TAAoDIB: Jurnal Pemikiran Pendidikan Vol. No. September 2025, hal 1- 9 p-ISSN 2089-4422 e-ISSN 2808-3784 https://journal. id/index. php/tdb/index Membangun Kesadaran Ilmiah dan Moral: Analisis Hakikat Ilmu Dalam Al-QurAoan Sabrina Praba Indah Kurniana1. Rizkyta Nabilla Rahmadani2. Shely Virnanda Anggreiny3 Afiza Laela Putri4 UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, . sabrinaprb95@gmail. UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, . nabillarizkyta@gmail. UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, . shelyvirnandaa@gmail. UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, . afizahlailaputri@gmail. DOI: 10. 54604/tdb. Diajukan: 24/12/2024 Diterima: 08/08/2025 Copyright A 2023 Diterbitkan: 19/09/2025 ABSTRAK Ilmu dalam perspektif Islam tidak sekadar dipahami sebagai akumulasi pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan kesadaran spiritual dan moralitas. Al-QurAoan menegaskan pentingnya ilmu melalui fungsinya sebagai petunjuk, penjelas, dan pembeda, yang hanya dapat diwujudkan apabila manusia mengoptimalkan potensi intelektual dan spiritualnya. Penelitian ini bertujuan mengkaji hakikat ilmu dalam al-QurAoan dengan menyoroti tiga dimensi utama, yakni epistemologis . agaimana ilmu diperole. , spiritual . eran hati dan kesadaran bati. , dan moral . mplikasi ilmu terhadap akhlak dan perilak. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, di mana sumber primer berupa ayat-ayat al-QurAoan (Q. Al-MujAdalah . :11. AhA . :114. An-Naml . :15, dan Al-Qaa . , serta sumber sekunder berasal dari artikel ilmiah terpublikasi sepuluh tahun terakhir yang relevan. Analisis data dilakukan melalui analisis isi dengan menafsirkan makna dan relevansinya terhadap kajian ilmu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-QurAoan memandang ilmu sebagai entitas integral: diperoleh melalui usaha intelektual, diiringi dengan kesadaran spiritual, dan diwujudkan dalam perilaku moral. Kebaruan penelitian ini terletak pada sintesis literatur kontemporer dengan analisis ayat-ayat al-QurAoan, yang menawarkan paradigma ilmu QurAoani yang komprehensif dan menolak reduksionisme Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan epistemologi Islam serta menjadi rujukan bagi pendidikan Islam yang holistik, melahirkan insan berilmu, berakhlak, dan berkesadaran Kata Kunci: hakikat ilmu, al-QurAoan, epistemologi Islam, spiritualitas, moralitas ABSTRACT Knowledge in the Islamic perspective is not merely understood as an accumulation of information but also as a means of nurturing spiritual awareness and moral integrity. The QurAoan emphasizes the significance of knowledge through its functions as guidance, clarification, and discernment, which can only be realized when humans maximize their intellectual and spiritual capacities. This study aims to examine the essence of knowledge in the QurAoan by highlighting three key dimensions: epistemological . ow knowledge is acquire. , spiritual . he role of the heart and inner consciousnes. , and moral . he implications of knowledge for ethics and behavio. The research employed a qualitative method with a library research approach. Primary sources were selected from QurAoanic verses (Q. Al-MujAdalah . :11. AhA . :114. An-Naml . :15, and Al-Qaa . , while secondary data were drawn from scholarly articles published within the last decade. Data analysis was carried out through content analysis to interpret the meanings and relevance of these verses to the concept of knowledge. The findings reveal that the QurAoan views knowledge as an integral entity: acquired through intellectual endeavor, supported by spiritual awareness, and manifested in moral conduct. The novelty of this study lies in synthesizing [AUTHOR NAME] Membangun Kesadaran Ilmiah dan Moral: Analisis Hakikat Ilmu Dalam Al-QurAoan contemporary literature with QurAoanic analysis, offering a comprehensive QurAoanic paradigm of knowledge that rejects rationalistic reductionism. This research contributes to the development of Islamic epistemology and provides a reference for holistic Islamic education aimed at producing knowledgeable, ethical, and spiritually conscious individuals. Keywords: essence of knowledge. QurAoan. Islamic epistemology, spirituality, morality * Korespondensi Author : Sabrina Praba Indah Kurniana. UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. PENDAHULUAN Al-QurAoan merupakan sumber utama ajaran Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad A Asebagai pedoman hidup manusia. Fungsinya tidak hanya sebagai hudA . , bayyinah . , dan furqAn . , tetapi juga sebagai sumber inspirasi yang harus didengarkan, dipahami, serta diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan. Fungsi-fungsi Al-QurAoan akan terwujud secara nyata apabila manusia mampu mengoptimalkan seluruh potensi dan kemampuannya dalam upaya pengembangan ilmu (Nata, 2. AlQurAoan memberikan arahan menyeluruh, mulai dari akidah, ibadah, muamalah, hingga memberikan dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah penguasaan ilmu fonologi, khususnya terkait huruf hijaiyah yang menjadi fondasi penting dalam membaca dan memahami Al-qurAoan, hal ini mengindikasikan bahwa ilmu menjadi kunci untuk menghindari kekeliruan dan memastikan pemahaman yang benar dari setiap Firman Allah SWT (Salam & Zulfikar, 2. Dalam perspektif Islam, ilmu dipandang sebagai disiplin yang tersusun secara sistematis dengan tujuan menguatkan tauhid. Penyusunan tersebut dilakukan melalui penerapan prinsip-prinsip keislaman yang tercermin dalam metode, strategi, objek kajian, maupun persoalan yang dihadapi (Isniati et al. , 2. Kedudukan ilmu yang tinggi tercermin dalam banyak ayat Al-QurAoan yang mendorong umat Islam untuk menggunakan akal, memperhatikan fenomena alam, serta menumbuhkan kesadaran spiritual dalam memahami ciptaan Allah SWT. Hal ini menegaskan bahwa ilmu dalam Islam bersifat integral, menghubungkan dimensi epistemologis, ontologis, dan aksiologis. Sejumlah penelitian sebelumnya telah berupaya mengkaji hakikat ilmu dalam Al-QurAoan. Misalnya. Setyawan et al. , . menyoroti konsep ilm, hikmah, dan AyAt dalam perspektif QurAoani, dengan menekankan perbedaan dimensi rasional dan spiritual. Penelitian lain oleh Qodir & Asrori . mengkaji epistemologi pendidikan QurAoani melalui konsep talm, tarbiyah, dan tadb, meskipun fokusnya lebih kepada aspek pendidikan. Sementara itu. Misbahuddin, . mengulas epistemologi Al-QurAoan dalam membangun sains Islam dengan menekankan dimensi epistemologis, ontologis, dan aksiologis, namun pembahasannya masih bersifat teoritis. Adapun penelitian Farih et al. , . menelaah konsep ilmu, hikmah, dan ayat dalam Al-QurAoan, serta menegaskan integrasi ilmu sebagai jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, meski belum banyak menyinggung aspek aplikatif dalam kehidupan Berdasarkan kajian tersebut, tampak bahwa penelitian terdahulu cenderung menekankan aspek konseptual atau pendidikan, tetapi belum banyak yang mengulas hakikat ilmu dalam Al-QurAoan secara komprehensif dengan memadukan tiga dimensi utama: epistemologis . agaimana ilmu diperole. , spiritual . eran hati dan kesadaran bati. , dan moral . mplikasi ilmu terhadap akhlak dan perilak. Dengan demikian, masih terdapat ruang penelitian untuk menggali pemaknaan filosofis ilmu dalam Al-QurAoan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hakikat ilmu dalam Al-QurAoan dengan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan. Kebaruan penelitian ini terletak pada penyajian analisis yang tidak hanya mendeskripsikan konsep ilmu dalam Al-QurAoan, tetapi juga menafsirkan makna substantifnya sebagai pedoman integral yang menyatukan aspek epistemologi, spiritualitas, dan moralitas. Dengan cara ini, penelitian Membangun Kesadaran Ilmiah dan Moral: Analisis Hakikat Ilmu Dalam Al-QurAoan diharapkan dapat memperkaya khazanah studi keislaman serta memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang berlandaskan Al-QurAoan. II. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan . ibrary researc. Pendekatan ini dipilih karena penelitian berfokus pada penggalian makna yang terkandung dalam teks, bukan pada pengukuran numerik. Menurut Sugiyono . , penelitian kualitatif merupakan prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari sumber yang diamati maupun dokumen yang ditelaah. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas sumber primer, yaitu al-QurAoan sebagai teks utama yang dianalisis, serta sumber sekunder berupa artikel ilmiah, buku, dan publikasi lain yang relevan dalam sepuluh tahun terakhir untuk memperkuat interpretasi dan memperluas perspektif analisis. Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan menelaah ayat-ayat al-QurAoan yang sesuai dengan fokus penelitian, kemudian menyeleksi literatur pendukung yang kredibel. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan analisis isi . ontent analysi. , yaitu metode untuk mengungkap makna yang terkandung dalam teks. Tahapan analisis meliputi reduksi data dengan memilah informasi yang relevan, penyajian data dalam bentuk tema-tema tertentu sesuai fokus penelitian, serta penarikan kesimpulan melalui interpretasi makna dengan mempertimbangkan konteks linguistik, historis, dan hasil kajian literatur sekunder (Ikhsan & Iskandar, 2. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menyajikan deskripsi data, tetapi juga menghasilkan interpretasi yang mendalam sesuai dengan tujuan kajian. HASIL DAN PEMBAHASAN Dimensi Epistemologis: Cara Ilmu Diperoleh dalam Al-QurAoan Secara kebahasaan, ilmu berasal dari akar kata Aoilm yang diartikan sebagai tanda, penunjuk atau petunjuk agar sesuatu atau seseorang dikenal. Demikian juga maAolam, artinya tanda jalan atau sesuatu agar seseorang membimbing dirinya atau sesuatu yang membimbing seseorang. Selain itu. Aoalam juga dapat diartikan sebagai penunjuk jalan (Abidin, 2. Kata ilmu dengan berbagai bentuk terulang 854 kali dalam Al-QurAoan. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan. Dalam pandangan Al-QurAoan, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap makhlukmakhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan (Q. al-Baqarah . : 31-. Manusia menurut Al-QurAoan memiliki potensi untuk meraih dan mengembangkan ilmu dengan seizin Allah. Secara terminologis, ada banyak pandangan tentang definisi atau pengertian ilmu yang dikemukakan para pemikir muslim, baik klasik maupun kontemporer. Beragam pandangan mengenai definisi ilmu ini sekaligus menjadi indikasi kuat betapa sebenarnya umat Islam memiliki perhatian serius terhadap ilmu. AlBaqillani mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan tentang objek yang diketahui sebagaimana apa adanya. Definisi yang seperti ini sangat masyhur di kalangan pemikir muslim, yang sering kali dihadapkan vis-a-vis dengan istilah opini atau raAoyun. Menurut bahasa, hakikat adalah kata yang berasal dari kata haqqa yang memiliki arti tetap. Selain itu juga bisa bermakna subjek yakni berkedudukan sebagai fAAoil, maka dari itu juga memiliki arti Aoyang tetapAo atau objek atau sebagai mafAol, yang memiliki arti AoditetapkanAo. Dalam kamus KBBI menyebutkan hakikat itu adalah intisari atau dasar. kenyataan yang sebenarnya . Secara epistimologi atau secara istilah definisi hakikat yaitu suatu lafazh yang digunakan sebagaimana asalnya dan tentunya untuk maksud tertentu. Seperti halnya kata AukursiAy sebagaimana asalnya yakni suatu benda yang digunakan untuk tempat tertentu yang mempunyai sandaran dan kaki, akan tetapi pada saat ini kata kursi itu dapat diartikan juga sebagai kekuasan, walaupun pada asalnya kata kursi bukan itu, tapi makna hakikatnya merupakan tempat duduk. Sebagaimaa yang dikemukakan Ibnu Subki beliau berpendapat bahwa hakikat merupakan suatu lafazh yang dipergunakan Membangun Kesadaran Ilmiah dan Moral: Analisis Hakikat Ilmu Dalam Al-QurAoan untuk apa lafazh tersebut ditentukan pada awal mulanya. Kemudian Ibnu Qudamah juga memberi definisi sebagai lafazh yang digunakan untuk sasarannya pada yang semula. Sedangkan Al-Sarkhisi memberi definisi terhadap hakikat adalah semua lafazh yang ditentukan sebagaimana asalnya untuk hal tertentu. Kemudian Amir Syarifuddin berpendapat mengenai hakikat adalah semua penjelasan tersebut mengandung makna terminologis tentang haqiqah, yaitu suatu lafazh yang digunakan menurut asalnya untuk maksud tertentu. Al-QurAoan menempatkan ilmu sebagai salah satu pilar utama dalam kehidupan manusia. Proses memperoleh ilmu tidak hanya terbatas pada pengamatan empiris, tetapi juga mencakup refleksi akal dan wahyu sebagai sumber pengetahuan. Surah Al-Alaq ayat 1Ae5 menegaskan pentingnya membaca dan belajar sebagai jalan memperoleh ilmu, sementara wahyu menjadi legitimasi tertinggi kebenaran pengetahuan. Misbahuddin . dalam kajiannya tentang epistemologi Al-QurAoan menekankan bahwa kerangka ilmu Islam dibangun atas dasar integrasi antara akal, pengalaman empiris, dan petunjuk ilahi. Hal ini sejalan dengan pandangan Setyawan et al. , . yang menguraikan konsep ilm, hikmah, dan AyAt sebagai landasan epistemologi QurAoani, di mana ilm berfungsi sebagai hasil usaha intelektual, hikmah sebagai kedalaman pemahaman, dan AyAt sebagai tanda kebesaran Allah yang menjadi objek kajian manusia. Dengan demikian, epistemologi ilmu dalam Al-QurAoan menolak reduksionisme rasionalistik yang hanya mengandalkan indera atau logika. Sebaliknya, ia menawarkan paradigma komprehensif: ilmu diperoleh melalui integrasi wahyu, akal, dan pengalaman empiris, sehingga menghasilkan pengetahuan yang sahih sekaligus bermakna bagi kehidupan manusia. Integrasi Dimensi Epistemologis. Spiritual, dan Moral dengan Hakikat Ilmu dalam Al-QurAoan Hasil penelitian menunjukkan bahwa ilmu dalam perspektif QurAoani mencakup dimensi epistemologis, spiritual, dan moral. Ketiga dimensi tersebut memiliki landasan yang kuat dalam al-QurAoan, sebagaimana ditegaskan dalam beberapa ayat berikut. Al-MujAdalah ayat 11: Dimensi Moral dan Kedudukan Ilmu Dalam Al-QurAoan seperti dalam surat Al-Mujadalah ayat 11 telah banyak membicarakan tentang ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan dalam islam diantaranya : Surat Al-Mujadalah ayat 11 AcEEa Eac a eOIa aIIa eO Ia eI aE oe eI aOEac a eOIa a eO aOA a A eaO Aa eIA a AcEEa Ea aE oe eI aOaa aC eO aE eIA a A a eO aO eAA a Aa Aa eAA ca aAOe a acONa Eac a eOIa aIIa eeO aa aC eO aE Ea aE eI a a A a eO AaO eE aI EA A eaO aO eAa a NA A NA a AA AcEEa a aI a e aIEa eOIa aa eO UA A eE a eE aI aa s aO NA Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu AuBerilah kelapangan di dalam majelis-majelis,Ay lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan. AuBerdirilah,Ay . Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan (Agama. Islam menunjukkan penghargaan yang tinggi terhadap ilmu dan penuntut ilmu. Komitmen ini diperkuat oleh janji Allah SWT dalam Q. Al-Mujadilah: 11 yang secara tegas menyatakan bahwa Dia akan meninggikan derajat bagi individu yang memiliki keimanan dan ilmu. Dorongan untuk terus menuntut ilmu secara inheren berasal dari kekuatan keimanan yang dimiliki oleh seseorang. Pada hakikatnya, ilmu berfungsi sebagai jalan utama menuju pencapaian kemuliaan dan martabat diri yang tinggi. Namun, kemuliaan ilmu tersebut harus selalu dilandasi oleh keimanan, sebab iman dan ilmu merupakan dua pilar yang idealnya berjalan beriringan (Nisa et al. , 2. Apabila keduanya terpisah, akan sulit bagi seseorang untuk mencapai tingkatan martabat mulia yang dikehendaki. Menurut al Maraghi ayat tersebut memberikan isyarat tentang kewajiban memperdalam ilmu agama serta menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mempelajarinya di dalam suatu negeri yang telah Membangun Kesadaran Ilmiah dan Moral: Analisis Hakikat Ilmu Dalam Al-QurAoan didirikan serta mengajarkannya kepada manusia berdasarkan kadar yang diperkirakan dapat memberikan kemaslahatan bagi mereka sehingga tidak dibiarkan mereka tidak mengetahui hukum-hukum agama yang pada umumnya harus diketahui oleh orang-orang yang beriman. Ilmu yang dimaksud dalam ayat di atas bukan hanya ilmu agama, tetapi ilmu apapun yang bermanfaat. Ayat sebelas dari surat Al-Mujadalah menjelaskan dua hakikat ilmu. Pertama, ilmu berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan derajat seseorang, sebagaimana dijelaskan dalam ayat tersebut. Kedua, ilmu hanya dapat diperoleh melalui adab, atau dengan kata lain, adab memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada ilmu. Hal ini sesuai dengan asbabun nuzul ayat tersebut, di mana Allah memerintahkan umat-Nya untuk menjaga adab terhadap sesama muslim, termasuk dengan saling memberi ruang dan kemudahan dalam proses mencari ilmu. Allah SWT menegaskan: AuAllah mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orangorang yang diberi ilmu beberapa derajatAy. Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu tidak hanya bernilai epistemologis, tetapi juga memiliki dimensi moral yang mengangkat derajat manusia. Dengan demikian, ilmu yang diamalkan dengan benar akan menghasilkan perilaku yang mulia serta kedudukan yang tinggi di sisi Allah maupun dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, ayat ini mengonfirmasi temuan penelitian bahwa ilmu sejati harus berdampak pada akhlak dan perilaku yang etis (Nata, 2. AhA ayat 114: Dimensi Epistemologis dalam Permohonan Ilmu AcEEa eE aI aEEa eE a oac acC aOaE a e aEe a eECa e aI Ia eI Ca e aE a eI acO eCA AyA A ae aI eO eaE UIA a EaO NA a AO aEaOeEa aOe O naN aOCaEe acA Artinya : Mahatinggi Allah. Raja yang sebenar benarnya. Janganlah engkau (Nabi Muhamma. tergesa-gesa . Al-QurAoan sebelum selesai pewahyuannya kepadamu dan katakanlah. AuYa Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku. Ay(Agama, 2. Dapat dipahami bahwa hubungan antara hamba dan Tuhannya sangat penting dalam kehidupan. Allah selalu hadir dan mendengar doa serta keluhan hamba-Nya. Ayat ini mengajarkan tentang kekuatan iman, kesabaran, dan keyakinan dalam menghadapi cobaan dan tantangan hidup. Selain menganjurkan kita menuntut ilmu. Allah juga memerintahkan kita untuk senantiasa menambah ilmu pengetahuan tersebut. Karena, ilmu pengetahuan tak kenal batas dan maha luas. Dengan demikian ayat ini secara implisit mengajarkan bahwa permohonan kepada Allah untuk penambahan ilmu harus diiringi dengan usaha yang kuat dan kesungguhan . dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, untuk benar-benar menguasai ilmu secara komprehensif, dibutuhkan dedikasi, kegigihan, dan kerja keras yang berkelanjutan dari penuntut ilmu (Damanik et al. , 2. Dalam ayat ini: AuRabbi zidn ilmAAy (Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahua. , menegaskan bahwa ilmu merupakan anugerah Allah yang harus terus diupayakan. Ayat ini berkaitan erat dengan dimensi epistemologis, yakni proses perolehan ilmu melalui usaha rasional dan spiritual sekaligus pengakuan akan sumber ilahi. Dari kalimat di atas menekankan bahwa epistemologi QurAoani tidak terhenti pada pencapaian akal, tetapi selalu memerlukan kerendahan hati untuk terus belajar (Misbahuddin, 2. Dengan demikian, ayat ini menegaskan bahwa ilmu adalah proses tanpa akhir . ifelong learnin. yang terikat pada kesadaran teologis. An-Naml ayat 15: Dimensi Syukur sebagai Kesadaran Spiritual An-Naml ayat 15 menyajikan dimensi syukur sebagai kesadaran spiritual tertinggi, terutama ketika seseorang dianugerahi ilmu pengetahuan dan kekuasaan. Ayat ini, yang bercerita tentang Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, menegaskan bahwa kesadaran akan karunia Allah harus diwujudkan melalui pengakuan dan Membangun Kesadaran Ilmiah dan Moral: Analisis Hakikat Ilmu Dalam Al-QurAoan ca aO AA u aAEaIa aEO aEaOe aIIe aa a aN eE aIe Ia Ia eOIA a AaOEaCa e a eOIa aO a aOA e AEa eOI Ia a eE UI s aOCaaE eE a eI a a NcEaEa EacA Artinya: Sungguh. Kami benar-benar telah menganugerahkan ilmu kepada Daud dan Sulaiman. Keduanya berkata. AuSegala puji bagi Allah yang melebihkan kami daripada kebanyakan hamba-hamba-Nya yang Ay(Agama, 2. Ayat ini secara eksplisit mengaitkan karunia ilmu ('ilma. yang mencakup ilmu kenabian, syariat, hingga kemampuan khusus seperti memahami bahasa burung dengan respons spiritual berupa syukur yang diucapkan melalui kalimat "AlhamdulillAh" (Segala puji bagi Alla. Sikap ini menunjukkan dimensi syukur sebagai kesadaran spiritual yang mendalam. Bagi Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, ilmu dan keutamaan yang mereka miliki . erajaan dan kenabia. tidak menghasilkan kesombongan, melainkan rasa kerendahan hati dan pengakuan total bahwa kelebihan tersebut murni berasal dari anugerah Allah. Kesadaran spiritual yang tinggi pada diri Nabi Sulaiman as. tidak hanya tercermin dalam kesyukuran, tetapi juga memengaruhi konsep kepemimpinan yang beliau terapkan. Kepemimpinan Sulaiman as. oleh kemampuan manajerial yang unggul, tanggung jawab sosial yang luas, serta disiplin dan ketegasan yang tidak mentolerir kelalaian para pengikutnya. Selain itu, beliau aktif dalam melakukan verifikasi dan penyelidikan mendalam terhadap setiap laporan yang masuk. Yang paling penting. Nabi Sulaiman as. senantiasa menjunjung tinggi moralitas pemimpin, di mana integritas dan kewibawaannya tidak dapat dipertukarkan atau diperdaya oleh godaan harta benda. Kombinasi konsep kepemimpinan yang kokoh dan berintegritas inilah yang menjadikan kekuasaan beliau berdiri tegak dan sangat disegani oleh kawan maupun lawan (Zulihafnani & Husaini, 2. Syukur yang diekspresikan oleh kedua Nabi ini bukan hanya sekadar terima kasih, melainkan sebuah pengakuan vertikal atas keutamaan yang diberikan Allah di atas hamba-hamba-Nya yang lain. Mereka menyadari bahwa kelebihan mereka . assalanA 'alA karim min AoibAdihil-muAomin. adalah ujian dan tanggung jawab, bukan hak yang melekat. Dalam konteks ilmu, hal ini mengajarkan bahwa ilmu yang tinggi harus diamalkan, dan amal tersebut harus diiringi dengan rasa syukur agar bernilai di sisi-Nya. Sikap syukur yang ditunjukkan oleh Nabi Sulaiman dalam surah ini . ang berlanjut ke ayat 19 dengan doa "Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu" setelah mendengar ucapan semu. menjadi teladan penting bagi umat Muslim. Syukur menjadi landasan akhlak yang mencegah ilmu dan kekuasaan menjerumuskan seseorang pada kesombongan. Kesadaran spiritual ini adalah nilai pendidikan karakter utama yang menekankan bahwa semua kenikmatan termasuk ilmu pengetahuan hanya dapat membawa kemuliaan jika digunakan untuk beramal saleh yang diridai Allah. Ekspresi syukur Nabi Sulaiman as. merupakan manifestasi dari kesadaran spiritual beliau yang terefleksi dalam tiga dimensi utama (Rifin, 2. Pertama, syukur diwujudkan melalui ketaatan ibadah yang konsisten kepada Allah Swt. , yang menjaga beliau dari kelalaian meskipun dilimpahi kemewahan duniawi. Kedua, kenikmatan dan kekayaan yang luar biasa tidak lantas menumbuhkan kesombongan atau menjerumuskan beliau pada kufur nikmat, melainkan semakin menguatkan sikap rendah hati dan pengakuan atas kebesaran Allah. Ketiga. Nabi Sulaiman as. mempergunakan seluruh jabatan dan kekayaan yang dimilikinya secara optimal di jalan yang diridai Allah SWT. , menjadikan hartanya sebagai sarana untuk menjalankan misi kenabian dan kemaslahatan umat. Konsep ini menunjukkan bahwa syukur yang sejati merupakan integrasi antara hati . erendahan hat. , lisan . , dan perbuatan . mal saleh dan penggunaan sumber daya sesuai syaria. Hal ini sesuai dengan dimensi spiritual dalam penelitian, di mana ilmu bukan sekadar produk akal, melainkan melibatkan kesadaran batin bahwa ilmu adalah amanah dari Allah SWT. Farih et al. , . menegaskan bahwa syukur atas ilmu akan melahirkan kerendahan hati dan tanggung jawab moral dalam penggunaannya. Membangun Kesadaran Ilmiah dan Moral: Analisis Hakikat Ilmu Dalam Al-QurAoan Al-Qaa ayat 14: Integrasi Epistemologis. Spiritual, dan Moral Al-Qaa ayat 14 membahas tentang anugerah yang diberikan kepada Nabi Musa as. saat mencapai Ayat ini menjadi fondasi penting bagi konsep Integrasi Epistemologis. Spiritual, dan Moral dalam Islam. aAIa eOIA a eAeO eE aIA a a AaOEa acI aEa a A e AacN aOA a aAO aO eINa a eE UI acO a eE UI s aOE a aEEa IA e A aOA Artinya: Setelah dia (Mus. dewasa dan sempurna akalnya. Kami menganugerahkan kepadanya hikmah dan Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat Kebajikan. (Agama. Ayat ini menyajikan formula ideal dalam pengembangan diri seorang Muslim, yang terintegrasi dari tiga dimensi: Dimensi Epistemologis (Ilm. Allah SWT menganugerahkan 'Ilm . kepada Nabi Musa as. setelah beliau mencapai kedewasaan fisik dan mental . alagha ashuddahu wa istawA). Dimensi ini menekankan aspek epistemologis bagaimana ilmu diperoleh dan diakui. Ilmu yang diberikan mencakup pengetahuan keagamaan . dan kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan. Ilmu ini bukan sekadar informasi, melainkan kapasitas intelektual yang matang yang menjadi prasyarat untuk peran kenabian di masa depan. Dimensi Spiritual (Hikmah/Huk. Selain ilmu. Nabi Musa as. juga dianugerahi Hukm . ikmah atau kearifan/kebijaksanaa. Dalam konteks tafsir. Hukm sering diartikan sebagai kenabian, keputusan yang benar, atau kemampuan membuat penilaian yang bijaksana dalam urusan agama dan duniawi. Hikmah adalah puncak spiritual yang memungkinkan ilmu diterapkan secara tepat waktu, sesuai konteks, dan dengan tujuan yang benar. Ini menunjukkan bahwa ilmu tanpa hikmah . esadaran spiritual dan kearifa. berpotensi menyesatkan, sedangkan ilmu yang diikat oleh hikmah akan menjadi alat untuk kebenaran. Dimensi Moral (IhsA. Integrasi kedua karunia tersebut diakhiri dengan penegasan: AuWa kaAlika najz al-muusinnAy (Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat bai. IhsAn . erbuat bai. adalah dimensi moral tertinggi dalam Islam, yaitu beribadah seolah-olah melihat Allah. Pemberian Hukm dan AoIlm adalah balasan dari Allah karena Musa as. tergolong muusin . rang yang berbuat bai. Ini menegaskan bahwa prasyarat untuk mendapatkan ilmu dan hikmah yang sejati bukanlah semata kecerdasan, tetapi juga kualitas moral dan konsistensi dalam berbuat kebaikan. Dengan demikian, ilmu, hikmah, dan amal saleh . harus berjalan serentak. Kisah Nabi Musa yang diberikan uukm . dan ilm . menegaskan integrasi tiga dimensi sekaligus. Epistemologis, karena Musa diberi kemampuan pengetahuan. karena anugerah tersebut datang langsung dari Allah. dan moral, karena ilmu dan kebijaksanaan itu menjadi bekal untuk menjalankan tugas kerasulan. Setyawan et al. , . menegaskan bahwa bahwa ilmu tidak hanya bersifat konseptual, tetapi harus ditransformasikan dalam bentuk kepemimpinan, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Keempat ayat tersebut memberikan kerangka konseptual yang memperkuat hasil penelitian. AlMujAdalah ayat 11 menegaskan dimensi moral. AhA ayat 114 menegaskan dimensi epistemologis. An-Naml ayat 15 menggarisbawahi dimensi spiritual, dan Al-Qaa ayat 14 menunjukkan integrasi dari ketiganya. Dengan demikian, hakikat ilmu dalam al-QurAoan adalah pengetahuan yang diperoleh melalui integrasi akal, wahyu, dan hati. disertai kesadaran spiritual. serta diimplementasikan dalam perilaku moral yang konstruktif. Membangun Kesadaran Ilmiah dan Moral: Analisis Hakikat Ilmu Dalam Al-QurAoan Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya sintesis antara kajian literatur kontemporer dengan teks al-QurAoan, sehingga menghasilkan pemahaman komprehensif mengenai fungsi ilmu dalam kehidupan modern yang tetap berpijak pada prinsip-prinsip ilahiah. IV. SIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menegaskan bahwa hakikat ilmu dalam perspektif al-QurAoan mencakup tiga dimensi utama, yakni epistemologis, spiritual, dan moral. Dimensi epistemologis menjelaskan bagaimana ilmu diperoleh melalui integrasi wahyu, akal, dan pengalaman empiris, sebagaimana ditegaskan dalam Q. AhA . : 114. Dimensi spiritual menekankan bahwa ilmu harus diiringi kesadaran batin dan rasa syukur atas anugerah Allah, sebagaimana ditunjukkan oleh Nabi Sulaiman dalam Q. An-Naml . : 15. Sementara itu, dimensi moral menegaskan bahwa ilmu akan mengangkat derajat manusia jika diamalkan dengan benar, sebagaimana ditegaskan dalam Q. Al-MujAdalah . : 11. Ketiga dimensi tersebut menemukan integrasi yang utuh dalam Q. Al-Qaa . : 14 melalui kisah Nabi Musa yang memperoleh ilmu, kebijaksanaan, dan kebaikan . secara serentak. Dengan demikian, hakikat ilmu dalam al-QurAoan tidak hanya dipahami sebagai akumulasi pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter dan kesadaran ilahiah. Kebaruan penelitian ini terletak pada sintesis literatur kontemporer dengan analisis ayat-ayat al-QurAoan, yang menunjukkan bahwa epistemologi Islam menolak reduksionisme rasionalistik dan menawarkan paradigma komprehensif: ilmu harus diperoleh dengan usaha intelektual, ditopang kesadaran spiritual, dan diwujudkan dalam perilaku moral. Implikasi penelitian ini membuka peluang bagi pengembangan pendidikan Islam yang lebih holistik, yaitu pendidikan yang melahirkan manusia berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab sosial sekaligus Penelitian ini masih terbatas pada kajian literatur dan analisis teks al-QurAoan, sehingga diperlukan pengembangan lebih lanjut. Pertama, penelitian selanjutnya dapat memperluas sumber rujukan dengan mengkaji tafsir klasik maupun kontemporer secara komparatif untuk memperkaya perspektif epistemologis, spiritual, dan moral dalam al-QurAoan. Kedua, studi empiris dapat dilakukan melalui pendekatan kualitatif lapangan, misalnya dengan menelaah bagaimana konsep hakikat ilmu QurAoani dipraktikkan dalam lembaga pendidikan Islam. Ketiga, penelitian interdisipliner yang mengintegrasikan studi al-QurAoan dengan filsafat ilmu, psikologi pendidikan, atau sosiologi pengetahuan juga sangat potensial untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif. Dengan demikian, penelitian berikutnya diharapkan mampu memperdalam, memperluas, sekaligus mengaplikasikan hakikat ilmu QurAoani dalam konteks keilmuan dan kehidupan masyarakat kontemporer. REFERENSI