Vol . 18 No. Oktober Tahun 2025 Hlm. Online version available in : http://ejournal. P-ISSN 1978-631XEISSN 2655-6723 Publication of Poltekkes Kemenkes Aceh Hubungan Pola Makan Dan Tingkat Stres Dengan Kejadian Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) Pada Mahasiswa Di Universitas X The Relationship Between Eating Patterns and Stress Levels with the Incidence of Gastroesophageal Reflux Disease Among Students at University X Evi Dewi Yani1. Trisna Isnanda Putri2. Nisrina Hanum3*. Said Usman4. Cut Juliana5. Yeni Rimadeni6. Popy Citra Sari Morian7 1,2,3,5 Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Serambi Mekkah. Aceh. Indonesia Magister Kesehatan Masyarakat. Universitas Syiah Kuala. Aceh. Indonesia Poltekkes Kemenkes Aceh Universitas Bina Bangsa Getsempena *Email: nisrinahanum@serambimekkah. Received date :12-09-2025 Revised date :20-09-2025 Accepted date :27-09-2025 Abstrak: Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan salah satu gangguan pencernaan yang umum terjadi pada mahasiswa dan dapat menurunkan kualitas hidup jika tidak Pola makan yang tidak teratur, konsumsi makanan tinggi lemak atau pedas, serta tingkat stres akademik yang tinggi menjadi faktor risiko yang berperan dalam meningkatkan kejadian GERD. Hasil survei awal pada mahasiswa di Universitas X menunjukkan 46% responden mengalami gejala GERD, sebagian besar disertai kebiasaan makan yang kurang sehat dan beban akademik yang memicu stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola makan dan tingkat stres dengan kejadian Gastroesophageal Reflux Disease pada mahasiswa di Universitas X. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah seluruh mahasiswa aktif di Universitas X sebanyak 484 mahasiswa dengan jumlah sampel sebanyak 241 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling. Penelitian dilakukan pada tanggal 16-26 Mei 2025. Pengumpulan data diperoleh dari hasil pengisian kuesioner pola makan. GERD-Q dan PSS-10. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan . = 0,. dan tingkat stres . = 0,. dengan kejadian GERD pada mahasiswa di Universitas X. Kesimpulannya ada hubungan yang bermakna antara pola makan dan tingkat stres dengan kejadian GERD pada mahasiswa. Upaya pencegahan melalui edukasi gizi seimbang dan manajemen stres perlu diintegrasikan dalam program kesehatan kampus untuk menurunkan risiko GERD pada populasi mahasiswa. Kata Kunci: Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Pola Makan. Tingkat Stres. Abstract: Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) is a common digestive disorder among college students and can reduce quality of life if left untreated. Irregular eating patterns, frequent consumption of high-fat or spicy foods, and high levels of academic stress are risk factors that contribute to an increased incidence of GERD. An initial survey conducted among students at University X showed that 46% of respondents experienced GERD symptoms, most of which were associated with unhealthy eating habits and academic burdens that trigger Copyright A 2025 Author Publisher: Poltekkes Kemenkes Aceh Page | 167 Vol . 19 No. Oktober Tahun 2025 Hlm. Online version available in : http://ejournal. P-ISSN 1978-631XEISSN 2655-6723 Publication of Poltekkes Kemenkes Aceh This study aims to determine the relationship between eating patterns and stress levels with the incidence of Gastroesophageal Reflux Disease among students at University X. This study employed a quantitative analytical descriptive design with a cross- sectional approach. The study population consisted of all active students at University X . , with a total sample of 241 students selected using proportional random sampling. The study was conducted from May 16Ae26, 2025. Data were collected using dietary pattern questionnaires, the GERDQ, and the PSS-10 instruments. Data analysis was performed using univariate and bivariate analyses with the Chi-square test. Research results show there was a significant relationship between dietary patterns . = 0. and stress levels . = 0. with the incidence of GERD among students at University X. There is a significant association between dietary patterns and stress levels with the incidence of GERD among students. Preventive efforts through balanced nutrition education and stress management should be integrated into campus health programs to reduce the risk of GERD in the student population. Keywords: Eating Patterns. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Stress Levels PENDAHULUAN Tubuh manusia tidak terlepas dari Aktivitas manusia yang padat sering kali menjadi alasan manusia mengesampingkan pola hidup sehat seperti tidak menjaga pola makan, malas berolahraga dan sebagainya. Pola makan yang terganggu menyebabkan gangguan pada lambung atau disebut Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) yang kini menjadi tantangan besar dalam pembangunan berkembang yang dapat mengganggu kualitas hidup apabila tidak ditangani dengan baik1. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah kondisi patologis akibat refluks kandungan lambung ke esofagus yang dapat disertai berbagai gejala yang melibatkan esofagus, faring, laring, dan saluran pernafasan. Penyakit ini dapat terjadi jika refluks dan mukosa esofagus kontak dalam waktu yang cukup lama dan terjadi penurunan resistensi jaringan mukosa esofagus. Adapun manifestasi klinis yang dapat terjadi adalah adanya regurgitasi, heatburn, mual, nyeri ulu hati disfagia hingga insomnia2. Penyebab penyakit GERD itu anatomis, fisiologis, genetik, pola makan buruk, pola diet, obat-obatan tertentu, dan obesitas. Faktor agresif yang menjadi patofisiologi GERD adalah . sam lambung, pepsin, refluks asam empedu, dan tripsi. serta defensif atau rendahnya tekanan di Lower Esophageal Sphincter (LES). Transient Lower Esophageal Sphincter Relaxations (TLESR), hernia hiatal, kelainan peristaltik esofagus, produksi saliv. yang tidak seimbang3. Maka itu. GERD sangat berdampak pada penurunan kualitas hidup mencakup aspek sosial, fungsi, kesehatan mental, nyeri tubuh, dan kesehatan umum1. Prevalensi Gastroesophageal Reflux Disease diperkirakan mencapai 18,1 - 27,8% di Amerika Utara dengan 10-20% dari populasi dewasa di Amerika mengalami gejala rasa terbakar di dada . setidaknya sekali seminggu dan 40% Page | 168 Copyright A 2025 Author Publisher: Poltekkes Kemenkes Aceh Vol . 19 No. Oktober Tahun 2025 Hlm. Online version available in : http://ejournal. diantaranya mengalami gejala GERD sekali dalam sebulan4. Sementara itu, prevalensi GERD di Indonesia belum memiliki data epidemiologi yang konklusif, namun dari berbagai studi prevalensi di Indonesia menunjukkan hasil yang bervariasi. Studi yang dilakukan oleh di salah wilayah perkotaan di Indonesia menunjukkan dari 278 responden, angka kejadian GERD sebanyak 9,35%5. Sementara itu, data laporan kasus GERD di Provinsi Maluku pada tahun 2020 berjumlah 213 kasus dan meningkat pada tahun 2021 dan 2022 menjadi sebanyak 536 dan 1032 kasus6. Prevalensi Gastroesophageal Reflux Disease di Aceh juga belum memiliki data pasti, namun menurut penelitian yang dilakukan terhadap Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala pada tahun 2012 ditemukan bahwa dari 288 responden, 11,11% diantaranya positif menderita Gastroesophageal Reflux Disease berdasarkan skoring GERDQ7. Selain itu, penelitian pada Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala tahun 2020 ditemukan bahwa sebanyak 34,2 % dari 216 mahasiswa diantaranya menderita GERD dengan pola makan yang buruk. Meningkatnya prevalensi kejadian GERD dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko khususnya pada perubahan gaya hidup seperti merokok, obesitas dan pola makan yang salah, akan menjadi faktor meningkatnya kejadian GERD8. Survey awal yang dilakukan peneliti pada mahasiswa di Universitas X dengan menggunakan GERD-Q pada P-ISSN 1978-631XEISSN 2655-6723 Publication of Poltekkes Kemenkes Aceh Oktober tahun 2024 menunjukkan 6 dari 13 . %) responden terdiagnosis GERD, dengan gejala utama nyeri ulu hati, heatburn, dan regurgitasi. Dari berbagai macam faktor resiko yang menyebabkan GERD, peneliti hanya akan meneliti faktor resiko pola makan dan tingkat stres terhadap GERD. Menurut responden dengan kondisi GERD memiliki gaya hidup dan pola makan seperti terbiasa dengan jarang sarapan, makan malam hanya saat lapar. Mereka juga sering mengonsumsi makanan pedas dan makanan berlemak . ie, seblak, bakso, cokelat, gorengan, dan lain-lai. belum lagi kondisi psikologis mahasiswa yang tertekan atau stres karena beban perkuliahan yang cukup berat sehingga waktu tidur mahasiswa kurang memadai. Berdasarkan uraian masalah di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang AuHubungan antara Pola Makan dan Tingkat Stres dengan Kejadan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) pada Mahasiswa di Universitas XAy. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik kuantitatif dengan desain cross-sectional. Penelitian ini dilakukan dari tanggal 13 s/d 26 Mei Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa aktif program studi arsitektur sebanyak 484 orang, dengan jumlah sampel 241 mahasiswa yang dihitug berdasarkan rumus slovin. Teknik menggunakan teknik proportional random sampling. Page | 169 Copyright A 2025 Author Publisher: Poltekkes Kemenkes Aceh Vol . 19 No. Oktober Tahun 2025 Hlm. Online version available in : http://ejournal. Karakteristik Pengumpulan data dilakukan 16-20 Tahun dengan menggunakan tiga instrumen, 21-25 Tahun yaitu kuesioner pola makan yang 26-30 Tahun Jenis Kelamin diadopsi dari penelitian Ajjah8, tingkat Laki Ae Laki Perempuan Perceived Stress Scale (PSS-. 9, dan Tempat Tinggal Kos GERD Orang Tua Gastroesophageal Reflux Disease Saudara/Wali Questionnaire (GERD-Q)10. Kuesioner Pola Makan Buruk pola makan mencakup keteraturan. Baik frekuensi, jenis, dan porsi makan yang Tingkat Stres selanjutnya dikategorikan menjadi 2 Stres yaitu pola makan baik jika skor Ou39 dan Normal GERD pola makan buruk jika skor <39. Menderita GERD Tingkat stres dikategorikan menjadi 2 Tidak Menderita yaitu stres jika skor >13 dan normal jika GERD skor O13. GERD dikateogikan menjadi 2 yaitu kemungkinan menderita GERD jika skor >7 dan kemungkinan tidak menderita GERD jika skor O7. Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner melalui g-form. Data dianalisis melalui analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Karakteristik Responden. Pola Makan. Tingkat Stres dan GERD Karakteristik Umur (%) P-ISSN 1978-631XEISSN 2655-6723 Publication of Poltekkes Kemenkes Aceh (%) Berdasarkan tabel 1. bahwa mayoritas responden yang diteliti berada pada umur 16-20 tahun yang berjumlah 155 orang . ,3%), sebagian besar responden yang diteliti berjenis kelamin perempuan yang berjumlah 134 . ,6%), dan mayoritas responden bertempat tinggal di kos yang berjumlah 166 orang . ,9%). Responden dengan pola makan buruk sebanyak 80 orang . ,2%). Responden dengan stres sebanyak 76 orang . ,5%) dan responden yang menderita GERD sebanyak 83 orang . ,4%). Tabel 2. Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) Kejadian GERD No Pola Makan Menderita GERD Tidak Menderita GERD Total P-Value 1 Buruk 2 Baik 0,000 Page | 170 Copyright A 2025 Author Publisher: Poltekkes Kemenkes Aceh Vol . 19 No. Oktober Tahun 2025 Hlm. Total P-ISSN 1978-631XEISSN 2655-6723 Publication of Poltekkes Kemenkes Aceh Online version available in : http://ejournal. Berdasarkan Tabel 2. dari 80 responden yang pola makannya buruk terdapat 77 responden . ,3%) GERD. Sebaliknya, dari 161 responden dengan pola makan baik, hanya ditemukan 6 responden . ,7%) yang menderita GERD. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan pola makan dengan kejadian GERD pada mahasiswa di Universitas X . -value = 0,. Penelitian ini sejalan dengan hasil responden yang diteliti ditemukan 38 mahasiswa menderita GERD memiliki pola makan buruk, sedangkan dari 179 responden memiliki pola makan baik terdapat 178 responden yang tidak mengalami GERD, dan hasil uji statistik didapatkan nilai p-value = 0,004 yang berarti ada hubungan yang bermakna antara pola makan dengan terjadinya GERD8. Begitu juga penelitian di Fakultas Kedokteran Universitas Mataram menunjukkan mahasiswa dengan pola makan buruk memiliki risiko 2,7 kali GERD mahasiswa dengan pola makan baik11. Timbulnya GERD disebabkan oleh pola makan yang tidak teratur dan tidak seimbang, kebiasaan mengonsumsi makanan pedas atau berlemak serta tidak mampu memenuhi frekuensi makan dalam sehari sehingga menyebabkan penurunan LES (Lower Esophageal Sphincte. meningkatkan sekresi asam lambung. Jika tidak ditangani, bahaya GERD dapat mengganggu fungsi sistem pencernaan dan meningkatkan risiko kanker esofagus sehingga memerlukan ketepatan pengobatan8. GERD dapat dipicu pada pola makan dan konsumsi makanan tertentu, seperti makanan berbumbu pedas, mengandung banyak bawang dan asam, serta porsi yang berlebihan dapat GERD. Patomekanisme makanan pedas dapat menyebabkan GERD adalah senyawa neurotoxin capsaicin yang mengiritasi mukosa pengosongan lambung, kemudian mengakibatkan refluks . Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan keteraturan makan yang baik, dengan mayoritas rutin makan siang . ,9%) dan sarapan pada jam ideal . ,9%). Frekuensi makan juga tergolong cukup baik, di mana mahasiswa terbiasa sarapan . ,7%), makan siang . %), dan makan malam . ,8%) setiap hari. Namun, sebagian ketidakkonsistenan, seperti hanya makan saat lapar dan jarang makan Dari aspek jenis makanan, masih banyak mahasiswa yang mengonsumsi makanan pemicu GERD seperti makanan asam . ,6%), pedas . ,9%), kopi . ,5%), dan fast food . ,2%). Selain itu, sebanyak 68,5% langsung tidur kurang dari 30 menit Page | 171 Copyright A 2025 Author Publisher: Poltekkes Kemenkes Aceh Vol . 19 No. Oktober Tahun 2025 Hlm. P-ISSN 1978-631XEISSN 2655-6723 Publication of Poltekkes Kemenkes Aceh Online version available in : http://ejournal. meningkatkan risiko GERD. Meskipun sebagian mahasiswa memiliki pola makan yang baik, ditemukan 5 mahasiswa yang tetap mengalami GERD, kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain seperti stres yang meningkatkan sekresi asam Sebaliknya, mahasiswa dengan pola makan buruk lebih banyak mengalami GERD, yaitu 77 mahasiswa. Mereka cenderung makan tidak teratur, hanya makan saat lapar, mengonsumsi makanan pemicu GERD, serta memiliki porsi berlebihan dan kebiasaan ngemil di luar waktu makan. Dengan demikian, meskipun secara umum pola makan mahasiswa tergolong baik dan 96,3% tidak menderita GERD, masih terdapat kelompok dengan pola makan tidak sehat yang berisiko tinggi mengalami gangguan pencernaan tersebut. Tabel 3. Hubungan Tingkat Stres dengan Kejadian Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) Kejadian GERD Tingkat Stres Menderita GERD Total Tidak Menderita GERD P-Value 1 Stres 2 Normal Total 0,000 Page | 172 Copyright A 2025 Author Publisher: Poltekkes Kemenkes Aceh Vol . 19 No. Oktober Tahun 2025 Hlm. Online version available in : http://ejournal. Berdasarkan Tabel 3. menunjukkan dari 76 responden yang stres terdapat 67 responden . ,2%) kemungkinan menderita GERD. Sedangkan dari 165 responden yang tidak stres hanya sebanyak 16 responden . ,7%) kemungkinan menderita GERD. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan tingkat stres dengan kejadian GERD pada mahasiswa di Universitas X . -value = 0,. Temuan ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa dari 36 responden yang diteliti tidak mengalami stres yang berjumlah 80,6% dan juga mayoritas respondennya tidak memiliki riwayat GERD yang berjumlah 77,8%, sedangkan dari hasil uji Chi Square di ketahui nilai p valuenya 0,000 (O 0,. yang bermakna ada hubungan stres dengan kejadian Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) pada Masyarakat Kelurahan Kaleke13. Stres merupakan sekumpulan perubahan fisiologis akibat tubuh terpapar terhadap bahaya atau ancaman. Stres dapat menimbulkan suatu pengaruh yang tidak menyenangkan pada seseorang berupa gangguan atau hambatan dalam pengobatan, meningkatkan resiko kesakitan seseorang, menimbulkan kembali penyakit yang sudah mereda, mencetuskan atau mengeksaserbasi suatu gejala dari kondisi medis umum. Stres yang berlebihan dapat memberikan efek negatif melalui mekanisme neuroendokrin terhadap saluran pencernaan sehingga beresiko untuk mengalami GERD. Stres merupakan sekumpulan perubahan fisiologis akibat tubuh terpapar terhadap bahaya atau ancaman. Stres dapat menimbulkan suatu pengaruh yang tidak menyenangkan pada seseorang berupa gangguan atau hambatan dalam pengobatan, meningkatkan risiko kesakitan seseorang. P-ISSN 1978-631XEISSN 2655-6723 Publication of Poltekkes Kemenkes Aceh menimbulkan kembali penyakit yang sudah mereda, mencetuskan atau mengeksaserbasi suatu gejala dari kondisi medis umum. Stres yang berlebihan dapat memberikan efek negatif melalui mekanisme neuroendokrin terhadap saluran pencernaan sehingga berisiko untuk mengalami GERD14. Ketika seseorang mengalami stres atau tekanan emosional, tubuh akan merespons dengan melepaskan hormon stres seperti Hormon ini dapat mempengaruhi sistem pencernaan, termasuk meningkatkan produksi asam lambung. Kondisi stres yang berkepanjangan juga dapat mempengaruhi pola makan dan gaya hidup seseorang. Sebagian mengonsumsi makanan yang tidak sehat atau berlebihan saat stres, seperti makanan tinggi lemak, pedas, atau asam, yang dapat memicu refluks asam lambung13. Peneliti menemukan bahwa tingkat stres pada mahasiswa masih pada kategori baik, dimana sebagian besar mahasiswa masih mampu dalam menjaga pola makan dan dapat mengatasi beban studi selama proses perkuliahan yang menyebabkan tidak berpengaruh pada kesehatan fisik, emosional, intelektual dan hubungan sosial sehingga tidak terjadi GERD, sehingga tingkat stresnya berada pada kategori tidak mengalami stres, hal ini dibuktikan dari hasil jawaban yang diberikan responden sebanyak 123 responden menjawab Aytidak pernah mengalami kesulitan sehingga mampu mengatasinyaAy. Namun, peneliti juga menemukan terdapat 76 mahasiswa yang mengalami stres, hal ini dikarenakan mahasiswa yang awalnya harus beradaptasi dengan sistem baru kemudian seiring berjalannya waktu dan semester akan diberikan tugas yang lebih banyak daripada saat bersekolah. Hal ini dibuktikan dari hasil jawaban yang diberikan Page | 173 Copyright A 2025 Author Publisher: Poltekkes Kemenkes Aceh Vol . 19 No. Oktober Tahun 2025 Hlm. Online version available in : http://ejournal. oleh 16 responden yaitu AuCukup sering merasa bahwa tidak mampu menyelesaikan hal-hal yang harus dikerjakan?. Hal ini menjadi salah satu alasan sebagian responden merasa stres dalam kehidupannya baik di dalam perkuliahan maupun di tempat Mahasiswa yang mengalami tingginya tingkat stres akibat jadwal yang padat mengakibatkan mahasiswa mengadopsi pola makan yang tidak sehat, dari melewatkan waktu makan, mengonsumsi makanan cepat saji maupun kopi dan lainnya. Apabila mahasiswa mulai mengalami gejala GERD, maka akan menyebabkan berbagai masalah seperti menurunnya kemampuan mahasiswa dalam memecahkan masalah, memori jangka pendek, rendahnya kemampuan penalaran sampai menurunnya konsentrasi dalam Sebaliknya, sebanyak 16 mahasiswa dengan kategori stres normal . idak stre. tetapi mengalami Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), hal ini diduga dapat terjadi akibat perubahan gaya hidup mahasiswa, seperti bergadang, mengkonsumsi kopi yang belebihan, dan kebiasaan makan yang tidak sehat yang menjadi pemicu peningkatan insiden GERD. Peneliti berasumsi bahwa terdapat hubungan antara tingkat stres dengan kejadian GERD, hal ini ditunjukkan dari 88,2% mahasiswa yang stres memiliki prevalensi lebih tinggi terhadap kejadian GERD. Tingkat stres yang tinggi pada mahasiswa tidak hanya berdampak secara fisiologis terhadap peneingkatan risiko GERD, tetapi juga berkontribusi terhadap perubahan pola makan KESIMPULAN DAN SARAN P-ISSN 1978-631XEISSN 2655-6723 Publication of Poltekkes Kemenkes Aceh Ada hubungan yang signifikan antara pola makan . -value = 0,. dan tingkat stres . -value = 0,. dengan kejadian Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) pada mahasiswa di Universitas X. Diperlukan upaya promotif dan preventif melalui edukasi mengenai pola makan sehat serta manajemen stres di lingkungan kampus. Pihak universitas diharapkan dapat mengintegrasikan program pembinaan kesehatan mahasiswa, seperti penyuluhan gizi dan konseling psikologis, ke dalam kegiatan rutin. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi faktor risiko lain seperti jenis kelamin, perbedaan tempat tinggal dan variabel lain yang berpotensi memengaruhi kejadian GERD. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan sampaikan kepada seluruh responden yang telah bersedia meluangkan waktu dan memberikan data serta informasi yang berharga dalam penelitian ini. Penghargaan yang setinggi-tingginya juga penulis berikan kepada dosen pembimbing atas arahan, bimbingan, dan motivasi yang sangat berarti selama proses penelitian dan penulisan artikel Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh civitas akademika Fakultas Kesehatan Masyarakat dukungan, fasilitas, serta suasana akademik yang kondusif sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. DAFTAR PUSTAKA