PENGARUH WORKPLACE STRETCHING EXERCISE TERHADAP KEBOSANAN BELAJAR DAN KELELAHAN BELAJAR MAHASISWA POLTEKKES SURAKARTA Lis Sarwi Hastuti. Rina Kurnia Kementerian Kesehatan Politeknik Kesehatan Surakarta Jurusan Okupasi Terapi Abstract : Workplace Stretching Exercise. Boredom. Fatique Learning. This study aims to reveal the impact of Workplace Stretching Exercise to boredom and fatique learning of student in campus I health Polytechnic of Surakarta. Sampling collection was done by purposive sampling technique with 86 respondents. The result of paired samples t-test was obtained p value = 0. <0. Conclusions results of this research is there is the influence of Workplace Stretching Exercise to the boredom and fatique learning student in campus I Health Polytechnic of Surakarta. Keywords : Workplace Stretching Exercise. Boredom. Fatique Learning Abstrak : Workplace Stretching Exercise. Kebosanan. Kelelahan Belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Workplace Stretching Exercise terhadap kebosanan dan kelelahan belajar mahasiswa kampus I Politeknik Kesehatan kemenkes Surakarta. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan jumlah 86 responden. Berdasarkan uji paired sample t-test diperoleh hasil p-value 001 . <0. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah ada pengaruh Workplace Stretching Exercise terhadap kebosanan dan kelelahan belajar mahasiswa kampus I Politeknik Kesehatan Kemenkes Surakarta. Kata Kunci : Workplace Stretching Exercise. Kebosanan. Kelelahan Belajar PENDAHULUAN Proses pembelajaran melibatkan berbagai kegiatan dan tindakan yang perlu Pembelajaran adalah suatu proses interaksi antara pengajar/ guru/ dosen dengan peserta didik. Tercapainya tujuan pembelajaran ditandai oleh tingkat pembentukan kepribadian. Pada proses pembelajaran yang melibatkan aktivitas fisik dan mental dapat menimbulkan kebosanan dan kelelahan belajar. Hal ini dapat disebabkan oleh waktu yang dalam proses pembelajaran melebihi jadwal pelajaran pembelajaran yang bersifat monoton, sarana dan prasarana dalam proses pembelajaran yang tidak sesuai dengan antropometri peserta didik serta tidak adanya istirahat berupa istirahat aktif yang dilakukan peserta didik dalam proses pembelajaran di kelas. Dilihat dari luaran proses pembelajaran ternyata dampak yang ditimbulkan dapat mempengaruhi ketelitian kecepatan dan konstansi kerja peserta didik yang pada akhirnya kualitas proses pembelajaran bisa terganggu (Sutajaya, 2. Salah satu upaya untuk mencapai kondisi tersebut adalah dengan pemberian Workplace Stretching-Exercise Lis Sarwi Hastuti. Pengaruh Workplace Stretching Exercise (WSE) yang didesain dengan prinsip gerakan stretching . eregangan oto. dan iringan musik instrumental tempo sedang. Peregangan otot yaitu usaha untuk mengakibatkan otot menjadi rileks dan lentur (Nelson & Kokkonen, 2. Penelitian ini bertujuan untuk workplace stretching exercise terhadap kebosanan dan kelelahan mahasiswa Politeknik Kesehatan Surakarta. Pembelajaran berlangsungnya belajar mengajar di kelas yang merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah. Sedangkan pelaksanaan proses belajar mengajar dapat dilakukan sebagai interaksi antara pengajaran dengan pelajaran dalam menyampaikan bahan pelajaran kepada pembelajaran (Rahayu, 2. Kebosanan adalah ungkapan tidak enak dari perasaan tidak menyenangkan, perasaan lelah yang menguras seluruh minat dan tenaga (Anoraga, 1. Anastasi . berpendapat bahwa sumber kebosanan dapat berasal dari individu dan lingkungan. Karakteristik orang berbeda-beda sehingga setiap orang memiliki kerentanan yang berbeda-beda pula terhadap kebosanan sekalipun melakukan kegiatan yang sama. Dampak dari kebosanan antara lain adalah timbulnya rasa kesal, lemas, lelah dan berkurangnya kewaspadaan (Kroemer dan Grandjean, 2000. Pulat, 1992. Kroemer dkk, 1. Kelelahan mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah Kelelahan diatur secara sentral oleh otak. Pada susunan saraf pusat terdapat sistem aktivasi . ersifat simpati. dan inhibisi . ersifat parasimpati. Istilah kelelahan biasanya menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari setiap individu, kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja serta ketahanan tubuh (Tarwaka, 2. Gejala-gejala kelelahan antara lain adalah penurunan kesiagaan dan perhatian, perlambatan kecepatan reaksi, penurunan dan hambatan persepsi, depresi, kurang tenaga, dan kehilangan inisiatif (Setyawati, 2. Workplace Stretching-Exercise (WSE) merupakan bentuk latihan yang stretching . eregangan oto. dan iringan musik instrumental tempo sedang. Peregangan otot yaitu usaha untuk mengakibatkan otot menjadi rileks dan lentur (Nelson & Kokkonen, 2. Tinjauan fisiologis terhadap manfaat Workplace Stretching-Exercise (WSE) secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut, sifat kerja otot secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu antagonis dan sinergis. Sifat kerja otot antagonis adalah dua kumpulan otot atau lebih yang cara kerjanya berlawanan untuk menghasilkan suatu koordinasi gerak, artinya jika satu kelompok otot berkontraksi, maka kelompok otot lain mengalami relaksasi. Sifat kerja otot sinergis adalah dua kelompok otot atau lebih yang cara kerjanya selaras untuk menghasilkan suatu gerakan. Untuk menghasilkan gerakan yang baik, satu kelompok otot tidak dapat bekerja sendiri, namun harus bekerjasama dengan kumpulan otot yang lain (Guyton, 2. Stretching dapat diberikan pada otot yang sedang berkontraksi maupun relaksasi 118 Jurnal Keterapian Fisik. Volume 2. No 2,November 2017, hlm 75-125 tergantung sifat kerja otot (Nelson & Kokkonen, 2. METODE PENELITIAN Desain penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimental AuOne groups pre and post test designAy. Pada penelitian ini sebelum dan setelah pemberian Workplace Stretching-Exercise (WSE) akan dilakukan penilaian terhadap kebosanan dan kelelahan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Kampus I Politeknik Kesehatan Surakarta. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling, jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 86 orang. HASIL PENELITIAN Pengambilan dengan judul pengaruh workplace stretching exercise terhadap kebosanan dan kelelahan belajar mahasiswa di Kampus I Poltekkes Surakarta dilakukan di Kampus I Poltekkes Surakarta yang terdiri dari 3 . jurusan yaitu : Jurusan Keperawatan. Jurusan Akupuntur dan Jurusan Terapi Wicara. Pengambilan data diawali dengan melakukan perijinan selanjutnya proses pengambilan data dilakukan dengan mahasiswa mengisi kuesioner kebosanan dan kelelahan berupa pada pemeriksaan awal yaitu sebelum Workplace Stretching-Exercise, pemberian intervensi Workplace Stretching-Exercise kemudian mengisi kuesioner kebosanan dan kelelahan setelah mendapatkan intervensi. Analisis Univariat Karakteristik Data Kontinu Hasil statistik deskriptif data kontinu yang berupa usia. IMT, lama belajar/ hari, lama istirahat malam, jarak tempat tinggal ke kampus, dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut : Tabel 1 Karakteristik Responden Penelitian Data Kontinu Data Usia IMT Lama belajar/hari Lama istirahat Jarak tempat tinggal ke kampus Min Max Mean 19,15 19,70 1,43 6,48 0,69 2,40 0,72 1,05 7,53 9,41 Karakteristik Data Kategorikal . Jenis Kelamin Responden dalam penelitian ini terdiri atas mahasiswa Kampus I dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Berikut berdasarkan jenis kelamin. Tabel 2 Karakteristik Responden Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Berdasarkan data yang disajikan pada tabel 2, pada 86 responden penelitian diketahui bahwa perbandingan laki-laki dibanding perempuan adalah 1:6. Alat Transportasi yang Digunakan Hasil penelitian berdasarkan alat transportasi yang digunakan dapat dilihat pada tabel 3 sebagai berikut : Tabel 3 Karakteristik Responden Penelitian Berdasarkan Alat Transportasi yang Digunakan Alat Transportasi Jalan kaki Sepeda motor Antar jemput Jumlah Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden penelitian Lis Sarwi Hastuti. Pengaruh Workplace Stretching Exercise menggunakan alat transportasi sepeda motor yaitu sebanyak 64 . %). Tabel 6 Karakteristik Responden Penelitian Berdasarkan Rutinitas Olahraga . Konflik Psikososial Hasil karakteristik responden penelitian berdasarkan konflik psikososial dapat dilihat pada tabel 4 sebagai berikut : Rutin Olahraga Tidak Jumlah Tabel 4 Karakteristik Responden Penelitian Berdasarkan Konflik Psikososial Konflik Psikososial Tidak Jumlah Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden lebih banyak yang tidak berolahraga yaitu sebanyak 63 . ,3%). Kebosanan dan Kelelahan Tabel 7 Hasil rerata kebosanan dan kelelahan responden penelitian sebelum dan sesudah intervensi Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden penelitian tidak memiliki konflik sosial yaitu sebanyak 81 . ,2%). Kebiasaan Merokok Hasil karakteristik responden berdasarkan kebiasaan merokok dapat dilihat pada tabel 5 sebagai berikut : Data Pre test kebosanan Post test kebosanan Pre test kelelahan Post test kelelahan Tabel 5 Karakteristik Responden Peneitian Berdasarkan Lama Belajar/Hari Data Nilai Signifikansi . Pre Ae post test Pre-post test Kebiasaan Merokok Tidak Jumlah Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden penelitian tidak merokok yaitu sebanyak 85 . ,8%). Rutinitas Olahraga Hasil penelitian berdasarkan olahraga yang dilakukan secara rutin dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut : Mean 67,77 35,74 60,12 38,42 Analisis Bivariat Tabel 8 Hasil Uji paired-sample t test PEMBAHASAN Kebosanan berkurangnya perhatian peserta didik terhadap materi yang sedang dibahas atau peserta didik mengalami kesulitan dalam mempertahankan perhatiannya pada tugas yang sedang dilaksanakan. Kondisi seperti ini sering menyertai peserta didik pada proses pembelajaran jikalau jam belajar dialokasikan pada siang hari dan terlebih lagi pengajar kurang mampu mengelola kelas dengan baik. Jika kondisi yang membosankan tersebut berkepanjangan, 120 Jurnal Keterapian Fisik. Volume 2. No 2,November 2017, hlm 75-125 akan muncul perasaan gelisah,ingin menghindar dari aktivitas tersebut dan menurunnya motivasi untuk belajar. Dalam hal ini Kroemer dan Grandjean . menjelaskan bahwa kebosanan bisa terjadi disebabkan oleh stimulasi yang rendah, tuntutan fisik dan mental yang rendah yang mengakibatkan stimulasi yang kecil pada daerah kesadaran di otak. Konsekuensinya sistem limbic akan terpengaruh dan reaksi dari organisme secara keseluruhan akan menurun. Menurut Tarwaka . , bahwa kebosanan juga dapat dipicu oleh tuntutan tugas yang melampaui kapasitas individu, hal ini berarti rasa bosan yang dipicu oleh Proses berkepanjangan sering memunculkan rasa bosan yang ditandai dengan rasa kesal, lelah, lemas, dan menurunnya konsentrasi serta ingin beralih dari aktivitas tersebut( Kroemer dan Grandjean ,2. Hal ini sesuai dengan kondisi yang dialami oleh responden, dimana durasi pembelajaran dikampus seringkali lebih dari 8 jam pembelajaran dikampus, responden masih harus mengerjakan tugas mata kuliah di luar jam belajar di kampus. Hal ini akan pembelajaran monoton, dan peserta didik cenderung pasif. Pemberian intervensi WSE dapat kebosanan belajar mahasiswa, faktor pendukung hal ini antara lain adalah WSE, dilaksaksanakan secara klasikal, dan gerakan akhir pada WSE. Musik instrumen yang dipergunakan untuk mengiringi WSE ini adalah musik Sojiro Jepang dengan tempo sedang. Tempo musik adalah kecepatan dalam ukuran langkah tertentu. Kriteria musik tempo sedang adalah 92-104 langkah/menit. Jenis musik ini termasuk musik relaksasi yang memiliki beberapa manfaat antara lain membuat tubuh dan pikiran lebih santai, meningkatkan perasaan senang dan mengatasi rasa bosan dan lelah dalam Musik tempo sedang dapat membantu tubuh dan pikiran lebih rilaks (Johan, 2. Intervensi WSE bersama-sama . di kelas. Penerapan model klasikal ini dapat menimbulkan motivasi berkurangnya rasa bosan. Hal ini sesuai dengan pendapat Farozin . bahwa metode klasikal dapat meningkatkan motivasi belajar. Menurut Ginting . bahwa semakin tinggi kohesivitas Responden dalam penelitian ini berasal dari 2 kelas pada 2 Jurusan, dimana setiap anggota kelompok telah berinteraksi selama satu tahun lebih, hal ini menunjukkan bahwa kohesivitas pada responden semakin tinggi. Hal ini ditandai dengan terjalinnya kerjasama, saling jawab terhadap tugas dan memiliki tujuan pembelajaran yang sama. Pada bagian akhir WSE terdapat gerakan pernafasan dengan menerapkan teknik Pursed lip breathing, dan WSE ditutup dengan gerakan ambil nafas . melalui hidung dan dikeluarkan . melalui mulut disertai suara teriakan Aohu/hao. Teknik Pursed lip breathing yaitu menarik nafas melalui hidung, seperti membau bunga mawar . ulut tertutu. , kemudian mengeluarkan nafas melalui mulut . eperti meniup lili. Beberapa manfaat melakukan pursed lip breathing adalah mengurangi kecemasan. Lis Sarwi Hastuti. Pengaruh Workplace Stretching Exercise menjaga konsentrasi, mengurangi sesak nafas, menjadikan tubuh dan pikiran lebih (Huntley. Dengan melakukan gerakan pernafasan ini akan membantu fisik dan pikiran responden lebih relaks. Teriakan pada gerakan pernafasan, bagian akhir WSE membantu responden untuk menyalurkan rasa bosan yang dirasakan. Berdasarkan hasil uji pairedsample t test menunjukkan bahwa WSE berpengaruh menurunkan kelelahan pada Hal ini disebabkan oleh efek/manfaat stretching pada WSE. Stretching merupakan suatu usaha untuk memperpanjang otot istirahat . , sehingga dapat mencegah ketegangan otot . Stretching yang dilakukan secara rutin dapat berdampak pada . , kemampuan sendi untuk bergerak dalam jangkauan penuh (Alter, 2. Orang yang selalu aktif beraktifitas seperti responden penelitian ini memerlukan fleksibilitas yang cukup untuk dapat tetap melakukan pekerjaannya dengan nyaman. Kontraksi dinamik pada otot-otot yang terjadi saat melaksanakan WSE menyebabkan lebih banyak darah mengalir ke otot, sehingga pasokan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk proses metabolisme dapat dipenuhi secara Melakukan WSE berarti merubah posisi kerja statis menjadi lebih dinamis Hal ini dapat menstimulasi kelancaran proses metabolisme dalam tubuh, sehingga penimbunan hasil metabolisme otot . sam laktat dan CO. dapat diminimalisir dan kelelahan dapat dicegah atau dikurangi (Tarwaka, 2. Pada peserta didik dengan posisi belajar statis seperti responden penelitian ini, akan terjadi kontraksi isometrik otototot tertentu secara terus menerus dan berakibat terjadi spasme yang berlebihan dan menimbulkan nyeri (Elnaggar et ,1. Nyeri terjadi karena vasokontriksi pembuluh darah di otot akibat kontraksi berlebihan yang terus menerus dan akhirnya menimbulkan ischemia jaringan. Mekanisme ischemia dan spasme otot yang berlebihan akan merangsang nociceptor yang berperan dalam menghantarkan impuls nyeri ke otak (Cameron, 1. Pada otot yang mengalami spasme, akan terjadi pemendekan muscle fiber karena anyaman-anyaman myofilamen mengalami overlapping satu sama lain. Pada saat dilakukan stretching dengan penahanan beberapa detik pada posisi otot memanjang, struktur muscle fiber terutama sarcomer akan mengalami peregangan karena anyaman-anyaman myofilamen yang overlapping akan menyebabkan struktur muscle fiber Dengan pemanjangan struktur muscle fiber tersebut, maka spasme dapat berkurang (Appleton, 1. Pemberian mengurangi spasme karena proprioceptor otot atau muscle spindle yang teraktivasi saat stretching terjadi. Muscle spindle bertugas untuk mengatur sinyal ke otak tentang perubahan panjang otot dan perubahan tonus yang mendadak dan Jika ada perubahan tonus otot yang mendadak dan berlebihan, maka muscle spindle akan mengirimkan sinyal ke otak untuk membuat otot tersebut berkontraksi sebagai bentuk pertahanan dan mencegah cedera. Oleh karena itu, saat melakukan stretching dilakukan penahanan beberapa saat dengan tujuan untuk memberikan adaptasi pada muscle spindle terhadap perubahan panjang otot 122 Jurnal Keterapian Fisik. Volume 2. No 2,November 2017, hlm 75-125 yang kita berikan, sehingga sinyal dari otak untuk mengkontraksikan otot menjadi berkurang. Dengan kontraksi otot yang minimal pada saat stretching, akan memudahkan muscle fibers untuk memanjang dan spasme otot dapat berkurang (Appleton, 1998. Costa & Vieira, 2. Menurut Cameron . , bahwa merangsang serabut saraf berpenampang tebal (A alpha dan A bet. sehingga mampu menutup gerbang kontrol nyeri. Mekanisme stretching termasuk dalam kategori stimulasi mekanik yang dapat mengaktivasi fungsi serabut saraf berpenampang tebal non-nociceptif (A alpha dan A bet. dan menutup gerbang kontrol sehingga nyeri yang dibawa serabut saraf berpenampang tipis (A delta dan C) tidak dapat diteruskan ke otak. Kontraksi dinamik pada otot-otot yang terjadi saat melaksanakan WSE menyebabkan lebih banyak darah mengalir ke otot, sehingga pasokan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk proses metabolisme dapat dipenuhi secara Melakukan WSE berarti merubah posisi kerja statis menjadi lebih dinamis Hal ini dapat menstimulasi kelancaran proses metabolisme dalam tubuh, sehingga penimbunan hasil metabolisme otot . sam laktat dan CO. dapat diminimalisir dan akhirnya berdampak pada berkurangnya kelelahan belajar. Secara umum ketika individu berusia di atas 40 tahun terjadi beberapa penurunan kemampuan secara fisik maupun fisiologis, misalnya menurunnya kemampuan panca indera, berkurangnya elastisitas tonus jaringan . issue elasticity and ton. , dan menurunnya kapasitas VO2 max (Mills, 1. Penelitian Mills . tentang efek aerobik intensitas fleksibilitas, dan keseimbangan terhadap lansia menunjukkan hasil bahwa pada kelompok perlakuan terjadi kenaikan lebih signifikan terhadap kekuatan otot, dibandingkan kelompok kontrol. Usia responden dalam penelitian ini rentangnya antara 18-24 tahun, hal ini kemungkinan turut berkontribusi terhadap manfaat WSE, karena ditinjau dari usia secara fisiologis belum banyak terjadi perubahan, sehingga kelompok usia ini lebih responsif terhadap efek exercise. Karakteristik IMT berkontribusi terhadap manfaat WSE untuk menurun kan kebosanan dan kelelahan, karena rata-rata IMT responden adalah kategori normal . Ozguler at al. menuliskan bahwa kelelahan banyak dialami individu dengan Body Mass Index (BMI) > 24,92 kg/m2 yaitu individu yang masuk kategori overweight dan obese. Pendapat ini sejalan dengan Vessy at al . yang dikutip oleh Tarwaka . bahwa wanita gemuk memiliki resiko mengalami kelelahan 2x lipat dibandingkan wanita kurus. Hal ini disebabkan oleh kondisi keseimbangan struktur rangka dalam menerima beban, baik beban berat tubuh maupun beban tambahan lainnya. Salah satu indikator untuk mengetahui status gizi seseorang adalah dengan melihat Indeks Masa tubuh (IMT). Jika . , maka beberapa akibat yang akan timbul antara lain daya tahan tubuh rendah, produksi energi rendah sehingga lebih mudah merasa lelah dan produktifitas belajar menurun. Jika status gizi berlebih . verweight dan obes. , maka dikaitkan dengan resiko terjadinya beberapa penyakit degeneratif, misalnya Lis Sarwi Hastuti. Pengaruh Workplace Stretching Exercise stroke, jantung, diabetes melitus, dan lainlain (Nurmianto, 2. Rata-rata beristirahat/tidur selama 6,4 jam dalam periode satu hari . , hal ini sesuai dengan pendapat Grandjean . , bahwa tidur orang dewasa antara 6-8 jam, dan hutang tidur . leep deb. dapat berdampak pada rasa kantuk, lelah, dan bosan dalam melakukan aktifitas. Kondisi responden ini telah sesuai dengan demikian jika dilihat data tentang kelelahan dan kebosanan responden sebelum intervensi cukup tinggi. Hal ini dimungknkan berkaitan dengan rendahnya angka kebiasaan rutin berolahraga pada Terdapat 73,3% responden yang tidak melakukan kegiatan olahraga secara rutin. Dengan melakukan olahraga rutin, maka tubuh akan lebih bugar, otot dan sendi menjadi lebih terlatih dan siap dalam melakukan aktifitas (ACSM, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan terhadap 86 orang responden di Kampus I Politeknik Kesehatan Surakarta, yang diberikan intervensi berupa Workplace Stretching-Exercise (WSE) selama 4 minggu, dan berdasarkan uji pairedsample t test diperolah hasil p value sebesar 0,001 . < 0,. , dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: Pemberian WSE kebosanan belajar pada responden Pemberian WSE berpengaruh menurunkan kelelahan belajar DAFTAR RUJUKAN Cameron. Michele. ,1999. Physical Agents in Rehabilitation. Saunders company. Philadelphia. Cone C. , 2006. Ergonomic Exercise Break. Worksite wellness. Council of Volucia County Costa & Vieira. , 2008. Stretching to musculoskeletal disorders. rehabilitation med 2008, (Interne. Available http://w. ccessed 10 August 2. Depkes R. , 2007. Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Laboratorium. Depkes R. Jakarta. Dharma. A & Lukmanto,P. , 1993. Fisiologi Kedokteran. (A. Guyton. Terjemaha. Edisi 5. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta Djohan. Psikologi Musik. Yogyakarta. Best Publisher. Grandjean. , 1995. Fitting the task to the A text book of occupational ergonomic 4 th edition. Tailor & Francis. New York. Huntley. , 2008. Cardiac & Pulmonary Diseases. In M. Radomski & C. Trombly Latham . Occupational Therapy for Physical Dysfunction 6th Baltimore: Lippincott Williams & Wilkins Irwanti. , 2010. Peregangan otot di sela pembelajaran mengurangi kebosanan, kelelahan, dan keluhan muskuloskeletal pada peserta didik kelas X SMK Pariwisata Triatma Jaya Bandung. (Tesi. Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar. Bali Kroemer. E & Grandjean. , 2000. Fitting the task to the Human. 124 Jurnal Keterapian Fisik. Volume 2. No 2,November 2017, hlm 75-125 Textbook Occupational Ergonomics. Fifth ed. Taylor and Francis. Mukhmad. , 2011. Pengertian Kelelahan Fisiologis (Interne. Teori Fisiologi Kelelahan. Available . ttp://w. com/2011/12/f is-kel. ccessed 7 Nopember National Institute for Occupational Safety and Health. , 1996. A Guide to Safety in Confined Space. Department of Health and Human Service. America. Notoatmojo. , 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. PT. Rineka Cipta. Jakarta. Nunuk. , 2005 Metode Penelitian (Pendidikan Teori dan Prosedu. Surakarta. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret. Surakarta Nurhikmah. , 2011. Faktor-faktor yang musculosceletal disorder pada pekerja furniture di kecamatan Benda kota Tangerang. Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah. Jakarta Nurmianto. , 2003. Ergonomi. Konsep dan Aplikasinya. Edisi 1. PT. Guna Widya. Surabaya Occupational Safety Health Administration. , 2000. Sewing and Related Procedures Ergonomics. Department of Labor. California, w. Ozguler A. Lecler C. Londre M. Pietri F. , 2000. Individual and Occupational Determinant of Low Back Pain according To Various Definition of Low Back Pain. Epudemiol Community Health. Paquet V. and Nirmale. , 2004. Trunk Flexion Musculoskeletal Stress During Light Assembly Work. Journal Applied Biomechanics. Phoon. Practical Occupational Publishing. Singapore. Robergs. Keteyian,S. , . Fundamentals Exercise Physiology Fitness. Performance, and Health . nd e. New York: Mc Graw Hill Sinaki M. Mokri B. , 1996. Low Back Pain and Disorders of The Lumbar Spine . WB Sounders Company. Philadelphia. Sugiyono. Statistik Penelitian. Ed 7. CV Alfabeta. Bandung. Sutajaya. IM. Pembelajaran Melalui Pendekatan Sistemik Holistik Interdisipliner Partisipatori (SHIP) Mengurangi Kelelahan Keluhan Muskuloskeletal dan Kebosanan Meningkatkan Luaran Proses Belajar 76 Mahasiswa Biologi IKIP Singaraja. (Disertas. Program Pascasarjana Universitas Udayana. Denpasar. Tarwaka. , 2011. Ergonomi Industri. Dasar-dasar ergonomi dan aplikasi di tempat Harapan Press. Solo. Teja. Ergonomic Exercise pasca nerve mobilitation. Makalah Available . ttp://ansharphysio. Lis Sarwi Hastuti. Pengaruh Workplace Stretching Exercise 2009/03/senam-ergonomi. ccessed 12 Oktober 2. Triaminah. , 2010. Reflek-reflek Fisiologis (Interne. Laporan Praktikum Faal. Available . ttp://w. com/2010/12 /lap-prak. ccessed Nopember 2. Departemen Undang-Undang No. 5 Tentang Perindustrian. Jakarta Waikar,A. ,Bradshaw,M. Exercises in the Workplace Employee Preferences. Emerald (Interne. October, 16 . Available . ccessed 7 November 2. Wiradharma. , 2012. Praktikum ergonomi meningkatkan kinerja praktikan di Jurusan Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar. (Tesi. Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar. Bali Yogisutanti G. , 2009. Pengaruh Pelatihan Patient Handling Penurunan Keluhan Muskuloskeletal pada Perawat. Program Studi Ilmu Kesehatan Kerja. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.