Masyarakat Berdaya dan Inovasi , 2025, 20-27 Available online: https://mayadani. org/index. php/MAYADANI Pelatihan Penggunaan E-Instrument Pengukuran Kinerja Penjaminan Mutu Internal Bagi Pengelola Community Learning Center Fitta Ummaya Santi1,*. Entoh Tohani2. Ariyawan Agung Nugroho2 Pendidikan Nonformal. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta Teknologi Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta E-mail: fitta_us@uny. id, entoh_tohani@uny. id, ariyawan@uny. Abstrak Pengukuran kinerja community learning centre (CLC) selama ini dilakukan secara eksternal dalam bentuk akreditasi Masih jarang lembaga CLC yang melakukan audit mutu internal sendiri. Maka, pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pengeloa community learning centre dalam menggunakan e-instrumen pengukuran kinerja penjaminan mutu internal. Melalui e-instrument, lembaga akan dapat mengukur sejauh mana kinerjanya secara objektif. Pelatihan ini dilakukan kepada 28 pengelola CLC yang ada di Gunungkidul. Metode pelatihan dengan pendekatan berbasis pengalaman, belajar kooperatif dan praktik langsung mengisi e-instrumen. Hasil dari pelatihan ini, peserta meningkat kesadarannya dalam menggunakan e-instrumen pengukuran kinerja penjaminan mutu internal. Peserta telah mampu mengukur kinerjanya dan melakukan pengambilan keputusan berdasarkan hasil evaluasi dari pengisian e-instrumet tersebut. Kata Kunci: Penjaminan mutu internal, community learning center, e-instrumen pengukuran kinerja Abstract Community learning center (CLC) performance measurement has been conducted externally through institutional It is still rare for CLC institutions to conduct their own internal quality audits. Therefore, this training aims to improve the ability of community learning center managers to use e-instruments for measuring internal quality assurance performance. Through e-instruments, institutions will be able to objectively measure their performance. This training was conducted for 28 CLC managers in Gunungkidul. The training method used an experience-based approach, cooperative learning, and direct practice in filling out the e-instrument. As a result of this training, participants increased their awareness in using e-instruments for measuring internal quality assurance performance. Participants were able to measure their performance and make decisions based on the evaluation results from completing the e-instrument. Keywords: Internal quality assurance, community learning center, e-performance measurement instrument This is an open access article under the CCAeBY-SA license. PENDAHULUAN Penjaminan mutu internal (PMI) menjadi urgen dalam pengelolaan program atau layanan pendidikan nonformal yang dilakukan community learning center (CLC) dalam mewujudkan layanan pendidikan bermutu bagi masyarakat. Sebagai lembaga pendidikan nonformal. CLC memilik peran penting dalam meningkatkan kualitas kehidupan individu dan masyarakat melalui penyelenggaraan berbagai program pendidikan nonformal seperti pendidikan kecakapan hidup, pendidikan kesetaraan, pendidikan anak usia dini, pendidikan keagamaan, pendidikan kewirausahaan, dan pengembangan masyarakat. Artinya. CLC merupakan suatu pusat belajar yang menyediakan kesempata belajar warga masyarakat sesuai dengan minat dan kebutuhannya. https://doi. org/10. 33292/mayadani. info@mayadani. Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 Penjaminan mutu internal harus tetap dipertahankan dan dan dikelola untuk tetap terjamin kepuasan stakeholders (Crozier & Abdullah, 2. , (Kara, 2. Fungsi penjaminan mutu internal ini sangat urgen karena memiliki kedudukan penting dalam menjamin keterlaksanaan, keefektifan, dan kebermaknaan layanan pendidikan (Cardoso et al. , 2. Terkait ini, beberapa temuan penelitian menunjukkan penjaminan mutu internal memberikan dampak positif seperti meningkatkan keinovasian (Horn & Dunagan, 2. , meningkatkan persepsi positif peserta didik dan pendidik (Mourad, 2. , (Wilson, 2. , meningkatkan kerja sama pendidik dan peserta didik (Ezenwaji et al. , 2. , membangun akuntabilitas (Anwar et al. , 2. dan menjadi pendorong manajemen informasi (Mourad, 2. Idealnya penjaminan mutu internal menjadi bagian tidak terpisahkan dalam pengelolaan CLC dan bukan menjadi tanggung jawab pihak eksternal. Dalam perkembangan CLC di Indonesia, penjaminan mutu lembaga ini dominan menjadi perhatian bahkan tanggung jawab pihak eksternal seperti dinas pendidikan dan BAN PAUD dan PNF baik di level kabupaten, provinsi maupun nasional dalam bentuk proses akreditasi. Hal ini terlihat dari informasi bahwa pada tahun 2019, lembaga CLC yang terakreditasi mencapai 1. 181 dengan rincian terakreditasi A sebanyak 33 lembaga, terakreditasi B sebanyak 627 lembaga, terakreditasi C sebanyak 508 lembaga, dan tidak terakreditasi (TT) sebanyak 13 lembaga (BAN PAUD dan PNF, 2. Melihat data ini, dapat dikatakan mayoritas CLC masih memerlukan peningkatan kemampuan penjaminan mutu internal. Secara khusus, penelitian (Tohani et al. , 2. menghasilkan e-instrument pengukuran kinerja penjaminan mutu internal CLC dalam rangka meningkatkan pengambilan keputusan yang efektif. Einstrument dimaksud dikembangkan berbasis web dengan alamat https://amiclc. id/login. Instrument ini dimaksudkan untuk menjadi alat meningkatkan kesadaran dan kemampuan pengelola dalam melakukan penjaminan mutu internal secara mandiri dan berbasis pada refleksi diri. Selama ini, pelaksanaan fungsi ini tidak menggunakan instrument pengukuran penjaminan mutu internal dan dokumen mutu yang baik, serta didominasi oleh keterlibatan pihak Dinas Pendidikan setempat dan BAN PAUD dan PNF sebagai pihak penjamin mutu eksternal. Temuan tersebut memperkuat temuan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa selama ini penjaminan mutu CLC dilakukan guna memenuhi pencapaian standar mutu untuk tujuan akreditasi lembaga yang ditetapkan oleh pemerintah baik dalam perencanaan, perlaksanaan, dan evaluasi standar pengelolaan (Abdillah et al. , 2. Bahkan secara umum focus penjaminan mutu internal CLC belum dikaji mendalam oleh para peneliti yang mana focus penelitian lebih pada manajemen program dan pembelajaran (Tohani & Aulia, 2. , pada pengembangan kualitas personalia (Ridwan & Ida, 2. dan kebermanfaatan CLC pada masyarakat (Rahma et al. , 2. Oleh karena ini, dipandang perlu melakukaan tindakan peningkatan pemahaman dan kemampuan para pengelola CLC dalam menggunakan e-instrument pengukuran kinerja penjaminan mutu dalam rangka memudahkan pengambilan keputusan agar lembaga menjadi efektif. Peningkatan kemampuan ini perlu dilakukan tindakan pengembangan kapasitas pengelola dalam bentuk pelatihan yang berguna agar mereka menjadi lebih professional dalam mengembangkan CLC dan terus beradaptasi dengan lingkungan atau kebutuhan masyarakat. METODE Pelatihan ini telah dilaksanakan pada Senin, 4 Agustus 2025 di PKBM AuNgudi KapinteranAy Gunungkidul. Pelatihan ini menyasar para pengelola Community Learning Center (CLC) atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang memiliki tanggung jawab dalam manajemen mutu lembaga. Kelompok sasaran terdiri dari: pengelola CLC, tutor, dan staf admisitrator. Penentuan kelompok dilakukan secara bersama-sama dengan mitra dan terlebih dahulu diminta kesanggupan untuk mengikuti pelatihan secara penuh. Pelatihan ini didukung oleh berbagai sumber daya yang disiapkan secara terstruktur untuk mendukung kelancaran kegiatan. Sumber daya meliputi: narasumber. Platform e-instrumen berbasis daring yang dapat diakses peserta menggunakan perangkat masing-masing. Modul pelatihan yang mencakup materi tentang penjaminan mutu, siklus mutu, dan petunjuk teknis pengisian e-instrumen, dan ruang pelatihan yang nyaman, lengkap dengan fasilitas pendukung . ursi, meja, papan tulis, dll. Proses pembelajaran dalam kegiatan yang akan dilakukan ini meliputi langkah-langkah sebagai berikut: Penentuan kebutuhan. Langkah ini untuk melihat permasalahan yang terjadi pada kelompok CLC. Berdasarkan permasalahan yang ada, maka akan dapat diperoleh informasi mengenai kebutuhan untuk mengatasi masalahan tersebut. Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 Perumusan Pendidikan pelatihan. Kegiatan peningkatan kemampuan penggunaan e-instrument pengukuran kinerja penjaminan mutu internal bagi pengelola CLC akan dilakukan dalam tahapan pembelajaran meliputi: . Penyadaran kelompok sasaran. Pembelajaran mengenai urgensi einstrument penjaminan mutu internal. Pembelajaran praktik penggunaan e-instrument pengukuran kinerja PMI CLC. Melakukan refleksi bersama atas pembelajaran yang dilakukan. Gambar 1. Rencana Pembelajaran Pelaksanaan pelatihan. Pelaksanaan pelatihan peningkatan kemampuan penggunaan e-instrument pengukuran kinerja penjaminan mutu internal bagi pengelola CLC menggunakan pendekatan pembelajaran yang lebih menekankan pada prinsip pembelajaran orang dewasa, cooperative learning, dan experiential learning sehingga kelompok sasaran dapat aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran. Review dan Tindak lanjut. Review akan dilakukan dengan maksud mengevaluasi pelatihan peningkatan kemampuan penggunaan e-instrument pengukuran kinerja penjaminan mutu internal bagi pengelola CLC dengan mengedepankan prinsip evaluasi diri . elf-evaluatio. untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai kelompok sasaran. Review akan dilakukan dengan meminta pendapat/pandangan kelompok sasaran, proses dan hasil pendidikan yang sudah dilakukan baik melalui wawancara, dialog terbuka, dan/atau observasi. Evaluasi. Pelaksanaan evaluasi untuk mengetahui . ketercapaian tujuan pelatihan yang diberikan, dan . proses pelatihan yang dilakukan meliputi pemanfaatan sumber daya, faktor pendukung dan penghambat kegiatan HASIL DAN PEMBAHASAN Pelatihan ini dilaksanakan dengan berbagai penyampaian materi oleh narasumber dan juga praktik. Materi 1 disampaikan oleh Prof. Entoh Tohani. Pd yang membahas tentang Pentingnya Penjaminan Mutu. Fungsi Penjaminan Mutu, dan Siklus Penjaminan Mutu dalam pengelolaan lembaga PKBM. Materi ini disampaikan secara interaktif oleh narasumber dengan pendekatan yang komunikatif dan partisipatif. Narasumber tidak hanya menyampaikan konsep-konsep dasar penjaminan mutu secara teoritis, tetapi juga memberikan contohcontoh nyata dari praktik penjaminan mutu di lembaga pendidikan nonformal. Selama sesi berlangsung, suasana kegiatan sangat aktif. Para peserta terlihat antusias mengikuti pemaparan, mencatat poin-poin penting, dan mengajukan pertanyaan yang relevan. Peserta juga diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman masing-masing terkait upaya penjaminan mutu yang telah mereka lakukan di PKBM mereka, sehingga tercipta forum berbagi pengalaman yang memperkaya diskusi. Semangat peserta dalam mengikuti materi sangat terlihat dari keterlibatan mereka dalam setiap tahapan Banyak di antara peserta yang mencatat poin-poin diskusi untuk dijadikan bahan refleksi dan rencana tindak lanjut di lembaga masing-masing. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran yang tumbuh bahwa penjaminan mutu bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi menjadi kebutuhan untuk memastikan keberlangsungan dan kualitas layanan pendidikan nonformal. Selain itu, peserta juga menunjukkan komitmen untuk menerapkan praktik penjaminan mutu secara berkelanjutan. Mereka mulai mengidentifikasi area yang Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 perlu diperbaiki, merumuskan langkah-langkah konkret, serta merancang strategi implementasi yang sesuai dengan konteks lembaga masing-masing. Kesiapan ini mengindikasikan bahwa proses pelatihan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun mindset peningkatan mutu yang sistematis dan berorientasi pada keberlanjutan. Dengan demikian, pelatihan ini diharapkan menjadi titik awal bagi penguatan budaya mutu di lingkungan pendidikan nonformal. Gambar 2. Penyampaian materi 1 Materi ke 2 disampaikan oleh Fitta Ummaya Santi. Pd yaitu penggunaan e-instrumen dalam penjaminan mutu internal CLC. Sebelumnya peserta sudah dibuatkan akun untuk bisa masuk mengisi einstrumen tersebut. Link untuk pengisian e-instument, peserta masuk ke alamat: ami. Selanjutnya peserta akan diminta untuk memasukkan email dan pasword yang sudah dibuatkan. Gambar 3. Laman web ami. Setelah penyampaian materi, pelatihan dilanjutkan dengan sesi praktik pengisian e-instrumen penjaminan mutu internal. Pada sesi ini, peserta diarahkan untuk membuka dan mengakses e-instrumen yang memuat berbagai standar mutu pendidikan nonformal yang harus diisi sesuai dengan kondisi riil lembaga masingmasing. Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 Proses praktik berlangsung secara aktif dan dinamis. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dalam memahami isi instrumen serta dalam mengisi setiap butir standar mutu yang ada. Mereka tidak hanya mengisi secara administratif, tetapi juga mencermati dan mendiskusikan substansi dari setiap indikator, serta menyesuaikannya dengan praktik yang telah berjalan di lembaganya. Selama praktik berlangsung, terjadi diskusi yang intens antar peserta maupun antara peserta dengan Banyak peserta mengajukan pertanyaan untuk memastikan bahwa pengisian dilakukan secara tepat dan sesuai standar. Beberapa pertanyaan yang muncul antara lain menyangkut interpretasi indikator, pengumpulan bukti pendukung, dan cara melaporkan kekurangan atau kendala yang dihadapi lembaga. Fasilitator memberikan pendampingan secara langsung, menjelaskan alur pengisian, dan memberikan contoh konkret agar peserta lebih mudah memahami. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman peserta terhadap e-instrumen, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan data mutu yang akurat dan akuntabel. Gambar 4. Pengisian secara mandiri e-instrument penjaminan mutu internal Gambar 5. Pendampingan oleh tim pengabdi dalam pengisian e-instrument Materi ke-4 Praktik di Lembaga Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Pelatihan, peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis melalui metode ceramah, tetapi juga diberikan penugasan praktis untuk mengisi e-instrumen penjaminan mutu. Penugasan ini dimaksudkan agar peserta dapat mengaplikasikan secara langsung pemahaman mereka terhadap Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 instrumen penjaminan mutu internal dalam konteks lembaga masing-masing. Setiap peserta diminta untuk mengakses platform e-instrumen yang telah disiapkan dan mengisi seluruh bagian instrumen berdasarkan kondisi riil lembaganya, mulai dari aspek perencanaan mutu, pelaksanaan program, evaluasi, hingga tindak lanjut penjaminan mutu. Melalui penugasan ini, peserta diharapkan mampu: Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan lembaganya berdasarkan indikator penjaminan mutu yang telah Memahami prosedur penggunaan dan alur pengisian e-instrumen secara mandiri. Mengembangkan kesadaran terhadap pentingnya budaya mutu dalam pengelolaan PKBM. Menyusun rencana tindak lanjut berbasis data hasil isian instrumen. Hasil penugasan kemudian didiskusikan secara kelompok maupun individu dalam sesi pelatihan Diskusi ini bertujuan untuk mengklarifikasi pemahaman, berbagi praktik baik antarlembaga, dan memberikan masukan terhadap pengisian instrumen agar lebih akurat dan sesuai dengan standar penjaminan mutu pendidikan nonformal. Dengan adanya penugasan ini, pelatihan tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga aplikatif, mendorong peserta untuk menjadi lebih reflektif dan aktif dalam menerapkan sistem penjaminan mutu internal di PKBM secara berkelanjutan Hasil yang dicapai Kegiatan pelatihan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi pengelola CLC dalam melakukan penjaminan mutu internal. Mereka menyadari, bahwa selama ini penjaminan mutu internal jarang sekali Dari hasil pengisian e-instrumen, masih banyak peserta yang kesulitan dalam menilai kinerja Hal ini disebabkan bukti-bukti pendukung yang belum ada dan tidak terdokumentasi dengan baik. Sehingga, melalui evaluasi ini, pengelola CLC menyadari akan kekurangannya dan akan senantiasa Pelatihan ini mendorong saya untuk lebih aktifA Saya mendapatkan wawasan baru yang dapatA Saya merasa lebih percaya diri untuk mengelolaA Saya dapat menerapkan e-instrumen dalamA Pelatihan ini meningkatkan keterampilan sayaA Saya memahami fungsi dan struktur e-instrumenA Hasil Evaluasi Saya memahami pentingnya pengukuran kinerjaA Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat tidak setuju Gambar 6. Hasil Evaluasi Hasil evaluasi menunjukkan bahwa melalui pelatihan ini peserta pelatihan memahami pentingnya penjaminan mutu dalam CLC. Peserta mampu menggunakan e-instrumen dan meningkatkan keterampilan serta mendorong peserta lebih aktif dalam peningkatan mutu CLC. Berdaskan pengisian survey, diperoleh informasi bahwa sebagian komponen menunjukkan pengisian pada sangat setuju pada kategori sangat tinggi, diikuti setuju. PEMBAHASAN Agar mutu layanan pendidikan terjamin, maka CLC harus melaksanakan penjaminan mutu internal . nternal quality assuranc. yang menggambarkan adanya kesadaran dan budaya mutu dalam lembaga CLC. Copyright A 2025. Masyarakat Berdaya dan Inovasi. ISSN 2721-8228 Masyarakat Berdaya dan Inovasi, 6 . , 2025 Penjaminan mutu dimaknai sebagai pengumpulan semua tindakan terencana dan sistematis yang diperlukan untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa suatu produk, proses, atau layanan akan memenuhi persyaratan kualitas yang diberikan. Penjaminan mutu merupakan deklarasi yang diberikan untuk menginspirasi keyakinan bahwa suatu produk atau layanan telah mencapai standar tertinggi dan bahwa produksi, instalasi, modifikasi dan/atau perbaikan telah diselesaikan secara efisien dan tepat waktu. Tujuannya adalah untuk memberikan jaminan kepada pelanggan bahwa standar pengerjaan produk/jasa berada pada tingkat tertinggi, semua produk dan layanan yang dihasilkan memenuhi tingkat spesifikasi minimum tertentu yang tetap, dan memastikan bahwa standar produksi dan/atau layanan dilakukan secara seragam dan konstan walaupun terdapat perubahan personel. Dalam pendidikan, aktivitias ini bertujuan untuk mengetahui dan meningkatkan kualitas metode, dan produk dan hasil pendidikan yang dilaksanakan lembaga pendidikan, termasuk untuk mengembangkan dan memproduksi bahan ajar, program akademik, layanan dan dukungan, serta standar pembelajaran siswa. Menurut (Tohani et al. , 2. penjaminan mutu dalam pendidikan nonformal merupakan suatu usaha untuk pemantauan dan evaluasi sistematis dari berbagai aspek sistem, proyek atau program untuk memaksimalkan kemungkinan standar yang dicapai untuk indikator kinerja Dengan fungsi ini diharapkan pendidikan nonformal memiliki excellence, consistency, fitness for purpose, value for money, dan transformation. Lebih lanjut, ia mengemukakan secara detail indicator kinerja pendidikan nonformal yang diringkas dalam: . aspek input meliputi: kebijakan dan perencanaan, program pendidikan, sumber daya manusia, peserta didik, teknologi dan insfrastruktur, pendanaan, hubungan kemitraan, penjaminan mutu. aspek pembelajaran, dan . aspek output meliputi output pada peserta didik, dalam penyedaiaan program belajar, dan dalam masyarakat, dan . aspek outcome yang terdiri dari outcome pada peserta didik, pada program pembelajaran, dan pada masyarakat. SIMPULAN Pelatihan ini diselenggarakan sebagai upaya strategis untuk meningkatkan kesadaran pengelola Community Learning Center (CLC) terhadap urgensi pengukuran kinerja penjaminan mutu internal. Dalam konteks manajemen pendidikan nonformal, pengukuran kinerja menjadi komponen penting untuk menjamin keberlangsungan program yang efektif, efisien, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui pemahaman yang lebih mendalam mengenai konsep dan pentingnya penjaminan mutu, pengelola diharapkan mampu membangun budaya mutu yang berorientasi pada peningkatan kualitas layanan pendidik. Selain peningkatan kesadaran, pelatihan ini juga bertujuan untuk memperkuat keterampilan teknis pengelola dalam menggunakan e-instrumen pengukuran kinerja. Pemanfaatan e-instrumen memungkinkan proses evaluasi berjalan secara sistematis, terstruktur, dan berbasis data yang akurat. Dengan demikian, hasil evaluasi dapat digunakan secara optimal dalam proses pengambilan keputusan yang lebih tepat sasaran dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan. Kompetensi ini sangat penting untuk meningkatkan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan program-program pendidikan di CLC. Lebih lanjut, pelatihan ini juga difokuskan pada peningkatan kemampuan pengelola dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam proses penjaminan mutu internal. Di era digital, pemanfaatan TIK tidak hanya menjadi alat bantu administratif, tetapi juga instrumen utama dalam pengelolaan data mutu, pelaporan, dan monitoring evaluasi secara realtime. Dengan menguasai keterampilan ini, pengelola CLC dapat mempercepat transformasi digital di lingkungan lembaga, sekaligus meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan program pendidikan nonformal yang adaptif terhadap perkembangan zaman. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberi dukungan financial terhadap kegiatan pengabdian ini. Terimkasih pula kepada peserta dari pengelola PKBM Kabupaten Gunungkidul yang telah aktif mengikuti pelatihan ini. DAFTAR PUSTAKA