COUNSELIVE: Jurnal Konseling Kehidupan Volume 1. No 1. Juli 2025. Hlm 8-15 ISSN x-x . || ISSN x-x . Doi: x Studi Literatur: Pengukuran Fenomena Impostor Mutiara Aqilla Tasya1. Ahman2. Yaya Sunarya3 Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial. Universitas Indrapasta PGRI Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Pendidikan Indonesia *Correspondent Author: mutiaraaqillatasya23@gmail. Abstrak Fenomena impostor merupakan kondisi psikologis yang unik, di mana individu dengan prestasi tinggi merasa tidak pantas atas keberhasilan yang dicapainya dan hidup dalam ketakutan akan dianggap sebagai penipu. Fenomena ini berdampak pada aspek emosional dan memengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang, termasuk dalam pekerjaan, akademik, hubungan interpersonal, serta pencapaian aktualisasi diri. Individu dengan kecenderungan impostor sering kali mengalami kecemasan tinggi, perfeksionisme berlebihan, dan rendahnya rasa percaya diri, yang pada akhirnya dapat menghambat pengembangan potensi diri secara optimal. Oleh karena itu, pemahaman mendalam terhadap fenomena ini sangat penting bagi praktisi dan peneliti psikologi dalam merancang intervensi yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan mental Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan berbagai instrumen pengukuran fenomena impostor dan menentukan alat ukur yang paling sesuai digunakan dalam konteks penelitian maupun praktik psikologis. Dengan menggunakan metode studi literatur yang menelaah berbagai sumber seperti jurnal nasional, internasional, dan buku relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS) merupakan instrumen paling valid, reliabel, dan banyak digunakan secara global karena memiliki struktur konseptual yang kuat, cakupan dimensi yang luas, serta dukungan empiris yang konsisten lintas Kata Kunci: Fenomena Impostor. Mahasiswa. Instrumen Pengukuran Abstract The impostor phenomenon is a unique psychological condition in which high-achieving individuals feel undeserving of their accomplishments and live in constant fear of being exposed as frauds. This phenomenon affects emotional aspects and influences an individualAos psychological well-being, including in the areas of work, academics, interpersonal relationships, and self-actualization. Individuals with impostor tendencies often experience high levels of anxiety, excessive perfectionism, and low self-confidence, which ultimately hinder their optimal self-development. Therefore, a deep understanding of this phenomenon is crucial for psychology practitioners and researchers in designing effective interventions to enhance individualsAo mental well-being. This study aims to compare various instruments used to measure the impostor phenomenon and determine the most appropriate tool for research and psychological practice. Using a literature study method that reviews various sources such as national and international journals and relevant books, the findings indicate that the Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS) is the most valid, reliable, and widely used instrument globally due to its strong conceptual structure, broad dimensional coverage, and consistent empirical support across cultures. Keywords: Impostor Phenomenon. College Student. Measurement Instru Counselive: Jurnal Konseling Kehidupan. Volume 1. Nomor 1. Juli 2025. Hlm 8-15 PENDAHULUAN Fenomena impostor merupakan sebuah fenomena unik yang terjadi pada individu berprestasi tinggi. Fenomena impostor disebut juga sebagai penipu intelektual. Fenomena ini pertama kali ditemukan oleh Clance dan Ilmes pada mahasiswi dan wanita bekerja. Individu yang mengalami fenomena impostor merasa telah AumenipuAy orang lain mengenai kemampuan dan kecerdasannya. Individu tersebut merasa bahwa dirinya bukanlah seperti yang terlihat sebenarnya, merasa kurang memiliki kemampuan ataupun kepandaian, dan menyebutkan kesuksesannya merupakan faktor dari keberuntungan, kesalahan dalam penilaian, penampilan yang mendukung, hingga peran orang lain (Clance & Imes, 1. Perasaan sebagai penipu intelektual mengacu pada bagaimana individu dengan sengaja atau tidak sengaja membodohi orang lain untuk berpikir bahwa mereka sangat cerdas atau sukses seperti yang diyakini orang lain terhadap dirinya (Leary. Patton. Orlando, & Funk, 2. Individu yang mengalami fenomena impostor termasuk individu yang termotivasi pada konteks akademik untuk terlihat pintar . erformance goa. , dan ketika menghadapi sejumlah kesulitan dalam proses pembelajaran, mereka menjadi cemas, penuh rasa malu, serta sangat peduli pada penilaian orang lain (Langford & Clance, 1. Individu impostor memiliki beberapa karakteristik, yaitu . kecenderungan mengalami siklus impostor, . introvert, . takut akan evaluasi, . dibayangi ancaman kegagagalan, . dihinggapi rasa bersalah tentang kesuksesan, . generalized anxiety, . memandang tinggi orang lain, tetapi merendahkan diri sendiri, . mendefinisikan inteligensi secara tidak seimbang, . pesan keluarga yang salah dan tidak tegas (Clance & OAoToole, 1. Sehingga akan berdampak pada fungsi emosional dengan melibatkan perasaan cemas, rendah diri, depresi, dan frustasi akibat pemikiran dan perilaku yang dihasilkan (Orbe-Austin, 2. Fenomena impostor pada awalnya hanya dialami oleh wanita berprestasi tinggi saja (Clance & Imes, 1. , kemudian penelitian selanjutnya mengungkapkan bahwa fenomena impostor dapat terjadi pada laki-laki dan wanita (Matthews & Clance, 1985. Harvey & Katz, 1985. Holmes, dkk, 1993. Badawy, dkk, 2. , dan terjadi pada individu dengan pekerjaan yang berbeda seperti pelajar (Young, 2. , mahasiswa (Bussotti. Harvey, 1981. Langford, 1. , akademisi (Topping, 1983. Sims & Cassidy, 2. , mahasiswa kedokteran (Henning, dkk, 1. , manajer pemasaran (Fried-Buchalter, 1. , dan asisten dokter (Mattie. Gietzen. Davis & Prata, 2. Semakin tinggi gelar akademik yang diraih, maka semakin menguatkan terjadinya fenomena impostor pada individu (Clance & Imes, 1. Bukan hanya para akademisi saja yang mengalami fenomena impostor. Penelitian Harvey . menunjukkan bahwa 70% dari semua manusia pernah mengalami fenomena impostor di beberapa titik dalam hidup mereka. Beberapa penelitian luar juga mengungkapkan secara detail bahwa pada umumnya mahasiswalah yang banyak mengalami fenomena impostor. Pada mahasiswa fenomena impostor dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri, mempengaruhi pengembangan identitas akademik, penurunan produktivitas penelitian, . Counselive: Jurnal Konseling Kehidupan. Volume 1. Nomor 1. Juli 2025. Hlm 8-15 dan penurunan kemampuan dalam melakukan tugas yang diharapkan (Hutchins & Rainbolt, 2017. Knights & Clarke, 2. Fenomena impostor memang tidak dikhususkan dalam diagnosis klinis gangguan mental, tetapi fenomena ini perlu mendapatkan perhatian dan penanganan khusus mengingat gejala psikologis yang ditimbulkan mempengaruhi kesehatan mental individu (Clance, 1985. Harvey & Katz. Berkenanaan dengan kondisi tersebut, perlu adanya sebuah pengukuran yang akurat dan andal untuk melihat tingkat kategori fenomena impostor yang terjadi pada individu. Faktanya, meskipun fenomena impostor telah menerima sedikit perhatian empiris dalam hal penilaian psikometrik dan dimensi faktor-faktornya. Namun konseptualisasi fenomena impostor belum banyak dilakukan (Walker & Saklofske, 2. Maka dari itu, tujuan penyusunan artikel ini adalah membandingkan pengukuran fenomana impostor mana yang lebih baik untuk digunakan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi literatur pada berbagai jurnal nasional, internasional, dan juga buku yang memiliki keterkaitan dalam merumuskan sekaligus menjawab tujuan penyusunan artikel. Hal pertama yang dilakukan dengan menetapkan kriteria pencarian dengan kata kunci Auskala fenomena impostor, mahasiswaAy kemudian pengumpulan, seleksi data, hingga penyimpulan serta penyajian data secara sistematis sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dari penyusunan artikel. Studi literatur atau literatur review memiliki tujuan untuk menginformasikan kepada pembaca hasil-hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan saat ini, menghubungkan penelitian dengan literatur-literatur yang ada, dan mengisi celah dalam penelitian-penelitian sebelumnya, literatur review berisi ulasan, rangkuman, dan pemikiran para penulis tentang beberapa sumber pustaka . urnal nasional, internasional, dan juga buk. yang memiliki keterkaitan dalam penyusunan artikel (Creswell, 2. Dalam penelitian ini, tujuan studi literatur untuk mengetahui skala fenomena impostor mana yang lebih baik digunakan. HASIL Pencarian literatur dilakukan dengan pendekatan systematic review, menggunakan beberapa basis data internasional terkemuka, antara lain Science Direct. Google Scholar. Scopus. Springer Link. PsycInfo. Sage Publications. Taylor & Francis, dan Online Thesis Database. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian meliputi Auimpostor phenomenon scaleAy. Auimpostor syndrome measurementAy. Auperceived fraudulenceAy, dan Auself-doubt assessmentAy. Dari hasil penelusuran literatur diperoleh sejumlah penelitian yang secara langsung membahas tentang pengembangan dan validasi instrumen untuk mengukur fenomena Berdasarkan proses seleksi dan penelaahan, ditemukan tiga instrumen utama yang digunakan secara luas dalam mengukur fenomena impostor, yaitu: Counselive: Jurnal Konseling Kehidupan. Volume 1. Nomor 1. Juli 2025. Hlm 8-15 Tabel 1. Temuan Literatur Instrumen Fenomena Impostor Peneliti Instrumen Fujie . Chrisman, dkk . Brauer & Wolf . French Ullrich-French. Follman . McElwee & Yurak . Hellman & Caselman . Fried-Buchalter . Fried-Buchalter . Mak. Kleiman, & Abbott . Kolligian & Sternberg . Ibrahim. Munscher. , & Herzberg . Chrisman, dkk . Bernard. Dollinger, & Ramaniah . Leary . Mak. Kleiman, & Abbott Clance Impostor Phenome non Scale Harvey Impostor Phenome non Scale Perceived Fraudule nce Scale Opsi Respons Validitas Konten Sangat Bagus Reliabilitas Cukup Cukup Baik Baik Bagus Berdasarkan hasil seleksi dan telaah literatur, ditemukan bahwa terdapat tiga instrumen utama yang paling banyak digunakan untuk mengukur fenomena impostor, yaitu Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS). Harvey Impostor Phenomenon Scale (HIPS), dan Perceived Fraudulence Scale (PFS). Hasil sintesis menunjukkan bahwa CIPS menjadi instrumen yang paling sering digunakan dan menunjukkan tingkat validitas serta reliabilitas tertinggi. Sebanyak lima penelitian mengategorikan CIPS memiliki validitas dan reliabilitas pada tingkat Ausangat bagusAy dan AubagusAy. Sementara itu. HIPS dinilai memiliki tingkat validitas dan reliabilitas pada kategori AucukupAy, dan PFS memperoleh penilaian AubaikAy berdasarkan hasil pengujian oleh enam penelitian yang Secara keseluruhan, hasil kajian literatur memperlihatkan bahwa jumlah penelitian yang berfokus pada pengembangan dan pengujian alat ukur fenomena impostor masih Dari sekian banyak publikasi yang membahas fenomena ini, hanya tiga alat ukur utama yang ditemukan konsisten digunakan oleh berbagai peneliti lintas negara. Temuan ini menunjukkan bahwa upaya pengembangan instrumen untuk mengukur fenomena impostor masih memiliki ruang yang luas untuk disempurnakan, terutama dari segi konseptual dan kontekstual agar mampu menggambarkan dinamika fenomena impostor secara lebih komprehensif. PEMBAHASAN Hasil analisis literatur menunjukkan bahwa Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS) merupakan instrumen paling unggul dalam mengukur fenomena impostor dibandingkan dua instrumen lainnya. Skala ini dikembangkan oleh Clance dan Imes . Counselive: Jurnal Konseling Kehidupan. Volume 1. Nomor 1. Juli 2025. Hlm 8-15 . untuk mengidentifikasi perasaan tidak pantas dan ketakutan akan dianggap sebagai penipu di kalangan individu berprestasi tinggi. CIPS awalnya terdiri dari 14 item pernyataan dengan tujuh alternatif jawaban, namun seiring waktu mengalami pengembangan menjadi 25 item dengan lima alternatif jawaban guna meningkatkan validitas dan reliabilitasnya. Skala ini menilai beberapa aspek penting dari fenomena impostor, yaitu kecenderungan merasa diri palsu . , menyangkal kemampuan pribadi . , dan mengaitkan keberhasilan pada faktor keberuntungan . Penggunaan CIPS telah meluas secara global dan diaplikasikan pada berbagai populasi, mulai dari mahasiswa, kandidat doktor, hingga pelajar sekolah menengah. Penelitian yang dilakukan oleh McWilliams. Block. Hinson, dan Kier . menunjukkan bahwa CIPS memiliki konsistensi internal yang tinggi serta sensitivitas yang baik dalam mendeteksi gejala impostor pada populasi akademik. Sementara itu, penelitian oleh Enget. Garcia, dan Webinger . juga membuktikan keandalan CIPS dalam mengukur fenomena impostor di kalangan pelajar. Fakta ini memperkuat posisi CIPS sebagai alat ukur paling stabil, valid, dan reliabel yang digunakan di berbagai konteks budaya dan akademik. Harvey Impostor Phenomenon Scale (HIPS) yang dikembangkan oleh Harvey pada tahun 1981 lebih berfokus pada aspek kognitif dari fenomena impostor. Skala ini terdiri dari 20 item dengan lima alternatif jawaban dan menitikberatkan pada dimensi keraguan diri serta keyakinan terhadap ketidaklayakan pribadi. Namun, penelitian oleh Hellman dan Caselman . serta Fried-Buchalter . menemukan bahwa HIPS memiliki keterbatasan dalam menjangkau aspek emosional dan perilaku yang juga menjadi bagian penting dari fenomena impostor. Oleh karena itu, meskipun skala ini cukup bermanfaat untuk penelitian awal, reliabilitas dan validitasnya relatif lebih rendah dibandingkan CIPS. Perceived Fraudulence Scale (PFS) yang dikembangkan oleh Kolligian dan Sternberg . merupakan instrumen yang mencoba memperluas pemahaman tentang fenomena impostor dengan mencakup 51 item yang menilai aspek kognitif, emosional, dan motivasional. PFS dianggap memiliki landasan konseptual yang kuat karena berupaya menjelaskan fenomena impostor dalam konteks perasaan tidak autentik, ketidakamanan, dan ketakutan akan kegagalan. Namun, panjangnya skala membuatnya kurang praktis untuk digunakan dalam penelitian dengan jumlah partisipan besar. Meski demikian, penelitian seperti yang dilakukan oleh Ibrahim. Munscher, dan Herzberg . serta Bernard. Dollinger, dan Ramaniah . tetap menunjukkan bahwa PFS memiliki konsistensi internal yang baik serta korelasi positif dengan dimensi-dimensi kepribadian tertentu, seperti perfeksionisme dan self-esteem rendah. Meskipun ketiga alat ukur tersebut telah banyak digunakan, belum ada satu pun yang diakui sebagai Augold standardAy dalam mengukur fenomena impostor. Seperti yang dikemukakan oleh Mak. Kleiman, dan Abbott . , perbedaan konteks budaya, populasi, dan pendekatan konseptual membuat hasil pengukuran fenomena impostor sering kali tidak konsisten. Selain itu. Walker dan Saklofske . menegaskan bahwa fenomena impostor bersifat multidimensi, melibatkan interaksi antara aspek kognitif, . Counselive: Jurnal Konseling Kehidupan. Volume 1. Nomor 1. Juli 2025. Hlm 8-15 afektif, dan perilaku. Sayangnya, sebagian besar instrumen yang ada, termasuk CIPS, belum sepenuhnya mampu menangkap kompleksitas tersebut secara menyeluruh. Lebih jauh lagi. Kets de Vries . menyoroti bahwa masih terdapat kebingungan dalam membedakan antara perceived impostors dan true impostors. Perceived impostors adalah individu kompeten yang merasa dirinya tidak layak, sedangkan true impostors adalah mereka yang benar-benar memalsukan identitas atau kualifikasinya. Kedua kelompok sama-sama mengalami ketakutan akan terungkap, tetapi sumber ketakutannya berbeda: yang pertama bersifat subjektif, sedangkan yang kedua objektif. Nuansa perbedaan ini sering kali tidak tercermin dalam pengukuran yang ada, yang menyebabkan keterbatasan dalam interpretasi hasil penelitian. Oleh karena itu, meskipun Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS) saat ini masih menjadi instrumen yang paling reliabel dan paling sering digunakan, pengembangan alat ukur yang lebih komprehensif tetap diperlukan. Penelitian di masa depan diharapkan dapat merancang instrumen yang tidak hanya menilai dimensi kognitif, tetapi juga aspek emosional, perilaku, dan sosial dari fenomena impostor. Selain itu, validasi lintas budaya juga perlu diperluas untuk memastikan bahwa konsep dan instrumen yang digunakan dapat menggambarkan fenomena impostor secara tepat di berbagai konteks budaya, baik individualistik maupun kolektivistik. Dengan demikian, upaya memperdalam pemahaman teoretis dan metodologis terhadap fenomena impostor diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi pengembangan psikologi modern dan praktik intervensi klinis yang lebih efektif. SIMPULAN Berdasarkan pengetahuan kami, studi literatur ini merupakan yang pertama dalam membandingkan pengukuran skala fenomena impostor. Hasil penelitian mengungkapkan diantara Clance Impostor Phenomenon Scale. Harvey Impostor Phenomenon Scale, dan Perceived Fraudulence Scale, dapat dikatakan pengukuran yang paling baik adalah Clance Impostor Phenomenon Scale. Hal ini dapat terlihat dari validitas dan reliabilitas yang menunjukkan Ausangat bagusAy dan AubagusAy. Tetapi pada skala Clance Impostor Phenomenon Scale masih adanya sifat multidimensi dari fenomena impostor yang hilang tanpa pemeriksaan skor subskala. Artinya, masih belum ada Austandar emasAy yang komprehensif untuk mengukur fenomena impostor. DAFTAR PUSTAKA