EduMatika: Jurnal MIPA Vol. No. September 2022, pp. ISSN: 2721-3838. DOI: 10. 30596/jcositte. The Effect of Using the Avanue Logan Problem Solving (Lap. Heuristic Learning Model on Students' Mathematic Problem-Solving Ability SMP Muhammadiyah 1 Medan Jihan Husna Fadillah1. Zainal Azis2 Program Studi Pendidikan Matematika,Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. UniversitasMuhammadiyah Sumatera Utara. Indonesia ABSTRACT The formulation of the problem in this study is Is there any effect of using the LAPS Heuristic model on the mathematical problem-solving ability of students in class Vi SMP Muhammadiyah 1 Medan on the subject of SPLDV. This study aims to determine whether there is an effect of the LAPS Heuristic model on the mathematical problemsolving ability of students in class Vi SMP Muhammadiyah 1 Medan on the subject of SPLDV. The instruments used in this study were tests and observations. The subjects in this study were class Vi- T2 which consisted of 30 students . s the experimental clas. and class Vi-T3 which consisted of 30 students . s the control clas. The object of this research is the ability to solve mathematical problems using the LAPS - Heuristic learning model. From the results of the study, it can be seen that using the LAPS Ae Heurtistic learning model has a positive effect on improving the mathematical abilities of eighth grade students of SMP Muhammadiyah 1 Medan T. P 2021/2022 Keyword: LAPS Learning ModelAeHeuristics. Mathematical Problem-Solving Ability Corresponding Author: Zainal Azis. FKIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Indonesia Email: Zainalazis@umsu. PENDAHULUAN Kemampuan pemecahan masalah adalah salah satu kemampuan matematis yang wajib dikuasai oleh siswa pada pembelajaran matematika sebagaimana tercantum dalam National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) yaitu kemampuan pemecahan masalah, kemampuan penalaran dan pembuktian, kemampuan koneksi, kemampuan komunikasi, dan kemampuan representasi (NCTM. (Landita. Kodirun. Dengan menyajikan masalah-masalah yang sulit yang dapat mereka pecahkan dengan menggunakan keterampilan yang mereka peroleh juga dapat meingkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa (Kholiq, . Mariani. , & Hidayah, 2. Salah satu kemampuan yang perlu dipelajari adalah kemampuan memecahkan masalahmatematika. Karna dasar dan metode utama dalam belajar matematika adalah kemampuan pemecahan masalah matematis (Hendriana. Rohaeti. , & Sumarmo, 2. Perspektif siswa meningkat seiring dengan kapasitas mereka untuk memecahkan masalah matematika. Hal ini disebabkan fakta bahwa penerapan teknik pemecahan masalah matematika dengan membuat konsep atau ide matematika lebih konkrit sesuai dengan topik dapat membantu siswa dalam menemukan solusi yang lebih sederhana untuk masalah yang rumit Dampak dari permasalahan ini menyebabkan kemampuan siswa untuk pemecahan masalah matematika tergolong rendah dan tidak ada kemajuan. Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan oleh rendahnya kemampuan pemecahan masalah Rendahnya prestasi seseorang merupakan akibat dari kurangnya rasa percaya diri dalam menghadapi masalah matematika. (Riskiningtyas. , & Wangid, 2. Hasil observasi awal di SMP Muhammadiyah 1 Medan. Siswa mengikuti ujian dari peneliti dikelas Vi-T2 berjumlah 30 orang sebagai tes kapasitas seseorang untuk memecahkan masalah. berdasarkan temuan Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/EMJU A EduMatika: Jurnal MIPA eksperimen yang dilakukan peneliti di SMP Muhammadiyah 1 Medan, siswa masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika terutama dengan materi SPLDV yaitu 46% . dapat memahami masalah dengan menguraikan apa yang diketahuidan apa yang ditanyakan oleh pertanyaan yang sesuai, 24% . dapat membuat rumus yangrelevan dengan soal secara lengkap untuk merencanakan pemecahan masalah, 19% . dapat menyelesaikan masalah menggunakan tahapan penyelesaian dan memiliki jawaban yang sesuai, 12% . mengevaluasi kembali hasil yang dihasilkan dengan menulis ulang secara akurat hasil yang diminta dalam pertanyaan. Dilihat dari hasil pekerjaan siswa, disimpulkan bahawa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa masih tergolong rendah Sehubung dengan rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa Agar siswa mencapai hasil belajar yang memuaskan dan tujuan pembelajaran yang ditetapkan, peran guru dalam mengembangkan kemampuan pemecahan masalah mereka sangat penting. Guru harus mengajarkan siswa kemampuan memecahkan masalah dalam waktu singkat dengan cara yang paling efektif untuk mencapai keberhasilan dalam matematika . , & yNaanaa, 2. Cara yang paling efektif untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa adalah memilih model pembelajaran yang sesuai, salah satunya yaitu model pembelajaran LAPS-Heuristik. Hal ini diperkuat oleh Anggrianto yang menyatakan bahwa memecahkan masalah dan menemukan penyelesaian dari masalah adalah karakteristik utama model pembelajaran LAPS-Heuristik (Anggrianto. Churiyah. , & Arief, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan dengan mengambil lokasi di SMP Muhammadiyah 1 Medan yang terletak di Jalan Demak No. Sei Rengas Permata. Kecamatan Medan Area. Kota Medan dan Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2021/2022, yaitu bulan Juni sampai dengan Juli 2022 Sample Data Pada penelitian ini diambil 2 kelas sebagai sampel. Untuk teknik pengambilan sampel pada penelitiam ini adalah cluster sampling teknik, yang menjadi sampel untuk peneletian ini yaitu siswa dikelas Vi Tahun Ajaran 2021/2022, yaitu siswa kelas Vi-T2 dengan jumlah 30 orang siswa dan kelas Vi-T3 yang berjumlah 30 orang siswa. Analisis Data Penelitian ini menggunakan jenis penelitiann quasi exsperiment . ksperimen sem. Sebagaimana yang dikemukakan (Yusuf, 2. Ketika tidak mungkin untuk sepenuhnya mengontrol faktor-faktor terkait, eksperimen semu adalah studi yang menyerupai penelitianeksperimen yang sebenarnya. Dalam penelitian ini, dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol mendapat perlakuan yang berbeda. Saya mendapat terapi di kelas eksperimen, yang terdiri dari pengajaran isi SPLDV dengan menggunakan model pembelajaran LAPS Heuristik. Sedangkan kelas kontrol mendapat pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran langsung yaitu model yang digunakan guru di sekolah, bukan model pembelajaran LAPS Heuristik. Adapun metode yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis data. Berikut skema penelitian: Gambar 3. Urutan Teknik Penelitian (Jihan Husna Fadila. A EduMatika: Jurnal MIPA Pada teknik analisis data terdapat beberapa teknik yang dilakukan untuk menganalisis data penelitian, yaitu Deskripsi data, uji normalitas, uji homogenitas, uji korelasi, uji pengaruh, dan uji koefisien. Analisis deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk mengevaluasi data dengan meringkas atau menggambarkan data yang telah diperoleh apa adanya. Uji Normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data yang telah diperoleh sudah berdistribusi normal yang bertujuan untuk bisa melanjutkan ke pengujian Uji homogenitas dilakukan untuk melihat apakah sample penelitian rata-rata yang sama. Uji pengaruh dilakukan untuk mengetahui apakah dari hasil penelitian yang kita peroleh berpengaruh secara signifikan atau tidak. Ketiga uji tersebut dilakukan dengan menggunakan alat atau aplikasi SPSS 16. 0 for Windws. Uji korelasi Rumus yang digunakan untuk menghitung korelasi menggunakan metode Analisis Korelasi Product Moment Pearson Sugiyono . 4: . HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Data Hasil Penelitian Penelitian ini mengambil sampel dari dua kelas yaitu kelas Vi-T2 yang menjadi kelas kontrol dengan jumlah siswa 30 orang, dan kelas Vi-T3 yang menjadi kelas eksperimen dan juga berjumlah 30 orang siswa di SMP Muhammadiyah 1 Medan. Dalam penelitian ini, kelas eksperimen dibelajarkan dengan model pembelajaran LAPS-Heuristik, dan kelas kontrol dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung. Pretest . es pertam. dilakukan sebelum penelitian dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa tanpa memperhatikan pembelajaran dan sebagai dasar pengelompokan siswa setelah pembelajaran. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh paradigma pembelajaran LAPSHeuristik terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa. Hasil penelitian tentang prestest dan posttest dari kedua kelas . elas kontrol maupunkelas eksperime. dijelaskan sebagai berikut: Nilai pretest kelas kontrol dan kelas eksperimen Tabel 1. Data Pretest Kemampuan Pemecahan Masalah Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen No. Statistik Kelas Eksperimen(T. Kelas Kontrol(T. Jumlah Nilai Rata Ae rata 62,83 Baku 8,46 Varians 71,66 Maksimum Minimum Catatan : Nilai maksimum tes kemampuan pemecahan masalah adalah 100 62,06 6,46 46,47 Rata-rata kemampuan pemecahan masalah siswa pada kelas kontrol adalah 62,06 sesuai dengan hasil pretest yang mencoba untuk memastikan kemampuan awal siswa, sedangkan rata- rata kemampuan pemecahan masalah kelas eksperimen adalah 62,83 Nilai Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Tabel 2. Data Posttest Kemampuan Pemecahan Masalah Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen No. Statistik Kelas Eksperimen (T. Kelas Kontrol (T. Jumlah Nilai Rata - rata Baku 7,02 Varians 49,38 Maksimum Minimum Catatan : Nilai maksimum tes kemampuan pemecahan masalah adalah 100 EduMatika: Jurnal MIPA Vol. No. September 2022: 46Ae53 73,96 5,79 33,61 EduMatika: Jurnal MIPA Setelah menentukan kecenderungan siswa untuk memecahkan masalah, paradigma pembelajaran LAPS-Heuristik diterapkan pada kelas eksperimen, dan dibentuk tujuh kelompok yang masing-masing terdiri dari 4-5 siswa. Sedangkan kelompok kontrol menggunakan paradigma pembelajaran langsung dan metode pengajaran tradisional. Para siswa mengambil posttest setelah pertemuan. Tujuan dari posttest adalah untuk membandingkan kemampuan kedua kelas dalam menyelesaikan masalah setelah pembelajaran menggunakan model pembelajaran langsung pada kelas kontrol dan model pembelajaran LAPS-Heuristik pada kelas Uji Normalitas Uji normalitas adalah suatu cara yang dilakukan untuk melihat apakah data dalam penelitian dapat terdistribusi secara normal. Hasil uji ini nantinya akan memengaruhi langkah analisis selanjutnya. Cara uji normalitas dengan memakai alat SPSS biasanya memiliki 2 pilihan,yaitu Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro Wilk. Untuk menentukan menggunakan yang mana, bisa dengan memperhatikan data itu sendiri. Ketentuan uji normalitas, terdapat indicator yang disebut signifikan. Apabila data memiliki nilai signifikan 0,05 maka dapat dikatakan bahwa data tersebut normal. Tabel 3. Ringkasan Hasil Uji Normalitas Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Statistic Shapiro-Wilk Sig. Statistic Sig. Pretest_Eksperimen Posttest_Eksperimen Pretest_Kontrol Posttest_Kontrol Lilliefors Significance Correction This is a lower bound of the true significance. Dari hasil data di atas yang di olah dengan memakai alat SPSS V. 0 terlihat bahwa seluruh data yang berada pada kolom Kolmogrov-Smirnov memiliki nilai signifikan > 0,05 sebagai nilai standart normalitas data, yang berarti data yang dipakai dalam penelitian ini berdistribusi normal dan bisa dilanjutkan untuk dipakai uji uji berikutnya. Uji Homogenitas Uji Homogenitas digunakan untuk melihat kedua kelas yang di uji memiliki kemampuan dasar yang sama atau tidak. Pada uji homogenitas ini sample yang diambil adalah hasil nilai pretest pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Tabel 4. Hasil Belajar Matematika Data Hasil Uji Homogenitas Group Statistics Kelas Hasil Nilai Pretest Kelas Eksperimen 30 Kelas Kontrol Mean Std. Deviation Std. Error Mean Tabel 5. Data Hasil Uji Homogenitas Hasil Nilai Pretest Levene Statistic Sig. (Jihan Husna Fadila. A EduMatika: Jurnal MIPA Berdasarkan hasil diatas yang diolah memakai alat SPSS V. 0 bahwa diketahui nilai Sig. Levene Test of Homogeneity of Variances untuk variabel hasil belajar matematika adalah sebesar 0,311. Karena nilai Sig. 311 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa varians data hasil belajar matematika pada siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah homogeny Uji Pengaruh atau Uji T Uji T Test Independent adalah suatu uji parametric untuk melakukan komparasi independen. Dalam studi ini akan membandingkan data dari hasil nilai siswa (Posttes. dari kelas kontrol dan kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran LAPS-Heuristik. Dasar penentuan uji t Berdasarkan Nilai Signifikan . -taile. yang mengukur ada tidaknya perbedaan rata-ratapada subjek yang diujikan A Nilai signifikan . -taile. > 0,05 menunjukkan tidak terdapat perbedaan rata-rata antarasubjek penelitian A Nilai signifikan . -taile. < 0,05 menunjukkan adanya perbedaan rata-rata antara subjekpenelitian Tabel 6. Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis Group Statistics Kelas Hasil Nilai Posttest Mean Std. Deviation Std. Error Mean Eksperimen Control Tabel diatas menunjukkan bahwa kedua kelompok masing-masing 30 sample. Kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol pada hasil nilai posttest dapat dilihat dari rata-ratanya yaitu 82,30 dengan 73,97. Tabel 7. Ringkasan Hasil Uji T Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means Post Equal Sig. EduMatika: Jurnal MIPA Vol. No. September 2022: 46Ae53 95% Confidence Std. Interval of the Mean Error Difference Diffe Differe Sig. - r Lower Upper taile. ence A EduMatika: Jurnal MIPA Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means Post Equal Sig. Equal variances not Mea Sig. - Diffe taile. rence 95% Confidence Std. Interval of the Error Differe Difference Lower Upper Tabel berikut merupakan tabel utama dari analisis independent sample t test. Terlihat nilai signifikan 2 arah . -taile. 0,000 < 0,05 (Ho ditolak Ha diterim. Sehingga terdapat perbedaan skor point yang berarti antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran LAPSHeuristik memiliki rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis yang lebih besar daripada siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran konvensional. Uji Korelasi untuk menentukan apakah ada hubungan yang substansial antara variabel x dan y. Dengan menggunakan rumus berikut, dapat menentukan koefisien korelasi yang dilambangkan dengan simbol r: Kelas Kontrol Melalui data kelas kontrol diperoleh: Oc X2 = 1862 Oc X2 = 116916 Oc ycU2 = 2219 Oc ycU2 = 165107 Oc X2ycU2 = 138518 n = 30 Maka koefisien korelasinya : ycu Oc ycU2 ycU2 Oe (Oc ycU2 )(Oc ycU2 ) ycycuyc = Ooycu Oc ycU 2 Oe (Oc ycU2 )2 . cu Oc ycU 2 Oe (Oc ycU2 )2 yc = 0,69 Kelas Eksperimen Melalui data kelas eksperimen diperoleh : Oc X1 = 1885 Oc X2 = 120519 Oc ycU1 = 2469 Oc ycU2 = 204631 Oc X2ycU2 = 155650 n = 30 (Jihan Husna Fadila. A EduMatika: Jurnal MIPA Maka koefisien korelasinya : ycycuyc = ycu Oc ycU2 ycU2 Oe (Oc ycU2 )(Oc ycU2 ) Ooycu Oc ycU 2 Oe (Oc ycU2 )2 . cu Oc ycU 2 Oe (Oc ycU2 )2 yc = 0,81 Uji Determinasi Rumus determinasi digunakan untuk menghitung persentase pengaruh antara modelpembelajaran LAPS-Heuistik dengan model pembelajaran tradisional. Kelas Kontrol Koefisien Determinasi: I = yc2 y 100% I = . 2 y 100% I = 0,4761 y 100% I = 47,61% Oleh karena itu, metode pembelajaran langsung berpengaruh positif sebesar 47,61% terhadap kemampuan pemecahan masalah. Kelas Eksperimen Koefisien Determinasinya: I = yc2 y 100% I = . 2 y 100% I = 0,65,61 y 100% I = 65,61% Oleh karena itu, 65,61% kemampuan pemecahan masalah dipengaruhi secara signifikan oleh model pembelajaran Heuristik LAPS. Oleh karena itu kita dapat menarik kesimpulan bahwa paradigma pembelajaran LAPS-Heuristik memiliki dampak yang lebih besar daripada pembelajaran langsung SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di dapatkan kesimpulan sebagaiberikut: Pembelajaran LAPS-Heuristik secara signifikan berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas Vi SMP Muhammadiyah 1 Medan T. P 2021/2022. Siswa kelas Vi SMP Muhammadiyah 1 Medan menunjukkan peningkatan kemampuan menjawab masalah matematika sebesar 65,61% sebagai hasil dari pendekatan pembelajaran LAPS-Heuristik. Hasilnya, 65,61% model pembelajaran LAPS - Heuristik menyumbang kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika pada mata kuliah SPLDV, dan sisanya 34,39% dipengaruhi oleh faktor DAFTAR PUSTAKA