Jurnal Pariwisata Indonesia Vol . 21 No. 1 Tahun 2025 Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta http://jurnal. ISSN: 1907-2457 (Prin. ISSN: 2581-2688 (Onlin. PENGEMBANGAN PARIWISATA REGENERATIF BERBASIS KOMUNITAS DALAM KONTEKS DISRUPSI DIGITAL DAN KRISIS LINGKUNGAN (STUDI KASUS EKOWISATA MANGROVE BELAWAN SICANANG. MEDAN. SUMATERA UTARA) Amanda Dian Sucia1. Gitasiswara Widjana2 . Rini Andari3 Magister Pariwisata. Universitas Pendidikan Indonesia1,2,3 amandadiansucia@upi. edu1, wa_egha@upi. edu2,riniandari@upi. Abstrak Pariwisata regeneratif merupakan pendekatan transformasional yang tidak hanya bertujuan mengurangi dampak negatif pariwisata, tetapi juga secara aktif memulihkan dan memperkuat sistem sosial-ekologis di destinasi wisata. Artikel ini bertujuan menganalisis strategi, dampak, tantangan, dan peluang dari implementasi pariwisata regeneratif berbasis komunitas di Kawasan Ekowisata Mangrove Belawan Sicanang. Kota Medan, dengan menyoroti konteks disrupsi digital dan pasca pandemi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus, analisis dokumen, observasi partisipatif, serta triangulasi literatur akademik. Temuan menunjukkan bahwa praktik-praktik seperti restorasi mangrove, pelibatan Pokdarwis, promosi digital, dan pelestarian budaya lokal memperkuat regenerasi lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun tantangan struktural seperti minimnya infrastruktur digital, keterbatasan literasi teknologi, serta ketiadaan kebijakan nasional yang eksplisit tentang pariwisata regeneratif perlu ditangani melalui kebijakan afirmatif dan kolaborasi multisektor. Kata Kunci: Pariwisata Regeneratif. Mangrove. Belawan Sicanang. Komunitas Lokal. Digitalisasi Abstract Regenerative tourism is a transformational approach that not only aims to minimize the negative impacts of tourism, but also actively restores and strengthens the socio-ecological systems of tourism destinations. This article examines the strategies, impacts, challenges, and opportunities of community-based regenerative tourism implementation in the Mangrove Ecotourism Area of Belawan Sicanang. Medan City, highlighting the context of digital disruption and the post-pandemic era. This study adopts a descriptive qualitative method through case study, document analysis, participatory observation, and academic literature triangulation. Findings reveal that practices such as mangrove restoration. Pokdarwis involvement, digital promotion, and cultural preservation have strengthened environmental regeneration while improving community welfare. However, structural challenges such as limited digital infrastructure, low technology literacy, and the absence of explicit national policy on regenerative tourism need to be addressed through affirmative policies and multisectoral collaboration. Keywords: Regenerative Tourism. Mangrove. Belawan Sicanang. Local Communities. Digitalization Jurnal Pariwisata Indonesia. Vol 21. No. Jurnal Pariwisata Indonesia Vol . 21 No. 1 Tahun 2025 Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta http://jurnal. ISSN: 1907-2457 (Prin. ISSN: 2581-2688 (Onlin. PENDAHULUAN Perkembangan industri pariwisata global selama beberapa dekade terakhir telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan peningkatan mobilitas sosial. Namun, di balik pencapaian tersebut, terdapat konsekuensi ekologis dan sosial-budaya yang kompleks. Aktivitas pariwisata yang tidak terkendali sering kali menyebabkan degradasi lingkungan seperti deforestasi, pencemaran perairan, dan kerusakan habitat alami. Secara sosial, pariwisata konvensional telah memicu marginalisasi masyarakat adat dan lokal, memunculkan ketimpangan komodifikasi dan homogenisasi budaya yang mereduksi kekayaan identitas Berbagai studi menegaskan pariwisata yang hanya mengejar pertumbuhan volume wisatawan telah usang dan memerlukan paradigma baru yang lebih transformatif dan berkeadilan. Sebagai tantangan tersebut, muncullah konsep regenerative tourism atau pariwisata Berbeda dengan pendekatan berkelanjutan . ustainable touris. yang berupaya menjaga keseimbangan dan pariwisata regeneratif secara aktif bertujuan memperbaiki dan membangun kembali sistem sosial-ekologis di destinasi wisata. Pendekatan ini menekankan pada partisipasi mendalam komunitas lokal sebagai subjek utama pembangunan, restorasi ekosistem, integrasi nilai-nilai budaya dan spiritual lokal, serta penciptaan nilai tambah ekologis dan sosial yang berkelanjutan. Pariwisata regeneratif bukan hanya bertujuan Autidak merusakAy, melainkan AumenyembuhkanAy dan memperkaya lingkungan serta masyarakat tempat pariwisata berlangsung (Suryani, dkk. Dalam konteks Indonesia, yang memiliki keragaman ekosistem dan budaya yang sangat tinggi, pendekatan pariwisata regeneratif menjadi sangat Salah satu wilayah yang menarik untuk dikaji adalah Kelurahan Belawan Sicanang, yang terletak di pesisir utara Kota Medan. Provinsi Sumatera Utara. Kawasan ini memiliki potensi ekosistem mangrove yang luas dan beragam, namun juga menghadapi tekanan serius dari urbanisasi, konversi lahan menjadi industri dan pelabuhan, serta pencemaran limbah domestik dan industri. Mangrove di wilayah ini bukan hanya memiliki fungsi ekologis sebagai pelindung pantai dari abrasi dan penyerap karbon, tetapi juga mengandung nilai sosial dan budaya yang penting bagi masyarakat nelayan local (Peranginangin, 2. Sejak pertengahan dekade terakhir, berbasis komunitas mulai tumbuh di Belawan Sicanang, dipelopori oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. dan didukung oleh pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta LSM lingkungan. Konsep pengelolaan wisata yang diusung tidak lagi berorientasi pada profit semata, lingkungan melalui program edukasi, penanaman kembali mangrove, dan penguatan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan aktif sebagai pemandu, pengrajin, dan penyedia jasa wisata. Pendekatan ini mencerminkan prinsipprinsip regeneratif: yaitu keberlanjutan yang berbasis pada pemulihan dan Jurnal Pariwisata Indonesia. Vol 21. No. Jurnal Pariwisata Indonesia Vol . 21 No. 1 Tahun 2025 Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta http://jurnal. ISSN: 1907-2457 (Prin. ISSN: 2581-2688 (Onlin. keadilan sosial-ekologis (Peranginangin, kelembagaan lokal yang membentuk praktik regeneratif. Dalam era disrupsi digital dan perubahan iklim global, pariwisata regeneratif di Belawan Sicanang menghadapi tantangan dan peluang baru. Di satu sisi, teknologi digital membuka peluang luas untuk promosi destinasi, sistem reservasi daring, pelatihan digital, serta penguatan jejaring komunitas. sisi lain, rendahnya literasi digital, absennya kerangka kebijakan nasional yang mendukung pariwisata regeneratif menjadi kendala struktural yang harus Oleh karena itu, artikel ini disusun untuk menganalisis secara sistematis praktik-praktik pariwisata regeneratif di Belawan Sicanang dengan lingkungan makro dan mikro, guna memahami dinamika lokal dan kebijakan yang berpengaruh terhadap keberlanjutan dan replikasi model serupa di kawasan pesisir Indonesia lainnya. Fasilitas utama di Ekowisata Mangrove Belawan Sicanang. Medan Belawan. Terlihat pondokpondok wisata berbahan bambu dan kayu yang dibangun di atas perairan, dikelilingi oleh vegetasi mangrove yang lebat. (Dokumentasi pribadi, 2. METODE PENELITIAN Pendekatan dan Lokasi Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus untuk memperoleh pemahaman mendalam terhadap praktik pariwisata regeneratif di Kelurahan Belawan Sicanang. Kecamatan Medan Belawan. Kota Medan. Sumatera Utara. Lokasi ini dipilih karena memiliki karakteristik ekosistem mangrove yang terancam dan komunitas lokal yang aktif dalam Pendekatan memungkinkan peneliti menggali data kontekstual mengenai interaksi antara masyarakat, lingkungan, dan dinamika Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama (Sembiring. Peranginangin, & Kartika, 2. Observasi Partisipatif: Peneliti terlibat secara langsung dalam kegiatan ekowisata seperti tur edukatif, penanaman mangrove, dan diskusi kelompok bersama Pokdarwis, untuk menangkap dinamika interaksi sosial, praktik konservasi, dan pengalaman Jurnal Pariwisata Indonesia. Vol 21. No. Jurnal Pariwisata Indonesia Vol . 21 No. 1 Tahun 2025 Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta http://jurnal. ISSN: 1907-2457 (Prin. ISSN: 2581-2688 (Onlin. Studi Dokumentasi: Data diperoleh dari dokumen resmi Pokdarwis Belawan Sicanang, laporan kegiatan, daerah, serta kebijakan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Literatur akademik dan laporan dari lembaga internasional seperti UNWTO dan WTTC juga digunakan sebagai referensi Kajian Literatur: Peneliti menelaah jurnal ilmiah nasional dan internasional yang relevan, seperti studi tentang pariwisata regeneratif, pengelolaan kawasan mangrove, dan pemberdayaan Teknik Analisis Data Tabel 1. Analisis SWOT Pengembangan Ekowisata Regeneratif Belawan Sicanang Kekuatan (Strength. Keterlibatan aktif komunitas (Pokdarwi. Potensi mangrove yang luas dan alami Kelemahan (Weaknesse. Minimnya infrastruktur digital Ketergantungan pada dukungan Tabel 2. Analisis PESTEL Ekowisata Regeneratif Belawan Sicanang Aspek Politik Ekonomi Analisis triangulatif dengan menggabungkan beberapa pendekatan analitis: Sosial Analisis SWOT digunakan untuk ancaman dari sistem pariwisata regeneratif lokal. Analisis PESTEL menganalisis mempengaruhi pengembangan destinasi, yaitu aspek Politik. Ekonomi. Sosial. Teknologi. Lingkungan, dan Legalitas. PorterAos Five Forces diterapkan untuk mengevaluasi dinamika kompetisi dan posisi tawar pelaku wisata pada tingkat lokal, meliputi pesaing, pelanggan, hambatan masuk. Teknologi Lingkungan Legal Jurnal Pariwisata Indonesia. Vol 21. No. Uraian Dukungan Pemkot Medan namun belum ada regulasi nasional eksplisit Peluang usaha UMKM, Keterlibatan generasi muda dan pelestarian budaya Pemanfaatan media sosial dan kendala literasi Rehabilitasi abrasi dan Belum ada standar hukum nasional tentang wisata Jurnal Pariwisata Indonesia Vol . 21 No. 1 Tahun 2025 Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta http://jurnal. ISSN: 1907-2457 (Prin. ISSN: 2581-2688 (Onlin. Tabel 3. Analisis Lingkungan Mikro Berdasarkan PorterAos Five Forces Aspek Pesaing Pelanggan Pemasok Produk Substitusi Hambatan Masuk Uraian Wisata massal menjadi pesaing Generasi milenial & Gen Z yang sadar lingkungan. UMKM lokal sebagai penyedia utama jasa. Wisata urban modern dan Perlu pelatihan, teknologi, dan modal awal. Tabel 4. Dampak Regeneratif Pengembangan Ekowisata Kategori Dampak Ekologis Sosial Budaya Uraian Rehabilitasi mangrove, kualitas udara & perairan Peningkatan kapasitas, kerja Revitalisasi narasi lokal, seni identitas budaya. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Lingkungan Makro Ekonomi Model pariwisata regeneratif di Belawan Sicanang telah menciptakan diversifikasi ekonomi lokal melalui penyediaan jasa pemanduan wisata, penyediaan homestay oleh warga, produksi kuliner khas berbasis laut . eperti ikan asap dan sambal mangrov. , serta kerajinan tangan berbahan alami. Sistem ekonomi lokal yang tumbuh dari pariwisata ini memperpendek rantai distribusi dan meningkatkan perputaran ekonomi di tingkat komunitas. Model kolaboratif antara Pokdarwis dan UMKM lokal juga mengurangi ketergantungan pada aktor Sosial Budaya Wisata regeneratif memperkuat kohesi sosial dan identitas budaya lokal. Kegiatan pelestarian cerita rakyat, pementasan seni tradisional, dan tur memulihkan narasi kolektif masyarakat. Namun demikian, perlu ada pengawasan terhadap komodifikasi budaya agar tidak terjadi eksploitasi simbolik yang mereduksi makna spiritual budaya lokal. Teknologi Pemanfaatan teknologi digital masih terbatas namun menunjukkan tren yang Komunitas mulai memanfaatkan media sosial untuk promosi, sistem booking sederhana melalui WhatsApp Business, dan pelatihan digitalisasi produk untuk UMKM. Tantangan utama adalah ketimpangan akses internet dan rendahnya literasi digital, yang dapat Jurnal Pariwisata Indonesia. Vol 21. No. Jurnal Pariwisata Indonesia Vol . 21 No. 1 Tahun 2025 Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta http://jurnal. ISSN: 1907-2457 (Prin. ISSN: 2581-2688 (Onlin. diatasi melalui Lingkungan Ekowisata Belawan Sicanang secara nyata telah memberikan kontribusi Penanaman mangrove dilakukan secara kolektif dengan melibatkan wisatawan. Konservasi pemilahan sampah, dan kampanye edukasi lingkungan. Hasilnya, kualitas air dan tanah membaik, serta terjadi peningkatan populasi fauna laut di sekitar Hukum dan Kebijakan Pemerintah Kota Medan mendukung inisiatif ekowisata melalui penyuluhan, pelatihan pengelolaan Pokdarwis, dan pengakuan status kawasan sebagai destinasi prioritas. Namun, secara nasional belum terdapat regulasi spesifik keberhasilan pariwisata regeneratif, yang mengakibatkan lemahnya perlindungan hukum terhadap inisiatif lokal. Analisis Lingkungan Mikro Aspek Uraian Wisata dengan volume tinggi menjadi ancaman bagi Pesaing model regeneratif yang lebih terbatas secara daya Segmen utama terdiri dari wisatawan muda, pelajar. Pelanggan peneliti, dan komunitas mengutamakan pengalaman berbasis nilai. UMKM lokal menyediakan kebutuhan wisatawan mulai Pemasok dari makanan, suvenir, hingga jasa transportasi Pokdarwis berperan sebagai lembaga pengelola utama, bekerja sama dengan LSM. Organisasi pemerintah kota. Tata kelola dilakukan secara musyawarah warga. Dampak Regeneratif Ekologis: Terjadi rehabilitasi kawasan pesisir, penurunan abrasi, serta pemanfaatan sumber sederhana . eperti panel surya mini di pos wisat. Sosial: Munculnya lapangan pemuda dalam sektor wisata, serta tumbuhnya solidaritas sosial lintas generasi. Budaya: Kegiatan tenun mangrove, pertunjukan musik bambu, dan merevitalisasi nilai-nilai budaya lokal dan menjadi atraksi Tantangan dan Peluang Kategori Uraian Tidak adanya kebijakan nasional yang menjadi Tantangan payung hukum bagi praktek kesenjangan literasi digital. Jurnal Pariwisata Indonesia. Vol 21. No. Jurnal Pariwisata Indonesia Vol . 21 No. 1 Tahun 2025 Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta http://jurnal. ISSN: 1907-2457 (Prin. ISSN: 2581-2688 (Onlin. Peluang Meningkatnya kesadaran wisatawan global terhadap isu keberlanjutan. dan potensi replikasi model Belawan Sicanang di kawasan pesisir KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata regeneratif di Ekowisata Mangrove Belawan Sicanang telah memberikan kontribusi nyata terhadap pemulihan ekosistem pesisir dan pemberdayaan masyarakat lokal. Pendekatan regeneratif yang diterapkan melalui pelibatan aktif Pokdarwis, pengelolaan berbasis nilai-nilai lokal, serta pemanfaatan teknologi digital secara bertahap mampu menciptakan ekosistem wisata yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga inklusif secara sosial dan berdaya secara ekonomi. Kegiatan seperti penanaman mangrove, edukasi lingkungan, dan pengembangan produk wisata berbasis budaya lokal terbukti meningkatkan kualitas ekologi, kohesi sosial, serta memperkuat identitas budaya komunitas. Meskipun demikian, penelitian ini juga menemukan sejumlah tantangan yang ketimpangan literasi digital di tingkat komunitas, keterbatasan infrastruktur, belum adanya regulasi nasional yang mendefinisikan dan mengarahkan praktik pariwisata regeneratif secara formal, serta risiko komodifikasi budaya jika tidak diiringi kebijakan pelindung. Oleh karena itu, dukungan kebijakan afirmatif, kolaborasi multi-aktor, dan penguatan keberlanjutan pengembangan ekowisata regeneratif, tidak hanya di Belawan Sicanang tetapi juga sebagai model replikasi di wilayah pesisir lainnya di Indonesia. Dengan kata lain. Belawan Sicanang dapat dijadikan contoh laboratorium hidup . iving la. untuk regeneratif berbasis komunitas, yang memadukan pelestarian lingkungan, pemberdayaan ekonomi lokal, dan pelestarian budaya secara sinergis. Rekomendasi Berdasarkan temuan dan analisis yang telah dilakukan, berikut adalah sejumlah rekomendasi strategis untuk berbagai pemangku kepentingan: Pemerintah Pusat dan Daerah: o Segera menerbitkan regulasi nasional tentang standar dan indikator regeneratif, mencakup aspek ekologis, sosial, budaya, dan tata o Meningkatkan anggaran dan mendukung desa wisata berbasis regeneratif, termasuk dalam bentuk insentif fiskal, pelatihan, dan pendampingan teknis. o Mengembangkan zonasi pariwisata regeneratif agar tidak terjadi konflik tata lingkungan tetap terjaga. Komunitas Lokal dan Pokdarwis: o Terus memperkuat kapasitas Jurnal Pariwisata Indonesia. Vol 21. No. Jurnal Pariwisata Indonesia Vol . 21 No. 1 Tahun 2025 Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta http://jurnal. ISSN: 1907-2457 (Prin. ISSN: 2581-2688 (Onlin. manajemen wisata, literasi digital, kewirausahaan, serta prinsip-prinsip keberlanjutan dan regeneratif. o Membentuk jejaring dengan desa wisata lain untuk saling bertukar praktik baik . est practice. serta berbasis komunitas. o Menyusun kode etik wisata berbasis kearifan lokal sebagai wisatawan dan komunitas. Sektor Swasta CSR Korporasi: o Menyalurkan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) ke dalam proyek restorasi mangrove, pemberdayaan UMKM wisata, dan pengembangan infrastruktur o Mendorong kolaborasi inovatif melalui pendanaan berbasis hasil . esult-based financin. dalam Akademisi Lembaga Pendidikan: o Menjadikan Belawan Sicanang lapangan, riset kolaboratif, dan pembelajaran lintas disiplin. o Mendorong publikasi ilmiah dan pengembangan modul pelatihan pariwisata di berbagai jenjang pendidikan tinggi. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM): o Memfasilitasi pelatihanpelatihan berbasis komunitas dan program advokasi kebijakan berbasis bukti . vidence-based policy advocac. Mengembangkan partisipatif untuk mengukur DAFTAR PUSTAKA