EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 IMPLEMENTASI PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA PADA KEGIATAN KERJA KELOMPOK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VII SMP N 3 TARUTUNG SERINA ANGELA SITOMPUL1. BESLINA AFRIANI SIAGIAN2. JUNI AGUS SIMAREMARE3 Universitas HKBP Nommensen Medan e-mail: serina. sitompul@student. id1 , beslinasiagian@uhn. simaremare@uhn. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan prinsip kesantunan berbahasa dalam kegiatan kerja kelompok dalam pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas VII SMP N 3 Tarutung. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini mendeskripsikan implementasi serta pelanggaran dan pematuhan prinsip kesantunan berbahasa yang diterapkan dalam interaksi antara siswa selama kegiatan kerja kelompok berlangsung. Kemudian, mendeskripsikan bagaimana faktor-faktor penyebab pelanggaran kesantunan berbahasa siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik simak bebas libat cakap, teknik observasi, teknik catat, dan teknik rekam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi prinsip kesantunan berbahasa pada kegiatan kerja kelompok yaitu pembukaan pembelajaran, penjelasan materi, pembagian kelompok, diskusi dengan kelompok masing-masing, kemudian presentasi dan penutup pembelajaran. Kata kunci : Kesantunan Berbahasa. Kegiatan Kerja Kelompok, pembelajaran Bahasa Indonesia. ABSTRACT This research aims to describe the principles of language politeness in group work activities in Indonesian language learning for class VII students at SMP N 3 Tarutung. The type of research used in this research is descriptive qualitative. This research describes the implementation and violations, compliance with the principles of language politiness that are applied in interactions between students during group work activities. Then, describethe factors that cause students language politiness violations. The data collection techniquesin this research used proficient free involved listening techniques, observation techniques, note-taking techniques, and recording techniques. The result of the research show that the implementation of principles of language politeness in group work activities is opening lesson, explaining the material, diving into groups, discussing with each group, then presenting and closing the lesson. Keywords : Language politeness, group work activities. Indonesian language learning. PENDAHULUAN Bahasa merupakan sistem komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan makna. Sebagai alat untuk mengekspresikan pikiran, emosi dan ide, bahasa memungkinkan manusia untuk berbagi informasi dan membangun hubungan sosial. Menurut Keraf (Rachman, 2. bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Senada dengan pendapat (Simaremare, 2. bahasa adalah sebuah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipakai oleh pengguna bahasa atau anggota masyarakat untuk bersosialisasi, bekerja sama dan berinteraksi dalam baik dalam bentuk percakapan, sikap yang baik, dan karakter yang baik. Bahasa tidak hanya sekedar alat untuk menyampaikan informasi, tetapi juga untuk melakukan tindakan sosial tertentu yang disebut dengan tindak tutur. Menurut (Ni Nyoman Ayu Ari Apriastuti. Rasna I W, 2. tindak tutur Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 peech act. merupakan salah satu komponen penggunaan bahasa. Tindak tutur berkaitan erat dengan kesantunan, karena dalam menggunakan bahasa tidak hanya mempengaruhi apa yang disampaikan tetapi bagaimana mempengaruhi perasaan dan tanggapan pendengar. Pragmatik menekankan bagaimana satuan kebahasaan digunakan dan diterapkan dalam situasi ujar tertentu, serta bagaimana makna bahasa ditentukan oleh konteks yang melatarbelakanginya. Wijana (Muzaki & Sudrajat, 2. AuPragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yaitu bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan di dalam komunikasiAy. Menurut Rosada (Yayuk et al. , 2. menyatakan bahwa kesantunan berbahasa pada hakikatnya adalah etika dalam bersosialisasi dalam masyarakat dengan menggunakan pemilihan kata yang baik, serta memperhatikan dimana, kapan, kepada siapa dan untuk tujuan apa kita berbicara. Menurut Nisja dalam (Situmorang, n. ) mengatakan kesantunan berbahasa dapat dilakukan dengan cara pelaku tutur mematuhi prinsip sopan santun berbahasa yang berlaku dimasyarakat pemakai bahasa itu. Yule (Anggraini et al. , 2. menyatakan bahwa kesantunan merupakan perilaku yang ditetapkan dan disepakati bersama oleh suatu masyarakat tertentu sehingga kesantunan sekaligus menjadi prasyarat yang disepakati oleh perilaku sosial. Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka, dapat disimpulkan bahwa kesantunan berbahasa merupakan bagian penting dari etika bersosialisasi dalam masyarakat kesantunan berbahasa mencakup pemilihan kata yang tepat dan penggunaan bahasa yang sesuai dengan situasi, waktu dan tujuan komunikasi. Kesantunan merupakan kebiasaankebiasaan menyangkut perilaku yang berlaku dalam masyarakat (Halawa et al. , 2. Kesantunan dianggap sebagai nilai penting untuk memperkuat hubungan sosial yang harmonis antar individu agar tercipta suatu hubungan yang saling menghargai serta menciptakan lingkungan yang nyaman. Leech (Agustini, n. ) menjelaskan bahwa kesantunan berbahasa pada dasarnya harus memperhatikan 6 maksim, yaitu maksim kesederhanaan Aumodesty maximAy, maksim pemufakatan Auagreement maximAy, maksim simpati Ausympaty maximAy, maksim kebijaksanaan Autact maximAy, maksim kedermawanan Augenerosity maximAy, dan maksim penghargaan Auapprobation maximAy. Bentuk komunikasi formal di sekolah memiliki peranan penting dalam menciptakan serta membentuk kesantunan berbahasa pada siswa. Banyak siswa dalam berkomunikasi masih menggunakan bahasa yang kurang santun baik itu dalam interaksi sehari-hari di sekolah maupun di sosial media terutama di sekolah SMP sehingga menimbulkan lingkungan belajar menjadi kurang nyaman dan kondusif. Menurut (Dr. Harlen Simanjuntak et al. , 2. mengemukakan bahwa pembelajaran pada dasarnya merupakan kegiatan akademik yang berupa interaksi komunikasi antara pendidik dan peserta didik, proses ini merupakan sebuah tindakan profesional yang bertumpu pada kaidah-kaidah alamiah. Menurut Sumiati dkk (Bashori & Aprima, 2. Ausecara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungannyaAy. Penggunaan bahasa yang tidak santun dapat merusak citra diri siswa di mata guru, teman dan orang lainnya, yang pada akhirnya bisa berdampak negatif hingga dewasa nanti. Dalam hal ini, peran pendidik sangat penting dalam membentuk sifat dan karakter siswa. Sebagai teladan bagi siswa, guru mampu untuk mempengaruhi perilaku siswa melalui contoh yang diberikan dan melalui pembelajaran yang disampaikan, seperti aktivitas pembelajaran sehari-hari disekolah. Patrikno (Mukasri, 2. menjelaskan bahwa belajar kelompok adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan logis dan sistematis yang dilakukan oleh beberapa orang dengan memiliki kemampuan untuk berbuat dengan kesatuannya agar memperoleh perubahan tingkah laku dan belajar menjadi lebih efektif. Kegiatan ini dilakukan antara beberapa kelompok-kelompok kecil, guru membagikan kelompok yang terdiri dari 4 atau 6 orang siswa dalam satu kelompok yang dilakukan secara acak. Kemudian setiap kelompok diberi tugas dan harus diselesaikan secara bersama, dengan tujuan agar siswa mampu berinteraksi dengan siswa lainnya untuk Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 memecahkan suatu masalah melalui interaksi sosial dengan siswa lain yang mengutamakan kerjasama antar siswa agar tercipta suatu tujuan dari pembelajaran. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti di SMP N 3 Tarutung, banyak siswa yang menggunakan bahasa yang kasar, siswa sering menggunakan bahasa yang kasar di sekolah. Menggunakan bahasa yang kasar mencerminkan kurangnya kesopanan dan penghargaan terhadap sesama, yang menimbulkan konflik dan mempengaruhi hubungan antar siswa. Dapat disimpulkan pada latar belakang yang telah dipaparkan ini bahwa, di dalam berinteraksi sosial di lingkungan masyarakat maupun di lingkungan sekolah perlunya menerapkan maksimmaksim kesantunan berbahasa. Maka, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuImplementasi Prinsip Kesantunan Berbahasa pada Kegiatan Kerja Kelompok dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas VII SMP N 3 TarutungAy. Rumusan masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. Bagaimana implementasi kesantunan berbahasa pada kegiatan kerja kelompok siswa kelas VII SMP N 3 Tarutung? . Bagaimana bentukbentuk pelanggaran dan pematuhan maksim-maksim kesantunan berbahasa pada kegiatan kerja kelompok siswa kelas VII SMP N 3 Tarutung? . Bagaimana faktor-faktor penyebab pelanggaran maksim pada saat melakukan kegiatan kerja kelompok siswa kelas VII SMP N 3 Tarutung? METODE PENELITIAN Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Semi . dalam (Sitti Aisyah et al. , 2. menjelaskan bahwa deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang tidak mengadakan perhitungan dengan angka-angka, melainkan kedalaman penghayatan terhadap interjeksi antar konsep yang sedang dikaji secara empiris. Bogdan dan Taylor (Winata, 2. mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Data penelitian yang digunakan adalah tindak tutur dalam kegiatan kerja kelompok yang mengandung prinsip kesantunan berbahasa yang dilakukan oleh siswa kelas VII di dalam kelas pada saat pembelajaran Bahasa Indonesia. Data tersebut akan dianalisis dengan metode kualitatif untuk mendapatkan data dari fenomena yang diteliti. Arikunto (Dia & Rosydah, 2. berpendapat bahwa sumber data adalah subjek dari mana tempat data diperoleh. Berdasarkan pendapat tersebut, sumber data berarti dari mana data itu diperoleh. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII A dan VII B SMP N 3 Tarutung, sehingga dapat menghasilkan sebuah data yang sesuai dengan fokus penelitian tentang kesantunan berbahasa siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Menurut Sudaryanto (Muhamad Zaim, 2. menyatakan bahwa pengumpulan data kebahasaan dapat dilakukan dengan berbagai metode dan teknik pengumpulan data. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simak bebas libat cakap, teknik observasi, kemudian teknik catat, teknik rekam, dan teknik dokumentasi. Miles dan Hubermen dalam (Anggraeni, 2. mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan. Pengumpulan Data Dalam penelitian kualitatif merupakan proses mengumpulkan informasi yang mendalam dan kontekstual, dalam hal ini peneliti merupakan kunci dalam mengumpulkan data. Peneliti melakukan pengamatan secara umum terhadap objek yang diteliti. Reduksi Data Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Setelah peneliti memperoleh data dari lapangan berupakan kalimat /tuturan kesantunan berbahasa antara siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia, selanjutnya peneliti mereduksi Reduksi data berarti mengurangi data atau menyederhanakan data yang terkumpul. Reduksi dilakukan dengan memilih dan memilah hal-hal pokok dan menfokuskan pada hal-hal yang penting. Hal yang peneliti lakukan untuk mereduksi data yaitu dengan cara: Mentranskrip hasil rekaman Mengelompokkan data sesuai dengan tuturan maksim-maksim yang diperlukan. Tabel 1. Pengelompokan data sesuai dengan tuturan maksim-maksim. No. Pelanggaran Maksim Ucapan/Tuturan Makna/Penjelasan Kesantunan Maksim Kebijaksanaan Maksim Kedermawanan Maksim Penghargaan Maksim Kesederhanaan Maksim Pemufakatan Maksim Simpati Penyajian Data Penyajian data dipilih berdasarkan kompleksitas data dan tujuan analisis data untuk memastikan bahwa temuan dapat dipahami dengan jelas serta untuk mempermudah peneliti dalam melihat gambaran keseluruhan atau bagian tertentu dari penelitian. Menyimpulkan Langkah selanjutnya dari suatu penelitian adalah membuat kesimpulan. Pada bagian ini akan menghasilkan gambaran bagaimana kesantunan berbahasa siswa pada kegiatan kerja kelompok dalam pembelajaran Bahasa Indonesia siswa SMP N 3 Tarutung. Setelah itu penelitian ini menggunkan triangulasi data adalah suatu teknik pemeriksaan validitas dari suatu data yang memamfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu dengan tujuan membandingkan ataupun sebagai pengecekan terhadap data tersebut. Meleong (Pritandhari, 2. triangulasi sebagai teknik pemeriksaan data dibedakan menjadi 4 jenis yaitu, triangulasi sumber, triangulasi metode, triangulasi peneliti, dan triangulasi teori. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelanggaran maksim prinsip kesantunan yang paling dominan yaitu pada maksim kebijaksanaan, karena siswa lebih cenderung spontan dan kurang peka terhadap perasaan orang Siswa secara tidak sadar melakukan hal tersebut demi mencapai tujuan pribadi. Hal ini cenderung membuat pelanggaran terhadap maksim kebijaksanaan lebih sering tejadi dalam kegiatan kerja kelompok. Deskripsi pelanggaran maksim kesantunan berbahasa dijabarkan berdasarkan maksim-maksim yang sudah terdapat dalam teori. Kesantunan Maksim kebijaksanaan Maksim kebijaksanaan merupakan prinsip yang menekankan pentingnya bertindak dengan bijaksana dan penuh pertimbangan dalam berinteraksi. Melibatkan kemampauan untuk menyampaikan pendapat atau kritik dengan cara yang halus dan sopan, dan mempertimbangkan perasaan orang lain. Apabila menerapkan maksim kebijaksanaan dalam bertutur, maka dapat menghilangkan sikap dengki, iri hati, dan sikap sikap lain yang kurang santun terhadap mitra tutur (Ariantidewi et al. , 2. Data 1 Paima jo, annon majo i. unggu dulu, nantilah dulu it. Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Penjelasan: Tuturan tersebut merupakan bahasa Batak yang berarti Autunggu dulu, nantilah dulu ituAy yang bermakna meminta agas siswa menunggu dan menunda sebelum mengerjakan tugas. Siswa menggunakan nada yang kasar. Dalam hal ini, bahwa siswa merasa terganggu. Tuturan ini melanggar maksim kebijaksanaan. Maksim kebijaksanaan menekankan untuk tidak membuat lawan bicara merasa terbebani atau dirugikan. Dalam hal ini jelas melanggar maksim Data 2 Tunggulah ah, kau pikir kami robot! Penjelasan: Tuturan tersebut mengandung makna bahwa penutur merasa tidak dihargai atau diperlakukan secara tidak manusiawi karena ada harapan bahwa mereka bisa bekerja seperti robot yang bekerja terus-menerus tanpa henti. Ungkapan ini menunjukkan ketidaknyamanan atau kejengkelan kerena tuntutan atau ekspetasi yang berlebihan dari lawan bicara. Tuturan tersebut melanggar maksim kebijaksanaan yang mengharuskan seseorang untuk meminimalkan keuntungan sendiri dan memaksimalkan keuntungan orang lain. Dalam konteks ini, penggunaan tuturan tersebut tidak memperhatikan perasaan atau kebutuhan lawan bicara, sehingga kurang bijaksana. Data 3 AuPanjang kali ahAy Penjelasan: Tuturan tersebut merupakan ungkapan ketidakpuasan atau keluhan terhadap jumlah soal yang dianggap terlalu banyak yang menunjukkan bahwa siswa merasa terbebani dan secara tidak langsung berharap agar soal-soal dikurangi. Dalam konteks prinsip kesantunan berbahasa, tuturan ini termasuk dalam maksim kebijaksanaan. Prinsip ini menekankan agar penutur meminimalkan keuntungan untuk dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan untuk orang Dalam hal ini, menunjukkan ketidaksenangannya dengan jumlah soal yang diberikan guru yang bisa dianggap upaya untuk mengurangi beban diri sendiri. Data 4 AuAda penyakitmu?Ay Penjelasan: Tuturan tersebut menunjukkan seorang siswa menanyakan kepada temannya apakah dia memiliki penyakit atau masalah kesehatan. Tuturan ini bisa dianggap kurang sopan karena mengandung nada yang biasa saja namun bermakna kasar, berpotensi menyinggung dan tidak memperhatikan perasaan orang lain. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan ini termasuk dalam maksim kebijaksanaan karena maksim ini menekankan pentingnya mengurangi kerugian orang lain dan meningkatkan keuntungan mereka. Tuturan tersebut tidak sesuai dengan maksim kebijaksanaan karena dapat menimbulkan ketidaknyamanan atau rasa tersinggung pada temannya. Data 5 AuAnjaiAy Penjelasan: Kata AuanjaiAy merupakan variasi slang yang berasal dari kata AuanjingAy yang merupakan kata kasar dalam bahasa Indonesia. Kata ini sering digunakan dalam bahasa gaul atau sehari-hari di kalangan anak muda, biasanya untuk mengekspresikan kekaguman, keterkejutan atau emosi lainnya. Meskipun tujuannya tidak menghina, kata ini tetap dianggap tidak sopan dalam konteks formal. Dalam konteks kesantunan berbahasa, kalimat ini termasuk dalam maksim kebijaksanaan yang mengajarkan untuk menghindari tindakan atau ucapan yang bisa merugikan atau menyinggung orang lain dan kurang menghormati perasaan orang lain. Data 6 AyHehh memalukan, itu nomor 2 woi salah kau!Ay Penjelasan: Tuturan tersebut mengandung makna yang mengungkapkan rasa malu yang cenderung disampaikan dengan nada yang mengejek dan menyatakan penegasan tentang sesuatu yang seharusya Aunomor 2Ay disampaikan dengan nada kasar untuk mengoreksi Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 kemudian langsung menuduh temannya dan menyalahkannya dengan menggunakan pendekatan yang halus. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan ini termasuk pelanggaran dari maksim kebijaksanaan. Kalimat ini tidak mempertimbangkan perasaan lawan bicara dan tidak mengurangi dampak negatif dari koreksi yang diberikan, dengan menghindari ketidaksopanan, justru memalukan dan menghakimi. Data 7 AyCepat, jangan ngomong terus!Ay Penjelasan: Tuturan tersebut menunjukkan adanya ekspresi perintah yang langsung cenderung tidak sopan dengan makna permintaan agar siswa segera melakukan sesuatu dan berhenti Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan ini termasuk dalam pelanggaran maksim Dalam hal ini, penutur memberikan arahan untuk segera bertindak dengan cara yang kasar dan tidak mempertimbangkan perasaan. Data 8 AuAllang ma te iAy Penjelasan: Tuturan tersebut merupakan bahasa Batak yang berarti Aumakanlah tai ituAy adalah ungkapan yang sangat kasar dan tidak sopan. Makna tuturan tersebut adalah perintah yang menghina, dimana siswa menyuruh untuk melakukan sesuatu yang bisa dikatakan menjijikkan dan tidak layak dilakukan. Tuturan ini mencerminkan kemarahan, kebencian atau usaha untuk Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan ini termasuk dalam pelanggaran maksim kebijaksanaan, karena jelas merugikan dan tidak mempertimbangkan perasaan orang Data 9 AuDiam udah kubilang, diam kau!Ay Penjelasan: Tuturan dalam kalimat tersebut merupakan ungkapan yang mengandung nada perintah yang tegas dan kasar, yang diucapkan dalam situasi yang emosional. Tuturan ini bermakna untuk menjukkan kalimat perintah untuk diam dengan nada yang memaksa. Pengucapan tuturan ini cenderung mengabaikan perasaan orang lain. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut termasuk dalam pelanggaran maksim kebijaksanaan yang meminimalkan keuntungan orang lain, dan tidak memperhatikan perasaan atau kenyamanan lawan bicara. Data 10 AuIhh jijiknya. Ay Penjelasan: Tuturan tersebut mengandung ekspresi perasaan yang kurang suka atau jijik terhadap seorang siswa yang cenderung dapat menyinggung atau merendahkan seseorang. Tuturan tersebut bermakna menyampaikan ketidaksukaan atau ketidaknyamanan kepada Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut termasuk dalam pelanggaran maksim kebijaksanaan yang tidak mempertimbangkan perasaan orang lain yang mungkin tersinggung atau seperti direndahkan. Data 11 Bisa diam gak? Penjelasan: Tuturan tersebut merupakan ungkapan yang cukup kasar. Maknanya adalah permintaan untuk seorang siswa agar berhenti berbicara atau menjadi lebih tenang. Kalimat ini menggunakan gaya bahasa yang informal dan bisa dianggap tidak sopan dalam berbagai situasi. Dalam konteks prinsip kesantunan berbahasa, tuturan ini termasuk dalam pelanggaran maksim kebijaksanaan karena tuturan tersebut tidak mempertimbangkan perasaan orang lain karena menggunakan nada yang keras sehingga membuat lawan bicara tidak nyaman. Maksim kedermawanan Pelanggaran terhadap maksim kedermawanan terjadi ketika seseorang tidak mempertimbangkan perasaan atau kepentingan orang lain. Rahardi (Ariantidewi et al. , 2. Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 menyatakan bahwa kaidah kesantunan berbahasa pada maksim kedermawanan adalah peserta pertuturan seyogyanya menghormati orang lain. Maksim Kedermawanan merupakan salah satu prinsip kesantunan berbahasa yang menekankan pentingnya mengutamakan kepentingan orang lain dalam komunikasi. Data 12 Mati kau! Penjelasan: Tuturan tersebut merupakan ungkapan yang berarti Aukau matiAy dan sering kali digunakan dalam konteks yang sangat kasar atau menyinggung. Tuturan ini termasuk dalam bahasa yang tidak sopan karena mengungkapkan seseorang untuk mati. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan ini termasuk dalam pelanggaran maksim kedermawanan yang melibatkan perhatian terhadap kepentingan dan perasaan orang lain. Tuturan tersebut tidak menunjukkan kepedulian atau kedermawanan terhadap perasaan orang orang lain. Data 13 AyNgerti gak! Salah ituAy Penjelasan: Tuturan tersebut mengandung makna teguran yang tegas. Siswa merasa bahwa temannya tidak memahami atau melakukan sesuatu dengan salah, sehingga berusaha untuk mengoreksi atau menunjukkan kesalahan tersebut. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan ini termasuk dalam pelanggaran maksim kedemawanan, karena tuturan tersebut tidak mencerminkan pemberian penghargaan atau kemurahan hati, melainkan lebih menegur secara langsung dan kasar. Data 14 AuAwas dulu, kau coreti semua bukukuAy. Kerjakan cepat! Penjelasan: Tuturan tersebut mencerminkan komunikasi yang kurang sopan, yang menunjukkan perintah yang disampaikan dengan nada yang kurang ramah. Dalam prinsip kesantunan berbahasa, tuturan tersebut termasuk dalam pelanggaran maksim kedermawanan yang memaksakan keinginan tanpa mempertimbangkan perasaan atau kepentingan orang lain. Data 15 AuGaada kuejek dia, ada rupanya kujelek-jelekkanAy. Gaada kan! Penjelasan: Tuturan tersebut mengungkapkan seseorang berusaha meyakinkan orang lain bahwa dia tidak pernah berbicara buruk atau menghina seseorang. Dalam tuturan tersebut, ada kesan bahwa orang yang berbicara ingin menegaskan dan berusaha membela dirinya dengan menyatakan bahwa tuduhan tersebut tidak benar dan ia tidak melakukan sesuatu yang negatif yang mengolok-olok atau menghina, meskipun orang lain meragukannya. Dalam konteks prinsip kesantunan berbahasa, tuturan ini termasuk dalam pelanggaran maksim kedermawanan karena, berusaha meminimalkan ketidaknyamanan atau kerugian bagi dirinya sendiri dengan menyangkal tuduhan bahwa ia iri dengan orang lain. Maksim Penghargaan Menurut Rahardi (Ariantidewi et al. , 2. menyatakan bahwa maksim penghargaan berarti berusaha memberikan penghargaan kepada pihak lain. Prinsip ini bertujuan untuk meningkatkan rasa percaya diri dan memperkuat hubungan sosial dengan menunjukkan apresiasi terhadap kemampuan, prestasi, atau pendapat orang lain. Pelanggaran maksim penghargaan dalam komunikasi terjadi ketika seseorang tidak mematuhi prinsip kesantunan berbahasa, terutama dalam upaya menghargai orang lain dan meminimalkan kritik. Data 16 AuJelek kali mukaknya. Dia jelek ini cantik. Ay Penjelasan: Tuturan tersebut merupakan kalimat yang tidak mematuhi prinsip kesantunan berbahasa, khususnya dalam hal menjaga perasaan orang lain. Tuturan ini mengandung makna yang merendahkan atau menghina seseorang dengan mengatakan bahwa seseorang yang berwajah jelek dibandingkan dengan orang lain yang dianggap lebih cantik. Dalam konteks Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 prinsip kesantunan berbahasa, tuturan ini melanggar maksim penghargaan yang menekankan untuk memberikan pujian bersifat menghargai. Dalam komunikasi santun, seseorang seharusnya menghindari komentar yang dapat melukai perasaan orang lain atau merendahkan Data 17 AuKenapa dia tidak mau menjawab? ya karena dia bodoh. Ay Penjelasan: Tuturan tersebut mengandung makna yang merendahkan atau menghina seseorang dengan menganggapnya tidak pintar . Tuturan ini menunjukkan sikap yang tidak menghargai atau meremehkan kemampuan orang lain. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan ini termasuk pelanggaran maksim penghargaan. Prinsip ini mengharuskan seseorang untuk meminimalkan kritik dan memaksimalkan pujian terhadap orang lain. Tuturan ini tidak memberikan penghargaan dan malah mengkritik secara kasar. Data 18 Bencong! Kata AubencongAy merupakan istilah slang dalam bahasa Indonesia yang memiliki arti yang negative dan sering digunakan sebagai ejekan atau penghinaan , khususnya terhadap laki-laki yang dianggap memiliki perilaku atau penampilan seperti perempuan. Hal ini dapat menyakitkan dan merendahkan. Dalam konteks kesantunan berbahasa, kata ini termasuk dalam pelanggaran maksim penghargaan. Maksim ini menekankan untuk meminimalkan kritik terhadap orang lain dan memaksimalkan pujian. Kata AubencongAy adalah bentuk kritik atau penghinaan yang termasuk dalam tidak menghargai seseorang yang sangat bertentangan dengan maksim ini. Data 19 Ee bodoh! Penjelasan: Tuturan tersebut dapat diartikan sebagai bentuk ejekan atau penghinaan yang diberikan kepada seseorang yang berarti kurang pintar atau tidak mampu dalam melakukan Tuturan tersebut merupakan ungkapan yang kasar dan cenderung menghina, sering digunakan untuk menyebut seseorang dengan arti yang negatif. Tuturan ini bisa diucapkan dengan spontan yang muncul tetapi tetap tergolong tidak sopan. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut termasuk dalam pelanggaran maksim penghargaan yang jelas memberikan kritik secara langsung dan kasar sehingga melanggar maksism penghargaan. Data 20 Apakah kalian lesby? Penjelasan: Tuturan tersebut memiliki makna yang berpotensi menyinggung dan kurang sopan terutama dalam proses pembelajaran. Tuturan tersebut dapat dianggap sebagai bentuk pertanyaan yang menyinggung seseorang yang bisa bersifat menghakimi dan merendahkan. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut termasuk dalam pelanggaran maksim penghargaan karena mengandung potensi penghinaan atau merendahkan orang lain. Tidak ada pujian yang disampaikan, tetapi pertanyaan yang cenderung bisa menimbulkan rasa tidak Maksim Kesederhanaan Menurut Rahardi (Ariantidewi et al. , 2. menyatakan bahwa maksim kesederhaan menuntut peserta tutur untuk bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap diri Kesederhanaan dan kerendahan hati dalam masyarakat bahasa dan budaya Indonesia banyak digunakan sebagai parameter penilaian kesantunan seseorang. Dengan demikian, maksim ini berfungsi untuk menjaga kesopanan dan keharmonisan dalam interaksi sosial. Penggunaan maksim kesederhanaan bertujuan untuk meminimalkan pujian terhadap diri sendiri dan mengutamakan sikap rendah hati serta kritikan terhadap diri sendiri. Namun, pada beberapa tuturan berikut, terjadi pelanggaran terhadap maksim kesederhanaan. Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Data 21 Okelah, awas kalo salah. Kalo salah kita doltoki! Penjelasan: Tuturan tersebut memiliki makna yang cukup keras dan mengandung ancaman. Hal ini mengindikasikan bahwa jika siswa melakukan kesalahan, dia akan dihukum secara fisik, yaitu dengan didoltoki. Kata didoltoki merupakan kata dari bahasa Batak Toba yang berarti memukul kepala. Tuturan tersebut tidak memenuhi prinsip maksim kesederhanaan yang mengharuskan siswa untuk menghormati orang lain tidak merendahkan orang lain atau mengancam lawan bicara. Data 22 Kau udah salah ngelotot lagi! Penjelasan: Tuturan tersebut menunjukkan bahwa seorang siswa sedang menunjukkan atau mengkritik cara siswa dalam menatap atau melihat sesuatu dan adanya ketidakpuasan dan mungkin kekesalan terhadap tindakan siswa tersebut dengan cara yang dianggap tidak tepat atau salah. Dalam konteks prinsip kesantunan berbahasa, tuturan ini termasuk dalam maksim kesederhanaan, dimana siswa mengkritik atau menyalahkan perilaku orang lain tanpa memperhatikan perasaan atau status sosial mereka. Maksim Pemufakatan Maksim pemufakatan dalam prinsip kesantunan berbahasa berusaha untuk memaksimalkan kesepakatan dan meminimalkan ketidaksepakatan dalam komunikasi. Pelanggaran terhadap maksim ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan, konflik, atau perasaan tidak nyaman bagi pihak yang terlibat. Menurut Rahardi (Ariantidewi et al. , 2. mengemukakan bahwa. AuDalam maksim ini, ditekankan agar para peserta tutur dapat saling membina kecocokan atau kemufakatan di dalam kegiatan bertutur,Ay Apabila terdapat kemufakatan atau kecocokan antara diri penutur dan mitra tutur dalam kegiatan bertutur, masing-masing dari mereka akan dapat dikatakan bersikap santun. Data 23 AuIbu. Ibu woi woi!Ay Penjelasan: Tuturan tersebut merupakan ungkapan seorang siswa yang hendak memanggil Ibu Dengan cara penyampaian kalimat menggunakan kata AuwoiAy yang merupakan kata yang dianggap kurang sopan dan kasar apalagi siswa tersebut memanggil gurunya dan kurang memperhatikan kesopanan. Tuturan ini termasuk dalam maksim pemufakatan karena mengurangi ketidaksepakatan dan memaksimalkan kesepakatan di antara siswa dan guru. Kalimat ini menimbulkan ketidaknyamanan terhadap guru karena cara memanggilnya yang tidak sopan. Data 24 AuBapakmu lahAy Penjelasan: Tuturan tersebut memiliki makna menyinggung. Kata tersebut bisa diartikan sebagai bentuk ekspresi kemarahan, ejekan, atau penghinaan terhadap orang tua. Sehingga menyebabkan konflik dan perasaan yang tidak nyaman. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut termasuk dalam pelanggaran maksim pemufakatan, karena menimbulkan ketidaksepakatan karena mengandung unsur kejengkelan dan tidak sopan. Maksim Simpati Pelanggaran terhadap maksim simpati terjadi ketika seseorang menggunakan bahasa yang kasar atau tidak sopan. Rahardi (Ariantidewi et al. , 2. menyatakan bahwa maksim kesimpatian menuntut para peserta tutur memaksimalkan sikap simpati antara pihak yang satu dengan pihak lain. Sikap antipati terhadap seseorang pada kegiatan bertutur dianggap sebagai tindakan tidak santun. Masyarakat tutur Indonesia sangat menjunjung tinggi rasa kesimpatian terhadap orang lain, terutama bersikap sinis dianggap sebagai orang yang tidak santun. Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Data 25 Mampuslah! Kata AumampuslahAy adalah ungkapan yang kasar yang bermakna negatif, yang seringkali digunakan untuk mengungkapkan kemarahan, kejengkelan atau kebencian terhadap seorang Kata tersebut dalam bahasa Indonesia merupakan kata yang tidak sopan, yang merujuk pada kematian dengan cara yang tidak hormat. Dalam konteks kesantunan berbahasa, kata ini termasuk pelanggaran dari maksim simpati. Maksim simpati mengharuskan untuk menunjukkan simpati atau empati terhadap siswa. Kalimat AumampuslahAy menunjukkan kebencian atau antipati yang melanggar maksim ini. Data 26 Makanya jangan lelet! Penjelasan: Tuturan tersebut memiliki arti bahwa seorang siswa diingatkan untuk tidak lambat dalam mengerjakan tugasnya. Tuturan ini dikategorikan sebagai bentuk kritikan yang langsung dan dianggap kurang sopan. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan ini termasuk dalam pelanggaran maksim simpati. Dalam tuturan tersebut bisa melukai perasaan orang lain jika disampaikan tanpa pertimbangan, karena cenderung bersifat kritis atau bahkan merendahkan. Data 27 AuHayo, mati kau!Ay Penjelasan: Tuturan tersebut merupakan ungkapan yang bersifat mengejek dan candaan secara kasar yang dapat menyinggung perasaan orang lain. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan ini termasuk dalam pelanggaran maksim simpati. Karena tidak mengekspresikan rasa simpati atau dukungan terhadap orang lain. Data 28 Tunggu dulu, ini lama kali. Main-main aja dia. Penjelasan: Tuturan tersebut mencerminkan ketidaksabaran atau ketidakpuasan terhadap teman atau sesuatu yang dianggap lambat atau tidak serius mengerjakan tugas. kalimat ini menunjukkan sikap tidak sabar dan sedikit kritik terhadap siswa. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut termasuk dalam pelanggaran maksim simpati yang tidak memenuhi karena cenderung tidak menunjukkan simpati atau pengertian terhadap kesulitan atau kondisi Pematuhan Pematuhan maksim prinsip kesantunan yang paling dominan yaitu muncul pada maksim Data hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pematuhan maksim kebijaksanaan terjadi pada saat percakapan berlangsung. hal ini karena prinsip kebijaksanaan sangat relevan terhadap tahap perkembangan siswa. Dengan menerapkan masikm kebijaksanaan, siswa dapat belajar untuk berkomunikasi secara efektif, membangun hubungan yang baik dan menyelesaikan masalah secara bersama. Deskripsi pematuhan maksim kesantunan berbahasa dijabarkan berdasarkan maksim-maksim yang sudah terdapat dalam teori. Maksim Kebijaksanaan Data 1 Cuman sampai sepuluh nya, bu? Penjelasan: Tuturan tersebut mengandung makna bahwa siswa sedang memastikan batas soal yang harus dikerjakan. Dalam konteks kesantunan berbahasa tuturan tersebut termasuk dalam pematuhan maksim kebijaksanaan, karena siswa tersebut menggunakan bentuk pertanyaan yang sopan untuk memastikan tanpa terkesan menuntut atau memaksa yang menjaga kesopanan dalam interaksi siswa dan guru. Data 2 Gak boleh cakap kotor! Penjelasan: Kondisi tuturan tersebut terjadi agar lebih sopan dalam berbicara. Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Tuturan tersebut mengandung makna bahwa, siswa memberikan peringatan atau nasihat kepada siswa lain untuk tidak menggunakan kata-kata kasar dan tidak sopan. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut termasuk dalam pematuhan maksim kebijaksanaan, karena siswa menasihati siswa lain untuk tidak berbicara kasar yang merupakan upaya untuk menjaga perasaan orang. Data 3 Membantu seharusnya huruf kecil. Penjelasan: Kondisi tuturan tersebut terjadi dalam menyampaikan pendapat Tuturan tersebut mengandung makna koreksi atau pembenaran terhadap penggunaan huruf. Hal ini merupakan tuturan siswa yang sedang mengoreksi tugas bersama. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut termasuk dalam pematuhan maksim kebijaksanaan, karena siswa berusaha memberikan saran atau koreksi yang bertujuan agar siswa lain tidak merasa tersinggung tanpa memerintah atau menyalahkan dan berusaha untuk menjaga perasaan. Data 4 Berarti benarnya nomor 3, salah nomor 2. Penjelasan: Tuturan tersebut mengandung makna yang merupakan bagian dari penegasan dalam diskusi kelompok, dimana siswa memastikan jawaban yang benar setelah mendiskusikan dengan anggota lain. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut termasuk dalam pematuhan maksim kebijaksanaan, karena siswa menyampaikan koreksi dengan cara yang netral tanpa menyalahkan orang lain secara tegas, sehingga dapat dianggap sebagi upaya untuk menjaga perasaan anggota kelompok. Data 5 Bukan calung, seharusnya Calung. C-nya huruf besar. Penjelasan: Tuturan tersebut merupakan termasuk pematuhan maksim kebijaksanaan, karena siswa memberikan koreksi yang tetap menjaga kesantunan dengan menggunakan kata AuseharusnyaAy untuk menyampaikan koreksi sehingga tidak terdengar kasar atau merendahkan. Data 6 Aku nomor 1 nanti ya. Malvin nomor 2. Aurel nomor 3. Penjelasan: Tuturan tersebut mengandung makna seorang siswa sedang membagikan bagian untuk tugas yang nantinya akan mereka presentasikan. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut termasuk dalam pematuhan maksim kebijaksanaan karena menjaga hubungan baik dengan teman sekelompoknya. Maksim Kedermawanan Data 7 Aku mengerjakan nomor 6 yah! Penjelasan: Tuturan tersebut mengandung makna bahwa siswa secara sukarela mengambil tanggung jawab untuk mengerjakan soal nomor 6. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut termasuk dalam pematuhan maksim kedermawanan. Karena siswa menawarkan diri dalam mengerjakan soal nomor 6, siswa menunjukkan kemurahan hati dengan mengambil sebagian beban tugas kelompok, yang dapat dilihat sebagai tindakan yang mempertimbangkan anggota lainnya. Data 8 Nomor 8 salah, unesco nya huruf besar semua! Penjelasan: Tuturan tersebut mengandung makna mengoreksi, seorang siswa memberitahu temannya bahwa ada kesalahan pada soal nomor 8. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut merupakan pematuhan dari maksim kedermawanan, karena siswa yang mengoreksi berusaha memberikan masukan yang bermanfaat, dengan tidak menekankan kesalahan tetapi lebih memberikan informasi yang benar. Maksim ini mengharuskan seseorang untuk tidak menonjolkan kepentingan dirinya, melainkan menonjolkan. Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Data 9 Aku cari nomor 9, kau nomor 10 yah! Penjelasan: Tuturan tersebut merupakan ungkapan yang menandakan pembagian tugas dalam kerja kelompok. Adanya kerjasama yang adil antar kelompok, dimana setiap anggota mengambil bagian dalam tuguas yang diberikan. Dengan nada yang halus, siswa tersebut berusaha menjaga hubungan baik dan memastikan bahwa tugas dapat selesai dengan baik. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut merupakan pematuhan dari maksim kedermawanan, karena siswa tersebut menunjukkan sikap dermawan dan menghindari kesan mengambil keuntungan dari temannya. Maksim Penghargaan Data 10 Ayo diskusi we! Penjelasan: Tuturan tersebut mengandung makna ajakan untuk mengerjakan tugas secara bersama untuk bertukar pendapat mengenai materi. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut termasuk dalam pematuhan maksim penghargaan, karena ajakan untuk berpartisipasi aktif dalam berdiskusi. Hal ini sebagai bentuk penghargaan terhadap pendapat yang akan disampaikan oleh anggota kelompok. Data 11 Kalo yang udah benar, tetapnya dibuat alasannya bu? Penjelasan: Tuturan tersebut mengandung makna siswa sedang memastikan apakah jawaban yang sudah benar tetap perlu diberikan alasan atau penjelasan tambahan. Hal ini menunjukkan adanya kehati-hatian dan kesadaran siswa untuk memastikan bahwa tugas atau pekerjaannya sesuai dengan intruksi dari guru. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut termasuk dalam pematuhan maksim penghargaan, karena siswa berfokus pada memastikan apakah perlu adanya penjelasan lain, hal ini menunjukkan upaya untuk menjaga perasaan dan menghargai orang lain. Data 12 Nomor 7 benarnya?, menurut kalian AukabaruAy benar? Penjelasan: Tuturan tersebut menunjukkan bahwa siswa sedang ragu dan ingin memastikan jawabannya dengan cara yang sopan dan menghargai pendapat teman-temannya. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut merupakan pematuhan maksim penghargaan, karena meminta pendapat orang lain dan hal ini termasuk dalam menghargai sesama teman. Maksim Kesederhanaan Data 13 Cuman sampe 10 nya bu? Penjelasan: Tuturan tersebut mengandung makna permintaan informasi yang bersifat sopan terhadap guru. Hal ini menunjukkan adanya upaya untuk meminimalkan beban. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut termasuk dalam pematuhan maksim kesederhanaan, karena siswa tersebut tidak menunjukkan sikap bahwa dia tahu segalanya, melainkan menunjukkan kerendahan hati dengan meminta kepastian soal yang akan dikerjakan. Data 14 Lihat dulu sebentar ya! Penjelasan: Tuturan tersebut mengandung makna meminta teman sekelompoknya untuk memberikan tugasnya udah dilihat. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut termasuk dalam pematuhan maksim kesederhanan karena siswa meminta tugas temannya dengan cara yang sopan dan tidak memaksa, yang menunjukkan bahwa siswa menghargai perhatian dan partisipasi dari temannya. Maksim Pemufakatan Data 15 Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Kita tulis kalimatnya we? Penjelasan: Tuturan tersebut merupakan kesepakatan antar teman kelompok sebelum melanjutkan ke diskusi lainnya. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut termasuk dalam pematuhan maksim pemufakatan, karena melibatkan kesepakatan dalam tindakan selanjutnya. Maksim Simpati Data 16 Ini aja semua benar, itu aja kalian baca! Penjelasan: Tuturan tersebut menunjukkan siswa sedang memberikan intruksi kepada siswa lain tentang apa yang harus diperhatikan. Dalam konteks kantunan berbahasa, tuturan tersebut termasuk dalam pematuhan maksim simpati, karena memberikan arahan yang positif dan tidak merugikan satu sama lain. Data 17 Saya ingin memberikan masukan kepada kelompok 2, masukan saya ialah agar saat mempresentasikan tugas kelompok agar suaranya dikuatkan agar semua kelompok lain atau pendengar dapat mendengarnya lebih jelas. Penjelasan: Tuturan tersebut mengindikasikan bahwa siswa tersebut memberi saran agar suaranya lebih diperjelas lagi dengan tujuan agar seluruh kelompok lain dapat mendengar dengan jelas. Dalam konteks kesantunan berbahasa, tuturan tersebut termasuk dalam pematuhan maksim simpati, karena siswa berusaha untuk menunjukkan simpati dengan memberikan saran yang membangun, yang bertujuan untuk membantu kelompok 2 agar presentasinya lebih efektif. Pelanggaran maksim kesantunan berbahasa pada siswa dipengaruhi oleh berbagai Berikut beberapa faktor yang menyebabkan pelanggaran maksim kesantunan berbahasa yaitu, faktor internal siswa, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan ingkungan Masyarakat. (Mislikhah, 2. Pelanggaran maksim kesantunan dalam berbahasa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: Kritik langsung dengan kata-kata kasar, dorongan emosi, protektif terhadap pendapat, menuduh lawan bicara dan memojokkan lawan bicara. KESIMPULAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang dilakukan di kelas VII A dan VII B, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:. Implementasi kesantunan berbahasa dalam kegiatan kerja kelompok yaitu memberikan materi, pembagian kelompok, pengerjaan tugas dan presentasi di depan kelas, dengan menggunakan berbagai strategi yang Selama pembelajaran berlangsung, siswa diberi kebebasan untuk berdiskusi dan Hasil pengamatan menunjukkan adanya penerapan maksim kesantunan seperti menghargai pendapat orang lain, namun juga ditemukan pelanggaran seperti tidak menghargai pendapat teman. Penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan kerja kelompok dapat menjadi sarana yang efektif untuk melatih siswa dalam menerapkan maksim kesantunan berbahasa. Namun, masih diperlukan bimbingan yang lebih intensif dari guru dan juga orang tua agar siswa dipastikan dapat menerapkan prinsip-prinsip kesantunan dalam berkomunikasi. Bentuk pelanggaran maksim yang paling dominan dilakukan yaitu maksim kebijaksanaan. Dan pematuhan maksim yang paling dominan yaitu maksim kebijaksanaan. Berikut adalah jumlah hasil tuturan maksim kesantunan berbahasa pada kegiatan kerja kelompok siswa yaitu pelanggaran maksim terdiri dari maksim kebijaksanaan 11 tuturan, maksim kedermawanan 4 tuturan, maksim kesederhanaan 2 tuturan, maksim penghargaan 5 tuturan, maksim pemufakatan 2 tuturan dan maksim simpati 4 tuturan. Kemudian pada pematuhan maksim terdiri dari maksim kebijaksanaan 6 tuturan, maksim kedermawanan 3 tuturan, maksim penghargaan 3 tuturan. Copyright . 2024 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 Agustus-Oktober 2024 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 maksim kesederhanaan 2 tuturan, maksim pemufakatan 1 tuturan dan maksim simpati 2 tuturan. Faktor pelanggaran maksim dapat berdampak baik dan buruk terhadap siswa. Dalam penelitian ini, ditemukan beberapa faktor pelanggaran maksim yaitu faktor internal siswa, lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku berbahasa siswa. Namun dengan implementasi dan penerapan yang di lakukan oleh guru dan di terapkan oleh siswa dapat menjadikan pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia baik saat kesantunan berbahasa diterapkan. DAFTAR PUSTAKA