Jurnal Sylva Lestari Vol. 7 No. Mei 2019 . ISSN . 2339-0913 ISSN . 2549-5747 Persepsi Masyarakat terhadap Pengembangan Penangkaran Rusa (Cervus s. di Kota Bandar Lampung The Public Perception towards the Development of Deer Breeding in Bandar Lampung Oleh: Bainah Sari Dewi1*. Akhmad Kamaluddin1. Yoshua Gdemakarti1 Jurusan Kehutanan. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung Jl Sumantri Brojonegoro No. Gedong Meneng. Bandar Lampung 35145. Lampung. Indonesia *Email: bainahsariwicaksono12@gmail. ABSTRAK Populasi rusa yang terus menurun di habitat aslinya memerlukan upaya konservasi, salah satunya melalui konservasi ex-situ. Penangkaran rusa merupakan salah satu upaya konservasi ex-situ untuk menjamin kelestarian satwa liar dari ancaman kepunahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap pengelolaan dan pengembangan penangkaran rusa dalam upaya meningkatkan konservasi rusa secara ex-situ. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober Ae November 2018 di tiga stasiun lokasi penangkaran rusa timor (Cervus timorensi. dan rusa sambar (Cervus unicolo. Universitas Lampung dan penangkaran rusa timor (Cervus timorensi. Tahura Wan Abdul Rachman dengan menggunakan metode wawancara kepada responden kemudian di analisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap pengembangan penangkaran rusa tergolong positif dan menunjukkan dukungan masyarakat terhadap pembangunan penangkaran rusa, manajemen pengelolaan penangkaran, karakteristik kesesuaian habitat di penangkaran, keberadaan spesies dan perawatan spesies di penangkaran, dan pengembangan penangkaran rusa sebagai objek wisata berbasis konservasi. Kata kunci: penangkaran, persepsi, rusa sambar, rusa timor ABSTRACT The existence of the deer population that continue to decline in its natural habitat need conservation efforts, such as through ex-situ conservation. Deer captive breeding is one of the ex-situ conservation efforts to ensure the sustainability of wildlife from the threat of extinction. This research aims to know the public perception towards the management and development of captive deer in an effort to improve the conservation of deer was ex-situ. This research was conducted in October Ae November 2018 in three stations of the captive breeding of sambar deer (Cervus unicolo. and timor deer (Cervus timorensi. in University of Lampung and timor deer (Cervus timorensi. breeding in Tahura Wan Abdul Rachman through interviews to respondents and then the data collected were analyzed descriptively. The results showed a positive public perception towards the development of captive breeding. The results also showed the community supports on the development of deer captive breeding, the management of captive breeding, habitat suitability characteristics, the existence of species and species treatment in captivity, and the development of deer captive as object conservation-based Key words: captive reeding, perception, deer Jurnal Sylva Lestari Vol. 7 No. Mei 2019 . ISSN . ISSN . PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan alam dengan keanekaragaman jenis satwa liar yang tinggi. Rusa merupakan bagian keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia dan termasuk ke dalam satwa ruminansia dari bangsa Artiodactyla, suku Cervidae. Secara umum rusa dicirikan dengan tubuhnya ditutupi rambut sama seperti mamalia umumnya, jumlah jari yang genap, empat buah jari pada setiap kakinya, dua jari berada agak di atas dan mengecil sehingga tidak mencapai tanah, sedangkan dua jari lainnya menopang pada tanah (Semiadi 2. Indonesia memiliki 4 . jenis rusa yaitu rusa sambar (Cervus unicolo. , rusa timor (Cervus timorensi. , rusa bawean (Axis kuhli. dan kijang (Muntiacus muntja. Semua jenis rusa di Indonesia dilindungi berdasarkan UndangUndang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan menurut IUCN rusa sambar (Cervus unicolo. termasuk dalam kategori resiko rendah dan rusa timor (Cervus timorensi. termasuk dalam kategori rentan. Perburuan liar terhadap populasi rusa menjadi ancaman terbesar terhadap penurunan jumlah populasi rusa di habitat alaminya (Sayektiningsih et al. Menurut Manshur . , kondisi ini diperparah oleh kemampuan reproduksi rusa yang terbatas dan terjadinya kerusakan habitat sehingga menjadi ancaman terhadap populasi rusa. Keberadaan populasi rusa yang terus menurun di habitat aslinya perlu adanya upaya konservasi (Xavier et al. Kondisi tersebut perlu diimbangi dengan upaya pelestarian secara ex-situ. Konservasi ex-situ merupakan perlindungan satwa dan tumbuhan dengan mencontoh habitat asli dari satwa dan tumbuhan tersebut dan dilakukan diluar dari habitat aslinya. Upaya konservasi exsitu merupakan bagian terpenting bagi strategi konservasi terpadu untuk melindungi satwa terancam punah salah satunya dengan membangun penangkaran. Kelestarian satwa liar dari ancaman kepunahan dan memanfaatkan secara optimal diperlukan tindakan pengelolaan Tindakan pengelolaan ini merupakan campur tangan manusia untuk menciptakan suatu lingkungan yang menguntungkan bagi kehidupan satwa liar (Indriyani et al. Terdapat 2 . lokasi penangkaran rusa di kota Bandar Lampung yang sedang dikembangkan, yaitu penangkaran rusa Universitas Lampung yang menangkarkan rusa sambar (Cervus unicolo. dan rusa timor (Cervus timorensi. serta penangkaran yang dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Hutan Raya (Tahur. Wan Abdul Rachman dengan jenis rusa timor (Cervus timorensi. Penangkaran rusa dalam pengembangannya dapat dijadikan sebagai salah satu objek wisata terpadu, karena banyaknya wisatawan yang datang untuk menyaksikan rusa yang ada di penangkaran. Wisata berbasis penangkaran satwa liar seperti rusa merupakan bagian dari ekowisata yang saat ini menjadi salah satu trend pilihan bagi wisatawan, untuk itu perlu upaya dan strategi dalam manajemen dan pengembangannya (Xavier et al. Pengembangan ekowisata penangkaran rusa dapat meningkat seiring dengan terjaganya populasi rusa, kesehatan rusa, habitat ex-situ rusa, persediaan pakan dan persediaan air di lokasi penangkaran. Penangkaran rusa yang dikelola dengan manajemen yang baik akan mendatangkan ketertarikan wisatawan untuk berkunjung ke lokasi penangkaran. Hubungan signifikan terjadi antara penangkaran rusa yang dikelola sebagai ekowisata dengan konservasi rusa yang dikelola sebagai penangkaran ex-situ rusa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap pengelolaan dan pengembangan penangkaran rusa dalam upaya meningkatkan konservasi rusa secara ex-situ. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober Ae November 2018. Lokasi penelitian di penangkaran rusa sambar (Cervus unicolo. dan rusa timor (Cervus timorensi. yang dikelola oleh Universitas Lampung dan penangkaran rusa timor (Cervus timorensi. yang dikelola Jurnal Sylva Lestari Vol. 7 No. Mei 2019 . ISSN . 2339-0913 ISSN . 2549-5747 oleh UPTD Tahura Wan Abdul Rachman. Objek penelitian adalah masyarakat pengunjung penangkaran rusa berjumlah 59 responden. Penentuan jumlah responden berdasarkan jumlah pengunjung dari total dua lokasi penangkaran yaitu 400 orang. Dari jumlah tersebut diambil sampel sebanyak 15% pengunjung sehingga diperoleh 60 responden. Peneliti memberikan 60 kuisioner dan satu orang responden tidak mengembalikan kuisioner tersebut. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer meliputi persepsi responden dalam hal pengelolaan dan pengembangan penangkaran rusa. Data sekunder merupakan data penunjang yang berkaitan dengan penelitian ini untuk mencari, dan menganalisis data menggunakan studi literatur. Metode pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan memberikan kuesioner berupa seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada para responden untuk kemudian dijawab (Sugiyono 2. Analisis persepsi diuraikan dalam bentuk kalimat. Ratarata nilai persepsi terhadap masyarakat mengenai manajemen pengelolaan penangkaran, karakteristik kesesuaian habitat di penangkaran, keberadaan spesies dan perawatan spesies di penangkaran, dan rusa sebagai objek pengamatan wisata. Kesenjangan dianalisis berdasarkan kumulatif nilai persepsi dengan memberikan kuesioner yang sudah dirancang secara sistematis dengan menggunakan skala likert dan penilaian persepsi menggunakan one score one indicator. Analisis persepsi dianalisis secara deskripstif dan disajikan dalam grafik. Skor setiap pertanyaan diberikan dengan Skor 1 = Buruk. Skor 2 = Netral. dan Skor 3 = Baik Persepsi pengunjung mengenai pengelolaan penangkaran rusa sambar (Cervus unicolo. menggunakan kriteria pertanyaan sebagai berikut: A= Meminimalisir terjadinya kontak satwa dengan manusia secara langsung. B= Kebersihan penangkaran. C= Pembersihan feses secara D= Ketersediaan dana yang mencukupi. E= Ketersediaan sarana dan prasarana di F= Adanya teknis pengelolaan dalam penangkaran. G= Tersedianya tenaga teknis dalam penangkaran. H= Ketersediaan keeper untuk melakukan tindakan perawatan dan I= Dukungan dari pihak pemerintah dan stakeholder lainnya. Persepsi masyarakat terhadap penilaian kesesuaian habitat rusa di penangkaran rusa sambar (Cervus unicolo. dan rusa timor (Cervus timorensi. menggunakan kriteria pertanyaan sebagai berikut: A= Kesesuaian tempat penangkaran. B= Adanya cover sesuai dengan habitat aslinya. C= Peran biotik dan abiotik penangkaran rusa. D= Iklim mikro yang sesuai. E= Jumlah spesies yang tidak melebihi daya dukung penangkaran. F= Keseimbangan antara jumlah satwa dan jumlah G= Adanya kriteria faktor sosial. H= Persyaratan lingkungan sekitar kandang. Dilakukannya analisis bioekologi pada lokasi penangkaran. dan J= Konflik dan persaingan antar satwa di penangkaran. Persepsi masyarakat terhadap perawatan spesies penangkaran rusa sambar (Cervus unicolo. dan rusa timor (Cervus timorensi. menggunakan kriteria pertanyaan sebagai berikut: A= Adanya ketersediaan pakan yang cukup. B= Adanya ketersedian minum yang C= Pemberian pakan yang teratur. D= Porsi jumlah pakan yang sesuai. E= Preferensi pakan rusa. F= Jenis pakan rumput yang cocok. G= Pencegahan terhadap penyakit. dan H= Bobot rusa pada penangkaran. Persepsi masyarakat terhadap rusa sebagai objek pengamatan wisata di penangkaran rusa sambar (Cervus unicolo. dan rusa timor (Cervus timorensi. menggunakan kriteria pertanyaan sebagai berikut: A= Lokasi mudah dijangkau. B= Sikap masyarakat di sekitar penangkaran rusa. C= Tersedia papan informasi mengenai sejarah penangkaran rusa. D= Pembatasan kuota pengunjung. dan E= Pengamatan terhadap sifat dan perilaku satwa akibat adanya kegiatan disekitar penangkaran. Jurnal Sylva Lestari Vol. 7 No. Mei 2019 . ISSN . ISSN . HASIL DAN PEMBAHASAN Pengelolaan Penangkaran Rusa Persepsi pengunjung mengenai pengelolaan penangkaran rusa sambar (Cervus unicolo. Universitas Lampung disajikan pada Gambar 1. Sedangkan persepsi pengunjung mengenai pengelolaan penangkaran rusa timor (Cervus timorensi. Universitas Lampung disajikan pada Gambar 2 dan persepsi mengenai pengelolaan penangkaran rusa timor (Cervus unicolo. Tahura Wan Abdul Rachman disajikan pada Gambar 3. Gambar 1. Persepsi masyarakat terhadap pengelolaan penangkaran rusa sambar (Cervusunicolo. Universitas Lampung. Berdasarkan grafik pada Gambar 1, persepsi masyarakat terhadap pengelolaan penangkaran rusa sambar Universitas Lampung cenderung menilai positif yaitu baik . dan netral . pada kriteria yang ada. Persepsi masyarakat menilai baik terhadap penangkaran rusa sambar Universitas Lampung karena memiliki pengelolaan penangkaran yang terawat dan terpelihara dengan baik, seperti adanya pencegahan kontak manusia secara langsung dengan para satwa dengan memberikan tulisan atau peringatan di sekitar lokasi penangkaran dan pagar besi pada sekeliling penangkaran. Penilaian persepsi masyarakat cenderung netral . terhadap penangkaran rusa sambar, mengenai ketersediaan sarana dan prasarana dalam menunjang kegiatan pengembangan penangkaran, seperti kamera pengawas yang belum tersedia, kurangnya tempat sampah, dan sarana pendukung lainnya. Masyarakat menilai bahwa penangkaran rusa sambar Unila sudah tergolong baik dalam pengelolaannya, namun perlu adanya peningkatan dalam pengawasan terhadap pengelolaan Gambar 2. Persepsi masyarakat terhadap pengelolaan penangkaran rusa timor (Cervus timorensi. Universitas Lampung. Jurnal Sylva Lestari Vol. 7 No. Mei 2019 . ISSN . 2339-0913 ISSN . 2549-5747 Persepsi masyarakat mengenai penangkaran rusa timor Universitas Lampung terbilang netral . , masyarakat menilai pengelolaan yang telah dilakukan pada penangkaran sudah tergolong baik, namun perlu adanya pengembangan seperti prasarana tempat makan satwa yang belum memadai, kandang yang belum representatif. Secara keseluruhan pengelolaan penangkaran perlu ditingkatkan guna tetap menjaga kenyamanan satwa dan menjaga interaksi yang berlebihan dari para pengunjung, sehingga tidak mengganggu satwa yang ada di dalam Gambar 3. Persepsi masyarakat terhadap pengelolaan penangkaran rusa timor (Cervus timorensi. Tahura Wan Abdul Rachman. Berdasarkan data pada Gambar 3 masyarakat menilai netral . terhadap pengelolaan penangkaran rusa timor Tahura Wan Abdul Rachman. Masyarakat menilai bahwa pengelolaan penangkaran yang telah ada hanya perlu dikembangkan dalam teknis pengelolaan, seperti keberadaan keeper dan mengurangi terjadinya kontak satwa dengan manusia secara langsung. Masyarakat menilai interaksi yang berlebihan dengan manusia dapat merubah sifat dari satwa itu sendiri serta dukungan pemerintah dan stakeholder lainnya sangat berpengaruh dalam meningkatkan pengelolaan dan pengembangan penangkaran rusa. Karakteristik Kesesuaian Penangkaran Rusa Penangkaran merupakan bentuk kegiatan untuk mengembangbiakan satwa liar dengan tujuan untuk memperbanyak populasi suatu spesies dengan tetap mempertahankan kemurnian genetiknya (Thohari et al. Penangkaran satwa liar merupakan salah satu program pelestarian dan pemanfaatan untuk tujuan konservasi dan ekonomi. Menurut Thohari et al. sistem penangkaran rusa di beberapa negara mengacu pada prinsip pengelolaan habitat yaitu secara intensif atau extensif. Pada pengelolaan intensif, campur tangan manusia sangat tinggi, sebaliknya pada pengelolaan ekstensif manusia hanya mengatur beberapa aspek habitat dan kebutuhan hidup satwa. Penangkaran rusa sambar Unila merupakan salah satu contoh penangkaran intensif dengan campur tangan manusia sangat tinggi. Berdasarkan hasil penelitian, penilaian persepsi masyarakat terhadap kesesuaian penangkaran rusa dengan habitat aslinya pada penangkaran rusa sambar Unila ialah netral . pada kriteria yang diberikan disajikan pada Gambar 4. Persepsi masyarakat terhadap karakteristik penangkaran rusa Unila menilai bahwa sudah cukup mendukung dalam upaya penangkaran yang telah dilakukan. Masyarakat menilai bahwa kondisi penangkaran rusa sambar Unila sudah cukup menggambarkan keadaan habitat rusa sambar seperti keadaan di alamnya dengan kandang yang cukup luas dan adanya kolam air serta tutupan di dalam penangkaran berupa pepohonan. Ketersediaan tempat dan luas kandang yang sesuai dapat menyehatkan satwa dan memudahkan pengelolaan penangkaran (Purwantono et al. Jurnal Sylva Lestari Vol. 7 No. Mei 2019 . ISSN . 2339-0913 ISSN . 2549-5747 Gambar 4. Persepsi masyarakat terhadap penilaian kesesuaian habitat rusa di penangkaran rusa sambar (Cervus unicolo. Universitas Lampung. Penangkaran rusa timor (Cervus timorensi. Unila memiliki luas kandang yang lebih kecil dibandingkan dengan penangkaran rusa sambar (Cervus unicolo. Unila. Penilaian persepsi masyarakat mengenai kesesuaian penangkaran rusa timor Unila disajikan pada Gambar 5. Gambar 5. Persepsi masyarakat terhadap penilaian kesesuaian habitat rusa di penangkaran rusa timor (Cervus timorensi. Universitas Lampung. Berdasarkan hasil penelitian yang telah disajikan pada Gambar 5 masyarakat memberikan nilai netral . pada kriteria yang telah diberikan. Masyarakat menilai bahwa penangkaran rusa timor Unila memiliki kekurangan dalam kriteria luasan kandang yang sesuai, sehingga area gerak satwa menjadi terbatas, namun dalam upaya menjaga keseimbangan pakan dan perawatan satwa masyarakat menilai sudah baik, sehingga masyarakat menilai netral dalam kesesuaian kandang untuk penangkaran rusa timor Unila. Pembuatan kandang baru yang lebih luas dari saat ini menjadi rekomendasi peneliti. Kandang rusa timor Unila tidak representatif dengan kapasitas rusa timor yang ada di dalam Persepsi masyarakat mengenai kesesuaian karakteristik penangkaran rusa timor Tahura Wan Abdul Rachman disajikan pada Gambar 6. Berdasarkan hasil penelitian masyarakat rata-rata memberikan penilaian netral . pada kriteria yang diberikan. Masyarakat memberikan skor 3 . pada kriteria B. E, dan J yaitu masyarakat menilai bahwa kesesuaian penangkaran dengan habitat asli tergolong baik, dengan adanya tempat berlindung serta luas kandang yang cukup. Dalam konservasi rusa secara ex-situ . , persyaratan utama yang perlu dipenuhi adalah aspek habitat yang harus mendekati habitat alaminya. Terdapat empat komponen dasar dalam habitat, yaitu pakan, pelindung, air, dan ruang (Alikodra 2. Adanya tempat berlindung bagi satwa yang cukup mengindikasikan bahwa penangkaran memiliki kesesuaian dengan habitat satwa di Jurnal Sylva Lestari Vol. 7 No. Mei 2019 . ISSN . 2339-0913 ISSN . 2549-5747 Kandang yang luas menyebabkan satwa mudah untuk bergerak sehingga daya dukung kandang terhadap satwa tercukupi. Gambar 6. Persepsi masyarakat terhadap penilaian kesesuaian habitat rusa di penangkaran rusa timor (Cervus timorensi. Tahura Wan Abdul Rachman. Perawatan terhadap Spesies di Penangkaran Sistem penangkaran rusa dengan pengelolaan intensif sangat dipengaruhi dengan campur tangan manusia, seperti keberadaan kandang, aspek habitat dan kebutuhan satwa yang harus diperhatikan. Perawatan terhadap kondisi satwa di dalam penangkaran merupakan salah satu upaya pengelolaan dengan menggunakan sistem intensif, hal ini dikarenakan hampir semua kebutuhan hidup dan perkembangan rusa direncanakan, diatur atau ditetapkan oleh pengelola, terutama yang berkaitan dengan penyediaan kandang, pakan, pengendalian penyakit dan pengaturan lainnya (Prayana et al. Persepsi masyarakat terhadap penilaian perawatan satwa di penangkaran rusa sambar Unila disajikan pada Gambar 7. Gambar 7. Persepsi masyarakat terhadap perawatan spesies penangkaran rusa sambar (Cervus unicolo. Universitas Lampung. Persepsi masyarakat terhadap penilaian perawatan satwa di penangkaran rusa sambar Unila menilai netral . pada kriteria yang diberikan. Masyarakat menilai bahwa pemenuhan kebutuhan dalam perawatan satwa di penangkaran sudah baik, seperti tersedianya pakan dan minum yang cukup, pemberian jenis pakan yang cocok bagi satwa serta pemberian makan yang dilakukan secara teratur. Salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan populasi satwa di penangkaran adalah kebutuhan gizi pada pakan drop in yang terpenuhi. Pakan yang cukup, baik jumlah maupun mutu yang diperlukan oleh rusa. Persepsi mengenai penangkaran rusa timor Unila masyarakat memberikan penilaian netral . pada kriteria yang diberikan dan disajikan pada Gambar 8. Perawatan yang dilakukan dalam pengelolaan penangkaran rusa timor Unila dengan memenuhi kebutuhan satwa di dalam kandang. Masyarakat menilai perawatan penangkaran Jurnal Sylva Lestari Vol. 7 No. Mei 2019 . ISSN . 2339-0913 ISSN . 2549-5747 rusa timor Unila masih kurang dikarenakan luas kandang yang sempit dan perawatan satwa terhadap pencegahan penyakit masih kurang. Gizi pakan pada satwa sangat penting dalam menjaga populasi satwa sehingga pengelolaan pemberian pakan pada penangkaran perlu mempertimbangkan mengenai gizi pakan yang diberikan. Gambar 8. Persepsi masyarakat terhadap perawatan spesies penangkaran rusa timor (Cervus timorensi. Universitas Lampung. Penilaian pada penangkaran rusa timor Tahura masyarakat memberikan nilai baik . dan netral . pada kriteria yang diberikan. Data mengenai persepsi masyarakat terhadap perawatan spesies di penangkaran rusa timor Tahura disajikan pada Gambar 9. Gambar 9. Persepsi masyarakat terhadap perawatan spesies penangkaran rusa timor (Cervustimorensi. Tahura Wan Abdul Rachman. Masyarakat menilai perawatan yang dilakukan oleh pihak pengelola Tahura dalam memperhatikan perawatan spesies yang di tangkarkan sudah baik. Pemberian makan yang teratur, porsi makan yang sesuai, serta ketersediaan pakan yang cukup menjadikan kebutuhan rusa dapat terpenuhi. Penangkaran rusa memberikan pakan dengan jenis rumput hijauan yang dibutuhkan oleh spesies ruminansia. Sesuai dengan Garsetiasih et al. , satwa ruminansia memerlukan pakan berupa hijauan serta pakan konsentrat. Pakan hijauan adalah bahan makanan yang terdiri atas hijauan pakan berupa rumput lapang, rumput jenis unggul, kacang-kacangan, dan leguminosa. Rusa sebagai Objek Pengamatan Wisata Penangkaran rusa memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri sehingga memiliki daya tarik bagi minat masyarakat untuk mengunjungi dan melihat rusa secara langsung. Kegiatan penangkaran rusa dapat dikembangkan menjadi salah satu objek kegiatan wisata dengan basis Wisata dengan basis konservasi dapat disebut juga kegiatan ekowisata yaitu kegiatan wisata alam dengan mengutamakan konservasi lingkungan dan juga kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Wisata berbasis penangkaran satwa liar seperti rusa merupakan bagian Jurnal Sylva Lestari Vol. 7 No. Mei 2019 . ISSN . 2339-0913 ISSN . 2549-5747 dari ekowisata yang saat ini menjadi pilihan bagi wisatawan. Pengembangan penangkaran rusa akan berlangsung dengan baik dan bahkan dapat dikembangkan menjadi objek wisata jika terdapat sumber daya manusia yang memadai dan didukung oleh para stakeholder dengan menjalankan fungsi manajemen yang baik (Xavier et al. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, persepsi masyarakat terhadap pengembangan penangkaran rusa sebagai objek wisata di penangkaran rusa sambar Universitas Lampung memberikan penilaian netral . pada kriteria yang diberikan. Data mengenai skor penilaian persepsi masyarakat terhadap rusa sambar sebagai objek wisata disajikan pada Gambar 10. Gambar 10. Persepsi masyarakat terhadap rusa sebagai objek pengamatan wisata di penangkaran rusa sambar (Cervus unicolo. Universitas Lampung. Penangkaran rusa sambar Unila yang terletak di dalam lingkungan kampus membuat akses masyarakat untuk masuk cukup mudah karena tidak adanya tarif yang dikenakan bagi para pengunjung penangkaran. Masyarakat menilai netral . dalam pengembangan penangkaran rusa sambar Unila sebagai objek wisata sudah cukup baik. Penangkaran rusa timor Unila memperoleh nilai netral . pada kriteria yang diberikan. Skor mengenai persepsi masyarakat terhadap pengembangan penangkaran rusa timor Universitas Lampung disajikan pada Gambar 11. Gambar 11. Persepsi masyarakat terhadap rusa sebagai objek pengamatan wisata di penangkaran rusa timor (Cervus timorensi. Universitas Lampung. Persepsi masyarakat terhadap rusa timor sebagai objek wisata di nilai masyarakat sama dengan penangkaran rusa sambar Unila, karena letaknya yang bersebelahan sehingga tidak memberikan nilai yang berbeda terhadap pengelolaan dan pengembangan penangkaran. Masyarakat menilai bahwa pengembangan penangkaran rusa timor perlu ada pengawasan terhadap aktivitas pengunjung supaya rusa yang ada dipenangkaran tidak terganggu. Penangkaran rusa timor Tahura memiliki peluang yang lebih besar untuk dikembangkan menjadi lokasi wisata dibandingkan dengan penangkaran rusa sambar dan rusa timor yang ada di Universitas Lampung. Penangkaran rusa timor Tahura memiliki luas yang cukup untuk menampung wisatawan, serta memiliki lokasi yang mengutamakan konsep ekowisata dengan Jurnal Sylva Lestari Vol. 7 No. Mei 2019 . ISSN . 2339-0913 ISSN . 2549-5747 suasana alam yang segar dan memiliki banyak manfaat yang dirasakan oleh pengunjung seperti suasana yang sejuk, bersifat alami, tarif yang relatif murah dan relatif mudah dalam pemeliharaannya (Purwanto 2. Persepsi masyarakat terhadap rusa sebagai objek pengembangan wisata di Tahura disajikan pada Gambar 12. Gambar 12. Persepsi masyarakat terhadap rusa sebagai objek pengamatan wisata di penangkaran rusa timor (Cervus timorensi. Tahura Wan Abdul Rachman. Berdasarkan data pada Gambar 12 diperoleh persepsi masyarakat terhadap rusa sebagai objek pengembangan wisata dengan nilai baik . pada kriteria A dan C. Kriteria B. D dan E masyarakat menilai netral . Masyarakat menilai baik terhadap penangkaran rusa Tahura untuk dikembangkan menjadi ekowisata dengan satwa liar sebagai objek wisatanya. Keberadaan penangkaran yang alami serta mudah dijangkau menjadikan wisatawan memilih penangkaran rusa timor Tahura menjadi salah satu tujuan utama untuk berwisata (Xavier et al. Menurut Anisa . , kegiatan wisata yang memiliki daya tarik yang positif kepada para wisatawan akan memberikan kepuasan bagi para wisatawan. Penangkaran rusa timor Tahura memiliki papan informasi yang memudahkan bagi para wisatawan untuk berkeliling di lokasi penangkaran. Peningkatan sarana dan prasarana wisata perlu ditingkatkan bagi Perawatan sarana prasarana perlu ditingkatkan bagi keberlangsungan rusa yang ada di penangkaran. Jembatan gantung, rumah pohon di dalam kandang penangkaran menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung rusa di Tahura. Area parkir yang luas juga menambah Fasilitas ibadah dengan tersedianya musholla yang sangat baik kondisinya, menambah kenyamanan bagi wisatawan. SIMPULAN Penangkaran rusa sambar (Cervus unicolo. Universitas Lampung, penangkaran rusa timor (Cervus timorensi. Universitas Lampung, dan penangkaran rusa timor (Cervus timorensi. Tahura Wan Abdul Rachman dapat dikembangkan dan ditingkatkan pengelolaannya dalam upaya meningkatkan kegiatan konservasi satwa liar. Persepsi masyarakat terhadap keberadaan penangkaran dan penilaian persepsi masyarakat mengenai pengembangan penangkaran cenderung positif. Masyarakat setuju bahwa penangkaran rusa memiliki keunikan dan karakteristik untuk dikembangkan dan ditingkatkan dalam upaya konservasi rusa di Kota Bandar Lampung. SANWACANA Penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak Universitas Lampung dan UPTD Tahura Wan Abdul Rachman yang telah memberikan izin dan membantu peneliti sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. Jurnal Sylva Lestari Vol. 7 No. Mei 2019 . ISSN . ISSN . DAFTAR PUSTAKA