Planta Simbiosa Jurnal Tanaman Pangan dan Hortikultura e-ISSN 2685-4627 https://doi. org/10. 25181/jplantasimbiosa. vXiX. x Pengaruh Arang Cangkang Kelapa Sawit dan Pupuk MKP terhadap Karakter Morfofisiologi Tanaman Jagung di Tanah Aluvial The Effect of Palm Shell Charcoal and MKP Fertilizer on The Morphophysiological Characters of Corn Plants in Alluvial Soil Aswin Harbarisnandar 1*. Iwan Sasli 2. Tatang Abdurrahman 3 Universitas Tanjungpura. Jalan Tabrani Ahmad. Pontianak Barat 78113. Universitas Tanjungpura. Jalan Parit Haji Husin 1 Kecamatan Pontianak Tenggara 7812. Universitas Tanjungpura. Jalan Reformasi Kecamatan Pontianak Tenggara 7812 E-mail: aswin. aska25@gmail. Submitted: 06/04/2026. Accepted: 20/05/2026. Published: 21/05/2026. ABSTRAK Pemanfaatan tanah aluvial untuk peningkatan produksi jagung menghadapi kendala utama berupa pH tanah rendah dan keterbatasan unsur hara makro. Penggunaan arang cangkang kelapa sawit sebagai amelioran berpotensi memperbaiki sifat tanah dan meningkatkan efektivitas pemupukan MKP sebagai sumber phosfor dan kalium. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh interaksi arang cangkang kelapa sawit dan pupuk MKP terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung pada tanah Percobaan dilaksanakan di Desa Limbung. Kabupaten Kubu Raya, pada September 2025Ae Januari 2026 menggunakan rancangan split plot dalam rancangan acak kelompok dengan tiga Perlakuan terdiri atas arang cangkang kelapa sawit . anpa dan dengan aran. sebagai petak utama dan dosis pupuk MKP . , 50, 100, 150, dan 200 kg/h. sebagai anak petak. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan vegetatif, karakter fisiologis, dan komponen hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi arang cangkang kelapa sawit dan pupuk MKP meningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung secara signifikan. Perlakuan arang cangkang kelapa sawit dikombinasikan dengan pupuk MKP dosis 150 kg/ha merupakan perlakuan paling efisien dan memberikan hasil terbaik pada tanaman jagung di tanah aluvial, dengan bobot biji kering pipil tertinggi sebesar 216,38 g/tanaman. Kata Kunci: Arang cangkang kelapa sawit. Jagung. Pupuk MKP. Tanah aluvial. Pertumbuhan dan ABSTRACT The utilization of alluvial soils for expanding agricultural land to increase maize production is constrained by low soil pH and limited availability of macronutrients. The application of oil palm shell charcoal as a soil ameliorant has the potential to improve soil properties and enhance the effectiveness of MKP fertilizer as a source of phosphorus and potassium. This study aimed to evaluate the interactive effects of oil palm shell charcoal and MKP fertilizer on the growth and yield of maize grown on alluvial soil. The experiment was conducted in Limbung Village. Kubu Raya Regency, from September 2025 to January 2026 using a split-plot design arranged in a randomized complete block design with three replications. Oil palm shell charcoal . ithout and with charcoa. was assigned as the main plot, while MKP fertilizer rates . , 50, 100, 150, and 200 kg h. were applied as subplots. Observed variables included vegetative growth, physiological characteristics, and yield components. The results showed that the combination of oil palm shell charcoal and MKP fertilizer significantly improved maize growth and yield. The combination of oil palm shell biochar and MKP fertilizer at a dose of 150 kg ha-1 was the most efficient treatment and produced the highest shelled dry grain weight of 216. 38 g plant-1 in maize grown on alluvial soil. Planta Simbiosa. Volume 8 . April 2026: 29-40 Harbarisnandar, et. : Pengaruh Arang Cangkang Kelapa Sawit dan. Keywords: alluvial soil, corn. MKP fertilizer, palm shell charcoal, growth and yield. Copyright A 2026 Author. This work is licensed under a Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International License. PENDAHULUAN Jagung (Zea mays L. ) merupakan komoditas pangan bernilai ekonomi tinggi yang berperan penting sebagai bahan baku industri pakan ternak. Pemerintah menargetkan produksi 16,7 juta ton jagung pada tahun 2025, dengan sekitar 51% dialokasikan untuk industri pakan, sehingga keberlanjutan produksi jagung menjadi sangat strategis (Tija et al. , 2. Di Kalimantan Barat, peningkatan produksi jagung didukung melalui Program Ketahanan Pangan di 14 kabupaten/kota, sejalan dengan kebijakan nasional Astacita. Pada tahun 2025, pemerintah daerah menargetkan produksi jagung sebesar 173. 886 ton dengan produktivitas 43,40 ku/ha (Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2. Namun, realisasi produksi tahun 2024 baru mencapai 164. 407 ton, lebih rendah dibandingkan tahun 2023, sehingga produktivitas melalui perbaikan teknologi budidaya yang adaptif dan berkelanjutan. Kalimantan Barat memiliki potensi lahan aluvial yang luas, yaitu sekitar 771 kmA (Badan Pusat Statistik. Namun, tanah aluvial umumnya memiliki tekstur liat dan struktur padat yang dapat menghambat perkembangan akar dan pertumbuhan jagung, sehingga memerlukan perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Salah satu alternatif penggunaan arang cangkang kelapa sawit yang berpotensi meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki sifat tanah, dan menurunkan keasaman (Nasution & Limbong, 2. Selain perbaikan tanah, pemupukan berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan hasil jagung. Salah satu pupuk yang dapat digunakan adalah Mono Kalium Fosfat (MKP) yaitu pupuk anorganik berbentuk kristal putih yang mudah larut dalam air, mengandung fosfat 52% dan kalium 34%, sehingga efektif mendukung pembungaan, pembentukan tongkol, dan pengisian biji jagung. Menurut Kamal et al. , . bahwa pemberian MKP dengan dosis tepat pertumbuhan dan hasil jagung, dengan phosfor berperan dalam pembentukan bunga dan ukuran tongkol serta kalium dalam sintesis dan translokasi karbohidrat serta ketahanan tanaman (Ramadhani et , 2016. Solihin et al. , 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada lahan pertanian dengan jenis tanah aluvial yang berlokasi di Desa Limbung. Kecamatan Sungai Raya. Kabupaten Kubu Raya. Penelitian berlangsung selama empat bulan, yaitu dari bulan Oktober 2025 hingga Januari 2026. Penelitian rancangan petak terbagi . plit plo. Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan pada petak utama adalah pemberian arang cangkang kelapa sawit yang terdiri atas dua taraf, yaitu tanpa arang cangkang dan dengan pemberian arang cangkang kelapa sawit. Planta Simbiosa. Volume 8 . April 2026: 29-40 Harbarisnandar, et. : Pengaruh Arang Cangkang Kelapa Sawit dan. Arang cangkang kelapa sawit yang digunakan memiliki pH 10,47. organik 21,96%. nitrogen total 0,65%. rasio C/N 33,82. fosfor 3,16%. 0,12%. kalsium 2,91%. dan magnesium 0,15% . asil analisis Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah. Fakultas Pertanian. Universitas Tanjungpura, 2. Arang cangkang kelapa sawit diaplikasikan dengan dosis 7,5 kg/petak. Anak petak berupa perlakuan dosis pupuk MKP yang terdiri atas lima taraf, yaitu 0, 50, 100, 150, dan 200 kg/ha, sehingga diperoleh 10 kombinasi perlakuan. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak tiga kali, sehingga terdapat 30 satuan percobaan. Persiapan lahan dilakukan dengan membersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya, kemudian tanah diolah hingga gembur dan dibentuk menjadi 30 petakan dengan ukuran masing-masing 2 x 2 m, jarak antar anak petak 0,75 m dan jarak antar petak utama 1 m. Pemberian arang cangkang kelapa sawit dilakukan pada tahap pengolahan lahan dengan cara menaburkan arang secara merata di atas permukaan tanah sesuai dengan perlakuan, kemudian dicampurkan ke dalam tanah. Penanaman setelah lahan siap tanam. Benih ditanam pada lubang sedalam 3 cm dengan jarak tanam 70 cm x 25 cm, sehingga setiap petak terdapat 36 tanaman dengan 11 tanaman sebagai satuan amatan dan Pemupukan menggunakan pupuk MKP dilakukan dengan cara ditaburkan secara Planta Simbiosa. Volume 8 . April 2026: 29-40 merata di sekeliling tanaman sesuai dengan dosis perlakuan. Pemeliharaan penyiangan gulma, serta pengendalian hama dan penyakit yang dilakukan secara manual sesuai kondisi di lapangan. Pengamatan pertumbuhan dan perkembangan tanaman meliputi tinggi tanaman, luas daun, diameter batang, berat kering tanaman, laju pertumbuhan relatif, dan laju asimilasi bersih. Pengamatan hasil dilakukan dengan mengukur diameter tongkol, panjang tongkol, bobot tongkol, serta bobot biji kering pipil. Pengamatan dilakukan sesuai dengan waktu pengamatan yang telah ditentukan selama masa pertumbuhan tanaman. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan apabila terdapat pengaruh nyata, dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Parameter Pertumbuhan Hasil pertumbuhan tentang pengaruh arang cangkang kelapa sawit dan pupuk mkp terhadap karakter morfofisiologi tanaman jagung di tanah aluvial pada perlakuan yang berpengaruh nyata di tampilkan pada Tabel 1, 2, 3, 4, dan 5. Hasil uji BNJ pada Tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata tinggi tanaman pada perlakuan pemberian menunjukkan tinggi tanaman tertinggi umur 14, 21, 28, 35 dan 42 HST yang berbeda nyata dengan perlakuan tanpa arang cangkang kelapa sawit. Harbarisnandar, et. : Pengaruh Arang Cangkang Kelapa Sawit dan. Tabel 1. Hasil Uji BNJ pada tinggi tanaman akibat perlakuan arang cangkang kelapa sawit di tanah Perlakuan Tanpa Arang Arang Cangkang BNJ 5% 14 HST Tinggi Tanaman . 21 HST 28 HST 35 HST 42 HST Keterangan: Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji BNT pada taraf 5% Hasil uji BNJ pada Tabel 2 menunjukkan bahwa rata-rata luas daun jagung pada perlakuan arang cangkang kelapa sawit menunjukkan luas daun terluas 552,99 cm2 yang berbeda nyata dengan perlakuan tanpa arang cangkang kelapa sawit yang memiliki luas daun 477,12 cm2. Rata-rata diameter batang jagung pada perlakuan arang cangkang kelapa sawit menunjukkan diameter batang terbesar 27,25 mm yang berbeda nyata dengan perlakuan tanpa arang cangkang kelapa sawit yang memiliki diameter batang 24,45 mm. Rata-rata berat kering tanaman jagung pada perlakuan arang cangkang kelapa sawit menunjukkan berat kering terberat 105,04 g yang berbeda nyata dengan perlakuan tanpa arang cangkang kelapa sawit yang memiliki berat kering 67,63 g Tabel 2. Hasil Uji BNJ pada luas daun, diameter batang, berat kering tanaman, laju pertumbuhan relatif dan laju asimilasi bersih akibat perlakuan arang cangkang kelapa sawit di tanah aluvial Variabel Pengamatan Perlakuan Luas Daun Diameter Batang Tanpa Arang Arang Cangkang BNJ 5% 477,12 b 552,99 a 24,45 b 27,25 a 0,77 Berat Kering Tanaman . Laju Pertumbuhan Relatif . /7 67,63 b 105,04 a 13,51 0,180 b 0,231 a 0,02 Laju Asimilasi Bersih . /cm2/7 0,0070 b 0,0122 a 0,0017 Keterangan: Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji BNT pada taraf 5% Rata-rata laju pertumbuhan relatif jagung periode 14-21 HST pada perlakuan pemberian arang cangkang kelapa sawit menunjukkan laju pertumbuhan tertinggi 0,2319 g/7 hari yang berbeda nyata dengan perlakuan tanpa arang cangkang kelapa sawit yang memiliki laju pertumbuhan relatif 0,180 g/7 hari. Selanjutnya rata-rata laju asimilasi bersih jagung periode 28-35 HST pada perlakuan pemberian arang cangkang kelapa sawit menunjukkan laju pertumbuhan tertinggi 0,0122 g/cm2/7 hari yang berbeda nyata dengan perlakuan tanpa arang cangkang kelapa sawit yang memiliki laju asimilasi bersih 0,0070 g/cm2/7 hari. Planta Simbiosa. Volume 8 . April 2026: 29-40 Harbarisnandar, et. : Pengaruh Arang Cangkang Kelapa Sawit dan. Tabel 3. Hasil Uji BNJ tinggi tanaman jagung akibat perlakuan pupuk MKP di tanah aluvial Variabel Pengamatan BNJ Tinggi Tanaman 35 HST 95,17 b 107,33 a 97,67 ab 103,47 ab 98,43 ab 10,87 28 HST 69,63 b 80,97 a 73,83 ab 79,30 ab 74,77 ab 9,86 42 HST 115,43 b 132,50 a 130,03 a 134,17 a 127,73 a 12,14 Keterangan: Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji BNT pada taraf 5% Hasil uji BNJ pada Tabel 3 menunjukkan bahwa rata-rata tinggi tanaman umur 28 HST pada perlakuan pupuk MKP dosis 50 kg/ha menunjukkan tinggi tanaman tertinggi 80,97 cm yang berbeda nyata dengan perlakuan tanpa pupuk MKP, namun berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya. Tinggi tanaman umur 35 HST menunjukkan bahwa pupuk MKP dengan dosis 50 kg/ha menunjukkan tinggi tanaman tertinggi 107,33 cm yang berbeda nyata dengan perlakuan tanpa pupuk MKP, namun berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Tinggi tanaman umur 42 HST menunjukkan bahwa pupuk MKP dengan dosis 150 kg/ha menunjukkan tinggi tanaman tertinggi 134,17 cm yang berbeda nyata dengan perlakuan tanpa pupuk MKP, namun berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Tabel 4. Hasil Uji BNJ luas daun, diameter batang, berat kering tanaman, laju pertumbuhan relatif dan laju asimilasi bersi periode 14-21 HST dan 42-49 HST jagung akibat perlakuan pupuk MKP di tanah aluvial Variabel Pengamatan BNJ Luas Daun Diameter Batang 475,83 b 499,42 ab 511,64 ab 546,59 a 541,78 a 22,47 b 25,92 a 26,63 a 27,47 a 26,77 a 63,01 2,61 Variabel Pengamatan Berat Laju Kering Tanaman Relatif . /7 . 57,27 b 0,17 b 80,21 b 0,17 b 80,02 b 0,18 b 108,23 a 0,23 ab 105,94 a 0,28 a 24,67 0,09 Laju Asimilasi Bersih 14-21 HST 42-49 HST 0,0045 b 0,0048 b 0,0054 b 0,0074 ab 0,0099 a 0,0130 b 0,0177 a 0,0173 a 0,0190 a 0,0290 a 0,0042 0,0134 Keterangan: Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji BNT pada taraf 5% Berdasarkan hasil uji BNJ pada Tabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan MKP kg/ha menghasilkan luas daun terluas, yaitu 546,59 cmA, yang berbeda nyata dengan perlakuan tanpa pupuk MKP, namun tidak Planta Simbiosa. Volume 8 . April 2026: 29-40 berbeda tidak nyata dengan perlakuan dosis lainnya. Pola serupa juga terlihat pada diameter batang, di mana dosis 150 kg/ha menghasilkan diameter terbesar . ,47 m. berbeda nyata dengan perlakuan tanpa pupuk MKP, namun tidak Harbarisnandar, et. : Pengaruh Arang Cangkang Kelapa Sawit dan. berbeda dengan dosis pupuk MKP Pada parameter berat kering tanaman, pupuk MKP dosis 150 kg/ha menghasilkan bobot tertinggi sebesar 108,23 g. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa pupuk MKP serta dosis 50 dan 100 kg/ha, namun relatif setara dengan perlakuan dosis 200 kg/ha. Sementara itu, laju pertumbuhan kecenderungan meningkat pada dosis pupuk MKP yang lebih tinggi. Perlakuan MKP kg/ha menghasilkan laju pertumbuhan relatif tertinggi, yaitu 0,28 g/7 hari, dan lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa pupuk MKP serta dosis 50 dan 100 kg/ha, namun tidak berbeda dengan dosis 150 kg/ha. Hal yang sama juga ditunjukkan pada laju asimilasi bersih, baik pada periode 14Ae21 HST maupun 42Ae49 HST. Pupuk MKP kg/ha menghasilkan nilai laju asimilasi bersih tertinggi pada kedua periode pengamatan, yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa pupuk MKP, meskipun tidak selalu berbeda dengan perlakuan dosis pupuk MKP lainnya. Tinggi tanaman menunjukkan bahwa pemberian arang cangkang kelapa sawit berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman jagung pada umur 14 hingga 42 HST. Peningkatan tinggi tanaman menunjukkan bahwa pemberian arang cangkang kelapa sawit mampu meningkatkan pH tanah yang pada akhirnya mampu meningkatkan ketersedian unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman atau unsur hara berada pada kondisi tersedia didalam tanah. Menurut Santi, . , bahwa pemakaian arang cangkang kelapa sawit juga dapat meningkatkan pH tanah. Hal ini juga sejalan dengan hasil pengamatan yang dilakukan dimana terjadi peningkatan pH tanah setelah dilakukan pemberian inkubasi dari 4,87 menjadi 4,90-5,30 dan tanpa pemberian arang cangkang kelapa sawit pH menjadi turun setelah dilakukan pengolahan tanah turun menjadi 4,03. Interaksi antara arang cangkang kelapa sawit dan dosis pupuk MKP memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tinggi tanaman jagung pada umur 49 HST (Tabel . Kombinasi arang cangkang kelapa sawit dengan pupuk MKP dosis 100 kg/ha menghasilkan tinggi tanaman tertinggi, yaitu 191,40 cm, yang berbeda nyata dengan perlakuan tanpa arang dan tanpa pupuk . ,07 c. , serta perlakuan tanpa arang dengan pupuk MKP 50 dan 100 kg/ha yang masingmasing hanya mencapai 148,27 cm dan 146,13 cm. Hal ini menunjukkan bahwa arang cangkang kelapa sawit mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan pupuk MKP oleh tanaman, terutama pada fase generatif akhir di mana kebutuhan phosfor tinggi untuk pembentukan batang, daun, dan tongkol jagung. Menurut Putra et al. , . kebutuhan unsur P dan K meningkat terutama menjelang waktu keluar tongkol dan sekitar 75% dari total K telah diserap pada saat keluar rambut pada jagung. Kecukupan unsur hara posfor pada setiap fase pertumbuhan dan (Solihin et al. , 2. Pemberian arang cangkang kelapa sawit berpengaruh nayata terhadap luas daun dan diameter batang. Arang cangkang kelapa sawit meningkatkan pH tanah sehingga ketersediaan unsur hara Planta Simbiosa. Volume 8 . April 2026: 29-40 Harbarisnandar, et. : Pengaruh Arang Cangkang Kelapa Sawit dan. makro dan mikro, terutama phosfor, kalsium, dan magnesium, menjadi lebih optimal untuk diserap akar. Kondisi tanah perkembangan sistem perakaran, sehingga tanaman mampu menyerap air dan unsur hara lebih efisien (Nikiyuluw et al. , 2. Hal ini berdampak terhadap peningkatan luas daun yang terbentuk, yang akan berpengaruh terhadap fotosintesis. Pupuk MKP berperan sebagai sumber phosfor yang mendukung metabolisme energi, sintesis ATP, dan pembelahan sel meristematik pada daun dan batang. Menurut Fitriyani et al. bahwa phosfor berperan dalam transfer energi (ATP) dan pembelahan sel yang dibutuhkan untuk inisiasi primordia bunga serta diferensiasi organ generatif seperti daun dan batang. Dosis 150 kg/ha memberikan respons terbaik pada luas daun dan diameter batang. Kekurangan phosfor menyebabkan luas daun menjadi kecil, pertumbuhan tunas melambat, pertumbuhan akar menurun sehingga serapan air oleh akar ditanah menurun (Panunggul & Nurbaiti, 2. Berat kering tanaman merupakan gambaran hasil fotosintesis selama tanaman melakukan proses pertumbuhan dan ditentukan oleh kandungan organik Menurut Faizal et al. , . menggambarkan bentukan fotosintat pada setiap organ tanpa pengaruh air. Peningkatan berat kering pada perlakuan menunjukkan bahwa perbaikan kondisi tanah berperan langsung terhadap efisiensi pembentukan bahan kering. Arang meningkatkan pH tanah juga mampu memberikan tambahan unsur hara Planta Simbiosa. Volume 8 . April 2026: 29-40 nitrogen, posfor kalium hal ini sesuai dengan hasil analisis kandungan hara arang cangkang kelapa sawit. Perlakuan pupuk MKP terjadi peningkatan berat kering seiiring dengan penambahan dosis yang diberikan, namun terjadi penurunan ketika diberi dosis 200 kg/ha. Hal ini menunjukkan pentingnya penambahan unsur hara posfor dan kalium untuk mencukupi kebutuhan hara kekurangan unsur hara yang dapat mengganggu proses fotosintesis dalam menghasilkan fotosintat. Hal ini sejalan dengan Arnoldi et al. , . bahwa pemberian pupuk MKP . ono kalium phosfa. dengan konsentrasi yang tepat akan memacu pertumbuhan tanaman kedelai yang lebih baik. Hu et al. , . juga menyatakan bahwa pada tanaman kapas kandungan K dan klorofil daun, jumlah daun, luas daun, berat kering reproduktif dan berat kering total secara signifikan lebih rendah pada kondisi kekurangan kalium. Laju pertumnbuhan relatif (LPR) adalah pertambahan biomasa tanaman persatuan waktu tidak konstan tetapi tergantung pada berat awal tanaman (Sitompul dan Guritno, 1. Arang berfungsi menaikkan pH tanah aluvial dan menurunkan aktivitas ion toksik, sehingga sistem perakaran muda mampu menyerap air dan hara secara lebih efisien. Menurut Annisa et al. , . bahwa aplikasi arang dapat mengurangi keasaman tanah, serta toksisitas Al3 dan Fe2 . Adanya peningkatan pH tanah pada perlakuan pemberian arang cangkang kelapa sawit berdampak terhadap ketersedian hara yang dapat diserap oleh tanaman sehingga proses fotosintesis berlangsung optimal. Menurut Manuhuttu et al. , . unsur Harbarisnandar, et. : Pengaruh Arang Cangkang Kelapa Sawit dan. hara yang cukup akan meningkatkan aktifitas fotosintesis sehingga fotosintat yang dihasilkan lebih banyak, maka pertumbuhan akan meningkat biomasa akan meningkat. Gambar 1. Grafik laju pertumbuhan relatif Respons pupuk MKP terhadap laju pertumbuhan relatif juga terlihat nyata pada periode 14Ae20 HST. Phosfor yang tersedia dari pupuk MKP berperan penting dalam pembentukan ATP dan senyawa fosfat berenergi tinggi yang dibutuhkan untuk pembelahan dan pembesaran sel. Pada fase awal pertumbuhan, kebutuhan energi tanaman relatif tinggi, sehingga pengaruh langsung terhadap kecepatan pertumbuhan relatif. Namun pada periode berikutnya, pengaruh pupuk MKP terhadap LPR menjadi tidak nyata, karena phosfor yang diberikan cenderung digunakan untuk pembentukan struktur vegetatif dan penguatan jaringan, bukan lagi untuk meningkatkan kecepatan pertumbuhan relatif. Sejalan dengan penelitian Safriadi et al. , . bahwa laju pertumbuhan relatif berlangsung lambat setelah perkecambahan kemudian meningkat secara cepat setelah tanam dan menurun seiring perkembangan tanaman. Laju asimilasi bersih (LAB) menunjukkan kemampuan fisiologis tanaman dalam menghasilkan bahan kering per satuan luas daun per satuan waktu. Laju asimilasi bersih berasosiasi dengan luas daun dan bahan kering yang dihasilkan dari periode Terhambatnya perluasan daun akan berdampak pada menurunnya kapasitas dari daun untuk menyerap cahaya (Maisura et al. , 2. Berdasarkan gambar 2, nilai LAB pada seluruh perlakuan cenderung lebih tinggi pada fase awal hingga pertengahan . Ae34 HST) mengalami penurunan pada interval 35Ae 41 HST, sebelum kembali meningkat pada beberapa perlakuan pada interval 42Ae49 HST. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan fotosintesis pada tanaman dipengaruhi oleh umur tanaman dan perkembangan tajuk. Planta Simbiosa. Volume 8 . April 2026: 29-40 Harbarisnandar, et. : Pengaruh Arang Cangkang Kelapa Sawit dan. Gambar 2. Grafik laju asimilasi bersih Laju dihasilkan akibat pemberian pupuk MKP menunjukkan terjadinya peningkatan hasil asimilasit seiring dengan peningkatan dosis pupuk. Ketika kekurangan phosfor, kepadatan stomata juga dapat menurun, disertai dengan penurunan ukuran dan bukaan stomata. Penurunan kepadatan dan ukuran ini dapat menyebabkan penurunan laju penyerapan CO2, yang pada akhirnya menyebabkan penurunan laju fotosintesis (Elystia et al. , 2. Hal ini juga sejalan dengan Maulidan & Putra, . bahwa proses fotosintesis dipengaruhi oleh ketersediaan P yang terbatas, karena P memainkan berperan penting dalam produksi adenosin trifosfat (ATP) untuk menyediakan energi dalam proses Parameter Hasil Hasil analisis parameter hasil tentang pengaruh arang cangkang kelapa sawit dan pupuk MKP terhadap karakter morfofisiologi tanaman jagung di tanah aluvial pada perlakuan yang berpengaruh nyata di tampilkan pada Tabel 5. Pada parameter komponen hasil, interaksi arang cangkang kelapa sawit dan pupuk MKP 150 kg/ha memberikan diameter tongkol dan bobot tongkol jagung terbesar, yang berbeda nyata Planta Simbiosa. Volume 8 . April 2026: 29-40 dibandingkan perlakuan tanpa arang cangkang pada berbagai dosis pupuk MKP serta perlakuan arang cangkang tanpa pupuk MKP. Perlakuan yang sama juga menghasilkan bobot biji kering pipil tertinggi, yaitu 216,38 g, dan berbeda nyata dengan sebagian besar perlakuan tanpa arang cangkang serta dosis pupuk MKP rendah. Namun demikian, perlakuan tersebut tidak berbeda nyata dengan beberapa kombinasi perlakuan lainnya yang menggunakan arang cangkang dan dosis pupuk MKP menengah hingga Pemberian arang cangkang kelapa sawit berperan dalam memperbaiki kondisi kimia tanah, khususnya pada tanah yang memiliki pH rendah. Arang meningkatkan pH tanah sehingga menurunkan fiksasi phosfor oleh ion Al dan Fe. Manik et al. , . menyatakan bahwa ketersediaan phosfor dalam tanah rendah akibat ikatan dengan klei serta ion Al dan Fe, sehingga sulit diserap tanaman. Dengan meningkatnya pH tanah akibat aplikasi arang, phosfor dan kalium menjadi lebih tersedia, mendukung pembentukan tongkol yang lebih optimal. Selain itu, arang cangkang kelapa sawit meningkatkan kapasitas tukar kation tanah sehingga ion KA dapat dipertahankan lebih Harbarisnandar, et. : Pengaruh Arang Cangkang Kelapa Sawit dan. lama di zona perakaran dan kehilangan (Nasution & Limbong, 2. Kondisi ini mendukung proses pengisian tongkol dan biji secara lebih efisien. Tabel 5. Hasil Uji BNJ tinggi tanaman 49 HST. LAB 21-28 HST, diameter tongkol, bobot tongkol, dan bobot biji kering pipil jagung akibat interaksi arang cangkang kelapa sawit dan pupuk MKP di tanah aluvial Variabel Pengamatan Perlakuan Arang Cangkang Tanpa Arang Tanpa Arang Tanpa Arang Tanpa Arang Tanpa Arang Arang Cangkang Arang Cangkang Arang Cangkang Arang Cangkang Arang Cangkang BNJ Pupuk MKP g/Ha Tinggi Tanaman 49 HST LAB 2128 HST /cm2/7 0,0057 a 0,0053 a 0,0086 a 0,0081 a 0,0072 a 0,0115 a 0,0118 a 0,0079 a 0,0109 a 0,0190 b Diameter Tongkol . Bobot Tongkol . Bobot Biji Kering Pipil . 41,29 d 44,83 c 45,91 bc 45,26 bc 44,52 c 46,05 bc 46,65 b 45,03 bc 49,49 a 47,49 ab 167,34 d 175,81 cd 206,30 bc 183,45 cd 173,85 cd 179,09 cd 216,90 bc 212,67 bc 275,83 a 238,84 ab 131,87 c 141,98 c 167,00 bc 148,66 c 157,40 bc 148,85 c 176,23 bc 177,32 bc 216,38 a 200,78 ab Keterangan: Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji BNT pada taraf 5% Pupuk MKP sebagai sumber phosfor dan kalium berpengaruh nyata terhadap panjang tongkol, diameter tongkol, serta bobot tongkol dan bobot biji kering pipil jagung. Phosfor berperan dalam pembentukan energi metabolik dan sintesis asam nukleat yang mendukung pembelahan serta diferensiasi sel pada jaringan meristem tongkol, sehingga memacu pemanjangan dan pembesaran tongkol (Permatasari dan Nurhidayati. Kalium meningkatkan luas daun, kandungan klorofil, serta memperlancar translokasi penyimpanan, termasuk tongkol dan biji (Fitra et al. , 2. Panjang tongkol meningkat nyata pada pemberian pupuk MKP dibandingkan tanpa pupuk, dengan respons tertinggi pada dosis 150 kg/ha. Namun, pada dosis lebih tinggi, peningkatan panjang tongkol tidak lagi kebutuhan phosfor tanaman telah tercukupi dan pemanfaatan unsur hara memiliki batas fisiologis tertentu (Kuruseng & Astuti, 2. Interaksi antara arang cangkang kelapa sawit dan pupuk MKP memberikan pengaruh nyata terhadap diameter tongkol, bobot tongkol, dan bobot biji kering pipil jagung. Kombinasi arang dengan pupuk MKP dosis 150 kg/ha menghasilkan diameter tongkol dan bobot tongkol tertinggi, menunjukkan bahwa perbaikan pH tanah oleh arang Planta Simbiosa. Volume 8 . April 2026: 29-40 Harbarisnandar, et. : Pengaruh Arang Cangkang Kelapa Sawit dan. meningkatkan efisiensi pemanfaatan phosfor dan kalium dari pupuk MKP. Pada kondisi tanpa arang, peningkatan dosis pupuk MKP belum mampu meningkatkan bobot tongkol dan bobot biji secara optimal karena phosfor di dalam tanah masih banyak terfiksasi dan kurang tersedia bagi tanaman (Kamal et , 2. Sebaliknya, pada tanah yang diameliorasi dengan arang, phosfor yang tersedia mendukung pembentukan energi dan sintesis senyawa struktural selama fase pengisian biji, sedangkan kalium berperan dalam pengaturan tekanan osmotik dan memperlancar translokasi fotosintat ke tongkol dan biji (Fitra et al. Menurut Wibawati et al. , . aplikasi arang mampu menstabilkan pH tanah pada kisaran optimal sehingga menekan fiksasi P dan K. Kombinasi arang cangkang kelapa sawit dengan MKP kg/ha menghasilkan bobot biji kering pipil tertinggi, sedangkan perlakuan tanpa arang dan tanpa pupuk menunjukkan hasil KESIMPULAN Kesimpulan Berdasarkan mengenai pengaruh arang cangkang kelapa sawit dan pupuk MKP terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung di tanah aluvial, dapat disimpulkan bahwa DAFTAR PUSTAKA