Psychological well-being Korban Pelecehan (Satria Yudistir. PSYCHOLOGICAL WELL BEING KORBAN PELECEHAN SEKSUALYANG TERJADI KETIKA MASA REMAJA PSYCHOLOGICAL WELL-BEING OF VICTIMS OF SEXUAL ABUSE THAT OCCURRED DURING ADOLESCENCE Oleh: Satria Yudistira. Mahasiswa Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Negeri Yogyakarta Email: Satriayudistira. 2017@student. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi psychological well-being korban pelecehan seksual yang pernah terjadi ketika masa remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian studi Selanjutnya penelitian ini menjadikan UD. NM. JD. AT dan PM sebagai subyek dengan kualifikasi kelimanya adalah korban pelecehan seksual ketika masa remaja. Adapun sumber data yang digunakan adalah data primer dan Data primer didapat dari informan yang berupa individu atau perseorangan, yang mana dalam penelitian ini adalah, korban dan sahabat korban. Sementara data sekunder terdiri dari penelitian terdahulu, kajian literatur, buku, jurnal, dan lainnya. Data kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif analisis, dengan landasan teori yang digunakan adalah dimensi psychological well-being. Berdasarkan data, diperoleh kesimpulan bahwa kelima subyek memiliki pencapaian psychological well-being yang berbeda-beda setelah mengalami kejadian pelecehan seksual. Selanjutnya dari kelima subyek tidak ada satupun yang mencapai psychological well-being. karena ada beberapa dimensi dari enam dimensi yang tidak terpenuhi. Kesimpulan terakhir didapatkan bahwa dimensi yang tidak terpenuhi oleh korban UD. JD dan PM adalah dimensi tujuan hidup sedangkan untuk NM dan AT adalah dimensi penerimaan Kata kunci: pelecehan seksual, kekerasan seksual, kesejahteraan psikologis Abstract This study aims to determine the psychological well-being conditions of victims of sexual harassment that occurred during adolescence. This study uses a qualitative approach with a case study research method. Furthermore, this study made UD. NM. JD. AT and PM as subjects with the fifth qualification being victims of sexual harassment during adolescence. The data sources used were primary and secondary data. Primary data were obtained from informants in the form of individuals or individuals, which in this study were victims and friends of victims. Meanwhile, secondary data consistsof previous research, literature review, books, journals, and others. The data were analyzed using the descriptive analysis method, with the theoretical basis used is the dimensions of psychological well-being. Based on the data analysis, it was concluded that the five subjects had different attainments of psychological well-being after experiencing incidents of sexual harassment. Furthermore, from the five subjects, none of them reached perfect psychological well-being because there were several dimensions of the six dimensions that were not fulfilled. The final conclusion was that the dimensions that were not fulfilled by the victims of UD. JD and PM were the dimensions of life goals, while for NM and AT were dimensions of self-acceptance. Keywords: sexual harassment, sexual violence, psychological well-being 559 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 11. November 2021 pembicaraan kepada nuansa seksual yang tidak PENDAHULUAN Pelecehan seksual menjadi kasus yang marak terjadi di Indonesia. Merujuk pada data Komisi Nasional Perempuan (KOMNAS Perempua. dalam Kekerasan Terhadap Perempuan yang selanjutnya di singkat KTP naik sebesar 6% pada tahun 2019. Rincian KTP di ranah personal tercatat paling besar di antara data yang disajikan dalam catatan tahunannya yaitu mencapai angka 75% atau 11. 105 kasus. Di dalamnya, kekerasan seksual dan pelecehan seksual mengambil porsi di peringkat kedua dalam kekerasan personal yaitu sebanyak 2. kasus atau sebanyak 25% dari angka 11. Menurut Ramdhani . , dampak kekerasan seksual dapat dibagi menjadi dua, yaitu dampak menurut sifat dan dampak menurut waktu. Dampak menurut sifat artinya pelecehan seksual memiliki sifat yang pasti meninggalkan bekas negatif dan untuk dampak menurut waktu adalah pelecehan seksual memiliki rentan waktu sampai kejadian itu bisa berdampak kepada individu. Sementara lebih jauh. Rayinda . menyebut, bahwa mendalam, yaitu luka fisik seperti memar, goresan, cidera kepaa, cidera di bagian genital dan luka organ ada luka serius yang memerlukan perawatan medis. Selain itu, tindakan itu Pelecehan dapat mempengaruhi ranah psikis, dengan munculnya ketakutan untuk menjalani hidup. Biasanya Berdahl . adalah perilaku merendahkan korban akan merasa khawatir yang berkepanjangan jika dan melecehkan seseorang yang biasanya hal tersebut kembali terjadi kepadanya dan yang terakhir berbentuk pemaksaan seksual yang dilakukan adalah dampak pengalihan negatif berupa penggunaan lewat humor yang merendahkan, penghinaan alkohol dan obat-obatan sebagai pengalihan. seksual, sabotase, ancaman akan pemerkosaan, dan hal lainnya yang berkonotasi negatif dan Lebih jauh. Rusyidi, dkk . menyebut ada 5 . bentuk pelecehan seksual yang disadari. Antara lain meliputi: Upaya terus romantik/seksua. mengirim surat, pesan dan gambar bersifat seksual yang tidak dikehendaki. penyuapan paksa untuk melakukan hubungan mengelus atau meremas bagian tubuh seseorang tanpa izin, serta: mengarahkan Pelecehan disinggung sebelumnya, pada umumnya, merupakan bentuk perilaku kekerasan yang tidak dihendaki dan biasanya berbentuk pelecehan yang mempengaruhi psychological well-being, baik secara langsung, maupun Lebih mengancam keamanan dan kenyamanan seseorang. Aspinwall . memaparkan, bahwa psychological well-being merupakan kondisi yang menggambarkan bagaimana psikologis individu berfungsi dengan baik dan positif, sehingga individu dapat bertindak secara positif pula. Selanjutnya Schultz mendefinisikan Psychological well-being Korban Pelecehan (Satria Yudistir. psychological well-being adalah fungsi positif yang hadir dalam individu, yang mana fungsi METODE PENELITIAN Jenis Penelitian positif ini menjadi arah atau tujuan yang diupayakan untuk dicapai oleh individu yang Penelitian kualitatif dengan metode deskriptif naratif. Waktu dan Selaras dengan Aspinwall dan Schultz, menurut Ryff . , psychological well-being menggambarkan kesehatan psikologis manusia berdasarkan pemenuhan fungsi Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan kurun waktu selama lima bulan yaitu dari bulan November 2020 Ae Maret 2021 Ryff . juga menyampaikan bahwa Subjek Penelitian Narasumber penelitian ini merupakan korban kemampuan individu untuk menerima kelebihan pelecehan seksual yang dialami pada masa remaja dan kelemahan dirinya secara sadar. Selain itu, mereka yaitu UD. JD. NM. AT dan PM. Adapun ia juga dapat menciptakan hubungan yang karakteristik khusus dari subjek penelitian adalah positif antara diri seseorang dengan orang lain sebagai berikut: well-being yang ada di sekitarnya, mempunyai kompetensi untuk mengambil keputusan secara mandiri dan mampu untuk mengatur lingkungannya serta memiliki tujuan hidup yang jelas sesuai dengan tahap perkembangan yang dimilikinya. Psychological well-being Rentang usia korban pelecehan di masa remaja pada saat ini adalah berusia 19 Ae 20 tahun. Pernah mengalami pelecehan seksual di usia remaja yaitu rentang usia 13-17 tahun. Jenis pelecehan seksualnya adalah pelecehan fisik, visual, psikologis verbal dan non-verbal. dibentuk atas enam dimensi, yang mana, dimensi-dimensi tersebut menjadi aspek dan Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, wawancara merupakan kesejahteraan psikologis ini. Ryff . alam Ryff & teknik pengumpulan data Singer, 2. membagi dimensi psychological Instrumen yang digunakan berupa data hasil wawancara, well-being yang mana, peneliti akan merekam dan mentransrip hubungan positif dengan orang lain, otonomi wawancara, yang dari sini akan mulai diidentifikasi diri, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan bagian-bagian penting. Selain wawancara, untuk pertumbuhan pribadi. Penelitian ini berfokus menguji konsistensi jawaban dan membuatnya semakin pada pembahasan mengenai enam dimensi komprehensif, peneliti juga memakai metode observasi dan pengisian Skala Likert untuk memperkuat data hasil utama yang digunakan. 561 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 11. November 2021 (Sugiyono, 2. Teknik Analisis Data Data Display Proses penyajian data merupakan tahapan untuk Teknik analisis data yang diambil menggunakan pendekatan kualitatif. Analisis data dilakukan saat berlangsungnya proses pengumpulan data dan setelah selesai melakukan pengumpulan data. Peneliti dapat memulai mengelompokkan data-data yang dapat dibuat dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya, untuk memudahkan dalam membaca data-data hasil penelitian. Conclusion Drawing/verification Langkah terakhir dalam proses analisis data, mendengar jawaban dari informan ketika melakukan wawancara. Dalam hal ini, peneliti menggunakan teknik analisis data, yang menurut Miles dan Huberman . 4, dalam Sugiyono, 2. harus dilakukan dengan beberapa tahapan, yakni penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan bersifat sementara dan masih dapat berubah apabila dalam proses analisis ditemukan bukti-bukti yang kuat untuk merubah kesimpulan awal Dapat dikatakan bahwa kesimpulan yang dituliskan setelah proses analisis data dapat menjawab Data Collection rumusan masalah tetapi juga tidak. Kegiatan awal yang merupakan yang Dengan Berdasarkan hasil penelitian ada beberapa kualitatif, data diperoleh dengan melakukan HASIL PENELITIAN DAN BAHASAN gabungan dari ketiganya. Data-data ini diperoleh dari informan atau subjek yang ditentukan oleh temuan yang ditemukan dalam penelitian ini ditinjau dari enam dimensi psychological well-being. Temuan pertama yaitu penerimaan diri dan hubungan positif. Penerimaan diri dan hubungan positif dari lima subyek yang pernah menjadi korban menunjukan bahwa subyek UD. JD dan PM sudah menerima dirinya dan memiliki Data Reduction hubungan positif dengan orang lain sedangkan NM dan Setelah data terhimpun, dari berbagai AT belum sepenuhnya menerima diri dan mengalami sumber ini menjadikan kesatuan data yang kemunduran dalam hubungan positif dengan orang lain. kompleks, rumit, dan panjang, maka, diperlukan Selanjutnya untuk dimensi otonomi diri, penguasaan tahapan reduksi data. Tahapan ini dilakukan lingkungan dan pertumbuhan diri kelima subyek sudah dengan merangkum, memilih, dan memilah hal- hal pokok serta memfokuskan pada hal-hal yang Selanjutnya, untuk dimensi tujuan hidup subyek penting untuk dapat dicari tema dan polanya UD. JD dan PM masih belum jelas arah tujuan hidupnya Psychological well-being Korban Pelecehan (Satria Yudistir. 562 sedangkan NM dan AT sudah jelas dalam tujuan yang terjadi ketika masa remaja belum mencapai Adapun tujuan hidup NM sekarang psychological well- being secara sempurna. Hal ini adalah dirinya memiliki tujuan hidup untuk lebih dikarenakan ada beberapa dimensi psychological menjaga dirinya dengan hijabnya. Sedangkan well-being yang tidak terpenuhi oleh seluruh tujuan hidup AT adalah saat ini dirinya ingin memperjuangkan hak-hak perempuan dengan mengikuti gerakan perempuan. Subyek UD. JD dan PM dalam pencapaian Selanjutnya, ada beberapa faktor yang well-being pemenuhan dimensi tujuan hidup. Sedangkan untuk NM dan AT terkendala pada pemenuhan dimensi penerimaan diri. Peneliti well-being Saran kejadian yang menimpa narasumber menjadi Adapun beberapa saran yang perlu disampaikan salah satu faktor yang mempengaruhi. Selain untuk pihak terkait, yang tertarik meneliti pengaruh itu, kemampuan untuk menciptakan evaluasi pelecehan seksual dengan psychological well-being atau positif dari dalam tubuh, juga menjadi faktor lain tertarik menjadikan penelitian ini sebagai referensi adalah sebagai berikut: psychological well-being. Peneliti selanjutnya diharapkan untuk lebih banyak KESIMPULAN DAN SARAN belakang yang lebih beragam. Hal ini dimaksudkan Kesimpulan Berdasarkan varian narasumber penelitian, dapat ditarik kesimpulan bahwa kekerasan seksual di masa remaja, memiliki dampak terhadap psychological well-being korban saat ini. Adapun kondisi psychological well-being subyek saat ini adalah sebagai Ada perbedaan pencapaian Psychological well-being bagi setiap subyek yang pernah menjadi korban pelecehan seksual yang terjadi ketika masa remaja psychological well-being, terhadap orang-orang dari golongan atau kelas masyarakat yang berbeda. Peneliti memperdalam penelitian dengan mempersiapkan instrument untuk proses pengambilan data Bagi lembaga pendidikan adalah penelitian ini pendidikan dalam memahami bahaya pelecehan seksual terhadap psychological well-being individu Kelima subyek korban pelecehan seksual 563 Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Volume 7. Nomor 11. November 2021 menyusun tindakan preventif maupun Study Among Indonesian University kuratif jika kasus ini terjadi. Students. Share: Social Work Journal, 9. Saran bagi konselor terkait penelitian ini adalah konselor dapat lebih memahami Ryff. Happiness is Everything, or Is It? kondisi konseli yang mengalami kasus Explorations on The Meaning of serupa dengan membaca hasil penelitianini. Psychological Well-Being. Journal of Personality and Social Psychology. Vol. No. DAFTAR PUSTAKA