Paradigma. Volume 13. Number 2, 2024, pp. Konstruksi Sosial Masyarakat Tentang Bantuan Program Permakanan Kelurahan Gayungan Kota Surabaya Muhammad Ivan Rahman BashoriA. Refti Handini ListyaniA A Program Studi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Negeri Surabaya 20071@mhs. Abstract The purpose of this research is to analyze the construction process of the elderly, people with disabilities, and orphans. This research uses a qualitative approach with the perspective of Peter L. Berger's social construction theory. The data obtained in this study were obtained from the results of observations and in-depth interviews conducted by researchers. The results of this study show that the elderly, people with disabilities, and orphans are constructed in their minds that the food program is a program that has a positive or beneficial impact on them because it is able to help meet their basic needs and physical, social, and financial well-being. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis proses konstruksi lansia, penyandang disabilitas, dan yatim. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif teori konstruksi sosial Peter L. Berger. Data-data yang didapatkan dalam penelitian ini diperoleh dari hasil observasi dan wawancara mendalam yang dilakukan oleh peneliti. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa lansia, penyandang disabilitas, dan yatim terkonstruksi dalam pikirannya bahwa program permakanan merupakan program yang berdampak positif atau bermanfaat bagi mereka karena mampu membantu memenuhi kebutuhan dasar dan kesejahteraan fisik, sosial, dan finansial. Keywords: Social construction. Food program. Vulnerable society Pendahuluan Permasalahan kesejahteraan sosial di Indonesia adalah salah satu permasalahan yang belum terpecahkan oleh pemerintah. Sesuai dengan sila ke-5 pancasila yang dimana seluruh rakyat Indonesia untuk memberikan keadilan kepada rakyat Indonesia, tetapi menurut UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, pemerintahan membagi atas urusan pemerintahan absolut, urusan pemerintahan konkuren dan urusan pemerintahan umum. Urusan konkuren dibagi menjadi 2 yakni pemilihan pekerjaan yang dilakukan oleh pemerintah daerah dan yang lainnya adalah pemilihan urusan pemerintahan yang dilakukan oleh pemerintah daerah. (UUD, 2. Hal tersebut merupakan hasil otonomi daerah untuk meratakan kesejahteraan rakyat Indonesia. Kemudian yang harus dilakukan oleh urusan pemerintahan konkuren untuk mencapai layanan dasar, yakni masalah sosial. Kemiskinan meningkat, korban kekerasan dan diskriminasi meningkat, dan perlindungan bagi penyandang disabilitas fisik serta mental menurun. Kasus ini masih sering terjadi di Indonesia. Berdasarkan Pasal 6 ayat . Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2012 tentang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Kriteria yang termasuk dalam isu sosial adalah kemiskinan, penelantaran, disabilitas, penyimpangan perilaku, korban bencana, eksploitasi dan (UUD. Materi Pokok Peraturan, 2. Paradigma. Volume 13. Number 2, 131-140, 2024 Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur tahun 2019, jumlah PMKS penyandang disabilitas sebanyak 242 orang, kemudian lansia sebanyak 15. (Statistik, 2. Tingginya angka PMKS di Kota Surabaya dengan kategori anak disabilitas dan lansia membuat Pemerintah Kota Surabaya melakukan upaya untuk memberikan jaminan sosial serta perlindungan, terutama pada penyediaan makanan dengan gizi yang baik. Menurut Peraturan Walikota Surabaya Nomor 134 Tahun 2022 Tentang Pedoman Pemberian Permakanan di Kota Surabaya. (UUD, PERWALI, 2. Dengan adanya Perwali, pemerintah kota Surabaya menjalankan sebuah program pemberian makanan yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial Kota Surabaya. Yang menjadi sasaran penerima manfaat dari program tersebut ialah keluarga rentan miskin dan miskin yang terdiri dari lansia, penyandang disabilitas, dan yatim yang telah terdaftar sebagai penduduk kota Surabaya. Dalam melaksanakan program permakanan tersebut. Dinas Sosial Kota Surabaya bekerjasama dengan Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM). KarangWerdha. Panti Sosial. Kecamatan. Kelurahan. Kelompok Masyarakat (POKMAS), danjuga Petugas Kirim (Petki. Total kelurahan yang mendapatkan program permakanan tersebut sebanyak 153 kelurahan seSurabaya. Kelurahan Gayungan Surabaya merupakan salah satu kelurahan di Surabaya yang memiliki warga penyandang disabilitas sebanyak 4 orang, anak yatim sebanyak 20 orang, dan lansia sebanyak 75 orang. Penyandang disabilitas menurut perspektif sosial ialah sebuah fenomena yang terciptanya ciri dan kategori ketidakmampuan manusia, sehingga perlu adanya dukungan profesional. (Dan Goodley, 2. Berdasarkan ketentuan umum dan Perwali penyandang disabilitas merupakan individu yang memiliki keterbatasan fisik, mental, sensorik, ataupun intelektual dengan jangka waktu yang lama. Yang dimana memiliki keterbatasan dalam beraktifitas. Anak yatim merupakan anak yang sudah ditinggal wafat oleh orang tua nya. Kemudian, lanjut usia . merupakan seseorang yang telah berusia 60 tahun bahkan lebih. Sedangkan Lansia secara sosiologis menurut Nugroho pada artikel Tika, yaitu tercapainya integritasdalam diri seseorang. (Fitriana, 2. Program permakanan dilaksanakan dibawah naungan Dinas Sosial Kota Surabayasejak tahun 2012 dan telah berjalan 11 tahun hingga sampai saat ini. Dalam melaksanakan program tersebut tentu terdapat beberapa permasalahan atau kendala yang dialami seperti tempat makanan/wadah yang tidak layak, keterlambatan jadwal pengiriman makanan, ketidaksesuaian menu permakanan, dan permakanan diliburkan karena adanya libur nasional yang seharusnya tetap diberikan permakanan. Kendala yang terjadi dapat diselesaikan dengan beberapa cara seperti membeli tempat makan yang kualitasnya lebih baik, memonitoring petugas kirim, memberikan variatif pada menu makanan, sosialisasi terhadap petugas kirim (Petki. dan kelopok masyarakat (Pokma. terkait pengiriman bantuan dilibur nasional. Pelaksanaan program permakanan mampu membuat konstruksi tersendiri bagi para penerima bantuan tersebut terkait keberhasilan program permakanan dalam memenuhi kebutuhan dasar pangan mereka. Sesuai dengan pemikiran Peter L. Berger terkait teori konstruksi sosial yaitu secara struktural, manusia dipengaruhi oleh lingkungan dimana manusia itu tinggal. Dengan demikian manusia berkembang sesuai dengan arah perkembangan yang ditentukan secara sosial, sejak lahir hingga tumbuh dewasa. Selain itu, manusia dipandang sebagai individu yang memiliki kecenderungan tententu dalam lingkungan masyarakat. Hal tersebut memberikan dasar bagi peneliti untuk mengambil langkah penelitian lebih lanjut dalam tindakan meneliti tentang bagaimana peran Dinas Sosial Kota Surabaya dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat Kelurahan Gayungan, dimana peneliti juga tertarik terhadap program permakanan yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial Kota Paradigma. Volume 13. Number 2, 131-140, 2024 Surabaya. Jika, berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, penulis mengharapkan hasil dari penelitian yang berjudul AuKonstruksi Penerima Bantuan Program Permakanan Masyarakat Kelurahan Gayungan Kota SurabayaAy. Kajian Pustaka 1 Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian kali ini ialah penelitian yang ditulis oleh Syaifful Akbaruddin dengan judul AuPeran Pemerintah Dalam Upaya Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Melalui Program Permakanan Oleh Dinas Sosial Di Kota SurabayaAy serta terbit pada tahun 2018. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teori yang digunakan yakni teori peran pemerintah Diva Gede. Pada penelitian tersebut dijelaskan bahwa program permakanan bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) merupakan manifestasi konkret dari kebijakan publik yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup kelompok masyarakat yang rentan. Kebijakan ini secara khusus ditujukan untuk membantu tiga golongan utama PMKS, yaitu penyandang disabilitas, anak yatim-piatu, dan lansia. Melalui program ini, pemerintah berupaya menjamin bahwa kebutuhan dasar mereka, terutama dalam hal nutrisi, dapat terpenuhi dengan baik. Penyediaan makanan yang bergizi dan memadai bukan hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisik semata, tetapi juga merupakan langkah strategis dalam menjaga kesehatan, meningkatkan daya tahan tubuh, dan pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup secara keseluruhan. Program ini juga mencerminkan komitmen pemerintah dalam mewujudkan prinsip keadilan sosial, di mana negara mengambil peran aktif untuk memastikan bahwa setiap warga negara, terlepas dari kondisi fisik, latar belakang, atau usianya, memiliki akses terhadap kehidupan yang layak. Lebih jauh lagi, implementasi program permakanan ini juga dapat dipandang sebagai upaya preventif untuk mencegah masalah kesehatan dan sosial yang lebih serius di kalangan PMKS, yang pada gilirannya dapat mengurangi beban sosial dan ekonomi jangka panjang bagi masyarakat dan negara. Dengan demikian, program ini tidak hanya bermanfaat bagi penerima bantuan secara langsung, tetapi juga memiliki dampak positif yang lebih luas terhadap kesejahteraan sosial dan pembangunan masyarakat secara keseluruhan. 2 Teori Konstruksi Sosial Peter L. Berger Dalam teori sosiologi pengetahuan. Peter L. Berger dan Luckmann berfokus pada dua konsep utama: realitas dan pengetahuan. Mereka mendefinisikan realitas sebagai suatu kualitas yang melekat pada fenomena yang dianggap berada di luar kendali manusia. Dengan kata lain, realitas dipandang sebagai fakta sosial yang bersifat eksternal, universal, dan memiliki kekuatan untuk mempengaruhi kesadaran setiap individu, terlepas dari preferensi personal mereka. Sementara itu, pengetahuan diartikan sebagai keyakinan bahwa suatu fenomena itu nyata dan memiliki karakteristik Ini berarti pengetahuan merupakan interpretasi subjektif dari realitas yang hadir dalam kesadaran individu. Berger memahami realitas sosial sebagai entitas yang keberadaannya tidak bergantung pada keinginan individu tertentu. Ia juga mengakui bahwa realitas memiliki beragam bentuk dan manifestasi. Dengan demikian, teori ini mengakui adanya interaksi kompleks antara realitas objektif yang ada di luar individu dan interpretasi subjektif yang dibentuk dalam kesadaran masing-masing orang. Menurut Peter L. Berger, realitas sosial merupakan kenyataan yang dibentuk oleh manusia dan juga membentuk manusia itu sendiri. Ini menunjukkan adanya hubungan dialektis antara individu dan masyarakat, di mana manusia tidak hanya menjadi produk dari lingkungan sosialnya, tetapi juga berperan aktif dalam menciptakan dan mengubah realitas sosial tersebut melalui tindakan Paradigma. Volume 13. Number 2, 131-140, 2024 dan interaksi mereka sehari-hari. Kesadaran individu terbentuk dari sebuah pengetahuan atau nilainorma yang ada dalam masyarakat. Pengetahuan dalam konteks ini merujuk pada kepercayaan yang dimiliki oleh individu, yang seringkali dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya di sekitarnya. Proses pembentukan kesadaran ini melibatkan interaksi kompleks antara pengalaman pribadi, pendidikan, dan pengaruh sosial yang terus-menerus membentuk cara pandang seseorang terhadap Kenyataan dapat dibangun secara sosial, dalam pengertian individu-individu dalam masyarakat yang telah membangun masyarakat, maka pengalaman individu selalu berkaitan dengan masyarakat. Manusia sebagai pencipta kenyataan sosial yang objektif melalui 3 . momen dialektis yang simultan, yaitu: internalisasi, eksternalisasi, dan objektivasi. Metode Penelitian Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif yang berfokus pada rumusan masalah, tujuan penelitian dan bersifat sementara. Menurut Creswell sendiri penelitian kualitatif bertujuan untuk mengeksplorasi serta memahami makna dari individu ataupun kelompok yang berkaitan dengan masalah sosial. (Suhartini, 2. Field Research merupakan jenis penelitian yang mempelajari tentangperistiwa atau fenomena yang terjadi secara alami, sehingga peneliti menggunakan jenispenelitian tersebut. Oleh sebab itu, pengumpulan data yang diperoleh di lapangan terjadi secara langsung dan sesuai dengan realitas di lokasi. Selain itu, jenis penelitian Field Research ini peneliti dapat mencari data secara detail dengan melakukan wawancara pada subjek yang terkait. Adapun pendekatan deskriptif kualitatif yang digunakan oleh peneliti untukmelakukan penelitian ini. Adapun Pada penelitian ini, teknik yang digunakan untuk pemilihan subjek ialah purposive. Purposive ialah Teknik pemilihan subjek berdasarkan tujuan yang sesuai dengan kriteria kebutuhan data (Khairunnisa, 2. Subjek penelitian purposive juga dikenal dengan Aupenentuan subjek sengajaAy, karena peneliti secara sengaja memilih individu atau kelompok tertentu untuk menjadi bagian dari sampel penelitian berdasarkan kualitas ataupun karakteristik tertentu yang dimiliki oleh Dengan demikian dapat dipastikan bahwa subjek penelitian memiliki informasi serta pengalaman khusus yang relevan dengan tujuan penelitian. Selain itu, terdapat teknik pengumpulan data yang paling strategis untuk penelitian, karena tujuannya untuk memperoleh sebuah data. Adapun 3 tahapan penting dalam pengumpulan data, diantaranya sebagai berikut : observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini yakni coding model Strous dan Corbin. Pengcodean tersebut memiliki tiga jenis yaitu pengodean terbuka . pening codin. , pengodean berporos . xial codin. , dan pengodean selektif . elective codin. Hasil dan Pembahasan 1 Realitas Objektif Lansia. Penyandang Disabilitas, dan Yatim Mengenai Program Permakanan Realitas objektif para penerima bantuan seperti lansia, penyandang disabilitas, dan yatim di Kelurahan Gayungan menginterpretasikan program permakanan sebagai bentuk bantuan sosial yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan mereka dengan menyediakan makanan pokok. Mereka menyadari bahwa bantuan tersebut bertujuan positif bagi mereka, sehingga penting untuk memberikannya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan untuk penerima manfaat. Dalam pandangan mereka, program ini menjadi landasan yang kuat untuk memenuhi kebutuhan dasar pangan yang sebelumnya sulit mereka penuhi. Lansia, penyandang disabilitas, dan yatim percaya bahwa program ini dapat membantu mereka secara signifikan dalam memperbaiki kondisi ekonomi dan kesejahteraan mereka. Mereka memandang pemberian bantuan sosial sebagai suatu hak yang Paradigma. Volume 13. Number 2, 131-140, 2024 mereka miliki sebagai warga yang membutuhkan, yang harus dipenuhi dengan cermat dan bertanggung jawab oleh pihak yang memberikannya. Penting bagi mereka untuk memastikan bahwa penanganan dan pemberian bantuan dilakukan sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau lembaga terkait. Program bantuan makanan adalah upaya yang dijalankan untuk meningkatkan kesejahteraan lansia, penyandang disabilitas, dan anak yatim dengan fokus pada kesehatan/fisikal, sosial, dan finansial masing-masing penerima manfaat. Dalam konteks ini. Dinas Sosial Kota Surabaya bekerja sama dengan kelompok masyarakat setempat (Pokma. untuk menyediakan bantuan makanan. Bantuan tersebut berupa paket makanan yang terdiri dari nasi, lauk-pauk, buah-buahan, dan air mineral dalam kemasan kotak, yang diberikan satu kali sehari. Setiap jenis makanan yang disediakan dipilih berdasarkan kebutuhan gizi penerima manfaat, sesuai dengan rekomendasi dari ahli gizi. Melalui program ini, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang lebih sehat dan kesejahteraan yang meningkat bagi kelompok rentan tersebut. Dengan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat lokal, program ini diharapkan dapat memberikan dampak yang positif bagi kesejahteraan sosial di Surabaya, tepatnya meningkatkan Usaha Masyarakat Kecil Menengah (UMKM) yang ada di lingkungan sekitar. 2 Kondisi Objektif Lansia. Penyandang Disabilitas, dan Yatim di Kelurahan Gayungan Realitas objektif merupakan hasil dari kondisi objektif yang ada. Kondisi objektif merujuk pada segala hal yang terkait dengan persepsi, pandangan, dan tindakan individu sebagai tanggapan terhadap fenomena yang nyata atau terlihat. Setiap subjek dalam penelitian ini menjelaskan kondisi mereka berdasarkan pengalaman yang mereka alami. Kondisi masyarakat, di sisi lain mengacu pada kondisi yang dialami oleh masyarakat saat terjadi program permakanan. Para penerima bantuan memiliki hak untuk menggunakan dana bantuan sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati pada Kondisi objektif ini dipengaruhi oleh faktor kepribadian individu dan lingkungan sekitar Status sosial penerima bantuan seperti lansia, penyandang disabilitas, dan yatim di Kelurahan Gayungan diklasifikasikan sebagai kelas menengah ke bawah, didasarkan pada kesamaan kondisi objektif masyarakatnya. Mereka terdapat dalam kondisi ekonomi yang kritis di tengah-tengah beban keluarga yang banyak. Penentuan status sosial mereka di Kelurahan Gayungan didasarkan pada faktor-faktor seperti tingkat penghasilan dan jumlah tanggungan. Hal ini mengakibatkan mereka ditempatkan pada kategori sosial yang sama karena menghadapi tantangan ekonomi yang serupa. Oleh karena itu, kelompok ini seringkali memerlukan bantuan dan dukungan lebih dalam hal memenuhi kebutuhan dasar mereka. Penerima manfaat program bantuan makanan di Kelurahan Gayungan memiliki kondisi yang berbeda-beda. Beberapa di antara mereka bertanggung jawab atas keluarga . stri, anak, dan orangtu. Meskipun sebagian besar dari mereka tinggal dalam rumah yang layak, namun terdapat perbedaan pada pendapatan. Data wawancara menunjukkan adanya perbedaan dalam kategori penerima manfaat serta kondisi ekonomi. Hal ini menegaskan perlunya pendekatan yang beragam dalam merancang kebijakan bantuan sosial untuk memastikan bahwa bantuan diberikan secara efektif kepada yang Dalam menganalisis data ini, peneliti perlu mempertimbangkan berbagai faktor sosial, ekonomi, dan demografis yang memengaruhi kebutuhan dan kondisi penerima manfaat. 3 Realitas Subjektif Lansia. Penyandang Disabilitas, dan Yatim Mengenai Program Permakanan Paradigma. Volume 13. Number 2, 131-140, 2024 Peneliti menemukan realitas subjektif yang terbentuk dalam masyarakat lansia, penyandang disabilitas, dan yatim sebagai penerima bantuan program permakanan yang digagas oleh Bu Risma pada tahun 2012, selaku walikota Surabaya melalui Dinas Sosial Kota Surabaya. Masyarakat dipandang sebagai realitas subjektif yang terbentuk melalui proses interpretasi internal oleh individu. Proses ini terjadi melalui momen internalisasi yang mencakup sosialisasi baik dalam lingkungan primer maupun sekunder. Melalui proses sosialisasi ini, individu memperoleh definisi-definisi tentang dunia sekitarnya dari interaksi dengan orang lain. Namun, penting untuk diingat bahwa setiap individu memiliki pemahaman yang berbeda, karena mereka menginterpretasikan informasi yang diterima sesuai dengan konteks, pengalaman, dan persepsi pribadi mereka. Dalam hal ini, individu turut serta dalam pembentukan definisi bersama dengan masyarakat sekitarnya. Namun, karena tidak ada realitas yang disosialisasikan dengan sempurna kepada setiap individu, maka setiap individu akan memiliki penafsiran yang berbeda terhadap realitas yang sama. Dengan kata lain, setiap individu membentuk versi realitas yang diyakini sebagai cerminan dari dunia objektif, yang sesuai dengan sudut pandang dan pengalaman pribadi mereka. Oleh karena itu, sebelum mengambil keputusan atau bertindak, individu dapat mempertimbangkan dan memilih berdasarkan hal-hal yang mereka anggap dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan pribadi Ini menunjukkan kompleksitas dan keragaman dalam cara individu menafsirkan dan merespons realitas di sekitar mereka, serta bagaimana mereka menggunakan pengetahuan dan pemahaman mereka untuk memandu tindakan serta pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari. 4 Analisis Konstruksi Lansia. Penyandang Disabilitas, dan Yatim Mengenai Program Permakanan Pada penelitian ini mencoba untuk menjelaskan bagaimana konstruksi penerima bantuan beserta kondisi objektif di lapangan tentang keberhasilan program pemerintah yakni Program Permakanan. Konstruksi sosial oleh Peter dan Luckman di dalam prosesnya terdiri dari internalisasi, eksternalisasi, dan objektivasi. Internalisasi Lansia. Penyandang Disabilitas, dan Yatim Internalisasi merupakan realitas sosial yang diciptakan seseorang yang mampu mengubah dirinya dari struktur dunia yang objektif menjadi struktur kesadaran subjektif. Dari kaca umum, internalisasi dimengerti sebagai pengetahuan tentang dunia dan sesama sebagai segala sesuatu yang mempunyai makna realitas sosial. Kenyataan merupakan kualitas yang ditemukan pada berbagai kejadian atau objek yang eksistensinya tidak ditentukan oleh kehendak individu lain. Pengetahuan dalam konteks sosial merujuk pada keyakinan tentang eksistensi fenomena-fenomena yang nyata dengan karakteristik yang spesifik. Hal itu menandakan pemahaman individu atau kelompok terhadap realitas di sekitar mereka. Realitas sosial pada dasarnya merupakan hasil dari proses kompleks yang melibatkan internalisasi dan objektivasi pengetahuan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Proses internalisasi mengacu pada pengambilan pengetahuan dari lingkungan eksternal ke dalam pikiran dan sikap individu. Sementara itu objektivasi merupakan eksternalisasi pengetahuan yang menjadi bagian dari struktur dan tindakan masyarakat. Eksternalisasi dipengaruhi oleh kumpulan pengetahuan (Common sense knowledg. yang dimiliki individu atau dapat disebut dengan cadangan pengetahuan (Stock of knowledg. Dalam konteks ini, pengetahuan tidak hanya menjadi landasan interpretasi individu terhadap realitas, tetapi juga menjadi faktor yang membentuk dinamika sosial dan budaya masyarakat secara luas. (Sulaiman, 2. Paradigma. Volume 13. Number 2, 131-140, 2024 Pemerintah Kota Surabaya telah berkomitmen untuk menjamin kehidupan yang layak bagi masyarakat Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) melalui implementasi program Inisiatif ini menjadi salah satu program andalan dan terbaru dari Pemerintah Kota Surabaya, yang digagas oleh Walikota Surabaya. Ibu Tri Rismaharini. Gagasan ini muncul sebagai respons terhadap kondisi yang masih terjadi di mana sebagian masyarakat masih banyak mengalami kelaparan dan keterlantaran, bahkan mengalami kematian akibat kekurangan pangan. Program permakanan dirancang sebagai solusi untuk menjangkau dan memberi bantuan kepada calon penerima yang memenuhi kriteria PMKS. Melalui program ini. Pemerintah Surabaya berupaya memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan dasar pangan bagi kelompok masyarakat yang rentan seperti kelurga rentan miskin dan miskin. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, masyarakat penerima bantuan seperti lansia, penyandang disabilitas, dan yatim mengetahui tentang program permakanan melalui pendaftaran dan sosialisasi yang dilaksanakan oleh Rukun Tetangga (RT) Kemudian, informasi tersebut diverifikasi oleh Dinas Sosial Kota Surabaya untuk menentukan kriteria atau kelayakan penerima bantuan permakanan. Eksternalisasi Lansia. Penyandang Disabilitas, dan Yatim Eksternalisasi merupakan penyesuaian diri dengan dunia sosial sebagai produk manusia atau Eksternalisasi menjadi satu hal yang penting proses konstruksi sosial karena di dalamnya individu akan mengerti dan melakukan adaptasi kepada lingkungannya. Berger mengatakan bahwa pengetahuan yang ada pada proses ini mampu menerangkan tentang kenyataan dan pengetahuan yang akan dapat dimengerti bahwa kehidupan masyarakat terbentuk melalui proses yang terus (Iga & Andi, 2. Dalam konteks penelitian ini, eksternalisasi merujuk pada proses adaptasi yang dialami oleh lansia, penyandang disabilitas, dan anak yatim di Kelurahan Gayungan saat menerima bantuan dari program permakanan. Program ini pada dasarnya dirancang sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar bagi mereka yang menghadapi kesulitan ekonomi. Secara sederhana, proses eksternalisasi ini dipengaruhi oleh pengetahuan yang telah terakumulasi dalam diri individu dan akhirnya menjadi pemahaman umum atau akal sehat. Pada tahap eksternalisasi, seseorang tidak hanya berfokus pada dirinya sendiri, tetapi juga harus mampu mengekspresikan diri dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tindakan-tindakan yang ditampilkan oleh seorang individu sangat dipengaruhi oleh pengetahuan yang telah diperolehnya. Proses ini mencerminkan bagaimana penerima manfaat program permakanan tidak hanya menerima bantuan secara pasif, tetapi juga aktif menyesuaikan diri dan berinteraksi dengan lingkungan sosial mereka berdasarkan pemahaman baru yang mereka peroleh melalui program tersebut. Pada momen eksternalisasi ini masyarakat memberi praktik nyata sebagai bentuk menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai penerima program bantuan permakanan. Dari hasil wawancara ditemukan bahwa penerima bantuan seperti lansia, penyandang disabilitas, dan yatim melakukan aktivitas barunya sebagai penerima bantuan, sebagian besar penerima bantuan permakanan menerima dan mengonsumsi makanan dari program tersebut. Program permakanan bagi mereka merupakan bantuan sosial untuk kepentingan kebutuhan penerimanya dalam bentuk pemenuhan kebutuhan dasar pangan untuk meningkatkan kesejahteraanya. Selain itu, lansia, penyandang disabilitas, dan yatim bersedia melakukan tugas dan kewajibannya untuk merealisasikan bantuan tersebut yang dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa dengan menerima bantuan tersebut mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam bentuk kebutuhan dasar pangan. Para lansia, penyandang disabilitas, dan yatim juga harus beradaptasi dengan aktifitas barunya yakni sebagai Paradigma. Volume 13. Number 2, 131-140, 2024 penerima bantuan. Dalam proses ini juga terdapat interaksi antara pihak lembaga Dinas Sosial dengan penerima bantuan. Interaksi disini ialah kegiatan sosialisasi dan adanya standarisasi proses seperti proses distribusi makanan yang dimana terdapat interaksi antara petugas kirim dan penerima Sosialisasi ini juga menjadi informasi lebih lanjut dan dalam yang mereka dapatkan terkait program permakanan apakah baik untuk dirinya ataupun sebaliknya. Objektivasi Lansia. Penyandang Disabilitas, dan Yatim Dalam penelitian ini proses objektivasi masyarakat penerima bantuan seperti lansia, penyandang disabilitas, dan yatim juga dipengaruhi struktur relevansi, di mana terdapat alasan yang melatarbelakangi suatu tindakan tersebut hingga menjadi sebuah keputusan. Pada momen objektivasi lansia, penyandang disabilitas, dan yatim mulai terbiasa dengan peran barunya sebagai penerima bantuan permakanan salah satu contohnya yakni menerima dan mengonsumsi bantuan tersebut. Hasil pengetahuan dan realitas sosial yang selaras menghasilkan pemahaman individu yang membentuk realitas objektif. Para penerima bantuan seperti lansia, penyandang disabilitas, dan yatim disini menyadari alasan pemerintah mengeluarkan program permakanan serta menyadari untuk apa mereka mengikuti peraturan dari pemerintah. Artinya, para penerima bantuan dalam masyarakat memahami bahwa program permakanan merupakan inisiatif dari Pemerintah Kota Surabaya untuk memberikan bantuan makanan atau memenuhi kebutuhan dasar kepada masyarakat yang telah memenuhi syarat yang telah ditentukan menjadi penerima bantuan. Dalam penelitian ini memiliki hasil bahwa tahap objektivasi lansia, penyandang disabilitas, dan yatim tentang program permakanan dalam beberapa bagian yang sama-sama berbentuk positif sebagai berikut: Objektivasi lansia tentang program permakanan sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap lansia terkait pemenuhan kebutuhan gizi harian. Objektivasi penyandang disabilitas dan yatim tentang program permakanan sebagai bentuk jaminan sosial yang membantu mereka untuk meningkatkan Dalam konteks program permakanan, objektivasi pertama yang muncul adalah pemahaman bahwa program ini merupakan wujud perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan lansia, khususnya dalam hal pemenuhan kebutuhan gizi harian. Pemahaman ini terbentuk di kalangan lansia yang sebelumnya kurang memperhatikan kualitas nutrisi makanan mereka. Kondisi ini sebagian besar disebabkan oleh keterbatasan ekonomi keluarga, yang mengakibatkan mereka hanya mampu menyediakan makanan seadanya tanpa mempertimbangkan aspek gizi. Bagi para lansia ini, konsep 'makan' sebelumnya hanya terbatas pada pemenuhan rasa lapar, tanpa mempertimbangkan kandungan nutrisi yang diperlukan tubuh. Dengan adanya program ini, terjadi pergeseran pemahaman dari sekadar 'makan untuk kenyang' menjadi kesadaran akan pentingnya asupan gizi yang seimbang untuk kesehatan mereka. Lebih lanjut, objektivasi kedua yang muncul adalah pemahaman program permakanan sebagai bentuk jaminan sosial yang berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan Objektivasi ini terbentuk terutama di kalangan penerima bantuan dengan kategori penyandang disabilitas dan anak yatim. Mereka memiliki pemahaman dasar bahwa berbagai jenis bantuan, termasuk program permakanan, dirancang dengan tujuan positif untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi mereka. Kedua kelompok ini memandang program permakanan sebagai inisiatif yang sangat bermanfaat dan membawa dampak positif yang signifikan bagi Paradigma. Volume 13. Number 2, 131-140, 2024 kesejahteraan mereka. Manfaat yang dirasakan tidak hanya terbatas pada aspek pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga meluas ke aspek sosial dan finansial kehidupan mereka. Kesimpulan Tingginya angka Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kota Surabaya, terutama di kalangan lansia, penyandang disabilitas, dan yatim, telah mendorong Pemerintah Kota Surabaya untuk mencetuskan program permakanan sebagai bentuk bantuan sosial. Program ini bertujuan memberikan jaminan sosial dan perlindungan melalui penyediaan makanan bergizi. Penelitian ini mengungkapkan bahwa status sosial penerima bantuan di Kelurahan Gayungan tergolong kelas menengah ke bawah, dengan pendapatan bulanan berkisar antara Rp. 000 - Rp. Meskipun demikian, sebagian besar penerima bantuan memiliki rumah yang layak huni. Realitas objektif dan subjektif para penerima bantuan menunjukkan pemahaman positif terhadap program ini, yang dianggap sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Konstruksi sosial tentang program permakanan di kalangan penerima bantuan terbentuk melalui tiga proses: internalisasi, eksternalisasi, dan objektivasi. Proses internalisasi terjadi melalui sosialisasi yang memberikan pemahaman tentang tujuan program. Eksternalisasi terlihat dari penyesuaian diri penerima bantuan dengan merealisasikan bantuan sesuai peraturan yang berlaku. Sementara itu, objektivasi tercermin dari pemahaman penerima bantuan terhadap makna program permakanan sebagai inisiatif pemerintah yang membantu memenuhi kebutuhan dasar pangan dan meningkatkan Penelitian ini menunjukkan bahwa program permakanan telah berhasil memberikan dampak positif dan diterima dengan baik oleh para penerima bantuan di Kelurahan Gayungan. Daftar Pustaka