Journal homepage: https://ejournal. id/academica/index Eksistensi Manusia di Era Teknologi: Analisis Filsafat Martin Heidegger Galuh kusuma Dewi 1. Dinar Ulfiana Kusuma Wardhani A. Fathunnisa Azzahro 1. Febriyanti Nur Isnaeni 1. Zidni Fatmawati 1* UIN Raden Mas Said Surakarta. Indonesia *Corresponding author: zhidnifatmawati19@gmail. INFO ARTIKEL ABSTRAK Kata kunci: Teknologi Eksistensi Media komunikasi digital. Martin Heidegger Kehidupan signifikan seiring pergeseran dari paradigma konvensional menuju paradigma modern yang ditandai oleh perkembangan teknologi. Teknologi modern, sebagai elemen fundamental Revolusi Industri 0Aikhususnya internet dan media komunikasi digitalAitelah berkembang pesat dengan karakteristik yang kompleks serta Article history Received: Oktober 2024 Revised: Oktober2024 Accepted: November 2024 Available online: Desember memberikan kemudahan dalam berbagai aktivitas manusia. Namun, kemajuan teknologi juga menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi mengubah pola relasi sosial, budaya, dan eksistensi manusia itu sendiri. Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan metode kajian pustaka, yang memanfaatkan perspektif para ahli serta temuan penelitian sebelumnya. Data dikumpulkan dari artikel jurnal dan karya ilmiah relevan, kemudian dianalisis secara deskriptif-interpretatif untuk mengidentifikasi pola dan dinamika pengaruh teknologi terhadap kehidupan manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan teknologi membawa implikasi ganda, yakni dampak positif dan negatif, yang secara nyata memengaruhi ranah keluarga, pekerjaan, dan budaya di era industri 4. Dalam perspektif filsafat eksistensial Martin Heidegger, keberadaan manusia berbeda secara ontologis dari benda, sehingga manusia dituntut untuk bertanggung jawab secara sadar atas cara ia menghayati dan memaknai keberadaannya di tengah kemajuan teknologi. Copyright A 2024 Authors This is an open access article under CC-BY-NC 4. 0 license https://doi. org/ 10. 22515/academica. Vol, 08. No. 02, 2024: 155-165 | 155 Wardhani et al. Eksistensi Manusia di Era TeknologiA Pendahuluan Pada era kontemporer yang ditandai dengan dimulainya revolusi informasi, ditandai dengan teknologi informasi yang sangat maju. Kemajuan teknologi ini telah melahirkan media baru yang dapat mengubah komunikasi dan praktik budaya dalam masyarakat menjadi lebih praktis, inventif, dan kreatif. Manusia pada awalnya tidak memiliki pemahaman tentang teknologi. melalui fase-fase yang tidak logis dan emosional, mereka berhasil membangun berbagai teknologi dasar. Seiring dengan berkembangnya nalar, manusia telah mengembangkan beberapa teknologi rumit, yang berfungsi sebagai instrumen untuk memenuhi tujuan manusia. Teknologi telah membentuk proses kognitif manusia dan, pada gilirannya, telah sangat memengaruhi perilaku dan gaya hidup manusia. Teknologi juga dapat dilihat sebagai instrumen untuk memperburuk kesenjangan kelas dalam masyarakat. Teknologi telah berkembang menjadi simbol status bagi orang kaya dan orang miskin. Individu yang unggul dalam teknologi juga dapat mendominasinya (Ngafifi, 2. Untuk memastikan perkembangan penelitian yang koheren, penting untuk memeriksa studi sebelumnya yang diselesaikan oleh spesialis sebagai referensi untuk penelitian masa depan, mengidentifikasi kesenjangan yang memungkinkan peneliti untuk memberikan data baru. Dalam penelitian Mastra et al. , bahwa dampak teknologi komunikasi dan globalisasi media terhadap seni dan budaya Indonesia. Hadirnya globalisasi yang didorong oleh kemajuan teknologi komunikasi telah memicu beberapa masalah dalam ranah budaya, termasuk terkikisnya dan punahnya budaya nasional dan daerah yang khas, merosotnya nilai-nilai budaya, serta menurunnya harga diri dan meningkatnya kejenuhan. Gaya hidup oriental, perspektif, dan dampaknya terhadap perilaku individu dalam kehidupan sehari-hari (Mastra, 2. Selanjutnya, penelitian Fabianus Fensi . AuMenganalisis Patalogi Media sosial dari Perspektif Filsafat PostmodernismeAy. Dalam studi ini, kami fokus pada wajah kedua, yaitu "wajah patologis". Dalam konteks ini, jarak sosial digambarkan antara orang dan kelompok, sementara media sosial berfungsi sebagai saluran untuk konflik informasi terselubung, sehingga memperkuat ketidakpercayaan di antara individu dan organisasi. Menyediakan sumber referensi untuk memenuhi norma etika Studi ini menggunakan kerangka postmodernis untuk menunjukkan kekeliruan modernitas, yang disebut oleh para sarjana sebagai pantalogi. Penelitian ini memiliki dua tujuan. Tujuan pertama adalah untuk mengungkap patologi yang melekat pada media sosial kontemporer, sedangkan yang kedua adalah untuk https://doi. org/ 10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 155-165 | 156 Wardhani et al. Eksistensi Manusia di Era TeknologiA membangun kompromi etnis untuk melampaui patologi dan tipu daya sosialitas modern (Fensi, 2. Kemudian penelitian selanjutnya dari. Rahmat Sulaiman Naibaho, . AuPeranan Perencanaan Teknologi Informasi Dalam PerusahaanAy. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kepustakaan dengan berkonsultasi dengan perspektif banyak spesialis dan temuan investigasi lain. Penelitian ini bertujuan untuk memastikan fungsi dan strategi teknologi informasi di dalam korporasi. Korporasi membutuhkan kapabilitas atau strategi inti agar kompetitif. Asal muasal kekuatan kompetensi inti adalah dalam formulasi strategi. Strategi dibentuk baik secara sengaja maupun alami. Organisasi yang memiliki data dan pengetahuan dapat meraih kepemimpinan di pasar yang kompetitif. Perusahaan dapat menggunakan komputer untuk mengkategorikan profil pelanggan ke dalam beberapa item. Untuk meraih kepemimpinan pasar, organisasi harus bersaing secara efektif di arena bisnis (Naibaho, 2. Penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya dengan berfokus pada signifikansi keberadaan manusia di tengah kemajuan teknologi di era globalisasi, di mana ketergantungan pada alat canggih menggantikan kinerja manusia, yang mengarah pada gaya hidup praktis dan penurunan kehadiran manusia di dunia kerja, di samping meningkatnya angka pengangguran. Penelitian ini bertujuan untuk menilai sejauh mana pengaruh teknologi terhadap kehidupan manusia. Penelitian ini berupaya untuk memastikan fenomenologi yang terjadi sebelum dan sesudah munculnya teknologi pada periode kontemporer. Oleh karena itu, penting untuk melakukan studi penelitian tentang signifikansi kehidupan manusia dalam ranah teknologi melalui lensa fenomenologi Heidegger. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif, yang bertujuan untuk memahami dan menafsirkan fenomena secara Sumber diklasifikasikan ke dalam dua kategori. Data primer berupa artikel-artikel ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal akademik dan memiliki relevansi langsung dengan tema penelitian (Sugiyono, 2. Adapun data sekunder meliputi berbagai karya ilmiah, seperti buku, prosiding, dan artikel penelitian lain yang membahas teknologi informasi serta dinamika masyarakat di era modern. Teknik pengumpulan data . ibrary membandingkan, dan mensintesis berbagai sumber ilmiah yang kredibel. Analisis data dilakukan secara deskriptif-interpretatif untuk mengungkap pola, konsep, dan https://doi. org/ 10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 155-165 | 157 Wardhani et al. Eksistensi Manusia di Era TeknologiA kerangka pemikiran yang berkembang dalam literatur, sehingga diperoleh pemahaman komprehensif mengenai objek kajian. Hasil dan Diskusi Biografi Martin Heidegger Martin Heidegger, lahir pada tanggal 26 September 1889 dan meninggal pada tahun 1976, adalah seorang filsuf Jerman terkenal yang dikenal karena ide-ide Konsep eksistensialisme Heidegger berkaitan dengan pengakuan manusia sebagai entitas yang memiliki eksistensi. Ia menjelaskan signifikansi manusia melalui lensa kesadaran dan menunjuk orang sebagai Dasein, yang menandakan keberadaan-di-dunia. Eksistensi manusia berbeda dari benda mati. Kehadiran benda selalu terkait dengan keberadaan orang. Objek tidak dapat ada tanpa adanya orang. Eksistensi orang berbeda dari benda, karena keberadaan objek selalu terkait dengan kehadiran manusia. Objek tidak akan ada tanpa adanya keberadaan manusia. Sebuah objek 'ada' jika ada keberadaan manusia, sehingga objek memiliki nilai 'ada'. Heidegger menegaskan bahwa orang sendiri yang mendefinisikan eksistensi mereka, daripada sesuatu yang ada hanya karena kehadiran manusia. Ia memandang keberadaan 'manusia' sebagai 'makhluk' yang berbeda, yang dapat dijelaskan hanya melalui ontologi . , khususnya dengan menjelaskan makna "makhluk" dalam kaitannya dengan manusia. Martin Heidegger menjelaskan, kemanusiaan itu ada, meskipun tidak muncul dengan sendirinya (Wahid, 2. Meskipun demikian, ia harus mengakui konsekuensi dari kehadirannya. Demikian pula, jika individu ditempatkan dalam rahim seorang wanita. Anda tidak dapat memilih rahim siapa yang akan Anda huni. Kita harus bertanggung jawab atas keberadaan kita di dalam Tulisan-tulisan Martin Heidegger selanjutnya antara lain: . Wujud dan Waktu. Phynomenologie und Theologie. Die Herkunft des Kunstwerks. Tentang Hakikat Kebenaran. Bezeichnet als Denken. Die Frage nach der Technik. Bouen. Wohnen. Denken Kant dan Masalah Metafisika. Doktrin Kebenaran Platonis. Tinjauan Singkat Humanisme dan Berbagai Karya Lainnya oleh Martin Heidegger. Eksistensialisme Martin Heidegger dan eksistensialis manusia dalam Dunia Teknologi Martin Heidegger adalah seorang filsuf yang mengajukan pertanyaan mendalam tentang eksistensialisme manusia. Manusia adalah entitas yang nyata. membenci filsafat awal, yang selalu terlibat dalam diskusi tentang masalah metafisik dan epistemologis. Akibatnya. Martin Heidegger berusaha mengubah filsafat Barat dengan mengalihkan fokus dari pertanyaan metafisik dan epistemologis ke masalah https://doi. org/ 10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 155-165 | 158 Wardhani et al. Eksistensi Manusia di Era TeknologiA ontologis tentang substansi keberadaan manusia. Masalah keberadaan hanya dapat ditangani melalui ontologi . tudi tentang ala. Being and Time adalah buku terkenal Martin Heidegger, yang mencakup gagasan tentang eksistensialisme. Pada titik ini, ia merenungkan pentingnya istilah "being". Pertanyaan ini berkaitan dengan ontologi, esensi, atau konsep dasar yang menjelaskan keberadaan. Dalam konteks "di sana," pertanyaan ini terutama berkaitan dengan kehidupan dan kesadaran manusia. Dalam "Being and Time," Heidegger mencirikan manusia sebagai Dasein, yang menandakan makhluk yang ada di dunia, dengan "Da" yang berarti "di sana" dan "Being" yang menunjukkan "di luar sana. " Bumi terhubung erat dengan manusia dan artefak. Heidegger secara tegas membahas topik eksistensi dalam ranah filsafat. Martin Heidegger mengemukakan masalah bahwa hakikat makna terwujud dengan cara ini, yang menyingkapkan kedalaman pemeriksaan filosofis yang Eksistensi manusia adalah satu-satunya realitas yang benar-benar ada. Eksistensi manusia berbeda dengan benda mati. Kehidupan manusia, yang disebut oleh Martin Heidegger sebagai "Dasein," menandakan bahwa individu memiliki kesadaran akan keadaan mereka, yang berasal dari hakikat mereka sendiri dan berfungsi sebagai titik fokus keberadaan mereka. Semua entitas di luar manusia selalu terhubung dengan eksistensi manusia. Jika manusia ada, maka benda juga harus ada. Eksistensi benda lain tidak memiliki tujuan jika tidak ada manusia. Manusia adalah titik fokus kehidupan, karena keberadaan mereka memengaruhi dan memfasilitasi keberadaan entitas lain (Ghiyats, 2. Komunikasi Sosial Kehidupan Masyarakat Komunikasi adalah aktivitas dasar manusia. Komunikasi memungkinkan manusia berinteraksi satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari, seperti di rumah, di tempat kerja, di pasar, dan di masyarakat. Tidak ada orang yang tidak berpartisipasi dalam komunikasi. Komunikasi adalah proses pertukaran atau penyampaian informasi antar individu melalui bahasa, simbol, isyarat, atau tindakan dan tindakan yang ditunjukkan oleh seseorang kepada orang lain. Kita berkomunikasi untuk mengekspresikan dan mendukung identitas kita, berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita, dan mempengaruhi orang lain. Namun, tujuan utama komunikasi adalah untuk mengendalikan lingkungan fisik dan psikologis kita (Ubaidillah, 2. Dilihat dari perspektif Martin Heidegger, terkait makna keberadaan manusia yang berada, bukan ada karena ada sesuatu lain. Sebagaimana dijelaskan, terjatuh didalam lingkaran apapun itu bukan ada karenaa dikendalikan oleh diri sendiri akan tetapi dia berada dalam lingkaran tersebut karena suatu AoadaAo nya dasein dalam dunia atau dialam semesta. Maka dengan itu merupakan tanggungjawab dirinya sendiri, https://doi. org/ 10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 155-165 | 159 Wardhani et al. Eksistensi Manusia di Era TeknologiA munculnya pengaruh adanya teknologi ini berimbas pada suatu tindakan yang tidak dimana seorang anak yang semula superaktif menjadi pendiam dan terkesan tidak berintreaksi atau tidak bersosialisasi pada masyarakat, dalam hal ini juga suatu AokeberadaanAo orang tua juga memiliki peran dalam menghadapi revolusi perubahan era modern, terutama dalam keluarganya dan anak-anaknya. Berikut merupakan fenomena yang terkaait. Ketika anak-anak tidak memiliki perangkat, mereka sering berinteraksi dengan komunitas lokalnya, namun dengan perangkat, anak-anak menjadi lebih pendiam dan kecil kemungkinannya untuk berinteraksi dengan komunitas di sekitar mereka. Permasalahan selanjutnya adalah orang tua dengan niat baik memberikan alat kepada anaknya agar anak dapat belajar lebih banyak melalui alat tersebut, namun kenyataannya anak tersebut tidak memahami apa peran alat tersebut dalam belajar. Mereka lebih suka bermain game dan menggunakan media sosial agar tidak galau dan bisa tetap tenang saat orang tuanya sibuk (Putri, 2. Dilihat dari suatu permasalahan tersebut maka dengan ini perlu adanya peran dari orangtua yang seharusnya memantau anak-anaknya dalam menggunakan gadget serta memberikan kepada mereka pengetahuan akan teknologi. Serta orang tua harus mengetahui kapan seorang anak tersebut dikenalin dan diberikan gadget, selain itu juga perlu adanya etika dalam pemakaian teknologi tersebut dengan komunikasi melalui gadget. Dengan demikian Heidegger juga menganggap manusia sebagai pemimpin di era digital yang memiliki kekuatan untuk mempertanyakan dan menyikapi teknologi yang dihasilkan. Hal ini menunjukkan bahwa manusia dapat memiliki etika komunikasi yang relevan dan bertanggungjawab dalam era digital. Komunikasi anak yang semula aktif menjadi pendiam dan tidak pernah lagi melakukan hal biasa seperti intreaksi kepada masyarakat sekitar atau orang tua dikarenakan adanya gadget, hal tersebut merupakan salah satu fenomena yang disebut oleh Martin Heidegger sebagai AuvergessenheitAy atau kekurangan pikiran. Heidegger menganggap bahwa kekurangan pikiran terjadi ketika manusia memutuskan hubungan dengan sesuatu yang berharga seperti komunikasi dan hubungan dengan orang lain. Ay Potret Pekerjaan Anak Muda di Era Modern Seperti terlihat pada fenomena diera kotemporer ini banyak sekali anak-anak muda yang menginginkan dirinya terlihat keren dan ideal akan tetapi untuk terlihat bagus hanya didepan atau dimata orang lain juga perlu adanya suatu pekerjaan agar terlihat realistis. Dengan ini banyak sekali anak muda menginginkan pekerjaan yang terlihat bersih dan rapi seperti halnya dalam sebuah kantor. Tapi disini berbicara https://doi. org/ 10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 155-165 | 160 Wardhani et al. Eksistensi Manusia di Era TeknologiA tentang sebuah makna eksistensi itu sendiri, dimana manusia tidak hanya merupakan suatu entitas yang berada dialam, tetapi juga merupakan suatu entitas yang membentuk alam. Hal ini dapat kita lihat melalui konsep Heidegger tentang AodaseinAo yang merupakan hubungan antara manusia dan alam. Potret pekerjaan anak muda di era modern dapat dilihat sebagai hubungan antara Dasein dan alam. Pekerjaan adalah salah satu bentuk hubungan antara manusia dan alam, yang membentuk hubungan yang lebih kompleks dan berpengaruh. Demikian, adanya suatu pekerjaan yang berpengaruh karena adanya keberadaan manusia, jadi disini suatu pekerjaan sangat berpengaruh pada manusia, akan tetapi ketiadaan manusia mustahil suatu pekerjaan dapat berpengaruh. Maka dengan itu, pada era modern saat ini banyak anak-muda yang menginginkan suatu pekerjaan yang diidamkan, padahal mereka tidak mengetahui sejatinya manusia hidup dan mencari pekerjaan karena mereka bertanggungjawab atas hidupnya. Apapun pekerjaan yang dikerjakan itu merupakan suatu pekerjaan yang mengahasilkan tanggungjawab pada keberadaan dirinya. itu sendiri,. Dimanapun kita berada dialam manapun kita tinggal, pekerjaan apapun yang kita miliki serta senang atau tidak senang terhadap suatu pekerjaan yang kita kerjakan seharusnya dapat bertindak dengan baik dan benar agar terpenuhi tanggungjawa dalam dirinya. Zaman modern mempunyai dampak positif dan negatif. Pengaruh negatif juga terlihat pada anak-anak petani yang tidak ingin mereka melakukan pekerjaan bertani. Situasi ini merupakan bentuk pengaruh modern yang bergerak semakin cepat, dengan semakin sedikitnya lapangan kerja di sektor pertanian. Hal inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya konflik antara integritas anak petani dengan orang tuanya, terutama mengenai pekerjaannya di masa depan sebagai petani (Azhari, 2. Melihat fenomena tersebut, manusia sebagai makhluk yang ber-ada . tidak dapat dipisahkan dari relasinya dengan alam dan dunia tempat ia berada. Dalam perspektif eksistensial, keberadaan manusia menuntut keterhubungan yang menyatu dengan realitas sosial dan ekologisnya. Namun, pada era modern, keberadaan suatu pekerjaanAikhususnya di sektor pertanianAisering kali kehilangan makna eksistensial dalam diri anak-anak petani. Hal ini menunjukkan bahwa modernitas dan perkembangan teknologi telah memengaruhi cara berpikir dan bertindak manusia dalam menentukan pilihan hidupnya. Manusia memang memiliki kebebasan untuk memilih pekerjaan yang dianggap ideal dan sesuai dengan aspirasi personal. Akan tetapi, kebebasan tersebut perlu disertai kesadaran akan keberlangsungan peran-peran sosial yang hampir https://doi. org/ 10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 155-165 | 161 Wardhani et al. Eksistensi Manusia di Era TeknologiA Apabila seluruh generasi muda beralih sepenuhnya ke pekerjaan modern, maka muncul pertanyaan mendasar mengenai siapa yang akan melanjutkan sektor pertanian sebagai sumber produksi pangan. Hilangnya pelaku di sektor ini tidak hanya mengancam keberlanjutan pertanian, tetapi juga berpotensi menghambat stabilitas dan kemajuan ekonomi di masa depan. Perubahan Budaya Berbelanja Masyarakat Akibat perubahan sosial, setiap unsur komponen pemangku kepentingan komunikasi mengalami perubahan peran dan kedudukannya sehingga memerlukan penyesuaian terhadap konsep model komunikasi. Fenomena modernisasi terjadi di segala bidang kehidupan, termasuk sektor perekonomian, dan pasar digital bermunculan seiring dengan munculnya pasar tradisional dan Perkembangan ekonomi ini berdampak pada pelaku ekonomi. Di sisi lain, pesatnya peningkatan jumlah pengguna internet juga berdampak pada bidang transaksi jual beli, masyarakat tidak lagi memilih membeli melalui pasar fisik melainkan melalui pasar digital. Adanya aplikasi tiktok shop sebagai aplikasi berbelanja secara daring berpengaruh pada perkembangan penjualan didalam pasar. Semenjak adanya tiktok shop para pedagang pasar mengalami kesulitan untuk bersaing, karena barang yang dijual dipasar dengan di tiktok shop mengalami perbandingan harga yang jauh. Ratarata pedagang dipasar merasakan dampaknya dari adanya aplikasi tiktok shop seperti sepi pembeli, pendapatan menurun secara drastis dan ada beberapa pedagang yang sampai gulung tikar (Reyhan, 2. Dengan uraian fenomena diatas tersebut, mengalami perubahan dalam sektor perekonomian yang semakin meningkat dan maju yang tadinya masa tradisional kini menjadi era modern, yang mana dalam perubahan tersebut masing-masing tersebut mempunyai dampak baik itu secara positif maupun negatif. Terutama dari bidang ekonomi, para pesaing pasar kini terus meningkat semenjak munculnya era baru seperti pasar digital. Kini orang-orang ingin menjadikan suatu kegiatan yang praktis, seperti halnya dalam membeli sesuatu secara instan. Tidak dapat dipungkiri bahwa mereka menyukai sesuatu yang abstrak belum nampak secara realitas. Dapat kita lihat bahwa ketika membeli sesuatu secara online otomatis akan tetap menunggu rentan waktu 1 hari hingga 7 hari, dari sistem pembelian yang dilakukan ada yang membayarnya secara online akan tetapi barang nya belum nampak . elum berwujud secara konkre. , ada juga hanya sekedar memesannya kemudian setelah penentuan harinya sudah terverifikasi maka ada yang melakukan secara sistem bayar ditempat, https://doi. org/ 10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 155-165 | 162 Wardhani et al. Eksistensi Manusia di Era TeknologiA tentu saja hal ini berbeda dengan pembelian langsung secara realistis di pasar Mereka secara langsung melakukan transaksi serah terima barang. Dalam hal tersebut, berkaitan erat dengan kata AukeberadaanAy diartikan disini adalah adanya suatu keberadaan yang sangat berharga. Adanya teknologi karena ada nya manusia dan berharganya suatu barang karena AoadaAo manusia. Eksistensialis manusia disini sangat berperan aktif dalam suatu perkembangan kebudayaan yang pernah terjadi, fenomena tersebut memiliki makna dan artian yang baik bagi penggunanya akan tetapi dari pihak lain juga akan mendapatkan dampak nya, dikarenakan suatu keberadaan AoaplikasiAo didalam masyarakat, yang menjadi alat dalam perkembangan teknologi. Dari fenomena itu, keberadaan manusia lain akan terhempaskan dan tak terlihat bahkan merasa paling bawah dan tidak maju, akan tetapi, walaupun revolusi atau perubahan terjadi menurut pandangan Heidegger manusia yang telah ditempatkan pada tempatnya ia harus bertanggungjawab atas apa yang AoadaAo. Sebaiknya juga harus berusaha dalam menempatkan dalam diri ditempat yang baik, sebagaimana apabila adanya perubahan mengancam keberadaan kita, maka tetaplah berdiri dan kuat dalam menghadapi segala perubahan yang ada dengan itu dia akan tetap bertahan dan dapat bertanggungjawab atas apa yang ada. Dalam konteks ini, manusia dituntut untuk memiliki otonomi berpikir dan kebebasan reflektif agar mampu merespons perubahan secara kritis tanpa kehilangan orientasi nilai. Prinsip tanggung jawab atas keberadaan ini sejalan dengan gagasan kebebasan epistemologis dalam pengembangan ilmu pengetahuan, yang menekankan pentingnya kemandirian intelektual dan sikap kritis dalam menghadapi dominasi sistem atau paradigma tertentu (Wahyudi et al. , 2. Kesimpulan dan Saran Teknologi merupakan bagian integral dari kehidupan manusia modern karena kemampuannya dalam menunjang aktivitas manusia sekaligus memperluas horizon Meskipun demikian, teknologi tidak dapat diterima secara taken for granted, melainkan perlu dikaji secara kritis, mengingat kehadirannya di era kontemporer menghadirkan konsekuensi yang bersifat ambivalen, baik konstruktif maupun destruktif. Dalam perspektif Martin Heidegger, teknologi tidak dipahami semata-mata sebagai instrumen, melainkan sebagai suatu cara pengungkapan . ode of revealin. yang membentuk bagaimana manusia menafsirkan dan menghayati keberadaannya di dunia . eing-in-the-worl. Perkembangan teknologi komunikasi pada era industri 4. 0 telah mempermudah akses informasi lintas batas melalui berbagai perangkat digital. Media sosial, seperti Facebook. Twitter, dan Instagram, kini menjadi medium komunikasi dominan, khususnya di kalangan remaja, bahkan https://doi. org/ 10. 22515/academica. Vol. No. 02, 2024: 155-165 | 163 Wardhani et al. Eksistensi Manusia di Era TeknologiA berfungsi sebagai ruang aktualisasi dan eksistensi sosial. Namun, intensitas penggunaan media sosial juga berimplikasi pada kompleksitas relasi sosial serta berpotensi menimbulkan dampak negatif pada aspek psikologis, kesehatan, dan terutama sosial, yang tercermin dalam menurunnya kualitas interaksi interpersonal. Dampak teknologi juga merambah ranah keluarga, terutama dalam pola komunikasi antara orang tua dan anak. Pengenalan gawai sejak dini kerap mengubah perilaku anak menjadi lebih pasif dan menarik diri dari lingkungan sosial. Kesalahan persepsi dalam pemberian teknologi digital berpotensi memicu kecanduan gim dan melemahkan motivasi belajar. Kondisi ini sejalan dengan kritik Heidegger tentang hilangnya sikap kontemplatif ketika manusia terputus dari relasi autentik dengan Pada sektor ekonomi dan pekerjaan, kemajuan teknologi turut menggeser orientasi generasi muda. Anak-anak petani cenderung meninggalkan sektor pertanian dan memilih profesi lain yang dianggap lebih ideal, tanpa mempertimbangkan keberlanjutan sosial-ekologis. Akibatnya, sektor pertanian berisiko kehilangan pelaku utama, padahal keberlangsungan sektor tersebut sangat bergantung pada eksistensi manusia sebagai dasein. Fenomena serupa tampak pada budaya konsumsi digital melalui platform seperti TikTok Shop, yang mempermudah akses kebutuhan tetapi sekaligus memarginalkan pedagang pasar tradisional. Situasi ini menciptakan rasa keterpinggiran sosial dan melemahkan kehadiran sosial orang lain dalam ruang nyata. Perkembangan teknologi merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, diperlukan sikap kritis dan reflektif dalam memanfaatkannya agar dampak negatif dapat diminimalkan. Teknologi hanya bermakna sejauh ia dihadirkan secara sadar dan bertanggung jawab dalam kehidupan manusia. Sesuatu dianggap AuadaAy karena manusia memberinya makna dan fungsi. ketika makna itu hilang, keberadaannya pun kehilangan signifikansi eksistensial. Dengan demikian, kajian kritis terhadap teknologi di era modern perlu terus dikembangkan agar selaras dengan nilai kemanusiaan dan kebermaknaan hidup. Daftar Pustaka