Penerapan Student Centered Learning (SCL) pada Mata Pelajaran Kajian Kitab Kuning di Pondok Pesantren Yuyu Wahyudin1. Azmy Ali Muchtar2. Muhammadiah3 Universitas Islam Jakarta1, 2 IAI Al-Jihad Shalahuddin Al-Ayyubi Jakarta3 Email: yuyuwahyudin083@gmail. azmyali93@gmail. muhammadiah@yahoo. P-ISSN : 2745-7796 E-ISSN : 2809-7459 Abstrak. Student Centered Learning (SCL) saat ini diyakini oleh para peneliti dan para tenaga pengajar sebagai pendekatan pembelajaran yang tepat dalam mencapai tujuan pendidikan. Namun demikian, apakah SCL cocok untuk semua mata pelajaran. Apakah SCL cocok untuk mata pelajaran Kajian Kitab Kuning? Apa tantangan yang dihadapi oleh para asatidz dan santri? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas SCL pada mata pelajaran Kajian Kitab Kuning. Untuk mengetahui apa saja tantangan yang dihadapi ketika menjalankan SCL pada mata pelajaran Kajian Kitab Kuning. Untuk mengetahui solusi yang tepat dalam mengatasi tantangan dimaksud. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, ada dua jenis data yang akan digunakan yakni data observasional, dan data dokumen dan artefak. Teknik pengumpulan data yang akan dilakukan adalah kajian leterasi, observasi, dan studi dokumentasi. Peneliti menggunakan analisis naratif, dan analisis Berikut langkah-langkahnya: pengumpulan data, transkripsi data, reduksi data . , identifikasi tema, penarikan kesimpulan, dan pelaporan. SCL bisa digunakan pada mata pelajaran Kajian Kitab Kuning, walaupun masih terdapat beberapa tantangan dan hambatan dalam Pada saat ini penerapan SCL merupakan keniscayaan walaupun masih terdapat beberapa kendala. Dalam pelaksanaanya masih terdapat dua karakteristik SCL yang belum terpenuhi. Pertama. Kebebasan siswa untuk memilih dan menentukan tema yang akan dipelajari, termasuk cara Pada kenyataannya siswa masih belum bisa menentukan tema secara mandiri. Kedua. Tema bersifat optional, bukan keharusan, sehingga guru dan siswa tidak hanya terpaku pada materi yang ada, tapi dapat mengembangkannya secara kreatif. Pada kenyataannya tema masih ditentukan oleh guru . Kedua masalah ini merupakan pekerjaan rumah (PR) bagi pihak guru dan sekolah. Kata Kunci: Student Centered Learning. Pondok Pesantren. Kitab Kuning. http://jurnal. id/index. php/aujpsi DOI : https://doi. org/10. PENDAHULUAN Pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia memiliki peran penting dalam membentuk karakter, moral, dan pemahaman keagamaan para santri. Salah satu ciri khas pendidikan pesantren adalah adanya kajian kitab kuning yang menjadi sumber utama dalam pembelajaran ilmu-ilmu keislaman. Namun, proses pembelajaran kitab kuning pada umumnya masih didominasi oleh pendekatan teacher centered learning seperti metode bandongan atau sorogan yang menempatkan Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 2, pp. 91-98, 2025 | 91 Penerapan Student Centered Learning (SCL) pada Mata Pelajaran Kajian Kitab Kuning di Pondok Pesantren Yuyu Wahyudin. Azmy Ali Muchtar. Muhammadiah kyai atau ustaz sebagai pusat informasi, sementara santri menjadi penerima materi secara pasif. Perkembangan dunia pendidikan modern menuntut adanya inovasi dan transformasi metode pembelajaran agar lebih efektif, partisipatif, dan mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Salah satu pendekatan yang sesuai dengan tuntutan tersebut adalah Student Centered Learning (SCL) keterlibatan aktif santri dalam proses belajar, mendorong kemandirian, serta memberikan ruang untuk pengembangan kompetensi sesuai kemampuan masing-masing. Penerapan SCL pada kajian kitab kuning menjadi tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di Dengan nilai-nilai diharapkan mampu menjawab kebutuhan pendidikan santri di era modern. Oleh karena itu, penelitian atau kajian mengenai implementasi SCL dalam pembelajaran kitab kuning menjadi penting untuk mengetahui efektivitas, kendala, serta strategi yang dapat digunakan dalam penerapannya. Rumusan masalah untuk penelitian ini adalah Bagaimana penerapan pendekatan Student Centered Learning (SCL) pada mata pelajaran kajian kitab kuning di pondok Apa saja tantangan atau factor penghambat dalam penerapan Student Centered Learning pada pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren?. Tujuannya adalah Mendeskripsikan penerapan pendekatan Student Centered Learning (SCL) pada mata pelajaran kajian kitab kuning di pondok pesantren. Menganalisis tantanagan atau hambatan dalam implementasi Student Centered Learning pada pembelajaran kitab kuning di pondok pesantren. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, ada dua jenis data yang akan digunakan yakni data observasional, dan data dokumen dan artefak. Teknik pengumpulan data yang akan dilakukan adalah kajian leterasi, observasi, dan studi Peneliti menggunakan analisis naratif, dan analisis konten. Berikut langkahlangkahnya: pengumpulan data, transkripsi data, reduksi data . , identifikasi tema, penarikan kesimpulan, dan pelaporan. HASIL DAN PEMBAHASAN Student Centered Learning (SCL) Student Centered Learning (SCL) merupakan pendekatan pembelajaran yang diyakini oleh para praktisi pendidikan saat ini dapat meningkatkan hasil belajar, dan dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran dengan maksimal (Rosyada. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2. SCL merupakan proses pembelajaran yang berfokus pada siswa. Dimana mereka dituntut untuk aktif dan kreatif dalam mencari ilmu pengetahuan yang ingin mereka kuasai (Nurhakim. Pembelajaran SCL (Student Centered Learnin. : Tujuan. Manfaat. Karakteristik. Kelebihan, dan Kekurangannya, 2. Menurut Redolfo sebagaimana dikutip oleh Prof. Dr. Dede Rosyada. MA bahwa proses belajar yang berpusat pada siswa akan terjadi ketika guru dan siswa sama-sama aktif Dalam hal ini, para siswa difasilitasi melakukan eksplorasi bahan-bahan ajar dan mendiskusikan berbagai informasi yang didapat, sedangkan para dosen aktif mendampingi mereka selama proses tersebut, termasuk mendorong mereka melakukan proses pencarian, diskusi, dan penyimpulan atas hasil diskusi mereka. Dengan pendekatan SCL tidak otomatis dosen menjadi lebih santai dan tidak banyak beraktifitas. Sebaliknya, dosen harus lebih aktif membaca dan belajar bersama para siswa. Dalam SCL, hubungan antara guru dan siswa adalah hubungan antara senior learner dengan junior learner (Rosyada. Student Centered Learning. Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 2, pp. 91-98, 2025 | 92 Penerapan Student Centered Learning (SCL) pada Mata Pelajaran Kajian Kitab Kuning di Pondok Pesantren Yuyu Wahyudin. Azmy Ali Muchtar. Muhammadiah Menurut Angele Attard sebagaimana dikutip oleh Dede Rosyada, bahwa proses belajar terbaik adalah menjadikan para sementara dosen berperan sebagai Guru menugaskan para siswa untuk melaksanakan riset, memberi mereka kesempatan untuk mempresentasikan hasil kajiannya, berdiskusi dengan peer group, dan belajar menyimpulkan hasil diskusinya. Angele Attard membuat perbandingan capaian hasil belajar yang aktif seperti dideskripsikan pada tabel berikut ini. Diagram di atas menjelaskan bahwa learning melalui ceramah, membaca, audiovisual, dan demonstrasi menghasilkan pencapaian belajar paling tinggi 30%. Bahkan bila hanya mengandalkan audiovisual, membaca, dan kuliah, pencapaian materi pelajaran yang bisa melekat dan diingat siswa masing-masing hanya mencapai 20%, 10% dan bahkan 5%. Prosentase pencapaian demikian jauh berbeda dengan model belajar aktif melalui diskusi, praktik, atau mengajar orang lain. Pencapaian paling rendah pada metode diskusi 50%. Sedangkan praktek dan mengajar yang lain menghasilkan prosentase hasil belajar lebih tinggi, yakni 75% dan 90%. Dengan pembelajaran berbasis siswa atau SCL saat ini sangat direkomendasikan karena bisa mencapai hasil belajar yang maksimal (Rosyada. Student Centered Learning , 2. Karakteristik Student Centered Learning (SCL) Haris Abizar. Pd. Pd dalam bukunya Master Lesson Study menyebutkan beberapa kharakteristik SCL (Nurhakim. UNTUK GURU, 2. , diantaranya: Guru membantu, mengarahkan siswa dalam proses pembelajaran. Guru harus memiliki wawasan luas dan bersifat terbuka terhadap kritik yang disampaikan oleh siswa. Guru menggunakan cara penyampaian materi yang dianggap sesuai dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Dalam hal ini, tidak menutup kemungkinan guru akan menggunakan cara pengajaran yang berbeda untuk setiap kelas. Siswa pembelajaran yang diberi kebebasan untuk memilih dan menentukan tema yang akan dipelajari, termasuk cara penyampaiannya. Siswa aktif pada proses pembelajaran yang senantiasa memberikan gagasan, baik berupa saran maupun kritik. Siswa mampu merumuskan proses pembelajaran yang akan dijalankan, dan mengukur kinerja sendiri. Siswa saling berkolaborasi satu sama lain. Siswa memantau pembelajarannya sendiri sehingga mampu merumuskan strategi pembelajaran yang tepat untuk mencapai hasil yang optimal. Siswa memilih anggota kelompoknya sendiri dan menentukan cara bekerja di dalam kelompok tersebut. Materi atau tema bersifat optional, bukan keharusan, sehingga guru dan siswa tidak hanya terpaku pada materi yang ada, tapi dapat mengembangkannya secara kreatif dan berkelanjutan. Kitab Kuning Kitab Kuning dari segi bahasa. Kitab artinya buku . atau buku konvensional, dan Kuning artinya berwarna kuning, sederhananya, kitab kuning adalah buku cetak yang berarna kuning. Dari segi istilah. Kitab Kuning adalah buku cetak berbahasa Arab yang tidak berharokat dan tidak Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 2, pp. 91-98, 2025 | 93 Penerapan Student Centered Learning (SCL) pada Mata Pelajaran Kajian Kitab Kuning di Pondok Pesantren Yuyu Wahyudin. Azmy Ali Muchtar. Muhammadiah mengandung arti gandeng (Wahyudin. Pengembangan Model Pembelajaran Kitab Kuning Berbasis Metode Alsina, 2. ata kerja enam huru. Dan dari segi shahih dan muAotal, terdapat beberapa bentuk diantaranya ada fiAoil shahih, mudhoAoaf, mitsal, ajwaf, naqish, lafief, dan multawi (Ahmad, 1. Jadi ilmu nahwu dan shorof ini Spesifikasi dan Karakteristik Kitab Kuning Spesifikasi dan karakteristik Kitab Kuning memang memiliki tingkat kesulitan yang yang pertama adalah berbahasa Arab, oleh tinggi. Dalam hal penterjemahan, struktur karena itu agar bisa memahami teks bahasa pun berbeda dengan bahasa Arab dengan baik pasti harus menguasai tata bahasanya, dan sudah menjadi rahasia umum Indonesia. Struktur kalimat dalam bahasa bahwa mata pelajaran tata bahasa Arab atau Indonesia adalah S-P-O-K (Subjek. Predikat, ilmu nahwu dan shorof merupakan mata Objek. Keteranga. , berbeda dengan struktur pelajaran paling sulit bagi para santri di kalimat dalam bahasa Arab terdiri dari. FiAoil, fail, mafAoul, dan dhorof. Struktur kalimat pondok pesantren. Ilmu nahu adalah ilmu yang membahas seperti ini dalam bahasa Arab disebut Jumlah iAorob. baris atau harokat akhir . omah, fathah. FiAoliyah. Dalam bahasa Indonesia ada bentuk dan kasro. setiap kata dalam sebuah kalimat. DM (Diterangkan Menerangka. Istilah iAorob tidak ditemukan dalam tata bahasa lain di dunia, dan itu hanya ada dalam ilmu tata Struktur seperti ini dalam bahasa Arab disebut bahasa Arab. Penentuan harokat akhir sebuah Mubtada Khobar. Stuktur Mubtada Khobar kata membutuhkan pengetahuan yang luas dan disebut dengan Jumlah Ismiyah. Disamping itu, pemahaman yang mendalam mengenai ilmu terdapat materi yang lebih tinggi seperti ilmu nahwu (Wahyudin. Pelajaran Tata Bahasa balagoh, ilmu maAoani, ilmu bayan, dan yang Arab , 2. Setelah menguasai ilmu tata bahasa Arab. Sementara ilmu shorof adalah ilmu yang dituntut agar belajar menerjemahkannya membahas perubahan bentuk kata kerja bahasa Indonesia. Bagi santri pemula dalam bahasa Arab. Satu kata kerja dalam bahasa Arab memiliki dua belas bentuk kata biasanya mereka menterjemahkan kalimat turunan, yang disebut dengan tashrif ushul. Arab kata perkata. Dan bagi santri yang sudah Dan masing-masing bentuk tashrief ushul advance mereka menterjemahkannya secara paling sedikit memiliki tiga kata turunan dan global, mentransfer makna kalimat. Spesifikas dan karakteristik kedua, paling banyak memiliki empat belas kata pada format penulisannya . ay ou. Kata yang memiliki tiga kata turunan adalah tashrief isim mashdar, tashrif yang terdiri dari dua bagian: Matan . eks asli isim zaman, tashrif isim makan, dan tashrif dari penuli. , dan Syarah . enjelasan dan isim alat. Sementara Kata yang memiliki kata komentar terhadap mata. Matan selalu turunan terbanyak adalah fiAoil madhi maAoruf diletakkan dibagian pinggir . anan atau kir. dan fiAoil madhi majhul masing-masing Sementara Syarah diletakan dibagian tengah memiliki empat belas bentuk. Begitu juga halaman. Ada juga Kitab Kuning yang terdiri dari dengan fiAoil mudhore maAoruf dan fiAoil mudhore majhul masing-masing memiliki tiga bagian: Matan . eks asl. Syarah, dan Hasyiyah . enjelasan dan komentar terhadap empat belas bentuk. Disamping itu, jumlah hurup kata kerja Syara. Masing-masing bagian memiliki . iAoi. memiliki jumlah hurup yang berbeda- tingkat kesulitan sendiri-sendiri. Matan beda, ada fiAoil tsulasti . ata kerja tiga huru. , adalah materi yang paling mudah. Hasyiyah fiAoil rubaAoi . ata kerja empat huru. , fiAoil adalah materi yang paling sulit, sedangkan khumasi . ata kerja lima huru. , dan fiAoil Syarah sedang-sedang saja. Bisa dikatakan Syarah paling mudah dipelajari. Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 2, pp. 91-98, 2025 | 94 Penerapan Student Centered Learning (SCL) pada Mata Pelajaran Kajian Kitab Kuning di Pondok Pesantren Yuyu Wahyudin. Azmy Ali Muchtar. Muhammadiah Kitab Kuning ini meliputi berbagai bidang ilmu: Fikih. Ushul Fikih. Aqidah. Hadis. Tafsir, dan bidang ilmu lainnya (Wahyudin. Pengembangan Model Pembelajaran Kitab Kuning Berbasis Metode Alsina , 2. menerjemahkannya, dan menjelaskan isi dan Tantangan SCL dalam Mengkaji Kitab Kuning: Penerapan sebuah konsep atau ilmu baru tentu pada awalnya akan menghadapi berbagai tantanganm, termasuk dalam menjalankan SCL Sorogan dan Bandongan Pembelajaran Kitab pada mata pelajaran Kitab Kuning. Kuning Tradisional Peneliti akan membagi tantangan kepada Di pondok pesantren. Kitab Kuning dua bagian. Tantang dari sudut pandang dipelajari dan dikaji oleh para santri dengan siswa, dan tantangan dari segi konten atau menggunakan pendekatan TCL (Teacher materi. Center Learnin. TCL adalah pembelajaran yang berpusat pada guru, dimana siswa Tantangan dari segi pribadi siswa meliputi. bersikap pasif. Dalam pembelajaran dengan A Sifat pemalu. Sifat malu merupakan musuh terbesar pendekatan TCL, guru dianggap sebagai satusatunya sumber ilmu, seorang guru masuk ke dalam penerapan SCL, karena SCL menuntut ruangan kelas lalu ia menyampaikan materi murid untuk aktif, mandiri, komunikatif dan akhir sikap kolaboratif, oleh guru harus memiliki pembelajaran, sementara siswa hanya inisiatip untuk menghilangkan sifat dan sikap mencatat informasi yang diberikan guru, pemalu dari murid demi suksesnya proses hanya sekali-kali saja para siswa diberi pembelajaran. Oleh karena itu pembiasaan, dan membiasakan santri untuk aktif dalam kesempatan untuk bertanya. Berdasarkan observasi dan analisa yang pembelajaran menjadi hal penting. Terdapat dijalankan oleh peneliti sejak muncul dan sebuah pribahasa yang mengatakan Aoalah bisa berdirinya pondok pesantren sampai saat ini, karena biasaAo. Kitab Kuning dengan A Sikap Santri yang tidak banyak bicara TCL diimplimentasikan dengan metode sorogan Sikap pasif yang terbentuk pada model dan bandongan. pembelajaran TCL membentuk kepribadian Metode Sorogan Bandongan santri merupakan dua metode pembelajaran Kajian mengungkapkan pendapatnya. Kemampuan Kitab Kuning yang sudah terbukti hasilnya membaca di depan umum membutuhkan bagus, dan masih digunakan di pondok keberanian yang cukup, mental yang kuat, pesantren salaf, atau ponpes tradisional sampai dan latihan yang banyak. Oleh karena itu hari ini. Sorogan adalah metode pembelajaran para asatidz harus memotivasi, dan kajian Kitab Kuning, dimana santri menghadap merangsang mereka untuk mengeluarkan kepada pak kiai satu per satu untuk pendapat, pikiran mereka dalam bentuk membacakan beberapa lembar Kitab Kuning ungkapan atau bahasa lisan. kemudian pak kiai akan mengoreksi bacaan A Kepribadian Introvert siswa Introvert memang tidak berhubungan santri dari segi ilmu nahwu shorof, dan dari langsung dengan proses pembelajaran, namun segi terjemahannya. Sementara Bandongan adalah metode keberadaannya bisa mengganggu komunikasi pembelajaran Kitab Kuning. dimana santri yang dibangun dalam pembelajaran SCL. duduk dengan format U (U for. , atau dengan Kepribadian introvert cenderung lebih suka format O (O for. kemudian pak kiai akan pada dunia internal . ikiran dan perasaa. membacakan Kitab Kuning, memberi harokat, mereka sendiri dari pada stimulasi eksternal. Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 2, pp. 91-98, 2025 | 95 Penerapan Student Centered Learning (SCL) pada Mata Pelajaran Kajian Kitab Kuning di Pondok Pesantren Yuyu Wahyudin. Azmy Ali Muchtar. Muhammadiah Sikap introvert bisa mengganggu komunisi Kesenjangan antara TCL dan Kebutuhan antar individu dengan individu lainya, dalam Siswa Modern hal ini para siswa. Situasi ini menuntut guru Terdapat untuk mencari solusi yang tepat. Solusi pembelajaran yang berfokus pada guru (TCL) psyicologi sangat dibutuhkan untuk mengatasi dengan tuntutan siswa di era digital. Siswa masalah ini. modern tidak lagi hanya berperan sebagai A Tingkat penguasaan materi yang bervariasi. penerima informasi, melainkan mencari Sebenarnya sudah menjadi kenyataan pengalaman belajar yang lebih personal, bahwa dalam satu kelas setiap siswa memiliki interaktif, dan relevan dengan dunia nyata. Oleh karena itu, dibutuhkan inovasi tingkat penguasaan yang berbeda-beda. pembelajaran Kitab Kuning agar lebih Seorang guru harus mencampur dalam satu kelompok itu. ada yang pintar, sedang, dan relevan dan efektif, dengan mengadopsi tidak pintar. Atau mencampur antara siswa prinsip SCL. Berikut adalah analisis kesenjangan yang aktif bicara dan siswa yang pendiam. antara metode TCL dan kebutuhan siswa Tantangan dari segi Konten atau Materi A Kualitas bahasa yang digunakan Kitab Karakteristik TCL vs. Kebutuhan Siswa Modern Kuning adalah bahasa fushah, kualitas Aspek Metode Kebutuha Kesenjanga bahasa yang terbaik, dan paling tinggi. TCL Siswa Materi Kitab Kuning menggunakan ilmu Modern Nahu dan Shorof level tinggi. Peran Siswa Siswa TCL Kualitas bahasa yang digunakan sangat Siswa dan inisiatif diperuntukan kepada para ilmuan, cendekia muslim, dan orang pintar dan sedangkan diseluruh dunia Susunan kalimat yang indah dan Pergeseran Paradigma Pembelajaran dari TCL ke SCL Pendidikan tradisional menggunakan pendekatan TCL yang menjadiakan guru sebagai satu-satunya sumber ilmu, sementara murid pasif, hanya mendengar, menyimak, dan menerima ilmu, hanya sekali-kali saja murid diberi kesempatan untuk bertanya. Sementara mengarahkan pada pendekatan SCL, yang menempatkan siswa sebagai subjek utama SCL memberdayakan siswa untuk aktif, mandiri, dan bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri, yang penting untuk mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam . eep learnin. dan kemampuan berpikir kritis. Fokus Pembelaja Focus uan dari Focus pada n berpikir Materi Konten Materi oleh guru Pembelajar asi sesuai minat dan n otonomi TCL tidak siswa untuk nyata, yang TCL gagal gaya belajar yang unik Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 2, pp. 91-98, 2025 | 96 Penerapan Student Centered Learning (SCL) pada Mata Pelajaran Kajian Kitab Kuning di Pondok Pesantren Yuyu Wahyudin. Azmy Ali Muchtar. Muhammadiah Interaksi Interaksi hanya dari guru atau Pembelajar diskusi, dan social yang Penilaian Penilaian sering kali pada tes Penilaian TCL antar siswa. TCL tidak siswa untuk utama di era Peneliti berpendapat bahwa SCL bisa diterapkan pada mata pelajaran Kajian Kitab Kuning bagi santri yang duduk di kelas sebelas . elas 1 Madrasah Aliyah atau Mengapa? Karena pengetahuan mereka mengenai ilmu nahwu dan shorof sudah cukup baik. Adapun pembelajarannya maka pak kiai dan santri bisa menggunakan salah satu dari beberapa metode pembelajaran berikut ini. diskusi, metode studi kasus, metode penemuan . iscovery learnin. , dan metode KESIMPULAN SCL bukan hanya bisa diterapkan, tapi juga merupakan keniscayaan pada era society 0 saat ini, termasuk pada mata pelajaran Kajian Kitab Kuning, tentunya dengan memenuhi segala hal yang dianggap perlu Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Kitab untuk mendukung dan mempermudah proses pembelajaran, termasuk mengatasi segala Kuning Penerapan SCL dapat mendorong siswa tantangan yang ada. walaupun masih ada untuk aktif menggali informasi, bereksplorasi, minimal- dua karakteristik SCL yang belum dan berkolaborasi dalam memahami Kitab terpenuhi. Pertama. Hal kebebasan siswa Kuning, sehingga menciptakan pengalaman dalam memilih dan menentukan tema yang belajar yang lebih bermakna. Hal ini akan akan dipelajari, termasuk memilih dan menumbuhkan minat, motivasi, serta menentukan cara penyampaiannya. Pada kemampuan analisis dan pemecahan masalah kenyataannya siswa -saat ini- masih belum dalam mengkaji teks-teks keagamaan klasik bisa menentukan tema secara mandiri. Kedua. Tema yang diberikan guru bersifat optional, (Antika, 2. bukan keharusan. Pada kenyataannya tema masih ditentukan oleh guru. Penerapan SCL pada Mata Pelajaran Berikut ini beberapa saran penting untuk Kajian Kitab Kuning disimak dan ditindaklanjuti, pertama. Seperti pada Disarankan kepada para asatidz untuk lebih pembahasan sebelumnya, bahwa mengkaji terbuka terhadap penerapan pendekatan Kitab Kuning memiliki tingkat kesulitan Student Centered Learning (SCL) sebagai yang tinggi. Selama ini pendekatan yang alternatif strategi pengajaran yang dapat digunakan adalah TCL dengan menggunakan meningkatkan kemandirian dan kreativitas metode Sorogan dan Bandongan. Kedua. Mengadaptasi SCL sesuai Lalu apakah SCL bisa diterapkan pada karakteristik pesantren. Setiap mata pelajaran Kajian Kitab Kuning? Apakah pesantren memiliki tradisi, kultur, dan gaya out put dengan SCL bisa lebih baik?. Lalu pembelajaran masing-masing. Oleh karena apa metode yang tepat untuk mendukung itu ustadz dianjurkan untuk menyesuaikan SCL tersebut?. konsep SCL dengan konteks lokal tanpa meninggalkan nilai-nilai khas pesantren. Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam. Vol. No. 2, pp. 91-98, 2025 | 97 Penerapan Student Centered Learning (SCL) pada Mata Pelajaran Kajian Kitab Kuning di Pondok Pesantren Yuyu Wahyudin. Azmy Ali Muchtar. Muhammadiah Ketiga. Meningkatkan peran fasilitator ustadz, perlu dipahami bahwa penerapan SCL tidak mengurangi peran ustadz, melainkan mengubahnya dari pusat informasi menjadi fasilitator yang membimbing, mengarahkan, dan memastikan proses belajar berjalan efektif. Ke-empat. Mendorong santri untuk lebih aktif. Ustadz dapat mendorong para santri untuk berpartisipasi aktif dalam proses kajian kitab kuning melalui diskusi, presentasi, analisis teks, maupun kegiatan pemecahan masalah. Kelima. Memanfaatkan teknologi secara bijak, -seperti- dengan memanfaatkan aplikasi pencarian istilah atau pembelajaran kitab kuning yang berbasis SCL. Ke-enam. Melakukan Disarankan kepada para asatidz untuk senantiasa melakukan evaluasi penerapannya, baik dari sisi efektivitas metode, tingkat pemahaman santri, maupun kesesuaian dengan tujuan pendidikan Ketujuh. Menumbuhkan Disarankan kepada para asatidz agar mendorong kerja sama antar santri, sehingga kajian kitab kuning tidak hanya bersifat individual, tetapi juga dialogis dan saling Rosyada. Juni . Student Centered Learning. Retrieved https://w. id/id/student-centeredlearning-2/ Rosyada. Juni . Student Centered Learning Retrieved https://w. id/id/student-centeredlearning-2/ Rosyada. Juni . UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Retrieved from Kolom Rektor Sebelumnya: https://w. id/id/student-centeredlearning-2/ Wahyudin. Pelajaran Tata Bahasa Arab . Yogyakarta: Mutiara Media. Wahyudin. Pengembangan Model Pembelajaran Kitab Kuning Berbasis Metode Alsina. Jakarta: Program Doktor. Pendidikan Agama Islam. Universitas Islam Jakarta. Wahyudin. Pengembangan Model Pembelajaran Kitab Kuning Berbasis Metode Alsina . Jakarta: Program Doktor Pendidikan Agama Islam. Universitas Islam Jakarta. DAFTAR PUSTAKA