Al-Insyirah Midwifery Jurnal Ilmu Kebidanan (Journal of Midwifery Science. https://jurnal. id/kebidanan Volume 13. Nomor 2. Tahun 2024 p-ISSN: 2338-2139 e-ISSN: 2622-3457 HUBUNGAN SARANA AIR BERSIH DAN KEPEMILIKAN JAMBAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA Dini Ariani. Mia Dwi Agustiani. Siti Fadhilah. Kebidanan Program Sarjana. STIKES Guna Bangsa Yogyakarta. Jl. Ringroad Utara. Condongcatur. Depok. Sleman. Yogyakarta. Indonesia email: dearianne@gmail. email: siti_fadhilah@gunabangsa. ABSTRAK Diare adalah penyebab mortalitas nomor dua di Indonesia. Puskesmas Batang Tarang berlokasi di Kecamatan Balai. Kabupaten Sanggau pada tahun 2023 terdapat 283 kasus diare dengan 2 kematian balita. Sarana air bersih dan kepemilikan jamban yang tidak memenuhi syarat dapat menjadi penyebab diare. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan sarana air bersih dan kepemilikan jamban dengan kejadian diare pada balita. Penelitian kuantitatif ini dengan desain penelitian case control study. Data diambil menggunakan lembar checklist dan observasi. Populasi penelitian ini yaitu balita yang diare dan berobat ke Puskesmas Batang Tarang pada JuliDesember 2023 sebanyak 283 orang. Teknik sampling menggunakan quota sampling. Sampel 148 orang terdiri dari 74 kasus dan 74 kontrol. Analisis data univariat dengan tabel distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Karakteristik responden mayoritas berumur 20-35 tahun dengan tingkat pendidikan menengah, mayoritas balita berumur 25-59 bulan, jenis kelamin terbanyak perempuan. Mayoritas sarana air bersih dan jamban tidak memenuhi syarat. Hasil analisa bivariat ada hubungan sarana air bersih dengan kejadian diare . dan ada hubungan kepemilikan jamban dengan kejadian diare . Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan terdapat hubungan sarana air bersih dan kepemilikan jamban dengan kejadian diare pada balita. Kata kunci: Diare. Balita. Sarana Air Bersih. Kepemilikan Jamban ABSTRACT Diarrhea is the second leading cause of mortality in Indonesia. Batang Tarang Community Health Center located in Balai Sub-district. Sanggau Regency in 2023 there were 283 cases of diarrhea with 2 under-five deaths. Clean water facilities and ownership of latrines that do not meet the requirements can be a cause of diarrhea. The purpose of this study was to determine the relationship between clean water facilities and latrine ownership with the incidence of diarrhea in toddlers. This quantitative research with case control study research design. Data was collected using a checklist and observation sheet. The population of this study were toddlers who had diarrhea and sought treatment at the Batang Tarang Health Center in July-December 2023 as many as 283 people. The sampling technique used quota sampling. The sample of 148 people consisted of 74 cases and 74 controls. Univariate data analysis with frequency distribution table, bivariate analysis using chi-square test. The characteristics of the respondents were mostly 2035 years old with secondary education, the majority of toddlers aged 25-59 months, the most female gender. The majority of clean water facilities and latrines do not meet the requirements. The results of bivariate analysis there is a relationship between clean water facilities and the incidence of diarrhea . and there is a relationship between latrine ownership and the incidence of diarrhea . Based on the research, it can be concluded that there 145 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 is a relationship between clean water facilities and latrine ownership with the incidence of diarrhea in toddlers. Keywords: Diarrhea. Toddlers. Clean Water Facilities. Toilet Ownership PENDAHULUAN Di Indonesia diare menjadi penyebab kematian kedua setelah Data Profil Kesehatan Indonesia sebanyak 954 kematian balita . ,87%) meningkat dibandingkan tahun 2020 sebanyak 731 kematian . ,26%). Pada tahun 2022 kematian balita akibat diare turun menjadi 203 kematian . ,41%) (Kemenkes RI, 2. Pada tahun 2022 di Kalimantan Barat, kematian balita akibat diare sebesar 33 Diare menjadi penyebab kematian nomor satu pada kelompok umur post neonatal yaitu menyumbang 32 kematian, sedangkan di Kabupaten Sanggau kematian balita akibat diare adalah sebesar 6,1% (Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, 2. Pada tahun 2023 kematian akibat diare pada balita di Kabupaten Sanggau meningkat menjadi 4 kematian . ,4%) (Dinas Kesehatan Sanggau, 2. Diare yang tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan kematian karena dehidrasi, selain itu diare juga berdampak pada terjadinya malabsorbsi zat gizi yang akan memicu masalah tumbuh kembang dan menyebabkan UNICEF melaporkan bahwa sekitar 88% kematian yang disebabkan oleh diare berkaitan dengan kurangnya akses terhadap sanitasi yang layak serta penggunaan air yang tidak bersih dan tidak aman untuk diminum. Indonesia, pemerintah telah lama berupaya untuk menurunkan angka kasus diare melalui berbagai program dan inisiatif kesehatan. Salah satu langkah yang diambil adalah penyediaan akses air bersih bagi masyarakat, yang diharapkan dapat mengurangi risiko penularan penyakit melalui air yang Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) juga telah perubahan perilaku terkait kebersihan di tingkat rumah tangga dan komunitas. Upaya lainnya termasuk edukasi pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif kepada bayi selama enam bulan pertama dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh bayi. Pemerintah menyediakan meningkatkan daya tahan tubuh anakanak. Untuk anak-anak yang sudah terkena diare, pemerintah menyediakan oralit dan zinc sebagai bagian dari pengobatan yang efektif. Pemerintah telah menambahkan imunisasi rotavirus sebagai langkah preventif terhadap diare yang disebabkan oleh infeksi rotavirus (Iswandi et al. , 2. Berdasarkan studi pendahuluan pada tanggal 08 Januari 2024 didapatkan data jumlah pasien diare di Puskesmas Batang Tarang dari bulan Juli sampai Desember 2023 pada semua kelompok umur adalah sebanyak 369 kasus diare, 86 kasus . ,30%) dialami oleh kelompok usia anak hingga usia dewasa, 127 kasus . ,41%) dialami oleh kelompok usia bayi . - 11 bula. , 156 kasus . ,27%) dialami oleh kelompok usia anak balita . Ae 59 bula. Berdasarkan data Penilaian Kinerja Puskesmas Batang Tarang tahun 2022 . jumlah pasien diare pada semua kelompok umur dari bulan Januari sampai Desember 2022 adalah sebanyak 473 kasus, 102 kasus . ,56 %) dialami oleh kelompok usia anak hingga usia dewasa, 174 kasus . ,78%) dialami oleh kelompok usia bayi . - 11 bula. , 146 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 dan 197 kasus . ,64%) dialami oleh kelompok usia anak balita . - 59 Berdasarkan laporan penyelidikan kasus diare dan hasil otopsi verbal yang dilakukan oleh Puskesmas Batang Tarang, didapatkan data bahwa pada tahun 2021 dan 2022, terdapat satu kematian balita akibat diare, sementara pada tahun 2023 jumlahnya meningkat menjadi dua kematian. Berdasarkan wawancara dengan ahli epidemiologi di Puskesmas tersebut, otopsi verbal dilakukan hanya untuk mengetahui kapan diare mulai diderita oleh balita dan jenis pengobatan yang diberikan sebelum meninggal. Sementara itu, wawancara dengan petugas program Kesehatan Lingkungan Puskesmas mengungkapkan bahwa belum ada satu pun desa di wilayah kerja mereka yang bebas dari perilaku buang air besar Hal ini dikarenakan banyak penduduk belum memiliki jamban, dan fasilitas air bersih pun masih sangat terbatas. Sebagian besar warga masih menggunakan air hujan atau air sungai untuk kebutuhan seharihari. Berdasarkan data ini, terlihat adanya peningkatan kematian akibat diare di Kalimantan Barat dalam tiga tahun terakhir. Di Kabupaten Sanggau, angka kematian akibat diare sempat menurun pada tahun 2022, namun kembali meningkat di tahun 2023. wilayah Puskesmas Batang Tarang, kasus morbiditas dan mortalitas akibat diare juga meningkat pada tahun 2023. Penelitian ini secara keseluruhan memiliki tujuan untuk memahami keterkaitan antara tersedianya sarana air bersih dan kepemilikan jamban dengan kejadian diare pada anak balita yang berada di wilayah kerja Puskesmas Batang Tarang. Kecamatan Balai. Kabupaten Sanggau. Penelitian ini dirancang untuk melihat apakah ada hubungan yang signifikan antara dua faktor tersebut dengan risiko diare pada Penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis beberapa karakteristik responden, seperti usia ibu, tingkat pendidikan ibu, usia anak balita, serta jenis kelamin anak balita. Analisis karakteristik ini dilakukan untuk melihat apakah faktor-faktor demografis ini berkontribusi pada kejadian diare. Penelitian ini ingin menggambarkan bagaimana distribusi atau penyebaran sarana air bersih dan kepemilikan jamban di wilayah Puskesmas Batang Tarang. Distribusi ini penting untuk memahami seberapa banyak rumah tangga yang memiliki akses terhadap air bersih dan jamban yang layak, sehingga peneliti dapat menyelidiki secara mendalam hubungan antara akses terhadap air bersih dengan kejadian diare pada balita di wilayah tersebut. METODE Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik, yaitu penelitian yang berfokus pada pengamatan dan analisis data untuk menemukan hubungan antara variabel yang diteliti. Desain penelitian yang diterapkan adalah studi case control, di mana penelitian ini menggunakan pendekatan Pendekatan retrospektif berarti bahwa peneliti melihat kembali peristiwa atau kondisi yang telah terjadi di masa lalu, dalam hal ini adalah kejadian diare pada balita. Dalam penelitian ini terdapat dua kelompok Kelompok pertama disebut sebagai kelompok kasus, yaitu kelompok yang terdiri dari balita yang mengalami diare. Kelompok kedua adalah kelompok kontrol, yang terdiri dari balita yang tidak mengalami diare. Perbandingan 147 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 memungkinkan peneliti untuk melihat apakah ada perbedaan faktor-faktor yang memengaruhi kejadian diare. Populasi penelitian mencakup semua balita yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Batang Tarang dan yang mengalami diare serta melakukan kunjungan ke puskesmas selama periode Juli hingga Desember 2023, dengan total populasi sebanyak 283 orang. Responden penelitian yang terlibat adalah ibu dari balita yang termasuk dalam populasi tersebut, mengingat ibu memiliki peran sentral dalam perawatan Untuk pengambilan sampel pada penelitian ini hanya melibatkan balita yang mengalami diare di wilayah kerja Puskesmas Batang Tarang selama periode waktu yang telah ditentukan. Sampel diambil sebanyak 74 orang untuk setiap kelompok, baik kelompok kasus maupun kelompok kontrol, sehingga total sampel menjadi 148 Teknik pengambilan sampel yang non-probability sampling, lebih spesifiknya adalah quota Pada metode ini, peneliti menetapkan jumlah tertentu untuk setiap kelompok yang memiliki karakteristik tertentu hingga kuota terpenuhi. Dengan teknik ini, pengambilan sampel dilakukan secara non-acak, di mana peneliti menetapkan jumlah responden yang harus diambil berdasarkan kriteria yang ditentukan, hingga jumlah sampel yang diinginkan tercapai. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Batang Tarang pada bulan Agustus 2024. Variabel independen dalam penelitian ini adalah fasilitas air bersih dan kepemilikan jamban, sedangkan variabel dependen adalah kejadian diare pada balita. Alat yang digunakan untuk pengumpulan data adalah lembar checklist dan lembar Lembar checklist berfungsi seperti umur ibu, tingkat pendidikan ibu, umur balita, jenis kelamin balita, serta kondisi fasilitas air bersih dan kepemilikan jamban. Untuk kepemilikan jamban, selain menggunakan checklist, dilakukan juga observasi langsung oleh peneliti untuk menilai kondisi jamban yang dimiliki Lembar checklist dan observasi tidak memerlukan uji validitas berdasarkan standar fisik air bersih menurut Permenkes No. 2 Tahun 2023 dan kriteria jamban sehat menurut Permenkes No. 3 Tahun 2014. Pengolahan menggunakan komputer dengan analisis data yang mencakup analisis univariat dan bivariat. Penelitian yang melibatkan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip dasar etika penelitian. Oleh karena itu, diterapkan, seperti persetujuan etik thical clearanc. , lembar persetujuan . nformed identitas peserta melalui anonimitas . , serta menjaga kerahasiaan . data responden HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis univariat, mayoritas responden ibu berada dalam rentang usia 20-35 tahun, yaitu sebanyak 70 orang . ,3%). Dari jumlah tersebut, 26 ibu berasal dari kelompok balita yang mengalami diare . elompok kasu. , sedangkan 44 ibu berasal dari kelompok balita yang tidak mengalami diare . elompok kontro. Usia umumnya dikaitkan dengan kesiapan ibu dalam merawat dan menjaga kesehatan anak. Semakin bertambahnya umur seseorang maka pengalaman dan pengetahuannya akan bertambah pula. Teori pengetahuan menyatakan bahwa usia adalah faktor 148 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 penting yang memengaruhi tingkat Semakin bertambah usia, seseorang cenderung menjadi lebih matang dalam cara berpikir dan bertindak (Wawan dan Dewi, 2. Selain itu Kurniawati dan Maryati . menyatakan bahwa usia memengaruhi kemampuan seseorang dalam membuat keputusan terkait Kesehatan. Mayoritas ibu dalam penelitian ini memiliki latar belakang pendidikan menengah, dengan jumlah mencapai 66 orang . ,6%). Dari jumlah tersebut, 27 ibu berasal dari kelompok balita yang menderita diare . elompok kasu. dan 39 ibu berasal dari kelompok balita yang tidak menderita diare . elompok Pendidikan merupakan faktor dasar yang sangat penting bagi perkembangan Tingkat pendidikan yang tinggi memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan yang lebih luas dan Sebaliknya, ibu dengan pendidikan yang lebih rendah cenderung kurang memiliki dorongan untuk mengubah keadaan atau memperbaiki situasi mereka, serta lebih pasrah terhadap kondisi yang ada. Chandra dkk . menyatakan pendidikan memiliki peran penting dalam menentukan kondisi kesehatan seseorang. Orang dengan pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya menjaga kesehatan. Mereka lebih mudah menerima dan menerapkan pola hidup sehat karena pengetahuan yang dimiliki. Pendidikan yang lebih baik membuat seseorang bisa lebih mandiri dalam membuat keputusan yang berkaitan dengan kesehatan, lebih kreatif dalam mencari solusi untuk masalah kesehatan, dan lebih mampu menjalani gaya hidup sehat secara terusmenerus. Hasil penelitian ini dari 148 balita mayoritas berumur 25-59 bulan sebanyak 78 orang . ,7%) yang terbagi menjadi 26 orang responden kelompok balita yang menderita diare . elompok kasu. dan 52 orang responden kelompok balita yang tidak menderita diare . elompok kontro. Fitriani . terdapat hubungan signifikan antara usia balita dan kejadian diare, di mana balita yang lebih muda cenderung lebih rentan terkena diare. Hal ini disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh mereka yang sehingga lebih mudah terpapar infeksi penyebab diare saat beradaptasi dengan lingkungan dan makanan baru. Berdasarkan hasil penelitian ini, sebagian besar balita adalah perempuan, dengan jumlah 82 orang . ,4%). Dari jumlah tersebut, 43 balita perempuan termasuk dalam kelompok yang menderita diare . elompok kasu. , sementara 39 balita perempuan berada dalam kelompok yang tidak menderita diare . elompok kontro. Menurut penelitian oleh Gultom dan Khairani . , balita perempuan lebih rentan terhadap diare dibandingkan balita lakilaki karena sistem kekebalan tubuh mereka cenderung lebih lemah. Dari hasil penelitian terhadap 148 responden, sebagian besar memperoleh air bersih dari sungai, dengan 60 orang . ,5%) terbagi menjadi 39 orang dalam kelompok balita yang menderita diare . elompok kasu. dan 21 orang dalam kelompok balita yang tidak menderita diare . elompok kontro. Sebagian besar responden, yaitu 91 orang . ,49%), menggunakan air dengan kualitas fisik yang tidak memenuhi Dari jumlah tersebut, 62 orang berada dalam kelompok balita yang menderita diare . elompok kasu. dan 149 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 29 orang berada dalam kelompok balita yang tidak menderita diare . elompok Kualitas fisik air dianggap tidak memenuhi syarat jika air tersebut memiliki warna, rasa, atau bau yang tidak normal. Permana et al. dalam kualitas air yang baik yaitu ketika air tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa. TDS (Total Disolved Soli. ratarata 600-900 ppm, suhu A3oC suhu udara, dan pH maksimum 6,5 Ae 8,5. Mujiyanto and Muhammad . menyatakan keberadaan air yang berwarna, berbau, dan berasa dapat diakibatkan oleh adanya bahan organik dan bahan anorganik dalam air. Air yang tercemar memiliki krakteristik berwarna, berbau, dan berasa dapat pula diakibatkan oleh adanya kandungan besi (F. dalam air. Dari 148 orang, responden yang memiliki jamban sebanyak 92 orang . ,2%) yang terbagi menjadi 46 orang pada kelompok balita yang menerita diare . elompok kasu. dan 46 orang pada kelompok balita yang tidak menderita diare . elompok kontro. Responden yang tidak memiliki jamban sebanyak 56 orang . ,8%) yang terbagi menjadi 28 responden pada masingmasing kelompok, dan tempat BAB responden yang tidak memiliki jamban mayoritas di jamban umum sebanyak 28 orang . %), sisanya di sungai sebanyak 26 orang . ,4%) dan di kebun/hutan sebanyak 2 orang . ,6%). Jumlah responden yang tidak memiliki jamban pada kelompok kasus dan kelompok kontrol jumlahnya sama yaitu 28 orang. Perbedaannya terletak pada tempat buang air besar pada responden yang tidak memiliki jamban. Pada kelompok kasus dari 28 orang yang tidak memiliki jamban, sebanyak 26 orang buang air besar sembarangan, yaitu di sungai 24 orang, di kebun/ hutan 2 orang, dan 2 orang lainnya buang air besar di jamban umum. Sedangkan pada kelompok kontrol dari 28 responden yang tidak memiliki jamban, sebanyak 26 orang buang air besar di jamban umum, sedangkan 2 orang responden buang air besar sembarangan, yaitu di Rahmatillah. Abdullah dan Arlianti . menyatakan jamban umum adalah fasilitas sanitasi yang disediakan untuk semua orang guna buang air besar dan kecil, tanpa memandang usia atau jenis kelamin. Dibangun di area publik seperti pasar dan tempat wisata, jamban umum bertujuan memberikan akses sanitasi layak, menjaga kebersihan, dan mencegah penyebaran penyakit. Penilaian berdasarkan syarat atau kriteria kesehatan didasarkan atas observasi yang dilakukan peneliti terdapat sebanyak 78 orang . ,7%) yang tidak memenuhi syarat. Kriteria atau syarat yang diobservasi antara lain jamban yang digunakan jamban leher angsa, menggunakan saluran tangki septik, tidak terjangkau oleh vektor penyakit . ikus, kecoa, dan sebagainy. dan jamban mudah dibersihkan, lantai kedap air dan tidak licin, tidak mencemari sumber air minum, jarak jamban dengan sumber air > 10 meter, serta dilengkapi dengan dinding dan atap pelindung. Rahmadani dan Mustari . menyatakan kondisi jamban yang buruk peningkatan kasus diare. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan angka penyakit diare yaitu dengan memiliki sarana air bersih dan memiliki kriteria jamban yang memenuhi syarat. Hal ini sesuai dengan penelitian Noventi. Umboh dan Sumampouw . dengan judul AuSarana Air Bersih dan Jamban Keluarga pada Balita Penderita Diare Anak Berumur Bawah Lima TahunAy. 150 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 Penelitian ini menunjukkan bahwa akses terhadap air bersih dan penggunaan jamban berpengaruh terhadap kejadian diare pada balita. Ketersediaan air bersih merupakan langkah penting dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Risiko diare dapat dikurangi dengan memastikan penggunaan air bersih dan menjaga agar air tersebut tetap bersih dari pencemaran, baik dari sumbernya maupun saat penyimpanan di rumah. Air yang tercemar bakteri atau zat berbahaya merupakan penyebab utama diare. Sanitasi yang buruk ditandai dengan tidak adanya jamban keluarga atau penggunaan jamban tanpa tangki air, di mana limbah langsung dibuang ke Sebaliknya, sanitasi yang baik melibatkan jamban keluarga yang dilengkapi dengan tangki air, seperti jamban dengan leher angsa. Yantu penelitiannya yang berjudul AuHubungan Antara Sarana Air Bersih dan Jamban Keluarga dengan Kejadian Diare pada Balita di Desa WaleureAy menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kondisi sarana air bersih dan kejadian diare. Namun, penelitian ini tidak menemukan keterkaitan yang kuat antara kondisi jamban keluarga dan kejadian diare. Kualitas air bersih yang digunakan sehari-hari memainkan peran penting dalam kesehatan, terutama dalam mencegah diare. Ketika sarana air bersih dalam kondisi baik, risiko diare menjadi lebih rendah. Meski penting, kondisi jamban keluarga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan frekuensi diare dalam penelitian ini. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh faktor lain, seperti kebiasaan mencuci tangan atau kualitas sumber air yang lebih Hubungan sarana air bersih dan diare Perhitungan hubungan sarana air bersih dengan kejadian diare pada balita di Puskemas Batang Tarang. Kec. Balai. Kab. Sanggau dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut : Tabel 1. Hubungan sarana air bersih dan kejadian diare Sarana Air Bersih Tidak memenuhi syarat Memenuhi Syarat Total Diare Kejadian Diare pada Balita Tidak Diare Penelitian adanya keterkaitan antara ketersediaan sarana air bersih dan kejadian diare pada Berdasarkan total balita yang mengalami diare, ditemukan bahwa mayoritas responden sebanyak 62 orang . ,8%) menggunakan sarana air bersih yang tidak memenuhi standar kesehatan. Hanya 12 balita . ,2%) yang memiliki akses ke sarana air bersih yang layak. antara balita yang tidak mengalami diare, sebanyak 29 orang . ,2%) juga menggunakan sarana air bersih yang Nilai p value 0,001 8,017 tidak memenuhi syarat, sementara 45 balita . ,8%) lainnya memiliki akses ke sarana air bersih yang layak. Nilai P yang diperoleh dalam analisis adalah 0,001, yang secara statistik lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara sarana air bersih dan kejadian diare. Rasio odds yang didapatkan adalah sebesar 8,017, yang mengindikasikan bahwa balita yang tidak memiliki akses ke sarana air bersih yang layak memiliki risiko sekitar 8 kali 151 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 lebih besar untuk mengalami diare dibandingkan dengan balita yang memiliki akses ke sarana air bersih yang memenuhi syarat. Hasil penelitian ini sejalan dengan Katiandagho and Darwel . dimana penelitian ini berfokus pada faktorfaktor yang berkaitan dengan munculnya diare pada anak-anak berusia 0 hingga 59 bulan. Dari hasil penelitian, ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara ketersediaan fasilitas air bersih dan kejadian diare pada anak-anak dalam rentang usia tersebut. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa nilai pvalue sebesar 0,029, yang menandakan bahwa hubungan ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan memiliki relevansi yang nyata. Ini berarti, semakin baik penyediaan air bersih, kemungkinan terjadinya diare pada anak-anak dapat Hubungan antara ketersediaan air bersih dan kejadian diare dipengaruhi oleh kualitas konstruksi fasilitas Observasi beberapa fasilitas air belum memenuhi standar kesehatan. misalnya, banyak warga yang menggunakan air sungai atau air hujan, dan sumur tanpa dinding pembatas rentan tercemar. Jarak dekat antara sumur dan jamban juga meningkatkan risiko kontaminasi. Untuk mencegah diare, fasilitas air bersih harus memenuhi standar konstruksi, termasuk dinding sumur minimal 3 meter, lantai tanpa retak, dan jarak aman dari jamban. Hal ini penting untuk menyediakan air minum aman dan mencegah penyebaran Syam Anisah menyatakan fasilitas air bersih harus memenuhi standar kesehatan untuk menjamin keamanan pengguna. Sumur gali, misalnya, perlu dinding kuat dan bibir yang sesuai untuk mencegah ditempatkan minimal 10 meter dari Sistem pembuangan limbah yang baik juga penting agar air tanah tidak tercemar. Air bersih yang cukup dan bebas mikroorganisme serta zat kimia berbahaya sangat diperlukan untuk mencegah penyebaran penyakit. Air ini harus aman, tanpa rasa atau bau, dan cukup untuk semua kebutuhan rumah tangga, mendukung kesehatan serta kesejahteraan masyarakat. Utama. Inayati and Sugiarto . melaksanakan sebuah penelitian di wilayah kerja Puskesmas Arosbaya yang menyimpulkan bahwa kondisi sarana air bersih sangat memengaruhi kejadian diare pada balita. Penelitian menunjukkan bahwa fasilitas air bersih yang memenuhi standar kesehatan dapat mengurangi diare pada balita karena air lebih aman dan minim kontaminasi. Namun, jika fasilitas tidak memadai, risiko diare meningkat karena paparan bakteri, virus, dan parasit. Contoh sumber kontaminasi adalah limbah domestik yang tidak dikelola, retakan pada sumur, atau jarak jamban yang terlalu dekat dengan sumber air. Hubungan kriteria jamban dan diare Perhitungan jamban dengan kejadian diare pada balita di Puskemas Batang Tarang. Kec. Balai. Kab. Sanggau dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut: 152 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 Tabel 2. Hubungan Sarana Air Bersih dan Kejadian Diare Kepemilikan Jamban Tidak memenuhi syarat Memenuhi Syarat Total Kejadian Diare pada Balita Diare Tidak Diare Di antara balita yang mengalami diare, sebanyak 59 orang . ,7%) menggunakan jamban yang tidak memenuhi standar kesehatan, sementara 15 orang . ,3%) menggunakan jamban yang memenuhi syarat. Sebaliknya, pada kelompok balita yang tidak mengalami diare, 19 orang . ,7%) menggunakan jamban yang tidak memenuhi standar, dan 55 orang . ,3%) menggunakan jamban yang memenuhi syarat. Nilai P yang diperoleh adalah 0,001, yang lebih kecil dari 0,05, dengan Odd Ratio sebesar 11,386. Hasil analisis ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kepemilikan jamban dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Batang Tarang. Kec. Balai. Kab. Sanggau. Jamban yang memenuhi standar kesehatan penting untuk mencegah penyebaran penyakit dari kotoran manusia dan mengurangi risiko penyakit yang ditularkan melalui vektor. Persyaratan untuk pembangunan jamban diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Berbasis Masyarakat (Prasetyo and Asfur, 2. Maywati. Gustaman and Riyanti . menyatakan kondisi jamban memiliki hubungan signifikan dengan kejadian diare, di mana kualitas dan kebersihan jamban berperan penting dalam kesehatan masyarakat. Penelitian menunjukkan bahwa jamban yang tidak memenuhi standarAimisalnya tanpa sistem pembuangan yang baik, ventilasi buruk, atau kebersihan kurangAi berkaitan dengan tingginya insiden Jamban yang kotor dapat menjadi Nilai p value 0,001 11,386 tempat berkembang biak patogen dan serangga pembawa penyakit, sementara sistem pembuangan yang buruk bisa mencemari air tanah. Jamban yang memenuhi syarat kesehatan membantu sehingga meningkatkan kualitas hidup SIMPULAN Berdasarkan penelitian terhadap 148 responden mengenai hubungan antara sarana air bersih dan kepemilikan jamban dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Batang Tarang. Kecamatan Balai. Kabupaten Sanggau, beberapa kesimpulan dapat diambil. Mayoritas responden berusia 20-35 tahun, yaitu 70 orang . ,3%), dan sebagian besar memiliki pendidikan menengah, yaitu 66 orang . ,6%). antara balita yang diteliti, sebagian besar berusia 25-59 bulan, yaitu 78 orang . ,7%), dan mayoritas berjenis kelamin perempuan, sebanyak 82 orang . ,4%). Mengenai sarana air bersih, mayoritas responden, yaitu 91 orang . ,49%), menggunakan sumber air yang tidak memenuhi standar, dengan 60 responden . ,5%) mengandalkan air dari sungai. Untuk responden . ,2%) memiliki jamban, namun 78 orang . ,7%) di antaranya tidak memenuhi syarat kesehatan. Beberapa responden yang tidak memiliki jamban melakukan buang air besar sembarangan, dengan 28 orang . %) melakukannya di sungai . orang, 46,4%) atau di kebun/hutan . orang, 3,6%). Penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan signifikan antara 153 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 sarana air bersih dan kejadian diare pada balita (P = 0,. , serta antara kepemilikan jamban dan kejadian diare (P = 0,. di wilayah tersebut. Berdasarkan diperoleh dari penelitian ini, terdapat beberapa saran yang dapat diberikan. Pertama yaitu saran untuk masyarakat, terutama ibu balita, diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang sehat dengan memanfaatkan sarana air bersih dan memiliki jamban yang memenuhi syarat kesehatan. Langkah ini sangat penting untuk mencegah terjadinya berbagai penyakit infeksi, terutama Bagi pemerintah desa, diharapkan adanya kerja sama dengan pihak pencegahan diare melalui perbaikan kualitas lingkungan, terutama dalam penyediaan sarana air bersih dan jamban umum yang layak. Selain itu, pemerintah desa, bekerja sama dengan pemerintah kecamatan dan puskesmas, diharapkan dapat mengadakan pelatihan pembuatan filter air yang dapat mengolah air sungai menjadi sumber air bersih, serta pelatihan pembuatan jamban sederhana yang sehat. Pemerintah desa juga perlu mengajak warga untuk bersama-sama merawat jamban umum yang sudah Saran kedua ditujukan kepada Puskesmas Batang Tarang sebagai lembaga kunci dalam meningkatkan kesehatan warga. Temuan penelitian ini khususnya dalam pendidikan dan promosi kesehatan. Dengan hasil ini. Puskesmas dapat merancang program yang lebih efektif untuk mengedukasi kebersihan lingkungan, terutama terkait sarana air bersih dan jamban sehat guna mencegah penyakit seperti diare pada Langkah konkret dapat berupa sosialisasi bersama tenaga kesehatan lingkungan, masyarakat, dan bidan desa, masyarakat tentang sanitasi dan kebersihan air. Saran ketiga ditujukan bagi peneliti saat ini dan mendatang. Penelitian ini mereka tentang aspek teoritis dan praktis terkait topik yang diteliti, sekaligus menerapkan ilmu kesehatan masyarakat atau epidemiologi ke praktik nyata. Pengalaman ini akan membantu peneliti menggabungkan teori dengan praktik lapangan dan mengidentifikasi serta mengatasi tantangan penelitian secara efektif. Bagi peneliti selanjutnya, hasil ini bisa menjadi rujukan untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut dengan variabel atau sampel yang berbeda, metodologi yang lebih kompleks, dan analisis yang lebih pengetahuan dan pencegahan penyakit di Saran keempat ditujukan kepada Stikes Guna Bangsa Yogyakarta sebagai institusi pendidikan yang berperan dalam mencetak tenaga kesehatan yang Hasil diharapkan dapat memperkaya referensi ilmiah kampus, terutama mengenai kasus diare pada balita, yang akan mengakses informasi relevan untuk tugas akhir, karya ilmiah, dan pembelajaran di kelas. Data ini dapat digunakan dosen dalam pengajaran untuk memberikan contoh konkret tentang pencegahan penyakit. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi referensi awal bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan riset lebih lanjut terkait kesehatan lingkungan dan sanitasi. 154 | Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah Al-Insyirah Midwifery / Vol. No. Tahun 2024 DAFTAR PUSTAKA