Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Juni 2025 https://doi. org/10. 52060/mp. E-ISSN 2621-0703 P-ISSN 2528-6250 PENGARUH DISPOSISI BERPIKIR KRITIS TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS DAN KETERAMPILAN PEMECAHAN MASALAH SISWA Maya Alia Puspita1. Friyatmi2. Universitas Negeri Padang. Padang. Indonesia. Jurusan Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Padang e-mail: 1mayaalia0806@gmail. com, 2fri. yatmi@fe. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh disposisi berpikir kritis terhadap keterampilan berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya tingkat keterampilan pemecahan masalah siswa yang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah Critical Thinking Skill (CTS) dan Critical Thinking Disposition (CTD). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Sampel terdiri dari 100 siswa kelas XI SMAN 2 Sungai Penuh dengan menggunakan Teknik sampling yaitu proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui 2 jenis instrument yaitu test tertulis berupa soal . bjektif, essa. dan skala likert, kemudian dianalisis menggunakan SPSS versi 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa disposisi berpikir kritis berpengaruh secara langsung terhadap keterampilan pemecahan Pengaruh ini tidak dimediasi oleh keterampilan berpikir kritis siswa. Temuan ini menunjukkan bahwa sikap dan kecenderungan internal siswa dalam berpikir kritis dapat mempengaruhi kemampuan siswa dalam memecahkan masalah secara mandiri. Kata kunci: Disposisi berpikir kritis, keterampilan berpikir kritis, keterampilan pemecahan masalah ABSTRACT This study aims to analyze the influence of critical thinking disposition on critical thinking skills and problem-solving The background of this study is the low level of students' problem-solving skills caused by several factors including Critical Thinking Skill (CTS) and Critical Thinking Disposition (CTD). This study uses a quantitative approach with an associative method. The sample consisted of 100 students of grade XI of SMAN 2 Sungai Penuh using a sampling technique, namely proportional random sampling. Data collection was carried out through 2 types of instruments, namely written tests in the form of questions . bjective, essa. and a Likert scale, then analyzed using SPSS version 27. The results of the study indicate that critical thinking disposition has a direct effect on problem-solving skills. This influence is not mediated by students' critical thinking skills. These findings indicate that students' internal attitudes and tendencies in critical thinking can influence students' ability to solve problems Keywords : Critical thinking disposition, critical thinking skill, problem solving skill PENDAHULUAN Ranah pendidikan di era abad ke-21 tantangan yang kian kompleks, terutama dalam misi mencetak generasi pembelajar yang unggul serta berdaya saing di panggung Sebagai memegang peranan kunci dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia, sekolah berkewajiban untuk menumbuhkembangkan kemampuan berpikir kreatif . reative thinkin. , bernalar kritis serta memecahkan masalah . ritical thinking and problem solvin. , berkomunikasi efektif . , dan bekerja sama secara sinergis . yang terhimpun dalam konsep keterampilan 4C (Resti Septikasari, 2. Proses pembelajaran yang efisien seharusnya melampaui sekadar penguasaan materi, dengan menstimulasi peserta didik untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan inovatif, kemandirian, serta keahlian dalam menyelesaikan masalah yang relevan dengan situasi nyata sehari-hari (Zaozah, dkk, 2017:. Kecakapan permasalahan memegang posisi yang krusial di zaman kontemporer, karena proses semata-mata menekankan penguasaan fakta, melainkan juga kemampuan menerapkan prinsip-prinsip dalam konteks nyata (Ningrum, 2. Akan kompetensi siswa dalam menyelesaikan masalah masih tergolong rendah, yang terbukti dari pengamatan awal maupun penelitian terdahulu oleh Rosyadi . Hasil tersebut juga mengungkapkan bahwa banyak peserta didik masih menemui kendala dalam merancang strategi penyelesaian masalah secara mandiri. Salah satu penyebab utama dari rendahnya kemampuan ini adalah keterbatasan dalam keterampilan berpikir kritis (Jayadi et al. , 2. https://ejournal. id/index. php/mp This is an open access article under the cc-by license | 439 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desemebr . Kemampuan berpikir kritis, yang meliputi perpaduan antara kecakapan kognitif dan sikap mental reflektif (Facione, 2. , menjadi pijakan utama bagi peserta didik dalam menelaah, menilai, serta menangani persoalan dengan ketepatan (Maryam, 2. Kajian bahwa kemampuan siswa dalam berpikir analitis dan kritis masih perlu diperkuat, mengingat sebagian besar masih bersikap hafalan semata tanpa menelusuri inti konsep secara mendalam, serta menemui hambatan saat mencoba menghubungkan teori dengan praktik nyata (Wayudi et al. , 2020. Ardiyanti & Nuroso, 2. Di samping itu, kecenderungan dalam berpikir kritis, yang mencakup dimensi sikap dan dorongan internal, memegang peranan krusial dalam keberhasilan pengasahan kemampuan analitis serta penyelesaian masalah (AsAoari et al. , 2017. Liu & Pysztor. Khususnya dalam pembelajaran mata pelajaran Ekonomi, keterampilan berpikir kritis menjadi fondasi penting untuk menuntun siswa memahami mekanisme berbagai fenomena ekonomi sekaligus membuat keputusan yang logis dan tepat. Oleh sebab itu, studi ini tidak sematamata berfokus pada pemetaan hubungan antar variabel yang diteliti, melainkan juga berfungsi sebagai pijakan empiris dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih menekankan partisipasi aktif serta kebutuhan peserta didik. Penelitian ini menitikberatkan pada analisis dampak disposisi berpikir kritis terhadap kemampuan berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah siswa. Lebih jauh, penelitian ini berupaya menelaah fungsi keterampilan berpikir kritis sebagai variabel mediator dalam interaksi tersebut. Wawasan yang diperoleh diharapkan menjadi fondasi penguatan kebijakan pembelajaran yang kemampuan berpikir kritis dan keterampilan pembelajaran ekonomi. METODE Studi ini memanfaatkan paradigma kuantitatif melalui metode asosiatif, sambil mengaplikasikan teknik pemetaan hubungan variabel . ath analysi. Model pemetaan hubungan yang diaplikasikan dijabarkan sebagaimana berikut: E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Disposisi Berpikir Kritis (X) Keterampilan Berpikir Kritis (Z) Keterampilan Pemecahan Masalah (Y) Gambar 1. Desain Analisis Jalur Berlandaskan kerangka analisis jalur, hipotesis penelitian dirajut dan dirumuskan dengan ketentuan berikut: Disposisi memengaruhi kemampuan berpikir kritis siswa. Disposisi pemecahan masalah siswa. Disposisi berpikir kritis berdampak tidak langsung pada pemecahan masalah melalui berpikir kritis siswa Pengumpulan informasi dalam studi ini dilaksanakan menggunakan kombinasi metode evaluatif dan non-evaluatif. Instrumen tes, baik yang bersifat objektif maupun subjektif, diterapkan untuk menilai kemampuan siswa kuesioner digunakan untuk menakar disposisi Penelitian diselenggarakan di SMAN 2 Sungai Penuh pada bulan Juni 2025. Populasi terdiri dari seluruh siswa kelas XI yang mengikuti mata pelajaran Ekonomi, yakni kelas XI H. XI I, dan XI J, dengan jumlah total 100 siswa. Sampel diambil melalui teknik proporsional acak . roportional random samplin. Metode pengolahan data dilakukan melalui analisis deskriptif dan analisis jalur, koefisien jalur menggunakan uji t. Suatu koefisien jalur dinyatakan signifikan apabila nilai t-hitung melebihi t-tabel pada tingkat signifikansi = 0,05. HASIL DAN PEMBAHASAN Merujuk pada analisis deskriptif menurut kategori kemampuan pemecahan masalah siswa, yakni tinggi untuk indeks >80, sedang 60Ae79, dan rendah <60 (Davita & Pujiastuti, 2. , hasil pengolahan data deskriptif rata-rata kemampuan pemecahan masalah beserta keterampilan berpikir kritis dari 100 peserta didik kelas XI SMAN 2 dapat dilihat pada tabel https://ejournal. id/index. php/mp | 440 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desemebr . Table 1. Uji Deskriptif Keterampilan Pemecahan Masalah Dan Keterampilan Berpikir Kritis Variabel Rata-rata Kategori nilai siswa Keterampilan Rendah Keterampilan 68,67 Sedang berpikir kritis E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Table 2. Uji Deskriptif Disposisi Berpikir Kritis Indikator Mean TCR Kategori Critical 4,02 Tinggi Opennes Reflective 4,14 Sangat Scepticism Sumber: Olah Data Primer 2025 Sumber: Olah Data 2025 Berdasarkan Tabel 2 di atas, secara umum, tingkat disposisi berpikir kritis peserta didik tergolong tinggi hingga sangat tinggi. Hasil ini mengindikasikan bahwa mayoritas siswa menunjukkan kecenderungan positif dalam kemampuan berpikir kritis, baik dari sisi keterbukaan terhadap gagasan maupun kemampuan menilai serta merenungkan informasi secara mendalam. Selanjutnya, dilakukan pengujian terhadap asumsi klasik, heteroskedastisitas data. Analisis normalitas melalui prosedur Kolmogorov-Smirnov menggunakan SPSS menunjukkan hasil signifikan dengan memperhatikan nilai residual Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,200, yang berada di atas ambang 0,005. Nilai signifikansi 0,05, disimpulkan bahwa uji normalitas dalam penelitian ini menunjukkan distribusi data yang Hasil analisis deskriptif mengungkapkan bahwa skor rata-rata kemampuan siswa kelas XI SMAN 2 dalam memecahkan masalah mencapai 42,5, yang diklasifikasikan dalam kategori rendah. Sebaliknya, skor rata-rata kemampuan berpikir kritis tercatat sebesar 68,67, tergolong pada kategori menengah. Temuan ini menandakan bahwa kemampuan pemecahan masalah memerlukan perhatian dan pengembangan yang lebih intensif dibandingkan dengan kemampuan berpikir Selanjutnya, analisis deskriptif terhadap variabel disposisi berpikir kritis mengacu pada klasifikasi menurut Muri Yusuf . , dengan kategori sebagai berikut: sangat tinggi 90Ae100, tinggi 80Ae89, cukup 65Ae79, kurang 55Ae64, dan sangat kurang 0Ae54. Rincian hasil dapat dilihat pada tabel berikut ini: Table 3. Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. c Monte Carlo Sig. Sig. -taile. e Confidence Interval Unstandardized Residual ,0000000 5,25588462 ,050 ,045 -,050 ,050 ,200d ,780 Lower Bound ,769 Upper Bound ,790 Sumber: Olah Data 2025 Berdasarkan pengujian heteroskedastisitas, diperoleh bahwa signifikansi variabel disposisi berpikir kritis sebesar 0,103>0,05, sedangkan variabel keterampilan berpikir kritis tercatat 0,096 > 0,05, sehingga dapat disimpulkan kedua variabel tersebut bebas dari indikasi https://ejournal. id/index. php/mp | 441 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desemebr . E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 Table 4. Uji Heterokedastisitas Coefficientsa Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Model Std. Error Beta (Constan. 9,720 2,506 Disposisi Berpikir -,927 ,562 -,163 Kritis Keterampilan -,207 ,123 -,166 Berpikir Kritis Dependent Variable: ABS_RES Sig. 3,879 ,000 -1,648 ,103 -1,683 ,096 Sumber: Olah Data 2025 Table. 5 Analisis Jalur Sub Struktur I Unstandardized . Disposisi berpikir kritis Unstandardized Std error Beta Sig. 7,501 ,180 1,913 ,461 ,039 3,922 ,390 ,000 ,697 dependent Variabel: keterampilan berpikir kritis Sumber:Olah Data 2025 Tabel 5 memperlihatkan koefisien jalur pengaruh disposisi berpikir kritis terhadap kemampuan berpikir kritis sebesar 0,039, dengan t hitung 0,390 dan signifikansi 0,679 (>0,. Temuan ini menegaskan bahwa disposisi berpikir kritis tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap keterampilan berpikir kritis siswa. Tabel. 6 Analisis Jalur Sub Struktur II Unstandardized Unstandardized Std error 18,869 4,338 Disposisi berpikir kritis -2,418 ,974 Keterampilan berpikir kritis ,581 ,213 dependent Variabel: keterampilan pemecahan masalah Beta 0,237 ,260 4,349 2,729 Sig. ,000 ,015 ,008 Sumber: Olah Data Primer 2025 Tabel 6 mengindikasikan bahwa disposisi berpikir kritis berkontribusi pada keterampilan pemecahan masalah sebesar 0,237, dengan t hitung -2,484 dan signifikansi 0,015<0,05. Temuan ini menegaskan adanya pengaruh disposisi berpikir kritis terhadap keterampilan pemecahan masalah siswa. Selain itu, koefisien jalur keterampilan berpikir kritis terhadap pemecahan masalah tercatat 0,260, t hitung 2,729, dan signifikansi 0,008<0,05, yang menunjukkan pengaruh nyata variabel tersebut. Dengan demikian, analisis jalur menyimpulkan hasil akhir sebagai Disposisi (X) Pyx = 0,039 Keterampilan berpikir kritis (Z) Gambar 2. Analisis Jalur Sub 1 Disposisi berpikir (X) Keterampilan Berpikir Kritis (Z) Keterampilan Pemecahan Masalah (Y) Gambar 3. Analisis Jalur Sub 2 Analisis jalur akhir mengindikasikan bahwa model yang dibangun memenuhi memproyeksikan kemampuan pemecahan masalah lewat disposisi serta keterampilan berpikir kritis. Analisis jalur mengungkap bahwa kecenderungan untuk berpikir kritis tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Valenzuela et al. , . bahwa memiliki disposisi berpikir kritis tidak otomatis menjamin keterampilan berpikir kritis https://ejournal. id/index. php/mp | 442 Jurnal Muara Pendidikan Vol. 10 Issue 2. Desemebr . yang tinggi, begitu pula sebaliknya. Disposisi berpikir kritis lebih menekankan pada sikap dan motivasi, sementara keterampilan berpikir kritis memerlukan latihan berulang dan strategi pembelajaran yang tepat. Temuan ini konsisten dengan penelitian Sumarmo et al. , . dan Sritresna, . yang menyatakan bahwa disposisi berpikir kritis tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Hasil analisis jalur memperlihatkan berpengaruh langsung secara signifikan masalah, meskipun kemampuan berpikir kritis tidak menjadi perantara hubungan tersebut. Temuan ini sejalan dengan pandangan Sk & Halder . yang menyatakan bahwa disposisi berpikir kritis merupakan kebiasaan nyata individu dalam bertindak kritis yang langsung mendukung pemecahan masalah. Normile . menegaskan bahwa meski disposisi penting, keberhasilan berpikir kritis memerlukan keterampilan dan pengetahuan yang memadai. Situasi ini diperburuk oleh minimnya latihan analisis dan diskusi kritis dalam pembelajaran. Dengan demikian, disposisi berpikir kritis yang kuat tetap mendorong kemampuan pemecahan masalah secara langsung (Apri Kurniawan, 2. Selain itu, kemampuan berpikir kritis terbukti memberi dampak positif dan signifikan Kemampuan ini mencakup analisis, landasan penting dalam penanganan masalah secara sistematis (Lai, 2011. Sundari, 2. Sulistyorini & Napfiah . turut menguatkan temuan ini dengan menyatakan bahwa keterampilan berpikir merupakan faktor utama dalam peningkatan kapasitas pemecahan masalah siswa. Secara umum, walaupun keterampilan berpikir kritis tidak memediasi hubungan antara disposisi berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah, keduanya tetap secara signifikan mendukung efektivitas pemecahan Hasil ini menekankan pentingnya pembinaan disposisi dan keterampilan berpikir kritis secara bersamaan melalui strategi pembelajaran berkelanjutan, agar siswa tidak hanya memiliki sikap positif terhadap berpikir kritis, tetapi juga mampu menerapkannya secara praktis dalam penyelesaian masalah. KESIMPULAN Hasil penelitian menegaskan bahwa sikap kritis siswa tidak serta merta memengaruhi kemampuan berpikir kritis mereka, menunjukkan bahwa kecenderungan E-ISSN: 2621-0703 P-ISSN: 2528-6250 untuk kritis tidak otomatis bertransformasi menjadi keterampilan nyata tanpa bimbingan belajar yang memadai. Disposisi memengaruhi kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah, meski keterampilan berpikir kritis sendiri tidak menjadi penghubung antara keduanya. Artinya, sikap kritis dan kebiasaan berpikir siswa dapat langsung meningkatkan penyelesaian masalah tanpa melalui aspek teknis keterampilan berpikir. Keterampilan berpikir kritis terbukti secara nyata mendukung kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah, menekankan urgensi penguatan analisis dan evaluasi sebagai dasar pemecahan masalah. Oleh karena itu, pengembangan sikap dan keterampilan berpikir kritis harus dilakukan bersamaan secara berkesinambungan melalui pendekatan pembelajaran yang menyeluruh, agar siswa tidak hanya terbuka terhadap mengaplikasikannya secara efektif. DAFTAR PUSTAKA