Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Juli 2022, 8. : 1038-1047 DINAMIKA AKSES PENGUASAAN TANAH. SISTEM USAHA TANI, DAN PILIHAN KOMODITAS: Studi Kasus di Kawasan Hutan Gunung Kaledong DYNAMICS OF ACCESS TO LAND TENURE. FARMING SYSTEMS, AND COMMODITY OPTIONS: Case Study in Mount Kaledong Forest Area M Gunardi Judawinata Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Padjadjaran Jl Ir Soekarno Km 21. Jatinangor. Kabupaten Sumedang Email: gunardi. judawinata@unpad. (Diterima 13-05-2022. Disetujui 24-06-2. ABSTRAK Tulisan ini, berangkat dari hasil-hasil penelitian awal yang dilakukan sejak akhir tahun 2020, dengan menggunakan perspektif ekologi-politik akan menjelaskan dinamika petani untuk menguasai tanah di areal-areal yang termasuk dalam Aokawasan hutanAo di Kawasan Gunung Kaledong (Jawa Bara. dan dinamika perubahan penggarapan lahan di kawasan tersebut Ae dari ketegangan menjadi Aokerja samaAo. Selain itu, tulisan ini juga akan menjelaskan bentuk-bentuk atau pola usaha tani/sistem produksi yang berlangsung akibat berkembangnya nilai komoditas kopi. Proposisi pertama berangkat dari argumen bahwa dinamika akses penguasaan dan penggarapan lahan memiliki konsekuensi pada relasi-relasi produksi dan organisasi sosial produksi . istem pertanama. dimana pilihan komoditas menjadi faktor penentu dalam dinamika tersebut. Proposisi kedua adalah komoditas kopi yang bernilai ekonomis tinggi, meskipun membuka peluang bagi petani untuk menggarap sejumlah lahan di dalam Aokawasan hutanAo, membuat petani yang terlibat dalam usahatani tidak mempunyai kebebasan dalam mengelola semua faktor produksi. Sehingga dapat dikatakan mereka tidak dalam posisi sebagai Aupetani independenAy, tetapi hanya beperan sebagai produsen komoditas kecil, sementara kontrol ekonomi terbesar berada pada aktor-aktor non-petani. Kata Kunci: Akses. Penguasaan lahan. Pilihan komoditas. Usahatani ABSTRACT This paper, departing from the results of preliminary research conducted since the end of 2020, using a political-ecological perspective will explain the dynamics of farmers to control land in areas that are included in the 'forest area' in Kawa-san Mount Kaledong ( West Jav. and the dynamics of changing land use in the area Ae from tension to 'cooperation'. In addition, this paper will also explain the forms or patterns of farming/production systems that take place due to the development of the value of coffee commodities. The first proposition departs from the argument that the dynamics of access to tenure and land cultivation have consequences on production relations and social organization of production . lanting syste. where the choice of commodity is a determining factor in these dynamics. The second proposition is that coffee has a high economic value, although it opens up opportunities for farmers to cultivate a number of lands within the 'forest area', leaving farmers involved in farming without the freedom to manage all factors of production. So it can be said that they are not in a position as Auindependent farmersAy, but only as small commodity producers, while the largest economic control lies with non-farmer actors. Keywords: Access. Commodity choice. Farming. Land tenure DINAMIKA AKSES PENGUASAAN TANAH. SISTEM USAHA TANI. DAN PILIHAN KOMODITAS M Gunardi Judawinata demi perlawanan dalam bentuk gerakan- PENDAHULUAN Sejalan dengan perubahan waktu, gerakan petani yang dimotori oleh para persaingan sumber daya alam telah aktivis kampus atau serikat kaum tani memunculkan politik kekuasaan. Dimulai ataupun LSM/ONOP atau NGO tidak pada masa pernah surut. Jatuhnya Pemerintahan tanah-tanah pada suatu komunitas diatur Orde Batu tahun 1998 yang ditandai menurut ketentuan adat. Pada masa sebagai era reformasi telah memberikan Kolonial selanjutnya secara perlahan nuansa baru dalam penanganan konflik kontrol dan penguasaan tanah beralih ke agraria di Indonesia. Beberapa tuntutan tangan pemerintah kolonial. Pada masa petani ada yang dikabulkan lalu diberi orde baru hubungan rakyat dalam hal ini kaum tani kembali menjadi jauh dengan mengambang/ambigu sehingga meskipun Pra-kolonial, ketidakjelasan UUPA No. 5 1960 yang informal/"dibawah tangan". Itu semua senjangnya kehidupan ekonomi di daerah adalah lahan hasil redistribusi, baik yang menjadi milik negara dengan status Dalam umumnya tidak berjalan mulus . ebagian masyarakat yang berada dalam wilayah besa. yaitu lahan tersebut ditelantarkan kembali atau dipindah-tangankan hak disekeliling kebun yang umumnya miskin garapannya kepada para pemilik modal dan tidak berlahan karena mereka turunan besar di pedesaan dan akhirnya kaum tani dari pekerja perkebunan sejak jaman Belanda. Selain itu, situasi ini mendorong menuntut kembali hak atas tanahnya dan para tunakisma atau kaum tani tidak inilah kecenderungan Reforma Agraria lahan-lahan terjebak bagaikan Aulingkaran setanAy yaitu Kebutuhan akan kembali merebut tanah, karena tidak tanah atau tanah untuk berusaha tani telah dapat melaksanakan hasil akhir dari memunculkan perlawanan dan konflik- program reforma agraria yaitu membuat konflik agraria, sehingga perlawanan kaum tani hidupnya berdaulat. Oleh karena "kedermawananAy pemerintah. AoAoHGUAoAo telah menimbulkaan riak-riak orang-orang Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Juli 2022, 8. : 1038-1047 karena itu program Reforma Agraria tanah di Kecamatan Nagreg Kabupaten yang digagas oleh pemerintah merupakan Bandung yaitu di Desa Ciherang yang bentuk inisiatif negara agar masyarakat wilayahnya berdekatan dengan Kawasan dapat mengakses lahan land reform Gunung Kaledong memiliki keunikan sepertinya untuk menjawab ketimpangan Penguasaan garapan tanah ini Gunung Kaledong, walaupun dalam pelaksanaannya belum masyarakat adalah legal karena memiliki legalitas berupa SKPT (Surat Keterangan ketidakberlanjutan usaha tani pada tanah Penggarapan Tana. / AukikitirAy atau Auletter negara yang dikuasakan kepada kaum CAy Reforma setempat, legalitas inilah yang dijadikan Agraria tidak berjalan mulus. Hasil dasar untuk menggarap tanah di kawasan Pada tahun 1986 seiring dengan Kemandegan Program Tridakusumah mengungkap bahwa ketimpangan struktur agraria ditentukan oleh faktor pemicu terpakainya kawasan hijau berupa hutan, relasi agraria yang tidak seimbang, maka pemerintah daerah propinsi Jawa Barat melakukan upaya "Ruislag" dengan Oleh Waduk Cirata lokasi di Gunung Kaledong. Corak bercocok tanam di tanah negara dalam kawasan Hutan Gunung Kaledong Desa Ciherang kedaulatan, diidentifikasi terjadi karena Kecamatan Nagreg Kabupaten Bandung, reforma agraria terhenti sampai pada usaha tani yang dilakukan masyarakat Borras . dan Putzel . ada berdasarkan komoditas seperti Tanaman serangkaian proses lanjutan yang harus Kopi dilakukan untuk memproduktifkan lahan Hortikultura garapan dan mewujudkan tujuan reforma Ciherang tanaman Kopi diusahakan lebih Berbeda Padahal . Palawija Kolektif. Desa dominan secara kolektif yang diwadahi pengelolaan lahan garapan di Jawa Barat oleh lembaga yang berkolaborasi dengan pada umumnya, sejarah pengelolaan DINAMIKA AKSES PENGUASAAN TANAH. SISTEM USAHA TANI. DAN PILIHAN KOMODITAS M Gunardi Judawinata Perum Perhutani stakeholder yaitu "Sunda Hijau" di Garut. masuk wilayah kabupaten Bandung. Uraian-uraian diatas menunjukkan Penelitian Penjelasan dua fenomena yang saling bertolak belakang yaitu: kesatu. Sistem produksi berdasarkan kenyataan empirik mengenai pertanian/usaha tani di tanah negara ex- dinamika aksesibilitas masyarakat yang HGU yang diberi akses dan dilegalitas tinggal di dalam dan sekitar Kawasan Program Redistribusi Tanah Hutan, dan . Penjelasan teoritik tentang Reforma hubungan akses terhadap lahan, relasi produksi, dan bentuk organisasi produksi Agraria/Landreform . saha tan. serta pilihan komoditas. Kedua. Di sisi lain ada fenomena yaitu Sudut usaha tani yang dilakukan di tanah negara dalam kawasan hutan justru berjalan menyangkut tiga aspek: dengan beragamnya pola usaha tani juga Struktur Agraria Pertanyaan Menurut Tuma . , mengutara- diajukan adalah: Apakah ada keterkaitan kan kemajuan dan produktivitas usaha antara Corak bercocok tanam dengan tani . arming syste. dan pertanian akses penguasaan tanah dan atau aspek ditentukan oleh kombinasi tiga faktor, teknis maupun sosial ekonomi usaha tani, yakni: Sistem Penguasaan Tanah (Land apabila salah satu atau keduanya ada Tenure Syste. Corak Usaha tani/ keterkaitan maka adakah faktor-faktor Bercocok lain yang bersifat holistik mempengaruhi Cultivatio. , dan Batasan-batasan Serta atau membentuk sistem produksi/usaha Skala Usaha Produksi (Term of Holding and Scale of Operatio. Ketiga aspek ini Tanam (Patterns Penelitian ini akan melihat dan yang disebutnya sebagai elemen-elemen menganalisis bagaimana dinamika akses pembentukan struktur agraria pada satu petani dalam menguasai tanah khususnya di areal-areal yang termasuk dalam Dinamika Akses kawasan hutan untuk digunakan sebagai lahan pertanian di Teori akses (Theory of Acces. wilayah gunung yang dikemukakan oleh Ribot and Peluso . adalah tentang kemampuan orang Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Juli 2022, 8. : 1038-1047 per orang atau sekelompok orang untuk juga yang dapat memicu terjadinya konflik di sekitar kawasan hutan karena ada lahan pribadi yang sebelumnya digarap baik didapat karena program livelihood/matapencahariannya redistribusi atau kelonggaran akses tapi membuat ketidakjelasan baik itu pada formal/negara yang mengatur tentang kasus Hutan Negara atau Tanah Negara ex-HGU, sehingga muncul kasus-kasus menggunakan tanah tersebut atau ada pengkatagorian orang. kedua, apakah Sistem Produksi semua areal dapat digunakan untuk Pola penggarapan di tanah negara berbagai macam aktivitas. ketiga, ketika dalam kawasan hutan terfokus pada dua areal itu digunakan bagaimana statusnya apakah milik atau sekedar menguasai. produksi tanaman dalam suatu sistem Teori usaha tani yang terkait dengan pola konsepsi/penguasaan tanam (Cropping Patter. yaitu susulan tanah yang sifatnya the common yaitu kombinasi pertanaman menurut dimensi segala sesuatu menjadi milik bersama, ruang . dan waktu (Satari, et al . Kedua Agroforestry menurut Lorenz dan Lal . menyiratkan berlawanan/versus konsep Hak milik penyertaan pohon atau tanaman keras (Property right. , pada prinsipnya teori kayu lainnya dalam sistem pertanian commons/kolektivitas tanaman keras dan musiman, dan atau antara manfaatnya Pertama. Apa saja yang disebut the adalah kemampuan sistem agroforestri commons, seperti tanah, air, pohon, yang lebih besar untuk menangkap dan memanfaatkan sumber daya pertumbuhan tertentu/territory. isal, cahaya, nutrisi, ai. dibandingkan sistem pengaturan/hukumnya. Hal ini dengan sistem spesies tunggal. Di daerah DINAMIKA AKSES PENGUASAAN TANAH. SISTEM USAHA TANI. DAN PILIHAN KOMODITAS M Gunardi Judawinata tropis, ini termasuk penanaman lorong, latar ilmiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode padang rumput, sistem penggembalaan yang ada. Sedangkan menurut Creswell silvopastoral, sistem tanaman pernaungan . , yang diarsir, sabuk pengaman, penahan pohon multi-guna di Selain penanaman lorong, pertanian hutan, strip perspektif-konstruktif . isalnya, makna- penyangga riparian, silvopasture, dan makna yang bersumber dari pengalaman penahan angin adalah praktik agroforestri individu, nilai-nilai sosial dan sejarah, di daerah beriklim sedang. Dengan dengan tujuan untuk membangun teori atau pola pengetahuan tertent. , atau struktural dan fungsional lebih kompleks daripada tanah pertanian atau padang . isalnya: orientasi terhadap politik, isu, rumput atau monokultur pohon. Sistem produksi pada tanah garapan Sumber data adalah data primer berbatasan dengan wilayah kehutanan yaitu berdasarkan data di lapangan, baik berupa data kuantitatif yang didapat dari multifungsi harus menganut kepada tiga hasil pemetaan menggunakan "drone" dan data kualitatif hasil wawancara, dan Oleh observasi-partisipasi menggunakan pedoman wawancara baik alternatif dalam sistem produksi yang berupa kuesioner terbuka maupun semi- akan kelola kaum tani. struktural yang dikembangkan dengan cara "snowball/bola salju". Data sekunder berupa data maupun peta didapatkan dari METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode instansi/kelembagaan terkait dengan tema kualitatif dengan pendekatan studi kasus penelitian ini dan juga berupa catatan Denzin dan Lincoln dalam Moleong sejarah, dokumen-dokumen terkait lahan . menyatakan penelitian kualitatif garapan dan jurnal-jurnal hasil penelitian adalah penelitian yang menggunakan Data sekunder dikumpulkan dari Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Juli 2022, 8. : 1038-1047 institusi terkait dan lapangan. Sedangkan data primer yang akan dikumpulkan komoditas "primadona" untuk dipasok ke berupa informasi dari informan, baik pasar tradisional. terkait sejarah gerakan, pola penguasaan Kaledong bukan kawasan hutan tetapi tanah, relasi-relasi sosial yang terbangun merupakan tanah garapan penduduk desa oleh tanah, perkembangan usaha tani di sejalan dengan situasi yang digambarkan lahan garapan, akses petani terhadap sumber daya produktif, program-program sekitar Tahun 1900 . Dalam terkait pengelolaan lahan garapan dan usaha taninya, kesesuaian lahan dan Informasi, verifikasi dan puncak adalah tanah tegalan dan ada sterilisasi data akan dilakukan melalui diskusi terfokus, wawancara mendalam. pemukiman warga pada waktu itu. Informasi Gunung Gunung Belanda Kaledong HASIL DAN PEMBAHASAN Menurut berdasarkan cerita para sesepuh pada jaman penjajahan, tanah disini tidak pernah di okupasi oleh belanda berbeda dengan tanah-tanah disekitarnya seperti di wilayah Cicalengka yang ditanami "sereh wangi" untuk pasokan bahan baku Gambar 1. Kondisi Gunung Kaledong Tahun 1900-an Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden pengolahan ke pabrik milik belanda di daerah Cicalengka. Oleh karena itu, masyarakat menganggap bahwa lahan Setelah terjadinya konflik pada tersebut milik masyarakat desa . anah tahun 1986, akhirnya masyarakat diberi akses menggarap tanah negara dalam kawasan hutan yang berstatus hutan produksi yang dikemas pada awalnya seperti padi ladang termasuk tembakau. dalam program PHBM Perum Perhutani Padi lalu mendapatkan legalitas penggarapan "tanaman yaitu berupa surat izin pemanfaatan hutan DINAMIKA AKSES PENGUASAAN TANAH. SISTEM USAHA TANI. DAN PILIHAN KOMODITAS M Gunardi Judawinata perhutanan sosial (IPHPS) sebagai bagian yang berada pada suatu areal yang dari program Perhutanan Sosial KLHK. Akses penguasan tanah ini hanya sekedar perbedaan pokoknya terletak pada obyek menjawab kebutuhan akan tanah tapi yang didistribusi/diredistribusi: Obyek tidak menjadi bagian dari mengeliminir AuhutanAy. Jadi "hutan"nya, sedangkan obyek forestry landreform adalah AulahanAynya. menggarap dengan pembatasan . Sistem produksi, dalam hal ini yang ditetapkan tanpa dapat menentukan usaha taninya, ditentukan berdasarkan pola dan sistem usaha taninya secara aturan yang ditentukan. Masyarakat tidak Bachriadi dapat memilih komoditas sesuai dengan . , ini hanya sekedar Forestry Refom Kopi sebagai komoditas Kedua yang disarankan oleh pihak pemerintah istilah ini berbeda maknanya, istilah dikelola secara kolektif dalam wadah forestry reform merujuk pada aktivitas atau kebijakan untuk menata ulang dibentuk atas inisiatif pemerintah bukan penguasaan dan penggunaan kawasan didasari oleh keinginan dari bawah dan Jadi yang ditata ulang lebih hanya terfokus pada kegiatan produksi kopi di tingkat hulu, sedangkan untuk Menurut Forestry Dianto Landreform. sumberdaya utama pada suatu kawasan pemasaran dikelola oleh kelembagaan hutan tanpa mengubah status kawasan Menurut Saragih . dalam Sementara forestry landreform Setiawan . bahwa agribisnis terdiri pada hakekatnya melakukan redistribusi atas 4 subsistem: pertama subsitem pemanfaatan sumberdaya kehutanan atau (KTH) (Up-Stream mungkin kepemilikannya dari tanah- Agribusines. , kedua subsitem usaha tani tanah yang tutupan lahannya dinyatakan . n-farm agribusines. , ketiga subsistem sebagai Aukawasan hutanAy. Forestry land . own-stream distribusi/redistribusi lahan, ketimbang penunjang . upporting syste. Oleh karena itu, agribisnis dapat dimaknai mengelola/menggunakan Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Juli 2022, 8. : 1038-1047 kolektif sebagai unit-unit usaha tani yang Apabila relasi produksi pengelola lahan produktif dan efisien. tidak memiliki kemamampuan untuk sekedar produsen komoditas kecil (AuNeo- PloretariatA. yang memiliki karakter pasif terhadap tanah yang dikelolanya sehingga juga tanpa kritik, maka disarankan peran surplus yang didapat tidak sepenuhnya negara/pemerintah melalui kebijakannya diterima oleh pelaku usaha produksi. harus peduli dan memayungi kepentingan Menurut Marx . , hal ini akan kelompok masyarakat yang tersingkirkan berpengaruh pada akumulasi modal yang masyarakat diberi kesempatan untuk Agar nasib "petani" tidak hanya mengelola sistem produksinya sendiri Sistem produksi dalam usaha tani dalam pola agroforestry ini dipengaruhi kapitalisme/neoliberal oleh proses akses terhadap penguasan akses pasar bebas serta memberikan tanah yang tidak mendudukan para produsen komoditas yang cenderung sehingga "petani" tidak memiliki posisi menurut Bernstein . karena tidak sepenuhnya menguasai faktor produksi dikeluarkan oleh pemerintah, walaupun termasuk akses pada pasar. kebijakan tersebut menjerat "kehidupan kaum petaniAy. KESIMPULAN DAN SARAN Pola DAFTAR PUSTAKA