Available at: https://stt-su. id/e-journal/index. php/immanuel/index Volume 7. No 1. April 2026 . DOI: https://doi. org/10. 46305/im. e-ISSN 2721-432X p-ISSN 2721-6020 Pembelajaran Kontekstual dalam Pendidikan Teologi: Upaya Memperkuat Relevansi dan Aplikasi Iman di Era Modern John Mussa Renhoard Sekolah Tinggi Teologi Presbyterian Shema johnrenhoard@gmail. Abstract: This study aims to analyze the integration of Contextual Teaching and Learning (CTL) in theological education and its implications for the application of faith. This study employed a qualitative approach with a conceptual library research approach. Data were obtained from relevant books and scientific journal articles and analyzed using content analysis techniques and a thematic approach. The results indicate that CTL has significant relevance in bridging the gap between theological understanding and the practice of faith, and is structurally aligned with the principles of contextual theology. The findings also revealed that the integration of CTL and contextual theology produces a learning model that connects theological texts and reflections on faith with the context of life. Therefore. CTL functions not only as a learning strategy but also as a pedagogical framework for developing contextual, reflective, and applicable theological education. In addition, the implementation of CTL encourages students to actively engage in critical reflection on social and spiritual realities within their communities. Furthermore, this approach contributes to the formation of holistic theological learning that is transformative, participatory, and relevant to contemporary challenges faced by faith Keywords: Contextual teaching and learning. theological education. contextual theology. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi pembelajaran kontekstual dalam pendidikan teologi serta implikasinya terhadap aplikasi iman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan yang bersifat analisis konseptual. Data diperoleh dari buku dan artikel jurnal ilmiah yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi dan pendekatan tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual memiliki relevansi yang signifikan dalam menjembatani kesenjangan antara pemahaman teologis dan praktik iman, serta memiliki kesesuaian struktural dengan prinsip teologi kontekstual. Temuan dari penelitian ini juga menemukan bahwa integrasi pembelajaran kontekstual dan teologi kontekstual menghasilkan model pembelajaran yang dapat menghubungkan teks teologi, refleksi iman dengan konteks kehidupan. Oleh karena itu, pembelajaran kontekstual tidak hanya berfungsi sebagai strategi pembelajaran, tetapi juga sebagai kerangka pedagogis dalam pengembangan pendidikan teologi yang kontekstual, reflektif serta aplikatif. Selain itu, penerapan pembelajaran kontekstual mendorong peserta didik untuk secara aktif terlibat dalam refleksi kritis terhadap realitas sosial dan spiritual di dalam komunitas mereka. Lebih lanjut, pendekatan ini berkontribusi terhadap terbentuknya pembelajaran teologi yang holistik, transformatif, partisipatif, serta relevan dengan tantangan kontemporer yang dihadapi oleh komunitas iman. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 52 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 Kata kunci: Pembelajaran kontekstual. pendidikan teologi. teologi kontekstual. Pendahuluan Pendidikan teologi merupakan bidang akademik yang penting dalam pelayanan gereja dan masyarakat, khususnya bagi umat Kristen, karena bertujuan mempersiapkan para pemimpin dan pelayan gereja, pelayanan misi, guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) dan berbagai bentuk pelayanan lainnya. Sidjabat di dalam bukunya, mengutip pendapat Nico Syukur, menuliskan bahwa. Aoteologi harus diakui sebagai pengetahuan adikodrati yang metodis, sistematis dan koheren, berkaitan dengan pewahyuan Allah, dan dikatakan bahwa teologi merupakan refleksi AuilmiahAy tentang iman. 1 Oleh karena itu, pendidikan teologi tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan spiritualitas dan praktek iman yang hidup dalam konteks kehidupan yang nyata. Namun demikian, tantangan yang sering kali muncul adalah adanya kesenjangan antara penguasaan teori dan praktik pelayanan. Peserta belajar cenderung memahami . , mengaktualisasikannya dalam pelayanan maupun merespon perubahan sosial yang terus Dalam penelitiannya Afriani, menjelaskan bahwa belajar akan lebih bermakna jika nara didik AumengalamiAy sendiri apa dipelajarinya, bukan hanya sebatas mengetahui. Menurut Rukajat, dalam tulisannya ia menjelaskan bahwa banyak para pengajar belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai berbagai model pembelajaran sebagai strategi dalam menyampaikan materi ajar dari berbagai macam disiplin ilmu, guna membantu nara didik dalam membangun pengetahuan mereka. Akibatnya, iman yang dipelajari tidak sepenuhnya dapat diimplementasikan dalam kehidupan yang nyata dan yang kontekstual. Permasalahan tersebut tidak terlepas dari pendekatan pedagogis yang digunakan Banyak konvensional yang bersifat teacher-centered approach yang masih dominan, sehingga peserta didik kurang dilibatkan secara aktif dalam proses konstruksi pengetahuan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran yang mampu mengintegrasikan dimensi kognitif, afektif dan praksis dalam pendidikan teologi. Samuel Sidjabat. Strategi Pendidikan Kristen:Suatu Tinjauan Teologis-Filosofis, (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2. , 6. 2 Nova Ritonga. AuTeologi Sebagai Landasan Bagi Gereja Dalam Mengembangkan Pendidikan Agama Kristen,Ay Jurnal Shanan. Vol. No. 1 Maret . , 24. https://ejournal. id/index. php/shan/article/view/1766/1352 3 Andri Afriani. AuPembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learnin. Dan Pemahaman Konsep Siswa. Au Jurnal Al-MutaAoaliyah STAI Darul Kamal NW Kembang Kerang. Vol. No. 3, . 4 Ajat Rukajat. AuPembelajaran Contextual Teaching and Learning Untuk Meningkatkan Mutu Hasil Pembelajaran,Ay Al-Afkar: Journal for Islaic Studies. Vol. No. July . , 57. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 53 J. Renhoard: Pembelajaran Kontekstual dalam Pendidikan Teologi A Salah satu pendekatan yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk menghubungkan kajian teori dan aplikasi dalam hidup adalah pendekatan pembelajaran kontekstual . ontextual teaching and learning - CTL). Beberapa penelitian yang mencoba menganalisis konsep pembelajaran ini diantaranya. Muhartini dkk, menurutnya pendekatan pembelajaran kontekstual, adalah konsep belajar dan mengajar yang dapat menolong pengajar dalam menghubungkan antara materi ajar dengan konteks situasi kehidupan, dan mendorong peserta didik dapat menerapkan antara pengetahuan yang dipelajari dengan penerapannya dalam kehidupan sebagai individu, keluarga dan 5 Selain itu. Nababan menjelaskan bahwa pembelajaran kontekstual merupakan strategi dalam belajar dengan menekankan adanya keterlibatan nara didik secara penuh dalam menemukan dan memahami materi yang akan dipelajari, serta mengaitkannya dengan konteks kehidupan nyata, sehingga mereka terdorong untuk mengaplikasikan pengetahuan yang di dapat dalam kehidupan sehari-hari. 6 Hal yang sama juga yang dituliskan oleh Harefa, dkk yang menjelaskan bahwa secara umum pembelajaran yang dilakasanakan hanya fokus kepada siswa dalam memberikan pengetahuan yang teoritis, tanpa adanya strategi agar pemerolehan pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam konteks kehidupan nyata sehari-hari. Menurutnya perbedaan utama dari pembelajaran kontekstual adalah adanya hubungan setiap materi ajar dengan konteks kehidupan nyata dari para siswa. Meskipun pembelajaran kontekstual merupakan model pembelajaran yang tepat, karena dapat mengaitkan antara materi pembelajaran dengan kehidupan nyata dari peserta didik,8 namun penggunaannya dalam konteks pendidikan teologi belum banyak dikaji dan diterapkan lebih mendalam karena pendidikan teologi memiliki karakteristik yang berbeda. Dalam kaitan itu. Pazmino menjelaskan bahwa pendidikan Kristen memiliki karakteristik yang berbeda, ia menjelaskan bahwa pendidikan Kristen dapat dipahami sebagai sebuah proses ilahi, namun juga manusiawi yang dirancang secara sadar dan sistematis dalam mentransmisikan nilai-nilai iman Kristen, pengetahuan teologis, pembentukan karakter, dan keterampilan pelayanan yang berlandaskan kebenaran Alkitab. Drewes dan Mojau lebih jauh menjelaskan tentang pendidikan teologi yang didefinisikan Muhartini. Amril Mansur, & Abu Bakar. AuPembelajaran Kontekstual dan Pembelajaran Problem Based Learning,Ay Lencana: Jurnal Inovasi Ilmu Pendidikan. Vol. No. Januari . , 67. 6 Damayanti Nababan. AuPemahaman Model Pembelajaran Kontekstual Dalam Model Pembelajaran (CTL),Ay Pediaqu: Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora. Vol. No. , 826. Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora . 7 Zakharia Victor Hafera. Talizaro Tafonao. Desetina Harefa. Rini Sumanti Sapalakkai. Selvyen Sphia. AuPeran Guru Sebagai Fasilitator dan Katalisator Melalui Teori Konstruktivisme dala Model Pembelajaran Kontekstual Pendidikan Agama Kristen,Ay Kharismata: Jurnal Teologi Pantekosta. Vol. No. Januari . , 216. 8 Jumadil Hamid. Pebrian. Dusmaneli. AuPembelajaran Kontekstual: Solusi Untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan,Ay Realisasi: Ilmu Pendidikan. Seni Rupa dan Desain. Vol. No. Juli . , 4. https://doi. org/10. 62383/realisasi. 9 Robert W. Pazmino. Foundational Issues in Christian Education: An Introduction in Evangelical Perspective, (Grand Rapids. Mich: Baker Academic, 2. , 81. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 54 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 bahwa pendidikan teologi adalah studi ilmiah yang berfokus dalam pelayanan gereja di dunia dan dalam upaya memahami serta menghayati karya Allah sesuai dengan Firman Allah yang hidup. 10 Namun dalam kenyataannya, pendidikan teologi masih berfokus pada aspek kognitif yang menekankan kajian teori, sehingga dampaknya menimbulkan kesenjangan antara pemahaman yang teologis dan praksis dalam pelayanan. Sesuai dengan konteks bangsa Indonesia yang sangat beraneka ragam, kebutuhan pendidikan teologi yang aplikatif dan kontekstual sangatlah perlu. Drewes dan Mojau menuliskan bahwa faktor terpenting dalam semua bentuk studi teologi adalah kesadaran akan firman Allah tidak dapat dipelajari terlepas dari kehidupan. Menurutnya. Firman Allah itu dapat dikenal bila kita AomencobaAo berjalan sesuai dengan Firman Tuhan yang didengar dan ditaati. 11 Pendekatan pembelajaran kontekstual yang menghubungkan antara materi ajar dan konteks real kehidupan sangat relevan dalam menjembatani teks dan konteks, antara refleksi yang teologis dan praktik pelayanan. Berdasarkan uraian tersebut, terdapat kesenjangan penelitian . esearch ga. yang terletak pada belum adanya analisis integratif yang menghubungkan pembelajaran kontekstual dengan teologi kontekstual sebagai kerangka pedagogis dalam pendidikan Oleh karena itu, penelitian ini berangkat dari pertanyaan utama: Bagaimanakah integrasi pembelajaran kontekstual dengan teologi kontekstual dapat membangun pembelajaran teologi yang relevan dan aplikatif dalam kehidupan iman? Penelitian ini bertujuan untuk, pertama: menganalisis penerapan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran teologi. kedua, mengkaji integrasi antara pembelajaran kontekstual dengan prinsip teologi kontekstual dalam menjembatani kesenjangan antara pemahaman teologi dan praktik iman. ketiga, merumuskan implikasi pedagogis bagi pengembangan pembelajaran teologi yang kontekstual dan aplikatif. Kontribusi ilmiah . dari penelitian ini adalah temuan pada perumusan analisis integratif antara pembelajaran kontekstual dengan teologi kontekstual sebagai suatu kerangka pedagogis dalam pendidikan teologi. Penelitian ini tidak hanya mendeskripsikan penerapan pembelajaran kontekstual saja, tetapi juga mensintesis keterkaitan dengan prinsip teologi kontekstual, sehingga menghasilkan model pembelajaran yang menekankan keterpaduan antara teks teologis dengan konteks kehidupan. II. Metode Penelitian Dalam melakukan penelitian tentang pendekatan pembelajaran kontekstual yang diterapkan dalam pendidikan teologi maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Menurut Sugiyono, metode penelitian kualitatif digunakan dalam meneliti kondisi obyek yang alamiah. Menurutnya, peneliti adalah instrumen kunci dalam peneltian ini, sedangkan teknik pengumupulan data dilakukan secara triangulasi Drewes & Julianus Mojau. Apa itu Teologi?: Pengantar ke dalam Ilmu Teologi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 17. 11 Drewes & Mojau. Apa itu, 24. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 55 J. Renhoard: Pembelajaran Kontekstual dalam Pendidikan Teologi A . , analisis datanya menurutnya berisfat induktif/kualitatif dan hasil dari penelitian dengan metode kualitatif menekankan makna dari pada generalisasi. 12 Hal itu berarti bahwa pendekatan kualitatif menekankan pada pemahaman makna, proses dan interpretasi terhadap fenomena yang diteliti, sehingga sesuai dengan tujuan penelitian ini yang bersifat konseptual dan analisis. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis, yaitu sumber primer dan Dalam penelitian ini yang menjadi sumber-sumbernya antara lain: buku-buku utama yang membahas tentang pembelajaran kontekstual dan pendidikan teologi, serta artikel jurnal ilmiah yang relevan dengan topik penelitian. Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, dengan mengidentifikasi, mengumpulkan dan mengkaji berbagai literatur yang relevan yang sesuai dengan topik penelitian. Langkah ini dilakukan secara sistematis dengan menelusuri sumber-sumber pustaka yang berkaitan dengan konsep pembelajaran kontekstual, teori pembelajaran kontekstual serta praktik pendidikan teologi dalam konteks kontemporer. Melalui pendekatan ini, penelitian tidak hanya mendeskripsikan teori yang ada, tetapi juga menghasilkan konstruksi konseptual yang baru berupa integrasi antara pembelajaran kontekstual dengan pendidikan teologi sebagai model pembelajaran yang kontekstual dan aplikatif dalam membangun iman peserta belajar, yang dalam penelitian ini adalah mahasiswa. Hasil dan Pembahasan Pengertian Konsep Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learnin. Menurut Nugroho, pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan hasil dari penelitian dan pengembangan dari salah seorang tokoh pendidikan, yaitu John Dewey . Kesimpulan dari penelitian ini adalah nara didik dapat belajar dengan baik apabila yang dipelajarinya dikaitkan dengan yang diketahui dengan kegiatan atau peristiwa yang akan terjadi sekelilingnya. 13 Menurut Sulistio, kontekstual berarti menghubungkan atau mengaitkan dengan sesuatu hal yang lain, memungkinkan nara didik untuk belajar dengan penuh makna. Pendekatan pembelajaran kontekstual adalah model pembelajaran yang mengkaitkan antara materi pembelajaran dengan konteks kehidupan yang nyata. Hasudungan menegaskan bahwa pendekatan ini membantu pendidik dalam mengaitkan materi ajar dengan keadaan kehidupan yang nyata dari nara didik dan mendorong mereka dalam mengaitkan pengetahuan yang diperoleh dengan penerapannya dalam kehidupan mereka,15 Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2. ,9. Arif Ganda Nugroho. Model Pembelajaran Era Society 5. 0, edtr: Adirasa Hadi Prasetyo, (Cirebon: Insania, 2. , 212. 14 Andi Sulistio. Penerapan Contextual Teaching and Learning dalam Reading Comprehension, (Lombok Tengah. NTB: Yayasan Insan Cendekia Indonesia Raya, 2. , 9. 15 Anju Nofarof Hasudungan,AyPembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) Pada Masa Pandemi COVID-19:Sebuah Tinjauan,Ay Jurnal DINAMIKA. Vol. No. ,116 Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 56 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 dalam hal ini mahasiswa dalam pendidikan teologi. Menurut Sutisna dalam tulisannya menjelaskan bahwa pembelajaran yang berhubungan dengan konteks tertentu. Lebih jauh ia menjelaskan bahwa pembelajaran kontekstual adalah sistem pendidikan yang memilki tujuan menolong nara didik dalam memahami makna materi ajar yang dipelajari, dan dikaitkan dengan konteks kehidupan dalam lingkungan sosial dan budaya masyarakat mereka sendiri. 16 Hal ini juga ditegaskan oleh Nehe, dkk bahwa pembelajaran kontekstual ini merupakan suatu strategi yang berfokus pada tahapan keterlibatan nara didik secara penuh dalam mencari materi pembelajaran dan mengkaitaknya dengan konteks kehidupan yang nyata. Berkaitan dengan hubungan materi ajar. Evitasari dan Santosa dalam tulisannya menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran kontekstual adalah pendekatan yang melibatkan nara didik secara aktif dalam menemukan keterkaitan antara bahan materi ajaran dengan yang diajarkan dalam kehidupan mereka setiap hari. 18 Ia selanjutnya menjelaskan bahwa secara teknis, pendekatan pembelajaran secara kontekstual adalah pendekatan yang memungkinkan nara didik memperoleh pengalaman belajar secara langsung, mendorong keterlibatan yang aktif dalam proses pembelajaran, dan menghadirkan materi ajar yang kontekstual dengan realitas kehidupan sehari-hari, sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak terasa terpisah dari konteks kehidupan mereka. Bevans, di dalam bukunya menegaskan lebih dalam berkaitan dengan pendidikan teologi, ia menjelaskan bahwa sebuah teologi yang tidak mengarah atau tidak menuju pada tindakan dan juga tidak mengindahkan cara orang mempraktekkan kehidupan, tidak layak disebut teologi yang sejati. Berdasarkan uraian tersebut jika dikaitkan dengan pendidikan teologi maka pembelajaran kontekstual menjadi relevan, sebab pendidikan teologi tidak dapat dipisahkan dari konteks kehidupan jemaat dan konteks kehidupan sosial, budaya dan lainnya - teologi yang kontekstual. Kleden, dalam tulisannya menjelaskan bahwa teologi yang kontekstual mengupayakan makna segala teks dalam teologi yang sistematis menjadi konteks teks itu dapat di konkritkan serta menjadi sebuah pengalaman manusia dalam dirinya. 20 Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran kontekstual dapat memberikan sebuah kerangka Agus Sutisna. AuPeningkatan Literasi Politik Pemilih Pemula Melalui Pendekatan Pembelajaran Kontekstual,Ay Prosiding Seminal Nasional Pendidikan FKIP UNTIRTA . , 260. 17 Faoahonoa Zisokhi Nehe. Mesrawati Ndruru. Wiwin Cintia Dewi BuAoulolo. Irman Imawan Laia. Matius Halawa. Darmawan Harefa. Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Pada Materi Dimensi Tiga, (Sukabumi: CV Jejak Publisher, 2. , 14. 18 Okta Evitasari & Yusuf Budi Prasetya Santosa. AuRagam Metode Pembelajaran Kontekstual Untuk Pembelajaran Sejarah,Ay ESTORIA: Journal of Sciences & Humanities AuEstoriaAy Universitas Indraprasta PGRI. Vol. No. Oktober . , 401. 19 Stephen B. Bevans. Model-model Teologi Kontekstual, (Maumere: Ledalero, 2. ,60. 20 Ignas Kleden. AuIlmu-ilmu Sosial dan Teologi Kontekstual,AyJURNAL LEDALERO. Vol. No. Desember . , 195. https://ejurnal. id/index. php/JLe/article/viewFile/150/114#::text=Teologi kontekstu al meneliti sejauh mana,dalam wahyu-Nya kepada manusia. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 57 J. Renhoard: Pembelajaran Kontekstual dalam Pendidikan Teologi A pembelajaran yang dapat diintegrasikan antara refleksi teologis dan dalam kehidupan yang Komponen Utama Pembelajaran Kontekstual Menurut para ahli yang secara khusus meneliti tentang pembelajaran kontekstual terdapat tujuh komponen utama dalam pembelajaran kontekstual. Mashudi dan Azzahro, mengutip Sanjaya dalam bukunya, menguraikan ketujuh komponen tersebut, diantaranya, konstruktivisme . , menemuka . , bertaya . , masyarakat belajar . earning communit. , pemodelan . , refleksi . , dan penilaian yang sebenarnya . uthentic assessmen. 21 Menurut Sulistio, proses pembelajaran yang berlangsung dalam kelas dapat dikatakan menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual jika proses pembelajaran dalam kelas menggunakan ketujuh komponen utama tersebut dalam proses pembelajarannya. 22 Berikut uraian dari ketujuh komponen utama dari pembelajaran Pertama, konstruktivisme . Di dalam bukunya. Utaminingsih dan Shufa, mengutip pendapat Rusman yang menjelaskan konstruktivisme adalah landasan pengetahuan tidak semata-mata diperoleh melalui penerimaan fakta, konsep, atau kaidah secara pasif. Sebaliknya, pengetahuan harus dibangun secara aktif oleh individu melalui interaksi dengan pengalaman nyata sehingga memiliki makna mendalam. Menurutnya prinsip ini berpijak pada keyakinan bahwa pembelajaran akan menjadi lebih bermakna apabila nara didik mengalami sendiri proses belajar tersebut dan mengaitkannya dengan realitas kehidupan sehari-hari. 23 Landasan konstruktivisme ini menegaskan bahwa pendidikan teologi haruslah membangun pemahaman iman secara aktif dengan keterkaitan antara refleksi teologis dan realitas kehidupan yang kontekstual, sehingga pendidikan teologi tidak berhenti hanya pada kajian iman saja, atau hanya dipahami secara konsep saja tetapi juga kontekstual dan aplikatif dalam praksis pelayanan di era modern masa kini. Kedua, menemukan . Menurut Nababan bagian komponen ini adalah suatu tahapan pembelajaran yang didasari kepada kegiatan pencarian dan penemuan dengan cara berpikir secara sistematis, terstruktur dan kritis. Dalam hal ini menurutnya bahwa pendidika dituntut menciptakan lingkungan belajar yang mendorong peserta nara didik mengidentifikasi permasalahan, merumuskan pertanyaan, menyusun hipotesis dan jawaban sementara, serta dapat memberikan jawaban yang relevan dengan kehidupan yang 24 Proses ini menjelaskan pentingnya membentuk para mahasiswa teologi dalam pendidikan teologi agar mampu menggumulkan persoalan iman secara kritis dan Mashudi & Fatimah Azzahro. Contextual Teaching and Learning, (Lumajang: LP3DI Press, 2. , 40. 22 Sulistio. Penerapan, 16. 23 Sri Utaminingsih & Naela Khusna Faela Shufa. Model & Panduan: Model Contextual Teaching and Learning Berbasis Kearifan Lokal Kudus, (Kudus: Universitas Muria Kudus , 2. , 12. 24 Nababan. Strategi, 595. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 58 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 kontekstual sehingga refleksi teologis yang dihasilkan dapat menjadi relevan serta aplikatif dalam menghadapi tantangan di masa sekarang ini. Ketiga, bertanya . Di dalam tulisannya. Zulaiha menuliskan bahwa komponen ini adalah strategi yang fundamental dalam pembelajaran kontekstual, dimana pengajar dapat memanfaatkan berbagai pertanyaan sebagai sarana dalam mengarahkan dan menstimulasi proses berpikir nara didik, bukan hanya sekedar menyampaikan informasi secara satu arah. Melalui aktivitas bertanya, nara didik dapat dilibatkan secara aktif dalam menganalisis dan mengeksplorasi berbagai gagasan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul secara spontan dari para mahasiswa dan berfungsi sebagai pemicu dalam mendorong pemikiran yang kritis, dialog serta dapat mengembangkan kemungkinankemungkinan yang lebih luas. 25 Strategi questioning menjadi sarana penting untuk dapat melatih para mahasiswa teologi dapat berpikir kritis dan reflektif, sehingga iman yang dipelajari tidak bersifat dogmatis saja, tetapi menjadi kontekstual serta aplikatif dalam menjawab tantangan zaman ini. Keempat, masyarakat belajar . earning communit. Abdul Kadir, dalam tulisannya menjelaskan bahwa komponen ini merupakan sekemlompok individu yang terlibat dalam proses pembelajaran secara bersama-sama dan membentu suatu komunitas belajar yang lebih efektif dibandingkan dengan belajar secara individual, sebab melalui kerja sama, para mahasiswa dapat saling bertukar pengalaman, berbagi gagasan serta dapat memperkaya pemahaman bersama. 26 Komunitas belajar menjadi sarana strategis bagi para mahasiswa teologi untuk dapat saling berbagi pengalaman mereka dalam pelayanan dan refleksi iman, sehingga pemahaman teologis mereka dapat berkembang secara kolaboratif serta semakin relevan dan aplikatif dalam konteks kehidupan yang nyata. Kelima, pemodelan . Dalam komponen ini. Mashudi dan Azzahro menjelaskan bahwa dalam proses pembelajaran keterampilan maupun penguasaan pengetahuan tertentu yang dipelajari, diperlukan adanya figur atau contoh dan teladan yang konrit yang dapat dijadikan acuan. Pengajar dapat berperan sebagai model dengan mempraktekkan secara langsung cara melakukan suatu tugas atau menerapkan suatu Namun menurutnya, pengajar bukanlah satu-satunya sumber keteladanan, ia menjelaskan bahwa proses pemodelan dapat juga dibuat dengan melibatkan mahasiswa sendiri atau menghadirkan narasumber dari luar sebagai contoh yang nyata. 27 Pemodelan dapat menjadi sarana yang penting dalam menghadirkan keteladanan iman dan praktik pelayanan yang nyata, sehingga mahasiswa teologi tidak hanya memahami konsep teologis, tetapi diharapkan dapat melihat dan meneladani penerapnnya secara nyata dalam kehidupan dan pelayanan mereka. Siti Zulaiha. AuPendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dan Implementasinya dalam Rencana Pembelajaran PAI MI,Ay BELAJAEA: Jurnal Pendidikan Islam. Vol. No. 01, . , 49. 26 Abdul Kadir. AuKonsep Pembelajaran Kontekstual di Sekolah,Ay Dinamika Ilmu. Vol. No. Desember . , 26. 27 Mashudi. Contextual, 41 Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 59 J. Renhoard: Pembelajaran Kontekstual dalam Pendidikan Teologi A Ketujuh, refleksi . Mengenai komponen refleksi. Hamid dkk, menuliskan bahwa komponen ini adalah proses yang mendalam terhadap materi yang dipelajari dan juga hasil peninjuan kembali atas pengalaman belajar yang didapat, sekaligus mempertimbangkan langkah yang perlu ditempuh selanjutnya. Menurutnya proses ini, para pengajar perlu berperan dalam membantu nara didik dalam mengaitkan pengetahuan yang didapat dengan pemahaman yang baru diperoleh. Yang menurutnya bimbingan dan arahan pengajar kepada nara didikdalam merumuskan kembali inti dari materi ajar, misalnya dengan menjelaskan ulang konsep atau istilah yang telah dipelajari, sehingga pemahaman itu semakin mengendap dan tertanam dalam diri mereka. Dan dalam kesimpulannya mengenai refleksi, ia menjelaskan bahwa refleksi dapat diperdalam melalui penugasan yang mendorong nara didik menuangkan pemahaman mereka dalam bentuk karya yang kreatif dan orisinal. Hal itu berarti jika dikaitkan dengan pendidikan teologi, refleksi dapat menjadi sarana penting dalam menolong mahasiswa teologi untuk menginternalisasikan kebenaran iman Kristen secara mendalam, menghubungkannya dengan pengalaman pelayanan serta merumuskan langkah konkrit bagaimana penerapan iman yang kontekstual pada dinamika kehidupan masa kini. Kedelapan, penilaian sebenarnya . uthentic assessmen. Menurut Tahya dan Saija, dalam bukunya menuliskan bahwa komponen ini merupakan sebuah proses yang dilakukan pengajar dalam menghimpun berbagai informasi mengenai perkembangan belajar nara didik. Proses evaluasi ini bertujuan untuk menilai sejauh mana nara didik benarbenar mengalami proses pembelajaran serta apakah pengalaman belajar tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan pengetahuan dan pembentukkan mental mereka. Menurutnya penilaian ini diterapkan secara berkelanjutan selama proses pembelajaran, sehingga nara didik mampu memberikan gambaran yang komprehensif tentang kemajuan dan ketercapaian tujuan belajar mereka. Penerapannya dalam pendidikan teologi, penilaian autentik dapat menjadi instrumen yang sangat penting dalam memastikan proses pembelajaran teologi tidak hanya untuk meningkatkan pemahaman teoritis, tetapi juga membentuk kedewasaan iman dan kemampuan aplikasi mahasiswa dalam menjawab tantangan pelayanan di era modern ini. Implementasi Pembelajaran Kontekstual dalam Pembelajaran Teologi Penerapan dalam Kelas Teologi Penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual dalam kelas teologi menuntut adanya perubahan konsep pembelajaran, yang awalnya berpusat hanya kepada dosen . eacher centere. mengarah kepada pembelajaran yan berpusat pada mahasiswa . tudent centered learnin. Seperti yang dijelaskan oleh Sugiarto bahwa pengajar harus menyatakan Hamid. Pembelajaran, 6. Dominggus Tahya & Maryone Saija. Buku Ajar Pembelajaran Inovatif, (Sulawesi Tengah: Penerbit Feniks Muda Sejahtera, 2. , 61. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 60 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 situasi dunia yang nyata ke dalam kelas, kemudian mendorong mahasiswa untuk mengaitkan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan yang terjadi dalam kehidupan mereka sebagai bagian dari keluarga dan masyarakat, 30 sebab menurutnya pendekatan ini diharapkan dapat lebih memiliki makna bagi para mahasiswa. Hal itu berarti bahwa dalam pendidikan teologi pembelajaran kontekstual mendorong proses pembelajaran teologi, materi ajar tidak hanya diajarkan sebagai sistem doktrin . jaran ima. , tetapi juga sebagai refleksi iman yang terus bergumul dengan segala konteks, baik konteks sosial, budaya dan juga pelayanan penggembalaan yang konkrit. Pakpahan di dalam tulisannya yang mengutip pendapat Bevans, menjelaskan bahwa teologi itu harus kontekstual, menurutnya teologi itu haruslah berjumpa dengan pengalaman yang meliputi budaya lokal, perubahan nilai, daan juga konflik dunia atau permasalahan sosial. menekankan bahwa tidak ada satu teologi yang benar, menurutnya teologi hanya bisa kontekstual disebabkan adanya upaya menerjemahkan apa makna pesan Kristus bagi masa 31 Oleh karena itu, pembelajaran pendidikan teologi perlu disusun dalam bentuk seperti studi kasus dalam bidang pastoral, analisis isu-isu permasalahan etika kontemporer, praktik pelayanan dan refleksi teologis yang berdasarkan pengalaman. Menurut Magdalena dkk, dalam tulisannya menjelaskan bahwa orang Kristen bukan hanya mengetahui tentang doktrin iman Kristen, tetapi menurutnya perlu juga memahami bagaimana ajaran tersebut dikaitkan dengan realitas hidup dan tantangan pengetahuan saat Sebagai langkah praktisnya ia menekankan penelitiaannya tentang teologi sistematika dalam pendidikan teologi bahwa pentingnya teologi sistematika dalam kehidupan bergereja di era digital, dan bagaimana konsep-konsep teologis menerurutnya dapat diterapkan dalam konteks teknologi dan komunikasi modern masa kini. 32 Hal yang sama juga dapat diterapkan dalam bidang mata kuliah Biblika, mahasiswa tidak hanya mempelajari latar belakang historis dan struktur teks, tetapi juga diminta mengaitkan pesan teologis dengan realitas jemaat masa kini. Seperti yang dituliskan oleh Pasille dkk, menjelaskan bahwa dengan adanya keterkaitan antara teks Alkitab dengan konteks kehidupan yang nyata, para nara didi dapat belajar untuk mengembangkan kepekaan moral dan spiritual yang sesuai dan kontektual dengan realitas kehidupan. 33 Dengan demikian, pendidikan teologi dalam ruang kelas menjadi ruang dialog antara teks dan konteks, antara refleksi normatif dan aplikatif praksis. Toto Sugiarto. Contextual Teaching and Learning Tingkatkan Hasil Belajar Peserta Didik, (Bantul: CV. Mine, 2. , 20. 31 Binsar Jonathan Pakpahan. Membangun Teologi Kontekstual dari Kearifan Lokal Toraja: Bunga Rampai Teologi Kontekstual & Kearifan Lokal Toraja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 11. 32 Dewi Magdalena. Susanti Birahim. Happy Wahyu Nizar. AuTeologi Sistematika dan Pendidikan Kristen di Gereja,Ay Jurnal Teologi Pambelum. Vol. No. 1 Agustus . , 69. 33 Merlin Pasulle. Imelda Lupita Klagilit. Meriyana Mandacan. Sriwanti Olivia Pakelo. Hermin RaraAo. AuPengembangan Spiritualitas Kristen Peserta Didik Melalui Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Berbasis Teologi Kontekstual,Ay Jurnal Pendidikan dan Keguruan. Vol. No. Desember . , 1412. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 61 J. Renhoard: Pembelajaran Kontekstual dalam Pendidikan Teologi A Melalui uraian tersebut menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kontekstual dalam pendidikan teologi menuntut perubahan paradigm pembelajaran dari teacher-centered menuju student-centered learning. Dalam pendekatan ini, pengajar tidak lagi menjadi pusat utama, melainkan menghadirkan realitas kehidupan ke dalam proses pembelajaran dan mendorong mahasiswa untuk mengaitkan materi dengan pengalaman mereka. Secara praktis, implementasi pembelajaran kontekstual dapat dilakukan melalui: studi kasus pastoral, analisis isu-isu etika kontemporer, integrasi pengalaman pelayanan dengan refleksi Pendekatan ini memungkinkan mahasiswa mengaitkan teks teologis dengan realitas jemaat, sehingga pembelajaran menjadi dialog antara teks dan konteks, serta antara refleksi yang bersifat normatif dengan praktik kehidupan. Peran Dosen sebagai Fasilitator Dalam pendekatan pembelajaran kontekstual, peran dosen mengalami perkembangan yang awalnya dari penyampai materi menjadi fasilitator pembelajaran. Menurut Lase dan Tangkin dalam tulisannya mengenai peran Guru Kristen sebagai fasilitator, dijelaskan bahwa peranan guru sebagai fasilitator merupakan peranan yang sangat penting bagi siswa, lebih jauh dijelaskan bahwa peranan guru dalam pendidikan tidak hanya sekadar memfasilitasi dan memotivasi siswa untuk aktif belajar, tetapi juga bagaimana membentuk siswa hingga dapat memiliki kesadaran supaya aktif dalam belajar, mencari dan menemukan dan memahami kebenaran sejati. Dan menurutnya guru Kristen sebagai fasilitator akan mengarahkan siswa untuk berkembang dalam pengetahuan di atas dasar firman Tuhan. 34 Dalam hal ini, sebagai dosen dalam pendidikan teologi, dosen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan pendamping yang membimbing mahasiswa dalam proses pencarian, refleksi dan konstruksi makna. Peran fasilitator ini sangat penting dalam pendidikan teologi, karena proses pembentukan iman tidak dapat dipaksakan melalui transfer informasi, melainkan melalui dialog, keteladanan dan pendampingan spiritual. Peran dosen dalam pendidikan teologi sebagai fasilitator yaitu perlu menciptakan suasana akademik yang terbuka, kritis, dan reflektif bersama mahasiswa. Menurut Andrianti, dalam tulisannya menjelaskan bahwa tugas guru sebagai fasilitator ialah memberi fasilitas atau melakukan fasilitasi, guru harus lebih banyak melakukan sharing belajar, atau belajar bersama, menyampaikan kompetensi dasar mata pelajaran dan memancing pengetahuan yang ia yakin telah diketahui oleh siswa sehingga terjadi sebuah dialog bersama. 35 Dalam pendidikan teologi, peran dosen sebagai fasilitator ialah mendorong mahasiswa untuk bertanya, menguji asumsi, serta mengembangkan argumentasi teologis yang bertanggung jawab. Selain itu, dosen juga berfungsi sebagai Robert Kristian Lase. Wiyun Philipus Tangkin. AuPeran Guru Sebagai Fasilitator dalam Upaya Pembentukan Keaktifan Belajar Siswa,Ay KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta. No. 1 Januari . , 40. 35 Sarah Andrianti. AuPeran Guru PAK Sebagai Fasilitator Dalam Pelaksanaan Pembelajaran Literasi,Ay Jurnal FIDEI. Vol. No. 2 Desember . , 241. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 62 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 model spiritual dan etis, yang menghadirkan integritas antara ajaran dan kehidupan. Dalam konteks ini, pemodelan . menjadi bagian penting dari pendidikan teologi. Pendekatan ini sejalan dengan pemikiran yang dituliskan oleh Panggabean, yang menjelaskan bahwa pada pendidik dalam pembelajaran teologi diharapkan memiliki dampak terhadap orang . dan juga dapat memampukan untuk dapat memahami konsekuensi praktis dari kebenaran yang dipelajari dengan seksama. Bagian kontekstual sangat ditentukan oleh transformasi yang dilakukan oleh dosen, dari hanya sebagai penyampai materi menjadi fasilitatir pembelajaran. Dalam pendekatan ini, dosen berperan sebagai pendamping yang membimbing mahasiswa dalam proses pencarian, refleksi dan konstruksi makna, peran ini mencakup: menciptakan suasana belajar yang dialogis dan kritis. mendorong mahasiswa untuk bertanya dan berefleksi. dan membimbing pengembangan argumentasi. Selain itu, dosen juga berfungsi sebagai model spiritual dan etis . , yang menghadirkan integrasi antara ajaran dan kehidupan. Hal itu menegaskan bahwa peran fasilitator menjadi elemen kunci dalam mengintegrasikan pembelajaran kontekstual dalam pendidikan teologi secara efektif. Model Pembelajaran yang Kontekstual dan Transformatif Berkaitan dengan model pembelajaran yang kontekstual dan transformatif. Sukamto dalam tulisan menjelaskan bahwa teologi tidak hanya sebatas ilmu yang teoritis yang indah dan mempesona para pembacanya saja, menurutnya teologi yang sejati ialah teologi yang dapat menyembuhkan, memulihkan dan terlebih mentransformasikan dunia. 37 Dalam pendidikan teologi, pembelajaran teologi yang kontekstual dan transformatif haruslah menempatkan pengalaman mahasiswa sebagai titik awal dalam refleksi teologis. Prinsip konstruktivisme dalam pembelajaran kontekstual menekankan bahwa pengetahuan haruslah dibangun melalui interaksi dengan pengalaman nyata. Nugroho dan Sirait dalam tulisannya menjelaskan bahwa pendidikan teologi tidak hanya dipahami sebagai proses transfer pengetahuan doktrinal saja, tetapi dapat menjadi sarana pembentukan karakter, keterampilan komunikasi dan juga memiliki sensitivitas budaya, dan lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan teologi akan gagal jika tidak dapat membaca konteks yang berakibat bagi pelayanan yang tidak maksimal. Menurut Dunggio, dalam tulisannya menjelaskan bahwa teologi kontekstual telah menjadi kebutuhan yang penting dalam menjembatani fragmentasi pendekatan teologis. Justice Zeni Zari Panggabean. AuPendekatan Praktis-Teologis Pendidikan Kristiani,Ay KURIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Oktober . , 175. 37 Amos Sukamto. AuTeologi Kontekstual-Transformatif I Wayan Mastra dalam Penembangan Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPM) dari 1970an-1990-an,Ay SOCIETAS DEI: Jurnal Agama dan Masyarakat. Vol. No. 1 April . , 86. 38 Fibry Jati Nugroho. Rajiman Andrianus Sirait. AuPendidikan Teologi dan Tantangan Komunikasi Misi Multikultural di Era Digital,Ay CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. September . , 39. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 63 J. Renhoard: Pembelajaran Kontekstual dalam Pendidikan Teologi A menurutnya dengan mengintegrasikan refleksi yang doktrinal dan praktis yang sosail secara kritis, maka teologi Kristen dapat menghadirkan kesaksian iman yang kontekstual, transformatif dan berakar pada realitas kehidupan manusia. 39 Hal itu menunjukkan bahwa pendidikan teologi yang kontekstual tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi mendorong mahasiswa menjadi agen pembaruan di tengah gereja dan masyarakat. Memasuki era modern yang ditandai dengan perkembangan dan kemajuan teknologi digital dan kompleksitas masalah sosial, model pembelajaran teologi yang kontekstual dan transformatif menjadi semakin dibutuhkan. Hal ini seperti yang dijelakan oleh Badjie dan Manalu dalam tulisannya yang menjelaskan bahwa pendidikan teologi dipanggil untuk berdialog secara kritis dengan konteks kehidupan manusia. 40 Model pendekatan ini mendorong mahasiswa tidak hanya dibekali dengan sistem teologi yang kokoh, tetapi juga kemampuan reflektif untuk menerapkan iman secara kreatif dan bertanggung jawab dalam konteks yang terus berubah secara khusus memasuki era modern Uraian ini menunjukkan bahwa integrasi pembelajaran kontekstual dalam pendidikan teologi mengarah pada pembentukkan model pembelajran yang bersifat kontekstual dan transformatif. Pembelajaran tidak lagi berhenti pada penguasaan teori, tetapi mendorong perubahan cara berpikir, bersikap dan bertindak dari mahasiswa. Pendekatan ini menempatkan pengalaman sebagai titik awal refleksi teologis. Prinsip konstruktivisme dalam pembelajaran kontekstual menegaskan bahwa pengetahuan dibangun melalui interaksi dengan realitas. Dalam konteks teologi, hal ini berarti bahwa pemahaman iman berkembang melalui keterlibatan langsung dalam kehidupan dan Hal itu berarti pendidikan teologi dituntut untuk dapat mampu berdialog secara kritis dengan realitas kehidupan, sehingga menghasilkan pemahaman iman yang kontekstual dan bertanggung jawab. Penilaian Kritis terhadap Pendekatan Konvensional Penelitian ini menemukan bahwa dominasi pendekatan kognitif dalam pendidikan teologi menjadi salah satu penyembab utama kesenjangan antara teori dan praktik. Model pembelajaran yang berpusat pada dosen cenderung menghasilkan pemahaman yang abstrak dan kurang aplikatif. Jika dibandingkan dengan pendekatan pembelajaran kontekstual, terlihat bahwa pembelajaran konvensional kurang memberi ruang bagi pengalaman, refleksi dan kurangnya keterlibatan aktif dari mahasiswa. Dampaknya, proses pembentukan iman menjadi tidak maksimal. Penelitian ini, tidak hanya mendukung Grace Gamaria Dunggio. AuTeologi Kontekstual dan Tantangan Hak Asasi Manusia dalam Masyarakat Modern dalam Perspektif Teologi Kristen,Ay Veritas Lux Mea: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol. No. , 156. 40 Stasia Daeng Badjie & Alfriani Manalu. AuDialog Budaya dan Teologi Menuju Pendidikan Kristen yang Transformatif,Ay HAGGADAH: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol. No. 2 Oktober . , 77. Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 64 Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen. Vol 7. No 1. April 2026 pendekatan pembelajaran kontekstual, tetapi juga mengkritisi praktik pendidikan teologi yang masih berorientasi pada transfer pengetahuan semata kepada mahasiswa. Model Konseptual Integratif Pembelajaran Kontekstual dalam Pendidikan Teologi Sebagai sebuah sintesis dari seluruh temuan, penelitian ini merumuskan model konseptual integratif antara pembelajaran kontekstual dan pendidikan teologi, yaitu: Model integratif pembelajaran kontekstual dalam pendidikan Teologi, yang dapat digambarkan sebagai berikut: Input ATeks Teologis (Alkitab & Doktri. AKonteks Kehidupan (Sosial. Budaya. Pelayana. Proses AInquiry. Questioning. Reflection ALearning Comunity and Modeling Ouput APemahaman Teologis Kontekstual AAplikasi Iman Model ini menunjukkan bahwa pembelajaran teologi yang sangat efektif tidak hanya berangkat dari teks teologis, tetapi juga dari konteks kehidupan. Melalui proses pembelajaran berbasis pembelajaran kontekstual yang meliputi inquiry, refleksi dan komunitas belajar, mahasiswa diarahkan untuk menghasilkan pemahaman teologis yang kontekstual serta mampu mengaplikasikan iman dalam kehidupan nyata. Hal itu menunjukkan bahwa proses pembelajaran tidak berhenti pada aspek kognitif, tetapi juga dapat menghasilkan transformasi pada pribadi dan sosial. IV. Kesimpulan Berdasarkan hasisl analisis, penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran kontekstual merupakan pendekatan pedagogis yang efektif dalam menjawa kesenjangan antara pemahaman teologis dan praktik iman dalam pendidikan teologi. kontekstual mampu mengintegrasikan teks teologis dengan konteks kehidupan melalui proses pembelajaran berbasis pengalaman, refleksi dan dialog, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami iman secara konseptual, tetapi juga mampu mengaplikasikannya secara kritis dan kontekstual dalam kehidupan nyata. Adapun temuan utama dari penelitian ini menunjukkan adanya kesesuaian structural antara komponen pembelajaran kontekstual dan prinsip teologi kontekstual. Kebaruan penelitian ini terletak pada perumusan model integratif pembelajaran kontekstual dengan pendidikan teologi, dimana pembelajaran kontekstual tidak hanya diposisikan sebagai metode pembelajaran, tetapi juga sebagai kerangka teologis-pedagogis yang menekankan keterpaduan antara refleksi iman dan praktik kehidupan. Kesimpulannya, penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dalam Copyright 2026 A Immanuel, e-ISSN 2721-432X, p-ISSN 2721-6020 | 65 J. Renhoard: Pembelajaran Kontekstual dalam Pendidikan Teologi A memperluas kajian pembelajaran kontekstual ke dalam ranah pendidikan teologi sekaligus menawarkan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual dan transformatif. Selain itu, penelitian ini juga merekomendasikan agar pengembangan kurikulum teologi mengintegrasikan pendekatan pembelajaran kontekstual melalui pembelajaran berbasis pengalaman, studi kasus, refleksi teologis dan praktik pelayanan. Peran dosen juga perlu ditransformasikan sebagai fasilitator yang mendorong pembelajaran partisipatif, kritis dan reflektif, dan para mahasiswa perlu dibentuk sebagai pelaku iman yang kontekstual dan responsif terhadap dinamika kehidupan. Saran bagi penelitian selanjutnya, diperlukan studi empiris yang menguji efektivitas model integratif pembelajaran kontekstual dalam berbagai konteks pendidikan teologi, termasuk dalam menghadapai tantangan di era Digital. Melalui penelitian ini, pembelajaran kontekstual tidak hanya relevan sebagai sebuah pendekatan pedagogis, tetapi juga sebuah langkah strategis dalam membentuk pendidikan teologi yang mampu menjawab kebutuhan gereja dan masyarakat masa kini. Referensi