Bunayya : Jurnal Pendidikan Anak Volume 9 Issue 2 . Pages 210-221 Bunayya : Jurnal Pendidikan Anak Volume 9 Issue 2 . Pages 210-221 ISSN: 2460-4437. E-ISSN 2549-3329 (Onlin. DOI. http://dx. org/10. 22373/bunayya. ANALISIS PERILAKU BULLYING SISWA (STUDI KASUS FAKTOR DAN SOLUSI BULLYING DI SDN 10 SINTOGA) Zilfadlia Nirmala1. Juliana Batubara2. Nurfarida Deliani3 Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang1,2,3 E-mail: zilfadilanirmala@gmail. com , juliana@uinib. id , nurfaridadeliani@uinib. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya perilaku perundungan di kalangan siswa dan mengeksplorasi strategi potensial untuk mengatasinya. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif melalui pendekatan studi kasus. Partisipan penelitian ini adalah 6 orang siswa SDN 10 SINTOGA, guru serta masyarakat pengamat lingkungan sekolah. Fokus dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki elemen-elemen yang berkontribusi terhadap perilaku bullying pada anak-anak dan mengusulkan strategi yang efektif untuk mengatasinya. Proses pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara, observasi, dan pengumpulan dokumentasi. Temuan dari penelitian ini menunjukkan tiga hal penting: pertama, prevalensi perilaku bullying yang sudah mendarah daging di kalangan anak-anak. kedua, adanya kesenjangan fisik antara pelaku bullying dan korbannya yang menjadi katalisator terjadinya bullying. dan ketiga, berlanjutnya tindakan pendisiplinan dari murid yang lebih tua kepada murid yang lebih muda dari generasi ke generasi. Solusi yang diusulkan meliputi penerapan tindakan tegas terhadap pelaku, memberikan pelatihan bela diri kepada anak-anak, memberikan pendidikan berkelanjutan tentang bahaya perundungan, dan menumbuhkan rasa saling menghormati di antara anak. Kata Kunci: Anak. Faktor. Perilaku Bullying, dan Solusi ABSTRACT This study aimed to evaluate the factors that contribute to the occurrence of bullying behavior among students and explore potential strategies to overcome it. This research uses qualitative research methodology with a case study The participants of this study were 6 students of SDN 10 SINTOGA, teachers and the school environment observer community. The focus of the research is to investigate the elements that contribute to bullying behavior in kids and propose effective strategies to address it. The data collecting process involved conducting interviews, making observations, and gathering documentation. The findings of this study indicate three key points: firstly, the prevalence of ingrained bullying behavior among kids. secondly, the existence of physical disparities between bullies and their victims that serve as catalysts for bullying. and thirdly, the perpetuation of disciplinary measures from older students to younger ones throughout generations. The proposed remedies entail implementing stringent measures against offenders, imparting martial arts training to youngsters, delivering continuous education on the perils of bullying, and fostering a sense of mutual respect among children. Keywords: Children. Factors. Bullying Behaviors, and Solutions A Corresponding author : Email Address : zilfadilanirmala@gmail. Received 04 December 2023. Accepted 09 December 2023. Published 10 December 2023 DOI. http://dx. org/10. 22373/bunayya. Page | 210 Bunayya : Jurnal Pendidikan Anak Volume 9 Issue 2 . Pages 210-221 PENDAHULUAN Bullying merupakan tindakan agresif dan negatif yang dilakukan oleh satu atau lebih individu terhadap seorang korban. Perilaku ini berulang dan berlangsung secara kronis, menimbulkan luka baik secara fisik maupun mental kepada pihak yang menjadi sasaran(Prasetyo, 2. Menurut Royanto & Djuwita . Bullying sendiri merupakan tindakan agresi atau manipulasi yang dilakukan secara sadar dan disengaja, yang dilakukan oleh satu orang atau lebih terhadap satu atau sekelompok orang lain(Royanto & Djuwita, 2. Pelaku dengan sengaja menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikologis, untuk mendapatkan kepuasan dari penggunaan Biasanya, targetnya adalah individu yang lebih lemah dan tidak memiliki dukungan sosial yang memadai untuk membalas. Dinamika ini melibatkan kesenjangan yang signifikan dalam hal kekuatan dan kekuasaan, sehingga para korban tidak dapat secara efektif membela diri mereka sendiri dari tindakan berbahaya yang dialami. (Sullivan, 2. Bullying merupakan masalah yang dampaknya harus ditanggung oleh semua pihak(Prasetyo, 2. baik itu pelaku, korban, maupun orang yang menyaksikan Fenomena bullying saat ini sudah menjadi makanan sehari-hari di Indonesia, dikarenakan saking banyaknya kasus yang terjadi setiap harinya. Salah satunya yang terjadi di SDN 10 SINTOGA, kasus dimana yang senior menindas yang yunior, kemudian anak yang fisiknya kurang dibully secara verbal, kemudian ada anak yang berhenti sekolah dikarenakan sering mendapat ejekan dari teman-teman disekolah sehingga anak tidak mau sekolah lagi. Kasus ini sangatlah berdampat terhadapan kesehatan mental anak seperti yang dikatakan oleh Nasution . bahwa bullying sangat mempengaruhi kesehatan mental anak, dimana kesehatan mental anak akan menjadi low psychological well-being , dimana korban akan merasa tidak nyaman, tkut, rendah diri, serta tidak berharga, penyesuaian social yang buruk dimana korban merasa takut ke sekolah, bahkan tidak mau ke sekolah, menarik diri dari pergaukan , prestasi akademik menurun dan lain sebagainya hingga menyebabkan rasa ingin bunuh diri (Nasution, 2. Berbagai penelitian sebelumnya telah mengidentifikasi berbagai elemen yang berkontribusi terhadap perundungan, termasuk masalah yang berhubungan dengan DOI. http://dx. org/10. 22373/bunayya. Page | 211 Bunayya : Jurnal Pendidikan Anak Volume 9 Issue 2 . Pages 210-221 Perilaku perundungan sering kali berasal dari lingkungan rumah yang tidak berfungsi, karena anak-anak mengamati dan meniru pertengkaran orang tua mereka dan kemudian meniru teman sebayanya. 1 Selain itu. Wulandari juga mengatakan bahwa sekolah memiliki peran yang signifikan dalam terjadinya perundungan. Anakanak yang terlibat dalam perilaku perundungan menerima validasi atas tindakan mereka ketika sekolah secara konsisten mengabaikan perilaku tersebut. Selain itu, sekolah-sekolah yang sering terjadi kasus perundungan biasanya menunjukkan perilaku diskriminatif baik dari pendidik maupun siswa, pengawasan dan bimbingan moral yang tidak memadai dari guru dan pihak sekolah, kesenjangan yang signifikan antara siswa yang mampu dan tidak mampu, tindakan disipliner yang terlalu keras atau tidak ditegakkan dengan baik, konseling yang tidak memadai, dan peraturan yang tidak konsisten. (Amnda dkk. , 2020. Faizah & Amna, 2017. Putri, 2. Bahkan Tumon mempengaruhi anak dalam melakukan perundungan, dimana anak akan melakukan perundungan sebagai upaya untuk membuktikan bahwa dirinya dapat menjadi bagian dari kelompok tertentu, meskipun dirinya sendiri merasa tidak nyaman dengan perilaku tersebut, kemudian pengaruh kondisi lingkungan sosial yang ikut berperan dalam terjadinya perilaku perundungan. (Tumon, 2. Tayangan televisi dan media cetak memiliki dampak yang signifikan terhadap prevalensi perundungan. Perundungan dapat dikategorikan ke dalam tiga jenis yang berbeda yaitu (Nusantara, 2. Perundungan fisik melibatkan tindakan melukai tubuh seseorang, sedangkan perundungan verbal meliputi ancaman, pelecehan seksual, dan penyebaran cerita bohong atau jahat. Perundungan mental atau psikologis meliputi pengabaian, pengucilan, dan pengucilan. Konsekuensi dari perundungan terlihat jelas pada terhambatnya aktualisasi diri Perilaku bullying tidak memberikan rasa aman dan nyaman, membuat korban merasa terintimidasi, rendah diri, dan tidak berharga. Hal ini, pada gilirannya, menyebabkan kesulitan konsentrasi saat belajar dan ketidakmampuan untuk wulandari Dkk. AuPelatihan Anti Bullying Sebagai Upaya Pencegahan Perundungan Di Smpn 32 Makassar. Ay DOI. http://dx. org/10. 22373/bunayya. Page | 212 Bunayya : Jurnal Pendidikan Anak Volume 9 Issue 2 . Pages 210-221 bersosialisasi secara efektif dengan lingkungannya. (Amini, 2. Sehingga sekolah tidak lagi menjadi tempat yang menyenangkan bagi siswa, melainkan menjadi tempat yang menakutkan dan tempat yang traumatis(Fransisca Mudjijanti, 2011. Hasanah dkk. , 2. Berdasarkan data yang terhimpun oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), tercatat bahwa Indonesia menduduki posisi teratas dalam hal jumlah kasus perundungan . di lingkungan sekolah yang dilaporkan oleh masyarakat. Komisi ini telah menerima sebanyak 369 aduan yang berkaitan dengan isu tersebut. Dari total laporan yang diterima, sekitar 25% atau sejumlah 1. 480 kasus terjadi di sektor pendidikan. Penting untuk dicatat bahwa laporan-laporan ini hanya merepresentasikan sebagian kecil dari realitas yang ada, mengingat masih banyaknya (Setyawan, 2. Untuk mengurangi perundungan, berbagai solusi telah Hal ini termasuk segera menangani kasus-kasus perundungan dengan tindakan tegas dan berwibawa, menyediakan jalan untuk terlibat dalam tindakan yang baik, menumbuhkan empati, menanamkan bakat sosial, orang tua dengan waspada mengawasi program-program televisi, melibatkan siswa dalam kegiatan yang konstruktif, menyenangkan, dan menstimulasi di sekolah, serta menanamkan pada siswa watak terhadap niat yang baik. (Jaafar dkk. , 2. Penelitian ini dilaksanakan dengan mengkaji pengalaman perundungan yang dialami oleh siswa. Data yang terkumpul menunjukkan bahwa praktik perundungan berakar pada budaya yang terbentuk di kalangan siswa, di mana perbedaan fisik sering menjadi pemicu perundungan. Fokus penelitian ini adalah untuk menggali informasi lebih mendalam mengenai fenomena perundungan, khususnya di SDN 10 SINTOGA. Tujuan utama adalah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai penyebab, ragam bentuk perundungan, dampak dan solusi yang ditawarkan untuk perundungan, yang bertujuan agar Bullying dapat dikurangi atau dicegah agar tidak terjadi lagi. Berdasarkan paparan diatas didapatkanlah rumusan masalah dari penelitian ini yakni mengkaji mengenai bagaimana menganalisis perilakau bullying siswa melalui studi kasus faktor dan solusi perilaku bullying di SDN 10 SINTOGA. DOI. http://dx. org/10. 22373/bunayya. Page | 213 Bunayya : Jurnal Pendidikan Anak Volume 9 Issue 2 . Pages 210-221 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi kasus. Menurut Engkizar . metode ini tepat digunakan ketika seorang peneliti ingin mengeksplorasi suatu masalah secara mendalam serta menyatakan bahwa desain penelitian seperti ini dapat membantu peneliti untuk memahami masalah yang mendalam dan kompleks(Engkizar dkk. , 2. Penelitian dilakukan di SDN 10 SINTOGA. Pada tanggal 04 November 2023 kami melakukan observasi disana dan pada tanggal 06 November 2022 kami melakukan Informan penelitian pada penelitian ini adalah 6 orang siswa SDN 10 SINTOGA, Informasi dikumpulkan selama penelitian lapangan yakninya dengan cara wawancara yang dikenal sebagai data penelitian, dan berfungsi sebagai landasan analisis dan Data penelitian berupa faktor penyebab perilaku bullying siswa. Sumber informasi utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah informasi tentang aktivitas bullying apa saja yang terjadi di sekolah tersebut. Wawancara dengan siswa atau korban atau pun pelaku bullying, guru, orang tua serta pengamat penddikan yakni masyarakat yang memberikan data sekunder. Salah satu metode yang digunakan untuk memperoleh data adalah dengan melakukan wawancara secara Selama wawancara, dokumentasi dikumpulkan. Saat mewawancarai siswa, peneliti menggunakan instrumen penelitian untuk mengajukan pertanyaan kepada HASIL DAN PEMBAHASAN Agar lebih menarik dan jelas, penulis akan menjabarkan semua hasil penelitian ini secara rinci. Terdapat dua aspek bahasan yang akan dibahas yakni faktor dan solusi dari perilaku bullying. Pada aspek pertama, seperti yang telah penulis sebutkan sebelumnya, ada dua penyebab terjadinya bullying perilaku siswa di SDN 10 SINTOGA. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti maka didapatkan dua faktor penyebab perilaku bullying adalah sebagai berikut: . perilaku bullying ini telah membudaya dikalangan peserta didik, i. perbedaan fisik antara pelaku dan korban memicu terjadinya bullying. seperti yang terlihat, dari gambar dibawah ini, yang penulis dapatkan dari para informan saat wawancara langsung dilakukan. DOI. http://dx. org/10. 22373/bunayya. Page | 214 Bunayya : Jurnal Pendidikan Anak Volume 9 Issue 2 . Pages 210-221 Gambar 1. Faktor penyebab perilaku bullying Informasi ini disampaikan oleh para informan dengan bahasa yang sedikit berbeda, namun memiliki makna yang sama maka didapatkanlah hasilnya sebagai berikut: Perilaku bullying telah membudaya dikalangan peserta didik Bahasan pertama mengenai perilaku bullying yang sudah menjadi budaya dikalangan peserta didik , hal ini dikatakan oleh masyarakat bahwasannya perilaku ini sudah menjadi budaya dikalanagan siswa. Kemudian siswa sendiri mengatakan bahwa ini sudah menjadi kebiasaan sehari-hari yang mereka , dikarenakan mereka meniru para senior mereka terdahulu, kemudian siswa yang lain mengatakan bahwa jika mereka tidak membully maka itu dikatakan tidak Sedangkan menurut guru mereka sendiri hal ini terjadi karena mereka melihat para senior yang malakukan itu , hingga mereka meniru perilaku tersebut. Perbedaan fisik antara pelaku dan korban Perbedaan fisik antara pelaku dan korban juga menjadi faktor penyebab terjadiny perilaku bullying. Hal ini dikatakan oleh siswa yang menjadi korban bahwasanya mereka dibully dikarenakan perbedaan warna kulit yang tidak seperti kebanyakan orang, kemudian karena bentuk tubuh yang besar mereka dikucilkan. Kemudian siswa lain mengatakan bahwa kekurangan atau kecacatan yang ada pada dirinya menyebabkan mereka dibully. Menurut guru sendiri bahwa deskriminasi kelompok yang dibentuk siswa dengan pilih-pilih teman juga faktor dari pembullyian. Orang tua dari korban pembullyan mengatakan bahwa anaknya yang berbeda, karena kekurangan dalam fisiknya akibat kecelakaan menjadi bulanan para pembully. Pada aspek kedua, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat empat solusi untuk mengatasi perilaku bullying. Keempat solusi tersebut adalah . memberikan tindakan tegas kepada pelaku, . membekali anak dengan ilmu beladiri, . memberikan edukasi secara berkelanjutan tentang bahaya perilaku bullying, dan . menanamkan sikap saling menghormati kepada anak. Untu lebih jelas bisa dilihat pada gambar 2 dibawah ini DOI. http://dx. org/10. 22373/bunayya. Page | 215 Bunayya : Jurnal Pendidikan Anak Volume 9 Issue 2 . Pages 210-221 Gambar 2. Solusi perilaku bullying Keempat solusi yang dijabarkan , penulis dapatkan dari para informan saat Berikut hasil wawancara yang didapatkan bersama para informan. Memberikan tindakan tegas terhadap pelaku bullying Solusi yang ertama yakninya dengan memberikan sanksi atau tindakan yang tega sterhadap pelaku pembulian. Seperti yang dikatakan oleh siswa bahwa perlu diberikan hukuman kepada teman-teman yang melakukan pembulian, hal ini dibenarkan oleh siswa yang manjadi korban bahwa mereka berharap teman-teman yang mebully bisa dihukum agar mereka jera melakukan hal tersebut. Guru juga mengatakan bahwa perlu tindakan tegas terhadap siswa yang membully dengan memberikan sanksi atau hukuman, jikalau sudah masuk kepada tahap kasus yang serius maka perlunya tindakan lanjut ke tahap ranah hokum. Membekali anak ilmu bela diri Solusi yang kedua yaitu denga membekali anak ilmu bela diri, hal ini dikatakan oleh guru bahwa perlunya memberikan penyuluhan mengenai cara-cara mengatasi perilaku bullying, seperti mendatangkan guru karate untuk melatih bela diri anak. Oran tua anak sendiri mengatakan bahwa sebagai orang tua kita perlu mengajarkan kepada anak kemandirian sedari kecil, agar mental anak tidal lemah. Memberikan edukasi secara berkelanjutan tentang bahaya perilaku bullying Solusi yang ketiga yakni memberikan edukasi secara berkelanjutan mengenai bahaya perilaku bullying, dengan cara memberikan sosialisai kepada siswa, dengan menanamkan sikap bahwa bullying itu tidak diperbolehkan, karena tidak ada manusia yang lebih baik dan lebih buruk. Masyarakat lingkungan sekolah juga mengatakan bahwa anak harus diajarkancara menghargai orang lain agar pembullian tidak terjadi. Dari orang tua sendiri perlu memberikan edukasi kepada anak bahwasanya sikap membully itu dilarang , karena perlunya saling mengahargai anatr teman. DOI. http://dx. org/10. 22373/bunayya. Page | 216 Bunayya : Jurnal Pendidikan Anak Volume 9 Issue 2 . Pages 210-221 Menanamkan sikap saling menghormati kepada anak Solusi yang keempat yaitu menanamkan sikap saling menghormati kepada anak, guru mengatakan bahwa kepedulian harus ditanamakan kepada setiap siswa sejak usia sedini mungkin, boleh juga dengan menunjukkan video-video mengenai peduli sesame teman. Kemudian dengan diadakannya gotong royong atau bakti social untuk menumbuhkan rasa kerukunan. Pada bagian latar belakang artikel ini, penulis telah menjelaskan bahwa perundungan di kalangan pelajar merupakan perilaku negatif dari pelaku kepada korban, baik secara fisik maupun psikis (Masdin, 2013. Prasetyo, 2011. Sullivan, 2. Perundungan adalah perilaku agresivitas atau manipulasi yang disengaja dan diperhitungkan yang dilakukan oleh satu atau lebih individu terhadap satu atau sekelompok individu lain. Terkait dengan temuan penelitian ini, ada dua variabel yang berkontribusi terhadap terjadinya perundungan di SDN 10 SINTOGA. Faktorfaktor tersebut adalah pembentukan norma budaya di kalangan siswa dan perbedaan fisik antara pelaku perundungan dan korban, yang meliputi keterbatasan fisik dan kerentanan korban. Temuan penelitian ini diperkuat oleh berbagai penelitian sebelumnya, termasuk Ariesto . Tumon . , dan Muhtarom dan Cahyani . Beberapa faktor Kecenderungan perundungan sering kali berasal dari latar belakang keluarga yang tidak harmonis. Selain itu, sekolah juga memainkan peran penting dalam manifestasi perilaku perundungan. Anak-anak, sebagai pelaku perundungan, lebih mungkin untuk terlibat dalam perilaku tersebut jika sekolah sering mentolerirnya. (Ariesto. Muhtarom & Cahyani, 2023. Tumon, 2. Selain itu, faktor teman sebaya juga mempengaruhi anak dalam melakukan perundungan, dimana anak akan melakukan perundungan sebagai upaya untuk membuktikan bahwa dirinya dapat menjadi bagian dari kelompok tertentu. (Tumon, 2. Carroll dkk. melakukan penelitian yang mengidentifikasi empat elemen yang berkontribusi pada anak-anak yang terlibat dalam perilaku berbahaya: pengaruh individu, keluarga, kelompok teman sebaya, dan komunitas. Keterampilan sosial yang kurang dari pelaku perundungan, yang ditandai dengan rendahnya rasa kasih DOI. http://dx. org/10. 22373/bunayya. Page | 217 Bunayya : Jurnal Pendidikan Anak Volume 9 Issue 2 . Pages 210-221 sayang, empati, dan sifat menindas, dapat berdampak pada terjadinya perundungan. (Carroll dkk. , 2. Dalam kajian studi kasus ini, penulis mengemukakan bahwa fenomena perundungan di kalangan siswa tidak hanya merupakan tindakan individu, melainkan juga dipengaruhi oleh dinamika kelompok bermain. Penelitian ini mengidentifikasi bahwa interaksi dalam kelompok teman sebaya memiliki peran signifikan dalam membentuk perilaku perundungan. Kelompok bermain yang menyimpang seringkali mencari validasi eksistensi mereka melalui tindakan membully individu yang dianggap lebih lemah, sebagai sarana untuk mendapatkan pengakuan keberanian dan kekuatan dari lingkunganya. Hasil penelitian ini menguatkan argumentasi bahwa kelompok bermain berkontribusi pada terjadinya Penelitian yang dilakukan oleh Lestari . juga mendukung temuan ini, dengan menunjukkan adanya tiga faktor utama yang menyebabkan perilaku bullying di kalangan pelajar: Pertama, keluarga, yang mencakup faktor-faktor seperti ketidakharmonisan keluarga, kekurangan dalam proses sosialisasi, komunikasi yang tidak efektif antara orang tua dan anak, serta pola asuh yang tidak adil. Kedua, pengaruh teman sebaya, yang mencakup intensitas komunikasi yang tinggi dalam kelompok teman sebaya yang berorientasi negatif, keinginan untuk diakui oleh anggota kelompok, dan upaya menjaga eksistensi kelompok di mata pelajar lainnya. Ketiga, media massa, khususnya penyalahgunaan media sosial sebagai alat perundungan, sering kali dalam bentuk non-verbal seperti teks. (W. Lestari, 2. Namun. Lestari dkk. menemukan temuan yang berbeda dalam penelitian mereka, yang mengindikasikan bahwa variabel kepribadian dan budaya juga berkontribusi terhadap terjadinya perundungan. Dalam hal mengatasi perundungan di kalangan siswa, penelitian ini mengidentifikasi lima rekomendasi: menerapkan mempromosikan kekerasan, mengajari anak-anak teknik bela diri, menawarkan pendidikan berkelanjutan tentang risiko perundungan, dan menumbuhkan budaya saling menghormati di antara anak-anak. (N. Lestari, 2. Coloroso . berpendapat bahwa sangat penting bagi sekolah untuk mengambil tindakan tegas terhadap mereka yang bertanggung jawab, mempromosikan rasa saling menghormati dan empati, dan bagi pemerintah untuk memberantas programDOI. http://dx. org/10. 22373/bunayya. Page | 218 Bunayya : Jurnal Pendidikan Anak Volume 9 Issue 2 . Pages 210-221 program televisi yang mendorong perilaku kekerasan. (Coloroso, 2. Lebih lanjut Muspita dkk. menyatakan bahwa masih ada sekolah yang terkadang membiarkan atau tidak menerapkan sanksi yang tegas terhadap pelaku bullying akibatnya tindakan ini terus berlanjut(Muspita dkk. , 2. Masalah lain yang berkembang adalah kurangnya pengawasan pemerintah dalam mengatur contoh-contoh kekerasan yang digambarkan dalam program televisi setiap hari di berbagai platform media, terutama televisi swasta. Seperti yang ditemukan dilapangan bahwa tontonan anak-anak sangatlah mempengaruhi pola tingkah laku anak, dimana anak-anak gemar meniru apa yang dia lihat di televisi. Akibatnya, program-program ini memberikan pengaruh yang merugikan bagi anak-anak dan Resolusi yang optimal adalah dengan menghapus adegan dan tayangan yang menggambarkan perundungan. Resolusi berikutnya berkaitan dengan promosi sosialisasi dan penyebaran pengetahuan tentang bahaya yang terkait dengan perilaku Inisiatif edukasi ini ditargetkan tidak hanya kepada siswa, tetapi juga kepada orang tua. Sehingga para orang tua dibekali dengan kemampuan untuk memberikan pengetahuan secara efektif kepada anak-anak mereka. Dengan membina kolaborasi antara guru, sekolah, pemerintah, dan orang tua, diharapkan para siswa dapat mengembangkan kesadaran yang lebih komprehensif tentang bahaya yang terkait dengan perilaku bullying. SIMPULAN Penelitian ini berhasil mengidentifikasi dua faktor utama yang berkontribusi terhadap fenomena bullying di antara siswa serta mengusulkan empat intervensi strategis untuk mengatasinya. Pertama, teridentifikasi bahwa bullying telah terintegrasi sebagai bagian dari budaya pelajar. Kedua, terdapat perbedaan fisik yang signifikan antara pelaku dan korban, termasuk kecacatan atau kelemahan fisik korban, yang memfasilitasi tindakan bullying. Berdasarkan temuan ini, studi ini menawarkan empat solusi: pemberian sanksi tegas kepada pelaku, pelatihan bela diri bagi siswa sebagai persiapan dan perlindungan, implementasi edukasi kontinu oleh sekolah dan pemerintah mengenai dampak negatif dari bullying, serta pembinaan nilai-nilai empati dan saling menghargai oleh orang tua dan masyarakat sekitar untuk menumbuhkan rasa empati yang berkelanjutan pada anak-anak. DOI. http://dx. org/10. 22373/bunayya. Page | 219 Bunayya : Jurnal Pendidikan Anak Volume 9 Issue 2 . Pages 210-221 DAFTAR PUSTAKA