Volume 3 Issue 2 . Pages 52-60 Jurnal Cakrawala : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah E-ISSN: 3063-1181 Strategi Guru dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPS di MI Juliya Nur Hidayah1. Salsabila Mutiara2. Mutiara Tsani3. Oman Farhurohman4 Mahasiswa Pendidikan Guru. Universitas Sultan Maulana Hasanuddin1, 2, 3 Dosen Pendidikan Guru. Universitas Sultan Maulana Hasanuddin4 juliyahidayah1@gmail. com1 , salsabilam. 2004@gmail. com2 , mtsani2311@gmail. farhurohman@uinbanten. Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji berbagai metode yang diterapkan oleh guru di sekolah dasar dalam meningkatkan minat siswa untuk belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan tinjauan pustaka, di mana data diambil dari publikasi akademis, jurnal ilmiah, dan buku-buku yang telah melalui proses penelaahan sejawat untuk memastikan bahwa informasi tersebut dapat dipercaya dan valid. Kurangnya minat siswa dalam mata pelajaran IPS sering kali disebabkan oleh ketidakmampuan guru dalam menyampaikan materi, metode pengajaran yang tidak bervariasi, serta pandangan siswa yang menganggap IPS sebagai topik yang membingungkan dan Temuan penelitian mengindikasikan bahwa guru memainkan peranan penting dalam proses belajar mengajar. Peran mereka mencakup menjadi pemandu, pengelola kelas, fasilitator, mediator, penilai, dan sumber inspirasi bagi siswa. Untuk meningkatkan minat belajar siswa, guru perlu memiliki pemahaman yang baik tentang materi pelajaran dan sangat penting untuk menggunakan strategi pembelajaran yang inovatif dan interaktif agar siswa dapat lebih terlibat dan memahami materi dengan lebih baik. Kata Kunci: Peran Guru. Minat Belajar. Strategi Pembelajaran. Abstract The aim of this study is to examine various methods applied by teachers in elementary schools to increase students' interest in learning. This study uses a literature review approach, where data is collected from academic publications, scientific journals, and books that have undergone peer review to ensure that the information is reliable and The lack of student interest in social studies subjects is often caused by teachers' inability to deliver the material, unvaried teaching methods, and students' perception of social studies as a confusing and boring subject. Research findings indicate that teachers play a crucial role in the teaching and learning process. Their roles include being a guide, classroom manager, facilitator, mediator, evaluator, and a source of inspiration for students. To increase students' interest in learning, teachers need to have a good understanding of the subject matter and it is very important to use innovative and interactive teaching strategies so that students can be more engaged and better understand the material. Keywords: The Role of Teachers. Learning Interest. Learning Strategies. Jurnal Cakrawala : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 3. , 2026 | 52 Strategi Guru dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPS di MI PENDAHULUAN Peran Guru dalam proses pengajaran dan pembelajaran di kelas, guru memainkan peran penting, terutama dalam menumbuhkan karakter positif. Karena guru memiliki keterkaitan yang erat dengan keberhasilan dan kualitas pendidikan, mereka memiliki posisi yang strategis, menurut (Hanaris, 2. Guru bertanggung jawab membantu siswa mencapai potensi penuh mereka dan meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki. Dengan mengidentifikasi temperamen, sifat, dan karakter mereka, seperti metode belajar yang digunakan siswa, guru dapat memahami kemampuan siswa mereka. Selain itu, guru berkontribusi dalam menumbuhkan kreativitas dan harus memiliki pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan untuk membantu siswa meningkatkan kemampuan pemecahan masalah mereka. Selanjutnya, guru berperan dalam memotivasi siswa dengan memiliki pemahaman yang baik tentang keadaan mereka, yang memungkinkan mereka menginspirasi siswa untuk mempelajari hal-hal baru, menarik, dan bermanfaat. Peran Guru dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Adapun menurut (Rusman, 2. Ada beberapa peran guru dalam mengidentifikasi sejumlah tanggung jawab utama bagi pengajar dalam proses pembelajaran, antara lain: . Sebagai pameran. Karena kemampuan guru dalam membuat bahan ajar merupakan faktor kunci keberhasilan siswa, mereka juga harus Selain itu, guru harus membantu siswa dalam memahami dan menyerap informasi yang disampaikan. Sebagai manajer kelas. Seorang guru harus mampu mengelola kelas secara efektif. Sebagai fasilitator dan juga mediator. Semua kegiatan harus diawasi dan diarahkan, serta suasana dan lingkungan kelas secara keseluruhan harus dikelola. Seorang guru, sebagai mediator, memiliki pemahaman tentang media pendidikan yang seharusnya disesuaikan dengan topik, tujuan, metode, dan kemampuan guru maupun siswa. Guru, yang bertindak sebagai fasilitator, mengatur sumber belajar, seperti narasumber, majalah, atau buku pelajaran, untuk membantu dan mendorong pembelajaran. Sebagai evaluator. Untuk memastikan apakah tujuan pembelajaran telah tercapai, guru harus menggunakan penilaian sebagai evaluasi. Sebagai sumber inspirasi. Agar siswa dapat berkembang dan meningkatkan minat mereka dalam belajar, guru harus menjadi pemberi semangat. Peran Guru pada mata pelajaran IPS. Guru bertanggung jawab membantu siswa mengembangkan sikap yang menjadikan mereka warga negara yang baik. Tanggung jawab guru IPS, menurut (Amiruddin, 2. adalah sebagai berikut: . Mendidik orang lain tentang budaya dan pengetahuan. Meningkatkan keterampilan fisik orang lain. Menggunakan nilai-nilai dan prinsip moral. Mampu menciptakan sumber belajar untuk ilmu sosial. Mampu bertanggung jawab dan berkomunikasi secara efektif. Mampu membina kerja sama dengan dunia luar. Guru Pendidikan Kewarganegaraan harus menjalankan tugasnya sebagai guru yang baik untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Selain itu, hal ini terkait dengan kewajiban guru terhadap siswa sebagai fondasi dalam hidup bermasyarakat. Rendahnya minat belajar peserta didik di sekolah itu disebabkan karena kurangnya penguasaan guru terhadap materi pembelajaran, alasan mengapa siswa kurang tertarik belajar di sekolah yaitu guru harus fokus pada penguasaan materi saat mengajar. Jika guru tidak cukup menguasai materi pelajaran, mereka akan kesulitan untuk mendapatkan hasil belajar yang Oleh karena itu, guru perlu mahir dalam materi pelajaran dan menciptakan lingkungan kelas yang menyenangkan untuk mempermudah proses belajar mengajar. Kurangnya antusiasme siswa dalam belajar sebagian disebabkan oleh ketergantungan mereka pada orang lain, yang membuat mereka malas dalam belajar. Menurut (Fuad, 2. mengemukakan bahwa Jurnal Cakrawala : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 3. , 2026 | 53 Strategi Guru dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPS di MI rendahnya minat siswa dalam belajar bisa dipengaruhi oleh penggunaan metode atau teknik pengajaran yang monoton. Kurangnya antusiasme siswa terhadap pelajaran ilmu sosial merupakan salah satu masalah yang sering muncul dalam pembelajaran ilmu sosial di sekolah dasar. Menurut (Ahmad, 2. , siswa sering melihat mata pelajaran IPS sebagai topik yang abstrak dan Siswa kesulitan memahami materi yang disampaikan karena partisipasi aktif siswa dalam proses belajar kurang. Menurut (Supriyadi, 2. salah satu tantangan dalam pembelajaran IPS adalah gaya mengajar yang monoton, di mana guru lebih menekankan ceramah daripada strategi interaktif. Akibatnya, siswa cenderung mengikuti pelajaran secara pasif dan tidak antusias. Hal ini mungkin membuat siswa kurang tertarik pada mata pelajaran IPS dan kurang menyadari masalah sosial yang penting. Oleh karena itu, tindakan harus diambil untuk mengubah perspektif siswa terhadap mata pelajaran IPS agar siswa dapat berpartisipasi lebih penuh dan antusias dalam pendidikan mereka. Agar siswa juga lebih terlibat dan memahami materi lebih efektif, para guru harus mengembangkan strategi pengajaran yang lebih menarik dan interaktif. Dengan cara ini, diharapkan siswa akan mengembangkan minat yang lebih besar pada mata pelajaran IPS dan mempelajari lebih banyak tentang masalah sosial yang dihadapi komunitas mereka. Selain itu, pembelajaran IPS terbatas oleh kurangnya media dan bahan ajar(Windasari et al. , 2. METODOLOGI Dalam penelitian ini, tinjauan pustaka digunakan bersamaan dengan metode deskriptif Metode deskriptif kualitatif diterapkan untuk memberikan penjelasan yang mendalam dan jelas tentang bagaimana guru meningkatkan minat belajar siswa di tingkat sekolah dasar. Data dikumpulkan melalui penelitian pustaka dengan cara mengidentifikasi dan menganalisis berbagai sumber ilmiah termasuk buku, jurnal baik nasional maupun internasional, artikel, dan laporan penelitian. Literatur dicari melalui berbagai basis data seperti Google Scholar. ERIC, dan Garuda dengan kata kunci yang mencakup: strategi pembelajaran, minat belajar siswa, strategi pengajaran guru SD, serta motivasi siswa di sekolah dasar. Sumber-sumber yang ditinjau dibatasi pada rentang waktu 2015 hingga 2024 untuk menjaga relevansi. Proses pencarian ini menghasilkan 20 artikel yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu . berfokus pada strategi pengajaran guru, . terkait dengan minat belajar siswa di SD, dan . menggunakan pendekatan empiris atau teoritis yang relevan. Langkah-Langkah Analisis Data. Analisis dilakukan melalui beberapa langkah sebagai berikut: Pertama Pemilihan data yang relevan dengan menyaring informasi penting dari setiap artikel yang membahas strategi guru serta pengaruhnya terhadap minat belajar siswa. Kedua Pengelompokan tema dan kategori, seperti strategi yang berfokus pada motivasi, metode pembelajaran aktif, pemanfaatan media, dan peningkatan interaksi antara guru dan siswa. Ketiga Penyajian data, yang merangkum temuan dari berbagai literatur untuk mempermudah dalam menarik kesimpulan. Keempat Verifikasi, dengan membandingkan temuan dari berbagai sumber untuk memastikan konsistensi dan akurasi informasi yang ada. Analisis yang dilakukan terhadap berbagai strategi yang telah terbukti efektif sesuai dengan literatur akan menjadi dasar utama dalam mengambil kesimpulan dari penelitian ini. Semua sumber yang dijadikan referensi berfungsi sebagai alat untuk memverifikasi dan 54 | Jurnal Cakrawala : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 3. , 2026 Strategi Guru dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPS di MI memperkuat temuan, agar hasil penelitian lebih valid, dapat dipertanggungjawabkan, dan mencakup strategi yang paling sesuai dalam meningkatkan minat belajar siswa di sekolah dasar. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Minat Belajar Kata minat secara etimologi berasal dari bahasa inggris yaitu Au interestAy yang berarti kecenderungan, perhatian . ecenderungan hati terhadap sesuat. , dan keinginan. Jadi dalam proses belajar siswa harus mempunyai minat atau kesukaan untuk mengikuti kegiatan belajar yang berlangsung, karena itu, siswa harus tertarik pada atau menikmati berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran yang berkesinambungan selama proses pembelajaran, karena hal ini akan memotivasi mereka untuk memperhatikan, terlibat, dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran(Siburian et al. , 2. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), minat berarti kecenderungan hati yg tinggi terhadap sesuatu. Sedangkan belajar berarti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Kesimpulannya, minat belajar merupakan kecenderungan yang kuat dari seseorang terhadap sesuatu dan berusaha untuk menguasai ilmu pengetahuan, yang merupakan bagian dari proses membentuk kepribadian yang utuh. Berdasarkan pengalaman sehari-hari kita, belajar adalah proses memahami sesuatu yang belum kita ketahui dan menjadi tahu. Manusia juga terlibat dalam belajar untuk meningkatkan keterampilan mereka dan memperoleh pengetahuan agar dapat mandiri dalam kehidupan mereka nantinya. Tindakan belajar adalah proses di mana respons seseorang menjadi lebih baik dengan setiap pelajaran. Di sisi lain, reaksi mereka akan berkurang jika mereka gagal belajar. Peristiwa yang memicu respons dari seorang pembelajar memberikan kesempatan untuk belajar(Afiatin, 2. Minat berperan penting dalam kehidupan siswa yang sangat dipengaruhi oleh minat mereka, yang memiliki pengaruh besar terhadap tindakan dan keyakinan mereka. Siswa yang lebih tertarik pada kegiatan belajar akan berusaha lebih keras dibandingkan dengan mereka yang kurang tertarik. Menurut (Siska & Harjanto, 2. berpendapat bahwa minat adalah kecenderungan untuk berkonsentrasi pada tugas tertentu dan menyimpan informasi. Dengan itu, siswa memberikan perhatian terus-menerus pada hal-hal yang mereka minati, yang mengarah pada kepuasan. Selain itu, minat digambarkan sebagai rasa kesenangan dan daya tarik terhadap sesuatu atau kegiatan yang mereka lakukan tanpa perlu diarahkan. Kecenderungan seseorang untuk tertarik pada sesuatu disebut minat. Minat adalah konsentrasi perhatian yang tidak disengaja yang dipengaruhi oleh lingkungan dan bakat serta berasal dari kehendak sepenuhnya. Berdasarkan pembahasan mengenai minat belajar yang telah disebutkan sebelumnya yaitu menghasilkan kesimpulan bahwa seseorang dapat terlibat dalam kegiatan belajar dalam jangka waktu yang lama tanpa merasa bosan jika mereka menikmati pengalaman tersebut. Selain itu, ketika seseorang termotivasi untuk belajar, lebih mudah bagi mereka untuk memusatkan perhatian, emosi, dan ide-ide mereka pada proses pembelajaran karena mereka melakukannya tanpa paksaan dari luar. Minat belajar yang tinggi di kalangan siswa dapat membantu meningkatkan hasil akademik mereka, mendorong mereka untuk belajar secara mandiri, memperbaiki fokus, dan membentuk karakter yang baik, serta banyak hal positif lainnya. Siswa yang menunjukkan minat belajar biasanya mendapatkan prestasi yang baik, memungkinkan mereka untuk mencapai target yang diinginkan. Sebaliknya, siswa yang kurang memiliki minat belajar akan Jurnal Cakrawala : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 3. , 2026 | 55 Strategi Guru dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPS di MI cenderung tertinggal, yang dapat berdampak buruk pada akademis mereka(Ketut Siti Amerta Sari. Esther Hasanah, 2. Strategi Guru dalam Pembelajaran IPS di MI Pengertian dari "strategi" berasal dari kata Latin "strategia" yang berarti kemampuan untuk menggunakan rencana untuk mencapai tujuan. Memahami metode pengajaran metode dapat diringkas dalam dua kata yaitu metodologi dan instruksi. Metode dan keterampilan yang digunakan sehari-hari yaitu sumber daya untuk mencapai tujuan tertentu. Untuk mencapai tujuan tertentu disebut sebagai strategi. Teknik pembelajaran menurut para Ahli, adalah suatu strategi yang dipilih untuk menyajikan materi pendidikan dalam lingkungan belajar saat ini seperti, sifat, derajat, dan rangkaian latihan yang dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkembang(Hasibuan et al. , 2. Strategi adalah alat penting yang berkaitan dengan pencapaian tujuan pendidikan. Pendekatan pembelajaran aktif dirancang untuk menciptakan lingkungan yang mendorong partisipasi aktif siswa dalam proses belajar, membantu mereka membangun kemandirian, berpikir kritis, dan kreativitas(Sutomo, 2. Oleh karena itu, guru harus menggunakan metode inovatif yang disesuaikan dengan materi pelajaran dan yang dapat dengan mudah diterima oleh siswa. Prosedur strategi pembelajaran harus dilakukan secara sistematis untuk memastikan keberhasilan pembelajaran. Saat merencanakan kegiatan pembelajaran, terutama dalam mengatur tujuan pembelajaran atau bahan ajar, melaksanakan evaluasi, dan membimbing siswa yang tidak dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Siswa akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan oleh guru jika mereka menggunakan strategi pembelajaran. Tujuan dari strategi pembelajaran adalah untuk memaksimalkan kesesuaian keterampilan dasar anak, dengan guru memfokuskan pada karakter, kreativitas, dan kegiatan anak, sehingga meningkatkan proses belajar dan mengajar(Harahap et al. , 2. Menyusun strategi adalah salah satu tanggung jawab penting seorang guru saat mengajar di kelas. Sebuah rencana diperlukan untuk menyampaikan materi pelajaran dengan cara yang menarik untuk siswa dan memungkinkan mereka memperhatikan materi pelajaran tanpa terganggu dengan kebosanan. Strategi pembelajaran juga dapat digambarkan sebagai pola kegiatan belajar yang dipilih dan diterapkan guru secara kontekstual yang sesuai dengan karakteristik murid, kondisi sekolah, lingkungan sekitarnya serta tujuan pembelajaran khusus yang ditetapkan. Guru merupakan penggerak utama pendidikan di sekolah dan komunikator yang berinteraksi dengan berbagai aspek pendidikan, termasuk siswa, orang tua, dan pendidik Sistem pendidikan sangat bergantung pada guru dan siswa, sehingga diperlukan banyak komunikasi. Akibatnya, guru dan siswa harus memiliki komunikasi yang baik, dan guru harus mampu berinteraksi dengan baik dengan siswa maupun orang tua(Astiti et al. Proses pembelajaran sangat didukung oleh strategi yang dirancang dengan baik. Penting untuk memahami lebih dalam mengenai kegiatan yang terlibat dalam belajar bahasa supaya strategi ini tetap sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Sistem yang memungkinkan adanya interaksi langsung antara pengajar dan siswa, sehingga menciptakan peningkatan serta respons, memiliki peranan yang signifikan(Amri & Kurniawan, 2. Berikut beberapa contoh strategi pembelajaran IPS: Pertama, ada metode pembelajaran yang dikenal sebagai penemuan, di mana siswa didorong untuk mencari informasi yang ingin mereka pelajari secara mandiri. Hanafiah dan 56 | Jurnal Cakrawala : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 3. , 2026 Strategi Guru dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPS di MI Suhana menjelaskan bahwa model pembelajaran penemuan terdiri dari proses yang melibatkan secara maksimal kemampuan siswa dalam mencari, menyelidiki, dan menemukan jawaban dengan cara yang sistematis, kritis, dan logis. Dengan cara ini, siswa dapat menemukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka sendiri, yang pada akhirnya mengarah pada perubahan perilaku tujuan utama dari kegiatan belajar. Salah satu manfaat dari metode ini adalah mendorong siswa untuk aktif dalam pengalaman belajar, karena mereka harus berpikir dan menggunakan kemampuan yang mereka butuhkan untuk mencapai hasil akhir dari apa yang telah direncanakan oleh guru(Nurhasanah, dkk, 2. Namun, salah satu kekurangan dari model ini adalah asumsi bahwa semua siswa siap untuk belajar. Jika siswa mengalami kesulitan dalam memahami atau menghubungkan konsepkonsep secara tertulis atau verbal, mereka mungkin akan merasa frustrasi dengan tantangan akademik yang ada. Model ini juga kurang efektif dalam mengelola kelompok besar siswa, karena membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka dalam menjelajahi ide-ide atau mengatasi masalah lain. Asumsi dalam model ini bisa jadi salah jika diterapkan pada siswa dan pendidik yang lebih terbiasa dengan metode tradisional. Oleh karena itu, lebih baik jika siswa memahami suatu konsep tanpa harus terlalu terfokus pada keterampilan atau perasaan secara umum(Mukaramah, dkk, 2. Mengacu pada penjelasan tentang kelemahan pembelajaran penemuan, guru perlu mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuan yang setara. Ini penting agar siswa yang kurang mampu dapat mendapatkan bantuan dari teman-teman mereka yang lebih berpengalaman dalam mengatasi tantangan saat menerapkan strategi pembelajaran ini dalam kelas sosial. Selain itu, guru harus menyiapkan informasi singkat yang bisa dimasukkan dalam lembar kerja siswa sebelum kegiatan belajar dimulai untuk menutupi kelemahan yang ada. Selanjutnya, guru juga perlu menjelaskan langkah-langkah dari metode tersebut. Dengan lembar kerja yang telah disusun, siswa bisa lebih aktif dalam proses Discovery Learning tanpa merasa tersesat atau sulit mengingat apa yang telah mereka pelajari. Kedua, pembelajaran yang berdasarkan permintaan adalah suatu evolusi dalam metode pembelajaran yang fokus pada siklus berpikir dasar dan logis untuk menemukan serta menelusuri solusi atas pertanyaan atau masalah yang diajukan sendiri. Melalui model pembelajaran berbasis inkuiri, potensi intelektual siswa dapat meningkat. Ketergantungan siswa terhadap pemenuhan fisik berpindah ke pemenuhan yang lebih mendalam. Dengan terlibat secara langsung dalam proses penemuan, siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat Namun, ada beberapa tantangan pada model pembelajaran ini, seperti ketergantungan pada kesiapan berpikir, yang dapat membuat siswa dengan kemampuan analisis lambat merasa bingung saat berpikir secara keseluruhan. Ini menjadi kurang efektif, terutama dalam situasi kelas yang memiliki banyak siswa. Siswa dan guru yang biasa dengan metode pengajaran yang tradisional mungkin akan merasa tidak nyaman dengan tuntutan dari model pembelajaran ini. Sebagaimana diungkapkan oleh Dewey, alat untuk pembelajaran berbasis permintaan mencakup: penyediaan solusi atau penjelasan yang memungkinkan, pengumpulan bukti untuk menguji kebenaran solusi atau penjelasan, menilai kebenaran jawaban dengan berdasarkan bukti yang telah dikumpulkan, serta kemudian menyusun kesimpulan yang didukung oleh bukti terbaik(Salam, 2. Mengacu pada langkah-langkah dalam pembelajaran inkuiri, untuk mengatasi tantangan dalam penerapan strategi pembelajaran ini dalam mata pelajaran IPS, guru atau pendidik berperan untuk menstimulus pemikiran siswa melalui metode tanya jawab. Dalam hal ini. Jurnal Cakrawala : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 3. , 2026 | 57 Strategi Guru dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPS di MI siswa menjadi aktor utama dalam proses pembelajaran inkuiri. Hasil dari pendekatan ini memberikan siswa kebebasan untuk bertindak dan menunjukkan kreativitas mereka. Ketiga, metode pembelajaran yang berbasis proyek (PJBL) adalah pendekatan pengajaran yang berlandaskan pada kegiatan belajar dan tugas-tugas nyata. Pendekatan ini memberikan tantangan kepada siswa untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari secara berkelompok. Mendorong siswa untuk belajar dengan lebih baik akan meningkatkan kemampuan mereka dalam mencapai hasil yang berarti, dan mereka harus mendapatkan pengakuan. ini akan meningkatkan kemampuan mereka dalam memecahkan Libatkan siswa dengan lebih aktif dan bantu mereka menghadapi tantangan yang Lanjutkan usaha kolaboratif ini. Namun, ada beberapa kekurangan yang perlu dicatat, seperti penyelesaian masalah yang biasanya memakan waktu lama dan memerlukan biaya yang Banyak guru telah terbiasa dengan metode pengajaran tradisional yang menempatkan mereka sebagai pusat pembelajaran, dan alat-alat yang diperlukan cukup banyak. Metode pembelajaran berbasis proyek biasanya mengikuti beberapa langkah. Langkah tersebut dimulai dengan pertanyaan, merancang perencanaan, menyusun jadwal aktivitas, memantau kemajuan proyek, memberikan penilaian, dan melakukan evaluasi berdasarkan kelebihan serta kekurangan dari pembelajaran berbasis proyek. Juga penting untuk mencari cara mengatasi tantangan, bekerja sama dengan siswa dalam menyelesaikan masalah tersebut, menentukan batasan waktu untuk proyek, mengendalikan biaya, memberikan peralatan dasar yang dapat dilacak dalam situasi umum, memilih area eksplorasi yang mudah diakses, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar baik pendidik maupun siswa merasa nyaman untuk belajar(Arifa et al. , 2. Keempat, pembelajaran yang berfokus pada isu adalah pendekatan yang mengajak siswa untuk melihat atau mengenali suatu masalah atau situasi yang relevan dengan topik yang akan Setelah siswa mengetahui masalah tersebut, mereka diajak untuk menganalisisnya guna mencari solusi. Beberapa keuntungan dari metode pembelajaran berbasis masalah meliputi: metode ini menarik untuk memahami dan menjelaskan isi materi, mendorong kapasitas dan kemampuan siswa, serta memberikan rasa puas saat menemukan informasi baru dengan semangat yang tinggi dan memperluas aktivitas serta kekuatan belajar siswa. Namun, ada juga kelemahan, yaitu beberapa siswa merasa tidak terbiasa menghadapi masalah dan merasa terbebani dalam menyelesaikannya, bukan hanya terkait dengan pelajaran di kelas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari(Mukaramah, dkk, 2. Kelima, pembelajaran logis merupakan pendekatan yang digunakan dalam pengalaman yang berkembang melalui siklus logis. Dalam konteks ini, metode ilmiah berarti siswa aktif terlibat dalam proses belajar dengan memanfaatkan indera dan pikiran mereka untuk mengumpulkan informasi. Melalui pengalaman yang terus berkembang ini, mahasiswa mampu mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang mereka temui. Salah satu keuntungan dari pendekatan ini adalah siswa menjadi lebih terlibat dalam proses pembelajaran karena lebih memusatkan perhatian pada diri mereka sendiri. Proses belajar yang terstruktur memudahkan pendidik dalam melaksanakan pengajaran. Namun, ada beberapa keterbatasan, termasuk kurangnya kreativitas dan inovasi, ketidakcukupan fasilitas, terbatasnya waktu dan sumber daya, serta rendahnya semangat, motivasi, dan rasa ingin tahu di kalangan siswa menjadi tantangan(Arifa et al. , 2. 58 | Jurnal Cakrawala : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 3. , 2026 Strategi Guru dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPS di MI SIMPULAN Berdasarkan analisis mengenai cara-cara yang digunakan guru untuk meningkatkan minat siswa dalam belajar mata pelajaran IPS di MI, dapat dirangkum bahwa minat belajar merujuk pada hasrat kuat seseorang untuk memahami pengetahuan. Hal ini membuat individu siap terlibat dalam proses belajar dalam jangka panjang tanpa merasa jenuh. Adanya minat belajar siswa yang rendah dalam IPS terjadi karena metode pengajaran guru yang cenderung sama, kurangnya penguasaan materi yang baik, dan pandangan siswa yang menganggap IPS adalah pelajaran yang sulit dipahami dan tidak menarik. Oleh karena itu, sangat penting bagi guru untuk merancang dan menerapkan metode pengajaran yang efektif agar siswa merasa lebih tertarik dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar. Salah satu metode yang bisa diterapkan adalah model pembelajaran penemuan, yang mengajak siswa untuk mencari, mengeksplorasi, dan menemukan pengetahuan, keterampilan, serta sikap mereka sendiri dengan cara yang sistematis, kritis, dan logis. Metode ini menciptakan suasana yang mendorong keaktifan siswa, diharapkan dapat mengubah cara pandang mereka terhadap pelajaran IPS dan meningkatkan ketertarikan belajar, sehingga bisa mencapai prestasi akademik yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA