JURNAL IKTIBAR NUSNTARA E-ISSN: E-ISSN: 2964-5255 Editorial Address: Jl. Nyak Arief No 333. Jiulingke. Banda Aceh City Aceh Province Received: 07-03-2. Accepted: 28-04-2. Published: 14-05-2026 METODE PEMBELAJARAN TAHSIN AL-QURAoAN DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QURAoAN PADA PONDOK PESANTREN JAMIAH AL- AZIZIYAH BATEE ILIEK SAMALANGA KABUPATEN BIREUN Muhammad Reza Dosen Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia Email: rezasyarif36@gmail. Abstrak This study aims to analyze the tahsin Al-QurAoan learning method in improving the QurAoan reading ability of students at Pondok Pesantren Jamiah Al Aziziyah Batee Iliek. Bireuen Regency. This research is motivated by the importance of the ability to read the QurAoan properly and correctly in accordance with tajwid rules, as well as the need for effective tahsin learning methods to improve the quality of studentsAo QurAoan recitation. This study employed a qualitative approach using a case study design. Data collection techniques included interviews, observations, and documentation. The research participants consisted of the pesantren leaders, tahsin Al-QurAoan teachers, and students participating in tahsin learning activities. The data were analyzed through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that the tahsin learning methods implemented at Pondok Pesantren Jamiah Al Aziziyah Batee Iliek included talaqqi, musyafahah, habituation of QurAoan recitation, and periodic evaluation of recitation. The implementation of these methods was able to improve studentsAo QurAoan reading abilities, particularly in aspects of makharijul huruf, reading fluency, and the application of tajwid rules. In addition, the teacherAos role in providing intensive guidance and motivation became a supporting factor for the success of tahsin The findings of this study contribute to the development of QurAoan learning methods in Islamic boarding schools. This study concludes that structured and continuous tahsin learning methods are effective in improving studentsAo QurAoan reading abilities. Therefore, strengthening the competence of tahsin teachers and developing more innovative learning methods are necessary to enhance the quality of QurAoan learning in pesantren. Keywords: Tahsin Learning Method. Al-QurAoan Reading Ability,Tajwid. QurAoanic Learning. Santri Education. Iktibar Nusantara Journal Vol. No. 1, 2026 118 Muhammad Reza Metode Pembelajaran Tahsin Al-Quran Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis metode pembelajaran tahsin AlQurAoan dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-QurAoan santri di Pondok Pesantren Jamiah Al Aziziyah Batee Iliek Samalanga Kabupaten Bireuen. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kemampuan membaca Al-QurAoan yang baik dan benar sesuai kaidah tajwid, serta perlunya penerapan metode pembelajaran tahsin yang efektif dalam meningkatkan kualitas bacaan santri. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan Partisipan penelitian terdiri atas pimpinan pesantren, guru tahsin AlQurAoan, dan santri yang mengikuti pembelajaran tahsin. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pembelajaran tahsin yang diterapkan di Pondok Pesantren Jamiah Al Aziziyah Batee Iliek Samalanga meliputi metode talaqqi, musyafahah, pembiasaan membaca Al-QurAoan, serta evaluasi bacaan secara Penerapan metode tersebut mampu meningkatkan kemampuan membaca Al-QurAoan santri, khususnya dalam aspek makharijul huruf, kelancaran membaca, dan penerapan hukum tajwid. Selain itu, peran guru dalam memberikan bimbingan intensif dan motivasi menjadi faktor pendukung keberhasilan pembelajaran tahsin. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan metode pembelajaran Al-QurAoan di lingkungan pesantren. Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode pembelajaran tahsin yang terstruktur dan berkesinambungan efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-QurAoan santri. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kompetensi guru tahsin dan pengembangan metode pembelajaran yang lebih inovatif guna meningkatkan kualitas pembelajaran AlQurAoan di pesantren. Kata Kunci: Metode Pembelajaran Tahsin. Kemampuan Membaca Al-QurAoan. Tajwid. Pembelajaran Al-QurAoan. Pendidikan Santri. PENDAHULUAN Kemampuan membaca Al-QurAoan merupakan kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh setiap Muslim karena membaca Al-QurAoan tidak hanya berkaitan dengan aspek ibadah, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter, spiritualitas, dan moral peserta didik. Dalam konteks pendidikan Islam, pembelajaran Al-QurAoan memiliki posisi sentral sebagai fondasi utama dalam membangun pemahaman keagamaan yang benar. Namun demikian, perkembangan teknologi, perubahan pola belajar generasi muda, serta menurunnya minat membaca Al-QurAoan menyebabkan masih banyak peserta didik yang belum mampu membaca Al-QurAoan sesuai kaidah tajwid dan makharijul huruf yang benar. Fenomena ini menjadi perhatian serius dalam dunia pendidikan Islam, khususnya di lingkungan pesantren sebagai lembaga yang memiliki tanggung jawab besar dalam membina kemampuan membaca Al-QurAoan santri (Daud et al. , 2. Iktibar Nusantara Journal Vol. No. 1, 2026 | 119 Muhammad Reza Metode Pembelajaran Tahsin Al-Quran Secara nasional, persoalan rendahnya kemampuan membaca Al-QurAoan masih menjadi tantangan di berbagai lembaga pendidikan Islam. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak peserta didik mengalami kesulitan dalam pelafalan huruf hijaiyah, penerapan hukum tajwid, serta kelancaran membaca ayat Al-QurAoan. Penelitian yang dilakukan oleh Yanti. Risnawati, dan Asmuri . menunjukkan bahwa dari 59 siswa, hanya 23,7% yang mampu membaca Al-QurAoan dengan baik, sedangkan sebagian besar lainnya masih mengalami kesalahan dalam makharijul huruf dan hukum tajwid. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan membaca Al-QurAoan belum sepenuhnya optimal meskipun pembelajaran agama telah diberikan di sekolah maupun pesantren. Di lingkungan pesantren, pembelajaran tahsin Al-QurAoan menjadi salah satu strategi yang digunakan untuk meningkatkan kualitas bacaan santri. Tahsin merupakan proses memperbaiki bacaan Al-QurAoan agar sesuai dengan kaidah tajwid, fashahah, dan adab membaca yang benar. Metode tahsin tidak hanya menekankan aspek teoritis, tetapi juga praktik langsung melalui talaqqi, musyafahah, dan pembiasaan membaca secara berulang. Pendekatan ini dipandang efektif karena santri memperoleh bimbingan langsung dari guru sehingga kesalahan bacaan dapat segera diperbaiki. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa metode tahsin mampu meningkatkan kualitas bacaan santri secara signifikan, terutama dalam aspek pelafalan huruf dan penerapan hukum tajwid (Fathah, 2. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional memiliki karakteristik pembelajaran yang berbeda dibandingkan lembaga formal lainnya. Sistem pembelajaran berbasis kedekatan antara guru dan santri memungkinkan proses pembinaan bacaan Al-QurAoan dilakukan secara intensif dan berkelanjutan. Di Pondok Pesantren Jamiah Al Aziziyah Batee Iliek Kabupaten Bireuen, pembelajaran tahsin menjadi bagian penting dalam aktivitas pendidikan santri. Berdasarkan observasi awal, masih ditemukan beberapa santri yang mengalami kesulitan dalam membaca Al-QurAoan secara tartil, terutama pada aspek panjang pendek bacaan, makharijul huruf, dan hukum tajwid. Kondisi tersebut menjadi alasan penting perlunya penelitian mengenai metode pembelajaran tahsin yang diterapkan di pesantren tersebut. Fenomena rendahnya kemampuan membaca Al-QurAoan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor kemampuan individu santri, tetapi juga dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang digunakan guru. Metode yang monoton dan kurang variatif sering menyebabkan santri kurang termotivasi dalam belajar membaca AlQurAoan. Oleh sebab itu, pemilihan metode pembelajaran yang tepat menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran tahsin. Menurut teori konstruktivisme dalam pembelajaran, proses belajar akan lebih efektif apabila peserta didik terlibat langsung secara aktif dalam pengalaman belajar yang bermakna. Dalam konteks tahsin Al-QurAoan, keterlibatan aktif santri melalui praktik membaca, pengulangan, dan koreksi langsung menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas bacaan mereka (Syaifullah et al. , 2. Penelitian terdahulu telah banyak membahas tentang efektivitas metode tahsin dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-QurAoan. Penelitian Daud et . menemukan bahwa metode tahsin efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-QurAoan santri di Pondok Pesantren Hubulo. Penelitian lain juga menjelaskan bahwa penggunaan metode talaqqi dan musyafahah mampu membantu peserta didik memahami tajwid secara lebih baik karena adanya Iktibar Nusantara Journal Vol. No. 1, 2026 | 120 Muhammad Reza Metode Pembelajaran Tahsin Al-Quran interaksi langsung antara guru dan peserta didik. Akan tetapi, sebagian besar penelitian sebelumnya lebih menitikberatkan pada hasil pembelajaran, sedangkan kajian mengenai proses pembelajaran tahsin, pengalaman santri, serta faktor pendukung dan penghambat implementasi metode tahsin di pesantren masih relatif Selain itu, penelitian mengenai metode pembelajaran tahsin di pesantren wilayah Aceh, khususnya di Kabupaten Bireuen, masih belum banyak dilakukan. Padahal. Aceh dikenal sebagai daerah yang memiliki budaya pendidikan Islam yang kuat serta tradisi pembelajaran Al-QurAoan yang berkembang di lingkungan dayah dan pesantren. Setiap pesantren memiliki karakteristik metode pembelajaran yang berbeda sesuai dengan tradisi, kurikulum, dan pendekatan pendidikan yang Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk memahami secara mendalam bagaimana metode pembelajaran tahsin diterapkan di Pondok Pesantren Jamiah Al Aziziyah Batee Iliek Kabupaten Bireuen serta bagaimana proses tersebut berkontribusi terhadap peningkatan kemampuan membaca AlQurAoan santri. Dalam perspektif pendidikan Islam, kemampuan membaca Al-QurAoan bukan sekadar kemampuan teknis membaca teks Arab, tetapi juga bagian dari pembentukan karakter religius dan kecintaan terhadap Al-QurAoan. Pembelajaran tahsin yang dilakukan secara intensif dapat membentuk kebiasaan membaca AlQurAoan secara tartil dan disiplin. Selain itu, pembelajaran berbasis keteladanan guru juga memiliki pengaruh besar terhadap motivasi dan semangat belajar santri. Hubungan emosional antara guru dan santri dalam proses talaqqi menjadi salah satu ciri khas pembelajaran tahsin di pesantren yang tidak ditemukan dalam pembelajaran formal biasa (Kusuma & Astutik, 2. Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini digunakan untuk memahami secara mendalam proses pembelajaran tahsin, pengalaman santri, serta makna yang muncul dari interaksi antara guru dan santri dalam kegiatan pembelajaran Al-QurAoan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai dinamika pembelajaran tahsin di lingkungan pesantren. Dengan menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi, penelitian ini diharapkan mampu mengungkap realitas empiris terkait implementasi metode pembelajaran tahsin dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-QurAoan santri. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis metode pembelajaran tahsin Al-QurAoan dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-QurAoan santri di Pondok Pesantren Jamiah Al Aziziyah Batee Iliek Samalanga Kabupaten Bireuen. Fokus penelitian diarahkan pada proses penerapan metode tahsin, faktor pendukung dan penghambat pembelajaran, serta dampaknya terhadap kemampuan membaca Al-QurAoan santri. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan kajian pendidikan Islam, khususnya pembelajaran tahsin Al-QurAoan, serta memberikan kontribusi praktis bagi guru, pesantren, dan lembaga pendidikan Islam dalam mengembangkan metode pembelajaran Al-QurAoan yang lebih efektif dan inovatif. Iktibar Nusantara Journal Vol. No. 1, 2026 | 121 Muhammad Reza Metode Pembelajaran Tahsin Al-Quran METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Pendekatan studi kasus dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam proses penerapan metode pembelajaran tahsin AlQurAoan dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-QurAoan santri di Pondok Pesantren Jamiah Al Aziziyah Batee Iliek Samalanga Kabupaten Bireuen. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai pengalaman, interaksi, serta makna yang muncul dalam proses pembelajaran tahsin Al-QurAoan. Menurut Creswell, penelitian kualitatif digunakan untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan, sehingga sesuai digunakan dalam kajian pendidikan Islam yang menekankan proses dan pengalaman pembelajaran (Creswell & Creswell, 2. Penelitian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Jamiah Al Aziziyah Batee Iliek Kabupaten Bireuen. Aceh. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada pertimbangan bahwa pesantren tersebut memiliki program pembelajaran tahsin AlQurAoan yang diterapkan secara rutin kepada santri. Penelitian dilakukan selama tiga bulan, mulai dari Januari hingga Maret 2026. Subjek penelitian terdiri atas pimpinan pesantren, guru tahsin Al-QurAoan, dan santri yang aktif mengikuti kegiatan pembelajaran tahsin. Penentuan informan dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria tertentu, yaitu informan yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran tahsin dan memiliki pengalaman yang relevan dengan fokus penelitian. Teknik purposive sampling dipilih karena mampu membantu peneliti memperoleh data yang mendalam dan sesuai dengan kebutuhan penelitian (Sugiyono, 2. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Wawancara semi-terstruktur digunakan untuk menggali informasi terkait metode pembelajaran tahsin, proses pembelajaran, hambatan, serta pengalaman santri dan guru dalam kegiatan tahsin Al-QurAoan. Observasi partisipatif dilakukan dengan mengamati secara langsung aktivitas pembelajaran tahsin di kelas maupun di lingkungan pesantren guna memperoleh data yang bersifat kontekstual dan natural. Selain itu, dokumentasi digunakan untuk melengkapi data berupa jadwal kegiatan, catatan evaluasi pembelajaran, foto kegiatan, dan dokumen pendukung lainnya. Penggunaan berbagai teknik pengumpulan data bertujuan untuk memperoleh data yang lebih valid dan mendalam mengenai fenomena yang diteliti (Moleong, 2. Dalam menjaga keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dari pimpinan pesantren, guru tahsin, dan santri untuk memastikan konsistensi informasi. Sementara itu, triangulasi metode dilakukan dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Selain triangulasi, peneliti juga menggunakan teknik member checking dengan meminta informan memeriksa kembali hasil wawancara agar data yang diperoleh sesuai dengan pengalaman dan pandangan informan. Teknik validasi ini penting dilakukan untuk meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan terhadap hasil penelitian kualitatif (Lincoln & Guba, 2. Iktibar Nusantara Journal Vol. No. 1, 2026 | 122 Muhammad Reza Metode Pembelajaran Tahsin Al-Quran Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahap reduksi data, peneliti menyeleksi, memfokuskan, dan menyederhanakan data yang diperoleh dari lapangan sesuai fokus penelitian. Tahap penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian naratif sehingga memudahkan peneliti memahami hubungan antar data. Selanjutnya, penarikan kesimpulan dilakukan secara bertahap berdasarkan pola, tema, dan hubungan yang ditemukan selama proses penelitian Analisis data dilakukan secara terus-menerus sejak awal pengumpulan data hingga penelitian selesai sehingga menghasilkan temuan yang mendalam dan sistematis (Miles. Huberman, & Saldaya, 2. Melalui pendekatan metodologis tersebut, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang komprehensif mengenai implementasi metode pembelajaran tahsin Al-QurAoan dalam meningkatkan kemampuan membaca AlQurAoan santri di Pondok Pesantren Jamiah Al Aziziyah Batee Iliek Samalanga Kabupaten Bireuen. Selain itu, metodologi yang digunakan juga memungkinkan penelitian ini memiliki tingkat kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas yang baik sesuai dengan standar penelitian kualitatif. Dengan demikian, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi akademik dan praktis dalam pengembangan metode pembelajaran tahsin Al-QurAoan di lingkungan pesantren maupun lembaga pendidikan Islam lainnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pembelajaran tahsin Al-QurAoan di Pondok Pesantren Dayah Jamiah Al Aziziyah Batee Ilieuk Kabupaten Bireuen dilaksanakan melalui beberapa metode utama, yaitu talaqqi, musyafahah, pembiasaan membaca Al-QurAoan, dan evaluasi bacaan secara berkala. Proses pembelajaran dilakukan dengan cara guru membacakan ayat Al-QurAoan terlebih dahulu, kemudian santri menirukan bacaan tersebut secara berulang hingga pelafalan dianggap benar sesuai kaidah tajwid dan makharijul huruf. Berdasarkan hasil observasi, pembelajaran tahsin berlangsung secara intensif dengan interaksi langsung antara guru dan santri. Tgk. Muhammad Haikal menjelaskan bahwa Ausantri lebih mudah memahami bacaan ketika mereka langsung mendengar contoh bacaan dari guru, kemudian diperbaiki satu per satu kesalahan bacaannya. Ay Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan talaqqi dan musyafahah masih menjadi metode utama dalam pembelajaran tahsin karena dinilai efektif dalam memperbaiki kesalahan bacaan santri secara langsung. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa pembiasaan membaca AlQurAoan secara rutin menjadi faktor penting dalam meningkatkan kemampuan membaca santri. Santri diwajibkan mengikuti kegiatan membaca Al-QurAoan setiap hari setelah salat Insya,Kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kelancaran membaca, tetapi juga membangun kedisiplinan dan kecintaan terhadap Al-QurAoan. Berdasarkan wawancara dengan salah seorang santri yang bernama Rasya,Mengemukakan bahwa Auawalnya sulit membaca panjang pendek ayat, tetapi setelah sering dibimbing dan mengulang bacaan setiap hari, bacaan menjadi lebih Ay Dari hasil observasi, peneliti menemukan bahwa pembiasaan membaca secara terus-menerus membantu santri lebih cepat memahami hukum tajwid dan Iktibar Nusantara Journal Vol. No. 1, 2026 | 123 Muhammad Reza Metode Pembelajaran Tahsin Al-Quran memperbaiki makharijul huruf. Hal ini menunjukkan bahwa proses pengulangan dalam pembelajaran tahsin memiliki pengaruh besar terhadap peningkatan kualitas bacaan Al-QurAoan santri. Selain faktor metode pembelajaran, penelitian ini menemukan bahwa peran guru sangat menentukan keberhasilan pembelajaran tahsin Al-QurAoan. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing dan motivator bagi santri. Berdasarkan hasil wawancara, guru tahsin secara aktif memberikan motivasi kepada santri agar terus memperbaiki bacaan mereka dan tidak merasa malu ketika melakukan kesalahan. Pendekatan emosional antara guru dan santri menciptakan suasana pembelajaran yang nyaman dan kondusif. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan beberapa hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran tahsin, seperti perbedaan kemampuan dasar membaca Al-QurAoan antar santri, kurangnya rasa percaya diri sebagian santri, serta keterbatasan waktu pembelajaran karena padatnya kegiatan pesantren. Untuk mengatasi hambatan tersebut, guru melakukan pembelajaran tambahan bagi santri yang masih mengalami kesulitan membaca Al-QurAoan. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori konstruktivisme yang menekankan bahwa proses belajar akan lebih efektif apabila peserta didik terlibat secara aktif dalam pengalaman belajar secara langsung. Dalam konteks pembelajaran tahsin AlQurAoan, keterlibatan aktif santri melalui praktik membaca, pengulangan, dan koreksi langsung dari guru terbukti mampu meningkatkan kemampuan membaca Al-QurAoan secara bertahap. Temuan penelitian ini juga mendukung penelitian Daud et al. yang menyatakan bahwa metode tahsin efektif dalam meningkatkan kualitas bacaan Al-QurAoan santri melalui pendekatan talaqqi dan pembiasaan membaca secara rutin. Selain itu, penelitian ini memperkuat pendapat Fathah . bahwa pembelajaran tahsin yang dilakukan secara intensif dapat membantu peserta didik memahami makharijul huruf dan hukum tajwid dengan lebih baik. Meskipun demikian, penelitian ini menemukan perspektif baru bahwa keberhasilan pembelajaran tahsin tidak hanya ditentukan oleh metode pembelajaran, tetapi juga dipengaruhi oleh hubungan interpersonal antara guru dan Interaksi yang harmonis menciptakan rasa nyaman bagi santri dalam belajar dan memudahkan proses perbaikan bacaan. Temuan ini berbeda dengan sebagian penelitian sebelumnya yang lebih banyak menekankan aspek teknis metode pembelajaran tanpa mengkaji secara mendalam dimensi emosional dalam proses pembelajaran tahsin. Dalam konteks sosial budaya pesantren, hubungan guru dan santri yang bersifat kekeluargaan menjadi salah satu kekuatan utama dalam mendukung keberhasilan pembelajaran Al-QurAoan. Oleh karena itu, pembelajaran tahsin tidak hanya dipahami sebagai proses transfer ilmu, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter religius dan kedisiplinan santri. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan implikasi bahwa pembelajaran tahsin Al-QurAoan perlu dilakukan secara terstruktur, berkelanjutan, dan didukung oleh pembiasaan membaca Al-QurAoan dalam kehidupan sehari-hari Pesantren juga perlu meningkatkan kompetensi guru tahsin serta menyediakan waktu khusus untuk pembinaan bacaan Al-QurAoan secara intensif. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya kajian pendidikan Islam khususnya mengenai metode pembelajaran tahsin Al-QurAoan di lingkungan pesantren. Penelitian ini masih memiliki keterbatasan karena hanya dilakukan pada satu pesantren dengan jumlah informan terbatas. Oleh sebab itu, penelitian selanjutnya Iktibar Nusantara Journal Vol. No. 1, 2026 | 124 Muhammad Reza Metode Pembelajaran Tahsin Al-Quran disarankan untuk mengkaji metode pembelajaran tahsin pada berbagai jenis pesantren atau lembaga pendidikan Islam lainnya agar diperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai efektivitas pembelajaran tahsin Al-QurAoan dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-QurAoan peserta didik. Foktor-Faktor Pendukung Pogram Tahsin Al QurAoan Program tahsin Al-QurAoan di pondok pesantren dapat berjalan dengan baik apabila didukung oleh kompetensi guru tahsin yang memadai. Guru yang memiliki kemampuan membaca Al-QurAoan secara benar sesuai kaidah tajwid dan makharijul huruf akan lebih mudah membimbing santri dalam memperbaiki bacaan mereka. Selain kemampuan akademik, sikap sabar, telaten, dan konsisten dalam mengajar juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan program tahsin. Guru yang mampu memberikan contoh bacaan yang baik dan melakukan koreksi secara langsung akan membantu santri memahami kesalahan bacaan mereka dengan lebih cepat. Dalam pembelajaran tahsin, keteladanan guru menjadi aspek yang sangat berpengaruh karena santri cenderung meniru cara membaca dan sikap guru ketika membaca AlQurAoan. Faktor pendukung berikutnya adalah adanya pembiasaan membaca AlQurAoan secara rutin di lingkungan pesantren. Kegiatan membaca Al-QurAoan yang dilakukan setiap hari, baik setelah salat berjamaah maupun dalam halaqah tahsin, membantu santri meningkatkan kelancaran membaca dan memperkuat pemahaman Pembiasaan tersebut menciptakan budaya QurAoani di lingkungan pesantren sehingga santri terbiasa berinteraksi dengan Al-QurAoan dalam kehidupan seharihari. Semakin sering santri membaca dan mengulang bacaan, maka kemampuan membaca Al-QurAoan mereka akan semakin meningkat. Pembiasaan ini juga membantu santri menjaga hafalan hukum tajwid dan melatih kefasihan dalam pelafalan huruf hijaiyah. Lingkungan pesantren yang religius dan kondusif juga menjadi faktor pendukung utama dalam program tahsin Al-QurAoan. Suasana pesantren yang Iktibar Nusantara Journal Vol. No. 1, 2026 | 125 Muhammad Reza Metode Pembelajaran Tahsin Al-Quran dipenuhi kegiatan keagamaan membuat santri lebih termotivasi untuk belajar membaca Al-QurAoan dengan baik dan benar. Interaksi sehari-hari dengan guru dan teman-teman yang sama-sama belajar Al-QurAoan menciptakan semangat belajar yang tinggi. Selain itu, budaya saling mengingatkan dan murojaAoah bersama antar santri membantu meningkatkan kualitas bacaan Al-QurAoan mereka. Lingkungan yang positif seperti ini sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran tahsin karena santri merasa didukung dan termotivasi untuk terus belajar. Ketersediaan sarana dan fasilitas pembelajaran yang memadai juga menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan program tahsin. Adanya mushaf AlQurAoan, buku tajwid, ruang belajar yang nyaman, papan tulis, serta media audio murottal membantu proses pembelajaran berjalan lebih efektif. Penggunaan media pembelajaran modern, seperti speaker atau rekaman qari, dapat membantu santri mendengarkan contoh bacaan Al-QurAoan yang baik dan benar. Selain itu, fasilitas yang memadai membuat proses belajar menjadi lebih nyaman sehingga santri lebih fokus dalam mengikuti pembelajaran tahsin Al-QurAoan. Motivasi dan semangat belajar santri menjadi faktor pendukung yang sangat penting dalam keberhasilan program tahsin. Santri yang memiliki keinginan kuat untuk memperbaiki bacaan Al-QurAoan akan lebih aktif mengikuti pembelajaran dan lebih cepat mengalami perkembangan kemampuan membaca. Motivasi tersebut dapat muncul dari kesadaran pribadi tentang pentingnya membaca Al-QurAoan dengan benar, maupun dari dorongan guru dan lingkungan pesantren. Santri yang termotivasi biasanya lebih rajin mengulang bacaan, bertanya kepada guru ketika mengalami kesulitan, dan berusaha memperbaiki kesalahan bacaan secara terusmenerus. Dukungan dari pihak pimpinan pesantren juga menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan program tahsin Al-QurAoan. Pimpinan pesantren yang memberikan perhatian khusus terhadap pembelajaran Al-QurAoan biasanya menyediakan jadwal khusus tahsin, mendatangkan guru yang kompeten, serta melakukan evaluasi rutin terhadap perkembangan bacaan santri. Kebijakan pesantren yang mewajibkan santri mengikuti kegiatan tahsin secara rutin membantu menciptakan disiplin dalam belajar Al-QurAoan. Selain itu, dukungan penuh dari lembaga pesantren memberikan semangat kepada guru dan santri untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran tahsin. Iktibar Nusantara Journal Vol. No. 1, 2026 | 126 Muhammad Reza Metode Pembelajaran Tahsin Al-Quran Faktor pendukung lainnya adalah adanya hubungan emosional yang baik antara guru dan santri. Dalam tradisi pesantren, hubungan antara guru dan santri tidak hanya sebatas hubungan akademik, tetapi juga hubungan yang bersifat kekeluargaan dan spiritual. Guru yang dekat dengan santri akan lebih mudah memahami kesulitan yang dialami santri dalam belajar membaca Al-QurAoan. Sebaliknya, santri juga merasa lebih nyaman dan percaya diri ketika belajar dengan guru yang ramah dan penuh perhatian. Hubungan yang harmonis ini menciptakan suasana pembelajaran yang positif dan membantu santri lebih mudah menerima arahan serta koreksi dari guru. Selain itu, dukungan dari orang tua juga memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan program tahsin Al-QurAoan di pondok pesantren. Orang tua yang memberikan motivasi dan perhatian terhadap perkembangan bacaan Al-QurAoan anak akan membantu meningkatkan semangat belajar santri. Ketika santri pulang ke rumah, pembiasaan membaca Al-QurAoan yang dilakukan bersama keluarga dapat membantu menjaga dan meningkatkan kemampuan membaca mereka. Kerja sama antara orang tua dan pihak pesantren dalam mendukung program tahsin menciptakan lingkungan pendidikan yang saling melengkapi sehingga tujuan pembelajaran Al-QurAoan dapat tercapai secara optimal. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran tahsin Al-QurAoan yang diterapkan di Pondok Pesantren Dayah Jamiah Al Aziziyah Batee Ilieuk Kabupaten Bireuen memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-QurAoan santri. Metode yang digunakan, seperti talaqqi, musyafahah, pembiasaan membaca Al-QurAoan, dan evaluasi bacaan secara berkala, terbukti mampu membantu santri memperbaiki makharijul huruf, penerapan hukum tajwid, serta kelancaran membaca Al-QurAoan. Proses pembelajaran yang dilakukan secara intensif dan berulang memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas bacaan santri secara bertahap. Iktibar Nusantara Journal Vol. No. 1, 2026 | 127 Muhammad Reza Metode Pembelajaran Tahsin Al-Quran Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran tahsin tidak hanya dipengaruhi oleh metode yang digunakan, tetapi juga oleh peran guru sebagai pembimbing dan motivator. Hubungan interpersonal yang baik antara guru dan santri menciptakan suasana pembelajaran yang nyaman sehingga santri lebih percaya diri dalam memperbaiki bacaan mereka. Selain itu, pembiasaan membaca Al-QurAoan dalam aktivitas sehari-hari di pesantren menjadi faktor pendukung yang memperkuat proses peningkatan kemampuan membaca Al-QurAoan santri. Secara teoretis, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian pendidikan Islam, khususnya mengenai metode pembelajaran tahsin Al-QurAoan di lingkungan pesantren. Temuan penelitian memperkuat teori konstruktivisme yang menekankan pentingnya keterlibatan aktif peserta didik dalam proses pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran tahsin, keterlibatan santri melalui praktik membaca, pengulangan, dan koreksi langsung dari guru terbukti efektif dalam membentuk kemampuan membaca Al-QurAoan yang baik dan benar sesuai kaidah tajwid. Secara praktis, penelitian ini memberikan implikasi bagi lembaga pendidikan Islam, khususnya pesantren, agar terus mengembangkan metode pembelajaran tahsin yang lebih efektif, terstruktur, dan berkelanjutan. Pesantren perlu meningkatkan kompetensi guru tahsin, menyediakan waktu pembelajaran yang memadai, serta menciptakan lingkungan yang mendukung pembiasaan membaca Al-QurAoan. Selain itu, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengelola pendidikan Islam dalam merancang program pembelajaran Al-QurAoan yang lebih inovatif dan sesuai dengan kebutuhan santri. Penelitian ini masih memiliki keterbatasan karena hanya dilakukan pada satu pesantren dengan jumlah informan yang terbatas. Oleh sebab itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas lokasi penelitian pada berbagai jenis pesantren atau lembaga pendidikan Islam lainnya sehingga diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai implementasi metode pembelajaran tahsin AlQurAoan. Penelitian lanjutan juga dapat mengkaji pengaruh penggunaan media pembelajaran modern atau teknologi digital dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran tahsin Al-QurAoan di era perkembangan teknologi saat ini. DAFTAR PUSTAKA