KALATANDA: Jurnal Desain Grafis dan Media Kreatif Vol. Issue 1, pp. 48Ae52 . doi: http://doi. org/10. 25124/kalatanda. RESEARCH ARTICLE Redesain Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung Dengan Pendekatan Adaptive Reuse Gilang Assa Ichwanto. AkhmadiO and Hendi Anwar Fakultas Industri Kreatif. Universitas Telkom. Bandung, 40257. Jawa Barat. Indonesia Corresponding author: akhmadi@telkomuniversity. Abstrak Gedung Kesenian Rumentang Siang merupakan salah satu gedung pertunjukkan yang masih aktif di Kota Bandung, meskipun fasilitasnya sudah kuno. Gedung ini awalnya dibangun sebagai gedung bioskop dan di alih fungsikan. Kota Bandung merupakan kota dengan beragam komunitas seni dan seniman yang sedang berkembang. Kota Bandung memiliki lebih dari 887 jenis kesenian yang tersebar di berbagai sanggar, komunitas, dan padepokan. Meskipun Kota Bandung begitu kaya akan seni, masalah yang dihadapi adalah kurangnya gedung pertunjukkan yang sesuai dan memadai. Hal ini menjadi masalah karena terbatasnya ruang dan lahan yang dapat digunakan untuk membangun gedung pertunjukkan baru akibat padatnya penduduk di kota ini. Pengoptimalan gedung yang ada dapat menjadi salah satu solusi untuk mengantisipasi dan memfasilitasi penggiat seni yang jumlahnya semakin banyak. Dengan banyaknya pertunjukkan seni yang diadakan. Gedung Rumentang Siang yang merupakan salah satu gedung heritage yang digunakan sebagai gedung pertunjukan hanya akan semakin terbebani. Pendekatan adaptive reuse biasa digunakan pada bangunan heritage dalam pelestariannya agar tidak mengurangi nilai sejarah yang terdapat pada bangunan tersebut. Perancangan gedung pertunjukan Rumentang Siang ini diharapkan dapat menciptakan gedung pertunjukan yang memiliki fasilitas dan aksesibilitas memumpuni untuk memfasilitasi penggiat seni Kota Bandung serta merancang gedung pertunjukan yang terbarukan dengan tetap mempertahankan nilai sejarah dan budaya. Key words: gedung pertunjukan, adaptive reuse, bangunan hertage. Pendahuluan Gedung Pertunjukan adalah bangunan yang fungsinya untuk menampung dan memfasilitasi berbagai pertunjukan. Menurut Putra . , gedung pertunjukan merupakan suatu fasilitas semi publik yang bertujuan untuk menghibur penonton melalui berbagai jenis pertunjukan. Definisi ini berasal dari Standar Usaha Gedung Pertunjukan Seni Kementerian Pariwisata Tahun 2015 No. 17 yang menyatakan: AyGedung acara adalah suatu bangunan yang menyediakan tempat pertunjukan di dalam atau di luar ruangan dengan fasilitas untuk kegiatan pertunjukan seni. Ay Kedua definisi ini tidak memaksakan batasan tertentu pada Aytampilan dan nuansaAy yang dapat diasumsikan oleh suatu konstruksi kinerja agar dapat dipahami. Kota Bandung merupakan kota yang dikenal sebagai pusat seni dan budaya dengan beragam komunitas seni dan seniman yang berkembang pesat, terdapat banyak kelompok seni dan perguruan tinggi yang mendukung ekosistem Sebagai pusat perkotaan yang menjadi titik pertemuan individu dengan latar belakang budaya yang beragam, kota ini menawarkan berbagai jenis seni yang sangat beragam. Kota Bandung memiliki lebih dari 887 jenis kesenian yang tersebar di berbagai sanggar, komunitas, dan padepokan. Meskipun Kota Bandung begitu kaya akan seni, masalah yang dihadapi adalah kurangnya gedung pertunjukkan yang sesuai standar dan memadai. Fuadona . mengatakan bahwa beberapa daerah yang berada di Kawasan Jawa Barat, salah satunya adalah Kota Bandung, kekurangan gedung pertunjukkan yang memadai. Hal ini menjadi masalah karena terbatasnya ruang dan lahan yang dapat digunakan untuk membangun gedung pertunjukkan baru akibat padatnya penduduk di kota ini. Pengoptimalan gedung yang ada, dapat menjadi salah satu solusi untuk mengantisipasi dan memfasilitasi penggiat seni yang semakin berkembang. Berdasarkan pengamatan di Gedung Kesenian Rumentang Siang, beberapa permasalahan utama yang diidentifikasi adalah kurangnya elevasi dan kualitas kursi penonton, pencahayaan yang tidak memadai di auditorium dan panggung, serta sirkulasi penonton yang belum Selain itu, ruang rias belum dipisahkan untuk pria dan wanita, dengan fasilitas pendukung dan pencahayaan yang sudah usang. Area lobby masih memiliki banyak ruang kosong yang belum dimanfaatkan secara optimal, dan ruang kantor kurang dilengkapi perabotan yang memadai untuk menampung penambahan kapasitas. Ruang operator A The Author 2025. Published by Telkom University. Redesain Gedung Kesenian. juga mengalami masalah dengan meja penunjang yang tidak memadai dan area penyimpanan yang tidak teratur, serta ruang tunggu operator yang masih kosong. Disamping itu, kebisingan dari lingkungan sekitar mengganggu kegiatan di dalam gedung. Banyak ruangan yang belum dimanfaatkan dengan baik, sementara sebagai bangunan cagar budaya. Gedung Kesenian Rumentang Siang tidak diperbolehkan untuk mengalami perubahan mendalam. Bangunan Rumentang Siang yang merupakan bangunan bersejarah di Kota Bandung, memerlukan solusi khusus karena adanya peraturan yang mengatur terkait renovasi bangunan bersejarah di Indonesia. Adaptive reuse merupakan salah satu cara untuk merenovasi bangunan bersejarah. Menurut Fitch . adaptive reuse adalah penggunaan kembali secara adaptif atau praktik mengubah bangunan lama menjadi fungsi baru. Diubahnya fungsi gedung ini menjadi gedung pertunjukan tidak diikuti dengan perubahan fasilitas berdasarkan standar gedung pertunjukan. Oleh karena itu, perbaikan dan adaptasi pada gedung pertunjukan ini terhadap perkembangan seni, teknologi, dan zaman. ini menjadi sangat penting. Melalui perancangan ini, diharapkan tercipta interior gedung pertunjukan dengan fasilitas memadai bagi penggiat seni di Kota Bandung, serta pemanfaatan ruang yang lebih optimal melalui tata ruang yang efektif dan efisien untuk meningkatkan fungsi bangunan. Desain ini juga bertujuan untuk merancang interior yang modern sambil tetap mempertahankan nilai sejarah dan budaya, sehingga Gedung Kesenian Rumentang Siang dapat menjadi salah satu gedung pertunjukan yang representatif, mampu memfasilitasi dan mendukung penggiat seni dengan lebih baik, serta lebih banyak menggelar pertunjukan guna melestarikan seni dan budaya yang merupakan bagian integral dari kota ini. Gambar 1. Mindmap tema Metodologi Penelitian Tahapan dalam metode perancangan yang digunakan dalam proses perancangan Gedung Kesenian Rumentang Siang ini yaitu sebagai Tahap Pengumpulan Data Untuk tahapan pengumpulan data primer dilakukan dengan proses observasi, dan studi kasus. Sedangkan untuk data sekunder dilakukan studi literatur dengan mengumpulkan jurnal-jurnal penelitian, karya Gambar 2. Mindmap konsep Pengembangan Desain Observasi Untuk proses observasi ini dilakukan dengan mengunjungi langsung ke lokasi yang terletak di Jl. Baranang Siang No. 1 Kecamatan Sumur Bandung. Kota Bandung. Jawa Barat 40112. Pengembangan desain yang berasal dari sintesa terhadap data yang sudah dilakukan. Hasil dan Pembahasan Studi Kasus Tema dan Konsep Studi kasus dilakukan pada beberapa Gedung Pertunjukan secara luring dan daring. Tema yang di ambil untuk Perancangan Interior Gedung Kesenian Rumentang Siang ini yaitu AyAdaptation in HarmonyAy Dalam tema ini menggambarkan keselarasan atau keseimbangan dalam sebuah adaptasi sesuai kebutuhan atau perubahan lingkungan dan zaman, menyesuaikan elemen-elemen agar tetap seimbang dan serasi Sebagaimana ditampilkan pada gambar 1. Tema ini mengadopsi sebuah perubahan fungsional yang dapat meningkatkan kenyamanan dan memberikan kehidupan baru pada ruang. Tema umum yang merupakan penggabungan kata dari: Studi Literatur Untuk studi literatur yang dilakukan berasal dari pengumpulan beberapa jurnal-jurnal penelitian, buku, lembar peraturan pemerintah dan karya ilmiah penulis. Sintesa Data Setelah melakukan pengumpulan data dan membandingkan dengan studi khasus, dilakukan proses pemecahan masalah dengan menentukan pendekatan desain, progamming, tema sera konsep desain dan sebagainya yang diharapkan dapat memecahkan permasalahan Adaptation Adaptation mengacu pada pendekatan desain yang dilakukan pada perancangan Gedung Kesenian Rumentang Siang kali ini, dimana sebuah adaptasi pada bangunan cagar budaya terhadap perubahan fungsi dan perkembangan zaman seni pertunjukan. Ichwanto et al. Gambar 4. Implementasi insertion pada interir auditroium Gambar 3. Konsep Sirkulasi Ruang Harmony Harmony yang berarti keharmonisan, dalam beradaptasi ada gabungan beberapa elemen yang memiliki perbedaan kontras antara bangunan dengan elemen-elemen baru yang di tambahkan pada bangunan. Penerapan pendekatan adaptive reuse dapat menciptakan ornamen yang kontras terhadap bangunan. Konsep Implementasi Perancangan Gambar 5. Exploded view implementasi insertion pada interior auditorium Gambar 2 menunjukan konsep yang diambil untuk perancangan interior Gedung Kesenian Rumentang Siang adalah AyIndische Art Deco,Ay yang merupakan perpaduan antara gaya arsitektur kolonial Belanda dan Art Deco, menciptakan bangunan yang elegan dan mewah. Perancangan ini mengikuti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, khususnya Pasal 83 tentang Adaptasi, yang menekankan pentingnya mempertahankan gaya arsitektur, konstruksi asli, dan keharmonisan estetika bangunan cagar budaya. Identitas arsitektur lokal Bandung mencakup elemen arsitektur kolonial, iklim tropis, dan nilai budaya Sunda, yang semuanya tercermin dalam gaya arsitektur Indische. Gaya Indische Art Deco, yang dipengaruhi oleh arsitektur Eropa, terutama gaya Empire dan Art Deco, ditandai dengan penggunaan bahanbahan mewah serta desain yang simetris dan geometris. Material seperti kayu, granit, dan tegel sering dipilih untuk menciptakan lantai yang elegan dan kokoh. adalah Penggunaan kembali secara adaptif yaitu praktik mengubah bangunan lama menjadi fungsi baru. Ini adalah langkah ekonomis untuk menyelamatkan bangunan. Proses ini umumnya melibatkan perubahan besar, terutama perubahan internal organisasi. Adaptive reuse adalah solusi dan kebijakan yang bertujuan untuk menjaga kelestarian bangunan tua dengan memberikan fungsi baru yang bermanfaat, baik secara virtual maupun psikologis, sehingga dapat dirasakan oleh masyarakat. Pendekatan ini memungkinkan bangunan untuk mengikuti perkembangan zaman melalui perubahan kegunaan dan perbaikan bagian-bagian yang sudah usang atau rusak, dengan tetap mempertimbangkan keaslian bangunan tersebut . Secara umum untuk objek yang akan didesain menggunakan beberapa jenis pendekatan adaptif desain yaitu : Konsep Sirkulasi Ruang Pola Radial pada Layout bangunan dimana terpusat pada ruangan auditorium sedangkan pola srikulasi Linear pada pergerakan pengunjung dimana perbedaan pintu masuk dan keluar pada area ruang Ruangan akan diletakkan secara terpusat, pusat ruangan pada gedung ini adalah auditorium. Hal ini diperuntukkan agar memudahkan pengunjung saat mengakses ruangan. Sirkulasi tersebut sudah mengikuti bentuk bangunan asli dikarenakan, bangunan tersebut merupakan bangunan cagar budaya sehingga, tidak banyak perubahan pada layout. Sirkulasi dipisahkan antara Pengunjung VIP dan Reguler dapat dilihat pada gambar 3 berikut. Konsep Pendekatan Pendekatan pada perancangan Gedung Kesenian Rumentang Siang Adalah Pendekatan Adaptive reuse. Menurut Fitch . adaptive reuse Insertion Insertions dimana suatu struktur yang baru akan di AyinsertAy yang berarti dimasukannya ke dalam suatu struktur yang lama. Penerapan utama yang akan di terapkan pada objek perancangan ini dengan menambahkan sesuatu dengan struktur baru tetapi tidak merusak bangunan (Gambar . insertion akan diterapkan pada pembangunan tribun untuk kursi penonton agar dapat memenuhi standar. Gambar 5 menunjukan konsep adaptasi yang digunakan adalah insertion dan weaving. Memasukan kerangka baru untuk tribun pengunjung dan memasukan partisi yang berfungsi untuk menopang disfuser dan menutupi tembok eksisting disambungkan kedalam Konstruksi Podium hal ini bertujuan agar mengurangi beban struktur pada bangunan lama. Penanganan lain pada dinding yaitu penggunaan wall panel agar tidak merusak dinding, serta menggunakan warna cat yang sesuai karatker gaya bangunan. Selain itu, bentuk Redesain Gedung Kesenian. Gambar 6. Implementasi juxtaposition Gambar 8. Denah layout It 1 Gambar 7. Implementasi juxtaposition wall panel seperti diatas dapat membuat air gap pada dinding yang berfungsi uantuk meredam suara dari luar bangunan. Juxtaposition Juxtaposition adalah tindakan menambahkan struktur atau massa bangunan baru dengan menempatkannya secara berdampingan atau berlawanan dengan struktur lama, dimana bangunan baru tersebut memiliki fungsi tertentu. Juxtaposition dapat diterapkan dalam berbagai konteks, seperti sastra, seni, dan bahasa, untuk menonjolkan perbeda antara dua elemen yang berbeda, implementasi dari juxtaposition ini dapat diamati pada gambar 6 di atas. Menurut Fikrissalim, dkk . Identitas lokal Bandung secara arsitektural akan melibatkan ketiga hal tersebut, yakni arsitektur kolonial, iklim tropis, dan nilai budaya Sunda, yang semuanya sudah terangkum dalam arsitektur indische. Konsep Ornamen pada bangunan ini manggabungkan antara gaya art deco dengan motif kearifan lokal, teratoma motif batik tersaji dalam gambar 7 berikut. Dengan memadukan gaya Art Deco dengan ornamen lokal pada bangunan bersejarah diharapkan tidak hanya menciptakan arsitektur yang estetis, tetapi juga memperkaya makna bangunan itu sendiri. Gambar 9. Perubahan ruang menjadi cafetaria Gambar 10. Ruang VIP 3 Konsep Reuse Perubahan fungsi ruang yaitu sebagai berikut : Pada Gambar 8 diperlihatkan perubahan ruang yang tadinya merupakan area kantor dan area kosong menjadi cafetaria dan komunal space. Bertujuan untuk mengidupkan kegiatan pada bangunan saat tidak ada pertunjukan yang berlangsung. Cafetaria bisa menjadi sumber pemasukan bagi pengelola sedangkan komunal space dapat digunakan untuk komunitas untuk kegiatan yang sekalanya lebih kecil dan pelajar untuk mengerjakan tugas bersama . Perubahan area enterence pada bagian selatan bangunan diubah menjadi area VIP 3. Area Gambar 11. Before after ruang tunggu pementas vip yang lebih privat dimana memiliki akses masuk dan keluar yang berbeda terlihat pada gambar 10. Pada gambar 11 terlihat perubahan area kosong yang menjadi area tunggu bagi pementas. Perubahan gudang dan area kosong menjadi ruang rias pria. Hal ini membuat banguanan Ichwanto et al. gedung ini menjadi lebih produktif dan bermanfaat bagi masyarakat. Hal ini juga diharapkan dapat menjadikan Gedung Kesenian Rumentang Siang sebagai daya tarik baru dan destinasi wisata di Kota Bandung, yang pada gilirannya meningkatkan perekonomian kota. Daftar Pustaka