Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2024, 7. , 216-225 Antibacterial activity test of n-hexane fraction and ethyl acetate of bandotan leaves (Ageratum conyzoides L. ) on bacteria Staphylococcus epidermidis Uji aktivitas antibakteri fraksi n-heksana dan etil asetat daun bandotan (Ageratum conyzoides L. ) terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis Rista Rafliza a. Haris Munandar Nasution a*. Gabena Indrayani Dalimunthe a. Elysa Putri Mambang a a Program Studi Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah. Medan. Sumatera Utara. Indonesia. *Corresponding Authors: harismunandar@umnaw. Abstract Bandotan (Ageratum conyzoides L) is a wild plant that is easy to find in Indonesia, known to have medicinal properties and has antibacterial properties. The purpose of this study was to determine the antibacterial activity of the n-hexane and ethyl acetate fractions of bandotan leaves (Ageratum Conyzoides L) against Staphylococcus epidermidis bacteria. This research was conducted using an experimental method including sample collection, macroscopic examination, microscopic examination, simplicia manufacture, characteristic examination, phytochemical screening, preparation of ethanol extract, then fractionation, then testing of antibacterial activity against Staphylococcus epidermidis bacteria using the agar diffusion method. Data obtained from the diameter of inhibition were statistically analyzed using the Anova test, then followed by the Kruskal-Wallis test and the Ducan test. The results of macroscopic examination, with dark color, eggshaped, two pointed, obtuse leaf base, serrated leaf margins, hairy veins on the upper and lower surfaces, slightly hairy young leaves, white hair color and pinnate veins. The results of microscopic examination, xylem, covering hair, mesophyll and anomocytic type of stomata. The simplicia characteristic results obtained water content of 7. 3%, water-soluble essence content of 32. 72%, 42. 5% ethanol-soluble extract content, total ash content of 3 . 3% and acid insoluble ash content of 1. Phytochemical screening of simplicia powders and extracts showed the presence of alkaloids, glycosides, flavonoids, tannins, saponins and steroids. The results of the antibacterial activity test of the n-hexan fraction on Staphylococcus Epidermidis bacteria at concentrations of 10%, 30%, 50% and 70% were included in the resistant category. Meanwhile, the ethyl acetate fraction at a concentration of 10%, 30% and 50% is in the resistant category, at a concentration of 70% it is in the intermediate category. So it can be concluded that the n-hexane and ethyl acetate fractions of bandotan leaves (Ageratum conyziodes L) have activity against Staphylococcus epidermidis bacteria. Keywords: Bandotan leaves, n-hexane and ethyl acetate fraction, antibacterial. Staphylococcus Epidermidis Abstrak Bandotan (Ageratum conyzoides L) merupakan tanaman liar yang mudah ditemukan di Indonesia, dikenal memiliki khasiat obat dan bersifat antibakteri. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri fraksi n-heksan dan etil asetat daun bandotan (Ageratum Conyzoides L) terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental dengan meliputi pengumpulan sampel, pemeriksan makroskopis, pemeriksaan mikroskopis, pembuatan simplisia, pemeriksaan karakteristik, skrining fitokima, pembuatan ekstrak etanol, kemudian difraksinasi, selanjutnya dilakukan pengujian aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dengan metode difusi Data yang diperoleh dari diameter daya hambat dianalisis secara statistic menggunakan uji Anova, kemudian dilanjutkan dengan uji Kruskal-Wallis dan uji Ducan. Hasil pemeriksaan makroskopik, dengan Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. warna hijau tua, berbentuk bundar telur, duan runcing, pangkal daun tumpul, pinggir daun bergerigi, tulang daun pada permukaan atas dan bawah berambut, warna rambut putih dan tulang daun menyirip. Hasil pemeriksaan mikroskopik terdapat pada daun melintang yaitu kolenkim, epidermis atas dan sel sekresi , pada serbuk yaitu rambut penutup, mesofil dan Stomata tipe anomositik. Hasil karakteristik simplisia diperoleh kadar air 7,3%, kadar sari larut dalam air 32,72%, kadar sari larut dalam etanol 42,5%, kadar abu total 3,3% dan kadar abu tidak larut asam 1,8%. Skrining fitokimia serbuk simplisia dan ekstrak menunjukkan adanya kandungan alkaloid, glikosida, flavonoid, tannin, saponin dan steroid. Hasil uji aktivitas antibakteri fraksi nheksan pada bakteri Staphylococcus Epidermidis pada konsentrasi 10%, 30%, 50% dan 70% termasuk kategori Sedangkan fraksi Etil asetat konsentrasi 10%,30% dan 50% adalah kategori resistant, pada konsentarsi 70% termasuk kategori Intermediate. Sehingga dapat disimpulkan bahwa fraksi n-heksan dan etil asetat daun bandotan (Ageratum conyziodes L) memiliki aktivitas terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Kata Kunci: Daun bandotan, fraksi n-heksan dan etil asetat, antibakteri. Staphylococcus epidermidi Copyright A 2020 The author. You are free to : Share . opy and redistribute the material in any medium or forma. and Adapt . emix, transform, and build upon the materia. under the following terms: Attribution Ai You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use. NonCommercial Ai You may not use the material for commercial ShareAlike Ai If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. Content from this work may be used under the terms of the a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-NC-SA 4. License Article History: Received:18/04/2024. Revised: 10/06/2024 Accepted: 15/06/2024 Available Online: 30/06/2024 QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Penggunaan obat tradisional di Indonesia sudah ada sejak dulu dan telah menjadi budaya masyarakat yang diwariskan secara turun temurun. Masyarakat indonesia telah memanfaatkan bahan-bahan yang berasal dari alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk untuk pengobatan salah satu tanaman yang sudah cukup lama diketahui sebagai obat adalah daun bandotan (Ageratum conyzoides L) . Bandotan (Ageratum conyzoides L) merupakan tumbuhan liar yang mudah didapatkan di indonesia dan lebih dikenal sebagai tumbuhan pengganggu . dikebun dan ladang. Bandotan ini secara impiris diketahui mempunyai khasiat sebagai bahan obat dan telah digunakan dibeberapa daerah . Tanaman bandotan banyak juga digunakan untuk mengobati penyakit kulit, bengkak yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus epidermidis. Staphylococcus epidermidis termasuk kedalam jenis bakteri gram positif bakteri ini dapat tumbuh di membran kulit dan membran mukosa manusia. Infeksi yang terjadi pada bakteri staphylococcus epidermis dapat menyebar keseluruh tubuh terutama pada permukaan kulit sebagai habitat tempat berkembang biak nya . Selain menggunakan obat antibiotik masyarakat biasanya lebih sering menggunakan tanama yang berkhasiat sebagai obat, daun bndotan ini memilki bahan kandungan senyawa diantaranya glikosida, tannin, alkaloid, saponin, flavonoid, terpen, polifenol, dan minyak atsiri . Sedangkan menurut Cahyani . mengatakan kandungan senyawa flavonoid, terpenoid,-steroid, alkaloid,tannin pada daun bandotan terbukti memiliki sebagai aktivitas biologis yang beperan penting sebagai antimikroba . Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hasyim, 2020 menyatakan bahwa ekstrak etanol daun bandotan terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan konsentrasi 15%, 25%, dan 35% dengan zona hambatnya berturut-turut yaitu 22,70 mm, 25,13 mm dan 26,94 mm. Menurut Almia, 2021 pada ekstrak etanol daun bandotan terhadap bakteri Streptococcus Pyogenes pada konsentrasi 6,5%,12,5%, 25% dan 100% dengan diameter zona hambatnya berturut-turut 11,75mm, 12,38mm,13,38mm,13,87mm dan 14,52mm . Sedangkan Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. menurut Barelrina, 2021 menyatakan bahwa ekstrak etanol daun bandotan terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis pada konsentrasi 2,5% dengan diameter zona hambatnya 14,7 mm . Sedangkan pada penelitian ini menggunakan pelarut yang berbeda yaitu fraksi n-heksan dan etil asetat. Berdasarkan penelitian terdahulu maka penelitian ingin melakukan tentang uji aktivitas antibakteri fraksi n-heksan dan etil asetat daun bandotan (Ageratum conyzoide L) terhadap bakteri staphylococcus epidermidis dengan tujuan untuk melihat apakah pada fraksi n-heksan dan etil setat tersebut memiliki aktivitas antibakteri terhadap staphylococcus epidermidis. Metode yang digunakan pada penelitian ini dengan metode cakram dimana metode gores tersebut hanya tumbuh dipermukaan media. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui golongan senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam serbuk simplisia dan ekstrak daun bandotan(Ageratum conyzoides L). Untuk mengetahui aktivitas fraksi n-heksan dan etil asetat daun bandotan (Ageratum conyzoides L) terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian merupakan metode penelitian eksperimental. Rancangan penelitian meliputi pengumpulan dan pengolahan sampel, karakteristik simplisia, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak etanol daun bandotan (Ageratum conyzoides L), fraksi n-heksan dan etil asetat daun bandotan (Ageratu conyzoides L). Pengujian aktivitas antibakteri fraksi n-heksan dan etil asetat daun bandotan (Ageratum conyzoides L) terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Alat Alat-alat yang digunakan adalah LAF (Bio bas. , incubator(Memmer. , oven listrik (Memmer. , timbangan analitik (New tec. , rotary evaporator (Eyel. , waterbatch (B-on. , hot plate, autoklaf (B-on. , refluk . , azeotrop . , blender (Philip. , mikroskop (Carto. , desikator (Carto. , deck kulkas (Elg. , vortex, lemari pengering (Harj. , tanur, jangka sorong digital (Vernier Calipe. , neraca listrik (Vibr. dan alat gelas serta alat laboratorium lainya. Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ialah daun bandotan, kloralhidrat (E-Merc. , alfa nftol (EMerc. , toluene (E-Merc. , klorofrom p (E-Merc. , etanol 96% (E-Merc. , etil aseta (E-Merc. , n-heksana (EMerc. , kolium iodida (E-Merc. , aquadest (E-Merc. , iodium (E-Merc. , raksa . klorida (E-Merc. , asam nitrat (E-Merc. , asam klorida p (E-Merc. , asam sulat p (E-Merc. , besi . klorida (E-Merc. , serbuk magnesium (E-Merc. , amil alcohol (E-Merc. , eter (E-Merc. , asam asetat anhidrat (E-Merc. ,timbal . asetat (E-Merc. , isopropanol p (E-Merc. , barium klorida (E-Merc. , natrium sulfat anhidrat (E-Merc. , methanol p (E-Merc. , natrium klorida (E-Merc. , kristl violet (E-Merc. , lugol (E-Merc. , safranin (E-Merc. DMSO (E-Merc. , ,klindamisin (PT. Rama Emrald Multi Sukse. , kertas cakram (Oxoi. MHA ( Himedi. MSA (Himedi. , bakteri Staphylococcus epidermidis. Uji Karakteristik Simplisia Uji Karakteristik Simplisia Meliputi Uji Makroskopis. Uji Mikroskopis. Penetpan Kadar Air. Penetapan Kadar Sari Larut Air. Penetapan Kadar Sari Larut Etanol. Penetapan Kadar Abu Total. Penetapan Kadar Tidak Larut Asam. Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Bandotan Pembuatan ekstrak dilakukan secara maserasi dengan cara simplisia daun bandotan yang telah diserbukkan 500 gram dan pelarut etanol 96% sebanyak 5000 ml. Sebanyak 500 gram serbuk simplisia dimasukkan ke dalam bejana, kemudian dituangi dengan 75 bagian . 0 mL) cairan penyari etanol lalu ditutup dan dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya matahari sambil sering diaduk, kemudian diserkai, peras dicuci ampas dengan cairan penyari secukupnya hingga diperoleh 100 bagian. Pindahkan kedalam bejana tertutup dibiarkan ditempat sejuk yang terlindung dari cahaya selama 2 hari dienap tuangkan atau disaring. Maserat lalu dipekatkan dengan menggunakan alat rotary evaporator dan diperoleh ekstrak kental . Ae. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pembuatan Fraksi Daun Bandotan Fraksinasi dilakukan sebagai berikut: 40 gram ekstrak etanol 96% daun bandotan dibuat dilarutkan dengan 100 ml etanol kemudian ditambahkan aquades 100 ml dan pelarut n-heksan sebanyak 200 ml dimasukan dalam corong pisah kemudian di kocok secara perlahan-lahan lalu didiamkan hingga terjadinya pemisahan antara fraksi n-heksan dan aqua destilat. Fraksi n-heksan dipisahkan,diambil lapisan atasnya. Kemudian dilanjutkan fraksinasi etil asetat dengan cara dari residu n-heksan difraksi kembali dengan menggunakan pelarut etil asetat sebanyak 200 ml dimasukan kedalam corong pisah kemudian dikocok dan didiamkan hingga terjadinya pemisahan antara residu dengan fraksi etil asetat, fraksi dibagian atas. Fraksi nheksan dan fraksi etil asetat dipekatkan dengan menggunakan alat rotary evaporator dan diuapkan . Uji Alkaloid Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia dan ekstrak masing-masing ditimbang, ditambahkan 1 ml asam klorida 2N dan 9 ml air suling, dipanaskan diatas penangas air selama 2 menit, didinginkan dan disaring. Diambil 3 tabung reaksi, lalu ke dalam masing-masing tabung reaksi dimasukkan 3 tetes filtrat. Filtrat sebanyak 1 ml ditambahkan 2 tetes pereaksi Mayer, akan terbentuk endapan menggumpal berwarna putih atau kuning. Filtrat sebanyak 1 ml ditambahkan 2 tetes pereaksi Dragendorff, akan terbentuk endapan berwarna coklat atau jingga kecoklatan. Filtrat sebanyak 1 ml ditambahkan 2 tetes pereaksi Bouchardat, akan terbentuk endapan berwarna coklat sampai kehitaman. Alkaloid disebut positif jika terjadi endapan atau kekeruhan pada dua atau tiga dari percobaan di atas . ,13Ae. Uji Glikosida Sebanyak 3 g masing-masing ditimbang serbuk simplisia dan ekstrak, kemudian disari dengan 30 ml campuran 7 ml bagian etanol 96% dan 3 bagian aquades ditambah dengan 10 ml HCI 2 N. Direfluks selama 30 menit, didinginkan dan disaring. Diambil 20 ml filtrat ditambahkan 25 ml aquades dan 25 ml timbal (II) asetat 0,4 M, dikocok, lalu didiamkan selama 5 menit dan disaring. Filtrat disari dengan 20 ml campuran 3 bagian kloroform dan 2 bagian isopropanol dilakukan berulang sebanyak tiga kali. Kumpulan sari air diuapkan pada temperatur tidak lebih dari 50AC. Sisanya dilarutkan dalam 2 ml metanol. Kemudian diambil 0,1 ml larutan percobaan dimasukkan kedalam tabung reaksi, diuapkan di penangas air. Pada sisa ditambahkan 2 ml air dan 5 tetes pereaksi molish. Kemudian secara perlahan ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat melalui dinding tabung, jika terbentuk cincin ungu pada batas kedua cairan menunjukkan adanya glikosida . ,13Ae. Uji Flavonoid Sebanyak 10 g serbuk simplisia dan ekstrak masing-masing ditimbang. kemudian ditambahkan 10 ml air panas, didihkan selama lebih kurang 5 menit dan disaring dalam keadan panas, ke dalam 5 ml filtrat ditambahkan 0,1 g serbuk magnesium dan 1 ml asam klorida pekat dan 2 ml amil alkohol, dikocok dan dibiarkan memisah. Flavonoid positif jika terjadi warna merah, kuning, jingga pada lapisan amil alkohol . Uji Tanin Sebanyak 1 g serbuk simplisia dan ekstrak masing-masing ditimbang. dididihkan selama 3 menit dalam 10 ml air suling lalu didinginkan dan disaring. larutan diambil sebanyak 2 ml dan ditambahkan sampai 1-2 tetes pereaksi besi . klorida 1%. Jika terjadi warna biru kehitaman atau hijau kehitaman menunjukkan adanya tanin . ,11,. Uji Saponin Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia dan ekstrak masing-masing ditimbang dimasukkan dalam tabung reaksi dan ditambahkan aquades panas sebanyak 10 ml, didinginkan kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik, timbul busa yang mantap tidak kurang dari 10 menit setinggi 1-10 cm. Ditambahkan I tetes larutan asam klorida 2N, bila buih tidak hilang menunjukkan adanya saponin . ,11,. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Uji Steroid/Terpenoid Sebanyak 1 g serbuk simplisia dan ekstrak masing-masing ditimbang, kemudian dimaserasi dengan 20 ml eter selama 2 jam, lalu disaring. Filtrat diuapkan dalam cawan penguap, sisanya ditambahkan 2 tetes asam asetat anhidrat dan 1 tetes asam sulfat pekat. Timbul warna biru atau biru hijau menunjukkan adanya steroid dan timbul warna merah, merah muda atau ungu menunjukkan adanya triterpenoid . ,11,. Uji Aktivitas Antibakteri Siapkan media MHA yang telah dibuat dalam cawan petri yang steril buat suspensi bakteri yang telah sesuai dengan standard Mc. farland 0,5. Ambil suspesi bakteri staphylococcus epidermidis menggunakan lidi kapas steril kemudian dioleskan keseluruh media sehingga inokulum terdistribusi secara merata, kemudin dibiarkan selama 3-5 menit agar kondisi media menggering. Tempatkan cakram yang telah direndan dengan larutan uji dari fraksi n-heksan dan etil asetat daun bandotan dengan berbagai konsentrasi . ontrol positif menggunakan clindamycin dan kontrol negatif DMSO) pada media yang diinokulasikan bakteri dan cakram diletakan dengan menggunakan pinset steril dan diinkubasi pada suhu 37 oC selama 24 jam dengan posisi cawan yang terbalik . ,11,17Ae. Analisa Data Data aktivitas antibakteri fraksi N-heksan dan Etil asetat daun bandotan (Ageratum conyzoides L ) terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dengan metode One Way Anova untuk mengetahui apakah ada terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok. Hasil dan Diskusi Hasil Uji Karakteristik Serbuk Simplisia Daun Bandotan (Ageratum conyzoides L) Berdasarkan hasil yang didapatkan menunjukan bahwa serbuk simplisia daun bandotan memenuhi persyaratan berdasarkan MMI edisi V . Penetapan kadar air pada simplisia daun bandotan dilakukan untuk mengetahui jumlah air yang terkandung didalamnya . Penetapan kadar air dilakukan untuk memberikan batasan minimal atau rentang tentang besarnya kandungan air dalam sampel karena tingginya kandungan air tersebut bisa menyebabkan ketidak stabilan pada sediaan obat, dan dapat ditumbuhi bakteri dan jamur. Penetapan kadar sari larut air adalah untuk mengetahui kadar senyawa kimia bersifat polar yang terkandung didalam simplisia, sedangkan penetapan kadar sari larut dalam etanol dilakukan untuk mengetahui kadar senyawa larut dalam etanol, baik senyawa polar maupun non polar. Penetapan kadar abu ini bertujuan untuk mengetahui kandungan mineral internl yang terdapat dalam simplisia. serta senyawa organic yang tersisa selama pembakaran. Menurut WHO,1998 kadar abu tidak larut asam untuk menunjukkan jumlah silikat, khususnya pasir yang ada pada simplisia dengan cara melarutkan abu total dalam asam klorida. Hasil pemeriksaan karakteristik serbuk simplisia Daun Bandotan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Karakteristik Serbuk Simplisia Daun Bandotan Pengujian Kadar air Kadar sari larut dalam air Kadar sari larut dalam etanol Kadar abu total Hasil Rata-Rata 7,3% 32,72% 42,5% 3,3% Kadar abu tidak larut asam 1,8% MMI < 10% Ou27% Ou41% O13% O 2,5% Hasil Skirining Fitokimia Hasil penelitian menunjukan bahwa pada serbuk simplisia dan ekstrak etanol daun bandotan positif mengandung alkaloid, glikosida, flavonoid, tanin, saponin, steroid/terpenoid. Pada serbuk dan ekstrak daun bandotan yang ditambahkan dengan pereaksi mayer menghasilkan endapan kuning, pereaksi bouchardat Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. dan pereaksi dragendorf menghasilkan endapan warna hitam, hal ini menunjukkan adanya senyawa alkaloid pada serbuk dan ekstrak pada daun bandotan. Penambahan serbuk Mg dan asam klorida pekat pada serbuk dan ekstrak menghasilkan warna kuning pada lapisan amil alkohol menunjukkan adanya senyawa flavonoid . Pada serbuk dan ekstrak dengan penambahan pereaksi Molish dan asam sulfat pekat menunjukkan adanya senyawa glikosida dengan terbentuknya cincin ungu. Uji saponin menyebabkan timbulnya busa yang tetap selama 10 menit setinggi 5 cm dan tidak hilang dengan penambahan HCL 2 N menandakan adanya senyawa saponin. Pada pengujian tannin dengan penambahan pereaksi besi . klorida akan terjadinya positif berbentuk warna biru kehitaman, serbuk dan ekstrak menunjukan positif menyatakan terdapatnya senyawa kimia pada daun bandotan. Pada pemeriksaan sterod/triterpenoid dilakukan dengan penambahan sam asetat anhidrat dan asam sulfat pekat menghasilkan warna warna biru hijau menujukan adanya steroid . Sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil Skirining Fitokimia Serbuk Simplisia dan Ekstrak Daun Bandotan (Ageratum conyzoides L) Pemeriksaan Alkaloid Glikosida Flavonoid Tannin Saponin Steroid/terpenoid Serbuk Simplisia Ekstrak Hasil Pembuatan Ekstraksi Dan Fraksi Hasil dari maserasi ekstrak etanol 96% setelah diuapkan mendapat ekstrak yang kental 69,96 gram dimana rendemennya 14%. Hasil yang diperoleh dari fraksinasi yang setelah diuapkan pada N-heksan 6,78 gram dengan rendemen 16,95% sedangkan pada Etil asetat mendapatkan 10 gram dengan rendemen 25%. Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi N-heksan dan Etil asetat Hasil yang didapatkan menunjukan bahwa fraksi n-heksan dan etil asetat daun bandotan dapat menghambat aktivitas antimikroba staphylococcus epedermidis . Pada pengujian ini dilakukan dengan metode difusi agar didapatkan diameter zona hambat bakteri staphylococcus epedermidis. Menurut buku CLSI pada tahun 2018 kriteria kekuatan daya hmbat antibakteri dengan diameter zona hambat O 14 mm dikategorikan resistant, zona hambat 15-19 mm dikategorikan intermediate, zona hambat Ou 20 mm dikategorikan kuat. Berdasarkan criteria tersebut, mka daya antibakteri fraksi - heksan pada daun bandotan terhadap bakteri staphylococcus epidermidis pada konsentrasi 10%, 30%, 50% dan 70% termasuk kategori resistant. Sedangkan pada fraksi etil asetat daun bandotan terhadap bakteri staphylococcus epidermidis menurut buku CLSI pada tahun 2018 yang dijelaskan di atas pada fraksi etil asetat ini dengan konsentrasi 10%,30%,50% dapat dikatakan kategori lemah . , sedangakan pada konsentrasi 70% itu termasuk kategori sedang . Control positif menggunakan clindamycin dengan zona hambatnya 32 mm menurut CLSI termasuk kategori susceptible . Ae. Pada pengujian ini terdapat senyawa-senyawa yang dapat menghambat antibakteri mekanisme kerja Pada pengujian ini terdapat senyawa-senyawa yang dapat menghambat antibakteri mekanisme kerja alkaloid sebagai antibakteri adalah dengan cara mengangu komponen penyusun peptidoglikon pada sel bakteri sehingga lapisan dinding sel tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian, dan alkaloid ini menghambat enzim topoimerase yang mempunyai peran sangat penting dalam proses replicas,transkripsi, dan rekombasi DNA dengan cara memotong dan menyambung untai tunggal atau untai ganda. Sedangkan mekanisme kerja senyawa flavonoid sebagai antibakteri dengan kemampuan membentuk ekstrak seluler dan protein-protein terlarut serta dinding sel bakteri sehingga bagian sel tersebut akan rusak dan terjadinya kehilangan fungsinya. Mekanisme kerja antibakteri tanin mempunyai daya antibakteri dengan cara memprepitasi protein. Efek antibakteri tannin melalui reaksi dengan membran sel bakteri sehingga bagian sel tersebut akan rusak Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. dan kehilangan fungsinya . Sedangkan mekanisme kerja steroid dalam menghambat mikroba adalah dengan merusak membrane plasma sel bakteri, sihingga menyebabkan bocornya sitopasma keluar sel yang bias menyebabkan kematian . Sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4. Tabel 3. Hasil Persentase Zona Hambat Fraksi N-Heksan Daun Bandotan Terhadap Bakteri Staphylococcus Sampel N-heksan Diameter Zona Hambat . 6,65 7,85 10,35 8,35 Kontrol ( ) Kontrol (-) Rata-Rata Kategori Daya Hambat 6,88 7,65 9,43 11,53 Resistant Resistant Resistant Resistant Susceptible Tabel 4. Hasil Persentase Zona Hambat Fraksi Etil Asetat Daun Bandotan Terhadap Bakteri Staphylococcus Sampel Etil Asetat Diameter Zona Hambat . 7,45 7,25 9,05 9,35 9,45 Kontrol ( ) Kontrol (-) Rata-Rata Kategori Daya Hambat 7,25 9,35 9,45 Resistant Resistant Resistant Intermediate Susceptible Gambar 1. Hasil Diameter Zona Hambat N-Heksana Asetat Daun Bandotan terhadap bakteri Staphylococcus Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Gambar 2. Hasil Diameter Zona Hambat Fraksi Etil Asetat Daun Bandotan terhadap bakteri Staphylococcus Gambar 3. Hasil Kontrol Positif Clindamycin dan Kontrol negative DMSO Kesimpulan Hasil skrining serbuk simplisia dan ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides L) menunjukkan hasil positif pada alkaloid, flavonoid, glikosida,tannin, saponin dan steroid/terpenoid. Fraksi n-heksan dan etil asetat daun bandotan (Ageratum conyzoides L) memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus Hasil uji aktivitas antibakteri fraksi n-heksa dan Etil asetat pada bakteri Staphylococcus Epidermidis menunjukkan diameter zona hambat pada konsentrasi 10%,30% 50% dan 70% pada N-heksan dengan hambat berturut-turut 6,88mm, 7,65 mm, 9,43mm, dan 11,53mm. Sedangkan fraksi Etil asetat dengan zona hambat adalah 7,36 mm, 8,8mm, 10,58mm, dan 14,43mm. Respon daya hambat fraksi n-heksan pada daun bandotan pada konsentrasi 10%,30% 50% dan 70% adalah resistant. Sedangkan daya hambat fraksi etil asetat pada konsentrasi 10%,30% dan 50% adalah resistant sedangkan konsentarsi 70% adalah kategori Intermediate. Conflict of Interest Semua penulis mengonfirmasi bahwa penelitian ini bebas dari konflik kepentingan. Penelitian dan penulisan artikel dilakukan secara independen, tanpa pengaruh eksternal, serta tidak ada kepentingan pribadi, keuangan, atau profesional yang memengaruhi objektivitas dan integritas penelitian. Acknowledgment Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2024. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Supplementary Materials Referensi