JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN VOL 7 NO 2 PENGARUH KONTROL DIRI TERHADAP KECENDERUNGAN PERILAKU CYBERSLACKING MAHASISWA UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN Lisna Ludiana Simbolon1. Asina Christina Rosito2 Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen simbolon1@hotmail. com1, asina. christina@hotmail. ABSTRACT This study aims to determine whether there is an effect of self-control on the tendency of cyberslacking behavior in students of Universitas HKBP Nommensen. The sample were 263 students from various departments. The data collection method used psychological scale, namely the self-control scale and the cyberslacking scale. Data analysis technique to test the hypothesis is simple linear regression. From the results of the regression test, the results show that there is a significant negative effect of self-control on cyberslacking. The contribution of self-control to cyberslacking is 15% which indicates that self-control has an effect of 15% on cyberslacking behavior in college students. Keywords : kontrol diri, cyberslacking PENDAHULUAN Internet merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari manusia pada masa era digital sekarang ini. Dengan menggunakan berbagai jenis perangkat seperti handphone, notebook, personal computer, dan lainnya, kita dapat mengakses internet sepanjang jaringan Internet membantu masyarakat dunia untuk saling terhubung satu dengan yang lain meskipun dipisahkan oleh jarak. Dalam dunia pendidikan, internet dan Mahasiswa sebagai pembelajar di tingkat perguruan tinggi membutuhkan internet tidak hanya untuk keperluan hidup sehari-hari namun juga dalam pembelajarannya. Oleh karena itu, kampus-kampus pun menyediakan akses internet secara gratis kepada para Ketersediaan diharapkan dapat menunjang proses belajar mandiri pada mahasiswa dimana melalui internet mahasiswa dapat mengakses berbagai sumber referensi atau literature untuk proses belajarnya, dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai berbagai bidang ilmu lain dan berbagai peristiwa terkini, dapat membangun jejaring sosial untuk peningkatan proses belajarnya, dan lainnya. Mengingat kebutuhan akan internet yang tinggi pada kalangan mahasiswa, maka tidak heran jika mahasiswa merupakan pihak yang memiliki frekuensi akses internet lebih tinggi dibandingan profesi lainnya (Kominfo. Hal ini sesuai dengan survey yang JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN VOL 7 NO 2 APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesi. yang menyatakan bahwa pengguna internet berdasarkan tingkat pendidikan terakhir adalah 24% pada mahasiswa tingkat S2/S3 dan 23% pada mahasiswa tingkat S1/Diploma. Hal ini menunjukkan bahwa kaampus sebagai tempat yang sering digunakan dalam mengakses internet. Berbagai dampak positif dari internet dalam proses belajar telah dirasakan oleh mahasiswa dapat mengakses berbagai bahan referensi untuk belajar dari Selain itu, pembelajaran daring juga dilakukan melalui internet. Mahasiswa dapat terhubung dengan sesama mahasiswa lainnya melalui internet dimana melalui jejaring ini dapat saling bertukar informasi mengenai banyak hal terkait proses pembelajaran. Mahasiswa dapat memperluas wawasan dan pengetahuan melalui berbagai sumber yang tersedia di internet. Namun, disisi lain ada dampat negatif dari penggunaan internet ini, salah satunya adalah fenomena cyberslacking. Dalam konteks pekerjaan, cyberslacking adalah perilaku sadar yang dilakukan karyawan untuk mengakses hal-hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaannya dengan menggunakan akses internet perusahaan (Lim, 2. Pada dunia pendidikan, cyberslacking berkaitan dengan perilaku mahasiswa yang mengakses internet untuk hal-hal yang sifatnya nonakademik, pada situasi perkuliahan sedang berlangsung di kelas (Geokcearslan. Mumcu. Haslaman. Cevic, 2. Ketersediaan internet dapat membantu mahasiswa untuk memperoleh informasiyang pembelajaran, sehingga internet menjadi kebutuhan yang penting untuk dipenuhi. Maka dari itu, kampus-kampus menyediakan layanan internet gratis buat para mahasiswanya dan seluruh civitas akademik di kampus tersebut. Demikian juga di Universitas HKBP Nommensen (UHN), menyediakan layanan internet gratis bagi mahasiswa ketika mahasiswa berada di area Namun tidak dapat dipungkiri bahwa cyberslacking terjadi dalam proses belajar mengajar di kampus. Penulis terhadap beberapa mahasiswa terkait hal ini. Berdasarkan beberapa hasil wawancara yang dilakukan peneliti tersebut ada mahasiswa yang menggunakan gadget dengan seperlunya, yaitu untuk mencari hal yang berkaitan dengan perkuliahan ataupun ketika dosen mengijinkan melakukan akses internet dalam kelas. Namun disamping itu ada juga mahasiswa yang cenderung menghabiskan waktu untuk bermain gadget dibandingkan waktu untuk belajar didalam kelas, mahasiswa menggunakan akses internet di dalam kelas justru memanfaatkan internet untuk hal-hal yang sifatnya nonakademik seperti main game, membalas chat dan membuka hal-hal lain yang tidak Ini menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas HKBP Nommensen cenderung memiliki indikasi perilaku cyberslacking. Secara teoritis konsep cyberslacking berawal dari situasi dunia kerja ketika karyawan melakukan akses internet pada halhal personal di luar pekerjaan yang sedang dilakukannya (Lim, 2. Cyberslacking didefinisikan sebagai perilaku sadar yang dilakukan oleh karyawan untuk mengakses halhal yang tidak berhubungan dengan pekerjaannya dengan menggunakan akses internet perusahaan (Lim, 2. Pada perkembangan penelitian berikutnya konsep cyberslacking juga terjadi pada setting pendidikan khususnya pada situasi perkuliahan ketika kebanyakan mahasiswa juga melakukan akses internet pada hal-hal non-akademik ketika sedang mengikuti perkuliahan di kelas (Gerow. Galluch, &Thatcher 2. Dalam Simanjuntak, 2019 ditunjukkan bahwa faktor sharing, shopping, real time updating, accesing online content dan gaming/gambling dapat berfungsi sebagai dimensi yang JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN VOL 7 NO 2 menggambarkan cyberslacking akademik mahasiswa di Indonesia. Salah satu hal paling umum yang melatarbelakangi perilaku cyberslacking pada mahasiswa yaitu adanya keinginan yang tidak terkontrol oleh mahasiswa dalam menggunakan gadget . ontrol dir. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian dari OANeill. Hambley, & Chatellier, . , yang menemukan bahwa perilaku cyberslacking dipengaruhi oleh sikap, emosi, dan faktor sosial yang dimiliki oleh mahasiswa ketika menggunakan internet untuk urusan pribadi. Lingkungan juga menjadi faktor pendukung mahasiswa melakukan cyberslacking, namun keinginan dalam diri sendiri untuk melakukan cyberslacking ternyata menjadi faktor yang lebih mempengaruhi dibandingkan dengan faktor lingkungan sekitar atau teman sekitar yang melakukan (Gerow. Galluch, & Thatcher Mahasiswa cenderung mencari kegiatan lain . ff-tas. ketika merasakan kebosanan atau berusaha untk tetap terjaga ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung (Ragan. Jennings. Massey & Doolittle 2. Menurut Averill . kontrol diri memodifikasi perilaku, kemampuan individu dalam mengelola informasi yang diinginkan dan yang tidak diinginkan, dan kemampuan individu untuk memilih salah satu tindakan berdasarkan sesuatu yang diyakini. Pengertian Averill menitikberatkan pada seperangkat kemampuan mengatur dalam memilih tindakan yang sesuai dengan yang diyakini nya. Kontrol diri tersebut dapat membantu seseorang untuk mengabaikan dorongan pemenuhan untuk bermain internet, dan menolong individu tersebut untuk merespon sesuai dengan standar personal atau sosial dengan mengunakan internet sesuai dengan Hal ini sesuai dengan hasil penelitian . alam Sari, & Ratnaningsih, 2. yang menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kontrol diri dengan intensi cyberloafing/cyberslacking. Semakin tinggi kontrol diri, maka semakin rendah intensi cyberslacking dan sebaliknya jika semakin rendah kontrol diri maka semakin tinggi intensi cyberslacking. Kontrol dirimemberikan sumbangan efektif sebesar Berdasarkan penelaahan literature di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti apakah terdapat pengaruh kontrol diri terhadap kecenderungan perilaku cyberslacking pada mahasiswa UHN. METODE Populasi penelitian Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa/i Universitas HKBP Nommensen Medan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Pusat Sistem Informasi Universitas HKBP Nommensen Medan, jumlah mahasiswa/i Universitas HKBP Nommensen Medan Tahun Ajaran 2019/2020 berjumlah 7919 orang. Berdasarkan tabel populasi dan sampel yang dikembangkan oleh Isaac dan Michael dimana pada populasi 70008000 responden, dengan tingkat kesalahan 10%, maka jumlah sampel minimal dalam penelitian ini adalah 263 orang. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel pada penelitian ini adalah sampling insidental yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan Sampel penelitian dalam penelitian ini adalah 263 orang mahasiswa UHN. Partisipan penelitian ini berasal dari berbagai jurusan dan Metode pengumpulan data Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah menggunakan skala psikologi yakni skala kontrol diri dan skala cyberslacking. Pengukuran kontrol diri menggunakan skala JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN VOL 7 NO 2 model Likert yang disusun berdasarkan aspek kontrol diri menurut Tangney. Bumeister, & Boone . Adapun aspek-aspek dari kontrol diri berdasarnkan teori tersebut adalah disiplin Diri (Self Diciplin. ,Tidak Tergesagesa (Deliberate Nonimpulsiv. Kebiasaan Hidup Sehat (Healthy Habit. Regulasi Diri dan Konsisten (Reliabilit. Skala kontrol diri yang digunakan dalam penelitian terdiri atas 26 item, dimana skala ini tergolong reliabel dengan nilai alpha cronbachAos sebesar 0. Pengukuran cyberslacking akademik dalam penelitian ini dikembangkan oleh peneliti berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Akbulut . dimana terdapat aspekaspek cyberslacking akademik seperti sharing, shopping, real-time updating, accessing online content dan gaming/ gambling. Skala penelitian ini terdiri dari 17 item dengan nilai alpha cronbachAos sebesar 0,902. Tabel 1. Penyebaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis kelamin Jumlah Presentase Laki-laki 129 orang Perempuan 134 orang Total ` 263 orang Dari Tabel 1 di atas, dapat dilihat bahwa partisipan penelitian yang berjenis kelamin laki-laki ada 129 orang . %), dan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 134 orang . %). Dapat disimpulkan bahwa ada lebih banyak partisipan laki-laki daripada Tabel 2. Perbandingan Data HIpotetik dan Data Empirik Variabel Prosedur penelitian Proses pelaksanaan penelitian ini dilakukan dengan cara menyebarkan skala secara online yang disusun melalui google form. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada 09 September 2020 hingga 13 September 2020. Data Hipotetik Data Empirik Min Max Min Max Kontrol diri Cyberslacking Berdasarkan perbandingan mean hipotetik dengan mean empirik seperti yang tertera pada Tabel 2 di atas, dapat dilihat bahwa untuk skala kontrol diri memiliki nilain mean empiric sebesar 36 yang mana lebih tinggi daripada mean hipotetiknya yakni 65. Hal ini berarti bahwa mahasiswa UHN memiliki kontrol diri yang Pada skala cyberslacking, mean empiric 84 yang mana leibih tinggi daripada mean hipotetiknya yakni 42. hal ini berarti UHN cyberslacking yang tinggi. Berdasarkan Tabel 2 di atas, nilai Standar Deviasi (SD) empiriknya adalah 14. dimana lebih tinggi dari SD hipotetiknya yakni Hal ini menunjukkan bahwa partisipan penelitian memiliki variasi yang tinggi dalam HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pada bagian hasil ini akan dipaparan hasil penelitian, berdasarkan teknik analisis data yang digunakan. Secara umum, hasil penelitian mencakup hasil deskripsi mengenai variabel yang diteliti, hasil uji asumsi, dan hasil uji JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN VOL 7 NO 2 hal kontrol dirinya. Nilai SD empiric untuk cyberslacking adlah 9. 14 dimana nilai ini lebih tinggi dari SD hipotetik yaitu 8. Dapat disimpulkan bahwa skor cyberslacking partisipan penelitian cukup bervariasi satu dengan lainnya. cyberslacking yang sedang ada sebanyak 165 orang . 7%) dan yang dengan cyberslacking rendah ada 33 orang . 2%). Dapat disimpulkan bahwa lebih dari separuh partisipan . 7%) berada pada kategori cyberslacking yang sedang. Tabel 3. Kategorisasi Kontrol Diri Partisipan Penelitian Tabel 5. Hasil Uji Normalitas Kontrol Diri dan Cyberslacking Variabel Kontrol Diri Rentang Nilai 78 O X Kategorisasi Tinggi Jumlah (N) Persentase (%) Variabel K-S Sig Ket Kontrol diri Normal 52 O X < 78 X < 52 Sedang Cyberslacking Normal Rendah Total Sebelum melakukan pengujian hipotesis, dilakukan dulu uji asumsi normalitas dan linieritas data. Berdasarkan Tabel 5 di atas dapat dilihat bahwa hasil uji normalitas menunjukkan bahwa skor kontrol diri dan cyberslacking menyebar secara normal. Dengan demikian asumsi normalitas data Dari Tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa partisipan penelitian dengan kontrol diri yang tinggi ada 69 orang . 2%), dengan kontrol diri yang sedang ada sebanyak 159 orang . 5%) dan yang dengan kontrol diri rendah ada 35 orang . 3%). Dapat disimpulkan bahwa lebih dari separuh partisipan . aitu 5%) berada pada kategori kontrol diri yang Tabel 6. Hasil Uji Linieritas Variabel Kontrol diri * Tabel 4. Kategorisasi Cyberslacking Partisipan Penelitian Variabel Cyberslacking Rentang Nilai 51 O X Kategorisasi Tinggi Jumlah (N) Persentase (%) 34 O X < 51 X < 34 Sedang Rendah Total Sig Keterangan Linier Berdasarkan Tabel 6 di atas dapat dilihat bahwa koefisien F = 50. 747 dengan nilai p = 0. maka dapat disimpulkan bahwa uji linieritas terpenuhi dimana terdapat linieritas antara kontrol diri dan kecenderungan cyberslacking pada mahasiswa UHN. Untuk menguji hipotesis penelitian, dilakukan analisis regresi linier sederhana. Dari hasil analisis, diperoleh nilai koefisien korelasi . sebesar 0393, dan nilai r2 sebesar 0. Nilai r2 menunjukkan bahwa pengaruh kontrol diri terhadap cyberslacking adalah sebesar Dari Tabel 4 di atas dapat dilihat bahwa partisipan penelitian dengan cyberslacking yang tinggi ada 66 orang . 1%), dengan JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN VOL 7 NO 2 5% sedangkan sisanya sebesar 84. dipengaruhi oleh faktor lain. Dari Tabel 8 di atas dapat dilihat bahwa dari 5 aspek kontrol diri, ada 4 aspek yang berkorelasi positif dan signifikan terhadap cyberslacking, yakni aspek sharing, real-time updating, gaming/gambling. Aspek shopping tidak berkorelasi signifikan dengan cyberslacking. Dapat dilihat juga bahwa aspek dari kontrol diri yang paling kuat korelasinya dengan cyberslacking adalah aspek sharing dengan koefisien korelasi . Sementara korelasi yang paling rendah adalah antara aspek shopping dan cyberslacking dengan koefisien korelasi . Tabel 7. Hasil Uji Regresi Linier Model . Unstandardized Coefficients Std. Error Standardized Coefficients Beta Sig Berdasarkan hasil dari analisis regresi seperti yang terlihat dalam Tabel 7, terlihat bahwa nilai signifikansi adalah sebesar 0. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kontrol diri berpengaruh negatif secara signifikan terhadap cyberslacking pada mahasiswa UHN. Berikut ini adalah model persamaan regresi dari hasil analisis regresi yang diperoleh: Pembahasan Berdasarkan data deskripsi penelitian, dapat dilihat bahwa variabel kontrol diri nilai mean empiriknya sebesar 67,36 yang lebih tinggi daripada mean hipotetiknya yaitu 65, sehingga tergolong kedalam kategori tinggi. Untuk variabel cyberslacking memiliki mean empirik sebesar 43,84 yang lebih tinggi daripada mean hipotetiknya yaitu 42,5. , sehingga tergolong kedalam kategori tinggi. Hal ini berarti bahwa mahasiswa Universitas HKBP Nommensen Medan memiliki juga cyberslacking yang Berdasarkan data pengkategorisasian, mahasiswa Universitas HKBP Nommensen Medan yang memiliki kontrol diri yaitu sebanyak 26,2 % . dan sedang sebanyak 60,5 % . , dan sejalan dengan kecenderungan perilaku cyberslacking yang tinggi yaitu 25,1 % . dan sedang sebanyak 62,7 %% . Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kontrol diri dan kecenderungan cyberslacking mahasiswa Universitas HKBP Nommensen Medan cenderung sedang. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menyatakan bahwa terdapat pengaruh kontrol diri terhadap perilaku cyberslacking pada mahasiswa Universitas HKBP Nommensen Medan yang memberikan pengaruh sebesar Hal ini juga dibuktikan dengan nilai t hitung Y = 60. 67 Ae 0. Dengan persamaan seperti di atas, maka berarti apabila terdapat kenaikan satu-satuan kontrol diri maka cyberslacking akan mengalami penurunan sebesar 0. 250 poin. Tabel 8. Korelasi aspek kontrol diri dengan Aspek Signifikansi Sharing Shopping Real-time updating Accessing Gaming/gambling JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN VOL 7 NO 2 sebesar -6,909 lebih besar dari ttable sebesar 1,650 dan nilai p sebesar 0,00 ( p < 0,. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara variabel kontrol diri terhadap variabel cyberslacking mahasiswa. Penelitian ini membahas tentang pengaruh kontrol diri terhadap perilaku cyberslacking pada mahasiswa Universitas HKBP Nommensen Medan. Hipotesis dalam penelitian ini adalah kontrol diri berpengaruh negatif terhadap perilaku cyberslacking. Data hasil analisis mendukung hipotesis penelitian tersebut di mana didapatkan bahwa kontrol diri berpengaruh negatif terhadap perilaku Artinya adalah semakin tinggi kontrol diri yang dimiliki oleh mahasiswa, maka hal itu dapat mengurangi perilaku cyberslacking yang dilakukan oleh mahasiswa. Hasil penelitian yang dilakukan pada populasi mahasiswa di Universitas HKBP Nommensen Medan menunjukkan bahwa kontrol diri berpengaruh negative terhadap perilaku cyberslacking dengan R sebesar 0,393 dan p = 0,000. Sumbangan efektif variabel kontrol diri terhadap perilaku cyberslacking adalah sebesar 15%. Sedangkan 85% lainnya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tidak diteliti dalam penelitian ini, seperti faktor organisasi maupun faktor situasional. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini sejalan dengan Ozler dan Polat . yang mengatakan bahwa kontrol diri merupakan salah satu faktor individu yang menyebabkan munculnya perilaku cyberslacking. Kontrol diri sebagai salah satu sifat personal individu berperan dalam memunculkan perilaku Salah satu faktor yang paling cyberslacking adalah faktor internal pada individu yaitu sifat personal, salah satunya kontrol diri (Ozler & Polat, 2. Kontrol diri merupakan kemampuan individu untuk menyusun, membimbing, mengatur, dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa ke arah konsekuensi positif (Goldfried & Marbaum, 1. Oleh karena itu, kontrol diri berpengaruh dalam menentukan perilaku yang dilakukan individu saat belajar, apakah perilaku yang bersifat produktif atau sebaliknya. Tingkat kontrol diri individu menunjukkan kemampuannya dalam mengatur dan mengarahkan perilakunya ke arah konsekuensi yang positif. Penelitian ini menemukan bahwa individu yang memiliki kontrol diri rendah Cyberslacking merupakan perilaku penggunaan internet yang tidak produktif di tempat kerja. Penelitian ini menunjukkan bahwa sumbangan efektif variabel kontrol diri sebesar 15% terhadap Swanepoel . menemukan bahwa kekuatan karakter . eperti kontrol diri dan integrita. berhubungan negatif dengan berbagai perilaku menyimpang di tempat kerja. Martin. Rao, dan Sloan . menyimpulkan bahwa individu yang memiliki kontrol diri dan integritas yang tinggi lebih kecil kemungkinan untuk terlibat dalam perilaku menyimpang di tempat kerja, dan sebaliknya. Hasil penelitian ini sesuai dengan Baumeister . yang menyatakan bahwa individu yang mempunyai kontrol diri tinggi berkorelasi dengan adanya penyesuaian yang lebih baik, lebih bisa mengatur emosi secara optimal. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan pembahasan penelitian yang dilakukan pada mahasiswa Universitas HKBP Nommensen Medan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Signifikani pengaruh kontrol diri sebesar 0,00 >,0,05 yang artinya p < 0,05 dan berdasarkan nilai t hitung > t tabel t tabel adalah sebesar -6,909 > 1,650 yang menyatakan bahwa Kontrol diri berpengaruh negatif terhadap perilaku cyberslacking pada Mahasiswa di Universitas HKBP Nommensen JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN VOL 7 NO 2 Medan, artinya tingkat kontrol diri yang dimiliki mahasiswa dapat mengurangi frekuensi perilaku cyberslacking yang dilakukan oleh mahasiswa tersebut. Sumbangan efektif variabel kontrol diri sebesar 15% yang mengindikasikan bahwa kontrol diri berpengaruh sebesar 15% terhadap perilaku cyberslacking pada mahasiswa di universitas. Sedangkan sisanya 85% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan kategorisasi data hipotetik kontrol diri, yang memiliki kontrol diri yang tinggi yaitu sebanyak 69 orang . ,2%), dan yang memiliki memiliki kontrol diri yang sedang sebanyak 159 orang 60,5 %. Berdasarkan kategorisasi data hipotetik perilaku cyberslacking, terdapat subjek yang memiliki cyberslacking yang tinggi yaitu sebanyak 66 orang . ,1%), dan subjek penelitian yang sebanyak 165 orang . ,7%). praktis bagi pihak universitas adalah agar memberikan kebijakan terkait dengan penggunaan internet di perkuliahan. Misalnya, pembatasan jaringan bagi setiap mahasiswa atau ditutupnya akses pada beberapa situs hiburan seperti media sosial atau Youtube. Hal ini dikarenakan tidak adanya pembatasan penggunaan internet menjadi salah satu faktor pemicu munculnya perilaku cyberslacking. Saran mempertahankan kontrol diri yang positif karena hal tersebut membantu individu untuk menjadi peribadi yang positif dan dapat mengontrol setiap perilakunya. Dengan adanya penelitian ini dapat menjadi informasi bagi mahasiswa bahwa dalam memiliki kontrol diri yang positif. Saran Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan kesimpulan yang telah dikemukakan, maka peneliti mengajukan beberapa saran yang dibagi ke dalam dua bagian, yaitu saran metodologis dan saran praktis . itujukan kepada instansi Saran metodologis berkaitan dengan nilai koefisien determinasi yang diperoleh dalam penelitian ini adalah sebesar 15%. Hal ini menunjukkan peranan kontrol diri terhadap perilaku cyberslacking sebesar 15%, selebihnya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Oleh karena itu, disarankan peneliti selanjutnya yang ingin meneliti cyberslacking untuk mengkaji variabel lain yang mungkin mempengaruhi cyberslacking. Saran DAFTAR PUSTAKA