Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis (JEPA) Volume 10. Nomor 2 . : 469-478 ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . PENGARUH LITERASI KEUANGAN TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN PETANI TEBU DI KECAMATAN KEPUNG. KABUPATEN KEDIRI THE EFFECT OF FINANCIAL LITERACY ON THE INCOME LEVEL OF SUGARCANE FARMERS IN KEPUNG DISTRICT. KEDIRI REGENCY Puthut Setyo Nugroho1*. Nuhfil Hanani1. Fitria Dina Riana1, (Departemen Sosial Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Brawijay. (Email: puthutsn@student. (Departemen Sosial Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Brawijay. (Email: nuhfil. fp@ub. (Departemen Sosial Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Brawijay. (Email: fitria. fp@ub. Penulis korespondensi: puthutsn@student. ABSTRACT Sugarcane as a raw material for the sugar industry is one of the plantation commodities that has a strategic role in the economy in Indonesia. This study aims to determine the level of financial literacy of sugarcane farmers and to determine what factors influence the level of financial literacy of sugarcane farmers in Kepung District. Kediri Regency. This study uses a quantitative approach and is analyzed using descriptive statistical analysis and tobit regression The results of this study indicate that the level of financial literacy of sugarcane farmers in Kepung District. Kediri Regency is indicated to have a low value in the range of <60% as many as 47 people or 42% of the total respondents, while sugarcane farmers who have a moderate level of literacy in the range of 60-80% amount to 26 people or 23% of the total respondents, then sugarcane farmers who have a high level of literacy in the range of 80-100% amount to 40 people or 35% of the total respondents. Also, the age factor has a real positive relationship, land area shows a real positive relationship, land status has a real negative relationship, education has a positive and real relationship, length of farming has a real positive relationship, number of family dependents has a negative relationship that is not real towards financial literacy. Keywords: sugarcane, sugar. Finansial Literacy. Factor ABSTRAK Tebu sebagai bahan baku industri gula merupakan salah satu komoditi perkebunan yang mempunyai peran strategis dalam perekonomian di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat literasi keuangan petani tebu dan mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh terhadap tingkat literasi keuangan petani tebu di Kecamatan Kepung. Kabupaten Kediri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan dianalisis menggunakan analisis statistif deskriptif dan analisis regresi tobit. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Tingkat Literasi keuangan petani tebu di kecamatan Kepung kabupaten Kediri terindikasi memiliki nilai rendah yang berada pada kisaran <60% sebanyak 47 orang atau 42% dari total responden, sedangkan petani tebu yang memiliki tingkat literasi sedang yang berada di kisaran 60-80% berjumlah 26 orang atau 23% dari total responden, selanjutnya petani tebu yang memiliki tingkat literasi tinggi yang berada di kisaran 80-100% berjumlah 40 orang tahu 35% dari total Serta, faktor usia memiliki hubungan positif yang nyata, luas lahan menunjukan https://doi. org/10. 21776/ub. JEPA, 10 . , 2026: 469-478 hubungan positif yang nyata, status lahan memiliki hubungan yang negatif yang nyata. Pendidikan memiliki hubungan yang positif dan nyata, lama berusahatani memiliki hubungan positif yang nyata, jumlah tanggungan keluarga memiliki hubungan negative yang tidak nyata terhadap literasi keuangan. Kata kunci: Tebu. Gula. Literasi Keuangan. Faktor PENDAHULUAN Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar yaitu sekitar 12,40 persen pada tahun 2022. Tebu sebagai bahan baku industri gula merupakan salah satu komoditi perkebunan yang mempunyai peran strategis dalam perekonomian di Indonesia. Dengan luas areal sekitar 490,01 ribu hektar pada tahun 2022 (BPS, 2024. ), industri gula berbahan baku tebu merupakan salah satu sumber pendapatan bagi ribuan petani tebu dan pekerja di industri gula. Provinsi Jawa Timur menunjukkan bahwa pada bulan Desember 2024. NTP Provinsi Jawa Timur tercatat sebesar 111,96, meningkat sebesar 1,60 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini merupakan sinyal positif terhadap peningkatan pendapatan petani secara umum, termasuk petani tebu yang banyak tersebar di wilayah Kabupaten Kediri. Sebagai salah satu komoditas unggulan di sektor perkebunan rakyat, tebu memiliki kontribusi signifikan terhadap pendapatan petani di daerah tersebut. Pendapatan petani tebu sangat dipengaruhi oleh kemampuan manajerial finansial petani dalam menjalankan usaha taninya, karena Manajerial finansial dalam kegiatan pertanian memiliki tujuan untuk memastikan seberapa besar keuntungan yang dapat diperoleh dalam satu periode waktu dengan cara memanfaatan perhitungan harga pokok produksi, karena pada dasarnya harga pokok produksi dijadikan sebagai salah satu pertimbangan dalam mengambil keputusan ekonomi didalam rumah tangga petani. Pengambilan keputusan dalam suatu kegiatan berdasarkan pada tujuan yang ingin diraih merupakan fondasi awal kegiatan perekonomian, suatu individu cenderung mengambil keputusan dengan baik ketika mengetahui dan memahami pilihan yang tersedia bagi dirinya. Hal ini dikarenakan pemahaman tentang keuangan berkontribusi positif terhadap proses pengambilan keputusan keuangan yang lebih baik. Oleh karena itu, ketika seseorang memiliki literasi keuangan yang memadai dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan hidupnya. Bila dihubungkan dengan kondisi petani, maka ketika petani mengalami kerugian dalam perencanaan kegiatan perekonomiannya, salah satunya karena disebabkan oleh rendahnya tingkat literasi keuangan yang dimiliki. Selain itu, literasi keuangan mendorong peningkatan produktivitas melalui pengambilan keputusan ekonomi yang lebih cerdas. Masyarakat yang memahami konsep pengembalian investasi . eturn on investmen. atau efisiensi biaya akan lebih teliti dalam memilih alat produksi, teknologi pertanian, atau strategi pemasaran. Ini pada akhirnya dapat mendorong peningkatan hasil usaha yang berdampak langsung pada peningkatan Dalam jangka panjang, pemahaman keuangan yang baik juga melahirkan budaya menabung dan investasi yang sehat, sehingga seseorang tidak hanya bergantung pada satu sumber penghasilan, tetapi mampu mengembangkan berbagai sumber pendapatan yang JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Puthut Setyo Nugroho Ae Pengaruh Literasi Keuangan Terhadap Tingkat Pendapatan Petani . METODE PENELITIAN Waktu dan tempat Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada bulan november 20204 Ae Maret 2025. Lokasi penelitian berada di Kecamatan Kepung. Kabupaten Kediri. Jawa Timur. Salah satu kecamatan yang memiliki peranan cukup strategis dalam sektor pertanian, khususnya dalam budaya tanaman tebu adalah kecamatan Kepung dengan luas lahan yang dipergunakan untuk tambak 313 Ha (BPS, 2. Kecamatan Kepung dipilih sebagai tempat penelitian karena desa ini produktivitasnya tinggi, dan merupakan desa potensial untuk pengelolaan usahatani tebudengan populasi petani berjumlah besar dan datanya tercatat dengan baik. Kerangka pemikiran dari penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Kerangka Pemikiran Metode pengambilan sampel Menurut (Sugiyono, 2. , populasi adalah wilayah generalisasi terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah petani tebu yang melakukan usahatani tebu minimal selama 2 tahun di Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri. Setelah survey di lapangan, bisa dikatakan semua petani tebu yang melakukan usahatani tebu minimal selama 2 tahun di Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri adalah 113 orang. Sensus dipilih karena dalam penelitian ini semua populasi yaitu petani yang melakukan usahatani tebu minimal selama 2 tahun di Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri diambil sebagai Hal ini juga sesuai menurut (Firdaus, 2. bahwa sensus adalah cara pengumpulan data apabila seluruh elemen populasi diselidiki satu per satu. Data yang diperoleh tersebut merupakan hasil pengolahan sensus disebut sebagai data yang sebenarnya . rue valu. , atau sering juga disebut parameter. JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 469-478 Metode pengumpulan data dan sumber data Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei untuk mengumpulkan data terkait usahatani tanaman tebu. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan petani tebu. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang disusun untuk menggali informasi tentang kondisi usahatani tebu, faktor-faktor yang mempengaruhi literasi keuangan. Sumber data sekunder meliputi laporan pemerintah, data statistik, dan studi sebelumnya yang relevan. Penentuan responden dilakukan dengan teknik sensus, memilih responden yang sudah menjalankan usahatani tebu lebih dari 2 tahun. Metode analisis data Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif sebagai kerangka utama dalam memperoleh, mengelola, dan menganalisis data. Pendekatan ini dipilih karena mampu memberikan hasil yang objektif, terukur, dan dapat digeneralisasikan secara statistik. Seluruh data yang diperoleh bersifat numerik dan akan dianalisis menggunakan perangkat lunak STATA, salah satu program statistik yang umum digunakan dalam penelitian sosialekonomi, karena kemampuannya dalam mengelola dataset besar, melakukan analisis multivariat, serta memfasilitasi berbagai prosedur statistik lanjutan. Analisis data dilakukan dengan analisis statistik deskriptif untuk mengetahui tingkat literasi petani tebu dan analisis regresi tobit untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi literasi keuangan petani tebu di Kecamatan Kepung. Kabupaten kediri sebagai berikut : Analisis statistik desktriptif Analisis statistik deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran atau deskripsi mengenai suatu fenomena yang diteliti melalui ringkasan data numerik, seperti nilai rata-rata . , median, modus, nilai maksimum dan minimum, serta ukuran dispersi seperti standar deviasi dan varians (Maswar, 2. Teknik ini sangat bermanfaat dalam mengeksplorasi data secara awal sebelum dilakukan pengujian hipotesis atau analisis inferensial lainnya. Dalam konteks penelitian ini, analisis statistik deskriptif diterapkan untuk mengkaji dan mendeskripsikan karakteristik sosial ekonomi responden, yang terdiri dari 113 petani di Kecamatan Kepung. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat memperoleh pemahaman mendalam mengenai distribusi dan variabilitas variabel-variabel utama yang diteliti, khususnya yang berkaitan dengan tingkat literasi keuangan dan tingkat pendapatan petani. Variabel yang dianalisis secara deskriptif dalam penelitian ini meliputi : usia, luas lahan, status lahan, pendidikan, lama berusahatani, jumlah tanggungan keluarga. Untuk mengukur skor literasi keuangan, penelitian ini menggunakan pendekatan multi dimensional dengan menyusun sejumlah pertanyaan yang mengacu pada lima aspek utama literasi keuangan yaitu, aspek pengetahuan umum, aspek simpanan dan pinjaman, aspek asuransi, aspek investasi, aspek Analisis Regresi Tobit Dalam upaya untuk memahami determinan atau faktor-faktor yang memengaruhi tingkat literasi keuangan di kalangan masyarakat, khususnya pelaku usaha pertanian, penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan menggunakan model regresi Tobit. Model ini dipilih secara khusus karena karakteristik variabel dependen, yaitu literasi keuangan, memiliki sifat tersensor . Artinya, nilai dari variabel tersebut tidak bebas berkisar dalam rentang yang tidak terbatas, melainkan dibatasi pada nilai tertentu, baik pada batas atas, batas bawah, atau keduanya. Dalam kasus ini, literasi keuangan diasumsikan memiliki nilai minimum, misalnya nol, yang tidak dapat dilampaui ke bawah. Hal ini menjadikan model regresi linear JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Puthut Setyo Nugroho Ae Pengaruh Literasi Keuangan Terhadap Tingkat Pendapatan Petani . biasa (OLS) kurang tepat untuk digunakan karena dapat menghasilkan estimasi yang bias dan tidak efisien. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Statistik Deskriptif Tabel 1. Analisis Statistik Deskriptif Variabel Jumlah Mean Usia 42,57522 Pendidikan 113 11,17699 Luas Lahan 113 9,725664 Status 0,55752212 Lahan Pengalaman 113 10,92035 Tanggungan 113 3,026549 Keluarga Pendapatan 113 Rp113. Std. Dev 5,870333 3,360033 4,404235 0,4965112 Min Max 4,031442 1,398087 Rp93. 000 Rp128. Nilai 72,5663717 17,2056241 50 Literasi Keuangan Menurut data analisis statistik deskriptif pada penelitian memberikan informasi bawa rata rata usia responden pada penelitian berada di usia 42,5 tahun dengan usia termuda 33 dan yang tertua berada di usia 53 tahun. Rata rata pendidikan responden dalam penelitian berada di pendidikan 11 tahun atau setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan pendidikan terendah adalah sekolah dasar (SD) dan tertinggi adalah lulusan diploma. Luas lahan yang dimiliki oleh responden rata-rata sebesar 9,72 ha dengan luas minimum yang dimiliki sebesar 3 ha dan luas maksimum sebesar 20 ha. Rata-rata pengalaman usahatani tebu responden selama 10,9 tahun dan pengalaman usahatani paling rendah berada di 4 tahun lalu pengalaman usaha tani paling lama berada di 20 tahun. Rata rata pendapatan petani ketika menjalankan usahataninya tebu adalah sebesar Rp. 584 per hektar selama satu periode masa tanam . , dengan pendapatan terendah yang didapatkan petani sebesar Rp. 000 per hektar selama satu periode masa tanam . , pendapatan tertinggi yang didapatkan petani selama menjalankan usahatani tebunya sebesar Rp. 000 per hektar selama satu periode masa tanam . Identifikasi Tingkat Literasi Keuangan Petani Tebu di Kecamatan Kepung. Kabupaten Kediri Tabel 2. Analisis Tingkat Literasi Keuangan Petani Tebu Keterangan Nilai Kuantitas Persentase . Literasi Rendah <60 % Literasi Sedang 60-80 % Literasi Tinggi >80 % Total JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 469-478 Analisis tingkat literasi keuangan petani tebu di Kecamatan Kepung. Kabupaten Kediri tergolong pada tingkat literasi rendah hingga tinggi apabila ditinjau dari hasil analisis data. Petani yang tergolong pada tingkat tingkat literasi rendah sebanyak 47 orang atau sebesar 42% dari total jumlah responden, untuk petani yang tergolong kedalam tingkat literasi sedang yaitu berjumlah 26 orang atau sebesar 40 % dari jumlah total responden, di Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri ada 40 orang petani yang masuk kedalam kategori tingkat literasi keuangan yang tinggi atau sebesar 35% dari total responden. Petani dengan tingkat literasi keuangan rendah diindikasikan masih belum memahami konsep literasi keuangan yang berupa pengetahuan umum, aspek simpanan dan pinjaman, aspek asuransi, aspek investasi, aspek Faktor yang Mempengaruhi Literasi Keuangan Petani Tebu Tabel 3. Analisis Regresi Tobit Penelitian Tersensor Coefficient Std. P>I t I . %conf. Interva. Usia 0,00427 0,00213 2,01 0,047 0,00006 0,00848 Luas Lahan 0,02587 0,00232 11,18 0,000 0,02129 0,03046 Status Lahan -0,08894 0,02106 -4,22 0,000 -0,13069 -0,0473 Pendidikan 0,02454 0,00540 4,55 0,000 0,01385 0,03524 Lama Usaha 0,00620 0,00218 2,84 0,005 0,00188 0,01052 Jumlah -0,00019 0,00296 -0,06 0,952 -0,00605 0,00569 Tanggungan Keluarga Konstanta -0,00495 0,05642 -0,09 0,93 -0,11680 0,10690 Lower Limits 0,50 Upper Limits Number Uncensored Left-censored Right= LR chi2. 350,12 Prob > chi2 0,0000 Pseudo R2 5,1182 Hasil pada tabel menunjukkan bahwa total responden yang diteliti adalah 113 petani responden, sedangkan nilai lower limits adalah 0,50 yang berarti dimana nilai terendah dari skor literasi keuangan adalah 50, demikian juga dengan nilai upper limits yang bernilai 100 maka skor tertinggi literasi keuangan petani tebu di Kecamatan Kepung. Kabupaten Kediri adalah Sedangkan nilai left censored menunjukkan angka 22 yang berarti bahwa pada skor literasi keuangan 50 . ower limi. ada sejumlah 22 petani responden. Selanjutnya, ada 12 orang petani responden yang berada pada posisi right censored yang berarti memiliki tingkat literasi keuangan tinggi yaitu 100, variabel uncensored berarti ada 79 orang petani yang berapa diantara left censored hingga right censored. Hasil analisis pada tabel 13 juga menjelaskan bahwa dari enam variabel yang diuji terdapat lima variabel yang signifikan pada taraf 5%, variabel yang memiliki signifikan si teteh 5% meliputi variabel usia, luas lahan, status lahan, pendidikan, dan lama berusaha tani. Selain memberikan informasi tentang taraf signifikansi, hasil analisis juga memberikan informasi tentang nilai coef yang dimiliki oleh masing-masing variabel. Coef JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Puthut Setyo Nugroho Ae Pengaruh Literasi Keuangan Terhadap Tingkat Pendapatan Petani . merupakan nilai koefisien yang dimiliki oleh masing-masing variabel independen setelah diregresikan dengan variabel dependen. Usia Hasil analisis regresi tobit yang telah dilakukan menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,047, nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 atau 5% dan memiliki nilai koefisien positif. Hal tersebut memiliki arti bahwa usia berpengaruh signifikan terhadap tingkat literasi keuangan petani tebu di Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri. Faktor usia pada penelitian ini memberikan gambaran bahwa semakin bertambahnya usia petani maka tingkat literasi yang dimiliki akan bertambah juga. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari (Setianingrum, 2. yang menyatakan bahwa Dalam konteks literasi keuangan, terdapat bukti yang kuat mengenai hubungan antara usia seseorang dan tingkat literasi keuangannya. Penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya usia individu. Luas Lahan Hasil analisis regresi tobit yang telah dilakukan menghasilkan signifiknasi sebesar 0,000, nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 atau 5% dan bernilai positif. Hal tersebut memiliki arti bahwa luas lahan berpengaruh signifikan terhadap tingkat literasi keuangan petani tebu di Kecamatan Kepung. Kabupaten Kediri. Faktor luas lahan pada penelitian ini memberikan gambaran bahwa lahan dalam kegiatan usahatani menjadi salah satu faktor produksi yang penting tanpa mengabaikan kualitas lahan, luas lahan menjadi faktor penentu besar kecilnya hasil yang didapatkan dari kegiatan usahatani dan mempengaruhi pendapatan petani. Hal ini membuat semakin besar luas lahan yang dimiliki oleh petani maka semakin besar pendapatan yang akan diperoleh. Adanya kondisi tersebut menuntun petani untuk dapat memanajemen keuanganya agar kegiatan usahatani berjalan terus menerus. Manajerial keuangan mnejadi bagian dari konsep literasi keuangan, dengan begitu dapat disimpulkan ketika ada penambahan satu satuan pada faktor luas lahan petani maka akan menambah sebanyak satu satuan tingkat literasi petani. Penelitian oleh (Chen & Volpe, 1998. Zhllima et al. , 2. mengemukakan bahwa kapasitas petani dalam menghitung kewajiban kredit . ebagai salah satu indikator literasi keuanga. menunjukkan hubungan yang signifikan dengan aset yang mereka miliki. Variabel aset tersebut, yang meliputi di antaranya luas lahan, menunjukkan bahwa petani dengan lahan yang lebih besar cenderung memiliki sumber daya dan akses yang lebih baik untuk memperoleh informasi serta melakukan pengelolaan keuangan yang lebih efektif. Hal ini mengindikasikan bahwa besarnya skala usahatani keseluruhan dapat menjadi penentu penting dalam pengambilan keputusan finansial Status Lahan Hasil analisis regresi tobit yang telah dilakukan menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,000, nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 atau 5% dan memiliki nilai koefisien yang negatif. Hal tersebut memiliki arti bahwa status lahan berpengaruh signifikan terhadap tingkat literasi keuangan petani tebu di Kecamatan Kepung. Kabupaten Kediri. Lebih lanjut, koefisien regresi yang bernilai negatif mengindikasikan bahwa semakin tinggi . ahan sendir. status kepemilikan lahan yang dimiliki petani, justru dikaitkan dengan tingkat literasi keuangan yang lebih rendah. Dengan kata lain, petani yang memiliki lahan sendiri cenderung memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih rendah dibandingkan dengan petani penggarap atau penyewa lahan. Berdasarkan temuan dilapangan, ada beberapa penyebab mengapa hal itu bisa terjadi, yaitu : JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 469-478 Petani pemilik lahan umumnya memiliki rasa aman terhadap aset dan hasil usaha taninya, sehingga mereka mungkin kurang termotivasi untuk mendalami aspek literasi keuangan seperti pengelolaan risiko, investasi, atau perencanaan keuangan jangka panjang. Sebaliknya, petani penggarap atau penyewa berada dalam posisi ekonomi yang lebih rentan, sehingga mereka terdorong untuk lebih aktif mencari pengetahuan dan strategi keuangan guna mengelola risiko dan meningkatkan stabilitas penghasilan mereka. Temuan kedua menunjukkan bahwa tidak jarang program pemberdayaan keuangan atau pelatihan literasi difokuskan kepada kelompok petani non-pemilik lahan sebagai bagian dari program peningkatan kapasitas ekonomi rumah tangga rentan. Hal ini bisa menjelaskan mengapa petani dengan status lahan sewa justru memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih tinggi. Selanjutnya, fakta yang ditemukan dilapangan menunjukkan bahwa Petani penyewa atau penggarap seringkali lebih aktif dalam memanfaatkan pinjaman, asuransi tani, atau tabungan mikro, karena kebutuhan mendesak mereka akan modal kerja. Ini membuat mereka lebih terbiasa dengan istilah dan konsep dalam dunia keuangan. Faktor status lahan pada penelitian ini menggambarkan tentang status kepemilikan yang berupa hak milik dan hak sewa lahan pertanian. Status lahan dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk mengetahui tingkat literasi keuangan petani tebu di Kecamatan Kepung. Kabupaten kediri karena bagi petani yang memiliki status milik sendiri perlu persyaratan-persyaratan dalam mengakses layanan keuangan. Berbeda dengan petani yang lahanya berstatus lahan sewa, petani tersebut hanya perlu memikirkan biaya sewa dari lahan Penelitian oleh (Lindananty & Angelina, 2. menemukan hubungan signifikan antara literasi keuangan dan perilaku keuangan terhadap keputusan investasi. Hal ini menunjukkan bahwa individu yang lebih berpendidikan dan berpengalaman dalam menghadapi masalah keuangan lebih cenderung membuat keputusan investasi yang cerdas. Oleh karena itu, status pendidikan, yang berhubungan dengan status lahan, berperan penting dalam membentuk tingkat literasi keuangan seseorang. Tingkat Pendidikan Hasil analisis regresi tobit yang telah dilakukan menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,000, nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 atau 5% dan bernilai positif. Hal tersebut memiliki arti bahwa tingkat pendidikan berpengaruh signifikan terhadap tingkat literasi keuangan petani tebu di Kecamatan Kepung. Kabupaten Kediri. Faktor tingkat pendidikan pada penelitian ini memberikan gambaran bahwa ketika faktor pendidikan petani tebu mengalami kenaikan penambahan satu satuan maka akan menyebabkan penambahan satu satuan pada tingkat literasi keuangan petani tebu. Hal ini disebabkan oleh semakin tinggi individu dalam menempuh pendidikan akan memungkinkan bagi individu tersebut dalam memahami suatu konsep. Kondisi ini juga berlaku pada pemahaman individu terhadap konsep literasi keuangan seperti pemahaman tentang pengetahuan umum, simpanan dan pinjaman, asuransi, investasi, inflasi. Namun, tidak menutup kemungkinan juga bagi individu yang tingkat pendidikannya rendah untuk dapat memahami konsep literasi keuangan. Tingkat pendidikan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap literasi keuangan individu, seperti yang ditunjukkan dalam berbagai studi yang telah dilakukan. Salah satu penelitian oleh Munthasar et al. menunjukkan bahwa tingkat pendidikan berkontribusi signifikan terhadap literasi keuangan digital di masyarakat, khususnya di Kota Banda Aceh (Munthasar et al. , 2. Lama Berusahatani Hasil analisis regresi tobit yang telah dilakukan menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,005, nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 atau 5% dan memiliki nilai koefisien positif. Data JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Puthut Setyo Nugroho Ae Pengaruh Literasi Keuangan Terhadap Tingkat Pendapatan Petani . tersebut memiliki arti bahwa pengalaman petani terpaksa harus berikan terhadap tingkat literasi keuangan petani tebu di kecamatan Kepung Kabupaten Kediri. Faktor pengalaman bertani pada penelitian menggambarkan bahwa semakin bertambahnya pengalaman petani seseorang maka tingkat literasi keuangan yang dimiliki juga bertambah. Pengalaman bertani dapat diukur dari lamanya tanda responden melakukan kegiatan bertani, petani yang pengalaman pertamanya lebih lama mempunyai kapasitas yang lebih matang dalam bertindak sehingga setiap kegiatannya lebih berhati-hati dan petani mempunyai pengalaman usaha tani yang banyak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang konsep literasi keuangan. Tingkat pengalaman dalam berusahatani memiliki pengaruh yang signifikan terhadap literasi keuangan petani. Penelitian oleh Nurjanah et al. (Nurjanah et al. , 2. Pengalaman yang diperoleh dari lama berusaha tersebut memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai pengelolaan keuangan, yang sangat diperlukan untuk kelangsungan usaha dan kestabilan finansial. Jumlah Tanggungan Keluarga Hasil analisis regresi tobit yang telah dilakukan menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,957, nilai tersebut lebih besar dari 0,05 atau 5% dan memiliki nilai koefisien yang negatif. Hal tersebut memiliki arti bahwa tanggungan keluarga tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat literasi keuangan petani tebu di Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri. Faktor tanggunan keluarga pada penelitian menggambarkan bahwa semakin bertambahnya tanggungan keluarga yang ada, maka mengurangi tingkat literasi keuangan yang dimiliki oleh petani tersebut. Jumlah tanggungan keluarga memberikan sumbangan yang besar untuk menentukan perilaku seseorang dalam bidang usahanya. Semakin besar jumlah tanggungan keluarga seorang petani maka semakin dinamis juga seseorang dalam berusaha karena didorong oleh rasa tanggung jawab terhadap anggota keluarganya. Di samping itu, tahun keluarga juga merupakan beban yang harus ditanggung dalam menyiapkan kebutuhan rumah tangga. Selanjutnya. Prabowo dalam penelitiannya juga mengungkapkan bahwa faktor lingkungan keluarga tidak secara signifikan mempengaruhi literasi keuangan, yang berarti jumlah tanggungan keluarga tidak berkontribusi terhadap peningkatan atau penurunan literasi keuangan individu (Prabowo, 2. Dengan kata lain, dukungan dalam hal sosial dan ekonomi dari anggota keluarga mungkin lebih berperan dalam literasi keuangan dibandingkan jumlah tanggungan yang dimiliki oleh seorang individu. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan pada hasil analisis dan pembahasan yang relevan dengan tujuan penelitian, didapatkan kesimpulan dari hasil penelitian adalah sebagai berikut ini: Tingkat Literasi keuangan petani tebu di kecamatan Kepung kabupaten Kediri terindikasi memiliki nilai rendah yang berada pada kisaran <60% sebanyak 47 orang atau 42% dari total responden, sedangkan petani tebu yang memiliki tingkat literasi sedang yang berada di kisaran 60-80% berjumlah 26 orang atau 23% dari total responden, selanjutnya petani tebu yang memiliki tingkat literasi tinggi yang berada di kisaran 80-100% berjumlah 40 orang tahu 35% dari total responden. Petani dengan literasi rendah ini terindikasi masih belum memahami konsep literasi keuangan yang berupa pengetahuan tentang pengetahuan umum, aspek simpanan dan pinjaman, aspek asuransi, aspek investasi, aspek inflasi Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap literasi keuangan pada petani tebu di kecamatan Kepung Kabupaten Kediri terdiri dari faktor usia, luas lahan, status lahan, pendidikan, lama berusaha tani, dan jumlah tanggungan keluarga. Hasil menunjukkan bahwa usia memiliki JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 469-478 hubungan positif yang nyata terhadap literasi keuangan, luas lahan menunjukkan hubungan positif yang nyata terhadap literasi keuangan, status lahan menunjukkan hubungan negatif yang nyata terhadap literasi keuangan, pendidikan memiliki hubungan yang positif dan nyata terhadap literasi keuangan, lama berusahatani memiliki hubungan positif yang nyata terhadap literasi keuangan, jumlah tanggungan keluarga memiliki hubungan negatif yang tidak nyata terhadap literasi keuangan. Saran