GREENOMIKA, 2024, 06. https://journal. id/index. php/gnk | p-ISSN : 2657-0114 | e-ISSN : 2657-0122 ____________________________________________________________________________________ Optimalisasi Program Pengentasan Kemiskinan Melalui Pengelompokan Karakteristik Desa di Sekitar KEK Mandalika Optimization of Poverty Alleviation Programs Through the Classification of Village Characteristics Around the Mandalika Special Economic Zone (SEZ) Jhon Jhohan Putra Kumara Dewa1. Loetvy Wahyuningtiyas2. Alifan Cahyana. 1,2,3 Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota. Fakultas Teknik. Universitas Jember. Jember 68121. Indonesia Article info: Research Article DOI : 10. 55732/unu. Kata kunci: Pengembangan Pedesaan. Analisis Cluster. Kawasan Ekonomi Khusus Keywords: Rural Development. Cluster Analysis. Special Economic Zones (SEZ) Article history: Received: 11-12-2024 Accepted: 23-12-2024 *)Koresponden email: jhohan@unej. 2024 Jhon Jhoan Putra Kumara Dewa. Loetvy Wahyuningtiyas. Alifan Cahyana Creative Commons Licence This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 0 International License. Abstrak Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Kecamatan Pujut, merupakan KEK pariwisata dengan pembangunan yang pesat, diproyeksikan menyerap 194. 293 pekerja hingga tahun 2037. Namun, masih terdapat 7. 749 KK . ,56%) prasejahtera di kawasan pedesaan sekitarnya. Penelitian ini menganalisis strategi pengembangan pedesaan menggunakan analisis cluster (K-mean. dengan 5 variabel: jumlah masyarakat prasejahtera, fasilitas pariwisata, sarana perdagangan dan jasa, sarana akses modal dan keberadaan IKM/UMKM. Hasil penelitian mengelompokkan desa dalam 5 cluster dengan fokus berbeda: pengembangan IKM dan perdagangan, akses modal dan perdagangan, pariwisata dan tenaga kerja lokal, pelatihan kewirausahaan, serta optimalisasi akses modal untuk perdagangan. Pengelompokan ini bertujuan mengefisienkan program pengentasan kemiskinan di sekitar KEK Mandalika sebagai penyempurnaan regulasi yang lebih memperhatikan aspek sosial dan ekonomi masyarakat sekitar. Abstract The Mandalika Special Economic Zone (SEZ) in Pujut District is a tourism SEZ with rapid development, projected to absorb 194,293 workers by 2037. However, there are still 7,749 households . 56%) categorized as pre-prosperous in the surrounding rural This study analyzes rural development strategies using cluster analysis (K-mean. with 5 variables: number of pre-prosperous communities, tourism facilities, trade and service facilities, capital access facilities, and SME presence. The research grouped villages into 5 clusters with different focuses: SME and trade development, capital access and trade, tourism and local employment, entrepreneurship training, and optimization of capital access for This clustering aims to streamline poverty alleviation programs around the Mandalika SEZ as a regulatory improvement that pays more attention to the social and economic aspects of the surrounding communities. Kutipan: Dewa. Wahyuningtiyas. , & Cahyana. Optimization of Poverty Alleviation Programs Through the Classification of Village Characteristics Around the Mandalika Special Economic Zone (SEZ). GREENOMIKA, 6. , 135Ae142. https://doi. org/10. 55732/unu. Pendahuluan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika yang berlokasi di Kecamatan Pujut. Kabupaten Lombok Tengah, merupakan salah satu KEK yang diproyeksikan menjadi penggerak utama pembangunan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 52 tahun 2014 sebagai KEK zona pariwisata, pembangunan Mandalika menunjukkan perkembangan yang sangat pesat dibandingkan KEK lainnya di Indonesia (Jupir. Hal ini sejalan dengan temuan (Estriani, 2. yang mengidentifikasi KEK Mandalika sebagai model pengembangan destinasi pariwisata berkelanjutan yang integratif. Dewa. Wahyuningtiyas. Cahyana: Optimization of Poverty Alleviation Programs Througha. Dampak positif dari penetapan ini terlihat dari peningkatan signifikan jumlah kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, di Lombok Tengah - dari 21. 414 wisatawan pada tahun 2003 menjadi 153. 715 wisatawan pada tahun 2018, atau meningkat sebesar 717,18% (Statistik Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat 2019, 2. Fenomena ini mendukung penelitian (Sari, 2. yang mengungkapkan korelasi positif antara pembentukan KEK dengan peningkatan arus Sementara itu, (Rinuastuti et al. , 2. menekankan pentingnya pengelolaan destinasi wisata yang berkelanjutan untuk memastikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat lokal. Berdasarkan dokumen Instrumen Lengkap Pengendalian Pemanfaatan Ruang (ILP) Sekitar KEK Mandalika tahun 2018, proyeksi kebutuhan tenaga kerja hingga tahun 2037 mencapai 194. pekerja, meliputi pekerja konstruksi dan pekerja hotel (Kementerian ATR/BPN, 2. memproyeksikan multiplier effect dari pengembangan KEK terhadap penciptaan lapangan kerja. Penelitian (Suryade et al. , 2. juga mengonfirmasi potensi penyerapan tenaga kerja yang signifikan dalam pengembangan kawasan wisata terintegrasi. Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan kondisi yang kontras dengan potensi Data tahun 2019 mengungkapkan bahwa masih terdapat 2. 749 KK . ,56%) di kawasan perdesaan sekitar KEK Mandalika yang tergolong dalam kategori miskin atau prasejahtera (Badan Pusat Statistik, 2. Temuan ini diperkuat oleh penelitian (Irwan et al. , 2. yang mengidentifikasi kesenjangan sosial-ekonomi di kawasan sekitar KEK. Studi (Adisty et al. , 2. juga menemukan bahwa manfaat ekonomi dari pengembangan KEK belum terdistribusi secara merata kepada masyarakat lokal. Menurut (Schiller, 2. , tingkat kemiskinan atau pengangguran tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal individu seperti motivasi atau keterampilan, tetapi juga faktor eksternal. Argumen ini diperkuat oleh penelitian (Kaharuddin et al. , 2. yang menganalisis hambatan struktural dalam akses kesempatan ekonomi di kawasan wisata. Sementara itu, (Marwanti & Astuti, 2. mengidentifikasi pentingnya penguatan kapasitas masyarakat lokal dalam mengakses peluang ekonomi di kawasan wisata. Faktor eksternal tersebut dapat berupa hambatan sosial dalam mengakses kesempatan kerja serta kebijakan pemerintah yang berdampak pada penurunan pendapatan dan partisipasi kerja. Hal ini sejalan dengan temuan (Fairuza, 2. tentang peran crusial kebijakan inklusif dalam pengembangan kawasan wisata. Penelitian (Sari, 2. juga menekankan pentingnya harmonisasi kebijakan pembangunan dengan kepentingan masyarakat lokal. Sementara itu, (Kuncoro, 2. menegaskan bahwa keterbelakangan, ketidaksempurnaan pasar, dan kurangnya modal menjadi faktor-faktor kunci yang mempengaruhi kemiskinan. Analisis ini diperkuat oleh studi (Endah et al. , 2. yang mengidentifikasi hambatan struktural dalam pengembangan usaha mikro di kawasan wisata. Penelitian (Rahayu et al. , 2. juga menemukan korelasi antara akses permodalan dengan tingkat partisipasi ekonomi masyarakat lokal. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan strategi pengembangan kawasan perdesaan di sekitar KEK Mandalika yang mempertimbangkan karakteristik tiap desa berdasarkan aspek-aspek kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Rekomendasi ini didukung oleh penelitian (Supriyadi et al. tentang pendekatan berbasis komunitas dalam pengembangan destinasi wisata. Studi (Sukmayeti, 2. juga menekankan pentingnya pemetaan sosial-ekonomi dalam perencanaan pembangunan kawasan wisata. Strategi ini penting untuk memastikan program-program pengembangan yang dilakukan dapat berjalan efisien dan tepat sasaran. Hal ini sejalan dengan temuan (Winasis & Setyawan, 2. tentang efektivitas program pemberdayaan masyarakat di kawasan wisata. Sementara itu, penelitian (Fikriyani & Mussadun, 2. menggarisbawahi pentingnya monitoring dan evaluasi berkelanjutan dalam implementasi program pengembangan kawasan. Pemahaman mendalam tentang karakteristik masing-masing desa akan membantu dalam merumuskan kebijakan yang lebih efektif dalam mengurangi kesenjangan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar KEK Mandalika. Argumen ini diperkuat oleh studi (Wahyuningsih & Pradana, 2. tentang pendekatan berbasis evidence dalam perencanaan pembangunan kawasan wisata. Penelitian terkini dari (Meidwiarso, 2. juga menekankan pentingnya integrasi aspek sosial-budaya dalam strategi pengembangan destinasi wisata. Program pengembangan di kawasan wisata KEK Mandalika membutuhkan pendekatan yang lebih terstruktur dan efektif dalam implementasinya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk Dewa. Wahyuningtiyas. Cahyana: Optimization of Poverty Alleviation Programs Througha. menganalisis dan mengembangkan strategi pengembangan kawasan wisata KEK Mandalika yang Melalui pemahaman mendalam tentang karakteristik masing-masing desa dan integrasi aspek sosial-budaya, penelitian ini berupaya merumuskan kebijakan berbasis bukti yang dapat mengurangi kesenjangan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat, dengan tujuan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat di kawasan KEK Mandalika. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis cluster untuk mengelompokkan kawasan perdesaan berdasarkan karakteristiknya. Pengumpulan data dilakukan melalui survei sekunder dengan mengkaji dokumen-dokumen yang relevan, termasuk data dari Kecamatan Puju dalam Angka. Kecamatan Praya Timur dalam Angka 2019. Kecamatan Praya Barat dalam Angka 2019, dan Data Kemiskinan Bappeda Lombok Tengah 2019. Variabel yang digunakan dalam pengelompokan meliputi jumlah masyarakat prasejahtera, fasilitas pariwisata, sarana perdagangan dan jasa, industri/UMKM, dan sarana akses modal. Analisis cluster yang digunakan adalah Teknik K-means clustering, dimana kawasan perdesaan dikelompokan menjadi lima kluster berdasarkan kemiripan karakteristiknya. K-Means merupakan salah satu teknik dalam data mining yang melakukan proses analisis data tanpa supervisi, di mana pendekatannya terfokus pada pengelompokan berdasarkan kesamaan atau pola yang ada. Data-data yang memiliki sifat yang mirip akan dikelompokkan dalam satu cluster, sedangkan data yang memiliki perbedaan karakteristik akan ditempatkan dalam cluster yang berbeda (Ali et al. , 2. Metode ini dipilih karena kemampuannya dalam membentuk kelompok-kelompok yang homogen secara internal namun heterogenya antar kelompok. Perhitungan jarak antar objek menggunakan euclidean distance dengan data yang telah distandarisasi untuk menghindari bias akibat perbedaan satuan pengukuran. Proses clustering dilakukan menggunakan software SPSS dengan kriteria konvergensi berdasarkan perubahan pusat cluster. Gambar 1. Ilustrasi Eucledien Distance Setelah terbentuk cluster, dilakukan analisis karakteristik masing-masing kelompok melalui interpretasi nilai final cluster centers. Nilai di atas rata-rata pada variabel fasilitas diidentifikasi sebagai potensi, sementara nilai di atas rata-rata pada variabel jumlah masyarakat prasejahtera diidentifikasi sebagai masalah. Hasil pengelompokan ini kemudian mejadi dasar untuk merumuskan strategi optimalisasi yang spesifik untuk masing-masing cluster, dengan mempertimbangkan potensi dan permasalahan yang ada pada setiap kelompok desa. Hasil dan Pembahasan Hasil dan Pembahasan Hasil analisis cluster terhadap 36 desa di sekitar KEK Mandalika menghasilkan pengelompokan menjadi lima cluster dengan karakteristik yang berbeda. Cluster 1 terdiri dari 2 desa (Desa Beleka dan Desa Penuja. , memiliki potensi utama pada sarana perdagangan dan jasa, sarana akses modal, serta keberadaan IKM. Cluster 2 hanya terdiri dari 1 desa (Desa Batuja. dengan keunggulan pada sarana perdagangan dan jasa serta akses modal. Cluster 3 terdiri dari 2 desa (Desa Kuta dan Desa Dewa. Wahyuningtiyas. Cahyana: Optimization of Poverty Alleviation Programs Througha. Sengko. yang memiliki keunggulan pada fasilitas pariwisata, sarana perdagangan dan jasa, serta ketersediaan akses modal. Cluster 4 merupakan kelompok terbesar yang terdiri dari 24 desa dengan karakteristik yang menarik, dimana meskipun ketersediaan sarana penyerap kerja teridentifikasi semuanya di bawah rata-rata, namun jumlah masyarakat prasejahtera tidak sebanyak cluster lainnya. Sementara itu. Cluster 5 yang terdiri dari 7 desa (Desa Teruwai. Kawo. Semoyang. Ganti. Sengkerang. Mujur, dan Mangkun. memiliki potensi pada ketersediaan sarana perdagangan dan jasa serta sarana akses Cluster 1 Beleka Penujak Tabel 1. Hasil Pengelompokan Desa pada Masing-masing Cluster Cluster 2 Cluster 3 Cluster 4 Cluster 5 Batujai Kuta Tumpak Teruwai Sengkol Prabu Kawo Rembitan Semoyang Sukadana Ganti Mertak Sengkerang Pengengat Mujur Gapura Mangkung Segala Anyar Pengembur Ketara Tanak Awu Bangket Parak Kidang Bilelando Landah Marong Sukaraja Selong Belanak MekarSari Banyu Urip Kateng Bonder Setanggor Tanak Rararng Berdasarkan karakteristik tersebut, strategi pengembangan yang dirumuskan untuk masing-masing cluster memiliki penekanan yang berbeda. Cluster 1 diarahkan pada pengembangan IKM dan sarana perdagangan dan jasa melalui optimalisasi peningkatan modal pada masyarakat prasejahtera. Cluster 2 fokus pada pemberian akses modal diikuti ketersediaan tempat berdagang yang legal untuk masyarakat prasejahtera. Cluster 3 menekankan pada peningkatan penyerapan tenaga kerja lokal pada aktivitas kepariwisataan dan penyediaan akses berdagang untuk masyarakat lokal terutama Untuk Cluster 4, strategi yang dirumuskan adalah peningkatan kapasitas dan pelatihan kewirausahaan pada masyarakat prasejahtera untuk dapat mengembangkan kepariwisataan, aktivitas perdagangan dan jasa, serta UMKM. Sementara untuk Cluster 5, strategi ditekankan pada optimalisasi akses modal dalam pengembangan aktivitas perdagangan dan jasa. Perbedaan karakteristik antar cluster ini menunjukkan bahwa pendekatan one-size-fits-all tidak tepat diterapkan dalam pengembangan kawasan perdesaan di sekitar KEK Mandalika. Dewa. Wahyuningtiyas. Cahyana: Optimization of Poverty Alleviation Programs Througha. Tabel 2. Rumusan Strategi pada Masing-masing Cluster Kelompok Kekuatan/Potensi Rumusan Strategi Cluster 1 1. Sarana perdagangan Pengembangan IKM dan sarana perdagangan dan jasa dan jasa melalui optimalisasi peningkatan modal pada masyarakat pra Sarana akses modal Keberadaan IKM Cluster 2 1. Sarana perdagangan Pemberian akses modal diikuti ketersediaan tempat dan jasa berdagang yang legal untuk masyarakat pra sejahtera. Sarana akses modal Cluster 3 1. Ketersediaan fasilitas Peningkatan penyerapan tenaga kerja lokal pada aktivitas kepariwisataan dan penyediaan akses berdagang untuk Sarana perdagangan masyarakat lokal terutama pra sejahtera. dan jasa Sarana akses modal Cluster 4 1. Jumlah masyarakat pra Adanya sosialisasi, peningkatan kapasitas, dan pelatihan sejahtera di bawah rata- kewirausahaan pada masyarakat pra sejahtera untuk dapat berkembangnya kepariwisataan, aktivitas perdagangan dan serta UMKM. Cluster 5 1. Ketersediaan sarana Optimalisasi akses modal dalam pengembangan perdagangan dan jasa aktivitas perdagangan dan jasa. Sarana akses modal Temuan menarik dari hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun KEK Mandalika diproyeksikan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, masih terdapat kesenjangan yang signifikan dalam hal distribusi fasilitas dan infrastruktur pendukung ekonomi di desa-desa Hal ini tercermin dari dominasi Cluster 4 yang memiliki karakteristik sarana penyerap kerja di bawah rata-rata. Kondisi ini mengindikasikan perlunya perhatian khusus dalam hal pemerataan pembangunan infrastruktur dan fasilitas ekonomi di kawasan perdesaan sekitar KEK Mandalika. Hal ini sejalan dengan penelitian dari (Hidayat & Negara, 2. yang mengatakan bahwa Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) merupakan strategi pembangunan yang bertujuan menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui berbagai insentif fiskal dan non-fiskal, namun dalam implementasinya sering menghadapi tantangan berupa kesenjangan ekonomi. Kesenjangan ini terjadi akibat konsentrasi pembangunan infrastruktur yang tidak merata, keterbatasan akses terhadap fasilitas pendukung ekonomi di wilayah sekitar KEK, serta perbedaan kapasitas SDM antara kawasan KEK dan wilayah sekitarnya (Hizmi et al. , 2. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, diperlukan perencanaan terintegrasi yang mencakup pengembangan KEK dan wilayah sekitarnya, disertai dengan program penguatan kapasitas lokal dan perbaikan konektivitas antar (Nainggolan et al. , 2023. Zulkarnaen et al. , 2. Hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa desa-desa dengan akses modal yang baik cenderung memiliki aktivitas ekonomi yang lebih berkembang, sebagaimana terlihat pada karakteristik Cluster 1, 2, dan 3. Temuan ini memperkuat argumentasi pentingnya akses terhadap modal sebagai salah satu faktor kunci dalam pengembangan ekonomi perdesaan, sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Kuncoro . tentang pengaruh kurangnya modal terhadap kemiskinan. Desa-desa yang memiliki akses yang baik terhadap modal finansial menunjukkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan desa-desa yang mengalami keterbatasan akses modal (Nasution & Aida, 2. Ketersediaan layanan keuangan formal seperti bank dan koperasi di wilayah pedesaan terbukti mendorong peningkatan investasi produktif dan pengembangan usaha mikro kecil menengah (Mashigo & Kabir, 2. Penelitian di berbagai negara berkembang mengonfirmasi bahwa akses terhadap kredit mikro dan layanan keuangan inklusif berperan penting dalam mengentaskan kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja baru di desa (Khandker et al. , 1. Program pemberdayaan ekonomi desa yang didukung dengan skema Dewa. Wahyuningtiyas. Cahyana: Optimization of Poverty Alleviation Programs Througha. pembiayaan yang tepat terbukti efektif dalam mendiversifikasi sumber pendapatan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan rumah tangga pedesaan (Bakhtiar, 2. Kesimpulan Penelitian ini menghasilkan temuan penting terkait strategi pengembangan kawasan perdesaan di sekitar KEK Mandalika. Melalui analisis cluster dengan metode k-means, kawasan perdesaan berhasil dikelompokkan menjadi lima cluster berdasarkan karakteristik kemiskinan dan kesejahteraan masyarakat. Cluster 1 terdiri dari Desa Beleka dan Desa Penujak. Cluster 2 hanya mencakup Desa Batujai. Cluster 3 terdiri dari Desa Kuta dan Sengkol, sementara Cluster 4 merupakan kelompok terbesar dengan 24 desa, dan Cluster 5 mencakup Desa Teruwai. Kawo. Semoyang. Ganti. Sengkerang, dan Mujur. Setiap cluster memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda, sehingga memerlukan strategi pengembangan yang spesifik. Cluster 1 membutuhkan fokus pada pengembangan IKM dan sarana perdagangan/jasa melalui optimalisasi peningkatan modal untuk masyarakat prasejahtera. Cluster 2 memerlukan penekanan pada pemberian akses modal dan penyediaan tempat berdagang legal. Cluster 3 membutuhkan strategi peningkatan penyerapan tenaga kerja lokal di sektor pariwisata dan penyediaan akses berdagang. Cluster 4 memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif melalui sosialisasi, peningkatan kapasitas, dan pelatihan kewirausahaan. Sementara Cluster 5 membutuhkan optimalisasi akses modal untuk pengembangan perdagangan dan jasa. Pengelompokan ini memberikan kontribusi signifikan dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan perdesaan sekitar KEK Mandalika. Dengan memahami karakteristik masing-masing cluster, perumusan program pengembangan dapat dilakukan secara lebih efisien dan tepat sasaran. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan kebijakan dalam pengembangan kawasan perdesaan di sekitar KEK Mandalika, dengan mempertimbangkan keunikan dan tantangan spesifik yang dihadapi oleh masing-masing cluster. Penelitian ini juga memberikan kontribusi pada pengembangan teori-teori pembangunan ekonomi wilayah, pemberdayaan ekonomi lokal, dan pengentasan kemiskinan. Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi dampak jangka panjang dari implementasi strategi pengembangan berbasis cluster terhadap kesejahteraan masyarakat dan ketahanan ekonomi di kawasan perdesaan, dengan mempertimbangkan faktor eksternal seperti perubahan iklim dan dinamika pasar global. Daftar Pustaka