CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 5 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2023 Peranan Tata Tertib Universitas dalam Menanamkan Perilaku Disiplin Mahasiswa Anugrance Citra R. S1. Azmil Mufarohah2. Deira Angelina3 Pendidikan Kimia Universitas Pendidikan Indonesia Email : anugrance@gmail. com, 2azmilmfr20@gmail. com, 3 deiraangelina5@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan nilai-nilai Pancasila dengan peranan tata tertib yang telah dibuat oleh dewan senat akademik dan mengetahui adanya permasalahan terkait sikap disiplin mahasiswa. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian ini menggunakan metode campuran yaitu metode kualitatif dengan wawancara dan kuantitatif dengan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa telah memahami peraturan tersebut karena adanya kesepakatan yang telah disetujui Apabila ada yang melanggar akan diberikan sanksi. Sebagai alat untuk mengetahui tingkat permasalahan mahasiswa dalam melaksanakaan tata tertib digunakan penyebaran kuesioner yang diisi oleh 41 mahasiswa didapatkan hasil bahwa mahasiswa telah memahami peraturan yang sudah ditetapkan sebesar 90,2%, mahasiswa pernah melakukan pelanggaran sebesar 70,7%, dan poin pelanggaran tertinggi ialah keterlambatan sebesar 61%. Kata kunci : Tata tertib. Disiplin. Mahasiswa Abstract This study aims to describe the relationship between Pancasila values and the role of the rules that have been made by the academic senate council and to identify problems related to student discipline. This type of research uses a descriptive qualitative approach. This study used mixed methods, namely qualitative methods with interviews and quantitative methods with questionnaires. The results of the study show that students have understood these regulations because of an agreement that has been mutually agreed upon. If anyone violates will be given a As a tool to find out the level of students' problems in implementing the rules, the distribution of questionnaires filled in by 41 students was used, the result was that students had understood the rules that had been set at 90. 2%, students had committed violations at 70. 7%, and the highest violation point was delay of 61%. Keywords: Order. Discipline. Students JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 5 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2023 Pendahuluan Tata tertib merupakan aturan yang telah disetujui oleh suatu lembaga yang harus dipatuhi oleh masyarakat, dengan sanksi yang dikenakan untuk pelanggaran. Sementara itu, tata tertib universitas adalah kumpulan aturan dan norma yang mengatur perilaku dan interaksi antara mahasiswa, dosen, dan pihak universitas lainnya dalam lingkungan akademik. Tata tertib bersifat wajib, sehingga masyarakat dipaksa untuk mengikuti aturan yang telah disepakati. Seperti hukum, tata tertib memberikan hukuman bagi siapa saja yang melanggarnya. Patuh terhadap tata tertib mencerminkan bahwa sudah berperilaku sesuai dengan nilainilai yang terkandung dalam Pancasila (Firmansyah et al. , 2020. Lutfiansyah. Mabuka, 2021. Nurgiansah, 2. Pada hakikatnya, peraturan yaitu beberapa aturan yang dibuat oleh suatu lembaga yang bertujuan untuk mengatur dan meningkatkan kualitas lembaga tersebut yang bersifat mengikat dan memaksa. Setiap universitas memiliki tata tertib agar menciptakan keteraturan dan mewujudkan cita-cita bersama. Terutama untuk mengatur mahasiswanya, khususnya dalam bersikap dan berperilaku, berpenampilan rapi dan masih banyak lagi. Hal itu bertujuan untuk menanamkan sikap disiplin pada diri mahasiswa, karena telah diatur dan dituntut untuk disiplin, maka sikap tersebut akan terbawa ke lingkungan luar. Namun peristiwa yang sering dijumpai pada saat ini adalah masih banyak mahasiswa yang acuh tak acuh dengan adanya peraturan. Menurut Rianto & Yuliananingsih, . Ini diakibatkan karena persepsi tentang peraturan yang dianggap hal biasa, dengan kata lain wajar jika peraturan dilanggar, sehingga masih banyak oknum mahasiswa yang melanggar peraturan yang diberlakukan. Kurangnya kesadaran mahasiswa terhadap penerapan tata tertib universitas bisa menjadi masalah yang serius bagi universitas. Kurangnya kesadaran ini, harus diiringi dengan sanksi serta penanaman sikap disiplin yang harus diterapkan dan dibiasakan, sehingga terbiasa untuk bersikap disiplin. Melanggar tata tertib dapat merujuk pada tindakan yang menyimpang dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku di Indonesia, termasuk tindakan yang merugikan kepentingan umum atau masyarakat luas. Tindakan seperti ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, seperti Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Persatuan Indonesia. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa melanggar tata tertib dapat bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila jika tindakan tersebut merugikan kepentingan umum atau masyarakat luas, atau bertentangan dengan prinsipprinsip Pancasila. Hubungan antara nilai Pancasila dengan peran tata tertib universitas adalah bahwa tata tertib universitas harus mencerminkan nilai-nilai Pancasila dan mengatur perilaku yang mendukung terciptanya suasana yang harmonis dan adil bagi semua anggota universitas. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 5 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2023 Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Putra et al. , 2. dalam penelitiannya yang berjudul AuPeranan Tata Tertib Sekolah dalam Membentuk Perilaku Kedisiplinan Siswa Di Sekolah Dasar Negeri 2 Sendangsari Kecamatan Batuwarno Kabupaten Wonogiri Tahun Pelajaran 2019/2020Ay. Jenis penelitian ini merupakan deskriptif, dengan menggunakan metode pendekatan kualitatif. Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah fokus penelitiannya yaitu peranan tata tertib dalam membentuk perilaku disiplin. Sedangkan perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah subjek penelitian dan metode penelitian. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pembaca khususnya para mahasiswa dalam membiasakan sikap disiplin terutama di lingkungan kampus. Metode Penelitian ini menggunakan metode campuran yaitu metode kualitatif dan Penyajian data melalui metode kualitatif dapat mengungkap fenomena atau fakta yang mudah dipahami dan dapat menghasilkan hipotesis yang baru sesuai dengan modelnya (Hennink et al. , 2020. Yusuf, 2. Dalam melakukan penelitian kualitatif, ketika pengumpulan data peneliti memperoleh data penelitian melalui hasil wawancara. Data yang diperoleh tersebut kemudian dideskripsikan oleh peneliti. Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi melalui proses tanya jawab, sehingga dapat dijadikan hasil data dalam sebuah topik tertentu (Afrianingsih et al. , 2. Subjek dalam penelitian yaitu 41 mahasiswa di salah satu universitas Kota Bandung dan objek pada penelitian ini adalah peranan tata tertib universitas dalam menanamkan perilaku disiplin mahasiswa. Pendekatan secara kuantitatif dilakukan dengan cara peneliti membagikan kuesioner kepada Teknis pengumpulan data terdapat beberapa tahapan yang terjadi yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles et al. , 2. Pengumpulan Data Penyajian Data Reduksi Data Verifikasi Gambar 1. Komponen Analisis Data Model Interaktif Sumber: (Miles et al. , 2. JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 5 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2023 Sumber data merupakan hal yang penting untuk mengetahui adanya informasi dari data tersebut. Data yang diperoleh didapatkan dari beberapa sumber yaitu sumber data primer dan sekunder. Sumber data sekunder tidak langsung memberikan data ke pihak pengumpul data, data ini dijadikan pendukung kelengkapan data primer (Firdausi & Asikin, 2. Data sekunder diperoleh dari dokumen atau sebuah situs internet yaitu sebuah dokumen resmi yang dibuat oleh dewan senat akademik yang memuat peraturan disiplin mahasiswa sedangkan untuk mendapatkan sumber data primer peneliti perlu mengumpulkan secara langsung melalui teknik wawancara dan penyebaran kuesioner pada g-form. Pembagian kuesioner terhadap responden bertujuan untuk membantu peneliti sehingga mendapatkan data yang lebih akurat. Teknik pengumpulan data untuk mengumpulkan informasi dalam bentuk kuantitatif umumnya yaitu kuesioner, observasi terencana, inventarisasi, dan lain-lain (Syahputra et al. , 2. Secara umum kuesioner menanyakan perihal kebiasaan buruk mahasiswa dalam melaksanakan sikap kedisiplinan di area kampus. Hasil dari kuesioner akan disajikan berupa diagram lingkaran . ie char. dan diagram batang . ar char. untuk mempresentasikan jawaban dari responden. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Sikap disiplin bagi setiap mahasiswa perlu untuk diimplementasikan dalam aktivitas sehari-hari terutama saat berada di lingkungan kampus. Peraturan yang telah dibuat oleh dewan senat akademik wajib untuk dilaksanakan setiap mahasiswa yang masih menjalani study. Hasil wawancara salah satu dosen di salah satu universitas Kota Bandung mengatakan adanya tata tertib yang dibuat oleh senat akademik sangat membantu dalam mengatur jalannya sistem perkuliahan disetiap fakultas atau departemen dan dijadikan acuan dasar untuk membentuk peraturan yang akan ditetapkan. Selanjutnya ia juga menjelaskan bahwa sering memberikan pemahaman kepada mahasiswa terkait tata tertib perkuliahan yang harus ditaati agar dijalankan sesuai aturan yang telah ditetapkan. Apabila tata tertib tersebut tidak dipatuhi akan mendapatkan sanksi. Tidak hanya dosen, peneliti juga melakukan wawancara kepada salah satu mahasiswa, responden tersebut mengatakan belum mengetahui secara rinci adanya peraturan yang telah dibuat oleh senat akademik. Responden juga pernah melanggar tata tertib seperti, terlambat masuk kelas. Faktor utama mahasiswa tersebut terlambat adalah keberadaan rumah yang jaraknya jauh dari universitas dan belum bisa management waktu dengan baik. Pelanggaran yang responden lakukan membuat responden tersebut pernah mendapatkan teguran secara lisan dan sanksi berupa tidak tercatat namanya diabsen kehadiran ketika telat masuk Mahasiswa juga berpendapat setuju dengan adanya peraturan senat akademik dan adanya sanksi yang ditetapkan karena bermanfaat bagi seluruh JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 5 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2023 mahasiswa untuk lebih berhati-hati dan menjaga sikap selama berada di lingkungan universitas. Berdasarkan hasil kuesioner, perolehan data didapatkan dari 3 pertanyaan berupa opsi dan tanggapan responden yang diajukan peneliti dalam kuesioner. Pertanyaan 1: AuApakah anda memahami adanya peraturan yang sudah ditetapkan kampus?Ay. Pertanyaan ini diberi dua opsi jawaban yang tersedia, berikut persentase hasil jawaban 41 responden : A Paham dijawab oleh 37 orang . ,20%) A Tidak paham dijawab oleh 4 orang . ,80%) Diagram I Pertanyaan I . Pertanyaan 2: AuApakah anda pernah melanggar tata terbib perkuliahan?Ay. Pertanyaan tersebut diberi 2 opsi untuk menjawab dengan presentase hasil jawaban 41 responden: A Sering dijawab oleh 1 orang . ,40%) A Pernah dijawab oleh 29 orang . ,70%) A Tidak pernah oleh 11 orang . ,80%) Diagram II Pertanyaan II . Pertanyaan 3: AuApa saja perilaku tidak disiplin yang pernah/sering anda lakukan?Ay. Pertanyaan dengan opsi jawaban lebih dari 1 tersebut dijawab dengan presentase hasil jawaban 41 responden: A Keterlambatan dijawab oleh 25 orang . %) JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 5 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2023 Cara berpenampilan dijawab oleh 11 orang . ,80%) Etika berbahasa yang tidak baik dijawab oleh 9 orang . %) Tidak mengumpulkan tugas dijawab oleh 5 orang . ,20%) Melakukan kecurangan dijawab oleh 2 orang . ,90%) Pelanggaran Tata Tertib Keterlambatan Cara Berpenampilan Etika Berbahasa Kecurangan Tidak Mengerjakan Tugas Diagram i Pertanyaan i Selanjutnya, peneliti memberikan pertanyaan yaitu AuMengapa anda melakukan pelanggaran tersebut? Ay. Umumnya sebanyak 41 responden memberikan respon yang sama. Penjelasan diagram di atas dapat disimpulkan hasil dari jawaban responden karena adanya faktor internal dan eksternal sehingga peraturan tata tertib tidak dilaksanakan dengan baik dan benar. Seperti, situasi lingkungan yang kurang mendukung dan kurangnya kesadaran diri pada setiap mahasiswa, dan lain-lain. Pembahasan Penerapan dalam menanamkan kedisiplinan sangat penting. Disiplin adalah sikap hormat, taat, dan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku, serta upaya untuk mengkoordinasikan perilaku seseorang di masa depan. Disiplin dan tanggung jawab juga berkaitan erat satu sama lain (Flora, 2. Seperti pada sila kedua pancasila menekankan pentingnya sikap dan perilaku manusia yang adil dan beradab dalam hubungan antar manusia agar tercipta perdamaian, kerukunan, dan persamaan kebersamaan bagi seluruh umat manusia. Kedisiplinan dalam menaati peraturan merupakan salah satu bentuk pengamalan sila kedua Pancasila dalam konteks pendidikan. Hal ini karena dengan mematuhi aturan, mahasiswa dapat menunjukkan sikap adil dan beradab saat berinteraksi dengan teman sebaya, dosen, dan staf universitas. Selain itu disiplin dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. Secara keseluruhan, mentaati peraturan dengan disiplin merupakan bentuk nyata pengamalan sila kedua Pancasila, yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang adil, beradab, dan JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 5 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2023 Seseorang dengan rasa disiplin yang kuat juga akan memiliki rasa tanggung jawab yang kuat. Tenaga pengajar atau dosen melakukan pembiasan tata tertib secara berulang untuk mengingatkan mahasiswa dan membiaskan dengan tata tertib yang Dosen tidak melakukan sosialisasi secara terang-terangan hanya dengan cara Menurut (Agus et al. , 2. bahwa tenaga pengajar perguruan tinggi memiliki peran profesional sebagai guru, pendidik, dan pelatih untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotoriknya. Hal ini menjadi pendukung dalam pengembangan pendidikan karakter, khususnya karakter disiplin, untuk diterapkan di perguruan tinggi di Indonesia. Dalam konteks nilai-nilai pancasila, tenaga pengajar hanya sebagai perantara agar tata tertib universitas dilaksanakan karena memiliki tujuan untuk menanamkan nilainilai tersebut pada mahasiswa dengan memberikan pemahaman yang baik dan contoh nyata, sikap tersebut dapat ditunjukkan saat proses pembelajaran Sehingga, siswa akan lebih mudah memahami dan menerapkan nilainilai Pancasila. Hal ini akan membantu memperkuat karakter mahasiswa dan membangun manusia Indonesia yang berakhlak mulia. Adanya hambatan yang dialami perguruan tinggi dalam membentuk kedisiplinan mahasiswa disebabkan adanya faktor internal maupun eksternal (Puspitaningrum & Suyanto, 2. Hasil kuesioner menunjukkan mayoritas responden sebanyak 90,20% paham dengan peraturan senat akademik. Namun, sebagian besar mahasiswa masih melakukan pelanggaran terhadap peraturan tata tertib yang sudah berlaku. Sebanyak 70,70% mahasiswa pernah melanggar tata Menurut (Sianturi & Anggraeni Dewi, 2. , pelanggaran ini terjadi akibat dari tidak menerapkan nilainilai yang terkandung dalam pancasila. Mahasiswa sudah sepatutnya mengetahui dan memahami peraturan tata tertib yang berlaku di kampus atau perguruan tinggi, tetapi mahasiswa kurang menghayati nilai-nilai pancasila dengan baik, tidak adanya kesadaran diri, dan tidak terbiasa untuk mengaplikasikan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pelanggaran yang biasa dilakukan mahasiswa ialah terlambat masuk kelas dengan presentase jawaban sebesar 61%. Umumnya penyebab mahasiswa melakukan pelanggaran karena adanya kondisi lingkungan yang kurang mendukung dan masih kurang bisa management waktu dengan baik. Responden 13 mengatakan bahwa AuAlasan untuk keterlambatan, mungkin karena dosennya juga sering tidak on timeAy. Penelitian dari (Yuniastuti, 2. , mengatakan bahwa mahasiswa harus didisiplinkan melalui keteladanan dan pembiasaan, dan dosen juga harus memberikan contoh yang baik kepada mahasiswanya. Seluruh mahasiswa dan dosen harus menerapkan disiplin agar mereka tepat waktu masuk kelas. Menurut (Handayani, 2. , perilaku dan tindakan seringkali jauh lebih besar pengaruhnya daripada katakata, sehingga mahasiswa lebih mudah ditiru atau dipengaruhi oleh apa yang dilihatnya . ianggap baik dan patut ditir. , daripada JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 5 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2023 apa yang didengarnya. Sejalan dengan hasil penelitian (Wardhani, 2. , pertama rendahnya kedisiplinan mahasiwa dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti dosen yang tidak memberikan teladan yang baik dengan sering terlambat ke universitas sehingga mahasiswa menirunya, serta kesadaran diri mahasiswa yang kurang dalam mematuhi peraturan seperti ketidisiplinan saat berada di kelas, terlambat masuk kelas, tidak menyelesaikan tugas dengan baik, dan melakukan Kedua, dalam mendisiplinkan mahasiswa terdapat hambatan seperti kurangnya pemahaman mahasiswa terhadap peraturan universitas, sering melanggar peraturan, sulit diingatkan, dan pura-pura tidak tahu. Selain itu, responden 35 mengatakan bahwa AuSaya sudah berusaha sebaik mungkin untuk tepat waktu dan saya memang tidak terlambat hingga batas waktu toleransi yang disepakati ketika RPS. Namun terkadang hal tersebut disebabkan hal yang diluar kendali saya, seperti kemacetan dan lain sebagainyaAy. Ada mahasiswa yang sudah mengusahakan untuk tidak melanggar peraturan namun, keadaan yang dialami mahasiswa tidak mendukung. Hal ini karena mahasiswa yang tinggal jauh dari universitas harus menempuh jarak yang lebih jauh dan mungkin terkendala transportasi, yang dapat mempengaruhi ketepatan waktu mereka untuk tiba di Selain banyaknya mahasiswa yang terlambat masuk kelas. Minoritas mahasiswa pernah melakukan kecurangan sebesar 4,90%. Responden 3 mengatakan bahwa AuKurangnya kesadaran dan disiplin pada diri sayaAy. Hal tersebut membuktikan bahwa responden memang merasa dirinya kurang kesadaran diri untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan bagi dirinya. Sedangkan responden 23, mengatakan bahwa. AuSaya merasa butuh melakukan hal tersebutAy. Jika kita berpegangan pada sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Perilaku melakukan kecurangan dalam bentuk apapun itu tidak diperbolehkan seharusnya, percaya dengan kemampuan diri sendiri. Karena. Tuhan sudah memberikan kelebihan dan kekurangan sesuai porsinya kepada manusia (Sianturi & Anggraeni Dewi, 2. Berdasarkan hasil pengumpulan data (Masada & Dachmiati, 2. , faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku menyontek mahasiswa terjadi karena adanya peluang keadaan dan situasi untuk melakukan hal tersebut. Hal ini dipicu karena konsep diri yang salah tanpa memandang agama, lingkungan, dan contoh atau model. Proses pembelajaran dan pemahaman bahan ajar juga berdampak pada hasil belajar pada saat tes evaluasi materi sehingga tidak mencapai tujuan pembelajaran khusus dan umum. Akibatnya, responden merasa butuh melakukan kecurangan. Pancasila digunakan sebagai pedoman untuk memimpin dan berperilaku. Pancasila sebagai sistem etika mengembangkan dimensi moral dalam diri setiap individu agar dapat menunjukkan spiritualitas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sebagai sistem etika, pancasila merupakan tuntunan moral yang dapat diterjemahkan dalam tindakan nyata yang berkaitan dengan JURNAL PROGDI PPKn. FKIP UNIVET BANTARA SUKOHARJO BEKERJA SAMA DENGAN ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN (AP3KNI) JAWA TENGAH CIVIC EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL (CESSJ) Volume 5 Nomor 1 Edisi Bulan Juni 2023 berbagai aspek kehidupan. Selain keterlambatan dan kecurangan, mahasiswa juga pernah melakukan pelanggaran seperti cara berpenampilan, etika dalam berbahasa, dan tidak mengumpulkan tugas yang diberikan dosen. Tindakan tersebut tidak mencerminkan sila pancasila ke-3. Perbuatan baik adalah perbuatan yang memperkokoh persatuan dan kesatuan. Sikap egois dan mementingkan diri sendiri, serta sikap yang memecah belah persatuan, adalah perbuatan yang buruk. Nampaknya seseorang bertindak atas nama agama . , namun jika tindakan tersebut merusak persatuan dan kesatuan, maka Pancasila bukanlah tindakan yang baik dan tidak sesuai dengan nilai-nilai persatuan. (Amarini, 2017. Andora, 2. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya yang lebih serius dan konsisten untuk meningkatkan pemahaman dan penerapan nilai-nilai Pancasila siswa, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal. Siapa pun yang melanggar aturan harus ditindak tegas dan dihukum sepantasnya. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila harus diwujudkan. Sehingga Anda bisa menjadi orang yang religius, bijaksana, dan bermoral. Untuk melaksanakan peraturan yang berlaku, dosen dan mahasiswa harus bekerja sama secara efektif. Dengan demikian dapat memupuk hubungan sosial yang harmonis dan lingkungan yang tertib. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memahami adanya peraturan yang telah dibuat oleh dewan senat akademik dibuktikan dari presentase jawaban kuesioner sebesar 90,20%. Namun, banyak juga mahasiswa yang menyatakan pernah melanggar tata tertib dibuktikan dari presentase jawaban kuesioner sebesar 70,70%. Mayoritas mahasiswa melakukan pelanggaran berupa keterlambatan dan minoritas mahasiswa melakukan kecurangan dibuktikan dengan masing-masing perolehan presentase jawaban sebesar 61% dan 4,90%. Oleh karena itu, peneliti menyimpulkan bahwa adanya peraturan tata tertib, kurang optimal dalam menanamkan perilaku dispilin mahasiswa karena terdapat faktor penghambat baik secara internal dan eksternal yang mengakibatkan mayoritas mahasiswa masih melanggar peraturan tata tertib. Referensi