Volume 8. No. Desember 2025, pp. DOI : ISSN : 2721-8023 . ISSN : - . UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PUKULAN SERVIS FOREHAND PADA PEMBELAJARAN BULUTANGKIS MELALUI METODE TANPA NET DAN MENGGUNAKAN NET PADA SISWA KELAS Vi SMPS BINTANG LANGKAT Taufiq Agung Laksono1,*. Rizkei Kurniawan2. Myrza Akbari3 1,2,3 Universitas Samudra. Langsa Lama. Kota Langsa. Indonesia mrtaufiq06@gmail. 2 rizkeikurniawan@unsam. 3 myrzaakbari@unsam. ARTICLE INFO Article history Received :2 Agustus 2025 Revised :25 Oktober 2025 Accepted :1 Desember Keywords Learning Outcome. Forehand Service Strokes ABSTRACT This research is motivated by the low learning outcomes of students in forehand service strokes in badminton learning. The purpose of this study was to determine the improvement in learning outcomes of forehand service strokes in badminton learning through methods without nets and using nets in class Vi students of SMPS Bintang Langkat in the 2022/2023 Academic Year. This type of research is Classroom Action Research (CAR). Data collection techniques in the study were in the form of tests and observations. The research was carried out in two cycles, each cycle consisting of planning, implementation, observation and reflection. The objects in this study were class Vi students of SMPS Bintang Langkat. The object retrieval technique used purposive sampling, this technique is based on certain objectives. The objects taken were class Vi students of SMPS Bintang Langkat in the 2022/2023 Academic Year totaling 23 students. To analyze the data in this study and to find out the results seen from the completeness of students individually and classically. Based on initial data, it is known that the learning outcomes of forehand service strokes in badminton learning for class Vi students of SMPS Bintang Langkat out of 23 students, there are 5 students . 7%) who have achieved the level of learning completion with an average score of 70. The results of the study showed an increase from cycle to cycle II. The learning outcomes of forehand service strokes in badminton learning through the net-free and net-using methods in cycle I, students who achieved learning completion were 11 students . 8%) with an average score of 72. In cycle II, there were 21 students . 3%) out of 23 students who had achieved learning completion with an average score of 79. From cycle I to cycle II, there was an increase in students who completed or 43. This study concludes that the application of the net-free and net-using methods can improve the learning outcomes of forehand service strokes in badminton learning for class Vi students of SMPS Bintang Langkat in the 2022/2023 academic year. This is an open access article under the CCAeBY-SA license. ABSTRAK Kata kunci Hasil Belajar. Pukulan Servis Forehand Penelitian ini dilatar belakangi rendahnya hasil belajar siswa pukulan servis forehand pada pembelajaran bulutangkis. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pukulan service forehand pada pembelajaran bulutangkis melalui metode tanpa net dan menggunakan net pada siswa kelas Vi SMPS Bintang Langkat Tahun Ajaran 2022/2023. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Teknik pengumpulan data dalam penelitian berupa tes dan observasi. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi dan Objek dalam penelitian ini adalah siswa kelas Vi SMPS Bintang Langkat. Teknik pengambilan Objek menggunakan purposive sampling, teknik ini didasarkan atas tujuan tertentu. Objek yang di ambil adalah siswa kelas Vi Vi SMPS Bintang Langkat Tahun Ajaran 2022/2023 yang berjumlah 23 Untuk menganalisis data dalam penelitian ini dan untuk mengetahui hasil dilihat dari ketuntasan siswa secara individu dan secara klasikal. Berdasarkan data awal diketahui hasil belajar pukulan service forehand pada pembelajaran bulutangkis siswa kelas Vi SMPS Bintang Langkat dari 23 siswanya ada 5 siswa . ,7%) yang telah mencapai tingkat ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata 70,4. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan dari siklus dan siklus II. Hasil belajar pukulan service forehand pada pembelajaran bulutangkis melalui metode tanpa net dan menggunakan net pada siklus I siswa yang mencapai ketuntasan hasil belajar sebanyak 11 siswa . ,8%) dengan nilai rata-rata 72,9. Pada siklus II terdapat 21 siswa . ,3%) dari 23 siswa yang telah mencapai ketuntasan hasil belajar dengan nilai rata-rata 79,6. Dari siklus I ke siklus II terdapat peningkatan siswa yang tuntas atau sebesar 43,5 %. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan metode tanpa net dan menggunakan net dapat meningkatkan hasil belajar belajar pukulan service forehand pada pembelajaran bulutangkis pada siswa kelas Vi SMPS Bintang Langkat tahun ajaran 2022/2023. Artikel ini open akses sesuai dengan lisesni CCAeBY-SA PENDAHULUAN Pendidikan merupakan satu hal yang sangat dibutuhkan oleh manusia, dengan adanya pendidikan manusia diharapkan dapat mengembangkan pengetahuan, dan keterampilan Pendidikan juga mampu mengubah pola pikir manusia mulai dari kanak-kanak hingga dewasa. Pendidikan pada dasarnya merupakan rekonstruksi aneka pengalaman dan peristiwa yang dialami individu agar segala sesuatu yang baru menjadi lebih terarah dan Dengan adanya pendidikan manusia diharapkan lebih memahami betapa pentingnya pendidikan itu sendiri. Pendidikan jasmani disekolah harus mempunyai tujuan yang mengarah kepada tujuan pendidikan, yaitu meningkatkan kesegaran jasmani dan daya tahan tubuh siswa, dengan kebugarannya kondisi siswa akan mempengaruhi tingkat belajar yang melibatkan aktifitas fisik, demikian juga dalam belajar bulu tangkis. Bulu tangkis merupakan salah satu cabang olahraga yang memiliki banyak minat di seluruh masyarakat. Bulutangkis merupakan olahraga yang dimainkan dengan menggunakan net raket dan bola dengan teknik pemukulan yang bervariasi mulai yang relative lambat hingga yang sangat cepat disertai dengan gerakan Permainan bulutangkis merupakan permainan yang bersifat individual yang dapat dilakukan dengan cara satu orang melawan satu orang atau dua orang melawan dua orang. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara langsung yang penulis lakukan, guru pendidikan jasmani SMPS Bintang Langkat, mengenai hasil belajar siswa dalam pelajaran Bulu tangkis pada tanggal 11 Agustus 2022 mengenai proses belajar servis pada permainan Bulu tangkis terutama di materi servis panjang yang dilakukan siswa, ternyata masih banyak siswa yang belum mengerti dan salah dalam melakukan nya. Salah satu masalah yang sering terjadi dalam permainan bulu tangkis adalah kurangnya keterampilan siswa dalam melakukan praktek servis panjang. Kristiyandaru, . 0: . Pendidikan jasmani adalah bagian dari pendidikan keseluruhan yang mengutamakan aktivitas jasmani dan pembinaan hidup sehat untuk pertumbuhan dan perkembangan jasmani, mental, sosial, dan emosional yang serasi, selaras, dan seimbang. Rahayu, . 3: . Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk memperoleh kemampuan individu, baik dalam hal fisik, mental serta emosional. Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan siswa dalam menyesuaikan diri pada suatu kelompok atau masyarakat. Garret (Sagala, 2006: Belajar merupakan proses yang berlangsung dalam jangka waktu lama melalui latihan maupun pengalaman yang membawa pada perubahan diri dan perubahan cara bereaksi terhadap suatu perangsang tertentu. Belajar tidak hanya mempelajari mata pelajaran, tetapi juga penyusunan, kebiasaan, presepsi, kesenangan atau minat, penyesuaian sosial, macam-macam keterampilan lain, dan cita-cita (Hamalik, 2002: . Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003: . Djamarah menjelaskan lagi . 6: . Belajar pada hakikatnya adalah AoAoperubahanAoAo yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar. Tujuan belajar itu adalah ingin mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan penanaman sikap mental/ nilai-nilai. Pencapaian tujuan belajat berarti akan menghasilkan, hasil belajar. (Sardiman,2011: . Arif S. Sadiman, . 8: . belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat nanti. Hasil belajar perlu dievaluasi. Evaluasi dimaksudkan sebagai cermin untuk melihat kembali apakah tujuan yang ditetapkan telah tercapai dan apakah proses belajar mengajar telah berlangsung efektif untuk memperoleh hasil belajar. (Purwanto 2011: . Nana sudjana . penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. Hal ini mengisyaratkan bahwa objek yang dinilainya adalah hasil belajar siswa. Purwanto juga menjelaskan . 1: . dalam usaha memudahkan memahami dan mengukur perubahan perilaku maka perilaku kejiwaan manusia dibagi menjadi tiga domain atau ranah: kognitif, afektif, psikomotorik. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan proses pemberian nilai terhadap hasil belajar yang dicapai siswa atau untuk mengukur tingkat pencapaian belajar siswa terhadap pembelajaran yang dilakukan guru terhadap siswa yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan belajar siswa. Olahraga bulutangkis atau badminton merupakan salah satu cabang olahraga yang sudah dikenal masyarakat secara luas, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. PB PBSI 6: . menjelaskan bahwa. AuBulutangkis adalah olahraga permainan yang dilakukan oleh dua orang . ada tungga. atau empat orang . ada gand. , menggunakan shuttlecock . angkaian bulu yang ditata dalam sepotong gabu. sebagai bolanya, dan raket sebagai alat pemukul pada sebidang lapangan. Ay. Nama badminton berasal dari sebuah nama rumah atau sebuah istana dikawasan Gloucestershire (Syahri Alhusin, 2007: . Pada awalnya badminton atau bulutangkis disebut battledore, dulu orang menggunakan penepak shuttlecock dari kayu . Permainan ini berkembang pesat di Badminton House. Di Indonesia, badminton dikenal juga sebagai istilah bulutangkis (Syahri Alhusin, 2007: . Herman Subardjah . 0: . Permainan bulutangkis merupakan Permainan yang bersifat individual yang dapat dilakukan dengan cara satu orang melawan satu orang atau dua orang melawan dua orang. Toni Grice . 6: . Mengatakan Bulutangkis merupakan olahraga yang dimainkan dengan menggunakan net raket dan bola dengan teknik pemukulan yang bervariasi mulai yang relative lambat hingga yang sangat cepat disertai dengan gerakan tipuan. Tohar . 2 : . mengemukakan : Au ada lima teknik dasar pukulan dalam bermain bulutangkis, . pukulan servis, . pukulan lob, . pukulan dropshot, . pukulan Smash, pukulan drive. Dari penjelasan diatas, maka jelaslah bahwa permainan bulutangkis adalah olahraga yang bersifat aerobik yang menggunakan energi yang cukup lama agar mampu memainkan dengan sempurna karena jika pemain yang tidak mampu lagi dalam permainan akan mudah kalah oleh lawan dengan penempatan bola yang susah dijangkau pemain tersebut dan seorang pemain bulutangkis tidak akan bisa bermain dengan baik apabila tidak menguasai teknik-teknik dasar dengan baik dan benar. Dalam buku Alhusin Syahril peralatan yang digunakan dalam permainan bulutangkis Net Di tengah-tengah lapangan, net berdiri dengan tinggi 155 cm di bagian tepi. Tinggi net di tengah-tengah lapangan adalah 152 cm dari permukaan lapangan. Raket Raket standar memiliki ukuran panjang 66-88 cm dan lebar kepala 22 cm. untuk raket berbahan karbon, beratnya adalah 85 gram. Kok AuKokAy adalah istilah yang lazim digunakan di Indonesia untuk menyebut shuttlecock . ntuk selanjutnya, agar tidak membingungkan, kita menyebutnya shuttlecoc. Berat shuttlecock sekitar 5,56 gram. Bulu angsa atau bulu ayam yang menancap pada gabus yang dibungkus kulit berwarna putih berjumlah antara 14-16 buah Secara umum, panjang sebuah shuttlecock sekitar 8,8 cm, diukur dari ujung kepala shuttlecock . hingga ujung daun bulu. Panjang batang hingga daun shuttlecock adalah 6,5 cm, sedangkan panjang dop adalah 2,3cm. Lapangan Lapangan bulutangkis Lapangan bulutangkis dapat dibuat di berbagai tempat, bisa diatas tanah, atau untuk saat ini kebanyakan di atas lantai semen atau ubin. Pembuatan lapangan bulutangkis biasanya sekaligus didesain dengan gedung olahraganya. Servis adalah sentuhan pertama pada bola untuk memulai permainan. Pada awalnya, servis hanya dianggap sebagai permulaan saja, yaitu melempar bola untuk memulai pemainan. Surayin juga menjelaskan dalam buku pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan . pukulan servis merupakan pukulan pertama untuk mengawali permainan bulutangkis. Pukulan servis boleh dilakukan dengan forehand maupun backhand. Pukulan servis forehand banyak dilakukan pada permainan tunggal. Pukulan servis backhand umumnya dilakukan pada permainan ganda. Ketika melakukan pukulan servis, shuttlecock tidak boleh melebihi pinggang pemain yang melakukan servis. Kepala raket tidak boleh lebih tinggi daripada tangan yang memegang raket. Pukulan servis pada dasarnya bukanlah pukulan menyerang, lebih bersifat sebagai pukulan menjaga diri. Namun, bisa juga menjadi senjata ketika bola servis kita termasuk sulit diantisipasi lawan. Marta Dinata dan Herman Tarigan . 4: . Servis panjang dilakukan dengan memukul kok dari bawah dan di arahkan ke bagian belakang atas lapangan permainan lawan. Biasanya dilakukan dalam permainan tunggal, sehingga sering dinamakan dengan Audeep single ServisAy. Servis panjang merupakan servis tinggi yang biasanya digunakan dalam permainan tunggal. Sedapat mungkin memukul bola sampai dekat garis belakang dan menukik tajam lurus kebawah. Oleh karena itu, pukulan servis panjang ini merupakan salah satu jenis servis yang membutuhkan banyak tenaga. Dari penjelasan tersebut, peneliti mengangkat sebuah judul AuUpaya meningkatkan hasil belajar pukulan service Forehand pada pmbelajaran bulu tangkis melalui metode tanpa net dan menggunakan net pada siswa kelas Vi SMPS Bintang Langkat tahun pembelajaran 2022/2023Ay. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan PTK (Penelitian Tindakan Kela. Penelitian yang dilakukan bermaksud untuk menemukan informasi tentang pelaksanaan gaya mengajar resiprokal yang disampaikan dengan perlakuan tindakan kelas. PTK (Penelitian Tindakan Kela. atau Classroom Action Reserch merupakan sebuah langkah yang sistematis untuk memecahkan masalah praktis, terutama masalah yang berkaitan dengan persoalan pembelajaran pendidikan jasmani di kelas. (Suharsimi Arikunto, 2006: . Penelitian ini dilaksanakan di SMPS Bintang Langkat Kec. Stabat Kab. Langkat Prov. Sumatera Utara. Objek atau populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian di tarik kesimpulanya (Sugiyono, 2012:. Objek dalam penelitian ini adalah siswa kelas Vi SMPS Bintang Langkat berjumlah 63 orang. Subjek atau sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2006:. Teknik pengambilan objek dalam penelitian ini adalah purposive sampling, teknik ini didasarkan atas tujuan tertentu. Maka, dalam penelitian ini jumlah subjek yaitu kelas Vi dari 3 kelas, jumlah seluruh siswa kelas Vi adalah 68 orang, dan objek yang di ambil adalah siswa kelas Vi 3, yang berjumlah 23 orang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari tes dan observasi. Menurut Agung Sunarno . 1: . bahwa AuInstrumen penelitian merupakan suatu yang amat penting dan strategi skedudukannya didalam keseluruhan kegiatan penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat dan perlengkapan yang diperlukan dalam tes Service panjang bulu tangkis seperti lapangan, kok, net, raket, portofolio siswa dan pluit. Prosedur penelitian merupakan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh peneliti dalam menerapkan metode yang digunakan dalam penelitian. Dengan menggunakan hasil observasi dan data awal maka penelitian dilakukan dengan prosedur yang terdiri dari 4 tahapan, yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi tindakan,dan refleksi tindakan. Tahapan tersebut merupakan satu kesatuan tindakan yang sistematis dalam siklus tindakan Pelaksanaan penelitian ini akan dilakukan menggunakan 2 siklus. Teknik analisis data terdiri dari beberapa tahap di antaranya: Reduksi Data Proses reduksi data di lakukan dengan cara menyeleksi, menyederhanakan dan mentranformasikan data yang telah di sajikan dalam transkip catatan lapangan. Kegiatan reduksi data ini bertujuan untuk melihat kesalahan atau kekurangan siswa dalam pelaksanaan tes dan tindakan apa yang akan di lakukan untuk perbaikan kesalahan tersebut. Paparan Data Dalam kegiatan ini data yang di peroleh dari hasil belajar siswa di paparkan dalam bentuk table dengan menggunakan rumus yang telah di tetapkan. Untuk mengetahui persentase kemampuan siswa di gunakan rumus: Penelitian ini dikatakan berhasil apabila: Hasil belajar siswa meningkat atau mendapat nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Penelitian ini dikatakan berhasil meningkatkan pembelajaran servis forehand pada bulutangkis, jika 75% dari jumlah siswa tuntas belajar. Siswa dapat bersosialisasi secara baik dengan siswa lain dan guru. Siswa menjadi termotivasi dan bersemangat untuk mengikuti proses pembelajaran pembelajaran servis forehand pada bulutangkis. Siswa dapat bersosialisasi secara baik dengan siswa lain dan guru. HASIL DAN PEMBAHASAN Pra Siklus Kondisi awal penelitian diukur dari observasi lapangan dan data dari guru penjasorkes. Hasil dari observasi menunjukkan bahwa dari 23 peserta didik hanya 5 siswa yang mencapai nilai KKM. Hasil belajar siswa kelas Vi SMPS Bintang Langkat yang berjumlah 23 siswa pada pra siklus yaitu siswa yang tuntas berjumlah 5 siswa dan siswa yang tidak tuntas berjumlah 18 siswa dengan Nilai terendah yang diperoleh siswa pada pra siklus yaitu 67 dan nilai tertinggi yang diperoleh yaitu 78. nilai rata-rata siswa pada pra siklus yaitu 70,4. Jumlah siswa Persentase Hasil Tes Keterangan Skor > 75 Tuntas 21,7% Skor < 75 Tidak Tuntas 78,3% Jumlah Tabel 1Ketuntasan Hasil Belajar Service Forehand Bulutangkis Pra Siklus Berdasarkan tabel 1. dapat diketahui bahwa ketuntasanhasil belajar siswa kelas Vi SMPS Bintang Langkat yang berjumlah 23 siswa pada pra siklus yang tuntas dengan nilai diatas KKM atau skor > 75 berjumlah 5 siswa dengan persentase 21,7% dan siswa tidak tuntas dengan nilai dibawah KKM atau skor < 75 berjumlah 18 siswa dengan persentase sebesar 78,3%. Siklus 1 Perencanaan Pada tahan perencanaan peneliti mempersiapkan beberapa hal diantaranya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), menyusun instrumen tes pukulan servis forehand dalam permainan bulutangkis. menyiapkan lembar pengamatan/observasi, enyiapkan media tambahan yang dibutuhkan dalam pembelajaran, dan menyiapkan tempat penelitian dan media pembelajaran. Pelaksanaan Adapun langkah-langkah proses pelaksanaan tindakan yaitu Dimulai dari guru/peneliti mengkondisikan kelas. Mengatur barisan siswa dilapangan, berdoa dan pemanasan. Guru/peneliti menjelaskan materi pembelajaran pukulan service forehand pada permainan bulutangkis. Pada akhir pembelajaran akan dilakukan tes keterampilan pukulan service forehand dengan menggunakan permainan bulu tangkis dengan metode tanpa net dan menggunakan net dan pendinginan. Observasi Dari data hasil observasi dan catatan lapangan kemudian diskusi dengan guru penjasorkes, ditemukan beberapa hal yang menjadi kendala pembelajaran pada siklus I yaitu: siswa cenderung kurang memperhatikan apa yang sudah dijelaskan dan dicontohkan dan kurangnya penguasaan Nilai Belu Tuntas RataRata Nilai KKM Jumlah 23 75 83 67 72,9 11 12 Tabel 2 Hasil Tes Siklus 1 Berdasarkan tabel 6. dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa kelas Vi SMPS Bintang Langkat yang berjumlah 23 siswa pada siklus I yaitu siswa yang tuntas berjumlah 11 siswa dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 12 siswa. Nilai terendah yang diperoleh siswa pada siklus 1 yaitu 67 dan nilai tertinggi yang diperoleh yaitu 83. serta nilai rata-rata siswa pada siklus I yaitu 72,9 Tabel 3 Ketuntasan Hasil Belajar Pukulan Service Forehand Bulutangkis Siklus 1 Hasil Tes Keterangan Jumlah Persentase Skor > 75 Tuntas 47,8% 52,2% Skor < 75 Jumlah Tidak Tuntas Berdasarkan tabel 3. dapat diketahui bahwa ketuntasanhasil belajar siswa kelas Vi SMPS Bintang Langkat yang berjumlah 23 siswa pada siklus I yang tuntas dengan nilai diatas KKM atau skor > 75 berjumlah 11 siswa dengan persentase 47,8% dan siswa yang tidak tuntas dengan nilai dibawah KKM atau skor < 75 berjumlah 12 siswa dengan persentase sebesar 52,2%. Refleksi Berdasarkan hasil observasi didapat data yang bisa dijadikan sebagai bahan refleksi pembelajaran siklus I, yaitu sebagai berikut: suasana belajar lebih menyenangkan karena siswa dapat mengekspresikan dirinya dalam melakukan pukulan service forehandsesuai kemampuan mereka tanpa ada tekanan sehingga proses pembelajaran akan lebih mudan dilakukan, pembelajaran lebih mudah dimengerti siswa, karena model pembelajaran yang dibuat melalui metode tanpa net dan menggunakan net memudahkan siswa. Siklus 2 Perencanaan Pada tahan perencanaan peneliti mempersiapkan beberapa hal diantaranya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), menyusun instrumen tes pukulan servis forehand dalam permainan bulutangkis. menyiapkan lembar pengamatan/observasi, enyiapkan media tambahan yang dibutuhkan dalam pembelajaran, dan menyiapkan tempat penelitian dan media pembelajaran Pelaksanaan Adapun langkah-langkah proses pelaksanaan tindakan yaitu Dimulai dari guru/peneliti mengkondisikan kelas. Mengatur barisan siswa dilapangan, berdoa dan pemanasan. Guru/peneliti menjelaskan materi pembelajaran pukulan service forehand pada permainan bulutangkis. Pada akhir pembelajaran akan dilakukan tes keterampilan pukulan service forehand dengan menggunakan permainan bulu tangkis dengan metode tanpa net dan menggunakan net dan pendinginan. Observasi Berdasarkan hasil pengamatan dalam pembelajaran PJOK pada materi pukulan servis forehand pada siklus II, siswa sudah mulai menguasai gerakan sehingga hasilnya meningkat di bandingkan pertemuan Hasil belajar siswa pada siklus II bisa dilihat pada tabel berikut: Tabel 4 Hasil Tes Belajar Siswa pada Siklus 1I Jumlah siswa KKM Nilai Nilai Rata- Rata Tuntas Belum Berdasarkan tabel 8. dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa kelas Vi SMPS Bintang Langkat yang berjumlah 23 siswa pada siklus II yaitu siswa yang tuntas berjumlah 21 siswa dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 2 siswa dengan Nilai terendah yang diperoleh siswa pada siklus 1I yaitu 67 dan nilai tertinggi yang diperoleh yaitu 92. serta nilai rata-rata siswa pada siklus II yaitu 79,6. Tabel 5 Ketuntasan Hasil Belajar Pukulan Service Forehand Bulutangkis Siklus II Hasil Tes Keterangan Jumlah Persentase Skor > 75 Tuntas 91,3% Skor < 75 Tidak Tuntas 8,7% Jumlah Berdasarkan tabel 9. dapat diketahui bahwa ketuntasanhasil belajar siswa kelas Vi SMPS Bintang Langkat yang berjumlah 23 siswa pada siklus II yang tuntas dengan nilai diatas KKM atau skor > 75 berjumlah 21 siswa dengan persentase 91,3% dan siswa yang tidak tuntas dengan nilai dibawah KKM atau skor < 75 berjumlah 2 siswa dengan persentase sebesar 8,7%. Refleksi Berdasarkan hasil observasi didapat data yang bisa dijadikan sebagai bahan refleksi pembelajaran siklus I, yaitu sebagai berikut: suasana belajar lebih menyenangkan karena siswa dapat mengekspresikan dirinya dalam melakukan pukulan service forehand sesuai kemampuan mereka tanpa ada tekanan sehingga proses pembelajaran akan lebih mudan dilakukan, pembelajaran lebih mudah dimengerti siswa, karena model pembelajaran yang dibuat melalui metode tanpa net dan menggunakan net memudahkan siswa. Pentingnya motivasi yang diberikan untuk siswa sebagai upaya agar mereka lebih bersemangat dalam proses pembelajaran, sehinnga akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Dari data yang telah diperoleh dapat diketahui peningkatan hasil belajar siswa Kelas Vi SMPS Bintang Langkat Tahun Ajaran 2022/2023 yang disajikan pada table berikut ini: Tabel 6 Perbandingan Peningkatan Hasil Belajar Keterangan Tuntas Persentase Tuntas (%) Tidak Tuntas Persentase Tidak Tuntas (%) Pra Siklus Siklus I Siklus II 21,7% 47,8% 91,3% 78,3% 52,2% 8,7% Berdasarkan tabel 6. dapat diketahui perbandingan peningkatan hasil belajar siswa kelas Vi SMPS Bintang Langkat yang berjumlah 23 siswa yaitu pada prasiklus siswa yang tuntas sebanyak 5 siswa dengan persentase sebesar 21,7%, kemudian siswa yang tuntas meningkat pada siklus I sebanyak 11 siswa dengan persentase sebesar 47,8% dan lebih meningkat pada siklus II yaitu sebanyak 21 siswa dengan persentase sebesar 91,3%. Dan untuk siswa yang tidak tuntas dalam hasil belajar tentunya mengalami penurunan yaitu pada prasiklus siswa yang tidak tuntas sebanyak 18 siswa dengan persentase sebesar 78,3%, kemudian menurun pada siklus I siswa yang tidak tuntas sebanyak 12 siswa dengan persentase sebesar 52,2% dan menurun pada siklus II siswa yang tidak tuntas sebanyak 2 siswa dengan persentase sebesar 8,7%. Pembahasan Berdasarkan hasil observasi pada siklus I, terdapat peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran pukulan serviceforehand bulutangkis dari data awal ke siklus I. Pada siklus I peningkatan yang diperoleh ada 15 siswa yang telah mencapai ketuntasan dengan persentase sebesar 47,8%. Tetapi masih ada 8 siswa yang belum mencapai ketuntasan hasil belajar dengan persentase sebesar 52,2%. Dari pra siklus ke siklus I terdapat peningkatan 6 siswa yang tuntas atau sebesar 26,1%. Dari analisis data yang telah dilakukan dapat diketahui pada hasil belajar siklus I belum memenuhi kriteria ketuntasan secara klasikal,dikarenakan masih terdapat beberapa siswa yang pada indikator pertama . ikap awala. tidak menekukkan pergelangan tangan kirinya, pada indikator kedua . ikap pelaksanaa. memukul cock dengan raket pada saat cock masih di atas lutut dan tidak melambungkan shuttle cock tinggi dan jauh, dan pada indikator ketiga . ikap follow throug. tidak menyilangkan raket didepan pada bagian atas bahu tangan dan memutar pinggul kea rah kiri dan bahu ke arah kanan setelah memukul cock. Pada siklus I peneliti menemukan kesulitan yang di alami siswa dalam proses pembelajaran dengan penerapan metode bagian dan keseluruhan,yang menyebabkan belum tuntasnya hasil belajar siswa diantaranya: Dalam melakukan pukulan service forehand bulutangkis masih ada siswa yang belum dapat melakukan gerakan followthrough. Siswa masih bingung ketika melakukan gerakan secara keseluruhan. Nilai yang didapat belum maksimal. Dari hasil penelitian yang telah dlilakukan pada siklus I dapat diketahui bahwa: rasa ingin tahu dari siswa kurang dan kurang rasa penasaran terhadap materi yang akan disampaikan. Sikap dalam keaktifan dalam proses pembelajaran, belum mampu melakukan umpan balik siswa kepada guru dan kurangnya antusias siswa mengikuti proses pembelajaran dalam kelompok. Sikap dalam kemampuan bertanya belum mampu mempertanyakan pertanyaan yang tidak lari dari materi yang dibahas dan beum dapat memberikan pendapatnya. Sikap dalam kemandirian siswa tidak memperhatikan penjelasan dari guru dengan baik. Melihat hasil penelitian siklus I maka dapat disimpulkan bahwa banyak kekurangan-kekurangan dari guru dan siswa dalam pembelajaran yang menyebabkan capaian hasil belajar pada siklus I ini tidak tuntas atau mecapai ketuntasan klasikal sehingga harus dilanjutkan ke siklus II. Tentunya dalam pelaksanaan di siklus II dilakukan perbaikan dari kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I. Hal yang ditekankan adalah penjelasan materi dan penerapannya agar siswa lebih mengerti pembelajaran dengan metode ini. Kemudian perbaikan juga dalam mengelolah dan melaksanakan kegiatan belajar siswa dan menjelaskan materi pukulan serviceforehand bulu tangkis yang diberikan, juga untuk mengatasi masalah-masalah pada siswa, dimana guru masih perlu memberikan motivasi dan penguatan kepada siswa untuk mendukung terlaksananya pembelajaran dengan baik. Berdasarkan hasil belajar siswa pada siklus II dalam proses pembelajaran pukulan serviceforehand bulu tangkis ternyata telah diperoleh peningkatan yang cukup pesat dari hasil belajar pada siklus I yaitu siswa yang tuntas sebanyak 21 siswa dengan persentase sebesar 91,3 dang siswa yang belum tuntas hanya tersisa 2 siswa dengan persentase sebesar 8,7%. Dari siklus I ke siklus II terdapat peningkatan 10 siswa yang tuntas atau sebesar 43,5 %. Peneliti melihat dengan menggunakan metode tanpa net dan menggunakan net ini sangat berdampak terhadap hasil belajar siswa di siklus I dan II. Pada siklus II telah terjadi peningkatan yang cukup pesat pada nilai Persentasi Ketuntasan Klasikal (PKK) serta nilai rata-rata hasil belajar siswa. Dari hasil penelitian pada siklus II dapat dilihat bahwa: rasa ingin tahu dari siswa sudah baik, sikap dalam keaktifan dalam proses pembelajaran, sudah ada umpan balik siswa kepada guru dan siswa sudah antusias mengikuti proses pembelajaran dalam kelompok. Sikap dalam kemampuan bertanya belum mampu melakukan pukulan servis forehand dan sudah dapat memberikan pendapatnya. Sikap dalam kemandirian siswa sudah memperhatikan penjelasan dari guru dengan baik. Siswa sudah meningkatkan hasil pukulan mereka setelah peneliti memberikan penjelasan, pemahaman dan motivasi. Materi pukulan service forehand bulu tangkis merupakan materi yang cukup luas dan kompleks sehingga sulit untuk dipelajari. Dengan menggunakan metode tanpa net dan menggunakan net siswa akan lebih mudah dalam mempelajarinya yang berdampak pada naiknya hasil belajar dari data awal ke siklus I dan dari siklus I ke siklus II. Dari hasil belajar siklus I ke siklus II Dapat disimpulkan bahwa hasil belajar pukulan serviceforehand bulutangkis siswa sudah berhasil, namun belum 100% dikatakan tuntas, menurut analisis peneliti hal ini disebabkan siswa tersebut masih memerlukan tambahan waktu yang lebih untuk menguasai gerakan tersebut terkhusus bagi siswa yang belum tuntas. Untuk mengatasinya guru harus memberi motivasi yang lebih kepada siswa tersebut. Diberikan kesempatan mencoba lebih banyak kepada siswa secara berulang-ulang, memberi penguatan secara verbal. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa pukulan pembelajaran bulutangkis melalui metode tanpa net dan menggunakan net dapat meningkatkan pukulan service forehand siswa kelas Vi SMPS Bintang Langkat tahun ajaran 2022/2023. Peningkatan kemampuan pukulan service forehand dapat dilihat dari nilai pada siklus I sampai siklus II. Pada siklus I, nilai ketuntasannya adalah 47,8% dan pada siklus II menjadi 91,3%. Nilai rata-rata kemampuan pukulan service forehand juga meningkat yaitu pada siklus I adalah 72,9 dan pada siklus II menjadi 79,6. Data tersebut menunjukkan peningkatan kemampuan pukulan service forehand dalam pra siklus sampai dengan siklus II. Hal tersebut menunjukkan bahwa penelitian sudah berhasil dengan baik, sesuai Kreteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan yaitu dengan nilai 75 dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yaitu upaya meningkatkan hasil belajar pukulan service forehand pada pembelajaran bulutangkis melalui metode tanpa net dan menggunakan net pada siswa kelas Vi SMPS Bintang Langkat tahun ajaran 2022/2023Ay. REFFERENCES Alhusin. Shahril. Gemar Bermain Bulutangkis. Seti-Aji: Surakarta. Arikunto. Suharsimi dkk. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara: Jakarta. Budiningsih. Asri. Belajar dan Pembelajaran. PT Asdi Mahasatya: Jakarta. Grice. Toni. Bulutangkis: Petunjuk Praktis Untuk Pemula dan Lanjut. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan Hasyim, dan Saharullah. Olahraga Bulu Tangkis. Makassar: Badan Penerbit UNM Herman Subarjah. Permainan Bulutangkis. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Hermantarigan. Marta Dinata. Bulutangkis. Cerdas Jaya Husdarta,Yudha. Belajar Dan Pembelajaran. Bagian Proyek Penataran Guru SLTP setara D-i. Ika. Kusuma. Stategi Belajar Mengajar Pendidikan Jasmani. Fakultas Ilmu Keolahragaan UNIMED: Medan. Karyono. Mengenal Olahraga Bulutangkis: Tahapan Menuju Yogyakarta : Thema Publishing. Kemajuan. Purwanto. Evaluasi Hasil Belajar. Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Rosdiani. Dini. Perencanaan Pembelajaran Dalam Pendidikan Jasmani Dan Kesehatan. CV. Alfabeta: Bandung. Sadiman. Arief. DKK. Media Pendidikan. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta. Sadirman. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Raja Grafindo Persada: Jakarta. Slameto. Belajar Dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi. Rineka Cipta: Jakarta. Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. PT Remaja Rosdakarya Offset: Bandung. Sumaryoto. Pendidikan Kemendikbud:Jakarta Jasmani Olahraga Dan Kesehatan. Sunarno. Syaiful. Metode Penelitian Keolahragaan. Yuma Pustaka. Surayin. Pendidikan Jasmani Olahraga dan kesehatan. CV. Yrama Widya. Wicaksono,Adhi. Perbandingan Metode Pembelajaran Bagian Dan Keseluruhan terhadap Keterampilan Gerak Dasar LOB Bulutangkis. Bandar Lampung Widiastuti, dan Hanis. Sport Skill And Test. Purbalingga : Eureka Media Aksara