ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 14058-14063 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 Implemenstasi Pendidikan Karakter Pada Ekstrakurikuler Duta Pendidikan Andri Emilda1. Happy Fitria2. Mulyadi2 SMA Negeri 18 Palembang, 2Universitas PGRI Palembang email: andristeghio@gmail. Abstrak Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan Pendidikan karakter pada ekstrakurikuler duta pendidikan. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu lembar wawancara, lembar observasi dan studi dokumen. Data yang terkumpul dianalisis dengan cara reduksi, verifikasi dan menyimpulkan. Hasil temuan mengungkapkan ekstrakurikuler Bujang Gadis Dallas adalah wadah bagi siswa SMA Negeri 18 Palembang untuk melatih dan menanamkan pendidikan yang karakter. Karakter yang diperoleh dengan mengikuti ekstrakurikuler ini antara lain tanggung jawab, disiplin, saling menghargai, cinta tanah air, kreatif dan mandiri. Faktor penghambat pendidikan karakter terjadi karena adanya pengaruh dari lingkungan baik dari keluarga maupun lingkungan siswa dan teknologi di era abad 4. Kata Kunci: Bujang Gadis Dallas. Ekstrakurikuler. Pendidikan Karakter Abstract The purpose of this qualitative study is to describe how the use of character education in extracurricular education ambassadors. Data collection instruments include interview sheets, observation sheets, and document studies. The collected data were analyzed using reduction, verification, and conclusion. According to the findings, the Bujang Gadis Dallas extracurricular is a place for SMA Negeri 18 Palembang students to train and instill character education. Participating in this extracurricular activity develops characters such as responsibility, discipline, mutual respect, love for the homeland, creativity, and independence. Character education is hampered by the influence of the environment, both from the family and the student environment, as well as technology in the twenty-first century. Keywords: Bujang Gadis Dallas. Extracurricular. Character Education. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan suatu hal yang harus dimiliki oleh setiap orang, karena pendidikan adalah kebutuhan primer. Proses mendapatkan pendidikan sudah dimulai dari bayi dan berlangsung seumur hidup. Artinya pendidikan sudah dimulai dari keluarga, dan dilanjutkan melalui sekolah, universitas maupun lingkungan masyarakat. Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan. Hal tersebut sudah tertuang dalam Pasal 31 UUD 1945 yang mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Standar penilaian terhadap kualitas kepribadian seseorang dilihat dari kecerdasan orang tersebut. Semakin cerdas seseorang, maka orang tersebut akan lebih unggul dari orang lain. Kecerdasan tersebut diperoleh melalui pendidikan. Pendidikan merupakan aktivitas sepanjang hidup yang berhubungan dengan pengembangan diri seseorang (Notoadmojo, 2. Seseorang mendapatkan pendidikan kapan saja dan dimana saja, sehingga ada perkembangan dalam diri seseorang. Dengan perkembangan diri tersebut, seseorang mampu melihat kemampuan dalam berpikir dan Sehingga terciptanya sumber daya manusia yang lebih baik lagi. Selain itu pendidikan mempunyai fungsi dan tujuan yang diatur dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 14058-14063 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 PPK pada Satuan Pendidikan Formal merupakan turunan dari Perpres No. 87 Tahun 2017 tentang penguatan pendidikan karakter pada pasal 14. Pada Pasal 1 ayat 1 bahwa Penguatan Pendidikan Karakter yang selanjutnya disingkat PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Selain keluarga, sekolah menjadi tempat bagi peserta didik untuk membentuk dan memperkuat karakter dan dibutuhkan bimbingan oleh para guru. Dari diuraikan tersebut Indonesia menginginkan dan mengedepankan pembangunan sikap, karakter seseorang. Indonesia memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakat untuk mengembangkan potensi dalam diri termasuk sikap dan karakter tersebut. Tujuan pendidikan adalah keterampilan seseorang dalam memecahkan masalah, menggunakan waktu senggang dengan kegiatan yang positif (Sujana, 2. Siswa dilatih mengatasi masalah-masalah selama proses belajar, dan banyak kegiatan positif yang bisa diikuti oleh seorang siswa. Dari uraian fungsi dan tujuan pendidikan nasional di atas, seorang siswa bisa mendapatkan pembelajaran atau pendidikan melalui pendidikan akademik maupun non Pendidikan akademik adalah pendidikan yang dilakukan didalam kelas dan berhubungan dengan tugas-tugas yang diberikan oleh sekolah (Membara et al. , 2. Lembaga pendidikan seperti sekolah, universitas atau sekolah tinggi merupakan wadah untuk melaksanakan pendidikan akademik. Pendidikan ini bersifat formal mulai dari usia dini, dasar, menengah maupun perguruan tinggi. Disekolah siswa belajar sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Ada beberapa mata pelajaran yang harus dipelajari. Pada akhirnya siswa akan mendapatkan nilai terhadap pemahaman materi yang diberikan guru melalui ujian yang dilaksanakan yang disebut dengan prestasi akademik (Maslihah, 2. Selain pendidikan akademik, siswa juga bisa mendapatkan ilmu dari pendidikan non Pendidikan non akademik dilaksanakan diluar jadwal yang telah disusun dalam kurikulum dan dimanfaatkan sebagai wadah bagi kegiatan siswa diluar jam pelajaran kurikuler (Amin et al. , 2. Siswa diberi kekebasan untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Banyak kegiatan non akademik yang bisa diikuti siswa seperti pramuka. OSIS, paskibra. PMR dan berbagai organisasi yang ada disekolah. Pendidikan akademik dan non akademik tersebut dapat menjadi tolak ukur untuk melihat karakter seorang siswa. Apakah karakter seorang siswa baik atau tidak. Karakter siswa dapat dinilai dari cara mengerjakan tugas yang diberikan mulai dari tanggung jawab, disiplin, kejujuran dan sebagainya. Karena pada saat ini karakter seorang siswa sudah Contohnya di SMA Negeri 18 Palembang yang merupakan lembaga pendidikan Di sekolah tersebut masih ada siswa yang tidak mengumpulkan tugas tepat waktu sehingga kurangya disiplin dan tanggung jawab pada diri siswa. Contoh lainnya adalah kurang rasa menghargai guru atau orang lain. Banyak siswa yang jarang menegur gurunya ketika bertemu dijalan. Apalagi guru tersebut tidak atau belum pernah mengajar di kelas mereka. Hal ini memperlihatkan karakter siswa yang tidak baik. Ada faktor lain yang mempengaruhi menurunnya karakter seorang siswa, diantaranya kurikulum yang digunakan Indonesia saat ini adalah pendidikan kurikulum tahun 2013 atau yang biasa disebut dengan K-13 yang belum terlaksana dengan maksimal. K-13 merupakan kurikulum pengganti kurikulum 2006 yang biasa disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Aspek penilaian utama dari K-13 adalah sikap dan prilaku seorang siswa. Pendidikan K-13 menuntut siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran dan guru sebagai fasilitator. Siswa dituntut untuk bisa memahami, menyelediki, menyelesaikan suatu masalah (Nurmalasari et al. , 2. Peran guru dalam K-13 yakni memberi arahan, motivasi, inspriasi untuk siswa. Namun di SMA Negeri 18 Palembang masih banyak guru yang masih melaksanakan proses pembelajaran seperti kurikulum 2006. Sehingga siswa tidak begitu aktif dalam pembelajaran, dan mengakibatkan rasa tanggung jawab, disiplin tidak terlaksana. Ini disebabkan sosialisasi dari K-13 belum maksimal yang dialkukan oleh pemerintah. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 14058-14063 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 Faktor lainnya adalah adanya tantangan global yang sangat banyak pada abad ke-21 pada bangsa Indonesia. Tuntutan tersebut diantaranya adalah peserta didik membutuhkan pikiran, komunikasi verbal dan tulis, teamwork, kreativitas, keterampilan meneliti, dan problem solving untuk bersaing dan tumbuh dengan baik di masa depan. Sehingga dibutuhkan usaha untuk bisa mewujudkan itu semua melalui program pendidikan dari pemerintah dan bekerjasama dengan sekolah. Faktor-faktor diatas menjadi permasalahan di SMA Negeri 18 Palembang. Masih banyak permasalahan pendidikan karakter pada siswa yang harus dihadapi oleh sekolah. Sebagaimana kutipan wawancara peneliti dengan Kepala Sekolah Bapak H. Heru Supeno. Pd. Si . April 2. bahwa sekolah ini (SMA Negeri 18 Palemban. merupakan salah satu sekolah Negeri yang memberikan perhatian dan menyelenggarakan pembelajaran pendidikan karakter. Pendidikan karakter tersebut bisa dibentuk melalui kegiatan ekstrakurikuler salah satu contohnya adalah duta pendidikan sekolah. Banyak output setelah siswa mengikuti kegiatan duta pendidikan sekolah. Adanya prestasi yang didapat oleh alumni duta pendidikan dari SMA Negeri 18 Palembang baik dari bidang akademik maupun non akademik. Lebih lanjut Bapak H. Heru Supeno. Pd. Si berpendapat, duta pendidikan sekolah merupakan kegiatan ekstrakurikuler hal yang dapat mengembangkan kemampuan kreativitas Sejalan dengan pendapat Asep Dahliyana bahwa kegiatan ekstrakurikuler menjadikan siswa memiliki kepribadian yang semakin baik dan mampu mengembangkan potensi diri yang dimiliki (Dahliyana, 2. Dari uraian di atas, bahwa kegiatan ekstrakurikuler duta pendidikan sekolah menjadi bagian terbentuknya pendidikan karakter pada siswa. Dengan adanya duta pendidikan sekolah ini menjadikan nama SMA Negeri 18 Palembang semakin didunia pendidikan khususnya di Kota Palembang. peneliti ingin mengkaji bagaimana penanaman pendidikan karakter di SMA N 18 Palembang melalui kegiatan duta pendidikan sekolah. Maka dari itu berkenaan dengan uraian tulisan di atas penulis tertarik ingin meneliti lebih dalam, faktor apa saja yang menjadi penghambat keberhasilan penananam pendidikan karakter di SMA Negeri 18 Palembang tersebut. Melalui penelitian ini juga, peneliti berharap dapat mengetahui kegiatan dan keberhasilan duta pendidikan sekolah dalam menanamkan pendidikan karakter pada anggotanya dan menjadikan contoh teladan untuk siswa lain yang hingga kini masih eksis dalam berkegiatan. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 18 Palembang, jalan Mayor Ruslan No 1172 Kota Palembang Sumatera Selatan. Penelitian dimulai pada bulan Agustus sampai bulan Oktober 2021. Objek dalam penelitian ini adalah Duta Pendidikan di SMA Negeri 18 Palembang atau biasa disebut Bujang Gadis Dallas Palembang. Informan dalam penelitian ini adalah Kepala Sekolah. Wakil Kepala Sekolah Kurikulum. Kesiswaan. Sarana dan Prasarana. Guru di SMA Negeri 18 Palembang. Anggota Bujang Gadis Dallas Palembang, serta Duta Pendidikan Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan pendekatan Menurut Rijali . penelitian kualitatif adalah penelitian yang menjelaskan dan memahami kenyataan-kenyataan yang terjadi secara intensif dan mendalam yang berkenaan dengan fenomena. Sedangkan menurut Alfianika . penelitian kualitatif adalah penelitian yang bertujuan mendeskripsikan atau menjelaskan apa yang diteliti dan datanya tidak dianalisis menggunakan rumus statistik. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan triangulasi yaitu observasi partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data penelitian kualitatif dilakukan dengan validasi data. Data yang terkumpul dapat menjelaskan realitas yang ingin disampaikan peneliti. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Analisis data dalam penelitian ini bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan menjadi hipotesis. Berdasarkan hipotesis yang dirumuskan berdasarkan data tersebut, selanjutnya dicarikan data lagi secara berulangulangAy. Penelitian kualitatif lebih sering menggunakan teks naratif untuk menjelaskan hasil Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 14058-14063 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 Sehingga hasil penelitian tersebut mudah dipahami dan memudahkan perencanaan Verifkasi data dapat dilakukan dengan . memeriksa kembali alat pengumpulan data, . memeriksa kembali hasil wawancara, . memeriksa dengan metode triangulasi yakni triangulasi sumber data (Alfansyur dan Mariyani, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data yang telah dijelaskan diatas, maka selanjutnya akan dilakukan Adapun hal yang akan dibahas adalah: bagaimana implementasi pendidikan karakter pada ekstrakurikuler duta pendidikan, faktor-faktor apa saja yang menghambat penanaman pendidikan karakter serta solusi dari faktor penghambat tersebut. Implementasi Pendidikan Karakter Pada Ekstrakurikuler Duta Pendidikan di SMA Negeri 18 Palembang Penanaman pendidikan karakter merupakan langkah awal terbentuknya moral pada seorang siswa. Pendidikan karakter dimulai dari keluarga dan sekolah bertugas untuk menguatkan karakter tersebut (Fitrah et. al, 2015. Fitriani, 2. Salah satu caranya adalah mengikuti ekstrakurikuler yang ado sekolah. Duta Pendidikan atau Bujang Gadis Dallas (BGD) adalah salah satu ekstrakurikuler yang melatih dan menanamkan pendidikan karakter (Yusutria, dan Febriana, 2019. Selvia et. al, 2020. Saputro, et. al, 2017. Di BGD siswa diberi tanggung jawab untuk menjaga nama baik diri sendiri, organisasi dan nama baik sekolah. Berbagai program kerja dilaksanakan untuk membentuk karakter pada siswa. Dengan melaksanakan program kerja tersebut, anggota BGD bisa melatih karakter tanggung jawab, disiplin, kreatif, nasionalis, saling menghargai, dan sebagainya (Kristiawan, 2015. Purwanti. Rahmat et. al, 2. Selain itu BGD juga memberi kesempatan pada anggota dan siswa lainnya untuk mengembangkan keterampilan yang tidak diperoleh dalam proses belajar mengajar. Anggota BGD akan mendapatkan ilmu tentang public speaking, kepribadian, beauty class, dan mengembangkan kemampuan berbahasa asing. Sehingga mereka bisa meningkatkan soft skill yang selama ini belum dikembangkan dan dibentuk (Inriyani et al, 2. Faktor Penghambat Penanaman Pendidikan Karakter di SMA Negeri 18 Palembang Berbagai faktor penghambat dalam pendidikan karakter, diantaraya, kurangnya penguatan karakter iman dan taqwa pada siswa. Karakter religius merupakan tertanamnya pendidikan karakter. Bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa yang tidak diterapkan dari sejak dini, menjadi faktor utama dalam pendidikan karakter (Ghofar, 2013. Firmansah, 2. Hal ini juga berhubungan dengan kurangnya perhatian orang tua terhadap anak, sehingga anak menimbulkan masalah-masalah yang akhirnya menyulitkan pengawasan orang tua terhadap Apabila orang tua sibuk bekerja, maka anak akan sibuk dengan kegiatannya sendiri tanpa merasa diawasi oleh orang tua. Orang tua yang sibuk bekerja maka akan mengakibatkan sulitnya sekolah untuk konsultasi tentang perilaku anak dirumah maupun diluar rumah. Sekolah tidak tahu tentang pergaulan anak di luar sekolah. Karena lingkungan pertemanan juga sangat mempengaruhi tertanamnya pendidikan karakter. Anak yang sudah dibina dan dididik dengan baik dalam keluarga, belum tentu akan menjadi baik selama anak berteman orang tidak tepat (Satya, et al, 2015. Susanti, et al, 2. Faktor lainnya adalah teknologi yang sangat berkembang pesat ini. Semua orang tidak bisa menghindari perkembang zaman pada era 4. 0 ini melalui internet. Berbagai informasi dengan mudah cepat diperoleh oleh semua orang. Penggunaan internet yang tidak tepat akan mengakibatkan terhambatnya pendidikan karakter pada siswa. Banyak website yang tidak patut oleh anak, sehingga mengakibatkan rasa penasaran yang tinggi pada anak. Dari penggunaan teknologi, maka akan masuk budaya asing yang akan mempengaruhi budaya Indonesia. Anak muda lebih menyenangi budaya asing daripada budaya sendiri, sehingga budaya sendiri akan hilang ditelan zaman (Suryanti and Widayanti, 2. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 14058-14063 Volume 6 Nomor 3 Tahun 2022 SIMPULAN Berdasarkan informasi yang diperoleh, maka penulis mengambil kesimpulan ekstrakurikuler Bujang Gadis Dallas adalah wadah bagi siswa SMA Negeri 18 Palembang untuk melatih dan menanamkan pendidikan yang karakter. Karakter yang diperoleh dengan mengikuti ekstrakurikuler ini antara lain tanggung jawab, disiplin, saling menghargai, cinta tanah air, kreatif dan mandiri. Karakter tersebut diperoleh melalui program kerja yang sudah direncanakan oleh anggota Bujang Gadis Dallas yang sedang melaksanakan masa jabatan yakni selama satu tahun. Faktor penghambat pendidikan karakter terjadi karena adanya pengaruh dari lingkungan baik dari keluarga maupun lingkungan siswa tinggal termasuk Selain itu kurang nya pengawasan dari orang tua dalam menggunakan teknologi di era abad 4. Faktor penghambat tersebut bisa diatasi dengan adanya perhatian dari orang tua dan guru. Orang tua harus memberikan cinta dan sayang kepada anak, sementara guru menguatkan karakter yang baik disekolah. Selain itu mengawasi anak dalam penggunaan teknologi dan tayangan televisi. DAFTAR PUSTAKA