Vol. 5 No. 1 (September 2. 45 - 50 ISSN 2808-1587 Pena Jangkar http://jurnal. amnus-bjm. id/index. php/pena-jangkar PERAN BAHASA INGGRIS DALAM MENYIAPKAN TARUNA D-i MANAJEMEN PELABUHAN AMNUS BANJARMASIN SEBAGAI PROFESIONAL MARITIM Elisa Rosiana A 1. Hidayati Desy2. Edison3. David Bastian Sihombing4 Akademi Maritim Nusantara Banjarmasin 1,2,3,4 Info Artikel ______________ Sejarah Artikel: Diterima 08/08/2025 Disetujui 31/08/2025 Dipublikasikan 30/09/2025 _______________ Bahasa Inggris. Pendidikan Maritim. Taruna D-i Manajemen Pelabuhan. Kompetensi Profesional. Tantangnan Pengajaran Bahasa Inggris _____________ ___ Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi penguasaan Bahasa Inggris dalam mempersiapkan taruna untuk berkarir di industri maritim. Dengan menggunakan pendekatan campuran . ixed method. , penelitian ini mengintegrasikan data kulitatif melalui wawancara mendalam dan observasi kelas, serta data kuantitatif dari survei yang melibatkan 100 taruna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 72% taruna memiliki penguasaan dasar Bahasa Inggris yang cukup baik, terutama dalam aspek membaca dan Namun, keterampilan berbicara dan mendengarkan masih menjadi tantangan utama, dimana lebih dari separuh responden mengaku kesulitan memahami istilah teknis maritim dalam percakapan nyata. Observasi juga memperhatikan keterbatasan praktik komunikasi interaktif di kelas. Temuan ini menegaskan perlunya pengembangan kurikulum Bahasa Inggris yang lebih aplikatif, berbasis konteks maritim, serta berfokus pada peningkatan keterampilan komunikasi lisan. Dengan demikian, taruna diharapkan lebih siap menghadapi tuntutan industri pelayaran yang menuntut kemampuan berbahasa Inggris aktif dalam lingkungan kerja global. Abstract This study aims to analyze the contribution of English proficiency in preparing cadets for careers in the maritime industry. Using a mixed-method approach, the research combines qualitative data from in-depth interviews and classroom observation with quantitative data collected through a survey of 100 cadets. The findings reveal that 72% of cadets demonstrate aduquate basic English proficiency, particularly in readin gand writing. However, speaking and listening skills remain major challeges, with more than half of the respondents reporting difficulties in understanding technical maritime terms in real-life conversation. Classroom observations also indicate limited opportunities for interactive communication practice. These results higlight the need for a more contextual and practice-oriented English curriculum, tailored to maritime settings and focused on strengthening oral communication skills. Such an approach is expected to better equip cadets to meet the demansds of the increasingly global maritime A 2025 Akademi Maritim Nusantara Banjarmasin Korespondensi: Elisa Rosiana E-mail: elroseel09@gmail. Elisa Rosiana. Hidayati Desy. Edison. David Bastian Sihombing/Pena Jangkar PENDAHULUAN Dalam era globalisasi yang semakin pesat. Bahasa Inggris telah menjadi bahasa Internasional yang dominan di berbagai sektor, termasuk sektor maritime. Sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia memiliki peran strategis dalam perdagangan internasional, transportasi logistik, dan pertahanan laut. Oleh karena itu, penguasaan Bahasa Inggris menajdi kompetensi kursial bagi para professional maritime, termasuk taruna D-i Manajemen Pelabuhan di Akademi Maritim Nusantara (AMNUS) Banjarmasin. AMNUS Banjarmasin merupakan satu-satunya institusi pendidikan tinggi maritime di Pulau Kalimantan yang berlokasi di Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Sebagai lembaga pendidikan yang bertujuan mencetak tenaga ahli di bidang pelabuhan dan logistic maritime. AMNUS Banjarmasin memiliki peran strategis dalam mememnuhi kebutuhan sumber daya manusia (SDM) kompeten di kawasan Kalimantan yang memiliki potensi maritime besar, terutama dalam mendukung aktifitas pelabuhan seperti Pelabuhan Trisakti Banjarmasin dan Pelabuhan Batulicin. Pelabuhan sebagai simpul utama perdagangan internasional membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya mahir dalam aspek teknis manajemen, tetapi juga mampu berkomunikasi secara efektif dalam Bahasa Inggris. Hal ini mengingat sebagian besar dokumen pelayaran, prosedur keselamatan (SOLAS/ISPS Cod. , dan komunikasi dengan kapal asing menggunakan Bahasa Inggris sebagai standar internasional. Tanpa penguasaan Bahasa Inggris yang memadai, taruna AMNUS Banjarmasin berisiko menghadapi kendala dalam beradaptasi dengan lingkungan kerja global. Berdasarkan data Internasional Maritim Organization (IMO,2. lebih dari 90% perdagangan global dilakukan melalui jalur laut, dengan Bahasa Inggris sebagai bahasa resmi komunikasi maritim. Di tingkat ASEAN, kemampuan berbahasa Inggris juga menjadi salah satu keriteria utama dalam ASEAN Mutual Recognition Arragement (MRA) for Maritime Services, yang mewajibkan SDM pelabuhan memiliki kompetensi komunikasi Di sisi lain, survey awal yang dilakukan di AMNUS Banjarmasin . menunjukkan bahwa hanya 45% taruna yang mencapai tingkat intermediate (B1/B2 CEFR) dalam kemampuan Bahasa Inggris. Padahal, industry pelabuhan modern menuntut setidaknya tinkat upper-intermediate (B. untuk memahami dokumen teknis dan berinteraksi dengan mitra asing. Kondisi mempertegas urgensi penguatan kurikulum Bahasa Inggris di AMNUS Banjarmasin agar lulusannya dapat bersaing di pasar kerja regional maupun global. Berdasarkan latar belakang diatas, artikel ini bertujuan untuk mengetahui peran Bahasa Inggris dalam membentuk kompetensi professional taruna D-i Manajemen Pelabuhan AMNUS Banjarmasin di sektor maritime Elisa Rosiana. Hidayati Desy. Edison. David Bastian Sihombing/Pena Jangkar METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran . ixed method. untuk mengekplorasi penguasaan Bahasa Inggris di kalangan Taruna D-i Manajemen Pelabuhan di AMNUS Banjarmasin. Pendekatan ini dipilih berdasarkan rekomendasi Creswell & Poth . yang menyatakan bahwa penelitian di bidang pendidikan memerlukan kombinasi data kualitatif . ntuk memahami pengalaman subje. dan kuantitatif . ntuk mengukur kemampuan secara objekti. Pada aspek kualitatif, peneltian ini menggunakan wawancara mendalam terhadap 10 taruna yang dipilih secara purposive berdasarkan tingkat kemampuan Bahasa Inggris Selain itu, observasi kelas selama 5 sesi pembelajaran juga dilakukan. Pendekatan ini sejalan dengan teori Babbie . tentang pentingnya pengumpulan data langsung untuk memahami fenomena sosial secara mendalam. Wawancara difokuskan pada pengalaman belajar Bahasa Inggris, tantangan yang dihadapi, dan persepsi terhadap relevansi Bahasa Inggris dalam dunia kerja maritime. Di sisis kuantitatif, peneltian ini menyebarkan kuesioner kepada 100 taruna untuk mengukur tingakt penguasaan Bahasa Inggris . eliputi listening, speaking, reading, dan writin. serta persepsi mereka terhadap urgensi Bahasa Inggris dalam karir maritime. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif . ean, persentas. dan uji korelasi untuk melihat hubungan antara penguasaan Bahasa Inggris dan persepsi terhadap peluang kerja. Metode ini didukung oleh Mertler . yang menekankan pentingnya pengukuran objektif dalam penelitian pendidikan. Untuk memastikan validitas dan reliabilitas, penelitian ini menerapkan traingulasi data dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan survey. Instrumen kuesioner juga diuji validitasnya menggunakan Pearson Correlation dan reliabilitas dengan CronbachAos Alpha ( Ou 0,. sebagaimana disarankan dalam Fraenkel. Wallen, & Hyun . HASIL PENELITIAN Survei dilakukan terhadap 100 taruna D-i Manajemen Pelabuhan di AMNUS Banjarmasin. Dari total responden, 60% adalah laki-laki dan 40% perempuan. Sebagian besar responden atau 70% berada di tahun kedua pendidikan, dengan usia rata-rata 20 Hasil survey mengenai tingkat penguasaan Bahasa Inggris menunjukkan bahwa 45% responden mengaku memiliki kemampuan Bahasa Inggris pada tingkat intermediate (B1/B2 CEFR), sementara 30% berada pada tingkat beginner (A1/A. dan 25% pada tingkat upper-intermediate (B. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada sejumlah taruna yang memiliki kemampuan yang baik, masih banyak yang perlu meningkatkan penguasaan Bahasa Inggris mereka. Mengenai pengalaman belajar Bahasa Inggris, sebanyak 65% responden menyatakan bahwa mereka merasa metode pengajaran Bahasa Inggris di AMNUS Banjarmasin cukup efektif. Namun, 35% responden lainnya merasa bahwa metode tersebut kurang menarik dan tidak sesuai dengan kebutuhan mereka di dunia kerja. Responden juga Elisa Rosiana. Hidayati Desy. Edison. David Bastian Sihombing/Pena Jangkar mengungkapkan bahwa kurangnya praktik berbicara dan mendengarkan dalam konteks maritim menjadi tantangan utama dalam pembelajaran. Hasil survey terhadap pentingnya Bahasa Inggris menunjukkan bahwa 85% responden percaya bahwa penguasaan Bahasa Inggris sangat penting untuk karir mereka di sektor maritime. Mereka menyatakan bahwa kemampuan berbahasa Inggris akan meningkatkan peluang kerja dan memudahkan komunikasi dengan mitra internasional. PEMBAHASAN Dari hasil survey yang telah dilakukan dalam penelitian ini, sejumlah studi terkini mendukung temuan penelitian ini. Misalnya, dalam artikel oleh Davis . yang berjudul AuEnglish Proficiency and Career Opportunities in Maritime Sector,Ay dijelaskan bahwa penguasaan Bahasa Inggris yang baik tidak hanya meningkatkan kemampuan komunikasi, tetapi juga berkontribusi pada keselammatan dan efisiensi operasional di pelabuhan. Smith et. yang berjudul AuThe Importance of English Proficiency in Maritime EducationAy, juga menjelaskan bahwa penguasaan Bahasa Inggris yang baik tidak hanya meningkatkan kemampuan komunikasi, tetapi juga berkontrobusi pada keselamatan dan efisiensi operasional di pelabuhan. Penelitian ini menekankan bahwa lulusan yang memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik lebih mampu memahami dokumen teknis dan berinterksi dengan mitra internasional, yang sejalan dengan hasil survey yang menunjukkan bahwa 85% responden percaya bahwa Bahasa Inggris sangat penting untuk karir mereka. Selain itu, artikel oleh Johnson dan Lee . AuChallenges in Maritime English Education: A Case Study,Ay mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam pengajaran Bahasa Inggris di isntitusi pendidikan maritime. Penelitian ini menemukan bahwa kurannya praktik berbicara dan mendengarkan dalam konteks maritime menajdi kendala utama bagi Hal ini sejalan dengan temuan penelitian ini, dimana 35% responden merasa bahwa metode pengajaran yang ada kurang menarik dan tidak sesuai dengan kebutuhan mereka diduni kerja. Lebih lanjut. Wang dan Chen . dalam artikel mereka AuInnovative Approaches to Teaching Maritime EnglishAy mengusulkan metode pengajaran yang lebih interaktif dan berbasis praktik, seperti simulai situasi nyata di pelabuhan. Selain itu. Lee . dalam artikel AuEnhancing English Language Skills in Maritime TrainingAy juga mengusulkan hal yang serupa dalam metode pengajaran. Pendekatan ini dapat meningkatkan keterampilan berbicara dan mendengarkan taruna, yang sangat diperlukan dalam konteks maritime. Rekomendasi ini sejalan dengan kebutuhan yang diidentifikasi dalam penelitian ini untuk meningkatkan kualitas pengajaran Bahasa Inggris di AMNUS Banjarmasin. Elisa Rosiana. Hidayati Desy. Edison. David Bastian Sihombing/Pena Jangkar KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguasaan Bahasa Inggris di kalangan taruna D-i Manajemen Pelabuhan di AMNUS Banjarmasin masih perlu ditingkatkan. Meskipun 45% responden berada pada tingkat intermediate, angka ini masih jauh dari ideal, mengingat tuntutan industry maritime yang semakin tinggi. Penguasaan Bahasa Inggris yang baik sangat penting utnuk emmahami dokume teknis, berkomunikasi dengan kapal asing, dan menjalankan prosedur keselamatan yang memerlukan pemahaman Bahasa Inggris. Pengalaman belajar yang dirasakan oleh taruna juga menunjukkan adanya kesenjangan antara metode pengajaran yang diterapkan dan kebutuhan nyata di lapangan. Meskipun sebagian besar responden merasa bahwa metode pengajaran cukup efektif, masih ada 35% yang merasa kurang puas. Hal ini menunjukkan perlunya evaluasi dan pengembangan kurikulum Bahasa Inggris yang lebih relevan dengan konteks maritime. Metode pengajaran yang lebih interaktif dan berbasis praktik, seperti simulais situasi nyata di pelabuhan, dapat meningkatkan keterampilan berbicara dan mendengarkan taruna. Persepsi positif terhadap pentingnya Bahasa Inggris dalam karir maritim menunjukkan kesadaran yang tinggi di kalangan taruna mengenai kebutuhan untuk menguasai bahasa ini. Namun, kesadaran ini perlu diimbangi dengan upaya nyata dalam meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris mereka. AMNUS Banjarmasin sebagai satusatunya institusi pendidikan maritime di Kalimantan Selatan memiliki tanggung jawab untuk menyediakan program pembelajaran yang lebih efektif dan menarik, serta memberikan dukungan tambahan seperti kursus Bahasa Inggris atau pelatihan komunikasi. DAFTAR PUSTAKA