ANALISIS USAHA TANI CABE RAWIT MERAH MELALUI POLA KEMITRAAN (Studi Kasus Kemitraan PT Indofood Sukses Makmur dengan Kelompok Tani AuSari TaniAy Ciherang Kecamatan Pacet Kabupaten Cianju. Johan Arifin. Pt. MM* dan Neni Setiyowati. SP** Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Suryakancana RINGKASAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja usaha tani cabai rawit merah melalui pola kemitraan kelompok tani dengan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Penelitian ini dilaksanakan di kelompok tani Sari Tani Ciherang Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur pada bulan Juli 2009. Sampel diambil secara sensus pada seluruh anggota kelompok tani Tani Sari. Hasil penelitian menunjukkan kinerja usaha tani cabai rawit di kelompok tani AuSari TaniAy Ciherang Pacet Cianjur mendapat hasil produksi rata-rata dalam 1 ha 13. 500 kg dan harga Rp. 375/kg mendapatkan penerimaan rata-rata Rp. Keuntungan yang diperoleh rata-rata pertahun adalah Rp. pengembangan usaha tani cabai rawit merah layak untuk diusahakan dan cukup menguntungkan, hal ini terlihat dari nilai R/C ratio sebesar 1,99. Nilai NPV sebesar Rp. 284,00 dan IRR positif pada suku bunga 19%. Dan IRR negatif pada suku bunga 20%. ABSTRACT This study aims to analyze the performance of red chili pepper farming through a partnership with farmers' groups of PT Indofood Sukses Makmur Tbk. The research was conducted in farmers' groups Sari Tani Ciherang Pacet Cianjur district in July 2009. Samples taken in a census on all members of farmer groups Sari Tani. The Result shows the performance of red chili pepper farming in farmers' AuSari TaniAy Ciherang Pacet Cianjur got an average 13 500 kg/ha and prices Rp. 375/kg get an average of Rp. 5 million. Profits earned on average per year is Rp. 36,059,496. development of farming of red chili sauce worthy of the effort and quite profitable, it is seen from the R / C ratio of 1. NPV of Rp. 469,420,284. 00 and a positive IRR at 19% interest rate. And negative IRR on interest rates of 20%. Key word: Farmbusiness. Revenue. Profit. Return-Cost-Ratio. NPV. IRR *Dosen Fakultas Pertanian UNSUR **Alumni Fakultas Pertanian UNSUR Analisis Usaha Tani Cabe Rawit Merah Melalui Pola Kemitraan (Studi Kasus Kemitraan PT. Indofood Sukses Makmur dengan Kelompok Tani AuSari TaniAy Ciherang Kecamatan Pacet Kabupaten Cianju. Johan Arifin. Pt. MM dan Neni Setiyowati. PENDAHULUAN Pembangunan diarahkan untuk mencapai tujuan antara lain swasembada karbohidrat dan meningkatkan gizi masyarkat melalui penyediaan protein, lemak, vitamin dan Tanaman merupakan salah satu tanaman yang menunjang pemenuhan gizi masyarakat sebagai sumber vitamin, mineral, protein dan karbohidrat. Bagi penduduk Indonesia, sesudah pelita, pola umum konsumsi hortikultura juga mengalami Hal ini dapat dilihat dengan membanjirnya produk sayursayuran dan buah-buahan dari luar negeri ke toko-toko tua yang dikunjungi konsumen golongan menengah ke atas, kegemaran produk import dikalangan pihak akan menghambat pengembangan hortikultura karena lemahnya gairah petani untuk meningkatkan produksi, dipihak lain dapat memacu peningkatan produksi ditinjau dari sudut kualitas agar dapat bersaing dengan produk impor. Salah hortikultura adalah cabai. Tanaman cabai memiliki nilai sosial ekonomi yang cukup tinggi bagi masyarakat Indonesia, karena mengandung vitamin A dan C, serta dapat dikonsumsi baik dalam bentuk maupun sebagai bahan baku industri makanan. Disamping itu tanaman cabai mudah diusahakan di lahan tegalan, pekarangan maupun sawah tadah hujan. Peningkatan produksi cabai guna memenuhi permintaan konsumen dan kenaikan pendapatan petani . tidak lepas dari cara budidaya cabai. Salah satu daerah di Jawa Barat yang menghasilkan produk hortikultura adalah kabupaten Cianjur. Kabupaten beriklim tropis dengan curah hujan dengan rata-rata 1. 000 sampai 4. 000 mm dan jumlah hari rata-rata 150 per tahun. Dengan kondisi tersebut menjadikan alam Cianjur subur dan mengandung keanekaragaman kekayaan sumber daya alam yang potensial sebagai modal dasar pembangunan dan potensi investasi yang menjanjikan. Di Pacet, selain dikenal sebagai kawasan wisata pegunungan juga merupakan daerah penghasil sayuran. Kawasan sayuran ini kini dikembangkan Kontribusi sayuran di kawasan ini mendominasi total produksi sayuran di kabupaten Cianjur. Hasil produksi sayuran di Cianjur, mudah Hal ini selain karena kebutuhan rutin sehari-hari, juga didukung oleh kemudahan-kemudahan pemasaran mengingat lokasi Cianjur berada di lintasan jalur ekonomi regional Jawa Barat. Peranan lembaga pemasaran dan distribusinya menjadi tolok ukur keberhasilan pengembangan agribisnis Hal ini dapat dijelaskan karena fungsinya sebagai fasilitator yang menghubungkan antara defisit unit . dan surplus unit . Pembinaan terhadap lembaga tersebut sangat diperlukan karena serangkaian Analisis Usaha Tani Cabe Rawit Merah Melalui Pola Kemitraan (Studi Kasus Kemitraan PT. Indofood Sukses Makmur dengan Kelompok Tani AuSari TaniAy Ciherang Kecamatan Pacet Kabupaten Cianju. Johan Arifin. Pt. MM dan Neni Setiyowati. SP aktivitasnya menjadi penentu besarnya margin antara harga ditingkat petani dan konsumen, namun tidaklah berarti memperoleh untung (Gumbira, 2001 dalam Sarjana, 2. Tetapi diperoleh petani cabai rawit merah harus diputar kembali untuk menutupi kerugian ketika harga cabai sedang Berturut-turut cabai sering telat sampai dipasar tujuan, sehingga sebagian cabai membusuk, sementara orangorang yang membeli cabai sudah meninggalkan pasar, keterlambatan mencapai pasar adalah musibah bagi pedagang cabai. Pola kemitraan dengan industri pengolahan seperti dengan PT indofood Sukses Makmur Tbk merupakan salah satu cara untuk mengurangi resiko kerugian akibat anjloknya harga cabai. masalah yaitu bagaimana kinerja usaha tani cabai rawit melalui pola kemitraan dengan PT Indofood Sukses Makmur Tbk di kelompok tani AuSari TaniAy Ciherang Pacet Cianjur. METODOLOGI PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksankan di desa Ciherang. Lokasi penelitian dilakukan di kelompok tani AySari TaniAy Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur. Pengambilan data dari responden dilakukan pada bulan Juli 2009. Metode Pengumpulan Data Pola kemitraan ini menjadikan harga cabai dipatok di awal perjanjian dengan kesepakatan jumlah produksi dan waktu yang ditentukan. Harga cabai yang ditetapkan di awal produksi menguntungkan petani bila terjadi anjloknya harga cabai, namun merugikan petani bila harga cabai kemudian melambung tinggi sebagaimana yang terjadi dalam waktu-waktu tertentu. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara melakukan wawancara menggunakan kuesioner dan observasi. Wawancara dilakukan secara sensus kepada 31 orang anggota kelompok tani AySari TaniAy di Ciherang Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur. Data sekunder adalah data pendukung yang diperoleh melalui cara penelusuran kelompok tani, data dari Dinas Pertanian, dan sumber lain yang Perumusan Masalah Metode Analisis Data Berdasarkan uraian tersebut di maka ditentukan identifikasi Metode menggunakan analisis efesiensi serta Analisis Usaha Tani Cabe Rawit Merah Melalui Pola Kemitraan (Studi Kasus Kemitraan PT. Indofood Sukses Makmur dengan Kelompok Tani AuSari TaniAy Ciherang Kecamatan Pacet Kabupaten Cianju. Johan Arifin. Pt. MM dan Neni Setiyowati. SP efektifitas usaha tani cabai rawit merah di kelompok AySari TaniAy Ciherang Pacet. Untuk menghitung kinerja usaha tani cabai rawit ini digunakan analisis finansial berupa R/C ratio. Break Even Point (BEP). Payback Period. Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR). berarti rugi, biaya total yang dikeluarkan lebih besar dari manfaat yang diperoleh. Secara NPV sebagai berikut : NPV Bt A Ct Eu A1 A i A t A1 Bt = Benefit pada tahun ke-t Analsis Kinerja Usaha Tani Ct = Biaya pada tahun ke-t Analisis Finansial Dari data produktifitas pada kelompok tani Ay Sari TaniAy akan dilakukan analisis sebagai berikut : A = TP Ae TC Dimana : A = keuntungan TP = total pendapatan TC = total pengeluaran Perhitungan NPV dalam suatu penilaian investasi merupakan cara yang praktis untuk mengetahui apakah proyek menguntungkan atau tidak. NPV adalah selisih antara Present Value dari arus Benefit dikurangi Present Value PV dari arus biaya (Soekartawi, 1996 dalam I Dewa Gede Agung et. al, 2. Proyek keuntungan adalah proyek yang memberikan nilai positif atau NPV > 0, artinya manfaat yang diterima proyek lebih besar dari semua biaya total yang dikeluarkan. Jika NPV = 0, berarti manfaat yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya total yang dikeluarkan. NPV < 0, = lamanya waktu investasi = tingkat bunga Analisis IRR untuk mengetahui sejauh mana proyek memberikan IRR dengan persen (%) yang merupakan tolok ukur dari keberhasilan proyek (Soekartawi, 1996 dalam I Dewa Gede Agung et. al, 2. Penggunaan investasi akan layak IRR persentasenya lebih besar dari tingkat suku bunga bank yang ditentukan, karena proyek berada menguntungkan, demikian juga sebaliknya jika IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga bank yang ditentukan, berarti proyek merugi dan tidak layak untuk dilaksanakan. Secara matematis NPV dirumuskan sebagai berikut : IRR A i1 A ANPV A NPV A Ai A i A NPV Analisis Usaha Tani Cabe Rawit Merah Melalui Pola Kemitraan (Studi Kasus Kemitraan PT. Indofood Sukses Makmur dengan Kelompok Tani AuSari TaniAy Ciherang Kecamatan Pacet Kabupaten Cianju. Johan Arifin. Pt. MM dan Neni Setiyowati. NPV1 Perhitungan NPV positif mendekati nol dengan bunga modal sebesar i1 tingkat pengembalian investasi diusahakan dan sebaliknya semakin lambat investasi yang digunakan itu dikembalikan maka proyek tidak layak untuk diusahakan. NPV2 Perhitungan NPV negatif mendekati nol dengan bunga modal sebesar i2 PBP A T p A1 A Discount factor (DF) pertama, tingkat bunga NPV positif. Discount factor (DF) kedua, tingkat bunga NPV negatif PBP/Payback Period atau tingkat pengembalian investasi diartikan sebagai jangka waktu kembalinya investasi yang dikeluarkan melalui keuntungan yang diperoleh dari suatu proyek. Menghitung Payback Period memperhitungkan tingkat bunga Present Value Penghitungan Payback Period menghitung IRR dan kriteria investasi lainnya. Semakin cepat EuI AEuB i A1 i A1 icp A1 PBP = Payback Period T p-1 = Jumlah benefit yang telah di-discount B icp-1 = Jumlah benefit yang telah di-discount sebelum Payback Period = Jumlah benefit pada Payback Period berada Break Event Point (BEP). Analisis Break Event Point adalah suatu teknik analisis untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan (Riyanto, 1997 dalam I Dewa Gede Agung et. al, 2. Analisis Break Event Point dalam merupakan suatu pendekatan perencanaan keuntungan yang mendasarkan pada hubungan antara cost . dengan Analisis Usaha Tani Cabe Rawit Merah Melalui Pola Kemitraan (Studi Kasus Kemitraan PT. Indofood Sukses Makmur dengan Kelompok Tani AuSari TaniAy Ciherang Kecamatan Pacet Kabupaten Cianju. Johan Arifin. Pt. MM dan Neni Setiyowati. SP revenu . enghasilan Salah satu syarat perhitungan analisis Break Event Point adalah bahwa semua biaya yang terkait dengan proses produksi mulai dari setiap jenis produk atau jasa yang dihasilkan terdiri dari dua jenis biaya yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Asumsi-asumsi digunakan dalam analisis Break Event Point adalah C Biaya perusahaan dibagi dalam golongan biaya variabel dan biaya tetap. Besarnya biaya variabel secara total berubahubah secara proporsional dengan volume produksi Ini berarti biaya variabel per unitnya adalah tetap Besarnya biaya tetap secara totalitas adalah tidak berubah meskipun ada perubahan volume produksi atau penjualan. Ini berarti bahwa biaya berubah-ubah kareana volume produksi. Harga jual per unit tidak berubah selama periode yang dianalisis. Perusahaan macam produk, apabila diproduksi lebih dari satu macam produk masing-masing produk adalah tetap Menurut Riyanto . dalam Agustian dan Setiaji, 2. BEP dapat dihitung dengan dua cara yaitu: a. Atas dasar penjualan dalam unit BEP A P AV FC = Biaya tetap = Harga jual per unit VC = Biaya variabel per unit Atas dasar penjualan dalam BEP A 1A FC = Biaya tetap VC = Biaya variabel per unit = Penjualan . Analisis data yang digunakan adalah R/C rasio. R/C rasio usahatani menunjukkan perbandingan antara . dengan total biaya usahatani (Soekartawi, 2005 dalam I Dewa Analisis Usaha Tani Cabe Rawit Merah Melalui Pola Kemitraan (Studi Kasus Kemitraan PT. Indofood Sukses Makmur dengan Kelompok Tani AuSari TaniAy Ciherang Kecamatan Pacet Kabupaten Cianju. Johan Arifin. Pt. MM dan Neni Setiyowati. SP Gede Agung et. al, 2. Penghasilan petani tergantung pada dua faktor utama: harga jual dan biaya usahatani. Adapun rumus R/C rasio adalah sebagai Dimana adalah Total penerimaan. TC adalah total biaya. NT adalah biaya tetap. NTT adalah biaya tidak tetap. Total penerimaan kegiatan usaha yang diperoleh dari total produksi fisik dialikan dengan harga Implikasi R/C rasio kemungkinan, yaitu : Jika R/C rasio > 1, maka kegiatan usaha tani adalah Jika R/C rasio = 1, maka kegiatan usaha tani adalah Jika R/C rasio < 1, maka kegiatan usaha tani adalah rugi (Soekartawi, 2005 dalam Amik Krismawati dan Andy Bhermana, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Kelompok tani AuSari TaniAy berdiri pada tahun 2005. kelompok tani jalan Raya Ciherang Green Hill Segunung Kp. Buniaga Sawah Lega RT 02/RW 07 Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur tlp . Jumlah anggota kelompok tani AuSari TaniAy sebanyak 31 petani. Total lahan yang dimiliki seluas 22 ha. Kelompok tani bergerak dalam bidang suplier sayur-sayuran dan budidaya sayur-sayuran. Pola-pola kemitraan usaha komoditas cabai rawit merah yang eksis di kelompok tani AuSari TaniAy adalah : Pola kemitraan Pembinaan dan Kredit Bibit antara Perusahaan Indofood Sukses Makmur dengan Petani baik secara individu maupun kelompok dalam budidaya cabai rawit merah. Secara aktual pelaku yang terlibat dalam kelembagaan kemitraan Pola kemitraan Pembinaan dan penyediaan dana untuk budidaya komoditas cabai rawit merah yang dikaji di kelompok tani melibatkan petani, pelaku tataniaga pada berbagai tingkatan, jasa angkutan, lembaga keuangan formal dan informal, dan instansi pemerintah. Petani merupakan pelaku yang memiliki peranan sentral terutama terkait dengan memproduksi produk cabai rawit merah namun lemah dalam posisi tawarnya. Pola kemitraan usaha pembinaan dan kredit bibit kentang antara PT. Indofood Sukses Makmur tbk (PT. ISM) dengan Analisis Usaha Tani Cabe Rawit Merah Melalui Pola Kemitraan (Studi Kasus Kemitraan PT. Indofood Sukses Makmur dengan Kelompok Tani AuSari TaniAy Ciherang Kecamatan Pacet Kabupaten Cianju. Johan Arifin. Pt. MM dan Neni Setiyowati. SP petani dikembangkan di kelompok tani AySari TaniAy Ciherang Pacet. Jawa Barat. Pola kerjasama ini merupakan pola kerjasama tertutup antara petani dengan PT. ISM, artinya hanya petani yang menerima pinjaman kredit sebesar Rp. 000,00 dari perusahaan tersebut yang di tampung hasilnya dengan harga kontrak saat penanaman sebesar Rp 000,-/kg. Kemitraan usaha ini melibatkan sekitar 31 petani di kelompok tani AySari TaniAy Ciherang Pacet. Beberapa PT. Indofood Sukses Makmur tbk. Menyediakan dana maksimum Rp. 000,00. Melakukan pembinaan teknis budidaya dengan pendampingan seorang Agro-Supervisor. Menampung hasil dari petani dengan harga dan spesifikasi produk yang telah disepakati. Sementara itu, petani atau kelompok tani berkewajiban : . Memperoleh dana dari Perusahaan Indofood Sukses Makmur tbk. Melakukan budidaya cabai rawit merah sesuai anjuran. Menjual hasil kepada Perusahaan Indofood Sukses Makmur tbk, serta . Membayar kredit bibit dengan sistem bayar setelah panen dengan cara dipotong pada saat penyerahan barang. Hak Perusahaan Mitra adalah mendapatkan jaminan produksi atau bahan baku baik dari segi jumlah, kualitas, dan kontinuitas berdasarkan kesepakatan, di mana harga ditetapkan sebelum menanam yaitu sebesar Rp. 000,-/kg franko pabrik. Sementara itu. Petani Mitra memiliki hak atas jaminan harga dan pasar sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Terdapat sangsi . jika terjadi pelanggaran atas kesepakatan, misalnya ditemukan penjualan hasil ke luar, maka petani tersebut akan dikeluarkan dari keanggotaan dalam kemitraan usaha. Pola interaksi dilakukan secara tatap muka terutama pada saat sosialisasi, kesepakatan-kesepakatan. Secara teknis dalam perencanaan dan pelaksanaan di lapang peran mediasi agro-supervisor yang ada disetiap lokasi sangat dominan. Komunikasi antar petani ke kelompok agro-supervisor menyangkut kapan panen, volume produksi, serta harga dilakukan secara intensif melalui media telepon atau Sistem transaksi dapat dilakukan melalui transfer bank maupun melalui mediasi agro-supervisor, setelah petani melakukan kewajiban membayar Analisis Kinerja Usaha Tani Produktifitas Produktifitas usaha tani cabai rawit merah dalam kurun 5 tahun akan d pada kelompok tani AuSari TaniAy di Ciherang Pacet Kabupaten Cianjur adalah sebagai berikut Analisis Usaha Tani Cabe Rawit Merah Melalui Pola Kemitraan (Studi Kasus Kemitraan PT. Indofood Sukses Makmur dengan Kelompok Tani AuSari TaniAy Ciherang Kecamatan Pacet Kabupaten Cianju. Johan Arifin. Pt. MM dan Neni Setiyowati. SP Tabel 1. Produktifitas lahan usaha tani cabai rawit di kelompok tani AuSari TaniAy Luas Lahan Produksi . 21,15 21,15 21,15 21,15 Total rata-rata 21,15 Tahun Produksi lahan . g/h. Sumber : kelompok tani AuSari TaniAy Dari tabel diatas diketahui bahwa luas lahan yang digunakan untuk usaha tani di kelompok tani AuSari TaniAy dari tahun 2005-2008 adalah 21,15 ha. Produktifitas lahan rata-rata per tahun 525 kg. Produksitifitas terendah pada tahun 2008 yaitu 281. 295 kg dan yang tertinggi adalah pada tahun 2007 755 kg. Dalam produksi per ha rata-rata adalah 13. 500 kg. Produksi tertinggi pada tahun 2007 yaitu 13. kg/ha dan terendah pada tahun 2008 Tabel 2. Data produksi . er h. dan harga cabai rawit merah di kelompok tani AuSari TaniAy Harga Tahun Produksi . er h. Terendah Tertinggi Rata-rata Total rata-rata Sumber : Wawancara petani di kelompok tani AuSari TaniAy Analisis Usaha Tani Cabe Rawit Merah Melalui Pola Kemitraan (Studi Kasus Kemitraan PT. Indofood Sukses Makmur dengan Kelompok Tani AuSari TaniAy Ciherang Kecamatan Pacet Kabupaten Cianju. Johan Arifin. Pt. MM dan Neni Setiyowati. SP Dari data tabel diatas diketahui bahwa hasil produksi rata-rata cabai rawit merah dari tahun 2005 Ae 2009 dalam 1 ha 13. 500 kg. Harga terendah Rp. 700/kg serta harga tertinggi Rp. 700/kg. Harga rata-rata terendah adalah Rp. 500,00/kg pada tahun Harga rata-rata tertinggi adalah Rp. 500,00/kg pada tahun 2008. Trend perubahan harga seperti yang ditujukan pada tabel data diatas juga menunjukan bahwa harga cabai rawit merah di kelompok tani suatu saat terus meningkat setiap tahunnya. Tabel 3. Biaya dan Penerimaan usaha tani cabe rawit merah di kelompok tani AuSari TaniAy untuk pemasaran PT. Indofood Sukses Makmur tbk. Biaya Tahun Harga alam 21,15 h. Produksi Penerimaan 500,00 000,00 000,00 000,00 500,00 500,00 500,00 500,00 Total 000,00 rata-rata 654,31 375,00 525,00 000,00 Sumber : Wawancara kelompok tani AuSari TaniAy Berdasarkan tabel 3 rata-rata biaya usaha tani dalam 21,15 ha adalah Rp. 654,31. Harga rata-rata Rp. 375/kg. Produksi rata-rata per tahun 525 kg. Peneriamaan petani rata-rata per tahun Rp. Biaya rata-rata cabai rawit merah dari tahun 2005 Ae 2008 Rp. 654,31. Biaya terendah Rp. 765 pada tahun 2005. Biaya tertinggi Rp. 750 pada tahun Trend perubahan biaya seperti yang ditujukan pada tabel data diatas juga menunjukan bahwa biaya cabai rawit merah di kelompok tani suatu saat terus meningkat setiap tahunnya. Tetapi penerimaan rata-rata cabai rawit merah dari tahun 2005 Ae 2008 Rp. 000,00. Penerimaan terendah Rp. 000,00 pada Penerimaan tertinggi Rp. 500,00 pada tahun 2008. Trend perubahan peneriamaan seperti yang ditujukan pada tabel data diatas juga menunjukan bahwa penerimaan cabai rawit merah di kelompok tani Analisis Usaha Tani Cabe Rawit Merah Melalui Pola Kemitraan (Studi Kasus Kemitraan PT. Indofood Sukses Makmur dengan Kelompok Tani AuSari TaniAy Ciherang Kecamatan Pacet Kabupaten Cianju. Johan Arifin. Pt. MM dan Neni Setiyowati. SP suatu saat terus meningkat setiap Dari tabel diatas diketahu bahwa biaya rata-rata pertahun naik tetapi juga diikuti dengan penerimaan rata-rata per tahun . Analisis Finansial Tabel 4. Analsis Kelayakan Usaha Tani Cabai Rawit Merah Tahun Investasi Procceeds 0,87 0,75 0,64 0,57 Jumlah 2,83 PV dari Proceeds 862,50 PV dari Outlays 000,00 NPV PBP PV 19% PV 20% IRR . IRR . R/C 1,99 B/C 0,99 Discount rate Keuntungan Panen merupakan saat yang dinantikan petani sebagai perwujudan PV Proceeds keberhasilan dalam melakukan budidaya cabai rawit merah. Pada tanaman cabai rawit merah yang sehat dan tumbuh subur, produksi cabai rawit merah Analisis Usaha Tani Cabe Rawit Merah Melalui Pola Kemitraan (Studi Kasus Kemitraan PT. Indofood Sukses Makmur dengan Kelompok Tani AuSari TaniAy Ciherang Kecamatan Pacet Kabupaten Cianju. Johan Arifin. Pt. MM dan Neni Setiyowati. SP berkisar antara 10. 000 sampai 15. kg/ha (Semadi,1997 dalam I Dewa Gede Agung et. al, 2. Dari hasil penelitian didapatkan rata-rata produksi cabai rawit merah yang dihasilkan petani selama 4,5 bulan mencapai 13. kg/ha/musim. Sementara harga cabai rawit merah pada saat penelitian rata-rata Rp 7000,00/kg dengan kisaran harga Rp 000,00 sampai Rp 8. 000,00/kg. Dengan demikian besarnya rata-rata penerimaan rata-rata cabai rawit merah dari tahun 2005 Ae 2008 Rp. 000,00. Penerimaan terendah Rp. 000,00 pada tahun 2005. Penerimaan Rp. 500,00 pada tahun 2008. Secara umum tujuan usaha tani cabai merah pada akhirnya untuk memperoleh pendapatan dan tingkat keuntungan yang layak dari usahataninya. Kegairahan meningkatkan kualitas produksinya akan terjadi selama harga produk berada di atas biaya produksi. Hasil penelitian rata-rata pendapatan total usahatani cabai rawit 00,00/ha/musim keuntungan petani dalam berusahatani cabai rawit rawit merah sebesar Rp 292,00/usahatani/musim. NPV Dengan discount factor sebesar NPV (Net Present Valu. adalah sebesar Rp. NPV positif menunjukan usaha tani cabai rawit merah ini layak untuk diusahakan karena memberikan keuntungan atas investasi yang ditanamkan. IRR (Internal Rate of Retur. Nilai IRR positif pada usaha tani cabai rawit merah di Kelompok Tani AuSari TaniAy Ciherang Pacet Cianjur diperoleh pada dicount faktor 19% dengan nilai IRR Rp. 216,00. Nilai IRR negatif pada usaha tani cabai rawit merah di Kelompok Tani AuSari TaniAy Ciherang Pacet Cianjur diperoleh pada dicount faktor 20% dengan nilai IRR Rp. 171,00. Dengan kata lain usaha tani cabai rawit merah layak diusahakan jika tingkat suku bunga . iscount rat. kurang dari 19,5%. PBP Payback Period pada usaha tani cabai rawit dalam kurun waktu 4 tahun didapatkan nilai Payback Period 1,5 tahun. R/C Ratio Rata-rata nilai R/C ratio selama merah/usahatani/musim sebesar 1,99. Ini berarti setiap Rp 1,00 modal yang diinvestasikan untuk usahatani cabai penerimaan sebesar Rp 1,99 sehingga dapat dijelaskan bahwa usahatani cabai rawit merah layak diusahakan. Menurut Soekartawi . apabila nilai R/C ratio > 1 maka usahatani tersebut layak Oleh karena itu keputusan yang diambil oleh petani tepat dan Analisis Usaha Tani Cabe Rawit Merah Melalui Pola Kemitraan (Studi Kasus Kemitraan PT. Indofood Sukses Makmur dengan Kelompok Tani AuSari TaniAy Ciherang Kecamatan Pacet Kabupaten Cianju. Johan Arifin. Pt. MM dan Neni Setiyowati. SP usahatani cabai rawit merah tetap usahatani cabai rawit merah memberikan pendapatan yang cukup Tingginya pendapatan petani di kelompok tani Au Sari TaniAy disebabkan produksinya cukup baik, serta didukung oleh harga cabai rawit merah yang tinggi. Sedangkan B/C rasio 0,99. BEP Tabel 5. Perhitungan BEP kg dan Rp dalam waktu 4 tahun BEP Tahun 223,73 271,96 223,73 562,08 690,63 784,42 914,27 186,84 763,09 701,32 rata-rata Berdasarkan tabel 5. BEP Kg dan Rp rata-rata dalam kurun waktu 4 tahun adalah 143. 763,09 kg dan Rp 701,32. BEP kg tertinggi yaitu tahun 2007 adalah 146. 690,63 kg dan BEP Rp tertinggi adalah pada tahun 2009 yaitu Rp. 184,48. BEP Rp terrendah pada tahun 2005 yaitu Rp. 721,96. Tabel 6. Biaya pendapatan usaha tani cabai rawit merah dalam kurun 4 tahun R/C Penerimaan Pengeluaran /Cost Produksi 1,98 1,95 1,98 Tahun Harga Keuntungan (Benefi. Analisis Usaha Tani Cabe Rawit Merah Melalui Pola Kemitraan (Studi Kasus Kemitraan PT. Indofood Sukses Makmur dengan Kelompok Tani AuSari TaniAy Ciherang Kecamatan Pacet Kabupaten Cianju. Johan Arifin. Pt. MM dan Neni Setiyowati. SP Rasi Total rata-rata 2,04 1,99 Sumber : Wawancara petani di kelompok tani AuSari TaniAy Dari data tabel 6, diketahui bahwa rata-rata biaya usaha tani cabai rawit merah dengan luasan 1 ha adalah Rp. 504,00. Produksi cabai rawit merah dalam 1 ha 13. 500 kg. Rata-rata harga jual yang telah ditentukan adalah Rp. 375,00. jadi pendapatannya adalah Rp. 000,00. Keuntungan kotor yang diperoleh dari usaha tani cabai rawit merah sebesar Rp. 496,00. Jika dalam 1 tahun bunga bank 15% maka keuntungan bersihnya adalah Rp. Tabel 7. Rata-rata biaya produksi usaha tani dalam kurun 4 tahun Uraian Biaya Prosentase (%) Sewa lahan 7,98% Benih 8,83% Pupuk Kandang 10,19% Pupuk Anorganik 13,44% Pestisida 16,47% Sarana produksi lain-lain 19,63% Tenaga kerja 23,48% Total Biaya Sumber : Wawancara petani di kelompok tani AuSari TaniAy Dari tabel 6 diketahui bahwa prosentase yang paling tinggi adalah tenaga kerja sebesar 23,48%. Sewa lahan sebesar 7,98%, benih sebesar 8,83%, pupuk kandang sebesar 10,19%, pupuk anorganik dan pestisida sebesar 13,44% dan 16,47%. Sedangkan untuk sarana produksi yang lainnya sebesar 19,63%. Analisis Usaha Tani Cabe Rawit Merah Melalui Pola Kemitraan (Studi Kasus Kemitraan PT. Indofood Sukses Makmur dengan Kelompok Tani AuSari TaniAy Ciherang Kecamatan Pacet Kabupaten Cianju. Johan Arifin. Pt. MM dan Neni Setiyowati. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan, maka dapat disimpulkan Kinerja usaha tani cabai rawit di kelompok tani AuSari TaniAy Ciherang Pacet Cianjur dengan kriteria produktifitas mendapat dengan hasil produksi rata-rata dalam 1 ha 13. Rp. 375/kg mendapatkan penerimaan rata-rata Rp. Keuntungan yang diperoleh rata-rata pertahun adalah Rp. 496,00 pengembangan usaha tani cabai rawit merah layak diusahakan dan cukup menguntungkan, hal ini terlihat dari nilai R/C ratio sebesar 1,99. Nilai NPV sebesar Rp. 284,00 dan IRR positif pada suku bunga 19%. Dan IRR negatif pada suku bungan SARAN Usaha tani yang dilakukan oleh kelompok tani AySari TaniAy Ciherang kecamatan Pacet kabupaten Cianjur dengan kinerja yang baik ditengah harga komoditas hortikultura yang berfluktuasi, sehingga pola kemitraan seperti ini patut dicontoh oleh perusahan besar lainnya. Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai pola kemitraan antara petani dengan perusahaan inti sehingga dapat diterapkan secara lebih luas dan masing-masing pihak tidak ada yang merasa dirugikan. DAFTAR PUSTAKA