Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Penguatan Kapasitas Kader Posyandu melalui Sosialisasi. Pelatihan, dan Pendampingan Sistem Informasi Profil Posyandu Semarang untuk Mendukung Posyandu Enam Standar Pelayanan Minimal di Kecamatan Mijen. Kota Semarang. Jawa Tengah Edi Jaya Kusuma*1. Ririn Nurmandhani2. Eti Rimawati3. Agnes Oktavi Maharani4 1Program Studi Diploma 4 Manajemen Informasi Keseatahan. Fakultas Kesehatan. Universitas Dian Nuswanotoro. Indonesia 2,3Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan. Universitas Dian Nuswanotoro. Indonesia 4Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan. Universitas Dian Nuswanotoro. Indonesia *e-mail: edi. kusuma@dsn. Abstrak Transformasi Posyandu menuju enam Standar Pelayanan Minimal menuntut kader memiliki kapasitas yang lebih luas serta didukung sistem pencatatan yang efektif. Namun, pencatatan kegiatan Posyandu masih banyak dilakukan secara manual sehingga berpotensi menimbulkan keterlambatan pelaporan dan rendahnya kualitas data. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader Posyandu dalam memahami konsep Posyandu 6 SPM serta meningkatkan kemampuan kader dalam menggunakan aplikasi SIPROSEMAR sebagai sistem pencatatan dan pelaporan kegiatan Posyandu secara digital. Metode kegiatan dilakukan melalui sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan kepada 41 kader Posyandu di Kecamatan Mijen Kota Semarang. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kader memiliki tingkat partisipasi yang tinggi dalam mengikuti kegiatan pengabdian dengan 35 Posyandu . ,5%) menggunakan aplikasi SIPROSEMAR untuk melakukan pencatatan kegiatan Posyandu secara digital. Selain itu, terjadi perubahan cara kerja kader dari sistem manual menuju sistem digital serta peningkatan pemahaman kader mengenai peran Posyandu dalam pelayanan lintas sektor. Kegiatan ini juga berdampak pada meningkatnya kemampuan kader dalam pencatatan digital dan mempercepat proses pelaporan kegiatan Posyandu. Dengan demikian, kegiatan ini berkontribusi terhadap pemberdayaan kader Posyandu melalui peningkatan kapasitas, pemanfaatan teknologi informasi, dan penguatan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Kata kunci: Pelatihan Kader. Pengabdian Masyarakat. Digitalisasi Posyandu Abstract Posyandu is a community-based health service that plays an important role in improving public health The transformation of Posyandu into Posyandu with six Minimum Service Standards (SPM) requires cadres to have broader capacities not only in health services but also in cross-sector community services. However, the recording and reporting of Posyandu activities are still mostly conducted manually, resulting in delayed reporting and low-quality health data. This community service activity aimed to strengthen the capacity of Posyandu cadres in understanding the concept of Posyandu 6 SPM and improving their ability to use the SIPROSEMAR application as a digital recording and reporting system for Posyandu activities. The program was implemented through socialization, training, and mentoring involving 41 Posyandu cadres in Mijen District. Semarang City. The results showed a high level of participation among cadres during the A total of 35 Posyandu . 5%) have begun using the SIPROSEMAR application for digital recording of Posyandu activities. The activity also improved cadresAo understanding of Posyandu 6 SPM implementation and their roles in cross-sector community services. Therefore, strengthening the capacity of Posyandu cadres through training and digital information systems can support better recording systems and improve community-based health services. Keywords: Cadre Training. Community Service. Posyandu Digitalization P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. PENDAHULUAN Posyandu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan berbasis masyarakat yang memiliki peran penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Di Kota Semarang, jumlah Posyandu aktif pada tahun 2025 mencapai 1. 597 unit yang tersebar di berbagai kelurahan pada 16 kecamatan dengan jumlah kader yang cukup besar sehingga menjadi potensi penting dalam penguatan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Dalam perkembangannya, pemerintah melakukan transformasi Posyandu menjadi Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang tidak hanya berfokus pada bidang kesehatan, tetapi juga mencakup pelayanan sosial, pendidikan, perumahan rakyat, pekerjaan umum, serta ketertiban umum. Transformasi ini bertujuan untuk memperkuat pelayanan dasar di tingkat masyarakat melalui pendekatan lintas Namun demikian, terdapat beberapa permasalahan utama yang dihadapi mitra. Pertama, pencatatan dan pelaporan kegiatan Posyandu masih banyak dilakukan secara manual sehingga menyebabkan keterlambatan pelaporan dan rendahnya kualitas data kesehatan masyarakat. Kedua, pemahaman kader terhadap implementasi Posyandu enam Standar Pelayanan Minimal, khususnya dalam pelayanan lintas sektor, masih terbatas. Ketiga, kader masih mengalami kendala dalam koordinasi lintas sektor serta keterbatasan pengalaman dalam pendataan dan verifikasi Permasalahan ini menunjukkan bahwa meskipun secara umum kader memiliki potensi yang baik dari sisi sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi, masih diperlukan upaya penguatan kapasitas yang terstruktur dan berkelanjutan. Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi, digitalisasi sistem pencatatan kesehatan menjadi salah satu strategi yang efektif untuk meningkatkan kualitas data, mempercepat pelaporan, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Untuk mendukung hal tersebut. Universitas Dian Nuswantoro bekerja sama dengan Forum Posyandu Kota Semarang mengembangkan aplikasi SIPROSEMAR (Sistem Informasi Profil Posyandu Semaran. sebagai sistem pencatatan dan pelaporan kegiatan Posyandu secara digital. Solusi yang ditawarkan dalam kegiatan ini adalah penguatan kapasitas kader Posyandu melalui kegiatan sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan penggunaan aplikasi SIPROSEMAR untuk mendukung implementasi Posyandu enam Standar Pelayanan Minimal secara digital dan terintegrasi dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas kader Posyandu dalam memahami konsep Posyandu enam Standar Pelayanan Minimal serta meningkatkan kemampuan kader dalam melakukan pencatatan dan pelaporan kegiatan Posyandu secara digital menggunakan SIPROSEMAR. METODE Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di Kecamatan Mijen pada tanggal 8 Januari 2026 dengan sasaran 41 kader Posyandu. Kegiatan bertujuan meningkatkan kapasitas kader dalam implementasi Posyandu enam Standar Pelayanan Minimal serta penggunaan aplikasi SIPROSEMAR sebagai sistem pencatatan dan pelaporan digital. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui lima tahapan kegiatan, yaitu: Analisis Situasi Tahap awal dilakukan untuk mengidentifikasi kesiapan Posyandu dalam mendukung implementasi Posyandu enam Standar Pelayanan Minimal. Analisis menggunakan pendekatan 5M, meliputi man . umber daya manusi. , money . , material . arana prasaran. , machine . , dan method . rosedur kerj. Data dikumpulkan melalui kuesioner kepada kader Posyandu. Sosialisasi Kegiatan sosialisasi dilaksanakan melalui penyampaian materi mengenai transformasi Posyandu enam Standar Pelayanan Minimal serta peran kader dalam pelayanan lintas sektor. P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Pelatihan Pelatihan dilakukan dalam bentuk demonstrasi dan praktik penggunaan aplikasi SIPROSEMAR untuk pencatatan data sasaran serta pelaporan kegiatan Posyandu secara digital. Pendampingan Pendampingan dilakukan melalui praktik langsung penggunaan aplikasi pada kegiatan Posyandu serta diskusi terkait kendala yang dihadapi kader selama implementasi sistem digital. Evaluasi Evaluasi dilakukan melalui observasi, kuesioner, dan monitoring penggunaan aplikasi. Indikator keberhasilan meliputi: Minimal 80% kader mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, . Minimal 80% kader mampu menggunakan fitur dasar aplikasi, . Minimal 80% Posyandu mulai melakukan pencatatan digital, dan . Meningkatnya pemahaman kader mengenai Posyandu enam Standar Pelayanan Minimal. Penilaian Kesiapan 5M Setiap aspek 5M dinilai menggunakan skala Likert 1Ae4, yaitu: 1 = tidak siap, 2 = kurang siap, 3 = siap, 4 = sangat siap. Nilai setiap aspek diperoleh dari rata-rata skor seluruh responden. Interpretasi hasil digunakan sebagai berikut: 1,00Ae1,75 = tidak siap. 1,76Ae2,50 = kurang siap. 2,51Ae3,25 = siap. 3,26Ae4,00 = sangat siap. Dengan demikian, nilai rata-rata 2,75 menunjukkan bahwa Posyandu berada pada kategori siap dalam mendukung implementasi program. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas kader Posyandu dalam mendukung implementasi transformasi Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) serta pemanfaatan aplikasi SIPROSEMAR sebagai sistem pencatatan dan pelaporan kegiatan Posyandu secara digital. Kegiatan ini dilaksanakan di Kecamatan Mijen Kota Semarang dengan melibatkan 41 kader Posyandu yang aktif dalam kegiatan pelayanan kesehatan Kegiatan utama berupa sosialisasi dan pelatihan dilaksanakan pada tanggal 8 Januari 2026, sedangkan kegiatan pendampingan dilakukan secara bertahap setelah pelaksanaan pelatihan untuk memastikan kader dapat mengimplementasikan materi yang telah diberikan dalam kegiatan Posyandu di masyarakat. Pelaksanaan kegiatan pengabdian dilakukan melalui beberapa tahapan yang meliputi analisis situasi, sosialisasi transformasi Posyandu 6 SPM, pelatihan penggunaan aplikasi SIPROSEMAR, serta pendampingan kader dalam praktik penggunaan aplikasi pada kegiatan Posyandu. Tahapan kegiatan tersebut dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kesiapan kader dalam mendukung pelaksanaan Posyandu yang tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan ibu dan anak, tetapi juga mencakup berbagai bidang pelayanan dasar masyarakat melalui pendekatan lintas sektor. Transformasi Posyandu menjadi Posyandu 6 SPM merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat pelayanan dasar di tingkat masyarakat. Pendekatan ini menekankan pentingnya integrasi layanan kesehatan dengan sektor lainnya seperti pendidikan, sosial, perumahan rakyat, pekerjaan umum, serta ketertiban umum dan perlindungan Dengan demikian, kader Posyandu tidak hanya berperan sebagai pelaksana kegiatan kesehatan, tetapi juga sebagai penggerak pemberdayaan masyarakat dalam berbagai aspek pembangunan di tingkat komunitas. Fokus utama kegiatan adalah peningkatan kapasitas kader P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. dalam implementasi Posyandu enam Standar Pelayanan Minimal serta digitalisasi pencatatan kegiatan Posyandu. Karakteristi Peserta Pengabdian Peserta kegiatan pengabdian terdiri dari 41 kader Posyandu yang berasal dari perwakilan Posyandu di wilayah Kecamatan Mijen Kota Semarang. Karakteristik kader yang mengikuti kegiatan pengabdian ini cukup beragam baik dari segi usia, tingkat pendidikan, maupun pengalaman menjadi kader Posyandu. Berdasarkan kelompok umur, sebagian besar kader berada pada kelompok usia produktif yaitu antara 40Ae49 tahun . ,4%) menunjukkan bahwa peserta didominasi kader usia produktif dengan pengalaman lapangan yang cukup baik sehingga relatif mudah menerima materi pelatihan dan beradaptasi dengan penggunaan teknologi digital. Kader bserjenis kelamin perempuan sebanyak 37 orang . ,2%) menunjukkan bahwa kegiatan Posyandu masih didominasi oleh perempuan sebagai pelaku utama dalam kegiatan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Tingginya proporsi peserta perempuan juga sejalan dengan karakteristik umum kader Posyandu sebagai penggerak kesehatan keluarga dan masyarakat. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa kader kesehatan di tingkat komunitas sebagian besar merupakan perempuan yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kesehatan keluarga dan masyarakat. (Kurniasari et al. , 2. Selain itu, kader dengan pendidikan SMA/SMK sebanyak 22 orang . ,7%) dan memiliki masa kerja 2Ae5 tahun sebanyak 16 orang . %) tingkat pendidikan kader juga cukup beragam dengan mayoritas kader memiliki pendidikan menengah hingga perguruan tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa kader memiliki potensi yang cukup baik untuk menerima materi pelatihan serta mengembangkan keterampilan dalam penggunaan teknologi informasi untuk mendukung kegiatan Posyandu. Karakteristik Usia 30-39 tahun 40-49 tahun 50-59 tahun Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Pendidikan SMP SMA/SMK Perguruan Tinggi Masa Kerja Kader < 2 tahun 2-5 tahun > 5 tahun Tabel 1 Karakteristik peserta pengabdian Frekuensi Prosentase 26,8% 46,4% 26,8% 90,2% 9,8% 2,4% 7,3% 53,7% 36,6% 31,7% 29,3% Karakteristik tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar kader telah memiliki pengalaman dalam kegiatan Posyandu sehingga memiliki potensi yang cukup baik untuk mendukung implementasi Posyandu 6 SPM di masyarakat. Analisis Kesiapan Posyandu dalam Implementasi Posyandu 6 SPM Sebelum pelaksanaan kegiatan sosialisasi dan pelatihan, dilakukan analisis situasi untuk mengetahui tingkat kesiapan Posyandu dalam mendukung implementasi Posyandu 6 SPM. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan 5M yang meliputi aspek sumber daya manusia . , pendanaan . , sarana prasarana . , teknologi . , serta metode atau prosedur kerja . Pendekatan 5M digunakan untuk memberikan gambaran menyeluruh P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. mengenai kesiapan berbagai faktor yang mendukung pelaksanaan kegiatan Posyandu. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum Posyandu di wilayah Kecamatan Mijen memiliki tingkat kesiapan yang cukup baik dalam mendukung implementasi Posyandu 6 SPM. Tabel 2 Rekapitulasi kesiapan Posyandu berdasarkan Aspek 5M Aspek Nilai Rata-Rata Kategori Man (SDM) 2,90 Siap Money (Pendanaa. 2,32 Kurang Siap Material (Sarana Prasaran. 3,04 Siap Machine (Teknolog. 2,76 Siap Method (Prosedur Kerj. 2,77 Siap Rata-Rata Keseluruhan 2,75 Siap Hasil analisis menunjukkan bahwa aspek sumber daya manusia (Ma. memiliki tingkat kesiapan yang cukup baik dalam mendukung implementasi Posyandu 6 SPM. Hal ini menunjukkan bahwa kader Posyandu memiliki pengalaman dan kemampuan dasar dalam menjalankan kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat komunitas. Kader Posyandu merupakan bagian dari tenaga kesehatan berbasis masyarakat yang berperan sebagai penghubung antara sistem pelayanan kesehatan formal dengan masyarakat. Keberadaan kader kesehatan komunitas terbukti memiliki kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, terutama dalam kegiatan promotif dan preventif. (Hidayat et al. , 2. Kader Posyandu juga berperan dalam kegiatan edukasi kesehatan, pemantauan kesehatan ibu dan anak, serta dalam kegiatan deteksi dini masalah kesehatan di masyarakat. Dengan adanya kader kesehatan di tingkat komunitas, pelayanan kesehatan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan lebih efektif, terutama pada kelompok masyarakat yang sulit mengakses fasilitas pelayanan kesehatan formal. Selain itu, pengalaman kader dalam menjalankan kegiatan Posyandu secara rutin juga menjadi modal penting dalam mendukung implementasi program kesehatan masyarakat. Kader yang telah memiliki pengalaman dalam kegiatan pelayanan kesehatan cenderung lebih mudah beradaptasi dengan pengembangan program kesehatan yang baru, termasuk transformasi Posyandu yang mencakup pelayanan lintas sektor. Hal ini sejalan dengan konsep pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan yang menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam mendukung keberhasilan program kesehatan. (Imas et al. , 2. Pada aspek sarana prasarana (Materia. , hasil analisis menunjukkan bahwa fasilitas pendukung kegiatan Posyandu berada pada kategori siap. Ketersediaan sarana dan prasarana merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan program kesehatan masyarakat. Fasilitas seperti alat penimbangan balita, alat ukur tinggi badan, buku pencatatan kegiatan, serta sarana tempat pelaksanaan kegiatan Posyandu merupakan komponen penting dalam mendukung kelancaran kegiatan pelayanan kesehatan di masyarakat. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan Posyandu sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana prasarana yang memadai serta dukungan dari berbagai pihak seperti pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat. (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Dengan tersedianya sarana prasarana yang memadai, kegiatan Posyandu dapat dilaksanakan secara lebih efektif dan dapat memberikan pelayanan kesehatan yang lebih optimal kepada masyarakat. Selanjutnya pada aspek teknologi (Machin. , hasil analisis menunjukkan bahwa kader Posyandu memiliki kesiapan yang cukup baik dalam memanfaatkan perangkat teknologi seperti telepon pintar. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan sistem pencatatan dan pelaporan kegiatan Posyandu secara digital memiliki peluang yang cukup besar untuk diterapkan dalam kegiatan Posyandu. Pemanfaatan teknologi informasi dalam bidang kesehatan telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, terutama dalam bentuk sistem informasi kesehatan berbasis Digitalisasi sistem informasi kesehatan dapat membantu meningkatkan kualitas data kesehatan, mempercepat proses pelaporan, serta mempermudah proses monitoring dan evaluasi P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. program kesehatan. (Amallia, 2. Selain itu, penggunaan teknologi digital dalam sistem kesehatan juga dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan data kesehatan serta mendukung proses pengambilan keputusan berbasis data. (World Health Organization, 2. Oleh karena itu, penggunaan aplikasi seperti SIPROSEMAR dalam kegiatan Posyandu dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas sistem pencatatan dan pelaporan kegiatan Posyandu. (Turan, 2. Gambar 1 Pengisian kuesioner kesiapan Posyandu dalam Implementasi Posyandu 6 SPM Meskipun demikian, hasil analisis juga menunjukkan bahwa aspek pendanaan (Mone. masih menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan kegiatan Posyandu. Keterbatasan sumber dana operasional dapat mempengaruhi keberlanjutan kegiatan Posyandu terutama dalam mendukung kegiatan pelayanan lintas sektor yang menjadi bagian dari implementasi Posyandu 6 SPM. Keterbatasan pendanaan dapat berdampak pada keterbatasan fasilitas pendukung kegiatan, pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat, serta kegiatan pelatihan kader. Kondisi ini juga ditemukan dalam berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa keterbatasan sumber daya finansial merupakan salah satu hambatan utama dalam pelaksanaan program kesehatan berbasis (Agung & Wibowo, 2. Temuan ini menunjukkan bahwa sebelum kegiatan dilaksanakan. Posyandu di wilayah sasaran telah memiliki kesiapan yang cukup baik. Kader telah memiliki pengalaman dasar dalam pelayanan rutin Posyandu sehingga menjadi modal penting dalam mendukung pelaksanaan Selain itu, sebagian kader sudah memiliki telepon pintar, namun pemanfaatannya untuk pencatatan digital masih belum optimal karena keterbatasan keterampilan penggunaan aplikasi. Di sisi lain, pendanaan masih menjadi kendala utama dalam pengembangan kegiatan Posyandu, terutama untuk mendukung sarana, inovasi program, dan keberlanjutan kegiatan. Selain itu, implementasi Posyandu lintas sektor juga masih memerlukan penguatan koordinasi antar pihak Dengan demikian, meskipun memiliki potensi yang baik. Posyandu masih membutuhkan pelatihan, pendampingan, serta dukungan pembiayaan agar transformasi layanan dapat berjalan Program kesehatan masyarakat yang berbasis komunitas sering kali sangat bergantung pada dukungan sumber daya dari pemerintah maupun masyarakat, sehingga keterbatasan pendanaan dapat mempengaruhi efektivitas dan keberlanjutan program. Selain itu, keberhasilan implementasi program kesehatan masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh faktor sumber daya manusia dan sarana prasarana, tetapi juga oleh dukungan kebijakan, koordinasi lintas sektor, serta partisipasi masyarakat dalam mendukung pelaksanaan program. Oleh karena itu, penguatan kapasitas kader Posyandu melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan kesiapan kader dalam mendukung implementasi transformasi Posyandu 6 SPM. Dengan adanya peningkatan kapasitas kader serta dukungan teknologi informasi dalam sistem pencatatan dan pelaporan kegiatan Posyandu, diharapkan pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat komunitas dapat berjalan lebih efektif dan P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Pelaksanaan Sosialisasi Transformasi Posyandu 6 SPM Kegiatan sosialisasi dilaksanakan pada tanggal 8 Januari 2026 di Aula Pertemuan Kecamatan Mijen Kota Semarang dengan melibatkan kader Posyandu dari berbagai wilayah kerja Posyandu di Kecamatan Mijen. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman kader mengenai konsep transformasi Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) serta memperkuat peran kader dalam mendukung pelayanan lintas sektor di tingkat masyarakat. Sosialisasi dilaksanakan melalui metode penyampaian materi, diskusi interaktif, serta sesi tanya jawab antara narasumber dan kader Posyandu sehingga peserta dapat memahami secara lebih komprehensif perubahan peran Posyandu dalam sistem pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial di masyarakat. Dalam kegiatan sosialisasi dijelaskan bahwa Posyandu tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan ibu dan anak seperti kegiatan penimbangan balita, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak, serta penyuluhan kesehatan. Seiring dengan kebijakan transformasi layanan kesehatan primer. Posyandu dikembangkan menjadi lembaga kemasyarakatan yang berperan dalam mendukung berbagai pelayanan dasar masyarakat melalui pendekatan lintas sektor. Posyandu menjadi salah satu bentuk upaya kesehatan berbasis masyarakat yang berfungsi untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan serta mendukung pemberdayaan masyarakat dalam menjaga kesehatan keluarga dan (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Transformasi Posyandu 6 SPM menuntut kader Posyandu untuk memiliki pemahaman yang lebih luas mengenai berbagai sektor pelayanan publik yang berkaitan dengan kesejahteraan Dalam kegiatan sosialisasi dijelaskan bahwa Posyandu 6 SPM mencakup enam bidang pelayanan dasar yaitu bidang kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat, serta bidang sosial. Selain itu, kader juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya peran mereka dalam melakukan pendataan sosial masyarakat, seperti pendataan keluarga berisiko, identifikasi kondisi sanitasi lingkungan, serta pemantauan kondisi kesehatan masyarakat di wilayah kerja Posyandu. Kegiatan pendataan ini menjadi sangat penting dalam mendukung perencanaan program pembangunan di tingkat kelurahan maupun kecamatan karena data yang dikumpulkan oleh kader Posyandu dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan terkait program kesehatan dan kesejahteraan Keberadaan kader kesehatan berbasis masyarakat memiliki peran penting dalam menjembatani pelayanan kesehatan formal dengan masyarakat serta dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar. (Faza et al. , 2. Setelah pelatihan, terjadi peningkatan pemahaman kader mengenai perluasan fungsi Posyandu. Sebelum kegiatan, sebagian kader masih memandang Posyandu terbatas pada pelayanan ibu dan anak. Setelah kegiatan, kader mulai memahami bahwa Posyandu juga berperan dalam pendataan sosial, sanitasi lingkungan, pendidikan, dan pelayanan masyarakat lainnya. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan menekankan pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program kesehatan sehingga masyarakat dapat lebih mandiri dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan mereka. (Faza et al. Gambar 2 Pemaparan materi Posyandu 6 SPM P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Selain itu, penguatan peran kader Posyandu juga sejalan dengan kebijakan global mengenai penguatan tenaga kesehatan berbasis komunitas yang menekankan bahwa kader kesehatan memiliki peran strategis dalam mendukung sistem kesehatan terutama pada kegiatan promotif dan preventif. (World Health Organization, 2. Dengan adanya peningkatan pemahaman kader mengenai konsep Posyandu 6 SPM serta peran mereka dalam pelayanan lintas sektor, diharapkan kader Posyandu dapat berperan lebih aktif dalam mendukung implementasi transformasi Posyandu serta memperkuat kolaborasi antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Pelatihan Penggunaan Aplikasi SIPROSEMAR Selain sosialisasi mengenai konsep transformasi Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM), kegiatan pengabdian juga dilanjutkan dengan pelatihan penggunaan aplikasi SIPROSEMAR (Sistem Informasi Profil Posyandu Semaran. sebagai sistem pencatatan dan pelaporan kegiatan Posyandu secara digital. Pelatihan ini dilaksanakan melalui metode demonstrasi dan simulasi penggunaan aplikasi sehingga kader Posyandu dapat memahami langkah-langkah penggunaan aplikasi secara langsung serta dapat mempraktikkannya dalam kegiatan pelayanan Posyandu di wilayah masing-masing. Dalam pelatihan tersebut kader diperkenalkan dengan berbagai fitur yang terdapat pada aplikasi SIPROSEMAR, mulai dari pengisian profil Posyandu, pencatatan data sasaran pelayanan, hingga pelaporan kegiatan Posyandu secara digital. Penggunaan aplikasi SIPROSEMAR juga dikaitkan dengan implementasi Posyandu 6 SPM yang menuntut kader untuk melakukan pencatatan kegiatan pelayanan lintas sektor. Melalui pendekatan ini. Posyandu diharapkan dapat menjadi pusat pelayanan masyarakat yang mampu (Kementerian Dalam Negeri, 2. Pemanfaatan teknologi informasi dalam kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat memiliki peran penting dalam meningkatkan efisiensi sistem pencatatan dan pelaporan data Sistem informasi kesehatan berbasis digital dapat membantu meningkatkan kualitas data, mempercepat proses pelaporan, serta mempermudah proses monitoring dan evaluasi program kesehatan. (World Health Organization, 2. Selain itu, penggunaan sistem digital dalam pengelolaan data kesehatan juga dapat mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan berbasis data oleh pemerintah maupun tenaga kesehatan dalam merencanakan program kesehatan masyarakat. Gambar 3 Pelatihan penggunaan aplikasi SIPROSEMAR Dengan adanya pelatihan penggunaan aplikasi SIPROSEMAR, kader Posyandu diharapkan dapat lebih mudah melakukan pencatatan kegiatan Posyandu secara sistematis dan terintegrasi. Hal ini tidak hanya membantu meningkatkan kualitas sistem pelaporan kegiatan Posyandu, tetapi juga dapat mendukung penguatan sistem informasi kesehatan di tingkat komunitas. Integrasi antara kegiatan Posyandu 6 SPM dengan sistem pencatatan digital juga diharapkan dapat meningkatkan efektivitas monitoring kegiatan Posyandu oleh puskesmas maupun pemerintah P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. daerah sehingga pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial di tingkat masyarakat dapat berjalan lebih optimal. Pendampingan Posyandu 6 SPM dengan menggunakan SIPROSEMAR Pendampingan dilakukan secara bertahap setelah pelatihan melalui praktik langsung penggunaan aplikasi pada kegiatan Posyandu. Pada tahap awal, beberapa kader masih mengalami kesulitan dalam login, pengisian data sasaran, dan pelaporan kegiatan. Namun setelah pendampingan, kader mulai mampu mengoperasikan aplikasi secara mandiri. Pendampingan merupakan salah satu strategi penting dalam proses peningkatan kapasitas masyarakat karena memungkinkan peserta untuk memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh selama pelatihan. Melalui proses pendampingan, peserta dapat memperoleh bimbingan secara berkelanjutan serta dapat mendiskusikan berbagai kendala yang dihadapi selama proses penerapan pengetahuan dan keterampilan baru. (Nieman, 2. Pendampingan juga berperan penting dalam meningkatkan kepercayaan diri peserta dalam mengimplementasikan keterampilan yang telah dipelajari, sehingga proses pembelajaran tidak berhenti pada tahap pelatihan saja tetapi berlanjut hingga tahap penerapan di lapangan. Gambar 4 Pendampingan Posyandu 6 SPM dengan menggunakan SIPROSEMAR Penggunaan aplikasi SIPROSEMAR dalam kegiatan Posyandu juga memberikan berbagai manfaat dalam pengelolaan data kesehatan masyarakat. Pencatatan kegiatan Posyandu yang sebelumnya dilakukan secara manual melalui buku register kini dapat dilakukan secara digital sehingga proses pengelolaan data menjadi lebih sistematis dan terintegrasi. Selain itu, sistem pencatatan digital juga dapat meningkatkan efisiensi proses pelaporan kegiatan Posyandu serta mempermudah proses monitoring kegiatan oleh pihak Puskesmas maupun pemerintah daerah. Pemanfaatan sistem informasi kesehatan berbasis digital terbukti dapat meningkatkan kualitas data kesehatan serta mendukung proses pengambilan keputusan dalam perencanaan program kesehatan masyarakat. (World Health Organization, 2. Dari 41 Posyandu sasaran, 35 Posyandu . ,5%) telah mulai menggunakan SIPROSEMAR untuk pencatatan digital. Angka ini menunjukkan tingkat adopsi aplikasi yang tinggi. Dengan adanya pendampingan penggunaan aplikasi SIPROSEMAR, diharapkan kader Posyandu dapat semakin terbiasa menggunakan sistem pencatatan digital dalam kegiatan Posyandu. Hal ini tidak hanya membantu meningkatkan kualitas pelaporan kegiatan Posyandu, tetapi juga dapat mendukung penguatan sistem informasi kesehatan di tingkat komunitas. Integrasi antara kegiatan Posyandu 6 SPM dengan sistem pencatatan digital juga diharapkan dapat meningkatkan efektivitas monitoring program kesehatan masyarakat serta memperkuat koordinasi antara kader Posyandu, tenaga kesehatan di puskesmas, dan pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Evaluasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilakukan melalui observasi terhadap tingkat partisipasi kader selama kegiatan sosialisasi, pelatihan, serta pendampingan penggunaan aplikasi SIPROSEMAR. Selain itu, evaluasi juga dilakukan dengan mengamati kemampuan kader dalam mengoperasikan aplikasi SIPROSEMAR untuk melakukan pencatatan data sasaran P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. pelayanan, pencatatan kegiatan Posyandu, serta pelaporan kegiatan Posyandu secara digital. Proses evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kegiatan pengabdian yang telah dilaksanakan mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan kader dalam mendukung implementasi Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) serta pemanfaatan teknologi informasi dalam sistem pencatatan kegiatan Posyandu. Tabel 3 Perbandingan Kondisi Sebelum dan Sesudah Kegiatan Indikator Sebelum Sesudah Sistem pencatatan Dominan manual 85,5% mulai digital Pemahaman Posyandu 6 SPM Terbatas Meningkat Kemampuan penggunaan aplikasi Belum terlatih Sebagian besar mampu Kecepatan pelaporan Lambat Lebih cepat Kualitas data Belum optimal Lebih sistematis Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pengabdian tidak hanya meningkatkan pengetahuan kader mengenai Posyandu enam Standar Pelayanan Minimal, tetapi juga mendorong perubahan cara kerja dari sistem manual menuju sistem digital. Sebelum kegiatan dilaksanakan, pencatatan dan pelaporan masih banyak dilakukan secara manual menggunakan buku register. Setelah pelatihan dan pendampingan, kader mulai mampu memanfaatkan aplikasi SIPROSEMAR untuk melakukan input data dan pelaporan secara lebih sistematis. Peningkatan kapasitas kader kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan program kesehatan berbasis Kader kesehatan memiliki peran strategis dalam menjembatani pelayanan kesehatan formal dengan masyarakat serta dalam mendukung berbagai kegiatan promotif dan preventif di tingkat komunitas. (Kusumawati et al. , 2. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan menjadi salah satu strategi yang efektif dalam memperkuat sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Evaluasi keberhasilan kegiatan menunjukkan hasil yang positif. Tingkat kehadiran dan partisipasi kader selama rangkaian kegiatan tergolong tinggi, yang terlihat dari keterlibatan aktif peserta dalam sesi sosialisasi, diskusi, pelatihan, dan praktik penggunaan aplikasi. Selain itu, sebanyak 35 Posyandu . ,5%) telah mulai menggunakan aplikasi SIPROSEMAR sebagai media pencatatan digital. Kader juga telah mampu melakukan input data dasar sasaran pelayanan serta pelaporan kegiatan Posyandu. Di samping itu, pemahaman kader terhadap peran Posyandu dalam pelayanan lintas sektor mengalami peningkatan. Meskipun demikian, masih ditemukan beberapa kendala dalam pelaksanaan kegiatan. Kendala tersebut meliputi keterbatasan literasi digital pada sebagian kader, terutama kader usia lanjut, keterbatasan kepemilikan perangkat telepon pintar, serta akses internet yang belum merata di beberapa wilayah. Oleh karena itu, diperlukan tindak lanjut berupa pendampingan berkelanjutan, penyederhanaan fitur aplikasi agar lebih mudah digunakan, serta dukungan pemerintah daerah dalam penyediaan sarana pendukung dan penguatan infrastruktur digital. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi sistem informasi kesehatan berbasis digital sangat dipengaruhi oleh kesiapan pengguna, ketersediaan infrastruktur teknologi, serta dukungan pelatihan yang berkelanjutan. (Widyanti et al. , 2. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini membuktikan bahwa kombinasi sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan merupakan strategi yang efektif dalam meningkatkan kapasitas kader Posyandu. Pendekatan praktik langsung menjadi faktor penting keberhasilan karena kader dapat belajar sambil menerapkan penggunaan aplikasi di lapangan. Selain meningkatkan keterampilan digital, kegiatan ini juga memperkuat peran kader sebagai penggerak pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Pemanfaatan SIPROSEMAR berpotensi meningkatkan kualitas data kesehatan, mempercepat proses pelaporan, serta mempermudah monitoring program oleh puskesmas maupun pemerintah daerah. Dengan demikian, kegiatan ini memberikan dampak jangka pendek berupa peningkatan kapasitas kader dan dampak jangka panjang berupa penguatan sistem informasi kesehatan di tingkat komunitas. Pemanfaatan teknologi digital dalam sistem informasi kesehatan juga dapat membantu meningkatkan kualitas data kesehatan P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. masyarakat serta memperkuat proses monitoring dan evaluasi program kesehatan oleh pemerintah daerah maupun fasilitas pelayanan kesehatan. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan melalui sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan penggunaan aplikasi SIPROSEMAR berhasil meningkatkan kapasitas kader Posyandu dalam mendukung implementasi Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) di Kecamatan Mijen Kota Semarang. Keberhasilan kegiatan ditunjukkan oleh tingginya partisipasi kader, meningkatnya pemahaman mengenai peran Posyandu dalam pelayanan lintas sektor, serta tingginya tingkat adopsi aplikasi untuk pencatatan dan pelaporan digital. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis kader dalam penggunaan teknologi informasi, tetapi juga mendorong perubahan sistem kerja dari pencatatan manual menuju pencatatan digital yang lebih efektif dan sistematis. Dengan demikian, program ini memberikan kontribusi nyata terhadap pemberdayaan kader serta penguatan sistem informasi kesehatan berbasis masyarakat. Untuk menjaga keberlanjutan program, diperlukan pendampingan lanjutan, penguatan literasi digital kader, dukungan sarana teknologi, serta koordinasi lintas sektor agar implementasi Posyandu digital dapat berjalan secara optimal dan berkesinambungan. UCAPAN TERIMA KASIH (Bila Perl. Penulis menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Dian Nuswantoro atas dukungan pendanaan dan fasilitasi yang diberikan sehingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat terlaksana dengan baik. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Forum Posyandu Kota Semarang. Pemerintah Kecamatan Mijen, serta seluruh kader Posyandu yang telah berpartisipasi aktif dan memberikan dukungan selama pelaksanaan kegiatan sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan dalam implementasi Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan penggunaan aplikasi SIPROSEMAR. Dukungan dan partisipasi dari berbagai pihak tersebut sangat berkontribusi terhadap keberhasilan kegiatan pengabdian ini. DAFTAR PUSTAKA