Nurul Dewi Aliefiah1 Kritik Formalistik Lukisan Starry Night Karya Vincent Van Gogh ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X KRITIK FORMALISTIK LUKISAN STARRY NIGHT KARYA VINCENT VAN GOGH Nurul Dewi Aliefiah1. Abdul Rohman Prasetyo2 1,2 Program Studi Pendidikan Seni Rupa. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang Jl. Semarang 5 Malang Jawa Timur, 65145, dan 62 341-551921 e-mail : nurul. dewi2002516@students. Prasetyo. fs@um. Abstraksi Lukisan AuStarry NightAy karya Van Gogh merupakan lukisan terkenal yang dilukis pada rentan tahun 1889. Lukisan ini menggambarkan pemandangan malam di sebuah desa dengan berlatar pegunungan dan ilalang. Teknik goresan dan pewarnaan membuat karyanya ini terlihat unik. Lukisan ini juga sekaligus menjadi bukti perjalanan psikologisnya terutama pada periode perawatannya di rumah sakit jiwa. Ini menjadi sebuah pemantik sekaligus pengingat bagi kita saat ini dimana kesehata mental menjadi hal yang penting dalam penunjang kehidupan yang harus kita perhatikan. Isu ini cukup banyak diperbincangkan belakangan ini, terutama oleh para generasi muda. Metode yang digunakan pada kritik formalistik disini terdiri dari 4 tahapan, . Deskripsi, . Analisa Formal, . Interpretasi dan . Evaluasi, dimana hasilnya akan menghasilkan data analisis visual karya juga interpretasi nilai-nilai yang berkaitan dengan lukisan Starry Night. Kata Kunci : Starry night. Vincent van Gogh, kritik formalistik Abstract The painting AuStarry NightAy by Van Gogh is a famous painting painted in 1889. This painting depicts a night view in a village with a backdrop of mountains and grass. The scratching and coloring techniques make his work look unique. This painting also serves as evidence of his psychological journey, especially during the period of his treatment in a mental hospital. This is a trigger and a reminder for us at this time where mental health is an important thing in life support that we must pay attention to. This issue has been discussed quite a lot lately, especially by the younger generation. The method used in formalistic criticism here consists of 4 stages, . Description, . Formal Analysis, . Interpretation and . Evaluation, where the results will produce visual analysis data of the work as well as interpretation of the values related to the Starry Night painting. Keywords: Starry Night. Vincent van Gogh, critic formalistic __________________________________________________________________________ PENDAHULUAN Secara totalitas, lukisan Vincent Van Gogh memperkenalkan keunikan yang membedakannya dengan karya seniman yang lain. Keistimewaan ini diwujudkan dalam pemakaian style post-impresionism yang tidak berubah- ubah dalam tiap karyanya. Tidak hanya gayanya yang khas serta unik, pemakaian motif berani pada tiap lukisannya pula jadi karakteristik khas yang mencolok dalam karya- karyanya (Apostolopoulou & Issari, 2. Tetapi, yang sangat mencolok dari segala lukisan Vincent Van Gogh merupakan ekspresi kuas yang digunakannya, sehingga menghasilkan coretan- coretan tekstur yang khas serta menciptakan jati diri pelukis tersohor tersebut. Lewat guratan- guratan ekspresif tersebut, lukisannya sanggup mengomunikasikan emosi serta karakter si pelukis, sehingga tidak heran bila siapa juga yang melihatnya hendak langsung mengidentifikasi karya Van Gogh (Richardson et al. Style post-impresionism khas Vincent Van Gogh tidak berubahubah di segala karyanya. Tidak cuma itu, pemakaian motif berani pada tiap lukisannya 13 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Nurul Dewi Aliefiah 1. Nama Pengarang 2. Abdul Rohman Prasetyo 3 Kritik Formalistik Lukisan Starry Night Karya Vincent Van Gogh ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X memunculkan kesan kokoh serta mencolok. Tetapi, yang sangat menonjol merupakan sapuan kuas ekspresif yang jadi karakteristik khas karya seninya. Goresan- goresan tersebut tidak cuma membagikan bukti diri yang kokoh pada karya- karyanya, tetapi pula sanggup memancarkan kehidupan serta perasaan yang mendalam dari diri Van Gogh sendiri. Dengan demikian, keunikan karya Vincent Van Gogh tidak cuma terletak pada style postimpresionism serta warna- warnanya yang berani, tetapi pula pada sapuan kuasnya yang sanggup mengantarkan emosi serta kehidupan dalam tiap sentuhan kanvasnya (Molari & Appoloni, 2. Lukisan AuStarry NightAy karya Vincent Van Gogh menyuguhkan panorama alam malam di suatu desa dengan latar balik pegunungan, rerumputan, serta langit yang dipadati bintang. Sapuan kuas pada langit pada lukisan ini membagikan kesan yang sangat khas. Secara spesial, atensi tertuju pada tekstur yang dihasilkan oleh sapuan kuas ini, yang membentuk objek semacam langit, tebing, serta bulan. Lukisan ini secara unik menangkap esensi malam hari, menghasilkan atmosfer menawan yang menarik atensi orang yang melihatnya. Karya ini berfokus pada panorama alam langit malam yang dihiasi bintang. Vincent Van Gogh dengan teliti mengekspresikan keelokan malam lewat goresan- goresan yang terasa begitu leluasa serta ekspresif. Dengan kata lain hanya Van gogh seniman dengan Teknik goresan kuas yang unik dan berbeda dari seniman-seniman lain (Liu. Chan & Yao, 2. Dalam karya ini, langit malam jadi pusat atensi, mencerminkan obsesi serta kekaguman Van Gogh terhadap keelokan di malam hari. Dengan "Starry Night". Vincent sukses mengekspresikan serta mentransformasikan keajaiban langit malam jadi suatu karya seni yang tidak lekang oleh waktu. Lukisan "The Starry Night" yang diterjemahkan sebagai "malam berbintang" dalam Bahasa Indonesia, memvisualkan paduan warna utama biru dan kuning, yang diperkaya oleh sentuhan warna coklat dan hitam sebagai ekspresi emosional Van Gogh. Dari perspektif psikologis, penggunaan warna biru tua di dalam lukisan ini dapat diartikan sebagai representasi perasaan yang terpendam, seperti amarah, konsentrasi, sensitivitas, perasaan, bahkan hingga depresi. Warna kuning, di sisi lain, memberikan gambaran tentang perasaan tidak percaya diri, harapan, toleransi, dinamika, dan ambisi tinggi yang dapat dipetakan dalam komposisi artistiknya (Zulianto, 2. Melalui perpaduan warna, warna hitam dalam lukisan ini menjadi penafsiran visual dari kehidupan yang terhenti, kematian, kebinasaan, kekosongan, kegelapan, dan kehancuran. Terakhir, warna coklat yang terwujud di kanvas tersebut melambangkan rasa putus asa dan pesimisme terhadap masa depan. Keseluruhan, perpaduan unik dan kompleksitas warna dalam "The Starry Night" menciptakan karya seni yang tidak hanya memikat mata, tetapi juga meresapi penonton dengan kedalaman emosional dan pemikiran psikologis dari sang seniman (Bailey, 2. Pertanda kesehatan mental dan gejala penyakit mental yang diceritakan oleh Van Gogh melalui surat-suratnya menunjukkan kesamaan dengan tanda-tanda yang terdokumentasi dalam catatan medis awal gangguan bipolar dan gangguan syaraf (Kusznir Vitturi & Luiz Sanvito, 2. Psikiater Perancis. Jean-Pierre Falret, menyusun catatan medis pertama gangguan bipolar pada tahun 1851, dan gejala yang dijelaskan oleh Van Gogh tampak mencerminkan karakteristik yang serupa. Meskipun istilah "gangguan bipolar" baru menjadi umum pada sekitar tahun 1980-an, sebelumnya para psikiater lebih sering menggunakan istilah "manic depression" untuk merujuk pada kondisi di mana seseorang mengalami siklus antara kegembiraan manik dan depresi (Blumer, 2. Pada periode dulu, sebutan "manic depression" lebih universal digunakan oleh para psikiater untuk menarangkan keadaan psikologis sejenis yang dirasakan oleh Van Gogh (Voskuil, 2. Dalam surat- suratnya, seniman tersebut menggambarkan indikasi yang bersamaan waktu diidentifikasi selaku bagian dari kendala bipolar. Walaupun sebutan "bipolar" belum diketahui sampai beberapa dekade, pemakaian sebutan "manic depression" membagikan pemikiran sejarah terhadap bagaimana keadaan tersebut diidentifikasi serta 14 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Nurul Dewi Aliefiah 1. Nama Pengarang 2. Abdul Rohman Prasetyo 3 Kritik Formalistik Lukisan Starry Night Karya Vincent Van Gogh ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X dimaksud oleh komunitas kedokteran dalam beberapa waktu (Jacob. Bohlken & Kostev. Sehingga dapat di tarik kesimpulan bahwa gangguan kesehatan mental merupakan hal yang cukup lumrah terjadi pada masa itu. Terkait hal tersebut fenomena kesehatan mental saat ini menunjukkan pentingnya kesehatan mental sebagai kondisi di mana individu menyadari potensi diri, mampu mengatasi tekanan hidup, bekerja produktif, dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan tak bisa diabaikan (Duana. Ariani & Melinda, 2. Kesehatan mental, baik fisik maupun psikis, semakin menjadi perhatian utama, terutama di kalangan dewasa dan remaja yang rentan mengalami gangguan mental atau depresi (McCullock & Scrivano, 2. Faktor-faktor seperti genetik, perubahan hormonal, pengalaman traumatis, dan tekanan hidup memengaruhi kesehatan mental, yang dapat menunjukkan gejala seperti kemarahan, perasaan putus asa, rendah diri, kecemasan, dan kekhawatiran berlebihan. Kesadaran terhadap kesehatan mental menjadi kunci untuk mencegah dampak negatif yang mungkin timbul (Aisyaroh. Hudaya & Supradewi, 2. Saat ini semakin penting untuk memahami dan memperhatikan fenomena kesehatan mental, terutama di kalangan orang dewasa dan remaja yang rentan mengalami gangguan mental dan depresi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kesehatan mental bukan hanya tentang keseimbangan emosional, tetapi juga tentang mengenali potensi diri, kemampuan mengatasi tekanan hidup, dan memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan. Faktorfaktor seperti genetika, perubahan hormonal, pengalaman traumatis, dan pemicu stres hidup dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang sehingga menimbulkan gejala seperti kemarahan, keputusasaan, rendah diri, cemas, dan rasa khawatir yang berlebihan. Menyadari pentingnya kesehatan mental adalah kunci untuk menghindari kemungkinan konsekuensi negative. Hal ini sejalan dengan kritik formalis dalam seni rupa yang menekankan pentingnya memahami unsur internal suatu karya seni tanpa terlalu mengandalkan konteks eksternal. Sama seperti pendekatan formalis terhadap seni yang memungkinkan kita mengevaluasi struktur dan estetika sebuah karya seni secara objektif, kesadaran akan kesehatan mental memungkinkan kita untuk lebih memahami faktor-faktor internal yang memengaruhi kesehatan mental, sehingga kita dapat mengenali dan Kritik formalistik ialah pendekatan dalam seni yang memfokuskan atensi pada elemen resmi ataupun estetika sesuatu karya seni, semacam garis, warna, wujud, tekstur, serta Pendekatan ini memandang seni selaku objek yang mempunyai struktur resmi yang bisa dianalisis secara obyektif. Berartinya kritik formalistik dalam seni terletak pada kemampuannya untuk menguasai serta mengevaluasi elemen-elemen tersebut tanpa mengandalkan data eksternal, semacam konteks sejarah ataupun hasrat seniman. Kritik formalistik membagikan kebebasan untuk mengapresiasi serta mengkritik karya seni yang bersumber pada ciri visualnya itu sendiri. Ini bisa membuka pintu buat uraian mendalam tentang metode seni serta membolehkan apresiasi yang lebih mendalam terhadap keunikan serta kompleksitas visual dalam tiap karya seni. Walaupun kritik formalistik tidak mencakup seluruh aspek interpretatif seni, pendekatan ini senantiasa relevan dalam menguasai nilai estetika sesuatu karya seni. Kritik formalistik merupakan proses mengevaluasi sesuatu karya seni dengan memakai pendekatan formalistik, yang fokus pada aspek-aspek resmi ataupun unsur- unsur yang Biasanya, aktivitas ini bertujuan buat membahas mutu komposisi, elemen visual semacam warna, garis, serta tekstur. Tidak hanya itu, kritik ini pula mangulas metode serta bahan yang digunakan oleh seniman dalam pembuatan karyanya. Metode analisis yang diterapkan dalam penelitian ini adalah analisis formal, yang secara khusus merujuk pada unsur-unsur visual dalam karya seni. Pendekatan analisis formal dalam konteks ini didasarkan pada teori yang dikembangkan oleh Edmund Burke Feldman (Zulianto, 2. Proses analisis formal merupakan langkah penting dalam mengeksplorasi dan memahami unsur-unsur yang terkandung dalam sebuah karya seni. Analisis formal 15 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Nurul Dewi Aliefiah 1. Nama Pengarang 2. Abdul Rohman Prasetyo 3 Kritik Formalistik Lukisan Starry Night Karya Vincent Van Gogh ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X memungkinkan Anda menggunakan berbagai data visual untuk menganalisis secara detail komponen visual yang membentuk struktur sebuah karya. Pendekatan ini memberikan dasar yang kuat untuk menjelaskan secara komprehensif semua aspek karya seni, memungkinkan pemirsa melihat detail tersembunyi di dalam karya seni. Menurut Feldman, analisis formal melibatkan empat tahapan utama: Deskripsi. Analisis. Interpretasi. Judgement. Fase deskripsi berfokus pada mengamati detail dan mengidentifikasi elemen visual yang penting, sedangkan analisis mengkaji hubungan antar elemen tersebut. Interpretasi memungkinkan pemirsa menemukan makna dan pesan tersembunyi dalam karya seni. Sebaliknya. Judgement memberikan dasar untuk menilai nilai seni dan estetika suatu karya. Menurut Feldman, analisis formal ini terdiri dari (Barker, 2. Kritik formalistik pada karya seni memiliki urgensi yang penting karena memberikan kerangka analisis yang mendalam terhadap aspek estetika, komposisi, teknik, dan materi dalam suatu karya. Melalui fokus pada elemen-elemen formal seperti warna, bentuk, garis, dan tekstur, kritik ini memungkinkan penilaian terhadap kualitas komposisi dan membuka ruang interpretasi yang lebih luas. Dengan memahami teknik dan bahan yang digunakan oleh seniman, kritik formalistik juga menghormati upaya kreatif dan membantu pengamat seni mengembangkan keterampilan berpikir kritis, memperdalam pengalaman, serta memberikan apresiasi yang lebih mendalam terhadap setiap karya seni (Carney, 1. METODE Metode Penelitian yang Dipergunakan Penelitian yang dilaksanakan dalam kerangka penelitian ini mengusung pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Metode penelitian kualitatif ini secara khusus difokuskan untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian yang berkaitan dengan unsur-unsur "siapa," "apa," "dimana," dan "bagaimana" suatu peristiwa atau pengalaman Pendekatan ini, seperti dijabarkan oleh Kim. Sefcik. , & Bradway. , melibatkan penyelidikan mendalam untuk menemukan pola-pola yang muncul selama peristiwa tersebut, mendukung pengkajian yang lebih menyeluruh (Yuliani, 2. Secara ringkas, metode deskriptif kualitatif dapat dijelaskan sebagai suatu pendekatan penelitian yang bergerak dalam kerangka kualitatif yang sederhana, dengan mengikuti alur Alur induktif ini menandakan bahwa penelitian deskriptif kualitatif diawali dengan proses atau peristiwa penjelas yang kemudian ditarik menuju suatu generalisasi, yang pada akhirnya merupakan sebuah kesimpulan yang merangkum esensi dari proses atau peristiwa yang sedang dijelaskan. Pendekatan ini menunjukkan komitmen untuk mendalami pemahaman terhadap suatu konteks atau fenomena sebelum mencapai simpulan yang lebih Penelitian kritik formalistik ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dalam menganalisis karya seni. Dalam konteks tersebut lukisan "Starry Night" karya Vincent Van Gogh, penelitian ini menitik beratkan pada penjelasan detail visual yang terdapat dalam lukisan tersebut. Mekanisme deskriptif kualitatif ini melibatkan pengamatan mendalam terhadap elemen-elemen visual seperti warna, garis, tekstur, dan komposisi yang digunakan oleh Van Gogh. Dengan memahami elemen-elemen ini secara rinci, penelitian kritik formalistik dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang teknik lukisan yang digunakan oleh seniman serta dampak visual yang dihasilkan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperkaya pemahaman tentang karya seni itu sendiri, tetapi juga memberikan wawasan yang lebih luas tentang seni dan gaya lukisan Van Gogh secara Metode Pengumpulan Data Dalam riset kritik formalistik ini, prosedur pengumpulan informasi mengaitkan 3 pendekatan utama, diantaranya dokumen, observasi, serta riset pustaka, dimana dari ketiga pendekatan tersebut akan menghasilkan hasil dan pembahasan. Riset dokumen terfokus pada pencarian lukisan karya Vincent van Gogh lewat media internet, paling utama melalui 16 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Nurul Dewi Aliefiah 1. Nama Pengarang 2. Abdul Rohman Prasetyo 3 Kritik Formalistik Lukisan Starry Night Karya Vincent Van Gogh ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X gambar ataupun foto yang bisa diakses. Langkah ini memberikan dasar untuk observasi langsung, di mana peneliti mengamati aspek-aspek visual yang terdapat dalam lukisan Dengan melaksanakan observasi secara langsung, periset bisa mengumpulkan informasi yang akurat serta mendalam terkait dengan rincian visual, metode lukisan, serta elemen resmi yang lain pada lukisan Van Gogh, spesialnya pada karya bertajuk "Starry Night. Berikutnya, pendekatan riset pustaka jadi langkah berarti dalam merinci aspek teoritis Dengan merujuk pada artikel dan jurnal yang relevan, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh referensi dan informasi yang mendukung analisis formalistik. Studi pustaka memberikan kerangka teoretis yang diperlukan untuk menginterpretasikan dan memahami konteks historis, seni, dan gaya lukisan Van Gogh. Melalui analisis terhadap literatur-literatur tersebut, peneliti dapat memperkaya perspektifnya terhadap karya seni dan menciptakan keterkaitan yang lebih dalam antara lukisan Van Gogh dengan elemen-elemen formal yang ada di dalamnya. Informasi yang sukses dikumpulkan lewat pendekatan dokumen, observasi, serta riset pustaka setelah itu dianalisis secara merata. Analisis resmi diuji coba untuk mengenali serta menguasai struktur visual yang terdapat dalam lukisan "Starry Night. " Berikutnya, hasil analisis ini diolah jadi deskripsi yang mendetail, interpretasi terhadap nilai artistik serta arti, dan penilaian terhadap elemen resmi yang ditemui. Dengan demikian, pendekatan tiga tahap ini memberikan dasar kuat untuk memahami, menafsirkan, dan mengevaluasi karya seni secara komprehensif, menghasilkan informasi berupa analisis formal yang mendalam mengenai lukisan Van Gogh. Populasi/Sample Populasi atau sampel yang menjadi fokus penelitian ini adalah kumpulan karya lukisan Vincent van Gogh dengan judul "Starry Night". Penelitian ini terfokus secara eksklusif pada lukisan tertentu tersebut, memandangnya sebagai objek utama dalam analisis formalistik. Dengan memilih "Starry Night" sebagai sampel, penelitian ini menargetkan satu karya seni khusus untuk diulas dan dijelajahi secara mendalam. Pemilihan karya "Starry Night" sebagai sampel memperjelas batasan penelitian dan menekankan signifikansi analisis terhadap karya seni tersebut. Dengan mengambil pendekatan ini, penelitian dapat merinci elemen-elemen formal, teknik lukisan, dan nilai artistik yang dimiliki oleh karya ini secara khusus, memberikan fokus yang mendalam dan terinci pada satu karya seni yang memiliki nilai artistik dan sejarah yang tinggi. Metode Analisis Data Dalam kerangka penelitian kritik formalistik ini, peneliti mengadopsi model kritik formalistik yang dimiliki oleh E. Feldman . Model ini mencakup empat tahapan, yang masing-masing memiliki fokus khusus untuk mendekonstruksi dan menggali makna dari karya seni. Tahapan pertama adalah deskripsi, di mana peneliti memulai dengan mengidentifikasi dan mendeskripsikan secara visual objek seni yang menjadi fokus penelitian, dalam hal ini lukisan "Starry Night". Tahapan ini memberikan fondasi yang kuat untuk pemahaman mendalam terhadap representasi visual lukisan. Dimana akan dicatat secara objektif tentang apa yang mereka lihat, termasuk unsur-unsur seperti warna, garis, bentuk, tekstur, ruang, komposisi, dan teknik artistik yang digunakan. Deskripsi ini tidak melibatkan interpretasi atau evaluasi tetapi hanya berfokus pada fakta visual yang dapat Tujuannya adalah untuk memberikan landasan yang kokoh bagi pemahaman mendalam terhadap karya seni. Langkah selanjutnya adalah analisis formal, dimana peneliti memfokuskan perhatiannya pada unsur dan prinsip yang membentuk karya seni, seperti komposisi, bentuk, volume, garis, warna, tekstur, dan gelap terang. Melalui tahap ini, peneliti secara sistematik menganalisis lukisan "Starry Night" berdasarkan unsur-unsur tersebut, mengungkap struktur 17 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Nurul Dewi Aliefiah 1. Nama Pengarang 2. Abdul Rohman Prasetyo 3 Kritik Formalistik Lukisan Starry Night Karya Vincent Van Gogh ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X visual dan keterkaitannya dengan nilai artistik yang dimiliki karya tersebut. Di sini pengamat mulai menafsirkan dan menganalisis elemen yang telah dijelaskan sebelumnya, yakni mencoba memahami bagaimana elemen tersebut berinteraksi satu sama lain, bagaimana elemen tersebut menyampaikan pesan atau emosi tertentu, dan bagaimana elemen tersebut membentuk komposisi keseluruhan karya seni. Analisis ini melibatkan interpretasi subjektif, di mana pengamat menggunakan pengetahuannya tentang konteks seni dan budaya untuk mendapatkan wawasan tentang makna karya seni. Tahapan ketiga adalah interpretasi, di mana peneliti berusaha menemukan makna atau memberikan interpretasi terhadap objek seni yang dianalisis. Pada tahap ini, peneliti mendalamkan pemahaman terhadap pesan atau konsep yang mungkin tersembunyi di balik lukisan "Starry Night". Pada tahap interpretasi, peneliti menggali makna yang terkandung dalam karya seni yang dianalisis, seperti lukisan AuStarry NightAy. Tidak hanya membatasi diri pada apa yang terlihat saja, namun juga berusaha menyerap pesan-pesan yang mungkin tersirat di dalamnya dan konsep-konsep yang mungkin tersembunyi. Dengan menerapkan pengetahuan konteks sejarah, budaya dan seni, hal ini memperjelas upaya mengungkap lapisan makna yang tersembunyi dalam lukisan. Mereka melangkah lebih jauh untuk memahami bagaimana seniman menggunakan elemen visual untuk menyampaikan ide dan emosi tertentu, dan bagaimana karya tersebut berinteraksi dengan pandangan dunia dan konteks sosial pada masanya. Selama proses interpretasi, peneliti juga bertanggung jawab menjaga relevansi interpretasi dengan menghubungkannya dengan bukti visual yang terdapat dalam karya seni. Pada tahapan ini harus dipastikan bahwa penafsiran yang diusulkan didukung oleh unsur-unsur nyata yang dapat diamati dalam lukisan tersebut, seperti warna yang digunakan, komposisi, dan gaya lukisan. Oleh karena itu, penafsiran yang dilakukan tidak hanya berdasarkan spekulasi semata, namun juga erat kaitannya dengan ciri visual karya seni tersebut. Hal ini tidak hanya memastikan bahwa interpretasi yang dihasilkan sesuai, namun juga memastikan landasan yang kuat untuk analisis visual yang menyeluruh dan terperinci. Tahapan terakhir adalah evaluasi, yang melibatkan proses penilaian terhadap karya Evaluasi dilakukan melalui apresiasi langsung, pemahaman terhadap isi atau pesan yang disampaikan pada karya seni lukisan AuStarry NightAy, dan perbandingan dengan karya seni sejenis yang dibuat oleh seniman lain yang memiliki kesamaan dalam Teknik maupun tema dalam lukisan. Peneliti pada tahap ini mencermati karakter dan gaya lukis yang digunakan oleh Vincent van Gogh, mencoba memahami esensi dari lukisan "Starry Night" dan membandingkannya dengan karya seni sejenis yang memiliki kesamaan darai segi Teknik maupun tema dari aspek visual maupun gaya lukisnya. Keseluruhan, pendekatan kritik formalistik ini membimbing peneliti melalui serangkaian tahapan yang sistematis dan terstruktur, memungkinkan mereka untuk merinci, menganalisis, memberi makna, dan menilai secara holistik karya seni yang menjadi fokus 18 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Nurul Dewi Aliefiah 1. Nama Pengarang 2. Abdul Rohman Prasetyo 3 Kritik Formalistik Lukisan Starry Night Karya Vincent Van Gogh ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Bagan Alur Penelitian Analisis Formal Evaluasi Formalistik Deskripsi Interpretasi Gambar 1. Model Penelitian Formalistik Hasil dan Pembahasan Gambar 2. Lukisan Karya Vincent Van Gogh AuStarry NightAy. Sumber: https://w. org/collection/works/79802 Deskripsi Lukisan landscape berukuran 74cm x 92cm ini dihasilkan lewat metode cat minyak, menggambarkan atmosfer malam di suatu pedesaan. Dibuat dengan menggabungkan titiktitik warna dan garis sebagai pondasi objeknya karya ini tentu saja terlihat memukau dengan komposisi keseluruhannya. Dalam komposisi lukisan ini, nampak bangunan-bangunan yang menyerupai rumah, digambarkan dalam perspektif potret dari ketinggian. Penggambaran ini menghasilkan nuansa pedesaan yang damai serta terhampar. Tidak hanya rumah-rumah, elemen-elemen lain yang mencolok tercantum kedatangan rumput ilalang di antara struktur rumah serta objek yang timbul seakan pegunungan ataupun tebing. Tidak cuma rumahrumah, melainkan pula ada suatu bangunan yang mirip gereja yang berdiri di tengah- tengah rumah- rumah. 19 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Nurul Dewi Aliefiah 1. Nama Pengarang 2. Abdul Rohman Prasetyo 3 Kritik Formalistik Lukisan Starry Night Karya Vincent Van Gogh ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Ciri khas yang paling mencolok dari lukisan ini adalah langit malamnya yang mempesona dengan gemerlap bintang dan adanya bulan sabit yang menempati sekitar tiga per dua dari luas lukisan. Pemandangan ini memberikan dimensi dramatis dan romantisme yang khas pada karya ini. Terlepas dari langit yang penuh dengan bintang, terdapat juga objek hitam yang menjulang tinggi, menyerupai batang pohon atau kastil gelap yang menonjol di atas langit malam. Warna memainkan peran berarti dalam lukisan ini, dengan dominasi warna biru, termasuk biru muda serta biru tua, yang menghasilkan kesan malam yang tenang. Warna biru pula mendominasi langit serta membagikan nuansa kebiruan pada tebing ataupun pegunungan dan rumah- rumah. Apalagi, bintang-bintang serta bulan di lukisan ini digambarkan dengan warna kuning keemasan, meningkatkan sentuhan hangat serta menyatu dengan atmosfer malam yang dihadirkan. Secara keseluruhan, lukisan ini membangun atmosfer malam yang tenang serta memesona dengan perpaduan warna yang cemerlang serta komposisi yang menarik. Detildetil semacam rumput, bangunan, langit malam berbintang, serta elemen-elemen yang lain membagikan dimensi visual yang kokoh pada karya seni ini. Analisis Formal Lukisan dikerjakan dengan teknik cat minyak, menghadirkan pemandangan malam di sebuah pedesaan. Keseluruhan komposisi lukisan dibentuk melalui goresan-goresan garis pendek, menciptakan objek-objek yang memenuhi kanvas. Beberapa elemen dalam lukisan, seperti rumah dengan atap dan jendela, bukit, dan ilalang, direpresentasikan dengan detail yang menggambarkan keaslian bentuknya. Style pengerjaan ini pula nampak dalam visualisasi objek yang lain, semacam bintang serta bulan sabit, yang diperlihatkan lewat garis-garis pendek yang menggambarkan wujudnya dengan jelas. Dalam pemakaian warna, dominasi biru terpancar dari nuansa putih kebiruan, biru muda, biru tua, sampai biru dongker. Walaupun demikian, lukisan ini pula memasukkan sebagian warna tambahan, semacam putih, kuning, orange, serta hijau, membagikan selingan warna yang lebih beragam. Selain itu, seniman juga menggunakan warna gelap pada beberapa bagian lukisan untuk menciptakan efek bayangan pada objek, seperti pada rumah dan bukit. Penyelidikan visual yang mendalam pada warna dan teknik pengerjaan memberikan kekayaan dan keberagaman pada lukisan, menciptakan kesan malam yang dramatis dan berlapis-lapis. Interpretasi Lukisan ini memvisualisasikan bermacam warna yang didominasi oleh komponen biru. Bersumber pada perspektif psikologi warna, warna biru tua mencerminkan beberapa watak, semacam menahan amarah, meresapi suatu yang terpendam, konsentrasi, perasaan, sensitivitas, ketegasan dalam pendirian, kerja sama, sampai perasaan tekanan mental. sisi lain, warna kuning menampilkan watak tidak percaya diri, berharap, toleran, fluktuasi perilaku, tekad besar, sedangkan warna gelap menyiratkan kehidupan yang terhenti, mati, hampa, hitam, kebinasaan, punah, rusak, serta kehancuran. Warna cokelat, dalam konteks ini, mencerminkan perasaan putus asa serta perilaku pesimis terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan di masa depan, bersifat suka merebut, serta kurang toleran. Melalui karya Vincent van Gogh bertajuk" Starry Night," kita diundang untuk menyelami dunia pribadi si seniman. Lukisan ini diciptakan pada periode yang sangat sulit dalam hidup Van Gogh, kala dia tengah menempuh perawatan di rumah sakit jiwa. Keadaan inilah yang menjadikan sebagian elemen dalam lukisan tidak mudah diidentifikasi secara tentu. Walaupun demikian, memandang latar balik kelam Van Gogh pada masa itu, lukisan ini dapat dianggap sebagai ekspresi dari jeritan hatinya terhadap dunianya yang penuh 20 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Nurul Dewi Aliefiah 1. Nama Pengarang 2. Abdul Rohman Prasetyo 3 Kritik Formalistik Lukisan Starry Night Karya Vincent Van Gogh ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Dengan memakai palet warna yang kaya serta elemen visual yang khas. Van Gogh menggambarkan perasaan serta benak yang mendalam lewat "Starry Night. " Pemilihan warna biru yang mendominasi bisa dimaksud selaku ekspresi emosional dari kondisi isi kepala serta perasaan yang dirasakan oleh Van Gogh sepanjang periode susah tersebut. Dalam keseluruhan karya, lukisan ini bukan cuma representasi visual, namun pula suatu medium ekspresif yang merangkum ekspedisi batin seniman yang terombang-ambing antara kegembiraan serta kegelapan. Evaluasi Dalam perbandingan dengan karya neo-impressionism sejenis, semacam "Minggu Siang di Pulau La Grande Jatte" oleh Georges Pierre Seurat, ada kemiripan yang mencolok dalam pemakaian metode pointilis di lukisan "Starry Night" karya Vincent van Gogh. Hal ini dapat di gali menjadi 4 bagian elemen visual. Yang dapat dilihat dari segi titik, garis, ruang dan warna, masing-masing dapat di telaah kembali sesuai ranahnya. Metode ini menandai pengaplikasian titik-titik kecil yang ditorehkan langsung kepada kanvas memberikan efek visual yang padu ketika diaplikasikan menghasilkan ruang yang membentuk objek yang lebih kompleks semacam objek alam, makhluk hidup bangunan dan objek-objek lainnya. Disamping itu tanpa pencampuran langsung pada palet ataupun kanvas, menghasilkan dampak visual yang khas. Walaupun keduanya mengandalkan jarak yang sesuai dengan pandangan mata pelukis, perbandingan signifikan timbul paling utama terpaut media serta metode pelukisan. Gaya Lukisan AuStarry NightAy karya Van Gogh cenderung ekspresionis, dengan kuas tebal dan garis tebal menciptakan kesan gerakan dan kegembiraan emosional. Sedangkan pada lukisan "Minggu Sore di Pulau La Grande Jatte" karya Seurat menggunakan teknik pointillisme yang cermat. Dengan teknik ini, lukisan terdiri dari titik-titik kecil berwarna yang disusun secara sistematis sehingga menimbulkan kesan lebih statis dan teratur. Tema dan makna AuStarry NightAy karya Van Gogh tersirat makna suasana melankolis dan magis dengan langitnya yang berkilauan dan berputar-putar, mungkin mengekspresikan rasa kesepian dan kegelisahan artistik. Sedangkan "Minggu Sore di Pulau La Grande Jatte": karya Seurat menggambarkan pemandangan piknik yang damai dan terstruktur, menekankan kehidupan sosial dan sipil pada saat itu. Secara simbolik dapat juga kita cermati, pada AuStrarry NightAy adanya objek bintang-bintang, bulan dan garis-garis melengkung yang mungkin mewakili symbol-simbol keabadian, keajaiban alam, dan pergerakan alam semesta. Sedangkan AuMinggu Siang di Pulau Grande JatteAy pakaian dan posisi sosial dari para karakter dalam lukisan dapat diartikan sebagai symbol kelas dan hierarki sosial. Lukisan "Starry Night" memakai cat minyak dengan metode Impasto, menekankan tebalnya susunan cat serta struktur permukaan kanvas. Di sisi lain, karya Seurat seperti " Minggu Siang di Pulau La Grande Jatte" memakai metode pointilis yang lebih tradisional, di mana warna dicampur secara lebih terperinci. Dengan demikian, esensi visual serta tekstur kedua lukisan ini tumbuh lewat pendekatan yang berbeda dalam pemakaian teknik pointilis. Tetapi, perbandingan yang lebih mendalam timbul kala memandang inspirasi di balik karya- karya Van Gogh. Lukisan- lukisannya tidak hanya merupakan produk seni visual, melainkan pula merupakan ungkapan dari pengalaman pribadinya serta perjuangan melawan kendala mental. Lukisan "Starry Night" misalnya, terbentuk sepanjang masa perawatan Van Gogh di rumah sakit jiwa (Martin, 2. , memperkenalkan dimensi emosional yang mendalam serta penuh arti. Dengan demikian, tiap sapuan kuasnya jadi jejak dari ekspedisi batin si seniman, menandai kekayaan ekspresif serta ketidaksepakatan dengan norma- norma seni konvensional. Kesimpulan Kesimpulan Penelitian 21 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Nurul Dewi Aliefiah 1. Nama Pengarang 2. Abdul Rohman Prasetyo 3 Kritik Formalistik Lukisan Starry Night Karya Vincent Van Gogh ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Dari penjelasan dan Analisa dari kritik formalistik yang telah dilakukan, dapat di simpulkan bahwa karya Vincent Van Gogh yang berjudul AuStarry NightAy ini menghasilkan beberapa data penelitian yang dapat di simpulkan sebagai berikut: Vincent van Gogh, seorang seniman Belanda terkenal, menjadi pionir aliran pascaimpresionisme yang menonjolkan ekspresi pribadi, distorsi bentuk, dan warna yang Dalam karyanya. Van Gogh menggunakan warna dan bentuk untuk menyampaikan pengalaman emosionalnya yang mendalam, menjadi ciri khas aliran seni pasca-impresionisme yang dipimpinnya. Lukisan AuStarry NightAy berusaha menggambarkan pemandangan imajinatif dari Vincent Van Gogh tentang suasana langit berbintang di malam hari pada sebuah desa. Lukisan ini dilukis oleh Vincent Van Gogh pada rentan tahun 1889. "Starry Night" karya Van Gogh dengan karya Seurat, menunjukkan perbedaan dalam teknik dan tema, sementara menggaris bawahi ekspresi emosional mendalam dalam lukisan Van Gogh sebagai cerminan dari perjuangannya dalam mengatasi kendala mental. Warna kuning yang mendominasi warna bintang di langit menggabarkan kehangatan sedangkan untuk warna biru melambangkan kesedihan. Keterbatasan Penelitian Dalam melaksanakan penelitian ini, peneliti mengalami berbagai keterbatasan yang butuh diakui. Salah satu hambatan utama merupakan keterbatasan akses serta ketersediaan data terpaut lukisan yang tengah diteliti. Riset ini terbatas oleh sejauh mana peneliti bisa mengakses data serta sumber daya terkait lukisan yang jadi fokus riset. Keterbatasan ini paling utama diakibatkan oleh keterbatasan aksesibilitas ke sumber daya fisik, seperti koleksi museum ataupun galeri seni, yang bisa jadi tidak bisa diakses dengan mudah oleh Tidak hanya itu, sumber data yang bisa diandalkan terkadang terbatas pada literatur yang dapatkan, yakni berasal dari perbandingan literasi dari beberapa karya ilmiah seperti jurnal terkait dan sebagainya. Keterbatasan ini mempengaruhi kedalaman serta kelengkapan data yang bisa diperoleh Peneliti wajib bersandar pada sumber-sumber yang ada, terutama literatur daring, guna mendapatkan informasi tentang lukisan yang tengah diteliti. Perihal ini bisa membatasi pemahaman yang lebih mendalam ataupun aspek-aspek spesial terkait lukisan, sebab data bisa jadi tidak seluruhnya mencakup seluruh dimensi karya seni tersebut. Oleh sebab itu, perlu diakui jika keterbatasan akses serta data jadi aspek yang mempengaruhi tingkat kedalaman serta kelengkapan analisis dalam riset ini. Saran Peneliti berharap supaya pembaca yang tertarik untuk melaksanakan riset sejenis dengan lukisan serta seniman yang yang sama bisa mengadopsi pendekatan semiotik dalam penelitian mereka. Harapan ini timbul dari kemauan untuk memperluas pengetahuan serta uraian dalam bidang kritik seni, khususnya dalam karya lukis dari seniman serta lukisan yang mempunyai kesamaan dengan fokus riset periset. Dengan mempraktikkan pendekatan semiotik, diharapkan riset semacam itu bisa membagikan kontribusi tambahan terhadap uraian serta analisis terhadap aspek-aspek semiotik yang bisa jadi terkandung dalam karya seni tersebut. Pemakaian pendekatan semiotik dalam penelitian seni bisa membuka kesempatan untuk menggali lebih dalam arti serta pesan yang terkandung dalam lukisan. Perihal ini dapat mencakup analisis simbol, ikon, serta indeks yang bisa jadi tersemat dalam karya seni, memberikan landasan yang lebih kuat untuk interpretasi serta penafsiran. Dengan demikian, harapan peneliti adalah bahwa penelitian-penelitian mendatang dapat menggunakan kerangka semiotik untuk mendekati karya seni dengan perspektif yang lebih mendalam serta 22 | Volume 06. Nomor 01. Maret 2024 Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia Nurul Dewi Aliefiah 1. Nama Pengarang 2. Abdul Rohman Prasetyo 3 Kritik Formalistik Lukisan Starry Night Karya Vincent Van Gogh ISSN 2656-9973 E-ISSN 2686-567X Peneliti juga berharap jika penerapan pendekatan semiotik dalam penelitian seni bisa menjadi sesuatu kontribusi terhadap perkembangan kajian seni rupa secara umum. Dengan menggali lebih lanjut potensi semiotika dalam menganalisis karya seni, diharapkan bisa terbuka ruang untuk pemikiran kritis yang lebih luas serta pemahaman yang lebih mendalam terhadap nilai serta signifikansi estetika yang terkandung dalam seni lukis. Artikel ini dapat menjadi panduan bagi mereka yang ingin melakukan kritik formal terhadap sebuah karya seni, dengan penekanan pada perlunya menjelaskan secara rinci mekanisme analisis, sehingga kesimpulan yang dihasilkan lebih mendalam dan kuat secara argumen meskipun Namun, argumentasi yang didasarkan pada proses analisis tersebut akan menjadi dasar yang kokoh untuk memberikan perspektif baru terhadap karya seni tersebut. Daftar Pustaka