slid. sering kali terjadi akibat pengabaian terhadap sifat dan perilaku Hal ini dapat menyebabkan kerusakan struktural yang signifikan, meningkatnya biaya pemeliharaan, dan bahkan membahayakan keselamatan jiwa. Penurunan tanah yang berlebihan biasanya disebabkan oleh konsolidasi tanah yang tidak terkendali, terutama di daerah dengan kandungan lempung tinggi yang bersifat ekspansif. Tanah jenis ini memiliki sifat fisik yang bervariasi dan dapat memengaruhi stabilitas secara signifikan. Misalnya, perubahan kadar air tanah akibat curah hujan atau keberadaan sumber air di sekitarnya dapat menyebabkan volume lempung ekspansif meningkat atau menurun, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan penurunan . atau pengangkatan . pada struktur di atasnya . , . Penelitian menunjukkan bahwa penurunan yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan kerusakan progresif pada infrastruktur sipil serta secara signifikan meningkatkan biaya pemeliharaan seiring waktu . , . Oleh karena itu, pemahaman terhadap tingkat kompresibilitas dan daya dukung tanah menjadi sangat penting untuk mengurangi risiko Penilaian geoteknik yang menyeluruh sebelum pelaksanaan konstruksi merupakan langkah yang tidak dapat diabaikan . Selain permasalahan penurunan, gerakan tanah seperti longsoran translasi dangkal juga menjadi ancaman serius di daerah dengan kemiringan lereng curam dan kondisi tanah yang jenuh air. Longsoran ini terjadi ketika gaya dorong akibat gravitasi melebihi gaya tahan dalam massa tanah tertentu, dan biasanya diperburuk oleh curah hujan tinggi (Jiang et al. , 2. Berbagai studi menunjukkan bahwa jenis longsoran dangkal seperti active-layer detachment slides (ALDS) sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, khususnya di wilayah permafrost yang mengalami pencairan akibat perubahan iklim . , . Di wilayah dengan curah hujan tinggi, kombinasi antara berkurangnya gaya gesek pada bidang longsor dan meningkatnya berat tanah jenuh air dapat menyebabkan kegagalan mendadak yang berisiko terhadap infrastruktur di sekitarnya . Untuk mengurangi risiko tersebut, diperlukan investigasi tanah yang komprehensif melalui pendekatan lapangan dan laboratorium. Uji Cone Penetration Test (CPT) merupakan salah satu metode lapangan yang penting dan banyak digunakan dalam rekayasa geoteknik untuk memperoleh profil vertikal kondisi tanah. Uji ini memberikan parameter-parameter penting seperti tahanan ujung konus . one resistance / q. dan rasio gesek . riction ratio / F. , yang berperan dalam menilai daya dukung tanah serta perilakunya di bawah beban struktural . , . Namun demikian, meskipun CPT memberikan informasi berharga mengenai kondisi bawah permukaan, hasilnya perlu dilengkapi dengan pengujian laboratorium untuk mengevaluasi sifat fisik dan mekanik tanah secara lebih mendalam. Jurnal Aspirasi Teknik Sipil (ASPAL) Vol. 3 No. 1 Tahun 2025 DOI: http://doi. 35438/aspal. Pengujian laboratorium berperan penting dalam memahami karakteristik tanah, seperti distribusi ukuran butir, berat jenis, batas Atterberg, serta parameter kekuatan geser seperti kohesi dan sudut geser dalam. Distribusi ukuran butir memengaruhi perilaku hidraulik dan mekanik tanah. tanah dengan gradasi yang baik cenderung lebih stabil dan memiliki kekuatan lebih tinggi dibandingkan dengan tanah yang tidak tergradasi dengan baik, yang lebih rentan terhadap likuifaksi saat terkena beban dinamis . Ae. Berat jenis tanah juga penting dalam klasifikasi dan penilaian kinerja struktural, karena variasi nilai kohesi dan sudut geser dalam dapat memengaruhi respons tanah terhadap beban maupun dalam kondisi bebas tekanan . , . Batas Atterberg memberikan informasi tentang plastisitas dan kemudahan pengerjaan tanah selama proses konstruksi . , serta melengkapi data CPT dalam memahami perilaku tanah terhadap variasi kadar air. Selain itu, parameter kekuatan geser yang diperoleh dari uji laboratorium dan data lapangan sangat penting untuk perhitungan stabilitas lereng dan desain fondasi . Integrasi antara hasil CPT dan pengujian laboratorium terhadap sifat-sifat tanah memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai perilaku tanah, yang sangat esensial dalam praktik rekayasa geoteknik. Pendekatan ganda ini memungkinkan perancangan yang lebih andal dan meningkatkan keselamatan serta keandalan proyek konstruksi, sehingga dapat meminimalkan risiko struktural akibat kondisi tanah yang Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji karakteristik tanah pada lokasi studi dengan mengintegrasikan hasil uji sondir dan uji laboratorium guna memperoleh gambaran menyeluruh mengenai sifat teknis tanah. Pendekatan ini memungkinkan analisis yang lebih akurat terhadap daya dukung tanah serta potensi ketidakstabilan lereng. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi berupa data teknis yang dapat digunakan sebagai dasar perencanaan fondasi dan perlindungan lereng, serta sebagai acuan dalam pengambilan keputusan teknis guna meminimalkan risiko kegagalan geoteknik melalui penerapan strategi perkuatan dan sistem drainase yang Metode Studi ini menggunakan kombinasi penyelidikan lapangan dan penyelidikan laboratorium sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk mendapatkan informasi geoteknik lokasi. Penyelidikan lapangan yang dilakukan adalah uji sondir (CPT - Cone Penetration Test . ) sebanyak tujuh titik (S-01 hingga S-. untuk mengukur nilai cone resistance . dan friction ratio (F. Data hasil uji CPT akan digunakan untuk mengidentifikasi jenis tanah, tingkat kepadatan, dan perilaku tanah terhadap beban berdasarkan klasifikasi Soil Behaviour Type (SBT) yang diusulkan oleh Robertson . dan korelasi yang diusulkan oleh Look . Sebagai data pembanding, uji laboratorium dilakukan untuk memperoleh sifat fisik dan sifar mekanik tanah dilokasi. Pengambilan sampel tanah dilakukan sebanyak tujuh titik (HB-01 hingga HB-. pada kedalaman 2,5 m. Adapun parameter yang diuji terdapat pada Tabel 1. Klasifikasi tanah berdasarkan hasil uji laboratorium mengacu pada sistem USCS (Unified Soil Classification Syste. Analisis data dilakukan dengan mengintegrasikan hasil uji sondir dan laboratorium untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif mengenai karakteristik tanah. Perbedaan klasifikasi tanah antara kedua metode dianalisis dengan mempertimbangkan Jurnal Aspirasi Teknik Sipil (ASPAL) Vol. 3 No. 1 Tahun 2025 DOI: http://doi. 35438/aspal. faktor-faktor seperti gangguan sampel, dan sensitivitas tanah. Evaluasi daya dukung tanah dilakukan berdasarkan nilai qc dari uji sondir serta parameter kuat geser . I) dari uji laboratorium, sementara analisis potensi longsor mempertimbangkan kombinasi nilai qc, kohesi, sudut gesek dalam, serta kondisi kepadatan tanah, termasuk pengaruh kejenuhan air dan drainase. Tabel 1. Tipe uji laboratorium Jenis Pengujian Analisa ukuran Berat Jenis Batas-batas Atterberg Uji geser Tujuan Menentukan distribusi ukuran partikel untuk klasifikasi tanah, membantu dalam memahami karakteristik drainase tanah dan potensi erosinya Mentukan rasio kepadatan tanah dengan air, yang sangat penting untuk menghitung rasio rongga dan porositas Mentukan tingkat kadar air kritis di mana tanah bertransisi antara negara bagian yang berbeda. Mentukan parameter kekuatan geser tanah, termasuk kohesi dan sudut gesekan internal, yang merupakan faktor kunci dalam mengevaluasi daya dukung dan stabilitas lereng Sumber acuan SNI 3423:2008 . SNI 1964:2008 . SNI 1966:2008 . SNI 1967:2008 . SNI 3420:2016 . Hasil dan Pembahasan Hasil Uji Sondir Hasil uji sondir dari semua titik pengujian dapat dilihat pada Gambar 1. Hasil pengujian sondir pada tujuh titik (S-01 hingga S-. menunjukkan bahwa jenis tanah yang dominan di lokasi penelitian adalah silty sand atau pasir lanauan, berdasarkan klasifikasi Soil Behaviour Type (SBT) menurut Robertson. Berdasarkan kriteria kepadatan tanah menurut Look . , tanah ini memiliki variasi tingkat kepadatan dari sangat lepas . ery loos. , lepas . , kepadatan menengah . edium dens. , hingga padat . , tergantung pada kedalaman masing-masing lapisan. Gambar 1. Hasil uji sondir Jurnal Aspirasi Teknik Sipil (ASPAL) Vol. 3 No. 1 Tahun 2025 DOI: http://doi. 35438/aspal. Secara umum, lapisan tanah bagian atas . Ae2 mete. terdiri dari silty sand dengan kondisi sangat lepas hingga lepas. Hal ini dapat dilihat secara konsisten dari nilai cone resistance . yang relatif rendah, berkisar antara 1 hingga 5 MPa, serta nilai friction ratio (F. yang cukup tinggi . i atas 1%). Kondisi ini menunjukkan tanah yang belum terkonsolidasi, dengan struktur butiran yang longgar dan sangat rentan terhadap penurunan kekuatan bila jenuh air. Titik S-02. S-04, dan S-06 secara khusus memperlihatkan karakteristik ini, yang mengindikasikan adanya potensi permasalahan geoteknik seperti daya dukung rendah dan kestabilan lereng yang buruk. Seiring bertambahnya kedalaman . -6 mete. , sebagian besar titik pengujian menunjukkan adanya perbaikan kondisi tanah. Tanah silty sand pada lapisan ini umumnya tergolong dalam klasifikasi kepadatan menengah . edium dens. , ditandai dengan peningkatan nilai qc . Ae10 MP. dan penurunan Fr. Sementara itu, pada lapisan tanah bagian bawah (>6 mete. , sebagian besar titik seperti S-01. S-03. S-04, dan S-05 menunjukkan klasifikasi padat . , dengan nilai qc > 10 MPa dan Fr < 1%. Lapisan ini dianggap lebih stabil dan layak untuk menopang struktur. Dari aspek daya dukung tanah, lapisan atas dengan kondisi sangat lepas hingga lepas menunjukkan nilai daya dukung yang rendah . Tanah dalam kondisi ini bersifat sangat kompresibel dan tidak mampu menahan beban struktur secara efektif, sehingga berisiko menyebabkan penurunan berlebih . xcessive settlemen. jika digunakan sebagai tumpuan pondasi tanpa perbaikan tanah . Sebaliknya, pada kedalaman di atas 6 meter yang memiliki kepadatan lebih tinggi dan nilai qc yang meningkat, kapasitas dukung tanah cenderung lebih memadai, sehingga direkomendasikan sebagai kedalaman minimum untuk pondasi tiang atau perkuatan lainnya. Dari aspek kestabilan lereng, potensi longsor di area ini cukup signifikan, terutama pada lokasi yang memiliki tanah silty sand dengan kepadatan sangat lepas di permukaan . Jenis tanah ini memiliki sifat yang mudah berubah perilaku menjadi cair . saat jenuh air, khususnya jika nilai Fr tinggi (>1%) sebagaimana teramati pada beberapa titik . Hal ini meningkatkan risiko terjadinya flow slide atau longsor aliran, yang sangat berbahaya pada lereng-lereng alam maupun timbunan buatan. Risiko ini lebih tinggi jika drainase permukaan dan bawah tanah tidak dirancang dengan baik, sehingga memungkinkan infiltrasi air hujan menjenuhkan lapisan atas yang longgar tersebut. Dengan memperhatikan kondisi tersebut, maka diperlukan strategi perencanaan dan mitigasi yang sesuai untuk mengantisipasi masalah daya dukung dan potensi longsor. Salah satu rekomendasi teknis penerapan sistem fondasi dalam seperti tiang pancang yang menembus hingga ke lapisan tanah padat di bawahnya. Selain itu, sistem drainase yang baik mutlak diperlukan untuk menjaga agar lapisan tanah atas tidak mudah terjenuhkan air, terutama saat musim hujan. Pemantauan kondisi lereng juga penting dilakukan, khususnya di area dengan nilai qc rendah dan Fr tinggi yang konsisten, karena area seperti ini rawan terhadap ketidakstabilan tanah. Strategi pemantauan dan pengelolaan yang efektif dapat membantu mengurangi risiko tanah longsor dan memastikan keamanan infrastruktur di wilayah yang rentan . Hasil Uji Laboratorium Hasil uji laboratorium terhadap 7 sampel tanah yang diambil pada lokasi studi serta hasil klasifikasinya terdapat pada Tabel 2 dan Tabel 3. Jurnal Aspirasi Teknik Sipil (ASPAL) Vol. 3 No. 1 Tahun 2025 DOI: http://doi. 35438/aspal. Tabel 2 Hasil Uji Laboratorium Parameter tanah Satuan Berat Jenis Tertahan #200 Lolos #200 A kg/cm2 Ao HB-1 2,64 63,17 36,83 31,07 27,52 3,55 0,07 8,38 HB-2 2,66 51,64 48,36 32,49 28,76 3,73 0,09 4,86 Lokasi Sampel HB-3 HB-4 HB-5 2,62 2,67 2,67 46,89 41,15 40,49 53,11 58,85 59,51 29,10 52,61 38,51 25,71 42,26 29,95 3,39 10,35 8,56 0,07 0,08 0,07 8,38 8,13 5,88 HB-6 2,65 47,54 52,46 34,19 22,73 11,47 0,06 7,14 HB-7 2,67 42,13 57,87 27,01 23,04 3,97 0,10 4,85 Tabel 3 Hasil Uji Laboratorium Lokasi HB-1 HB-2 HB-3 HB-4 HB-5 HB-6 HB-7 Klasifikasi Keterangan Pasir berlanau Pasir berlanau Lanau tak organik Lempung tak organik dengan plastisitas tinggi Lempung tak organik dengan plastisitas tinggi Lempung tak organik dengan plastisitas tinggi Lanau tak organik Hasil uji laboratorium terhadap tujuh sampel tanah menunjukkan variasi sifat fisik yang Nilai berat jenis tanah berkisar antara 2,62Ae2,67, menunjukkan komposisi mineral yang relatif seragam. Persentase partikel halus . olos saringan #. berkisar antara 36,83% hingga 59,51%. Sampel dengan persentase tinggi (HB-4. HB-5. HB-. didominasi oleh lanau atau lempung, sementara sampel dengan persentase rendah (HB1. HB-. mengandung lebih banyak pasir berlanau. Uji batas Atterberg menunjukkan bahwa HB-4 memiliki liquid limit (LL) tertinggi . ,61%), mengindikasikan kandungan lempung plastis tinggi. Sementara itu. HB-1. HB2. HB-3, dan HB-7 memiliki indeks plastisitas (PI) rendah (<4%), menandakan sifat nonplastis atau plastisitas rendah. Klasifikasi tanah berkisar dari SM . asir berlana. ML . anau tak organi. , hingga CH . empung plastis tingg. , masing-masing dengan perilaku berbeda terhadap air dan beban. Nilai kohesi dan sudut gesek dalam yang rendah memberikan indikasi kuat bahwa kapasitas dukung tanah di kedalaman 2. 5Ae3. 0 m sangat terbatas. Ini memperkuat hasil uji sondir, yang pada kedalaman serupa menunjukkan nilai qc berkisar rendah hingga sedang, mengindikasikan tanah lepas hingga kepadatan sedang . Dalam konteks daya dukung, kondisi ini berisiko menyebabkan penurunan lokal jika struktur didirikan langsung di atasnya tanpa perkuatan atau pondasi yang memadai. Kondisi ini juga berimplikasi langsung terhadap stabilitas lereng, terutama pada daerah yang memiliki kemiringan topografi. Tanah dengan nilai I <10A sangat rentan terhadap kegagalan geser ketika terjadi kenaikan kadar air, misalnya akibat hujan lebat . Hal ini meningkatkan risiko terjadinya longsor translasi dangkal . hallow translational slide. , terlebih jika sistem drainase tidak tersedia atau tidak efektif. Jurnal Aspirasi Teknik Sipil (ASPAL) Vol. 3 No. 1 Tahun 2025 DOI: http://doi. 35438/aspal. Data uji laboratorium dan uji sondir memberikan gambaran yang saling menguatkan. Pada titik-titik sondir, nilai qc yang rendah pada kedalaman hingga 3 meter menunjukkan tanah dalam kondisi sangat lepas hingga lepas, sesuai dengan nilai kohesi rendah dan sudut gesek dalam yang kecil dari hasil laboratorium. Kedua jenis data ini mendukung kesimpulan bahwa tanah pada kedalaman tersebut memiliki sifat mekanik yang buruk, baik dalam hal daya dukung maupun stabilitas geser. Sebaliknya, peningkatan nilai qc pada kedalaman >4 meter . ingga >10 MP. menunjukkan adanya perbaikan kepadatan dan kekuatan geser. Meski uji geser langsung hanya dilakukan hingga 3 meter, indikasi dari sondir cukup kuat untuk merekomendasikan kedalaman >4 meter sebagai zona Berdasarkan integrasi data dari uji sondir dan uji laboratorium, potensi longsor di lokasi penelitian tergolong tinggi, terutama pada lapisan tanah bagian atas . Ae3 mete. Lapisan ini secara umum diklasifikasikan sebagai silty sand dan sandy silt dengan kondisi sangat lepas hingga lepas, yang ditunjukkan oleh nilai cone resistance . i bawah 5 MP. pada uji sondir, serta nilai kohesi . dan sudut gesek dalam (I) yang sangat rendah dari hasil uji geser langsung . = 6Ae10 kPa dan I = 4. 85AAe8. 38A). Kombinasi dari sifat mekanik yang lemah ini menjadi indikator bahwa lapisan tanah tersebut rentan terhadap pelemahan kekuatan geser, khususnya ketika terjadi kejenuhan akibat infiltrasi air hujan. Berdasarkan integrasi data, potensi longsor tergolong tinggi, khususnya pada kedalaman 0Ae3 meter. Tanah pada zona ini diklasifikasikan sebagai silty sand atau sandy silt yang sangat lepas hingga lepas, dengan nilai qc <5 MPa, nilai kohesi 6Ae10 kPa, dan i 4,85AAe 8,38A . Karakteristik ini menunjukkan bahwa lapisan tersebut sangat rentan terhadap pelemahan geser akibat kejenuhan air. Jenis longsor yang paling mungkin terjadi adalah longsor translasi dangkal, umum terjadi pada tanah residu atau timbunan dengan fraksi Bidang gelincir terbentuk sejajar permukaan tanah, biasanya pada kedalaman 2Ae3 meter, yaitu pada transisi antara lapisan lepas di atas dan lapisan padat di bawah, sebagaimana ditunjukkan oleh perubahan nilai qc dan data uji geser. Terdapat perbedaan hasil klasifikasi tanah berdasarkan uji lab dimana didapati jenisnya adalah lempung dan lanau sementara pada klasifikasi sondir pada kedalaman tersebut tanahnya berperilaku sebagai tanah pasir berlanau. Perbedaan hasil klasifikasi ini karena kedua metode tersebut memiliki pendekatan yang berbeda. Uji laboratorium, seperti analisis butiran dan batas Atterberg, mengklasifikasikan tanah berdasarkan komposisi fisik dan plastisitasnya. Misalnya, jika lebih dari 50% butiran lolos saringan No. 200 dan menunjukkan plastisitas, tanah akan diklasifikasikan sebagai lempung (CL/CH) atau lanau (ML/MH). Sementara itu, uji sondir (CPT) menginterpretasikan jenis tanah berdasarkan resistansi mekanik terhadap penetrasi . c dan f. , sehingga klasifikasi Soil Behaviour Type (SBT) lebih menekankan pada perilaku tanah terhadap beban, bukan hanya komposisinya. Salah satu penyebab perbedaan ini adalah sifat tanah kohesif dengan kadar air tinggi yang dapat berperilaku seperti tanah non-kohesif . isalnya pasi. dalam uji sondir akibat resistansi tip dan gesekan selimut yang rendah. Selain itu, tanah lanauan yang tidak plastis dan agak kering sering kali menunjukkan perilaku seperti pasir berlanau . ilty san. dalam CPT karena fraksi pasir yang dominan masih mampu menahan beban. Faktor lain yang berpengaruh adalah gangguan selama pengambilan sampel untuk uji laboratorium, di mana tanah dengan struktur granular dapat berubah menjadi lebih Jurnal Aspirasi Teknik Sipil (ASPAL) Vol. 3 No. 1 Tahun 2025 DOI: http://doi. 35438/aspal. kohesif akibat remolding. Sensitivitas tanah juga berperan, di mana tanah yang tampak kohesif di laboratorium mungkin kehilangan kekuatannya ketika terganggu, sehingga menunjukkan resistansi rendah dalam CPT . Meskipun CPT mengindikasikan perilaku tanah sebagai silty sand, nilai kuat geser rendah dari uji laboratorium (I = 4Ae8A) menunjukkan bahwa tanah di lapangan mungkin berada dalam keadaan lepas dan jenuh, sehingga kekuatan geser aktualnya sangat terbatas. Hal ini mengindikasikan bahwa resistansi penetrasi pada CPT mungkin berasal dari densitas lokal atau friksi sementara, bukan kekuatan geser jangka panjang. Oleh karena itu, untuk desain yang konservatif, parameter kuat geser dari uji laboratorium tetap dijadikan acuan utama, sedangkan data CPT digunakan untuk mengidentifikasi zona transisi dan kecenderungan perilaku tanah di lapangan. Dengan demikian, integrasi kedua metode pengujian ini penting untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai karakteristik tanah. Kesimpulan Penelitian ini mengintegrasikan hasil uji sondir (CPT) dan uji laboratorium untuk menganalisis karakteristik tanah di lokasi studi. Hasil uji sondir menunjukkan bahwa tanah dominan berupa silty sand dengan kepadatan sangat lepas hingga lepas di lapisan atas . Ae2 mete. dan kepadatan menengah hingga padat di lapisan lebih dalam (>6 Sementara itu, uji laboratorium mengklasifikasikan tanah sebagai pasir berlanau (SM), lanau (ML), dan lempung plastis tinggi (CH), dengan nilai kohesi dan sudut gesek dalam yang rendah. Perbedaan klasifikasi antara kedua metode disebabkan oleh pendekatan yang berbeda, di mana CPT lebih menekankan perilaku tanah terhadap beban, sedangkan uji laboratorium berfokus pada komposisi fisik dan plastisitas. Integrasi data mengungkapkan potensi longsor tinggi pada lapisan atas, terutama akibat kejenuhan air, yang dapat memicu longsor translasi dangkal. Untuk mitigasi risiko, direkomendasikan penggunaan fondasi dalam seperti tiang pancang yang menembus lapisan padat, serta penerapan sistem drainase yang efektif. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan komprehensif dalam investigasi tanah untuk memastikan stabilitas dan keamanan infrastruktur di wilayah dengan kondisi tanah serupa. Daftar Pustaka