ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ALIH KODE DAN CAMPUR KODE DI PESANTREN TAHFIDZ QURAoAN DARUL FALAH: ANALISIS SOSIOLINGUISTIK Moh. Fajrul Alfien1. Sigit Fajar Ubaedulah2. Yuliyah3. Imas Juidah4. Embang Logita5 1,2,3,4,5 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Wiralodra alfian99@gmail. com1, sigitfajarun@gmail. com2, yuliyah2508@gmail. juidah@unwir. id4, embanglogita@rocketmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor penyebab alih kode dan campur kode yang terjadi di Pesantren Tahfidzul QurAoan Darul Falah (PTQDF). Data penelitian diperoleh dari percakapan para santri dalam berkomukasi sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan metode simak dan catat, peneliti melakukan observasi secara langsung di PTQDF. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa telah terjadi peristiwa alih kode eksternal, alih kode internal dan campur kode di PTQDF yang disebabkan oleh berbagai faktor, seperti berubahnya situasi, bergantinya lawan tutur dan berubahnya topik. Kata Kunci: Alih kode. Campur Kode. Pesantren How to Cite: Alfien. Ubaedulah. Yuliyah. Juidah. , & Logita. ALIH KODE DAN CAMPUR KODE DI PESANTREN TAHFIDZ QURAoAN DARUL FALAH: ANALISIS SOSIOLINGUISTIK. Bahtera Indonesia. Jurnal Penelitian Bahasa Dan Sastra Indonesia, 7. , 509Ae518. https://doi. org/10. 31943/bi. DOI: https://doi. org/10. 31943/bi. sehingga bahasa di pesantren menjadi lebih PENDAHULUAN Salah satu sistem pendidikan yang terdapat di Indonesia adalah pesantren. Menurut KBBI, pesantren adalah asrama tempat santri atau tempat murid-murid belajar Menurut Zamakhsyari pesantren setidaknya memiliki beberapa elemen dasar, yaitu pondok, masjid, santri, pembelajaran kitab-kitab klasik, dan kiai (Mansur, 2. Pesantren banyak dikunjungi oleh para santri dari berbagai etnis banyak dan memiliki fungsi tertentu (Ihsan. Santri yang belajar di pesantren biasanya berasal dari berbagai daerah, mereka hidup bersama dalam suatu kompleks yang disediakan kiai, sehingga setiap hari mereka akan berkomunikasi secara langsung dengan teman-teman yang berasal Komunikasi yang terjadi di pondok pesantren sangat kompleks dan beragam, berbagai macam bahasa digunakan dalam dengan membawa bahasa masing-masing. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. interaksi sehari-hari, mulai dari bahasa daerah dan alih kode seringkali terjadi si suatu tempat masing-masing santri, bahasa krama, bahasa yang di dalamnya terdapat berbagi etnis. Indonesia ragam santai dan bahasa Indonesia suku, bahasa, dan ragam budaya (Akhii et al. ragam formal seperti yang terjadi di Pesantren Setiap santri rata-rata menguasai lebih Tahfidz QurAoan Darul Falah (PTQDF). dari satu bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa PTQDF terletak di Desa Singaraja. Kecamatan Indramayu. Kabupaten Indramayu. Jawa Barat. PTQDF merupakan pesantren yang dikhususkan bagi santri penghafal Al-QurAoan. Santri yang belajar di PTQDF berasal dari berbagai daerah, di antaranya dari Indramayu. Subang. Cirebon. Kuningan. Brebes Kediri. Dalam pergaulan setiap hari mereka berkomunikasi daerah, oleh karena itu komunikasi yang terjadi begitu kompleks. Santri yang memiliki latar belakang berbeda-beda memungkinkan terjadinya peristiwa alih kode dan campur Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan faktor penyebab terjadinya alih kode dan campur kode dalam peristiwa tutur yang terjadi PTQDF dengan menggunakan konsep klasifikasi Suwito. menggunakan bahasa Indonesia ragam santai. Peneliti memilih PTQDF sebagai objek penelitian karena pesantren tersebut melakukan pembicaraan berasal dari daerah yang sama, bahasa jawa krama digunakan Penelitian dengan kajian alih kode dan ketika santri berkomunikasi dengan orang campur kode yang menjadikan pesantren yang dianggap lebih tua, bahasa Indonesia sebagai objek kajian sudah pernah dilakukan ragam formal digunakan ketika santri sedang oleh peneliti seperti Dwi Kurniasih dan belajar di sekolah dan bahasa Indonesia Aminataz Zuhriah . dengan judul Alih ragam santai digunakan ketika santri yang Kode dan Campur Kode di Pondok Pesantren berasal dari daerah berbeda melalukan Mahasiswa Zuhriyah, 2. Hasil dari penelitian tersebut Latar belakang santri yang berbedabeda membuat variasi bahasa yang mereka gunakan dalam komunikasi menjadi beragam. Menurut Chaer bahasa tersebut bervariasi karena anggota masyarakat penutur bahasa itu beragam, dan bahasa itu sendiri digunakan Darussalam (Kurniasih Pondok Pesantren Mahasiswa Darussalam sering menggunakan alih kode dan campur kode dalam interaksi sehari-hari, hal tersebut dapat Meskipun sama-sama menjadikan pesantren sebagai objek kajian, tetapi peneilitian ini (Kurniasih & Zuhriyah, 2. Campur Kode Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia akan meneliti pesantren yang berbeda. hubungan antara bahasa dengan masyarakat Jika penelitian di atas hanya terbatas pada Alih kode bisa terjadi apabila mendeskripsikan penyebab terjadinya alih penutur mengganti penggunaan bahasanya secara sadar, sedangkan campur kode bisa terjadi apabila penutur menyelipkan unsur dan campur kode, maka bahasa lain dalam proses komunikasinya. mengklasifikasikan peristiwa alih kode dan Menurut Suwito dalam (Kustriyono & campur kode menurut teori Suwito. Rochmat, n. ) alih kode adalah peristiwa Penelitian alih kode dan campur kode yang menggunakan toeri klasifikasi Suwito pernah dilakukan oleh Siti Ulfiani . dengan judul Alih Kode dan Campur Kode Tuturan Masyarakat Bumiayu (Ulfiyani, 2. Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa telah terjadi peristiwa alih kode intenal, alih kode eksternal dan campur kode dalam tuturan masyarakat Bumi Ayu. Meskipun sama-sama meneliti menggunakan teori klasifikasi Suwito, tetapi objek kajian peralihan dari kode satu ke kode yang lainnya. Selanjutnya menurut Appel dalam (Chaer & Agustina, 2010 :. menyatakan bahwa alih kode adalah gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi. Lebih lanjut, menurut Rahardi dalam (Amri, 2. ) alih kode adalah istilah umum untuk pemakaian dua bahasa atau lebih, beberapa variasi dari satu bahasa, atau bahkan beberapa gaya dari suatu ragam bahasa. dalam penelitian ini berbeda. Jika penelitian Menurut Suwandi dalam (Indrayani, di atas menjadikan tuturan masyarakat Bumi 2. alih kode dapat terjadi dalam sebuah Ayu sebagai objek kajiannya, maka penelitian ini akan menjadikan pesantren sebagai objek menggunakan sebuah bahasa dan mitra Oleh karena itu, hasilnya pasti bicaranya menjawab dengan bahasa lain. akan berbeda. Sejalan dengan hal tersebut. Hymes dalam (Agustinuraida, 2. menyatakan bahwa LANDASAN TEORI antarbahasa, namun juga dapat dilakukan Menurut Hudson antar ragam-ragam atau gaya-gaya yang (Mokodompit, 2. mengatakan bahwa alih terdapat dalam suatu bahasa. Dalam berbagai kode merupakan hal yang dibahas dalam literatur linguistik penyebab alih kode secara Sosiolinguistik merupakan umum disebutkan antara lain . pembicara ilmu bahasa yang mempelajari tentang atau penutur . pendengar atau lawan tutur Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia . perubahan situasi dengan hadirnya (Rohmadi & Edy Tri Sulistyo, 2. orang ketiga . perubahan dari formal ke Kemudian informal atau sebaliknya . perubahan topik (Rohmadi & Edy Tri Sulistyo, 2. pembicaraan (Chaer & Agustina, 2010 :. menjelaskan campur kode adalah pemakaian Suwito (Ulfiyani, mengklasifikasikan alih kode menjadi dua, yakni alih kode eksternal dan alih kode Alihkode internal adalah alih kode yang terjadi antartingkat tutur dalam satu bahasa, antardialek dalam satu bahasa daerah atau antarragam dalam satu dialek. Peralihan antartingkatan tutur misalnya dalam bahasa Jawa terjadi antara tingkat tutur krama dengan tingkat tutur ngoko, tingkat tutur krama dengan madya dan seterusnya, sedangkan peralihan antarragam bergantung pada situasi misalnya dari ragam formal ke ragam informal atau sebaliknya (Ulfiyani, 2. Alih kode eksternal adalah alih kode yang terjadi antara bahasa asli dan bahasa asing atau dapat dikatakan antarbahasa (Ulfiyani. Saddhono memasukkan unsur bahasa yang satu ke Suardi beberapa ciri campur kode, antara lain yaitu: campur kode tidak dituntut oleh keadaan dan konteks pembicaraan seperti yang terjadi pada alih kode tetapi bergantung kepada pembicaraan . ungsi bahas. campur kode terjadi karena kesantaian pembicara dan kebiasaannya dalam pemakaian bahasa. campur kode pada umumnya terjadi dan lebih banyak dalam situasi tidak resmi . campur kode berciri pada ruang lingkup di bawah klausa pada tataran yang paling tinggi yang terendah (Rohmadi & Edy Tri Sulistyo, 2. Menurut pandangan Thelander dalam Peralihan antarbahasa biasanya terjadi (Mustikawati, pada bahasa Jawa dan bahasa Sunda, bahasa mengidentifikasikan gejala campur kode. Indonesia dan bahasa Jawa, bahasa Indonesia unsur terbesar yang dimungkinkan menyisip dan bahasa asing dan sebagainya. ke dalam peristiwa campur kode adalah Nababan yang dimaksud dengan campur kode ialah percampuran dua bahasa atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindakan bahasa tanpa ada sesuatu dalam situasi tersebut atau tidak ada situasi yang menuntut pembicara, hanya masalah kesantaian dan kebiasaan yang dituruti oleh pembicara terbatas pada tingkat klausa. Lebih lanjut. Menurut Suwito dalam (Rohmadi & Edy Tri Sulistyo, 2. membedakan campur kode penyisipan unsur yang berwujud kata. penyisipan unsur yang berwujud frasa. penyisipan unsur yang berwujud baster. penyisipan unsur yang berwujud perulangan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia . penyisipan unsur yang Teknik menyimak adalah teknik yang . dilakukan dengan cara menyimak secara penyisipan unsur yang berwujud klausa. langsung proses komunikasi para santri. Menurut Suwito dalam (Indrastuti, 1. Teknik mencatat dilakukan sebagai lanjutan mengatakan bahwa campur kode dibagi dari teknik menyimak. Teknik mencatat menjadi dua macam, yaitu campur kode adalah proses pemilihan data dari hasil keluar . dan campur kode ke dalam merekam dengan cara mencatat. Data yang . Campur kode ke dalam adalah campur kode yang terjadi karena penyisipan berdasarkan kebutuhan penelitian. Setelah unsur-unsur yang bersumber dari bahasa asli proses analisis data selesai dilakukan, data dengan segala variasinya, sedangkan campur disajikan dalam bentuk laporan. Metode yang kode eksternal adalah campur kode yang dilakukan adalah metode informal, yaitu terjadi karena penyisipan unsur-unsur yang perumusan hasil analisis data dengan kata- bersumber dari bahasa asing. kata biasa tanpa menggunakan lambang, atau simbol, dan sebagainya (Ihsan, 2. METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian ini adalah metode deskriptif Metode HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut akan dibahas hasil dari penelitian alih kode dan campur kode yang telah kami lakukan di PTQDF. menggambarkan dan menginterpretasikan objek sesuai dengan keadaan yang sebenarnya Alih Kode Eksternal (Putri et al. , 2. Peneliti melakukan Data 1 mengumpulkan data seperti mengamati, menyimak, dan ikut terlibat secara langsung dalam interaksi dengan para santri. Penelitian mengumpulkan data, mengelola data dan dilakukan dengan Pengumpulan menyimak dan Tokoh : Syarif (Indramay. Abu (Indramay. dan Farhan (Kuninga. Konteks : Bertanya Jadwal pelajaran Tempat : Kamar pesantren Syarif : AuSukiki pelajaran apa kanah. Bu?Ay Abu : AuMbuh sira klalen. Rif. Kita ingete mung Matematika. Ay Syarif : AuHan, besok pelajaran apa?Ay Farhan AuKalau Matematika. PKN sama Keaswajaan. Ay Syarif : AuSiap, terima kasih. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia mereka pergi (Farha. , maka bahasa yang Penggalan merupakan salah satu contoh alih kode eksternal, pada awalnya mereka berbincang menggunakan bahasa Jawa ngoko, tetapi Syarif bahasa Indonesia untuk berbincang dengan Farhan yang berasal dari Kuningan. Gejala peralihan bahasa tersebut disebabkan oleh Syarif yang memahami bahwa Farhan adalah orang Sunda dan tidak mengerti bahasa Jawa ngoko, oleh karena itu Syarif bertanya kepada Farhan Indonesia digunakan dalam komunikasi tersebut beralih ke bahasa Jawa ngoko. Gejala peralihan bahasa tersebut terjadi karena Farhan yang tidak menguasai bahasa jawa meninggalkan Syarif Data 2 Tokoh : Farhan (Kuninga. Syarif (Indramay. dan Sukma (Indramay. Konteks : Membeli gorengan Tempat : Serambi kamar Farhan : AuKalian punya duaribu engga?Ay Syarif : AuAda nih. Ay Sukma : AuAku juga ada nih. Emang buat apa?Ay Farhan : AuSini, buat beli gorengan. Ay Setelah Farhan pergi untuk membeli Sukma : AuTumben temen bocah kaen gelem magkat. Ay Syarif : AuYa mengkonon baka lagi pengen dewek mah. Ay berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa. Alasan Syarif Sukma menggunakan bahasa Indonesia adalah untuk menghargai lawan bicaranya yang tidak menguasai bahasa Jawa ngoko. Alih Kode Internal Data 3 Tokoh : Jami (Ustad. Wali santri. Razak (Santr. Konteks : Izin pulang Tempat : Kantor pesantren Jami : AuBade nopo nggih. Pak?. Ay Wali santri : AuNiku bade mendet wangsul Sukma. Kang. Ay Jami : AuLoh, niki kan dereng wektose libur. Ay Wali santri : AuEnggih, niku Sukma bade periksa krihin. Ay Jami : AuMader mung gatel-gatel bae, bli usah balik ya. Nang?Ay Razak : AuNggih. Kang. Ay Jami : AuYaiya, wong mondok kuh aja bolak-balik bae. Ay Penggalan percakapan tersebut merupakan contoh alih kode internal, pada mulanya Jami menggunakan bahasa Jawa krama ketika komunikasi berjalan dengan lancar. Penggalan Sukma merupakan contoh alih kode eksternal, pada mulanya mereka berbincang menggunakan kemudian Jami beralih menggunakan bahasa Jawa ngoko ketika berbincang dengan Sukma. Peralihan dari bahasa Jawa krama ke bahasa Indonesia, tetapi karena salah satu dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia bahasa Jawa ngoko yang dilakukan oleh Jami ini disebabkan oleh tingkat pemahaman dan tingkat sosial lawan tutur yang kurang Jami penggunaan bahasanya ketika berbincang Campur Kode Data 5 dengan Sukma. Data 4 Tokoh Konteks Tempat Jami Jamal Jami Jamal Ay Jami Jamal Jami : Jami (Usta. Jamal (Usta. : Sowan : Kamar : AuMal, anter kita sowan yu. Ay : AuPan sowan apa?Ay : AuSowan masalah bocah. Ay : AuMama siweg tindak, dereng : AuTindak teng pundi?Ay : AuMboten ngertos. Ay : AuYawis ngko sore bae lah. Ay Tokoh : Tamu dan Malik Tempat : Serambi kamar Tamu : AuSaya tamu dari Polres, kiainya ada?Ay Malik : AuLagi tindakan. Pak. Ay Tamu AuKamu pulangnya?Ay Malik : AuSepertinya sebentar lagi juga rawuh. Pak. Ay Tamu : AuOh, ya sudah saya tunggu. Ay Penggalan menunjukkan peristiwa campur kode dengan bahasa Intinya adalah bahasa Indonesia. Penggalan percakapan tersebut merupakan contoh alih kode internal, pada mulanya mereka berdua berbincang menggunakan bahasa Jawa ngoko. Namun ketika topik pembicaraannya adalah kiai . rang yang mereka hormat. , bahasa yang digunakannya beralih menjadi bahasa Jawa krama. Gejala peralihan bahasa tersebut disebabkan oleh topik pembicaraan yang berubah, ketika yang dibicarakan masih seputar rencana sowan mereka berbincang menggunakan bahasa jawa ngoko, tetapi ketika topik pembicaraan sedangkan bahasa sisipannya adalah bahasa Jawa krama. Tamu sebenarnya mengajak Malik berbincang menggunakan Indonesia, tetapi karena Malik sudah terbiasa menggunakan bahasa Jawa krama ketika topik pembicaraannya adalah kiainya maka meskipun dia menjawab pertanyaan tamu menggunakan bahasa Indonesia, tetap saja istilah bahasa Jawa krama itu . indakan dan rawu. tak bisa dihindari, hal itulah yang campur kode. bahasa Jawa krama. Peralihan dari bahasa Jawa ngoko ke bahasa Jawa krama juga sama-sama memahami bahasa Jawa krama. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Berdasarkan pada data-data yang telah dijelaskan di atas, peristiwa alih Data 6 kode yang terjadi di PTQDF terbagi menjadi Tokoh : Farhan dan Syarif Tempat : Serambi kamar Farhan : AuEh, katanya nanti malam ngaji libur?Ay Syarif : AuIya jeh, katanya sih gitu. Ay Farhan : AuKamu tahu ga jeh kenapa?Ay Syarif : AuKatanya sih seluruh santri bakal dikongkon kumpul di tajug. Ay Farhan : AuMemangnya ada apa?Ay Syarif : AuAku juga kurang tahu. Ay dua, yaitu alih kode eksternal dan alih kode Alih kode eksternal terjadi dari bahasa Jawa ngoko ke bahasa Indonesia dan sebaliknya dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa ngoko, sedangkan peristiwa alih kode internal terjadi dari bahasa Jawa krama ke bahasa Jawa ngoko dan sebaliknya dari bahasa Jawa ngoko ke bahasa Jawa krama. Penggalan percakapan tersebut menunjukkan Kedua dengan bahasa disebabkan antara lain karena bergantinya Indonesia sebagai bahasa Inti dan bahasa lawan tutur, berubahnya topik pembicaraan Jawa ngoko sebagai bahasa sisipan. Mereka dan berubahnya situasi akibat ketidakhadiran berdua berasal dari latar belakang bahasa salah satu partisipan atau lawan tutur. Campur daerah yang berbeda, oleh karena itu mereka kode yang ditemukan dalam dialog santri berbincang menggunakan bahasa Indonesia. PTQDF berupa sisipan kata dari bahasa Jawa Namun karena keduanya sudah terbiasa ngoko dan bahasa Jawa krama, peristiwa menggunakan kata AojehAo sebagai imbuhan tersebut terjadi karena kebiasaan para santri ketika berbicara, maka meskipun mereka berkomunikasi menggunakan bahasa daerah berdua berbincang menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. campur kode Indonesia, imbuhan itu secara spontan akan Saran Syarif yang sehari-hari terbiasa menggunakan bahasa Jawa ngoko, lebih sering menyisipkan istilah-istilah bahasa Jawanya AodikongkonAo dan AotajugAo, meskipun dialog yang terjadi sebenarnya menggunakan kemampuan santri dalam berbahasa bisa lebih ditingkatkan lagi. Bahasa Indonesia bisa dipelajari di sekolah, bahasa Jawa krama bisa dipelajari di pesantren, kedua bahasa tersebut sangat penting untuk dipahami dan dikuasai. bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional Beberapa faktor yang menyebabkan peristiwa alih kode dan campur kode di berkomunikasi dengan orang-orang luar yang PTQDF adalah karena kebiasaan mereka berbeda bahasa, sedangkan bahasa Jawa krama yang merupakan lambang kesopanan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan keberadaban sudah jarang di kuasai anak-anak muda, oleh karena itu penting bagi santri untuk tetap melestarikan Indonesia oleh Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Galuh Ciamis. Jurnal Diksatrasia, 01. , 65Ae75. warisan para leluhur tersebut dengan cara mempelajari dan menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari. Jika santri mampu berbahasa dengan baik dan benar, bukan tidak mungkin di kemudian hari mereka akan mampu menjadi pendakwah yang mahir dan santun dalam membumikan ajaran agama islam di tengah masyarakat. SIMPULAN Peristiwa alih kode di PTQDF dapat diklasifikasikan menjadi dua, yakni alih kode internal dan alih kode eksternal. Peristiwa alih kode internal antara lain disebabkan oleh bergantinya lawan tutur dan berubahnya topik pembicaraan, sedangkan peristiwa alih kode eksternal disebabkan oleh bergantinya lawan tutur dan berubahnya situasi akibat perginya Peristiwa disebabkan oleh kebiasaan santri PTQDF menggunakan bahasa daerah ketika berbicara, pada peristiwa campur kode juga telah ditemukan bahasa sisipan berupa kata dasar dalam bahasa Jawa ngoko dan bahasa Jawa DAFTAR PUSTAKA