PEMBINAAN IRINGAN BATEL WAYANG WONG DI BANJAR PESALAKAN. DESA PEJENG KANGIN, KECAMATAN TAMPAKSIRING KABUPATEN GIANYAR I Gusti Putu Sudarta1. I Bagus Wijna Bratanatyam2. I Dewa Ketut Wicaksandita3 1,2,3 Institut Seni indonesia Denpasar vajrajnyana@yahoo. com1, bagusnatya@gmail. com2, wicaksandita@isi-dps. ABSTRAK Pertunjukan Wayang Wong di Banjar Pesalakan merupakan salah satu bentuk kesenian yang memiliki nilai-nilai sosial-religius dalam tampilan estetis seperti gerak tari, retorika antawancana, dan instrumentalia gamelan Bali, sehingga ia muncul sebagai salah satu identitas yang menggambarkan tingkat kreatifitas seni masyarakat. Dalam konteks religius. Wayang Wong di Desa Pejeng Kangin merupakan objek yang disakralkan . dan kerap ditampilkan pada upacara-upacara besar di Desa. Seiring bertambahnya usia pelaku seni pertunjukan Wayang Wong, dinamika estetika pertunjukan semakin berkembang. Di mana sebagai bagian dari identitas budaya. Wayang Wong diharapkan tetap dapat mengikuti perkembangan nilai-nilai yang ada. Pada awal tahun 2023, manggala desa Pejeng Kangin memutuskan revitalisasi dan reaktualisasi pertunjukan Wayang Wong secara bertahap, termasuk perbaikan instrumen kebendaan, dan pembinaan kepada sekaa Wayang Wong, khususnya pada bagian pengiring gambelan batel wayang. Dengan di ajukanya permohonana revitaliasai dan aktualisasi oleh manggala desa, pembina melalui program PPKM yang diselenggarakan ISI Denpasar mengajukan usulan pengabdian dengan melibatkan dosen dan mahasiswa pedalangan. Hal ini dilakukan dalam bentuk kerjasama mitra yang berimplikasi pada peningkatan kualitas sumber daya pelaksana kegiatan, baik peserta pelaku seni Wayang Wong maupun pembina . osen dan mahasisw. Metode pemberdayaan berbasis demonstrasi dengan teknik ceramah, disuksi, praktek, evaluasi, dan pementasan, efektif diterapkan sebagai solusi melalui dua tahapan, pertama pelatihan instrumen primer yaitu gender wayang . ola tetabuhan Gender, gegedig dan teteke. dan kendang krumpungan . upekan, mupuh kendang, dan pola kekendanga. , kedua gabungan seluruh instrumen melalui materi gending-gending tabuh Wayang Wong . ategak, putri, kakan-kakan, punakawan, palawaga, bapang jojor, selisi. Kata Kunci: Batel Wayang Wong . Banjar Pesalakan. Reaktualisasi. Pembinaan Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 ABSTRACT The Wayang Wong performance in Banjar Pesalakan is a form of art that has socioreligious values in its aesthetic appearances, such as dance movements, antawacana rhetoric, and Balinese gambelan instrumental show, which appear as an identity that describes the artistic creativity of the community. In a religious context. Wayang Wong is a sacred object . often performed in major ceremonies in the village. As the performers of Wayang Wong age, the dynamics of aesthetic forms in performances are As part of their cultural identity. Wayang Wong expected to keep up with the changing values. In early 2023, the village's community leaders decided to gradually revitalize and re-actualize Wayang Wong performances, including improving the physical instruments and providing guidance to Wayang Wong sekaa, particularly accompanying music of the Batel Wayang Gambelan. With the proposal for revitalization and actualization by the village's leaders, the mentors through the PPKM program organized by ISI Denpasar, proposed a community service project involving lecturers and students of puppetry . This collaboration aims to enhance the quality of resources, including participants of Wayang Wong performance and mentors . ecturers and A demonstration-based empowerment method, utilizing techniques such as lectures, discussions, practices, evaluations, and performances, effectively addressed the issue through two stages. The first stage focused on training in primary instruments, such as gender wayang (GenderAos hitting techniques, gegedig, and teteke. and kendang krumpungan . upekan, mupuh kendang, and kekendangan/drumming pattern. Second, it combines all instruments through practices of various tabuh . hythmic pattern. of gendhing in Wayang Wong performances . ategak, putri, kakan-kakan, punakawan, palawaga, bapang jojor, selisi. Keywords: Batel Wayang Wong . Banjar Pesalakan. Reactualization. Development. Volume 15 Nomor 2 Juni 2024 I Gusti Putu Sudarta, dkk Pembinaan Iringan Batel Wayang Wong A. PENDAHULUAN Gambelan Batel adalah ansambel Gambelan Bali yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan Wayang Kulit Ramayana serta Dramatari Parwa dan Wayang Wong. Pertunjukan Wayang Kulit Ramayana dan Dramatari Wayang Wong didasarkan pada cerita Ramayana yang berasal dari kakawin ramayana dan sapta kanda, sementara Dramatari Parwa menggunakan cerita Mahabharata yang berasal dari kakawin dan asta dasa parwa. Ansambel Gambelan Batel terdiri dari instrumen seperti gender wayang, sepasang kendang lanang - wadon, tawa-tawa, klenang, cengceng ricik, trentengan, klentong, kempur, dan suling. Gender wayang memiliki peran penting dalam Gambelan Batel karena memegang semua gending atau melodi lagu, menjadikannya dasar dalam membentuk struktur lagu dalam pertunjukan wayang. Tempo dan perhitungan waktu dalam Gambelan Batel diatur oleh tawa-tawa, klenang, klentong, dan kempur, sementara cengceng ricik memberikan aksen dinamis dan elaborasi ritmis sebagai respons terhadap lagu dan aksen dramatis dalam pertunjukan wayang. Kendang lanang-wadon memimpin ansambel dan mengatur irama, merespon penanda dan aksen yang diberikan oleh dalang dalam wayang kulit serta penanda yang diberikan oleh penari dalam dramatari Wayang Wong. Dari hal ini dapat diketahui bahwa terbangunnya iringan Batel Wayang Wong cenderung didominasi oleh gender wayang dan kendang lanang-wadon yang kemudian diperkaya dengan ritme serta tempo dan harmoni dari iringan lainnya. Gender wayang sebagai intrumen yang memberikan melodi terhadap ensambel Gambelan Batel belakang ini mengalami dimamika yang menunjukkan geliat perkembangan positif di tengah-tengah masyarakat. Perkembangan yang terjadi tampak melalui event-event perlombaan seni budaya yang kerap menjadikan gender wayang sebagai materi utama. Hal ini terlihat dalam lomba gender wayang, pertunjukan wayang kulit, dan kegiatan upacara agama, di mana gending-gending gender wayang gaya Karangasem menjadi repertoar favorit yang belakangan semakin populer di Denpasar dan Gianyar. Pesertanya juga tidak hanya terdiri dari kalangan remaja hingga dewasa, melainkan juga anak-anak, yang mana event tersebut populer dilaksanakan dari tingkat banjar . hingga tingkat provinsi di Bali. Banyak juga sanggar-sanggar yang mengajarkan gender wayang, dan gender wayang menjadi materi pembelajaran seni di sekolah-sekolah. Proses perkembangan ini telah menyebabkan terjadinya percampuran gaya permainan dan gending-gending yang ditampilkan dalam pertunjukan. Misalnya, penabuh gender dari Denpasar tidak hanya memainkan gending-gending dari daerahnya saja, tetapi juga memainkan gending-gending dari daerah lain. Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Kendati demikian, instrumen gender wayang sebagai kesatuan ensambel Batel Wayang Wong, tidak sejalan dengan popularitasnya. Dalam beberapa dekade terakhir, jumlah sekaa atau kelompok Gambelan Batel di Bali mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya pertunjukan Wayang Ramayana dan Dramatari Wayang Wong, sehingga pewarisan gending-gending batel Ramayana ke generasi berikutnya Selain disebabkan perubahan sosial dan politik yang berdampak pada kevakuman pada ruang keberlanjutan pewarisan gambelan batel, banyak tokoh seniman penabuh gender wayang yang menguasai repertoar gending-gending gambelan Batel Wayang Wong telah meninggal, sehingga tidak ada pewarisan gending-gending tersebut ke generasi berikutnya. Di sisi lain terdapat wilayah-wilayah di Bali yang memiliki sesuhunan . bjek sakral-disucika. berupa perangkat pementasan Daramtari Wayang Wong, di mana eksistensinya di masyarakat muncul sebagai pengikat kesatuan individu yang efektif, serta muncul sebagai wujud identitas budaya yang mencerminkan tingkat persepsi dan pemahaman nilai-nilai keluhuran yang tinggi. Mengenai eksistensi pertunjukan seni dramatari Wayang Wong beserta segenap elemen estetis di dalamnya, juga menjadi satu bagian masyarakat yang tidak dapat dipisahkan terlebih bagi warga di Banjar Pesalakan. Desa Pejeng Kangin. Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar. Banjar Pesalakan. Desa Pejeng Kangin dengan segenap sumber daya yang ada, merasa turut memiliki tanggungjawab secara adat ngepon sesuhunan . engayomi yang disucika. berupa tapel . , pengangge . berikut instrumen alat musik tradisional Batel Wayang Wong. Dalam konteks religius. Wayang Wong di Desa Pejeng Kangin merupakan satu objek yang disucikan/disakralkan . dan kerap ditampilkan pada upacara-upacara besar yang diselenggarakan di seputar Desa. Tidak hanya tampil sebagai sebuah bentuk seni dengan gabungan berbagai elemen estetis seperti gerak tari, retorika dan antawancana, instrumentalia gambelan Bali di dalamnya. Dramatari Wayang Wong di Banjar Pesalakan juga merupakan salah satu bentuk kesenian yang memiliki nilai-nilai sosial-religius yang bersifat mengikat tali kekerabatan antar individu-sosial. Hal ini tampak melalui eksistensi pertunjukan seni sakral Dramatari Wayang Wong di Banjar Pesalakan yang dipentaskan di ruang budaya sebagai salah satu identitas yang menggambarkan betapa kreatif dan dalamnya pengungkapan bentuk keyakinan religius masyarakat, yang diejawantahkan secara kreatif melalui persepsi terhadap seni yang bersifat maknawi dan bernilai. Seiring berkembangnya waktu, sumber daya manusia sebagai pelaku seni pertunjukan Dramatari Wayang Wong di Banjar Pesalakan tersebut telah mencapai usia lanjut, diikuti meningkatnya dinamika wujud estetis terhadap berbagai pertunjukan seni yang ada. Sehingga Dramatari Wayang Wong sebagai identitas budaya masyarakat yang berfungsi sebagai simbol pengikat kesatuan dari masyarakat yang bersifat dinamis juga mengikuti perkembangan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat pengampunya. Volume 15 Nomor 2 Juni 2024 I Gusti Putu Sudarta, dkk Pembinaan Iringan Batel Wayang Wong A. Maka pada awal Tahun 2023, manggala desa memutuskan untuk melakukan revitalisasi dan reaktualisasi terhadap pertunjukan ini dengan melakukan penyelamatan dan peningkatan kualitas seni pertunjukan secara bertahap. Pada momentum ini Manggala desa yang diwakili oleh Kelihan Banjar Pesalakan I Wayan Sutama, memohon kepada pembina tabuh . untuk dapat menyelenggarakan pembinaan dan pelatihan kepada sekaa . Wayang Wong yang telah dibentuk khususnya pada bagian pengiring pertunjukan Wayang Wong dengan instrumen gambelan Batel wayang. Untuk menghidupkan kembali Gambelan Batel di Banjar Pesalakan. Kepala Desa Pejeng Kangin dan Kelian Adat Banjar Pesalakan berupaya mengajak generasi muda untuk belajar gending-gending Gambelan Batel Wayang Wong. Mereka mengundang pembina tabuh dari Prodi Pedalangan melalui LP2MPP ISI Denpasar untuk mengajar dan membina generasi muda di Banjar Pesalakan. Dari permohonan tersebut, pembina melalui Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PPKM) yang diselenggarakan ISI Denpasar, mengajukan usulan pengabdian dengan melibatkan dosen dan mahasiswa pedalangan sebagai bentuk pengaplikasian proses pembelajaran yang secara langsung dapat berpengaruh pada kualitas pengetahuan teoritispraktis dari pelaksana yaitu dosen dan mahasiswa yang berperan sebagai pembina. Repertoar gending yang diajarkan dalam pembinaan ini disesuaikan dengan kebutuhan pementasan Dramatari Wayang Wong, dan dibagi ke dalam beberapa tahap pelaksanaan. Implementasi program ini memiliki implikasi yang signifikan, yaitu serangkaian upaya penyelesaian masalah yang diajukan oleh mitra sebagai target capaian dari program Selain itu, program ini juga bertujuan untuk mengintegrasikan pembelajaran secara sistematis dan terintegrasi. Dengan demikian, program ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang nyata bagi pengembangan seni pedalangan dan meningkatkan kualitas pementasan Dramatari Wayang Wong khususnya di Banjar Pesalakan. Rumusan target capaian dari pelaksanaan PPKM ini merujuk pada rumusan masalah, solusi, hingga bermuara pada target capaian dengan cara mengkategorisasi pelaksanaan yang besifat teknis dengan kerumitan tertentu dan menyelesaiakannya secara bertahap, di mana ringkasnya terpetakan pada tabel berikut. Mitra Banjar Pesalakan. Desa Pejeng Kangin. Kecamatan Tampaksiring. Kabupaten Gianyar Masalah Tidak adanya pembina bagi gambelan batel sebagai iringan Wayang Wong yang ada di Desa Pesalakan Gianyar. Solusi Target Mengajukan Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PPKM) bertema pembinaan iringan Batel Wayang Wong dengan melibatkan dosen dan mahasiswa dalam proses peregenerasian jangka Pelaksanaan pembinaan dengan melibatkan dosen dan mahasiswa sebagai bentuk pembelajaran terintegrasi berimplikasi sistematis dan bermanfaat jangka panjang bagi peregenerasian ilmu pengetahuan praktis iringan Batel Wayang Wong bagi mitra Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Belum pernah gamelan batel sebagai iringan Wayang Wong yang ada di Desa Pesalakan Gianyar. Melaksanakan pembinaan Batel Wayang Wong dengan metode sistematis terhadap instrumen signifikan/bersifat primer dari gambelan batel hingga penggabungan seluruh instrumen Batel Wayang Wong diantarannya: Pelatihan gender wayang Pelatihan kendang Pelatihan gendinggending intrumen batel secara keseluruhuan pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Penguasaan iringan gender wayang oleh mitra Penguasaan iringan kendang krumpungan oleh Penguasaan ensambel iringan Batel Wayang Wong secara keseluruhan oleh mitra METODE Adapun metode yang dipergunakan berpendekatan pemberdayaan masyarakat dengan teknik demonstrasi ceramah, disuksi, praktek, evaluasi, dan pementasan. Metode ini dianggap paling efektif diterapkan karena dalam perspektifnya sebagai metode dan tujuan, pemberdayaan memperkuat kewenangan dan keberdayaan golongan lemah dalam masyarakat, termasuk individu yang menghadapi masalah finansial serta melibatkan serangkaian kegiatan untuk memperkuat kewenangan ini, serta merujuk pada hasil yang diinginkan dari perubahan sosial, yaitu masyarakat yang berpendidikan, memiliki kewenangan, wawasan, dan keahlian untuk memenuhi kebutuhan hidup secara ekonomi dan sosial (Sujarwo 2021, . Pendekatan ini diperkuat dengan uraian pemberdayaan sebagaimana dikemukakan Chambers . dalam Sujarwo bahwa pemberdayaan warga tentang rancangan pembangunan ekonomi merangkum nilai-nilai sosial yang memantulkan paradigma terkini, yaitu pembangunan yang bersifat people centred . erpusat pada masyaraka. , participatory . , empowering . , dan sustainable . 1, . Penerapan pemberdayaan sebagai metode dan tujuan dalam pembinaan Batel Wayang Wong sebagai upaya memperkuat potensi masyarakat, dilaksanakan melalui langkah-langkah konkret di antaranya: . Tahap Persiapan (Merancang Kegiatan Pengabdian. Menentukan Lokasi Pengabdian. Menyusun Instrumen Pengabdian. Membuat Proposa. Tahap Pelaksanaan (Pemberian Materi Secara. Teoritis. Penuangan Materi Secara Praktis. Pemantapan materi. Evaluasi. Desiminasi Hasil Pengabdia. Pelaporan (Penyusunan Laporan Akhir Pengabdian. Publikasi Hasil Pengabdia. Efektifitas metode dipraktekkan dengan memberdayakan seluruh pemangku kebijakan yaitu, mitra melalui manggala desa dan sekaa Wayang Wong Banjar pesalakan, dan lembaga ISI Denpasar sebagai penyediaan sumber pendanaan dan pembinaan melalui Volume 15 Nomor 2 Juni 2024 I Gusti Putu Sudarta, dkk Pembinaan Iringan Batel Wayang Wong A. dosen dan mahasiswa. Pembinaa direalisasikan dua tahapan yang mencakup tiga kegiatan yaitu, tahap pertama pembinaan teknik instrumen-instrumen gambelan yang bersifat primer terdiri dari 2 kegiatan: . pembinaan iringan gender wayang . engetahuan dasar notasi gender wayang, gegedig dan teteke. pembinaan iringan kendang krumpungan . eknik pukulan . , dan gegilak kendan. Tahap kedua terdiri dari 1 kegiatan yaitu pembinaan gabungan materi Batel Wayang Wong, yaitu . pembinaan iringan Batel Wayang Wong. Hal ini didasakan pada kategorisasi instrumen yang memiliki kerumitan dan peran signifikan dalam Batel Wayang Wong yaitu gender wayang dan kendang lanangwadon. Sehingga dengan memberikan dominasi waktu pelathian yang intensif secara sektoral pada pemain instrumen-instrumen tersebut, dapat secara efektif menggabungkan instrumen lainnya. Metode pemberdayaan masyarakat ini dilaksanakan melalui serangkaian teknik yang dinilai memiliki efektifitas dan relevansi yang tepat. Adapaun teknik yang dimaksud di antaranya, . Demonstrasi: merupakan teknik memperlihatkan atau menunjukkan visual dan audio dari teknik bermain dan hasil yang dikeluarkan dari instrumen musik, dengan tujuan agar peserta menyaksikan dan dapat memahami gambaran umum alat musik Batel Wayang Wong yang dipelajari. Ceramah: merupakan teknik penyampaian informasi secara lisan oleh dosen selaku pembina yang dibantu oleh mahasiswa berdasarkan pengalamannya memainkan iringan Batel Wayang Wong. Dalam hal ini dijelaskan, konsep, fungsi, dan teori berkenaan keterhubungan antar instrumen Batel Wayang Wong. Diskusi: teknik interaktif dilakukan secara konsisten setiap awal dan akhir proses latihan, hal ini bertunjuan untuk memperoleh keterangan faktual mengenai capaian dan hambatan yang dialami peserta mengenai pemahaman mereka terhadap materi iringan batel yang . Praktek: ini merupakan teknik utama yang menghubungan teknik-teknik sebelumnya dengan aktifitas riil dari pembinaan iringan Batel Wayang Wong. Teknik ini menitik beratkan proses pembinaan iringan pada gerakan, ingatan, pengulangan, serta kemampuan daya tangkap peserta yang didukung alat musik Batel Wayang Wong secara langsung dan intensif. Evaluasi: teknik ini dilakukan pada bagian sebagai akhiran sekaligus diseminasi hasil dari keseluruan proses pembinaan iringan Wayang Wong. Evaluasi dalam pembinaan ini terbagai menajdi dua yaitu: evaluasi minor yang dilakukan setiap akhir latihan kecil, dan evaluasi mayor yang dilakukan pada bagian akhir pembinaan dari seluruh materi yang diberikan. Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 HASIL DAN PEMBAHASAN Proses pembinaan Gambelan Batel Wayang Wong di Desa Pejeng Kangin dimulai dengan pertemuan dan sosialisasi yang melibatkan seluruh pelaksana, bertempat di Wantilan Pura Puseh, sesuai jadwal pelaksanaan pada minggu ke 4 bulan April tahun 2024. Agenda yang dilaksanakan meliputi sambutan dari perwakilan perangkat desa adat, dosen, dan sekaa gambelan Batel Wayang Wong yang bertujuan untuk memperkenalkan tujuan dan pentingnya pembinaan gambelan batel dalam pelestarian pertunjukan Wayang Wong sebagai salah satu ciri khas budaya milik masyarakat di Banjar Pesalakan. Desa Pejeng Kangin Kecamatan Tampaksiring. Gambar 1. Pertemuan Tim Pembinaan Iringan Batel Wayang Wong Dengan Perwakilan Br. Pesalakan. Desa Pejeng Kangin. Kecamatan Tampaksiring Sumber: Sudarta . Adapun agenda pertemuan meliputi penjelasan tentang dukungan desa terhadap program pembinaan, menyoroti pentingnya kolaborasi antara desa, akademisi, dan masyarakat dalam melestarikan seni tradisionl Wayang Wong. Puncak pertemuan dilakukan paparan dari Tim Pembina yang diwakili oleh ketua pelaksana pengabdian Gambelan Batel Wayang Wong didampingi Koordinator Program Studi Seni Pedalangan. Secara umum paparan meliputi teknik dan metode dalam pembinaan, serta kontribusi akademisi dalam memperkaya pengetahuan dan keterampilan anggota sekaa Gambelan Batel. Pada akhir sesi dilakukan pemaparan dan kesepakatan jadwal latihan yang diselenggarakan setiap hari Sabtu dan Minggu terhitung dari Minggu ke 4 bulan April hingga akhir bulan Agustus Volume 15 Nomor 2 Juni 2024 I Gusti Putu Sudarta, dkk Pembinaan Iringan Batel Wayang Wong A. Pelatihan Gender wayang Dalam Iringan Batel Wayang Wong Gender wayang, termasuk dalam golongan gamelan tua dan dimainkan dengan dua tangan menggunakan sepasang panggul gender seperti gamelan kuno Bali lainnya. Suharta dan Suryatini . menyebutkan bahwa pemanfaatan instrumen kendang dalam barungan gender wayang ketika difungsikan sebagai iringan Wayang Kulit Ramayana, dikenal sebagai Bebatelan Gender Wayang . 3, . Gender wayang dari aspek wujud dan teknik bermainnya telah dikaji secara mendalam oleh I Ketut Yasa melalui penelitianya berjudul AuAspek Musikologis Gyndyr Wayang dalam Karawitan BaliAy . Yasa mendeskripsikan bahwa ensambel gender wayang terdiri dari dua pasang instrumen gender. Satu pasang disebut gender gede / pemade . erdiri dari pengumbang dan pengise. , sementara yang lain disebut gender barangan / kantilan . uga terdiri dari pengumbang dan pengise. (Yasa 2017, 47Ae. Lebih lanjut diuraikan bahwa instrumen-instrumen ini disusun berpasangan: gender gede pengisep berpasangan dengan gender gede pengumbang, dan gender barangan pengisep berpasangan dengan gender barangan pengumbang, di mana pengaturan ini berkaitan dengan fungsi masing-masing gender. satu memainkan pukulan polos dan pasangannya memainkan pukulan sangsih. Pembagian tugas ini memerlukan komunikasi yang baik antara para pengrawit, terutama ketika memainkan gending dengan pola kekotekan / ubit-ubitan. Mengenai hal ini Hartini dalam penelitianya mengemukakan bahwa terdapat konsep dualitas di dalam gender wayang Bali, sebagaimana yang tertulis dalam Lontar Prakempa, di mana kenyataannya telah menjadi bagian yang penting dari tatanan seni pertunjukan Bali khususnya dalam hal ini adalah pertunjukan dari gamelan gender wayang (Hartini 2021, . Adapun barungan gender wayang yang digunakan dalam pembinaan Gambelan Batel ini terdiri dari 4 . tungguh gender wayang yaitu 2 buah gender pemade . ender besa. dan 2 buah gender kantilan . ender keci. , yang masing-masing memiliki 10 bilah gender bernada selendro. Gender berlaras selendro dalam Batel Wayang Wong yang terdiri dari 2 gender pemade dan 2 gender kantilan yang secara teknis dimainkan oleh 4 orang pemian menggunakan masing-masing sepasang . panggul gender wayang. Evaluasi pada instrumen Gender wayang dilakukan melalui penilaian teknik memukul, ketepatan nada, dan interpretasi pola musik. Pembina mengamati melakukan perbaikan teknik serta performa secara bersamaan pada setiap peserta, serta memberikan umpan balik secara langsung, dalam menentukan tingkat pecapaian dari setiap materi gending yang Metode evaluasi ini cukup efektif mengingat jadwal pelaksanaan pembinaan terbilang cukup singkat. Berdasar kondisi lapangan, di mana peserta pelatihan merupakan pemula dalam mempelajari instrumen dan melodi gender wayang, di mana di sisi lain peserta telah mengetahui bentuk gender dan mampu memainkan instrumen gambelan tradisional Bali lainnya dengan teknik pukulan. Maka efektifitas pelatihan akan dilakukan dengan Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 pendekatan tradisional dalam pengajaran alat musik tardisi Bali yaitu maguru panggul, yang merupakan metode menyimak dan mempraktekkan teknik yang didemonstrasikan pengajar dengan petunjuk dan saran yang intensif dan terukur (Suryatini. Susanthi, and Sustiawati 2019, . Dengan telah diketahuinya landasan dasar serta filosofis dari instrumen gender wayang, maka selanjutnya, metode akan berfokus pada demonstrasi dan praktek, mengenai teknik dan ragam repertoar gending sebagai melodi orkestrasi Batel Wayang Wong. I Bagus Wijna Brata Natyam . bersama I Dewa Ketut Wicaksandita . dibantu dua mahasiswa Imas Berliana . dan Candra Parametya . memainkan 1 barung gender wayang . tungguh gender . pemade dan 2 kanti. dan menjelaskan teknik-teknik dasar dalam memainkan gender wayang. Dalam hal ini didemonstrasikan teknik gegedig/gegebug . unggal, dua, oryt dan otek-oteka. , serta Gegebug yang digunakan dunia gamelan Bali dapat mengandung dua pengertian yaitu memukul dan menutup bilah nada yang dimainkan (Hartini 2021, . Lebih lanjut didemonstrasikan gending-gending tabuh yang akan membentuk alur pementasan Wayang Wong yang diperjelas melalui notasi melodi dari gending gender. Efektifitas demosntrasi ini melibatkan teknik ilustratif dalam bentuk senandung vokal I Gusti Putu Sudarta menyuarakan instrumen lainnya seperti tawa-tawa, klenang, cengceng ricik, trentengan, klentong, kempur, dan suling. Dalam sesi penerapan teknik demonstrasi ini, dihasilkan suatu citra dan persepsi audio-visual sebagai pengetahuan dasar bagi peserta pelatihan yaitu sekaa Wayang Wong Banjar Pesalakan. Pemaparan dan Pemahaman Notasi Gender Wayang Bali Dalam Pelatihan Batel Wayang Wong Dalam mendemonstrasikan serta mempraktekkan dasar-dasar teknik tabuh gender wayang diimplementasikan dengan mengadopsi cara dan pemahaman dalam model notasi dingdong yang dipermudah dengan penggunaan huruf arab. Yasa . dalam penelitianya memberikan sebuah model pemahaman notasi yang dapat mempermudah mempelajari teknik dasar dalam gender wayang. Model tersebut oleh Yasa dilakukan dengan mengurutkan nada-nada gender wayang yang tersusun dari kiri: ndong, ndeng, ndung, ndang, nding, ndong, ndeng, ndung, ndang, nding. Dikemukakan pula bahwa gender wayang berlaras selendro memiliki padanan tangga nada Aopentatonik minorAo dengan susunan 5 nada pokok yang berlaku universal yaitu . Untuk mempermudah pemahaman ditampilkan penyetaraan tangga nada dingdong dalam notasi tradisi Bali yang dikonversi ke dalam angka arab dalam tangga nada pentatonik minor sebagai berikut: Volume 15 Nomor 2 Juni 2024 I Gusti Putu Sudarta, dkk Pembinaan Iringan Batel Wayang Wong A. Bagan 1. Persamaan dan Pemahman Notasi Dalam Bilah Gender Wayang Dalam Pembinaan Batel Wayang Wong Sumber: Wicaksandita . Notasi dan simbol Tangga nada dan . entatonik dang ding Bilah Gender Wayang Kelompok Bilah Nada Rendah Kelompok Bilah Nada Tinggi Sementara itu adanya jenis gender pemade dan gender kantilan yang memiliki perbedaan oktaf nada divisualisasikan dengan susunannya seperti berikut. Gender Pemade Gender Kantilan Dengan demikian, nada gender kantilan satu oktaf lebih tinggi dibanding dengan nada gender gede (Yasa 2017, . Hal ini menimbulkan kesan tersendiri terhadap tinggi rendah nada dalam gender wayang. Model notasi ini kemudian dipergunakan untuk mendeskripsikan bilah-bilah yang di gedig . dalam setiap praktek pelatihan khusus pada gender wayang. Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Ragam Teknik Gegedig Gender Wayang Dalam Pelatihan Batel Wayang Wong Dalam orkestrasi barungan Gambelan Batel ini gender wayang membawakan melodi gending dengan teknik permainan gender wayang yang sangat kaya dan canggih dengan berbagai model gegedig yang membangun melodi dan beragam kotekan . nterlocking part. Beragam phrase-phrase dan pattern-pattern model gegedig . dari kalimat lagu repertoar gending gender wayang ini diambil sebagai materi dasar untuk melatih kelenturan tangan, intensitas pukulan dan hentakan tangan, menjaga keseimbangan pukulan dan tutupan tangan penabuh gender, sehingga teknik dasar gegedig menjadi kuat dan canggih. Dengan dikuasainya teknik dasar menabuh gender wayang ini secara otomatis akan memudahkan penguasaan gending-gending gender wayang terutama gending-gending sebagai instrumentasi melodi pengiring Dramatari Wayang Wong. Pelatihan dimulai dengan demonstrasi teknik memegang panggul . alat musik gender wayang. Panggul gender yang seluruhnya terbuat dari kayu dengan diwarna motif bunga, ukiran, atau polos, terdiri dari tiga bagian utama. Pertama, katik . panggul gender wayang berwujud batangan dengan panjang 25 cm dengan bagian tengah sedikit membulat yang dirancang agar mengakomodasi teknik jepit oleh permainan gender. Kedua, kecek yang berwujud kerucut berlubang pada bagian tengah sebagai ruang memasukkan katik yang tersambung ke bungan panggul. Dalam prakteknya kecek berfungsi memberi tambahan suara yang meramaikan orkestrasi barungan gender secara bersamaan ketika bilah-bilah gender wayang dipukul dan dimainkan. Ketiga, bungan panggul berbentuk lingkaran pipih dengan tebal berkisar 1 cm dengan lubang untuk memasukkan katik panggul, merupakan bagian utama yang menghubungkan tangan pemain gender wayang dan bilah-bilah gender wayang. Gegedig Tunggal Gegedig tunggal merupakan teknik pukulan gender wayang dengan memfokuskan pukulan pada satu bilah nada yang terdapat pada gender wayang, gegedig dilakukan secara konstan dengan kedua tangan kanan dan kiri memukul pada nada yang sama dengan oktaf dan bilah yang berbeda, diikuti nekep . bilah gender yang telah dipukul. Demonstrasi dan praktek dilakukan secara berulang-ulang hingga peserta merasa fasih dan siap beralih pada teknik berikutnya. Gegedig Dua Gegedig Dua dalam instrumen gender wayang merupakan pengembangan dari gegedig tunggal, di mana gegedig dua berfokus pada dua bilah gender wayang. Signifikasni dari teknik ini adalah melatih kesigapan tangan dalam dalam memukul dan nekep bilah gender yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Penguasan teknik ini oleh peserta berpengaruh pada gegedig otek-otekan, yang merupakan versi kompleks dengan penambahan satu pukulan nada berbeda yang ditandai dengan penggunan berbagai variasi pola pukulan. Volume 15 Nomor 2 Juni 2024 I Gusti Putu Sudarta, dkk Pembinaan Iringan Batel Wayang Wong A. Gegedig Oryt Gegedig Oryt dalam demonstrasi dan prakteknya merupakan teknik gegedig 3-4 urutan bilah gender wayang dalam tempo yang cepat secara berulang-ulang. Teknik ini memungkinkan melodi menjadi lebih kaya dan harmoni, di sisi lain penggunaan teknik ini kerap muncul dalam ragam gending gender wayang pada tabuh Batel Wayang Wong. Gegedig Otek-Otekan Gegedig otek-otekan merupakan kotekan, yaitu hasil mengkotek atau dalam hal ini menabuh dua buah nada ke arah lebih tinggi . otif ascendin. , dan menabuh dua buah nada ke arah lebih rendah . otif descendin. (Yasa 2017, . Gegedig otek-otekan menghasilkan 2 pola permaianan gender wayang yang dikenal dengan istilah gegedig polos, dan gegedig sangsih, di mana perpaduan keduanya menghasilkan beragam jenis ubitubitan. Ubit-ubitan merupakan perpaduan dari dua pola tabuhan kotekan yang menghasilkan jalinan yang saling mengisi dan mengunci . 7, . , di mana ragam pola ubit-ubitan yang dihasilkan dari teknik otek-otekan ini menghasilkan kompleksitas audiovisual yang menjadi kunci kerumitan dari permainan barungan gender wayang. Jalinan keseimbangan dari otek-otekan ini menjadi penekanan kompleksitas dari keindahan audio pada gender wayang, sebagaimana disebutkan Hartini dan Haryati . bahwa melodi, ritme, harmoni . gempat, nyangsi. , tempo . ecat, aden. , dinamika . guncab, ngee. merupakan dua unsur yang berlawanan dengan tugas yang berbeda tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu membentuk keindahan . pada gender wayang (Hartini and Haryati 2023, . Sebagaimana gegedig ini dapat disimak pada pada notasi berikut. Bagan 2 Contoh Perpaduan Gegedig Polos dan Gegedig Sangsih Dalam Ubit-Ubitan Gender Wayang Sumber: Wicaksandita . Ritme UbitUbitan Otek polos . Otek sangsih . Tetekep Dalam teknik bermain gamelan Bali secara umum, tetekep merujuk pada cara atau teknik tertentu dalam memukul dan menutup bilah nada pada instrumen gamelan. Tetekep melibatkan koordinasi yang tepat antara tangan kiri dan tangan kanan pemain, di mana satu tangan memukul bilah nada sementara tangan lainnya menutup bilah nada yang telah dipukul untuk menghentikan getarannya. Namun teknik tetekep pada gender wayang lebih kompleks secara teknis, karena bagian tangan yang dipegunakan untuk nekep ialah bagian Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 telapak samping, disebabkan karena kedua tangan juga berperan memegang panggul Teknik ini penting untuk menghasilkan suara yang bersih dan teratur, serta memungkinkan pemain untuk menciptakan ritme dan melodi yang kompleks. Di akhir sesi latihan, diterapkan teknik ceramah dan disukusi tentang gender wayang sebagai upaya evaluasi kecil berkenaan hal-hal yang manjadi hambatan dalam pencapaian target pembinaan. Materi ceramah mencakup hal-ihwal gender wayang, struktur musikal, teknik dasar bermain, dan peran instrumen dalam iringan Wayang Wong . Secara rinci pembina memberikan penjelasan rinci dan demonstrasi singkat, terhadap berbagai kendala yang dihadapi peserta selama pelatihan berlangsung dengan memanfaatkan media audio-visual, dukungan dari perangkat desa yang diwakili oleh Kelian Banjar Pesalakan juga sangat berkontribusi besar dalam menyukseskan pembinaan, di mana Kelian memberikan motivasi secara verbal hingga mendampinging secara penuh proses latihan sebagai bentuk ilmpementasi metode pemberdayaan yang disepakatai secara bersama-sama. Gambar 2. Pelatihan Iringan Gender Wayang Dalam Pembinaan Batel Wayang Wong Di Banjar Pesalakan Sumber: Sudarta . Pelatihan Kendang Krumpungan Dalam Iringan Batel Wayang Wong Kendang Krumpungan merupakan instrumen penting dan vital dalam barungan Gamelan Batel Wayang Wong. Sepasang kendang krumpungan lanang wadon dengan masin-masing karakternya yang khas berfungsi sebagai pemimpin dalam orkestrasi gamelan Batel Wayang Wong. Sepasang Juru kendang yang menguasai teknik permainan kendang yang benar sesuai dengan aturan baku kendang lanang dan kendang wadon akan menghasilkan paduan suara kendang yang sangat jelas dan harmonis dalam jalinan komposisi gegedig yang dibangun dalam satu siklus waktu atau Gongan. Apakah yang dimainkan adalah instrumen yang ketat dan cepat, tabuh dua, dan tabuh telu, tentunya pemain kendang yang mumpuni akan mampu mengelaborasi model-model gegedig dengan memberikan improvisasi dalam siklus waktu tabuh yang dimainkan. Juru kendanglah yang Volume 15 Nomor 2 Juni 2024 I Gusti Putu Sudarta, dkk Pembinaan Iringan Batel Wayang Wong A. memberikan penanda mulai, berhenti dan berakhirnya satu gending. Membangun dinamika lagu, menjaga tempo, mendorong ketat tempo dan menurunkan tempo gending dengan rapi. Merespon dengan cepat dan tangkas penanda yang diberikan oleh penari melalui gerak tari, ucapan, dan tembang sehingga terjalin komunikasi yang intens dan saling memberikan spirit sehingga secara keseluruhan koreografi yang dibangun, gending yang mengiringi tarian tokoh, bersama-sama menghidupkan alur dan suasana dramatik yang ditampilkan. Oleh karenanya pementasan menjadi hidup, cerita dan pesan yang diamanatkan melalui dialog para tokoh tersampaikan dan disimak oleh penonton. Mengawali pembinaan. I Gusti Putu Sudarta . memberikan demonstrasi macam-macam jenis teknik bermain kendang krumpungan yang terdiri dari 1 pasang kendang krumpungan lanang dan wadon dalam peragaan ini ditekankan jenis-jenis model permainan yang akan menjadi instrumen pemimpin dari iringan batel secara keseluruhan. dalam demonstrasi ini kedua pembina juga memberi penekanan-penekanan khusus seperti kode-kode gerak tertentu seperti gerakan tangan dan wajah sebagai bagian dari teknik kepemimpinan kendang krumpungan dalam ensambel Batel Wayang Wong Gambar 3. Pelatihan Kendang Krumpungan Dalam Pembinaan Batel Wayang Wong Di Banjar Pesalakan Sumber: Sudarta . Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Adapun teknik yang dipergunakan dalam praktek dan demonstrasi yang diterapkan berfokus pada cara-cara permainan kendang krumpungan dengan target capaian peserta mampu menguasai atau membunyikan kendang sesuai kebutuhan orkestrasi Batel Wayang Wong. Pada umumnya teknik membunyikan kendang Bali hanya ada 2, yaitu teknik menggunakan panggul dan teknik yang tanpa menggunakan panggul . ukulan tanga. (Pryatna. Santosa, and Sudirga 2020, . , di mana dalam hal kendang krumpungan pada pembinaan iringan Batel Wayang Wong dipergunakan 2 kendang krumpungan lanang . aki-lak. dan wadon . yang dimainkan tanpa menggunakan panggul secara berpasangan oleh dua orang. Kendang lanang yang suaranya lebih tinggi dari kendang wadon menandakan seorang laki-laki posisinya lebih tinggi daripada wanita, akan tetapi tetap menghormati dan menjaga perempuan, yang mana hal ini dimaknai sebagai representasi konsep rwa bhineda yang mencerminkan adanya keseimbangan dari dua buah instrumen menjadi acuan pokok dari pembuatan gambelan Bali . 0, . Konsep ini juga sebelumnya muncul dalam pelatihan gender wayang, yaitu ketika adanya 2 teknik yang diajarkan kepada peserta dalam memunculkan pengayaan dan kompleksitas suara gender melalui pola otek-otekan polos dan sangsih. Adapun demonstrasi dan praktek yang diterapkan dalam pelatihan kendang krumpungan ini terbagi menjadi 2 yaitu demonstrasi dan praktek teknik pukulan kendang, dan demonstrasi dan praktek jalninan suara kendang. Demonstrasi Dan Praktek Teknik Pukulan Kendang Demonstrasi dan praktek yang diterapkan secara mendasar berupaya untuk mengajarkan peserta membunyikan suara kendang Sesi berikutnya berfokus pada kendang Pelatihan ini mencakup teknik dasar pukulan, variasi irama, dan sinkronisasi dengan instrumen lain. Mahasiswa yang sudah mahir dalam kendang turut berperan sebagai asisten, membantu peserta menguasai teknik yang diajarkan oleh dosen. Secara umum pola pukulan kendang krumpungan dapat dimainkan dengan memberikan ruang pukulan yang lebih pada bagian mua . kendang (Purwanto. Mawan, and Putra 2022, . Dalam mendemonstrasikan serta mempraktekkan teknik pukulan kendang yang dipergunakan dideksirpsikan secara rinci melalui uraian bagan, yang memuat perwujudan kendang krupungan, langkah-langkah praktis dalam menyuarakan kendang, serta suara kendang yang dihasilkan. Volume 15 Nomor 2 Juni 2024 I Gusti Putu Sudarta, dkk Pembinaan Iringan Batel Wayang Wong A. Demonstrasi dan Praktek Teknik Pukulan Kendang Lanang Muka Kanan Kendang Muka Kiri Kendang Suara -kan Muka Kanan Kendang Muka Kiri Kendang Suara -kan Demonstrasi dan Praktek Teknik Pukulan Kendang Wadon Muka Kanan Kendang Muka Kiri Kendang Suara -kan Muka Kanan Kendang Muka Kiri Kendang Suara -kan Praktek Gegilak Kendang Lanang Dan Kendang Wadon. Paduan teknik dan keterjalinan antara, suara wangkis kendang seperti suara teng, ting, suara pung dan tut, dan juga suara ceditan wadon yang pas, sehingga jalinan kendang lanang wadon yang benar dalam memimpin orkertrasi Batel Wayang Wong menghasilkan timbal balik dan saling bersahutan dengan ketat . dan kadang longgar . sesuai dengan mood adegan yang sedang ditampilkan penari Wayang Wong . Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Dialog ceditan dit, dag kendang wadon dan cetutan kendang lanang merupakan jalinan pola-pola gegedig yang dibangun dengan komposisi yang pas dalam satu siklus gongan. Jalinan ini kemudian dikenal dengan istilah gegilak kendang lanang-wadon, di mana secara ritmis gegilak merupakan komposisi permianan dua buah kendang yang memiliki ukuran gending atau lagu yang pendek, di mana ukuran komposisi gending gegilak ini biasanya terdiri dari delapan sampai tiga puluh dua ketukan dalam satu gong atau dalam satu pola melodi (Pryatna. Santosa, and Sudirga 2020, . Keterampilan teknik permainan kendang krumpungan lanang-wadon ini yang akan diajarkan kepada peserta pembinaan dari mitra sekaa batel di Banjar Pesalakan Pejeng Kangin Gianyar. Evaluasi kendang krumpungan meliputi penilaian pada teknik dasar pukulan, variasi irama, dan sinkronisasi gegilak, di mana apda sesi ini peserta diminta memperagakan teknik yang telah didemonstrasikan serta dipelajari selama pelatihan berlangsung. Capaian peserta dinilai berdasarkan ketepatan pukulan, kualitas suara kendang yang dihasilkan, harmoni dalam tempo gegilak, serta keselarasan irama kendang lanang dan wadon. Dalam evaluasi ini ditemukan suatu kelebihan dari metode pemberdayaan, yaitu percepatan pencapaian materi yang dilatih, disebabkan adanya penerapan metode serupa pada kegiatan seni tradisi yang berbeda. Berdasarkan perancangan jadwal dan rencana yang di susun sebelumnya, peserta diperkirakan mampu mempraktekkan materi secara lengkap pada 6-8 kali proses pelatihan dengan instrumen penilaian yang disampaikan sebelumnya. Dalam prakteknya peserta mampu mencapai keseluruhan materi hingga siap terlibat dalam bentuk latihan lanjutan gabungan seluruh instrumen batel hanya dalam 4-5 kali pertemuan saja. Telaah lebih lanjut menemukan bahwa, peserta yang berfokus ditempatkan sebagai pemain kendang telah memiliki dasar teknik gegilak, dikarenakan ia merupakan anggota dari sekaa tabuh dari Banjar Pesalakan, yang juga kerap memainkan alat musik kendang pada pelaksanaan kegiatan seni dan bentuk tradisi budaya seperti pelibatan ensambel gambelan pada ritual agama yang kerap diselenggarakan di lingkungan Banjar Pesalakan. Hal ini menandakan bahwa efektifitas metode pemberdayaan juga dipengaruhi adanya kegiatan serupa yang dilaksanakan secara simultan, dan di dukung masyarakat Banjar Pesalakan itu Dalam sesi akhir pelatihan dilaksanakan ceramah dan disuksi mengenai kendang krumpungan yang difokuskan pada kendala yang dihadapi, perencanaan latihan gabungan, serta evaluasi kecil mengani teknik permainan, variasi irama, dan keberpaduan kendang krumpungan dalam orkestrasi Batel Wayang Wong. Berkenaan dengan hal ini ditemukan sebuah kendala menyangkut penjadwalan ulang waktu latihan, dikarenakan padatnya kegiatan personal dalam kegiatan seni lainnya yang diselenggarakan di tingkat provinsi. Dapat dikemukakan, bahwa di sisi lain metode pemberayaan yang secara tidak langsung telah dipraktekkan, memiliki dampak terhadap ketercapaian materi pelatihan. Volume 15 Nomor 2 Juni 2024 I Gusti Putu Sudarta, dkk Pembinaan Iringan Batel Wayang Wong A. Pelatihan Gabungan Instrumen Batel Wayang Wong Setelah intensitas pembinaan gender wayang dan kendang krumpungan dilakukan pelibatan pemberdayaan masyarakat dalam bentuk pengambil alihan instrumen seperti tawa-tawa, klenang, cengceng ricik, trentengan, klentong, kempur, dan suling yang bersifat ritmis dipercayakan kepada sekaa yang akan dilatih. Dengan teknik ilustratif sebelumnya diharapkan telah ada gambaran melodi dan ritme dari iringan batel keseluruhan yang didemonstrasikan langsung oleh seluruh pelaku pembinaan termasuk dosen, mahasiswa, dan sekaa tabuh Batel Wayang Wong , yang mana hal ini muncul sebagai bentuk demonstrasi terintegraatif dalam metode yang diterapkan. Dibia dalam Arthanegara, dkk . menyebutkan bahwa gending batel berbentuk ostinato yang berarti motif atau frasa yang berulang terus menerus dengan suara musik yang sama, terdiri dari 2 . nada, yang bersuasana sangat bersemangat dan dipergunakan untuk mengiringi para raksasa serta digunakan untuk mengiringi adegan wayang ketika sedang bertempur, dalam pertunjukan wayang kulit Bali . 1, . , di mana gambelan batel ini umum dan muncul dalam jenis pertunjukan wayang ramayana pada format pertunjukan wayang tradisi Bali. Sementara itu Wayang Wong di Banjar Pesalakan, merupakan pertunukan tari yang juga mengadaptasi cerita ramayana, dengan mengadopsi instrumen musikal pengiring yang sama yaitu gambelan batel. Barungan Batel Wayang Wong yang dipergunakan terdiri dari sejumlah alat musik tradisional Bali. Secara lengkap ragam alat musik yang dipergunakan diantaranya 4 . tungguh gender wayang . pemade dan 2 1 pasang kendang krumpungan . anang dan wado. 1 buah kempur. 1 buah 1 buah kajar. 1 buah trengteng. 1 buah ceng-ceng kopyak. dan 2 buah suling. Secara keseluruhan dipergunakan 12 buah gambelan tradisional Bali. Kendati demikian klentong dan kempur dimainkan oleh 1 orang, maka total keseluruhan terdapat 11 orang pemain orkstrasi Batel Wayang Wong yang dilibatkan dalam pembinaan. Gambelan Batel untuk iringan Dramatari Wayang Wong memiliki struktur yang baku, akan tetapi tetap terdapat pemunculan gending-gending khusus yang diatur temponya dan diposisikan sesuai dengan kebutuhan alur dramatik dari cerita yang dipergunakan. Hal ini terkait dengan upaya pemunculan suasana dalam pementsannya. Setelah bah-bangun satwa atau alur pembabakan cerita yang diuraikan dalam pengadegan disepakati oleh sutradara dan pimpinan sekha gamelan batel, dilanjutkan dengan penentuan gendinggending yang akan dipakai dan dipergunakan sebagai materi ajar. Dalam proses pembinaan iringan Batel Wayang Wong ini akan diajarkan gendinggending yang pasti terpakai untuk mengiringi stock character atau tokoh-tokoh dalam setiap pementasan Wayang Wong. Adapun gending-gending yang di maksud muncul dalam pertunjukan Wayang Wong, adalah sebagai berikut. Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Tabuh Petegak Batel Rangrangan: merupakan gending tabuh batel disajikan sebagai sajian musikal yang mengawali pertunjukan. Tabuh Petegak Batel Rangrangan ini struktur gendingnya sangat sederhana terdiri dari gineman atau bagian pembuka lagu . , dan bagian batel dengan pengrangrang yang diulang dua kali putaran dan diakhiri dengan penyuwud batel bawak. Batel Adeng: merupakan gending untuk mengiringi tokoh Inya atau Condong sebagai abdinya tokoh Putri. Gending ini memiliki karakteristik melodi yang berulang, pengunaan nada tinggi dan rendang yang semibang. Batel Adeng Tabuh Dua: ialah gending tabuh batel untuk mengiringi tokoh putri dengan karakteristik tokoh lembut dan gemulai. Tabuh batel ini dimainkan dengan menggunakan intonasi vokal dan penekanan lirik oleh tokoh, dengan teknik pukulan rendang ke sedang dengan tujuan tidak mendominasi vokal penari. Gending Rundah dan Alas Harum untuk mengiringi adegan panyarita atau pengenalan keberadaan, konteks cerita, dari tokoh dan persoalan yang sedang dihadapi. Gending ini memiliki karakteristik lirih dan cenderung samar terdengar dikarenakan dalam pertunjukan Wayang Wong gending ini berfungsi melatari adegan dialog anatar tokoh. Gending Mesem untuk mengiringi adegan sedih tokoh halus putra dan putri. Gending ini dominan menggunakan teknik pukulan ngoret dengan tujuan memunculkan harmoni nada yang bervariatif yang melatari vokal sendu dari penari. Tabuh ini memiliki ciri khas terputus-putus setiap 1 kali gongnya. Gending Kakan-kakan . untuk mengiringi tarian dayang pengiring putri. Gending kakan-kakan ini mempergunakan nada rendah dan tinggi yang terdapat pada gender sebagai penanda jumlah periodisasi putaran penari di panggung, di mana pada bagian akhir diberikan penekanan intonasi pukulan sebagai penanda akhir dari tarian. Gending Batel Adeng Gede . ktaf renda. dan Batel Adeng Cenik . ktaf keci. : dua jeni batel ini dipergunakan untuk tokoh punakawan. Batel Adeng Gede dikususkan untuk mengiringi tokoh Twalen dengan karaktistik tua, bijaksana, dan memiliki vokal suara berat dan rendah, sementara itu Batel Adeng Cenik sebaliknya dipergunakan mengiringi tokoh Merdah dengan karakteristik muda, enerjik, dan disuarakkan dengan nada yang cenderung ngelik . Gending Selisir: untuk mengiringi tokoh Rama dan Laksmana. Gending Bapang Jojor dan Pengipuk: gending ini dipergunakan untuk mengiringi punakawan Delem dan punakawan Sangut. Gending bapang ini terbagai dua dikarenakan keluarnya tokoh Delem dan Sangut tidak bersamaam, serta tokoh Delem yang memiliki karakteristik enerjik, semangat, dan bablas sejalan dengan harmoni dan intonasi Bapang Jojor. Sementara itu Pengipuk sebagai pengiring tokoh sangut merupakan lanjutan dari Bapang Jojor dengan pola permainan yang lebih lambat dan harmonis, di mana pada bagaian akhir gending terdapat adegan ngipuk yang umumnya divisualisasikan dengan adegan sangut dan delem menari bersama-sama. Volume 15 Nomor 2 Juni 2024 I Gusti Putu Sudarta, dkk Pembinaan Iringan Batel Wayang Wong A. Batel Gede: dipergunakan untuk mengiringi Rahwana dan Meganada. Gending didominasi dengan pukulan gender pada oktaf rendah mengikuti fungsinya sebagai pengiring tokoh Rahwana dan Meganada yang berkarakteristik vokal suara berat dan penampilan yang agung. Gending Batel Palawaga: merupakan gending batel dengan berbagai variasi dan melodinya serta karakteristiknya yang semarak, di mana gending ini dipergunakan untuk mengiringi tokoh-tokoh wenara . asukan kera dengan kasta tingg. , seperti Sugriwa. Anoman. Menda, dan Sempati. Gending Batel Barubuh: ganding ini dipergunakan untuk mengiringi adegan perang. Batel ini didominasi dengan pukulan keras, tempo yang cenderung cepat dengan runtutan pengulangan nada yang konsisten, batel barubuh dikemas fleksibel dalam arti dapat dimulai dan dihentikan kapan saja dalam adegan mengarah ke klimaks. Gending Tabuh Gari: adapaun gending ini merupakan sajian musikal penutup atau Evaluasi gabungan seluruh instrumen dilakukan melalui pertunjukan yang melibatkan seluruh alat musik dan pemain dalam momentum diseminasi akhir pengabdian yang dilakukan di Banjar Pesalakan. Desa Pejeng Kangin. Volume 15 Nomor 2 Desember 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 KESIMPULAN Program revitalisasi dan aktualisasi yang diajukan oleh manggala desa melalui permohonan yang diterima oleh ISI Denpasar dalam rangka PPKM telah melibatkan dosen dan mahasiswa pedalangan untuk menjalankan pengabdian. Kerjasama ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam pelaksanaan kegiatan seni, baik untuk peserta pelaku seni Wayang Wong maupun pembina yang terdiri dari dosen dan mahasiswa. Dengan melibatkan berbagai metode berbasis demonstrasi seperti ceramah, diskusi, praktik, evaluasi, dan pementasan, program ini memberikan solusi efektif dalam bentuk pelatihan dan penyampaian materi yang selaras dengan kegiatan Tri Dharma Perguruan tinggi . endidikan/pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyaraka. Program kegiatan pengabdian kepada masyarakat pembinaan iringan Batel Wayang Wong ini merupakan salah satu luaran pelaksanaan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diharapkan dan dibutuhkan oleh masyarakat di Banjar Pesalakan. Desa Pejeng Kangin. Kecamatan Tampaksiring. Pelatihan ini secara terjadwal diselenggarakan terdiri dari dua tahapan utama. Tahap pertama berfokus pada pelatihan instrumen primer seperti Gender wayang yang mencakup pemaparan dan pemahaman notasi gender wayang, serta pola tetabuhan gender wayang, gegedig, dan tetekep. Di mana hasil akhirnya diperoleh kemampuan peserta dalam menguasai jenis-jeni teknik pukulan geder wayang yaitu gegedig tunggal, gegedig dua, gegedig oret, gegedig otek-otekan, dan tetekep. Penguasaan pengetahuan ini kemudian diperdalam guna tahapan kolaborasi dan kompoisisi dengan jenis instrumen primer lainnya seperti kendang krumpungan. Pelatihan kendang krumpungan sebagai istrumen primer meliputi demonstrasi dan praktek teknik pukulan kendang guna memperoleh pemahaman dan kemampuan membunyikan kendang krumpunga lanang-wadon yang dipergunakan dalam orkestrasi Batel Wayang Wong di nataranya . ing, pung, tut, pak, teng, cang, pak, da. , dan praktek gegeilak kendang krumpungan yang merupakan kolaborasi anatara bertemuanya suara-suara yang dihasilkan kendang lanang dan wadon dalam jalinan kendang krumpungan. Melalui intensitas pelatihan yang tersusun, dan teknik demonstrasi, praktikum, evaluasi, dan diskusi. Diperoleh hasil penguasaan terhadap materi ini, peserta diberikan pemahaman mendalam tentang dasar-dasar permainan instrumen yang merupakan alat musik penting dalam mengiringi pertunjukan Wayang Wong. Tahap kedua mengintegrasikan seluruh instrumen yang telah dilatih dalam bentuk gending-gending Volume 15 Nomor 2 Juni 2024 I Gusti Putu Sudarta, dkk Pembinaan Iringan Batel Wayang Wong A. tabuh Wayang Wong yang meliputi Tabuh Petegak Batel Rangrangan. Batel Adeng. Batel Adeng Tabuh Dua. Gending Rundah dan Alas Harum. Gending Mesem. Gending Kakankakan . Gending Batel Adeng Gede . ktaf renda. dan Batel Adeng Cenik . ktaf Gending Selisir. Gending Bapang Jojor dan Pengipuk. Batel Gede. Gending Batel Palawaga. Gending Batel Barubuh. Gending Tabuh Gari. Gabungan seluruh instrumen ini memberikan pengalaman praktik yang komprehensif bagi peserta, sehingga mampu meningkatkan kemampuan mereka dalam pementasan dan melestarikan pertunjukan seni Wayang Wong di Banjar Pesalakan. Desa Pejeng Kangin. Kecamatan Tampaksiring. Kabupaten Gianyar. DAFTAR PUSTAKA