Vol 6 No 1 . P-ISSN 2807-9205 | E-ISSN 2808-0041 DOI: 10. 54180/joeces. Metode Talaqqi sebagai Strategi Pembelajaran Membaca AlQurAoan bagi Anak Berkebutuhan Khusus Vina Farhatul Aulia1. Wahyu Purwasih2. Ahmad Sahnan3 224110406039@mhs. id1, wahyupurwasih@uinsaizu. id2, sahnan@uinsaizu. UIN Prof K. Saifuddin Zuhri. Jawa Tengah. Indonesia ABSTRAK Pembelajaran membaca Al-Qur'an untuk anak berkebutuhan khusus menghadapi banyak tantangan, seperti kesulitan mengenal huruf hijaiyah, masalah konsentrasi, dan perbedaan dalam kemampuan belajar. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran harus disesuaikan dengan unik setiap anak. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah talaqqi, yang merupakan pembelajaran melalui interaksi langsung antara guru dan siswa yang mendengarkan dan menirukan bacaan secara bertahap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan dan menganalisis metode talaqqi dalam mengajar anak berkebutuhan khusus membaca Al-Qur'an di PAUD Putra Harapan di Purwokerto. Studi ini melakukan penelitian dengan pendekatan kualitatif, yang merupakan jenis penelitian Metode purposive sampling digunakan untuk memilih subjek penelitian. Informan yang dipilih secara sengaja berdasarkan kriteria yang relevan dengan tujuan penelitian termasuk kepala sekolah, guru kelas, guru tahfidz, dan anak-anak dengan kebutuhan khusus belajar. Setelah dikumpulkan melalui dokumentasi, observasi, dan wawancara, data dianalisis melalui tahap reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode talaqqi digunakan dengan memberikan contoh bacaan kepada guru dan bimbingan individual kepada siswa secara berulang kali. Secara keseluruhan, pendekatan ini meningkatkan keterlibatan belajar, fokus, dan kepercayaan diri anak selain membantu mereka mempelajari huruf dan memperbaiki bacaan mereka. Oleh karena itu, metode talaqqi dianggap efektif karena mampu memenuhi kebutuhan belajar setiap anak. Kata Kunci: Anak Berkebutuhan Khusus. Metode Talaqqi. Pembelajaran Al Qur-an ABSTRACT Learning to read the Quran for children with special needs faces many challenges, such as difficulty recognizing the hijaiyah letters, concentration problems, and differences in learning abilities. These conditions indicate that the learning approach must be tailored to each child's unique characteristics. One approach that can be used is talaqqi, which is learning through direct interaction between teachers and students who listen and imitate the reading gradually. The purpose of this study is to explain and analyze the talaqqi method in teaching children with special needs to read the Quran at Putra Harapan Early Childhood Education (PAUD) in Purwokerto. This study conducted research with a qualitative approach, which is a type of field research. A purposive sampling method was used to select research Informants were selected intentionally based on criteria relevant to the research objectives, including the principal, class teachers, tahfidz teachers, and children with special learning needs. After being collected through documentation, observation, and interviews, data were analyzed through the stages of reduction, presentation, and drawing conclusions. The results showed that the talaqqi method was used by providing reading examples to teachers and individual guidance to students repeatedly. Overall, this approach increases children's learning engagement, focus, and confidence, as well as helping them learn the alphabet and improve their reading. Therefore, the talaqqi method is considered effective because it can meet the learning needs of each child. Keywords: Children with Special Needs. Talaqqi Method. Learning the Koran PENDAHULUAN Pembelajaran membaca al-Qur'an sangat membantu perkembangan bahasa, kognitif, dan spiritual anak. Namun, anak berkebutuhan khusus (ABK) sering menghadapi masalah dalam proses pembelajaran, sehingga diperlukan pendekatan dan metode yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing anak. Kesulitan ini dikarenakan keterbatasan fisik, lambat dalam berpikir, perbedaan kemampuan belajar, serta kurangnya dukungan dari guru yang memahami kebutuhan mereka. Akibatnya, banyak anak ABK belum mampu membaca Al-Qur'an dengan benar dan lancar, meskipun mereka telah belajar selama beberapa waktu. (Umam & Masruroh, 2. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang digunakan belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Oleh karena itu, untuk memungkinkan anak-anak untuk belajar dengan lebih baik dan mempertahankan haknya untuk belajar agama, masih diperlukan pendekatan yang lebih sesuai dan adaptif. Namun demikian, tidak seluruh peserta didik memperoleh kesempatan yang setara dalam memperoleh pembelajaran Al-QurAoan. Setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk mempelajarai dan memahami Al-QurAoan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya (P. Dewi et al. , 2. Penyandang disabilitas kerap menghadapi berbagai kendala dalam proses pembelajaran, seperti keterbatasan fisik, hambatan kognitif, serta minimnya dukungan dari tenaga pendidik yang memiliki pemahaman tentang kebutuhan khusus mereka. Padahal setiap anak tetap memiliki hak untuk memperoleh pendidikan agama yang disesuaikan dengan potensi, kebutuhan, serta kondisi yang dimilikinya (Umam & Masruroh, 2. Salah satu komponen utama pendidikan agama Islam adalah pendidikan Al-Qur'an, yang bertujuan untuk mendorong siswa untuk mengenal, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari (Azzahra & Irawan, 2. Pembelajaran membaca al-Qur'an pada anak usia dini berbeda dari pembelajaran teks konvensional karena melibatkan persyaratan khusus seperti pemahaman harakat, pengenalan huruf hijaiyah, dan penerapan tajwid sesuai dengan makhraj dan sifat huruf. Metode yang sesuai dengan sifat anak pada usia dini yang masih berada dalam tahap perkembangan melalui kegiatan bermain dan eksplorasi diperlukan dalam proses ini. Oleh karena itu, agar anak dapat memahami dan menguasai Al-Qur'an dengan baik, pendekatan yang menarik, interaktif, dan terstruktur diperlukan. (Laily & Maesurah, 2. Proses pembelajaran membaca Al-Qur'an bagi anak berkebutuhan khusus masih menghadapi berbagai tantangan dalam pelaksanaannya, berdasarkan kondisi di lapangan. Metode pembelajaran biasanya konvensional dan tidak sepenuhnya disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan unik Akibatnya, banyak anak berkebutuhan khusus yang belum mampu membaca Al-QurAoan secara tartil dan sesuai dengan kaidah yang benar, meskipun telah mengikuti pembelajaran dalam jangka waktu yang cukup lama. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan pembelajaran membaca Al-QurAoan dengan hasil yang dicapai oleh peserta didik berkebutuhan khusus (Abidin et al. , 2. 2 Ae JOECES Dengan demikian, diperlukan metode pembelajaran membaca Al-Qur'an yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan belajar anak berkebutuhan khusus. Salah satu metode yang dianggap relevan Adalah metode talaqqi, yaitu pembelajaran yang dilakukan melalui interaksi langsung antara guru dan peserta didik. Dalam pelaksanaannya, guru terlebih dahulu memberikan contoh bacaan ayat Al-QurAoan sebelum peserta didik mendengarkan dan menirukan bacaan Kemudian peserta didik mengikuti serta menirukan bacaan tersebut disertai dengan koreksi langsung dari guru (N. Hakimah et al. , 2. Metode ini menitikberatkan pada pengulangan bacaan, pendampingan secara intensif, serta ketepatan pelafalan, sehingga efektif dalam membantu peserta didik memahami makhraj huruf dan kaidah tajwid secara bertahap (Setiawan et al. , 2. Namun, metode talaqqi dalam pembelajaran membaca Al-Qur'an untuk anak berkebutuhan khusus masih menghadapi beberapa tantangan dalam praktiknya. Keterbatasan guru dalam menangani siswa ABK, perbedaan dalam tingkat dan jenis kebutuhan khusus siswa, waktu yang terbatas untuk belajar, dan kekurangan media pembelajaran adaptif adalah beberapa dari tantangan Oleh karena itu, penelitian yang lebih mendalam diperlukan untuk mempelajari penggunaan metode talaqqi dalam pembelajaran membaca Al-Qur'an pada anak berkebutuhan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana metode ini digunakan, apa yang mendukung dan menghalanginya, dan bagaimana metode tersebut berkontribusi pada meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an anak berkebutuhan khusus. PAUD Putra Harapan Purwokerto adalah salah satu lembaga pendidikan anak usia dini yang menggunakan metode talaqqi untuk mengajarkan anak membaca Al-Qur'an. Kegiatan ini dilakukan secara rutin setiap hari sebelum kelas dimulai dan pada waktu tertentu, seperti sebelum masuk kelas dan setelah istirahat. Program ini membantu pembiasaan rohani siswa, yang merupakan salah satu ciri khas dan keunggulan organisasi. Dengan demikian, anak berkebutuhan khusus di PAUD Putra Harapan Purwokerto dapat mengikuti dan menyesuaikan diri dalam proses pembelajaran membaca Al-Qur'an melalui penerapan metode talaqqi. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, pelaksanaan pembelajaran di lembaga tersebut tergolong efektif karena dilaksanakan secara terstruktur, konsisten, dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Para guru juga menunjukkan perhatian yang tinggi terhadap anak berkebutuhan khusus, tanpa adanya perlakuan diskriminatif, melainkan memberikan bantuan serta dukungan secara penuh. Selain itu, metode talaqqi sangat sesuai untuk pembelajaran ABK karena menerapkan model pembelajaran secara langsung antara guru dan peserta didik, sehingga guru dapat memberikan arahan dan pendampingan secara langsung serta koreksi bacaan secara langsung. Melalui interaksi yang berkelanjutan tersebut, anak berkebutuhan khusus merasa lebih terlindungi, nyaman, dan percaya diri dalam mempelajari bacaan Al-QurAoan yang disesuaikan dengan kemampuan setiap peserta didik. PAUD Putra Harapan Purwokerto, sebagai lembaga pendidikan swasta dengan jumlah siswa berkebutuhan khusus tercatat sebanyak 19 peserta didik dengan jumlah guru pembina ada 41. 3 Ae JOECES Berbagai penelitian terkait pembelajaran Al-Quran menggunakan talaqqi banyak dijumpai dalam berbagai penelitian seperti yang dihasilkan dalam penelitian Penelitian penggunaan metode talaqqi bagi siswa MTs dalam meningkatkan kualitas bacaan Al-Quran (Sumiati et al. , 2. Selanjutnya kajian peran metode talaqqi dalam meningkatkan kemampuan bacaan Al-Quran bagi santri (Subhan et al. , 2. Temuan Puspitaningrum menunjukkan adanya pengaruh metode talaqqi dalam kemampuan membaca Al-Quran SMIT Fithrah Insani (Puspitaningrum et al. , 2. Demikian pula kajian pembelajaran Al-Quran bagi anak berkebutuhan khusus Seperti penelitian Eka Fitriani bagi anak disleksia dengan metode Ummi (Fitriani et al. , 2. Penggunaan metode talaqqi bagi siswa slow learner pada masa Pandemi memiliki faktor penghambat karena kurangnya waktu dan pembelajaran dilakukan secara online (Laila, 2. Temuan dari penelitian strategi pembelajaran hafalan Al-Quran bagi anak Inklusi di Sekolah Dasar strategi pembelajaran berupa pendekatan multisensori, sistematis, dan adaptasi. Temuan di atas secara keseluruhan hanya berfokus penerapan metode talaqqi pada peserta didik reguler, pembelajaran tahfidz, atau pembelajaran Al-QurAoan. Meskipun ditemukan adanya penggunaan metode talaqqi pada anak berkebutuhan khusus seperti slow learner, namun dapat dikatakan Penelitian yang secara khusus mengkaji implementasi metode talaqqi pada anak berkebutuhan khusus usia dini dalam konteks pendidikan inklusif masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini memposisikan diri melengkapi penelitian sebelumnya dengan memfokuskan pada proses implementasi metode talaqqi pada sekolah inklusi dengan berbagai bentuk ABK di PAUD Putra Harapan Purwokerto. Peneliti memberikan tema AuPembelajaran Membaca Al-QurAoan dengan Metode Talaqqi bagi Anak Berkebutuhan Khusus diPAUD Putra Harapan Purwokerto. METODE PENELITIAN Studi ini melakukan penelitian deskriptif kualitatif. Peneliti ingin mendapatkan informasi tentang bagaimana metode talaqqi mempengaruhi kemampuan membaca Al-Qur'an pada anakanak usia dini. Penelitian dilaksanakan di PAUD Terpadu Putra Harapan. PAUD Putra Harapan dipilih sebagai lokasi penelitian karena secara konsisten menerapkan pembelajaran membaca alqurAoan menggunakan metode talaqqi untuk anak berkebutuhan khusus. Lembaga ini menunjukkan adanya pelaksanaan pembelajaran yang terstruktur, bersifat individual, serta disesuaikan dengan kemampuan, minat, dan karakter masing-masing anak. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Februari 2026. Adapun subjek dalam penelitian ini ialah kepala sekolah, guru kelas, guru pendamping khusus, dan guru tahfidz. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pada teknik observasi, peneliti mengamati secara langsung jalannya pembelajaran serta interaksi yang terjadi antara guru dan anak berkebutuhan khusus, serta tahapan penerapan metode talaqqi. Sedangkan dokumen yang dianalisis mencakup modul ajar, program kegiatan pembelajaran Al-QurAoan, data ABK, dokumen kebijakan anak berkebutuhan khusus, catatan penilaian perkembangan kemampuan membaca anak, serta foto-foto kegiatan selama proses talaqqi berlangsung. 4 Ae JOECES Analisis data dimulai dengan data direduksi. Setelah itu, data yang dikumpulkan dari catatan lapangan disederhanakan, dianalisis, dan dikelola oleh peneliti. Setelah itu, data disajikan dalam bentuk teks dan gambar. tahap terakhir ialah penarikan kesimpulan, yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas dan mendalam atau penjelasan tentang hasil penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Di PAUD Putra Harapan Purwokerto, anak-anak berkebutuhan khusus diajarkan membaca Al-Qur'an sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran sehari-hari dan digabungkan dengan kelas Anak-anak dengan kebutuhan khusus tidak terpisah dari proses pembelajaran. Sebaliknya, mereka belajar bersama siswa lainnya dengan penyesuaian yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak. Pembelajaran membaca Al-Qur'an dilakukan dalam tiga tahapan utama: pembuka, inti, dan penutup. Tahapan Pembelajaran Al-Quran Metode Talaqqi Tahap pembuka Tahap pembuka, guru memulai kegiatan dengan salam dan doa bersama sebagai bentuk pembiasaan serta penanaman nilai religius. Selanjutnya, guru mengondisikan peserta didik agar siap mengikuti pembelajaran, baik dari segi kesiapan fisik maupun perhatian anak. Setelah itu, dilakukan kegiatan murojaah, yaitu mengulang kembali bacaan yang telah dipelajari sebelumnya. Tabel. 1 Tahapan Pembelajaran Metode Talaqqi pada Anak Berkebutuhan Khusus Tahapan Aktivitas Guru Aktivitas Peserta Didik Temuan Penelitian Pembuka Salam, doa, murojaah Mengikuti doa dan murojaah Anak lebih siap mengikuti Inti Membacakan ayat Menyimak Anak lebih fokus dan mudah memahami bacaan Koreksi Memberikan Penutup Evaluasi dan motivasi Memperbaiki pelafalan Bacaan anak lebih tepat Mengulang bacaan Anak lebih percaya diri Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat ingatan, melatih kelancaran bacaan, serta membantu anak lebih siap dalam menerima materi baru. Hal ini selaras dengan pendapat Hakimah et al. yang menyatakan bahwa kegiatan murojaah dalam pembelajaran metode talaqqi bertujuan untuk penguatan dalam membaca Al-QurAoan. Sehingga apabila ada kesalahan bacaan, dapat segera diperbaiki oleh guru. Metode talaqqi menunjukkan adanya pembelajaran yang berpusat pada interaksi langsung antara guru dan peserta didik (Almizri & Neviyarni, 2. Proses pembelajaran berlangsung melalui tahapan menyimak, menirukan, pengulangan, dan 5 Ae JOECES koreksi secara langsung. Temuan ini sejalan dengan teori behavioristik yang menekankan hubungan stimulus dan respon dalam proses belajar (Gredler, 2017. Skinner, 1. Tahap inti Tahap inti, guru mulai menerapkan metode talaqqi dengan cara membacakan ayat atau huruf hijaiyyah secara langsung, kemudian peserta didik menyimak atau menirukan bacaan tersebut. Proses ini dilakukan secara berulang agar anak lebih mudah memahami serta mampu melafalkan bacaan dengan tepat. Pengulangan dalam metode ini tidak hanya membantu meningkatkan pemahaman, tetapi juga melatih ketepatan makhrijul huruf dan kelancaran bacaan, terutama bagi anak berkebutuhan khusus yang memerlukan latihan secara bertahap dan konsisten (Observasi. Seperti yang disampaikan oleh guru ABK: Auguru membacakan ayat terlebih dahulu, lalu peserta didik mendengarkan dengan fokus. Setelah itu, anak-anak membaca bersama-sama mengikuti bacaan guru dan diulang beberapa kali supaya lebih lancar. Jika sudah cukup paham, mereka maju satu per satu untuk membaca di hadapan guru, kemudian guru langsung membetulkan jika ada kesalahan makhraj, panjang pendek, atau tajwidnya (Wawancara, 2. Ay Proses koreksi langsung yang dilakukan guru menunjukkan adanya feedback langsung . mmediate feedbac. yang merupakan salah satu prinsip penting dalam teori behavioristik (Fauzi & Triono, 2. Dalam teori ini, penguatan diberikan melalui koreksi agar respon yang dihasilkan peserta didik menjadi lebih tepat. untuk anak berkebutuhan khusus, umpan balik langsung penting agar mereka bisa segera memahami dan memperbaiki kesalahan. Metode talaqqi tidak hanya menekankan menirukan bacaan, tetapi juga melibatkan pengulangan dan koreksi langsung dari guru, sehingga peserta didik dapat memperbaiki bacaan secara bertahap. Hal ini sejalan dengan penjelasan guru tahfidz yang menyatakan bahwa: Auanak-anak diminta mendengarkan dulu bacaan dari guru, habis itu mereka ngulangin bareng-bareng terus setelah itu satu-satu. Setelah itu juga ada evaluasi, jadi dilihat lagi bacaannya sudah benar atau masih ada yang perlu dibenerin. Ay Berdasarkan dari pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa pembelajaran dilaksanakan secara bertahap, dimulai dari kegiatan menyimak, kemudian menirukan secara bersama-sama, dilanjutkan dengan membaca secara individu yang selanjutnya dievaluasi oleh guru. Tahapan tersebut menunjukkan adanya proses modeling dalam pembelajaran, sebagaimana dijelaskan dalam teori belajar sosial oleh Bandura (Suyadi, 2. Guru bertindak sebagai contoh, dan siswa mengamati dan menirunya. Proses ini menunjukkan bahwa observasi dan imitasi adalah cara pembelajaran terjadi, yang sangat efektif untuk anak usia dini dan anak berkebutuhan khusus. Tahap penutup Pada tahap penutup, guru mengajak siswa untuk mengulangi apa yang telah mereka pelajari sebagai bentuk penguatan. Mereka juga memotivasi siswa dengan mendoakan sebelum menutup pelajaran (Observasi, 2. Pembagian tahapan pembelajaran menjadi kegiatan pembuka, inti, 6 Ae JOECES dan penutup menunjukkan bahwa proses pembelajaran telah dilaksanakan secara sistematis. Hal ini sesuai dengan prinsip perencanaan pembelajaran yang efektif, di mana setiap tahap memiliki fungsi yang jelas, yaitu mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Dalam konteks anak berkebutuhan khusus, struktur pembelajaran yang sistematis sangat penting untuk membantu anak memahami alur kegiatan dan meningkatkan kesiapan belajar. Dengan demikian proses pembelajaran melalui metode talaqqi dilaksanakan secara sistematis, bertahap, dan berulang, serta disertai dengan bimbingan langsung dari guru. Tabel 2. Adaptasi Metode Talaqqi Berdasarkan Jenis Anak Berkebutuhan Khusus Jenis ABK Bentuk Adaptasi Pembelajaran Tujuan ADHD Durasi singkat dan aktivitas selingan Menjaga fokus belajar Autism Pengulangan pola yang konsisten Membantu pemahaman bertahap Slow Learner Tempo Pembelajaran lebih lambat Menyesuaikan kemampuan anak Speech delay Fokus latihan pelafalan Memperjelas pengucapan huruf Di PAUD Putra Harapan Purwokerto, metode talaqqi digunakan untuk mengajar anak berkebutuhan khusus membaca Al-Qur'an. Metode ini disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan masing-masing siswa, seperti yang dijelaskan sebelumnya. Praktiknya, guru tidak hanya menyamaratakan kemampuan anak, tetapi juga menawarkan pendekatan yang berbeda yang disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan setiap anak. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran tidak hanya dilakukan secara bertahap dan sistematis, tetapi juga fleksibel dan adaptif (Marlina. Pendekatan yang fleksibel ini menunjukkan penerapan pembelajaran diferensiasi, di mana guru dapat menyesuaikan metode, tempo, dan tujuan pembelajaran sesuai dengan kemampuan unik setiap siswa (Faiz et al. , 2022. Tomlinson, 2. Bustomi menyatakan bahwa diferensiasi dalam pembelajaran meliputi diferensiasi konten, diferensiasi proses, diferensiasi produk, diferensiasi afeksi dan diferensiasi lingkungan pembelajaran (Bustomi et al. , 2. Hal ini sangat penting dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus karena setiap anak memiliki karakteristik dan kebutuhan belajar yang berbeda. Hasil wawancara dengan guru tahfidz menunjukkan bahwa: Auanak-anak abk itu sistemnya mendengarkan, kita talaqqi tapi kan setiap anak berbeda-beda ada yang sedikit-sedikit bisa mengikuti karena digabung dengan anak reguler jadi ada juga yang hanya mendengarkan yang penting selalu didengarkan (Wawancara, 2. Ay Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penerapan metode talaqqi pada anak berkebutuhan khusus bersifat fleksibel. Setiap anak tidak dituntut untuk langsung mampu menirukan bacaan, melainkan disesuaikan dengan tahap perkembangan kemampuan masing-masing anak. Bagi anak yang belum mampu mengikuti bacaan, kegiatan mendengarkan menjadi tahap awal yang penting 7 Ae JOECES dalam proses pembelajaran (Y. Dewi et al. , 2023. Kontesa et al. , 2. Dalam hal ini, penerapan metode talaqqi pada setiap anak berkebutuhan khusus berbeda-beda, seperti anak dengan hambatan bahasa lebih difokuskan pada latihan mendengar dan meniru secara perlahan, sedangkan anak yang sudah mampu akan diarahkan pada kelancaran dan ketepatan bacaan. Penyesuaian tersebut terlihat lebih jelas pada penerapan metode talaqqi pada masing-masing jenis anak berkebutuhan khusus (Mujahidin & Fitria, 2. Pada anak dengan ADHD, pembelajaran dilakukan dengan menyesuaikan tingkat konsentrasi dan kebutuhan gerak anak. Guru memberikan contoh bacaan secara singkat dan jelas, kemudian meminta anak menirukan dalam durasi yang tidak terlalu lama. Pembelajaran juga diselingi dengan aktivitas ringan agar anak tidak mudah bosan, serta pengulangan dilakukan dengan variasi untuk menjaga perhatian anak (Barkley, 2021. Lestari & Fauziddin, 2. Anak dengan autism, metode talaqqi diterapkan secara lebih terstruktur dan konsisten. Guru memberikan contoh bacaan secara perlahan dan berulang dengan pola yang sama agar mudah Interaksi dilakukan secara bertahap dimulai dari membangun perhatian anak, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan menirukan. Dalam beberapa kondisi, penggunaan isyarat atau bantuan visual juga digunakan untuk mendukung pemahaman (Fitri & Hidayat, 2024. Hakimah et al. Selanjutnya, pada anak slow learner, metode talaqqi diterapkan dengan tempo pembelajaran yang lebih lambat serta pengulangan yang lebih intensif. Guru memberikan contoh bacaam secara bertahap, mulai dari huruf, suku kata, hingga ayat sederhana. Anak diberikan waktu yang lebih panjang untuk memahami dan menirukan bacaan, sehingga proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan kemampuan anak (Nugroho, 2. Sementara itu, pada anak dengan speech delay, penerapan metode talaqqi difokuskan pada pelafalan dan kejelasan bunyi huruf. Perbedaan strategi pada setiap jenis anak berkebutuhan khusus menunjukkan bahwa guru telah memahami karakteristik masing-masing kondisi. Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan khusus yang menekankan bahwa intervensi pembelajaran harus disesuaikan dengan hambatan dan potensi anak. Dengan demikian, metode talaqqi tidak diterapkan secara seragam, tetapi dimodifikasi agar lebih efektif (Wiranti et al. , 2. Guru memberikan contoh bacaan secara jelas dengan memperhatikan makhrijul huruf, kemudian membimbing anak untuk menirukan secara perlahan. Koreksi dilakukan secara langsung dengan pendekatan yang lembut, sertaa pengulangan dilakukan secara terus-menerus agar kemampuan pelafalan anak berkembang secara bertahap (Rosita et al. , 2. Selain itu, dalam pelaksanaannya guru memberikan pengulangan secara terus-menerus agar peserta didik dapat memahami dan mengingat bacaan dengan lebih baik. Pengulangan yang dilakukan secara konsisten menunjukkan penerapan prinsip reinforcement dalam teori behavioristik, di mana setiap respon yang benar diperkuat sehingga lama-kelamaan menjadi kebiasaan (Fu et al. , 2. Bagi anak berkebutuhan khusus, pengulangan menjadi strategi utama 8 Ae JOECES agar pembelajaran lebih mudah dipahami dan diingat. Hasil observasi menunjukkan bahwa mereka membutuhkan pengulangan lebih sering dibandingkan anak-anak lain pada umumnya. Dalam metode talaqqi, guru memberi latihan secara bertahap dengan tempo lebih lambat dan pengulangan yang konsisten supaya anak lebih mudah memahami materi. Selain itu, guru juga memberikan bimbingan secara pribadi, terutama bagi anak yang kesulitan melafalkan huruf Bimbingan ini tidak hanya dilakukan di kelas secara umum, tetapi juga secara langsung agar kesalahan bacaan bisa segera diperbaiki, misalnya bagi anak dengan speech delay atau masalah artikulasi (Setianto & Risdiani, 2. Interaksi langsung antara guru dan siswa menunjukkan penerapan metode talaqqi. Guru membacakan ayat atau huruf hijau, lalu siswa menirunya. Setelah itu, guru memberikan koreksi secara langsung. Proses ini menunjukkan bahwa ajaran talaqqi menekankan interaksi tatap mukaAi atau secara pribadiAiyang memungkinkan umpan balik langsung. Anak berkebutuhan khusus sering mengalami interaksi yang lebih intens, baik secara individu maupun dalam kelompok kecil. Hasil ini sejalan dengan teori metode talaqqi, yang menyatakan bahwa mendengar, meniru, dan mendapatkan bimbingan langsung dari guru adalah cara pembelajaran dilakukan (Warastuti et al. Selain itu, hal ini juga berkaitan dengan teori belajar behavioristik yang menekankan adanya stimulus dan respon, di mana guru memberikan stimulus berupa contoh bacaan, dan peserta didik memberikan respon melalui kegiatan menirukan (Observasi, 2. Untuk anak berkebutuhan khusus, guru memberikan rangsangan secara sederhana dan bertahap agar anak bisa merespon dengan lebih baik. Dengan begitu, penerapan metode talaqqi pada anak berkebutuhan khusus dilakukan secara menyesuaikan kebutuhan, bertahap, dan berulang. Setiap anak bisa mendapatkan perlakuan yang berbeda, baik dari jumlah pengulangan, cara bimbingan, maupun target belajarnya. Selain itu, kesesuaian antara hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa data yang diperoleh valid melalui triangulasi, sehingga temuan penelitian ini dapat dipercaya. Kendala pembelajaran AL-QurAoan pada anak berkebutuhan khusus Dalam pelaksanaan pembelajaran membaca Al-QurAoan dengan metode talaqqi pada anak berkebutuhan khusus, terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh guru. Kendala tersebut berkaitan dengan perbedaan kemampuan, kondisi anak, serta keterbatasan dalam proses Salah satu kendala utama adalah adanya perbedaan kemampuan antar peserta didik, terutama dalam memahami dan menirukan bacaan (Observasi, 2. Hal ini terlihat dari pernyataan guru ABK yang menyebutkan bahwa: Ausetiap anak memiliki kemampuan yang berbeda, ada yang cepat memahami, namun ada juga yang memerlukan pengulangan berkalikali (Wawancara, 2. Ay Kondisi ini menunjukkan bahwa guru perlu memberikan perhatian dan pendampingan lebih kepada anak yang mengalami kesulitan agar tetap dapat mengikuti pembelajaran. Selain itu, 9 Ae JOECES kendala juga muncul pada aspek pelafalan huruf hijaiyyah, khususnya pada anak yang mengalami hambatan bicara. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas yang menyatakan bahwa: Aupengucapan huruf kadang masih kurang jelas, jadi waktu melafalkan huruf hijaiyyah bunyinya belum pas (Wawancara, 2. Ay Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berbicara menjadi salah satu hambatan dalam pembelajaran, sehingga anak perlu latihan lebih intensif dan bimbingan langsung dari guru. Kendala lain adalah keterbatasan konsentrasi, karena beberapa anak berkebutuhan khusus mudah teralih perhatiannya dan sulit focus dalam waktu lama. Hal ini menyebabkan anak-anak sering kehilangan informasi penting ketika guru sedang menyampaikan materi (Qondias et al. , 2. Oleh karena itu, pembelajaran harus dilakukan secara bertahap, dengan durasi yang disesuaikan, dan tidak bisa dipaksakan sepertianak pada umumnya. Oleh karena itu, jelas bahwa anak-anak berkebutuhan khusus menghadapi tantangan dalam pembelajaran membaca Al-Qur'an dengan metode talaqqi, termasuk perbedaan kemampuan, kesulitan pelafalan, dan keterbatasan konsentrasi. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran anak dengan kebutuhan khusus tidak dapat disamakan dengan pembelajaran anak pada umumnya. Hal ini menegaskan betapa pentingnya menggunakan strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap anak. Hambatan seperti konsentrasi, artikulasi, dan perbedaan kemampuan adalah hal umum yang perlu diantisipasi dalam pendidikan khusus ketika melakukan modifikasi pembelajaran (Umayah & Misbah, 2. Guru melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah ini dan memastikan pembelajaran berjalan dengan baik. Upaya ini tidak hanya luas, tetapi juga disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan setiap anak. Agar anak lebih mudah mengingat dan memahami apa yang dibaca, salah satu caranya adalah mengulang bacaan secara teratur. Jika anak gagal, guru akan membaca lagi sampai mereka bisa mengikuti (Wawancara, 2. Hal ini menunjukkan bahwa guru mengajar dengan sabar dan memberi kesempatan anak belajar sesuai kemampuannya. Surahman menyatakan bahwa dengan mengulang-ulang menjadikan sebuah kebiasaan baru menjadi tertanam pada anak, sehingga akan sulit dihilangkan (Safira Endah Kumala & Surahman, 2. Selain itu, guru juga memberikan bimbingan secara pribadi kepada anak berkebutuhan khusus saat mereka mengalami kesulitan, supaya kesalahan bisa segera diperbaiki dan anak tidak merasa tertinggal. Guru juga memberi motivasi dan pendekatan yang lembut agar anak merasa nyaman selama belajar. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa guru melakukan beberapa upaya, yaitu mengulang materi, memberikan bimbingan secara pribadi, dan menciptakan suasana belajar yang nyaman. Upaya guru ini mencerminkan pendekatan humanistik, di mana pembelajaran tidak hanya fokus pada hasil, tapi juga pada kenyamanan dan kondisi emosional Lingkungan belajar yang menyenangkan akan meningkatkan motivasi dan partisipasi anak dalam belajar (Faqihuddin, 2. Berdasarkan hasil penelitian, pembelajaran membaca Al-QurAoan dengan metode talaqqi pada anak berkebutuhan khusus sesuai dengan teori pembelajaran. Proses belajar menekankan 10 Ae JOECES mendengar, menirukan, dan bimbingan langsung dari guru. Guru menjadi sumber utama dengan memberi contoh bacaan, lalu anak menyimak dan menirukan (Nugraha et al. , 2. Hal ini menunjukkan adanya interaksi langsung antara guru dan anak, yang menjadi ciri khas metode Dengan begitu, pembelajaran tidak hanya focus pada hasil, tetapi juga pada proses pembentukan kemampuan membaca secara bertahap. Selain itu, jika dikaitkan dengan teori perkembangan kognitif Jean Piaget, pembelajaran ini sesuai dengan karakteristik anak pada tahap praoperasional (Fauzi & Triono, 2. Pada tahap ini, anak belajar melalui peniruan, penggunaan simbol, dan pengalaman langsung (Tadjuddin et , 2. Oleh karena itu, metode talaqqi yang dilakukan melalui kegiatan mendengar dan menirukan sangat relevan dengan tahap perkembangan anak usia dini, termasuk anak berkebutuhan khusus, karena memberikan pengalaman belajar yang konkret dan mudah dipahami. Selanjutnya, proses pembelajaran yang melibatkan kegiatan menirukan bacaan dari guru juga sejalan dengan teori belajar sosial yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Dalam teori ini dijelaskan bahwa pembelajaran terjadi melalui proses observasi dan peniruan . (Suyadi. Guru berperan sebagai model yang memberikan contoh bacaan yang benar, kemudian peserta didik menirukan sebagai bentuk respon terhadap stimulus yang diberikan. Proses ini menunjukkan bahwa interaksi langsung sangat berperan dalam membentuk kemampuan belajar Di samping itu, pembelajaran yang dilakukan secara berulang dan bertahap juga berkaitan dengan teori belajar behavioristik. Dalam teori ini, pembelajaran terjadi melalui hubungan stimulus dan respon (Hufron et al. , 2. Guru memberikan stimulus berupa contoh bacaan, kemudian peserta didik merespon dengan menirukan bacaan tersebut. Pengulangan yang dilakukan secara terus-menerus berfungsi untuk memperkuat respon, sehingga peserta didik dapat mengingat dan melafalkan bacaan dengan lebih baik (Prastyowati, 2. Lebih lanjut, penerapan metode talaqqi pada anak berkebutuhan khusus yang dilakukan secara fleksibel dan menyesuaikan kemampuan individu menunjukkan adanya pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta Hal ini penting karena setiap anak memiliki kebutuhan dan sifat yang unik, sehingga proses pembelajaran tidak dapat disamaratakan (Elliani et al. , 2. Guru perlu menyesuaikan strategi, tempo, serta bentuk bimbingan agar pembelajaran dapat berjalan secara optimal. Namun, dalam praktiknya masih ada beberapa kendala, seperti perbedaan kemampuan antar anak, kesulitan melafalkan huruf hijaiyyah, dan keterbatasan konsentrasi. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus membutuhkan kesabaran, pengulangan, dan bimbingan yang lebih intens dari guru. Meski begitu, berbagai upaya yang dilakukan guru misalnya pengulangan materi secara konsisten, bimbingan pribadi, dan pemberian motivasi membuat proses pembelajaran tetap berjalan dengan baik. Upaya-upaya ini juga menegaskan bahwa metode talaqqi bisa diterapkan secara efektif jika disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing anak. 11 Ae JOECES KESIMPULAN Hasil penelitian yang dilakukan di PAUD Putra Harapan Purwokerto menunjukkan bahwa metode talaqqi dapat diterapkan secara efektif dalam pembelajaran membaca Al-QurAoan bagi anak berkebutuhan khusus Keberhasilan penerapan metode ini terlihat dari adanya peningkatan keterlibatan belajar, kemampuan menyimak, ketepatan pelafalan, serta rasa percaya diri peserta didik melalui proses pembelajaran yang dilakukan secara langsung, bertahap, dan berulang. penerapan metode talaqqi pada anak berkebutuhan khusus dilakukan dengan menyesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing anak. Guru melakukan diferensiasi pembelajaran melalui penyesuaian tempo, bentuk bimbingan, intensitas pengulangan, serta pendekatan komunikasi yang berbeda pada setiap jenis kebutuhan khusus. Keberhasilan penerapan ini termasuk interaksi intensif antara guru dan peserta didik, pemberian umpan balik langsung, serta suasana belajar yang suportif dan humanis. Dengan demikian, metode talaqqi tidak hanya berfungsi sebagai metode pembelajaran membaca Al-QurAoan, tetapi juga menjadi pendekatan yang adaptif dalam mendukung pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus. DAFTAR PUSTAKA