Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis (JEPA) Volume 10. Nomor 02 . : 554-566 ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . GENDER DAN KEKUASAAN SIMBOLIK DALAM PERTANIAN ANGGUR DI DESA BANJAR BULELENG BALI GENDER AND SYMBOLIC POWER IN GRAPES FARMING IN BANJAR VILLAGE BULELENG BALI Putu Mega Ulia Dani1*. Yayuk Yuliati2 . Keppi Sukesi3 (Program Studi Sosiologi. Departemen Sosial Ekonomi. Universitas Brawijay. (Email: megaulia@student. (Program Studi Sosiologi. Departemen Sosial Ekonomi. Universitas Brawijay. (Email: y. yuliati@ub. (Program Studi Sosiologi. Departemen Sosial Ekonomi. Universitas Brawijay. (Email: keppi_s@yahoo. Penulis korespondensi: megaulia@student. ABSTRACT The combination of the three roles of women in grape farming in Banjar Village. Buleleng. Bali is the root of the excessive burden on women. However, what is interesting is that women themselves do not feel disadvantaged or burdened by these conditions, but rather they interpret them as something natural. This study was conducted using a qualitative method with the aim of describing and identifying forms of symbolic power in grape farming. Data collection in this study was carried out through data triangulation in the form of observation, interviews, and literature studies. The results of the study show that women in grape farming in Banjar Village interpret triple roles as a form of obligation and nature of a woman, so that various forms of domination in these roles seem invisible. This condition is referred to as symbolic power by Pierre Bourdieu, this power is very smooth in entering the structure of the grape farming community which indirectly strengthens the patriarchal culture in the local community. Indirectly, this symbolic power affects the limitations of women's access and control over resources and benefits. This condition is also influenced by factors such as patriarchal norms and culture, demographic factors, economics, institutions, legal parameters and NonGovernmental Organizations. Keywords: Harvard. Power. Role. Symbolic. Woman ABSTRAK Kombinasi ketiga peran perempuan dalam pertanian anggur di Desa Banjar Buleleng Bali menjadi akar munculnya beban berlebih terhadap perempuan. Namun yang menarik adalah perempuan sendiri tidak merasa dirugikan atau terbebani dengan kondisi tersebut, melainkan mereka memaknai sebagai sesuatu yang wajar. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan tujuan untuk mendeskripsikan dan mengidentifikasi bentuk kekuatan simbolik dalam pertanian anggur. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui triangulasi data berupa observasi, wawancara, dan studi literature. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan dalam pertanian anggur di Desa Banjar memaknai triple roles sebagai bentuk kewajiban dan kodrat seorang perempuan, sehingga berbagai bentuk dominasi yang ada dalam peran-peran tersebut seolah tidak tampak. Kondisi ini disebut sebagai kekuatan simbolik oleh Piere https://doi. org/10. 21776/ub. Putu Mega Ulia Ae Gender Dan Kekuasaan Simbolik Dalam Pertanian Anggur . Bourdieu, kekuatan ini sangat mulus masuk ke dalam struktur masyarakat pertanian anggur yang secara tidak langsung memperkuat budaya patriarki dalam masyarakat Secara tidak langsung kekuatan simbolik tersebut mempengaruhi keterbatasan akses dan control perempuan terhadap sumberdaya dan manfaat. Kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh factor-faktor seperti norma dan budaya patriarki, factor demografi, ekonomi, kelembagaan, parameter hukum maupun Lembaga Swadaya Masyarakat. Kata kunci: Peran. Perempuan. Kekuatan. Simbolik. Harvard PENDAHULUAN Perempuan memiliki kontribusi yang besar dalam pertanian, mereka memiliki andil dalam pengelolaan hingga budidaya tidak jarang juga perempuan mengerjakan aktivitas pertanian mulai dari hulu sampai hilir (Maulana et al. , 2. Keterlibatan perempuan dalam sektor pertanian ini menjadi menarik untuk dijadikan diskusi dalam wacana gender, karena kontribusi tersebut kerap hanya dianggap sebagai bentuk peran sekunder oleh masyarakat, sehingga perempuan kerap tidak mendapatkan legitimasi social. Padahal jika dilihat persentase perempuan dalam sektor pertanian sangat tinggi sekitar 30% dari total 27, 5 juta petani . awitindonesia, 2. Meskipun jika dilihat dari data keterlibatan perempuan dalam pertanian bisa dikatakan bahwa perempuan telah mengalami feminisasi pertanian, namun yang menjadi persoalan adalah peningkatan keterlibatan tersebut tidak diiringi dengan ketersediaan akses dan control sumber daya terhadap perempuan. Disamping itu juga keterlibatan tersebut tidka diimbangi dengan penurunan beban kerja dalam ranah domestic, sehingga membuat perempuan menjalankan peran ganda sekaligus. Terlebih dalam masyarakat Bali perempuan memiliki tiga peran atau triple role, kondisi ini juga terjadi dalam pertanian anggur di Desa Banjar dimana perempuan terlibat dalam peranan produktif, reproduktif serta peranan social. Kombinasi dari ketiga peran ini secara tidak hanya menimbulkan beban ganda terhadap perempuan, tetapi justru menimbulkan beban yang berlipat atau triple burden. Namun peran krusial perempuan tersebut kerap hanya dihargai secara simbolik, tetapi secara struktur kekuasaan perempuan belum mendapatkan pengakuan yang setara. Hal ini bisa dilihat melalui pemerolehan akses dan control terhadap sumberdaya, dimana kepemilikan lahan pertanian anggur hampir semua dikuasi oleh laki-laki, termasuk akses terhadap pengetahuan, modal, maupun alat pertanian juga perempuan mengalami keterbatasan. Uniknya persoalan peran dan beban dalam masyarakat setempat dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan tidak perlu dipermasalahkan, bahkan perempuan sendiri secara sadar dan iklas menerima kenyataan tersebut karena mereka memaknai kondisi tersebut sebagai kodrat seorang perempuan. Munculnya ketimpangan peran serta penerimaan masyarakat terhadap kondisi tersebut bukan merupakan factor alamiah, melainkan terbentuk dari sebuah kontsruksi, dimana budaya patriarki sudah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat yang bekerja secara simbolik, sehingga tidak disadari sebagai bentuk ketimpangan gender. Jika dilihat secara pandangan teori fenomena ini sejalan dengan analisis Piere Bourdieu tentang kekuasaan simbolik yakni bentuk dominasi yang tidak terlihat secara nyata namun mempengaruhi kehidupan masyarakat melalui legitimasi dan internalisasi. Oleh karena itu perempuan tidak menyadari kondisi tersebut sebagai bentuk penindasan structural, terlebih perempuan Bali sudah terbiasa dengan kehidupan dalam lingkar patriarki, karena perempuan memaknai apa yang mereka lakukan adalah bentuk pengabdian . , sehingga akan dilakukan dengan tulus iklas tanpa memperhitungkan adanya perbedaan beban kerja anatara perempuan dan laki-laki JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 554-566 (Firdaus, 2. Untuk melihat praktik kekuasaan simbolik dalam pertanian anggur penting melakukan analisis gender Harvard untuk bisa melihat sejauh mana akses dan control mauapun manfaat perempuan dalam sektor pertanian yang menjadi penyebab ketimpangan gender. Kajian terkait peranan perempuan dalam sektor pertanian sudah banyak dilakukan salah satunya terkait peran ganda perempuan pedesaan guna membantu peningkatan ekonomi demi pemenuhan kebutuhan keluarga (Pertiwi et al. , 2. Selain itu ada juga yang mengkaji terkait dinamika peran ganda perempuan ganda keluarga petani yang harus menjalakan peran produktif sekaligus reproduktif, namun kondisi tersebut tidak lantas membuat perempuan memiliki status sebagai petani, karena kontribusi tersebut hanya dimaknai sebagai bentuk bantuan terhadap suami (Putri & Anzari, 2. Namun kajian terdahulu sebagian besar melihat peranan perempuan secara deskriptif, tetapi belum ada kajian yang mengelaborasi tentang konstruksi patriarki yang bekerja melalui kekuasaan simbolik secara lebih komperhensif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyoroti realitas peran perempuan dalam pertanian anggur yang kemudian dianalisis menggunakan Analisis Harvard. METODE PENELITIAN Desa Banjar. Kabupaten Buleleng. Provinsi Bali dijadikan sebagai lokasi penelitian Penelitian ini karena merupakan salah satu daerah dengan lahan pertanian yang cukup banyak, serta karakteristik perempuan dalam masyarakat setempat memiliki tiga peran . riple role. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui teknik pengumpulan data triangulasi yang meliputi . Observasi, dengan langsung melakukan pengamatan ke lahan anggur di Desa Banjar, guna melihat aktivitas pertanian yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan . Wawancara, dilakukan secara in depth kepada informan kunci yang terdiri dari perempuan pemetik dan petani anggur guna mendapatkan jawaban dari rumusan-rumusan masalah yang telah dirumuskan berkaitan dengan peran perempuan dan laki-laki dalam pertanian anggur . Studi literatur, melalui penggunaan sumber dari buku, internet, maupun artikel sebagai bahan referensi yang relevan untuk mendukung pembahasan tulisan ini. Data yang disajikan dalam penelitian ini dilengkapi dengan tabel guna memberikan pembahasan yang lebih komperhensif. Untuk teknik analisis data mengikuti pola Miles Huberman dan Saldana yang meliputi koleksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan HASIL DAN PEMBAHASAN Perempuan petani anggur memiliki peran yang sangat kompleks mulai dari peran produktif, reproduktif, dan peran social. Kombinasi ketiga peran ini menjadi salah satu sumber munculnya beban ganda terhadap perempuan. Pola pembagian kerja yang terjadi dalam masyarakat pertanian di Desa Banjar tidak hanya terbentuk berdasarkan kemampun biologis, namun secara dominan dibentuk oleh konstruksi patriarki dalam masyarakat. Berbagai narasi maupun streotif yang berkembang secara tidak langsung melanggengkan budaya patriarki yang memposisikan laki-laki sebagai kaum superior yang secara tidak langsung juga menciptakan kesenjangan pola pembagian kerja. Sejatinya ketiga peranan yang dilakoni perempuan memiliki tingkat kompleksitas yang cukup tinggi, sehingga hal tersebut turut mempengaruhi beban kerja Berikut disajikan tabel peranan perempuan dengan tingkat kompleksitas yang JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Putu Mega Ulia Ae Gender Dan Kekuasaan Simbolik Dalam Pertanian Anggur . Tabel 1. Kompleksitas Peran Perempuan Peran Perempuan dalam Pertanian Anggur Peran Peran Produktif Peran Reproduktif Aktivitas - Memetik - Membantu - Mengurus Pergi - Memasak - Mencuci - Mengantar anak sekolah - Mengasuh cucu Peran Sosial - Membuat banten ritual di subak - Mebraya . ktivitas social keagamaa. Sosialisasi/ buah anggur Tingkat Kompleksitas Rata-rata aktivitas yang tinggi, seperti: Bekerja memetik anggur mengurus kebun fisik yang kuat dengan tingkat sampai berat - Mengurus urusan domestic membutuhkan kekuatan, fisik kesabaran dan cekatan, multitugas Mengasuh membutuhkan kesabaran dan pengelolaan emosi, serta multitugas. Aktivitas kompleks dan dalam pembuatan bebantenan cenderung lebih rumit sehingga butuh ketelitian dan keterampilan khusus Waktu - 7-8 jam untuk - 3-4 jam non anggur hanya - 4-5 jam untuk pemetik anggur - 7-8 jam untuk pekerja pemetik anggur 2-3 jam Tabel di atas menunjukkan peranan perempuan beserta komplesitas yang dihadapi, namun uniknya perempuan petani di Desa Banjar tidak pernah mempersoalkan hal tersebut, justru mereka menikmati pekerjaan mereka sebagai perempuan. Jika dilihat dari pandangan Bourdieu konidisi ini relevan dengan konsep kekuasan simbolik, dimana kekuasaan simbolik merupakan kekuasaan yang tidak terlihat secara langsung atas tubuh, karena pola ini akan bekerja tanpa menggunakan kekerasan fisik (Bourdieu, 2. Kekuasaan simbolik akan masuk JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 554-566 ke dalam kehidupan masyarakat melalui legitimasi social yang dibentuk melalui kebiasaan yang dilakukan secara berulang bahkan oleh perempuan itu sendiri. Seperti halnya dalam pembagian kerja pada ranah domestic, perempuan menganggap bahwa urusan domestic adalah kewajiban atau kodrat sebagai perempuan, padahal kodrat memiliki pemahaman yang berbeda dimana Husein menyebutkan bahwa kodrat dipahami sebagai sesuatu yang melekat pada tubuh perempuan yang didasarkan atas factor biologis atau berkaitan dengan kemampuan reproduksinya (Kusmana, 2. Istilah sumur, kasur dapur yang merepresentasikan peran perempuan dalam urusan penyediaan air atau mencuci, peran dalam urusan dapur, serta pemenuhan kebutuhan seksual dianggap sebagai tugas perempuan sepenuhnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa konstruksi patriarki masuk secara melalui kekuatan simbolik yang membuat perempuan menerima pola pembagian kerja tersebut secara sadar dan memaknai sebagai kewajiban, sehingga dominasi patriarki sudah terinternalisasi dengan mulus tanpa adanya sebuah paksaan. Praktik dominasi patriarki dalam masyarakat petani anggur di Desa Banjar terjadi melalui lembaga adat,tradisi, agama, bahkan dalam lingkungan yangpaing sederhana melalui keluarga, bahasa maupun narasi atau streorif yang berkembang dalam Elemen-elemen inilah yang turut memperkuat praktik dominasai secara Kekerasan simbolik terjadi melalui disposisi yang sudah terkonstruksi dalam diri lakilaki maupun perempuan secara terselubung dan rumit, yang terjadi melalui sosialiasi dan familirialissi yang tidak disadari sejak kecil dalam kurun waktu yang lama (Bourdieu, 2. Dalam pandangan Bourdieu ada tiga lembaga yang dilihat bertanggungjawab atas kerja reproduksi dominasi maskulin yakni keluarga, gereja dan sekolah. Ketiga lembaga tersebut bekerja secara objektif dan tidak disadari. Gereja salah satu dari ketiga lembaga tersebut dianggap turut mengembangkan nilai-nilai patriarkal melalui dogma tentang inferioritas Gereja membentuk struktur sejarah yang secara tidak disadari oleh masyarakat melalui teks sacral, simbol maupun liturgy dan ruang religius (Bourdieu, 2. Pandangan Bourdieu ini sejalan dengan kondisi yang dialami oleh masyarakat petani anggur di Desa Banjar bahwasanya secara tidak langsung agama Hindu turut berkontribusi dalam menanamkan nilai patriarkal, agama tidak hanya dijadikan sebagai sistem kepercayaan namun juga struktur social yang mengatur relasi kuasi peran gender masyarakat. Agama hindu memiliki struktur yang kompleks utamanya yang berkaitan dengan nilai-nilai religi dan spiritual, perempuan kerap dianggap sebagai penjaga dan penerus tradisi, sehingga perempuan memiliki peran sentral dalam persoalan bebantenan atau ritual keagamaan. Anggapan ini didukung oleh pandangan (Sutika, 2. yang menyatakan bahwa citra perempuan Bali sebagai ibu rumah tangga membuat mereka terjebak dalam aktivitas domestic mulai dari mengurus kondisi rumah sampai mengurus anak bahkan aktivitas keagamaan dianggap menjadi tanggungjawab seorang perempuan. Kemudian pada sistem subak secara legal formal yang tercatat sebagai anggota subak adalah laki-laki, karena laki-laki dianggap memiliki tanggungjawab yang penuh dalam sistem tersebut. Sementara perempuan dianggap sebagai pendamping suami, karena perempuan memiliki peranan dalam melaksanakan pelaksanaan upacara khususnya yang berkaitan dengan penyiapan banten dan nyoroh banten. Padahal sejatinya dibalik terlaksananya upacara pada sistem subak ada peran dominan perempuan, namun hal tersebut kerap kali tidak mendapatkan legitimasi secara social karena dianggap sebagai sesuatu yang semestinya terjadinya, sehingga legitimasi atau pengakuan secara formal akan ditujukan kepada laki-laki bukan perempuan. Kondisi ini secara tidak langsung mengesampingkan peran strategis perempuan dalam persoalan produksi ataupun akses sumber daya. JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Putu Mega Ulia Ae Gender Dan Kekuasaan Simbolik Dalam Pertanian Anggur . Bentuk dominasi berikutnya terlihat pada ritual ngebekin dan ngulap ngambe dalam pertanian anggur dimana perempuan memiliki peran sentral dalam pelaksanaan ritual mulai dari tahap penyiapan sarana upacara sampai pada tahap pelaksanaan dan memimpin ritual. Dalam konteks ini perempuan dianggap memiliki kemampuan yang lebih oleh masyarakat termasuk laki-laki, sehingga melalui peran dalam ritual tersebut dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada kaum perempuan, karena mereka diberikan kekuasan dalam pelaksanaan ritual sehingga secara simbolik perempuan mendapatkan apresiasi. Namun pada realitanya apresiasi simbolik tersebut tidak lantas memberikan kekuasaan atas akses dan control terhadap sumberdaya kepada Faktanya perempuan dalam pertanian anggur tidak memiliki control atas kepemilikan dan pengelolaan tanah, kemudian keputusan penentuan harga jual serta penentuan pola tanam dan pupuk masih didominasi oleh laki-laki. Masyarakat petani anggur mengangap bahwa antara laki-laki dan perempuan selalu setara dan saling melengkapi satu sama lain, misalanya dalam kegiatan subak biasanya pelaksanaan upacara dipimpin oleh lak-laki yang disebut sebagai pedanda, sehingga secara kedudukan dan legitimasi akan didapatkan oleh lakilaki. Namun dalam pelaksaanya pedanda biasa didampingi oleh istrinya untuk membantu urusan bebantenan, hal ini dipandang sebagai bentuk kesetaraan dalam masyarakat pertanian Banjar karena mereka selalu berdampingan dan saling melengkapi. Hal ini sejalan dengan penyampaian AuIya itu laki-laki sebagai pemangkunya, kecuali misalkan suaminya sudah tidak ada itu sementara bisa digantikan oleh istrinya selagi masih belum ada pemilihan Biasanya kan kalau ada ngusaba itu yang mimpin kan pedanda, jadi istrinya mendampingiAy (Informan KS, 07 januari 2. Ungkapan dengan kata mendampingi sesungguhnya merujuk pada bentuk kesetaraan, namun pada realitanya kata mendampingi yang dimaksud adalah melayani suami pada saat mimpin upacara seperti menyiapkan kelengkapan yang dibutuhkan termasuk mengurus Pola ini terjadi dalam masyarakat petani anggur di Desa Banjar, dimana perempuan petani anggur memiliki peran yang sangat kompleks mulai dari peran produktif, reproduktif, dan peran social. Kombinasi ketiga peran ini menjadi salah satu sumber munculnya beban ganda terhadap perempuan. Pola pembagian kerja yang terjadi dalam masyarakat pertanian di Desa Banjar tidak hanya terbentuk berdasarkan kemampun biologis, namun secara dominan dibentuk oleh konstruksi patriarki dalam masyarakat. Berbagai narasi maupun streotif yang berkembang secara tidak langsung melanggengkan budaya patriarki yang memposisikan laki-laki sebagai kaum superior. Berikut akan disajikan tabel mengenai triple role perempuan petani anggur dilihat dari tingkat kompleksitas dan waktu bekerjanya. Peran Perempuan Petani Anggur di Desa Banjar dalam Analisis Harvard Kombinasi ketiga peran perempuan yang dikenal dengan istilah triple role diterima baik oleh perempuan dan dimaknai sebagai bentuk kewajiban atau kodrat seorang perempuan dalam masyarakat Bali hal tersebut dimaknai sebagai bentuk swadarma yang harus dilakukan. Perempuan dalam pertanian anggur juga tidak menyadari bahwa dibalik tiga peran yang biasa mereka lakukan sehingga mereka tidak menyadari bahwa ada dominasi yang masuk secara Lebih jauh lagi untuk melihat secara lebih jauh tentang praktik dominasi perlu dilakukan analisis Harvard dalam melihat akses profil, control, manfaat dan factor yang berpengaruh, yang akan dijabarkan melalui tabel-tabel dibawah: JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 554-566 Tabel 2. Profil Aktivitas Perempuan dan Laki-laki dalam Pertanian Anggur Peran Perempuan Petani Anggur Peran Laki-laki Perempuan Peran Produktif - Mengurus Kebun Anggur - Membantu mengurus Penyiapan kebun . emupukan (Penyiangan, pembibita. - Perawatan (Penyiraman, - Memetik anggur - Membawa anggur ke - Ngepak anggur - Masa Panen (Membawa anggur ke jala. - Pasca Panen (Penyiangan, stek batan. Peran Reproduktif - Mengasuh anak atau - Pergi ke pasar - Memasak - Mencuci - Mengurus rumah - Mengantar - Mengasuh anak atau Peran Sosial - Keterlibatan dalam - Mebraya . ktivitas ritual Subak social keagamaa. - Mebraya . ktivitas - Rapat kelompok tani social keagamaa. dan subak Sosialisasi/ - Sosialisasi/ penyuluhan tentang buah anggur Melalui tabel di atas dapat dilihat bahwa laki-laki dan perempuan dalam pertanian anggur memiliki uraian tugas yang berbeda. Laki-laki cenderung lebih banyak terlibat dalam peranan produktif terutama dalam mengurus tanaman anggur mulai dari penyiapan lahan sampai proses perawatan tanaman yang meliputi perawatan tunas dan batang, penyemprotan juga Disamping itu laki-laki juga kerap terlibat dalam masa panen biasanya membawa anggur yang sudah dipetik menggunakan sepeda motor. Sementara perempuan lebih banyak terlibat dalam masa panen pada peran produktif yakni sebagai pemetik anggur, membawa anggur ke jalan serta ngepak . engemas buah di gudan. Kondisi ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Pertiwi et al. , 2. , dimana pada usaha tani porang laki-laki memiliki peranan yang lebih dominan dengan jumlah pembagian kerja yang lebih kompleks dibanding perempuan yang hanya membantu aktivitas laki-laki. Sementara dalam peranan reproduktif perempuan terlihat memiliki peranan yang lebih dominan yakni mengurus rumah mulai dari penyiapan sampai penyajian makanan, biasanya pagi hari perempuan sudah JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Putu Mega Ulia Ae Gender Dan Kekuasaan Simbolik Dalam Pertanian Anggur . berangkat ke pasar untuk membeli kebutuhan dapur, kemudian dilanjutkan dengan memasak dan mengurus rumah lainya baik itu mencuci perabotan, pakaian maupun menyapu. Bagi sebagaian perempuan petani yang memiliki anak usia dini sebagian besar waktu mereka dihabiskan di rumah untuk mengurus rumah sembari mengasuh anak. Peranan masyarakat pertanian anggur tidak hanya pada peran produktif dan reproduktif namun juga memiliki peranan social dimana baik laki-laki perempuan terlibat dalam kegiatan social kemasyarakatan. Baik laki-laki maupaun eprempuan petani anggur sama-sama terlibat dalam kegiatan menyamabraya . ktivitas social keagamaa. hanya saja laki-laki cenderung lebih dominan terlibat dalam keanggotaan organisasi. Munculnya kondisi terkait pembagian kerja dalam pertanian anggur ini terjadi karena didukung oleh adanya konstruksi nilai simbolik yang dilekatkan pada jenis kelamin, perempuan kerap kali diasosiasikan dengan sifat-sifat feminim seperti lemah lembut, teliti, dan memiliki sifat pengasuhan, sementara laki-laki dianggap lebih rasional, kuat dan tangguh. Anggapan ini juga dinormalisasi oleh masyarakat petani anggur sehingga perempuan lebih banyak ditempatkan pada pekerjaan yang tidak terlihat dan dianggap sebagai peran sekunder. Tabel 3. Akses dan control Akses terhadap sumber Akses Perempuan Laki-laki Sumber daya Oo Oo - Lahan - Tanah - Bibit dan pupuk - Alat produksi Kontrol Perempuan Laki-laki Oo Finansial - Modal/ usaha tani - Pendapatan hasil Oo Oo Organisasi - Kelompok Tani - Kelompok Wanita Tani - Subak Oo Oo Oo Oo Pengetahuan dan Oo - Penyuluhan - Sosialisasi . eknis dan pengolahan - Pemasaran Oo Oo Oo JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 554-566 Akses terhadap sumber daya Nurmayasari (Nurmayasari et al. , 2. dalam penelitianya menjelaskan lakilaki memiliki dominasi terhadap akses sumber daya dengan persentase 87, 78%. Hal ini juga dialami masyarakat Bali yang kental akan budaya patriarki akses dan control terhadap sumber daya termasuk sumber daya pertanian dominan dikuasai oleh laki-laki. Kalau berbicara akses sesunguhnya dalam pertanian anggur di Desa Banjar perempuan memiliki akses terhadap sumber daya salah satunya lahan, banyak perempuan yang terlibat dalam mengurus kebun dan memetik anggur pada saat masa panen, namun jika dibandingkan dengan laki-laki, akses perempuan lebih terbatas karena laki-laki lebih banyak terlilbat dalam peran produktif pertanian. Namun sebagian besar perempuan tidak memiliki control terhadap sumber daya lahan, hampir semua lahan pertanian anggur yang ada di Desa Banjar tersebut dikuasi oleh laki-laki hal tesebut bisa dilihat dari status kepemilikan lahan secara legalitas formal dalam akta pertanahan atas nama laki-laki. Hal ini tidak lepas dari adanya pengaruh sistem patrilineal yang dianut oleh masyarakat setempat, dimana pengaturan pola pewarisan akan diturunkan kepada laki-laki. Dominasi laki-laki terhadap akses dan control juga terlihat dalam penentuan jenis bibit dan pupuk. Laki-laki cenderung lebih berperan dalam pemilihan bibit maupun pupuk jenis apa yang akan digunakan dalam pertanian anggur tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh streotif masyarakat tentang pembagian kerja secara tradisional, karena laki-laki dianggap lebih kuat secara fisik dan memiliki pemahaman yang lebih luas tentang pertanian anggur secara teknis dibanding Akses terhadap finansial Dalam pertanian anggur di Desa Banjar persoalan akses secara finansial dalam bentuk pinjaman kredit/modal. Tetapi secara umum laki-laki tetap memiliki akses yang lebih dibanding perempuan, karena biasanya proses peminjaman modal atau kredit akan dilakukan oleh laki-laki terlebih dahulu terutama jika nominal kredit yang dibutuhkan harus memerlukan jaminan tertentu seperti sertifikat tanah. Namun perempuan tetap memiliki akses jika ingin mencari modal, terlebih jika pihak laki-laki masih memiliki kredit yang belum dilunasi maka alternatifnya bisa melibatkan pihak perempuan untuk mengajukan kredit. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh informan: AuItu biasanya sesuai sama persyaratan nyari kredit aja sih, kalau misalnya yang laki udah pernah nyari dan masih dalam proses kredit kan gak bisa tu. Nah biasanya kalau kayak gitu diminta istrinya yang masuk untuk sekedar formalitas saja. Tetapi secara tanggungjawab ya nanti tetap laki-laki juga terlibatAy . nforman MB, 05 Januari 2. Penggalan wawancara tersebut menggambarkan laki-laki memiliki akses dan control yang lebih dominan terhadap modal dibanding perempuan. Meskipun perempuan juga memiliki akses, namun belum sepenuhnya. Akses informasi dan pengetahuan Informasi dan pengetahuan juga menjadi salah satu aspek penting dalam sektor pertanian yang mampu mendukung pengembangan produktivitas yang lebih baik. Dalam pertanian anggur di Desa Banjar antara laki-laki dan perempuan memiliki akses terhadap informasi dan pengetahuan. Namun laki-laki memiliki akses yang lebih dominan terutama berkaitan dengan informasi pasar. Sementara dalam akses pengetahuan laki-laki lebih dominan pada pengetahuan pertanian secara teknis, sementara perempuan cenderung pada pengetahuan tentang pengolahan hasil buah JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Putu Mega Ulia Ae Gender Dan Kekuasaan Simbolik Dalam Pertanian Anggur . Namun disisi lain perempuan juga menunjukkan akses dan control terhadap pengetahuan tradisonal melalui ritual ngebekin dan ngulap ngambe dalam pertanian Akses organisasi Dalam pertanian anggur di Desa Banjar organisasi pertanian terwujud dalam kelompok tani dan subak, dalam akses organisasi perempuan dan laki-laki terlihat memiliki akses yang hampir sama, karena perempuan dan laki-laki tergabung dalam kelompok tani, hanya saja perempuan yang tergabung dalam kelompok wanita tani tidak sebanyak kelompok tani laki-laki dan KWT terbatas pada pengolahan produk buah Sementara dalam organisasi subak laki-laki memiliki control yang lebih dominan hal tersebut dilihat pada keanggotaan yang terdaftar atas nama laki-laki. Tetapi perempuan tetap memiliki akses masuk dalam organsiasi subak karena mereka memiliki peranan dalam ritual subak. Tabel 4. Manfaat Akses terhadap Pendapatan hasil panen anggur Pemenuhan rumah tangga Kebutuhan Investasi Pengetahuan dan Pengetahuan dan olahan produk buah anggur Waktu Luang Akses Perempuan Laki-laki Oo Oo Kontrol Perempuan Laki-laki Oo Keterangan Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Akses dan control manfaat Manfaat merupakan hasil yang dirasakan atau diterima oleh seseorang atas pekerjaan yang dilakukan (Maulana et al. , 2. Dalam pertanian anggur akses manfaat yang dirasakan oleh petani anggur baik perempuan dan laki-laki, berupa manfaat secara ekonomi, serta pengalaman dan pengetahuan yang berkaitan dengan aktivitas pertanian anggur. Secara ekonomi baik laki-laki maupun perempuan bisa merasakan melalui pendapatan hasil panen anggur yang diterima. Pendapatan ini biasanya dimanfaatkan oleh laki-laki maupun perempuan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, pengelolaan pendapatan yang berkaitan dengan pembiayaan pertanian, pendidikan anak, maupun kegiatan social dan kesehatan, sedangkan istri lebih kepada pengelolaan biaya kebutuhan sehari-hari. Sementara dalam manfaat pengetahuan dan pengalaman, perempuan kerap terlibat pada pengetahuan baru yang bersifat lokal melalui orangtua, nenek atau tetua di rumah mereka yang mengajarakan bagaimana menjaga keberlanjutan masa panen dan kelestarian alam melalui ritual. Namun berkaitan dengan JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 554-566 pengetahuan formal seperti kegiatan sosialiasi atau penyuluhan pertanian masih sangat terbatas. Sementara laki-laki secara pengetahuan formal mereka lebih banyak merasakan manfaat karena mereka lebih banyak terlibat dalam kegiatan penyuluhan atau pertemuan dari dinas pertanian maupun balai penyuluhan, sehingga laki-laki memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih luas terkait cara budidaya dan perawatan anggur. Faktor-faktor yang Berpengaruh Dalam analisis Harvard selain profil aktivitas, akses control sumberdaya dan manfaat, ada juga factor yang berpengaruh yang menyebabkan perempuan disepikan dalam sektor Faktor yang berpengaruh ini merupakan komponen ketiga dalam analisis Harvard dalam mengevaluasi ketidakadilan gender dalam masyarakat. Tabel 5. Faktor yang berpengaruh terhadap akses dan kontrol Faktor Pengaruh Hambatan . Norma-norma dan hierarki Struktur kelembagaan Faktor ekonomi Faktor politik Budaya yang sangat kental yang menempatkan laki-laki pada posisi yang lebih tinggi Streotif berkembanag tentang peran gender lakilaki dan perempuan Struktur kelembagaan seperti didominsi oleh laki-laki - Sebagian perempuan kontrol penuh atas Perempuan dilibatkan kegiatan rapat atau sosialisasi subak, karena suara perempuan dianggap nomor dua JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Kesempatan . Laki-laki lebih dominan kehidupan termasuk pola pengambilan keputusan Terdapat kelompok wanita tani anggur yang befokus dalam mengolah hasil buah - Perempuan memiliki akses bekerja sebagai sehingga memiliki penghasilan sendiri - Perempuan terlibat buah anggur menjadi Laki-laki dominan dalam pengambila keputusanbaik di organisasi subak mauapun pertanian anggurnya Putu Mega Ulia Ae Gender Dan Kekuasaan Simbolik Dalam Pertanian Anggur . Parameter hukum Training Hak atas tanah atas nama laki- Laki-laki laki karena menganut sistem mendapatkan akses kredit atau modal dengan jaminan sertifikat tanah Pelatihan pertanian secara - Perempuan dilakukan oleh laki-lakiLakipelatihan - Laki-laki perawatan anggur Tabel diatas menunjukkan bahwa ada beberapa factor yang berpengaruh terhadap akses dan control dalam pertanian anggur yang meliputi factor-faktor seperti norma social, factor demografi, ekonomi, hukum, serta pelatihan dan LSM. Beberepa elemen tersebut turut memperkuat konstruksi budaya patriarki dalam masyarakat setempat, terlebih kekuatan norma yang bersifat patriarkal sangat mengakar kuat. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Keterlibatan perempuan petani anggur di Desa Banjar dalam triple role memicu terjadinya beban yang berlebih. Namun masyarakat setempat justru memaknai kondisi tersebut sebagai bentuk kewajiban yang memang layak dilakukan oleh perempuan. Bahkan perempuan sendiri merasa tidak keberatan atas kondisi tersebut karena dianggap sebagai bakti sebagai perempuan. Dalam pandangan Bourdieu hal ini disebut sebagai bentuk kekuatan simbolik yang artinya dominasi terjadi dengan mulus tanpa disadari oleh masyarakat. Berbagai bentuk dominasi tersebut bisa dilihat melalui analisis gender Harvard untuk mengetahui sejauh mana perempuan petani anggur dipinggirkan. Saran Dalam penelitian ini hanya melihat bagaimana perempuan mengalami dominasi akibat kekuatan simbolik, namun belum sampai pada penerapan strategi yang bisa dilakukan dalam mengatasi ketimpangan gender pada pertanian anggur di Desa Banjar. Untuk itu perlu penelitian lanjutan untuk bisa menjadi dasar rujukan pembuat kebijakan yang responsive DAFTAR PUSTAKA Bourdieu. Dominasi Maskulin. Jalasutra. Firdaus. Fenomena Ruang Domestik dan Publik Perempuan Bali: Studi JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 554-566 Fenomenologi Fenomenologi Feminisme di Bali. Commercium, 4. , 161Ae171. https://ejournal. id/index. php/Commercium/article/view/41895/36065 Kusmana. Menimbang Kodrat Perempuan antara Nilai Budaya dan Kategori Analisis. Refleksi, 13. , 779Ae800. https://doi. org/10. 15408/ref. Maulana. Yuliati. , & Sugianto. Femminisasi Pertanian dan Dekonstruksi Gender pada Pertanian Perhutanan Malang Selatan. 6, 1206Ae1215. Nurmayasari. Mutolib. Damayanti. , & Safitri. Kesetaraan Gender pada Rumah Tangga Petani Padi Sawah di Kecamatan Gading Rejo Kabupaten Pringsewu. Suluh Pembangunan : Journal of Extension and Development, 1. , 81Ae89. https://doi. org/10. 23960/jsp. Pertiwi. Fibrianingtyas. , & Maulinda. Peran Ganda Perempuan Pedesaan dalam Rumah Tangga Petani Berperspektif Gender The Dual Role of Rural Women in Farming Household from a Gender Perspective. 23, 318Ae330. Putri. , & Anzari. Dinamika peran ganda perempuan dalam keluarga petani di Indonesia. Jurnal Integrasi Dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (JIHI3S), 1. , 757Ae https://doi. org/10. 17977/um063v1i6p757-763 Sutika. Perempuan dalam Konstruksi Sosial Religius Masyarakat Bali. Pustaka :