Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 Potensi Pembelajaran Sejarah dalam Menumbuhkan Growth Mindset Peserta Didik Dha Widhi Witir1 Jurusan Pendidikan Sejarah. Universitas Siliwangi. Indonesia dhawidhiwitir@unsil. Abstract: History education serves not only to introduce past events but also plays a crucial role in shaping students' character and mindset. One significant outcome is the cultivation of a growth mindset, which refers to the belief that abilities and intelligence can develop through effort, learning processes, and experience. This study aims to examine the potential of history education in fostering students' growth mindset through a library reseach method. The findings indicate that history learning can promote critical, logical, and reflective thinking, all of which are essential for the development of a growth mindset. A deep learning approach in history education is considered to have the potential in creating meaningful, enjoyable, and contextual learning experiences, ultimately encouraging students to be resilient and open to continuous learning. However, the implementation of history education in fostering a growth mindset still faces several challenges, including the dominance of conventional teaching methods, limited teacher training, and the persistence of a fixed mindset within society. Keywords: History learning, growth mindset, deep learning, 21st century education Abstrak: Pembelajaran sejarah bukan hanya memiliki fungsi untuk mengenalkan peristiwa masa lalu, tetapi juga membentuk karakter dan pola pikir peserta didik. Salah satu bentuknya adalah menumbuhkan growth mindset yang merupakan keyakinan bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat berkembang melalui usaha, proses belajar, dan pengalaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi pembelajaran sejarah dalam menumbuhkan growth mindset peserta didik melalui metode penelitian kepustakaan. Hasil temuan menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah dinilai mampu membentuk cara berpikir kritis, logis, dan reflektif yang dapat mendukung pengembangan growth mindset. Pendekatan deep learning dalam pembelajaran sejarah dinilai berpotensi untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, menyenangkan, dan kontekstual yang pada akhirnya mendorong peserta didik untuk memiliki sikap tidak mudah menyerah dan terbuka terhadap proses belajar. Akan tetapi, implementasi pembelajaran sejarah dalam menumbuhkan growth mindset masih menghadapi tantangan seperti dominasi pendekatan konvensional, minimnya pelatihan guru, dan masih terdapat fixed mindset di kalangan masyarakat. Kata Kunci : Pembelajaran sejarah, growth mindset, deep learning, pendidikan abad 21 Pendahuluan Pendidikan memiliki peran dalam proses transfer pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan karakter. Sejalan dengan hal tersebut, proses pendidikan harus dilakukan secara holistik, mencakup aspek akademis, sosial, emosional, maupun moral yang harapannya membentuk manusia dengan karakter yang bertanggung jawab, beretika, serta dapat berperan dalam kehidupan di masyarakat. 1 Pada pendidikan abad 21. Anita Candra Dewi et al. AuPendidikan Menjadi Pondasi Dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik,Ay Jurnal Ilmiah Mahasiswa 2, no. : 62, https://doi. org/10. 31539/jima. Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 pendidikan karakter dipandang sebagai hal yang penting. Pendidikan karakter untuk generasi muda dipandang sebagai dasar dalam menghadapi tantangan dan kompleksitas kehidupan akibat perkembangan teknologi maupun perubahan sosial yang terjadi secara Pendidikan abad 21 juga mendorong penyelenggaraan pendidikan yang mampu beradaptasi terhadap perubahan zaman. Pendidikan abad 21 diharapkan menghasilkan manusia yang dapat bertahan hidup dan berkompetensi dalam berbagai aspek kehidupan yang ada. 3 Manusia yang dihasilkan melalui pendidikan harus menguasai berbagai keterampilan yang dibutuhkan di abad 21. Keterampilan yang dibutuhkan pada abad 21, yaitu keterampilan dalam berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis dan pemecahan masalah, serta kreatif dan inovatif. 4 Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa pendidikan abad 21 diarahkan untuk menghasilkan manusia yang siap untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam kondisi perubahan yang terjadi secara dinamis. Salah satu kategori suksesnya kegiatan pendidikan adalah tercapainya tujuan Motivasi belajar peserta didik menjadi salah satu aspek penting untuk mendorong ketercapaian tujuan pembelajaran. Proses penumbuhan motivasi belajar dapat dilakukan dengan menumbuhkan growth mindset. Peserta didik yang telah memiliki growth mindset akan berpandangan bahwa berbagai hal dalam dirinya bisa berkembang melalui proses pembelajaran dan pengalaman. Peserta didik kemudian akan memiliki konsep belajar maupun perilaku yang positif dengan kepercayaan bahwa kecerdasan akan meningkat seiring proses pembelajaran dan pengalaman yang dilalui. Growth mindset secara umum penting ditumbuhkan pada generasi hari ini karena generasi hari ini sering kali dikaitkan dengan generasi stroberi yang dianggap tidak kuat dalam menghadapi tekanan, sehingga dianggap mudah rapuh dan hancur sebagaimana buah stroberi. 6 Growth mindset merupakan pola pikir berkembang yang meyakini bahwa berbagai hal dalam diri manusia dapat mengalami perkembangan karena usaha yang dilakukan, meskipun dalam prosesnya menghadapi tantangan dan kesulitan. Pada aspek pendidikan, growth mindset penting dalam mendukung adanya generasi yang memiliki prestasi belajar tinggi. Hal tersebut diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan dari pendidikan dalam rangka menghasilkan generasi yang berkualitas melalui pengembangan berbagai potensi yang ada. Rinanda Aprillionita. AuUrgensi Pendidikan Karakter Terhadap Pembelajaran Abad 21 Di Sekolah Dasar,Ay Attadib: Journal of Elementary Education 8, no. , https://doi. org/10. 32507/attadib. Afandi. Tulus Junanto, and Rachmi Afriani. AuImplementasi Digital-Age Literacy Dalam Pendidikan Abad 21 Di Indonesia,Ay in Prosiding SNPS (Seminar Nasional Pendidikan Sain. , 2016, 115, https://media. com/media/publications/173402-ID-none. Slamet Widodo and Rizky Kusuma Wardani. AuMengajarkan Keterampilan Abad 21 4C (Communication. Collaboration. Critical Thinking and Problem Solving. Creativity and Innovatio. Di Sekolah Dasar,Ay MODELING: Jurnal Program Studi PGMI 7, no. : 186, https://doi. org/10. 69896/modeling. Nasril Nasar Nasril. AuUrgensi Mindset Tumbuh (Growth Mindse. Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik,Ay SALIHA: Jurnal Pendidikan & Agama Islam 6, no. : 368, https://doi. org/10. 54396/saliha. Syifa Aulia. Tati Meilani, and Zachrah Nabillah. AuStrawberry Generation: Dilematis Keterampilan Mendidik Generasi Masa Kini,Ay Jurnal Pendidikan 31, no. : 243, https://doi. org/10. 32585/jp. Evi Srihastuti and Fitri Wulandari. AuUrgensi Growth Mindset Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Di Masa Pandemi Covid 19,Ay Widya Genitri: Jurnal Ilmiah Pendidikan. Agama Dan Kebudayaan Hindu 12, no. : 164, https://doi. org/10. 36417/widyagenitri. Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 Menumbuhkan growth mindset pada diri peserta didik senantiasa berkaitan dengan kegiatan pembelajaran pada mata pelajaran di sekolah. Sejarah menjadi salah satu mata pelajaran yang memiliki potensi dalam rangka mendorong proses penumbuhan growth mindset pada diri peserta didik. Sejarah merupakan ilmu yang berkaitan dengan peristiwa di masa lalu, perkembangan peradaban manusia, serta berbagai interaksi manusia yang terjadi di dalamnya. 8 Mempelajari sejarah dapat memberikan manfaat untuk dapat mengetahui berbagai peristiwa sejarah yang terjadi dan mendapat berbagai pelajaran yang berharga dari tokoh dalam peristiwa sejarah. Pembelajaran sejarah dinilai juga sebagai mata pelajaran yang bermuatan banyak nilai karakter yang kemudian dapat dijadikan inspirasi dan pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Nilai karakter yang termuat dalam pembelajaran sejarah merupakan nilai karakter luhur yang sudah ada dalam masyarakat Indonesia dari zaman dahulu hingga zaman ini. Melalui pembelajaran sejarah seorang akan mampu memahami banyak hal, seperti persoalan ekonomi di masa lalu, politik di masa lalu, hingga keberhasilan tokoh di masa lalu. Hal yang telah dipelajari menjadi dasar untuk menjalani kehidupan saat ini dengan tidak mengulang berbagai kesalahan yang pernah terjadi di masa lampau. Di antara berbagai hal baik dalam pembelajaran sejarah, sejarah masih saja erat dengan citra sebagai pelajaran yang sulit, didominasi hafalan, tidak menarik, dan 11 Berdasarkan masalah tersebut, guru sebagai pendidik hendaknya bertanggung jawab dengan menciptakan pembelajaran sejarah yang berkualitas. Pembelajaran sejarah harus berorientasi bukan hanya cerita dengan latar belakang masa lampau, tetapi harus berorientasi terhadap pembelajaran sejarah yang bermakna dan sarat akan nilai. Pembelajaran sejarah sebenarnya dapat diarahkan untuk menciptakan pengalaman belajar serta menciptakan lingkungan belajar yang mendorong pemahaman dari peserta didik. Harapannya, pada diri peserta didik akan tumbuh keterampilan berpikir tingkat tinggi serta menerapkan pengetahuan yang telah didapatkan dari materi pembelajaran sejarah dalam kehidupan. Berbagai kondisi hari ini memungkinkan untuk terselenggaranya pendekatan pembelajaran mendalam dalam pembelajaran sejarah. Harapannya, pembelajaran sejarah bermanfaat dan membentuk pemahaman peserta didik terhadap masa lalu dan mempengaruhi perkembangan bangsa ke arah yang lebih baik. samping itu, pembelajaran sejarah kemudian juga tidak dipandang oleh peserta didik sebagai pembelajaran yang satu arah, tekstual, dan erat dengan aktivitas menghafal. Yussi Martha et al. AuKonsep Dasar Sejarah: Implementasinya Dalam Pembelajaran,Ay Bersatu: Jurnal Pendidikan Bhinneka Tunggal Ika 1, no. : 174, https://doi. org/10. 51903/bersatu. Prihadi Dwi Hatmono. AuHistoriografi Buku Teks Sejarah Lokal Pada Pembelajaran Sejarah,Ay SABBHATA YATRA : Jurnal Pariwisata Dan Budaya 2, no. : 62, https://doi. org/10. 53565/sabbhatayatra. Ridho Bayu Yefterson and Abdul Salam. AuNilai-Nilai Kesejarahan Dalam Pembelajaran Sejarah Indonesia (Studi Naturalistik Inkuiri Di Sma Kota Padan. ,Ay Diakronika 17, no. : 180, https://doi. org/10. 24036/diakronika/vol17-iss2/28. Putut Wisnu Kurniawan. AuPemanfaatan Media Pembelajaran Sejarah Berbasis Teknologi Digital,Ay in PRODIKSEMA i Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sejarah Dan Ilmu Sosial, 2024, 54, https://ojs. id/index. php/prodiksema/article/view/4534. Iqrima Basri and Hera Hastuti. AuBagaimana Sejarah Seharusnya Diajarkan?,Ay Jurnal Kronologi 2, no. 146, https://doi. org/10. 24036/jk. Ira Fatmawati. AuTransformasi Pembelajaran Sejarah Dengan Deep Learning Berbasis Digital Untuk Gen Z,Ay Revorma: Jurnal Pendidikan Dan Pemikiran 5, no. : 37Ae38, https://doi. org/10. 62825/revorma. Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 Pembelajaran sejarah sesungguhnya mampu diarahkan untuk lebih bermakna dan menumbuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Kegiatan pembelajaran sejarah yang tepat menjadi hal utama untuk menanamkan berbagai nilai dari materi sejarah kepada peserta didik, seperti nilai perjuangan, ketekunan, serta kesadaran yang mendorong peserta didik untuk belajar dari kesalahan di masa lampau. Karakteristik pembelajaran sejarah tersebut berpotensi untuk mendorong proses penumbuhan growth mindset pada diri peserta didik. Oleh sebab itu, penting untuk mengaji lebih jauh bagaimana potensi pembelajaran sejarah dalam menumbuhkan growth mindset pada diri peserta didik. Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan metode penelitian kepustakaan, yaitu metode yang mencakup pengumpulan data dari berbagai sumber literatur, kegiatan membaca dan mencatat, serta pengolahan bahan-bahan yang relevan dengan topik 14 Sumber literatur yang dikaji dalam penelitian ini, meliputi buku dan artikel dari jurnal yang sesuai dan relevan dengan topik penelitian yang berkaitan dengan growth mindset dan pembelajaran sejarah. Fokus kajian terhadap sumber literatur diarahkan untuk dapat memberikan pembahasan terhadap beberapa hal berikut, meliputi: . keterkaitan pembelajaran sejarah dengan growth mindset, . deep learning dalam pembelajaran sejarah untuk menumbuhkan growth mindset, dan . tantangan implementasi pembelajaran sejarah dalam menumbuhkan growth mindset. Hasil dan Pembahasan Keterkaitan Pembelajaran Sejarah dengan Growth Mindset Pembelajaran sejarah merupakan pembelajaran yang membekali peserta didik untuk memahami peristiwa yang terjadi di masa lampau. Pembelajaran sejarah dilakukan dengan mengaitkan materi pembelajaran dengan situasi nyata di lingkungan Melalui pembelajaran sejarah, peserta didik dapat membayangkan serta merekonstruksi berbagai peristiwa dalam sejarah sebagaimana yang dipelajari. Berbagai peristiwa dalam sejarah tentunya menjadi materi dari pembelajaran Materi dalam pembelajaran sejarah memiliki peran penting dalam mengembangkan potensi peserta didik supaya lebih memahami dan mengapresiasi nilai luhur yang sudah diperjuangkan pada masa lampau, dijaga pada masa kini, dan relevan untuk dikembangkan di masa depan. Pada pembelajaran sejarah, materi berupa peristiwa yang disajikan merupakan peristiwa atau kejadian nyata yang sungguh terjadi, sehingga bukan sekadar kisah fiktif. Pembelajaran sejarah yang dilakukan secara baik tidak hanya fokus pada pengetahuan terkait peristiwa sejarah saja. Peserta didik juga dituntut untuk dapat memiliki pemahaman terhadap perkembangan dari peristiwa bersejarah dengan imajinatif serta kritis. Pembelajaran sejarah memiliki nilai pendidikan berupa Mestika Zed. Metode Penelitian Kepustakaan (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2. , 3. Yeni Asmara. AuPembelajaran Sejarah Menjadi Bermakna Dengan Pendekatan Kontektual,Ay Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Riset Sosial-Humaniora 2, no. : 119, https://doi. org/10. 31539/kaganga. Mustika Zahro. Sumardi, and Marjono. AuThe Implementation Of The Character Education In History Teaching,Ay Jurnal Historica 1, no. : 3, https://jurnal. id/index. php/JHIS/article/view/5095/3760. Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 keterampilan dalam memahami sejarah yang kemudian bisa diterapkan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari hingga berbagai bidang lainnya, seperti sosial, budaya, maupun politik. Pembelajaran sejarah juga mendorong terciptanya keterampilan berpikir sejarah bagi peserta didik. Keterampilan berpikir sejarah menjadi modal penting dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik. 18 Oleh sebab itu, dengan kemampuan sejarah dan berpikir kritis peserta didik dalam memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki terkait masa lampau untuk memahami kehidupan yang terjadi di masa kini dan kehidupan di masa yang akan datang. 19 Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa pembelajaran sejarah dapat membentuk keterampilan berpikir kritis peserta didik. Pembelajaran sejarah memang idealnya menjadi ruang untuk membentuk keterampilan berpikir kritis bagi peserta didik. Adapun cara yang dapat dilakukan adalah memberikan kebebasan berpikir dalam aktivitas pembelajaran dengan melibatkan peserta didik secara aktif guna mengolah fakta dan data sejarah. Keterlibatan peserta didik penting untuk menumbuhkan perilaku yang dilandasi nilai moral dan perilaku dari peristiwa sejarah di masa lampau. Oleh sebab itu, peserta didik harus memiliki kebiasaan berpikir secara logis dan sistematis. Pembelajaran sejarah yang mendorong kebebasan berpikir menyebabkan kegiatan pembelajaran menjadi hidup, menyenangkan dan komunikatif. Peserta didik akan menyadari pentingnya belajar sejarah. Pembelajaran sejarah tidak akan hanya menghafal, tetapi juga proses untuk berpikir dan melatih nalar peserta didik. Proses pembelajaran sejarah kemudian membentuk peserta didik dengan keterampilan berpikir kritis dan analitis. Pembelajaran sejarah kemudian juga memberikan ruang berpikir yang akan sejalan dengan berbagai pandangan, seperti perenialisme, esensialisme, serta pendekatan kontekstual. Pembelajaran sejarah memainkan peran vital dalam membentuk karakter Lebih dari sekadar menyampaikan kejadian masa lampau, pembelajaran sejarah juga menanamkan berbagai nilai moral, etika, serta semangat kebangsaan yang menjadi landasan pembentukan individu yang berkarakter. Melalui pemahaman sejarah, peserta didik akan dilatih untuk mencintai tanah air, menghargai perbedaan, dan berpikir kritis dalam menghadapi persoalan sosial dan tantangan global. Dengan demikian, sejarah turut mencetak generasi yang kuat, jujur, serta bertanggung jawab. Pembelajaran sejarah juga memiliki kontribusi besar dalam membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya nilai kebangsaan, identitas nasional, dan rasa tanggung jawab. Pembelajaran sejarah mendorong proses untuk mengenali dan Brian Garvey and Mary Krug. Model-Model Pembelajaran Sejarah Di Sekolah Menengah (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2. , 4. Wulan Nurjanah. AuHistorical Thinking Skils Dan Critical Thinking Skills,Ay Historika 23, no. : 102, https://doi. org/10. 20961/historika. Ofianto Ofianto. AuModel Learning Continuum Keterampilan Berpikir Historis (Historical Thingkin. Pembelajaran Sejarah SMA,Ay Diakronika 17, no. 2 (January 1, 2. : 164, https://doi. org/10. 24036/diakronika/vol17-iss2/27. Yusuf Budi Prasetya Santosa and Hendi Irawan. AuPembelajaran Sejarah Dan Kebebasan Berpikir,Ay CHRONOLOGIA 2, no. : 86, https://doi. org/10. 22236/jhe. Ibid. , 87. Agus Susilo. Khoirul Anwar, and Leo Agung S. AuPeran Pembelajaran Sejarah Dalam Membangun Karakter Bangsa Menuju Kemajuan Dan Persatuan,Ay Journal of Education and Instruction (JOEAI) 7, no. : 557, https://doi. org/10. 31539/joeai. Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 menghargai perjuangan para pendahulu serta memahami dinamika panjang dalam proses berdirinya bangsa. Nilai-nilai seperti nasionalisme, patriotisme, toleransi, dan persatuan diperkenalkan melalui materi pembelajaran sejarah untuk membentuk jati diri bangsa. Pembelajaran sejarah juga mendorong peserta didik untuk mampu menilai masa lalu secara bijak, belajar dari kesalahan yang pernah terjadi, dan menciptakan solusi yang lebih baik guna menghadapi masa depan. Hal ini kemudian mendukung terwujudnya masyarakat yang arif dalam menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi dan mendorong kemajuan bangsa secara berkesinambungan. Harapannya, akan tercipta kesadaran sejarah yang memperkuat solidaritas nasional dan bangsa Indonesia tetap utuh dan harmonis dalam menjaga identitas serta martabatnya. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sejarah memiliki peran penting dalam pembentukan pemahaman peserta didik mengenai peristiwa yang terjadi di masa lampau dan menanamkan nilai-nilai luhur yang relevan untuk masa kini dan masa Melalui pembelajaran sejarah, peserta didik didorong untuk berpikir logis, sistematis, dan kritis, sehingga tidak sekadar menghafal, tetapi mampu menganalisis dan merefleksikan makna dari peristiwa sejarah. Pembelajaran sejarah juga dapat menumbuhkan karakter, semangat kebangsaan, dan kesadaran kolektif terhadap pentingnya identitas nasional dan tanggung jawab sosial. Peserta didik melalui pembelajaran sejarah juga dilatih supaya dapat belajar dari kesalahan masa lalu guna menciptakan solusi yang lebih baik di masa depan. Dengan demikian, pembelajaran sejarah diharapkan berperan dalam membentuk generasi yang cerdas, bijak, dan bertanggung jawab dalam menjaga persatuan serta martabat bangsa. Di sisi lain, growth mindset atau mindset tumbuh merupakan suatu mindset yang berpandangan bahwa kemampuan dasar maupun kecerdasan seseorang bukanlah suatu yang bersifat tetap. Hal tersebut dipandang dapat berkembang dan ditumbuhkan melalui usaha dan kerja keras. Setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda, baik dari segi bakat, kemampuan awal, minat, maupun kepribadian, tetapi semuanya memiliki peluang untuk berkembang. Proses pembelajaran dan pengalaman hidup menjadi sarana penting dalam membentuk proses perkembangan tersebut. Oleh sebab itu, growth mindset dapat dikatakan menekankan bahwa apa yang dimiliki oleh seseorang pada titik awal hanyalah untuk pengembangan. Growth mindet tentu berlainan dengan fixed mindset. Seseorang dengan fixed mindset akan meyakini bahwa kecerdasan, bakat, dan kemampuan lain bersifat tetap dan tidak dapat diubah. Seorang dengan fixed mindset juga meyakini bahwa setiap orang memiliki kapasitas tertentu yang merupakan bawaan lahir. Fixed mindset pada seseorang secara umum sudah terbentuk sejak usia dini. Dampaknya, seseorang dengan fixed mindset akan cenderung untuk menghindari berbagai hal yang dirasa bukan bakat alaminya, sehingga akan memilih menyerah jika tidak langsung dapat Atas kondisi tersebut, seseorang dengan fixed mindset akan bekerja keras menunjukkan kelebihannya dan menyembunyikan kekurangannya. 25 Oleh sebab Ibid. Carol S. Dweck. Mindset: Mengubah Pola Pikir Untuk Perubahan Besar Dalam Hidup Anda (Tangerang Selatan: PT Bentara Aksara Cahaya, 2. , 7. Annie Brock and Heather Hundley. The Growth Mindset Coach: Seni Mengajar Pola Pikir Tumbuh Agar Murid Berprestasi Tanpa Batas (Tangerang Selatan: PT Bentara Aksara Cahaya, 2. , 18Ae19. Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 itu, fixed mindset berbalikan dengan growth mindset yang senantiasa meyakini seseorang dapat berkembang. Seseorang yang memiliki growth mindset pada dirinya akan berpandangan terbuka terhadap peluang berkembang. Misal dalam aspek intelegensi, seseorang dengan growth mindset senantiasa berpandangan bahwa, tidak masalah terkait tingkat intelegensi yang dimiliki karena merasa selalu dapat berkembang. Seseorang dengan growth mindset juga akan percaya bahwa secara substansial tingkat kecerdasan dapat selalu diubah oleh usaha. Begitu pula pada aspek kepribadian dan karakter, seorang dengan growth mindset akan berpandangan bahwa kepribadian yang dimiliki dengan jenis apa pun tidak masalah karena selalu dapat diubah dengan usaha, termasuk untuk hal-hal dasar terkait kepribadian tersebut. Growth mindset harus diupayakan pembentukannya di lingkungan sekolah dengan didukung oleh pendekatan mengajar dan kurikulum yang kuat. Peserta didik perlu percaya bahwa mereka dapat sukses dalam aktivitas di sekolah. Guru tentu juga harus menciptakan pengalaman belajar yang menarik, bermanfaat, mudah dipahami, dan bermakna. Dengan begitu, growth mindset dapat benar-benar membantu meningkatkan prestasi belajar. Growth mindset mendorong seseorang untuk tidak takut salah, terlihat bodoh, dan lebih fokus pada proses belajar itu sendiri dengan apapun latar belakang mereka. Dapat disimpulkan bahwa growth mindset merupakan suatu pola pikir yang meyakini bahwa kecerdasan dan kemampuan seseorang bisa berkembang melalui usaha dan kerja keras. Growth mindset berbeda dengan fixed mindset yang menganggap bakat dan kecerdasan sebagai sesuatu yang tetap. Seseorang dengan growth mindset lebih terbuka terhadap proses belajar, tidak takut gagal, dan percaya bahwa segala aspek, termasuk kecerdasan dan kepribadian, bisa berubah seiring waktu. Upaya menumbuhkan growth mindset dapat didukung oleh sekolah melalui pendekatan pengajaran dan kurikulum yang kuat. Di samping itu, perlu juga untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, sehingga siswa dari berbagai latar belakang mampu berkembang dan meraih prestasi belajar yang maksimal. Berdasarkan uraian mengenai pembelajaran dan growth mindset, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sejarah memiliki keterkaitan dengan growth mindset. Pembelajaran sejarah melalui pemahaman tentang peristiwa masa lalu, mengajak peserta didik supaya dapat berpikir kritis, reflektif, dan belajar dari kesalahan yang telah terjadi. Hal tersebut juga mendorong peserta didik agar melihat kegagalan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Hal tersebut sesuai dengan growth mindset yang meyakini kecerdasan dan kemampuan seseorang dapat berkembang dengan usaha dan kerja keras. Dengan pendekatan pengajaran yang kuat dan kurikulum yang mendorong pembelajaran bermakna, pembelajaran sejarah dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan growth mindset yang mendorong peserta didik dari berbagai latar belakang dapat berkembang dan meraih prestasi maksimal. Oleh sebab itu, pembelajaran sejarah dapat menghasilkan peserta didik yang tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang masa lalu, tetapi juga kemampuan untuk menghadapi tantangan masa depan dengan percaya diri dan tekad untuk terus belajar. Dweck. Mindset: Mengubah Pola Pikir Untuk Perubahan Besar Dalam Hidup Anda, 17. Brock and Hundley. The Growth Mindset Coach: Seni Mengajar Pola Pikir Tumbuh Agar Murid Berprestasi Tanpa Batas, 33. Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 Deep Learning dalam Pembelajaran Sejarah untuk Menumbuhkan Growth Mindset Deep learning atau pembelajaran mendalam dalam dunia pendidikan dapat dijelaskan sebagai pendekatan belajar yang mengajak peserta didik untuk benar-benar memahami materi, bukan sekadar menghafalnya. Peserta didik diajak berpikir secara kritis, kreatif, dan reflektif, serta mampu menerapkan pengetahuan yang didapat dalam kehidupan nyata. Deep learning dapat membuat peserta didik lebih aktif terlibat secara sosial dan emosional serta membantu peserta didik dalam mengembangkan keterampilan penting seperti memecahkan masalah, berinovasi, dan bekerja sama. Teknologi juga sangat membantu dalam proses ini, terutama untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan masing-masing peserta didik. Pembelajaran dengan pendekatan deep learning dilakukan dengan prinsip utama, meliputi pembelajaran berkesadaran, pembelajaran bermakna, dan pembelajaran yang menggembirakan. 29 Tiga prinsip utama tersebut tentu berperan penting dalam menumbuhkan growth mindset, khususnya melalui pembelajaran Pembelajaran berkesadaran mendorong peserta didik untuk dapat menyadari pentingnya mempelajari sejarah dan manfaatnya untuk kehidupan mereka. Pembelajaran bermakna mendorong peserta didik untuk dapat mengaitkan pengetahuan sejarah dengan konteks kehidupan nyata, sehingga dapat memahami, memaknai, serta mengamalkan berbagai nilai sejarah dalam kehidupan. Pembelajaran menggembirakan memperkuat motivasi belajar melalui suasana kelas yang positif dan menyenangkan, sehingga peserta didik dapat lebih semangat dalam belajar. Tiga prinsip deep learning tersebut mendorong tumbuhnya growth mindset pada diri peserta didik. Peserta didik akan yakin bahwa kemampuannya dapat berkembang dengan belajar, usaha, dan Deep learning atau pembelajaran mendalam dalam implementasinya di Indonesia diharapkan menghadirkan pengalaman belajar melalui proses memahami, mengaplikasi, serta merefleksi. Proses memahami merupakan tahap awal supaya peserta didik dapat memahami tujuan belajar dan memahami pengetahuan dasar yang diperoleh, sehingga peserta didik diharapkan dapat menerapkan pemahamannya dalam situasi kontekstual atau dalam tahapan berikutnya. Proses mengaplikasi mendorong peserta didik untuk dapat menerapkan pengetahuan yang telah dipahami sebagai dasar guna memecahkan masalah nyata, baik secara individu maupun kelompok. Proses merefleksi mendorong peserta didik untuk mampu menilai dan memahami pengalaman belajarnya, termasuk hasil dan tantangan yang dihadapi. Hal tersebut bertujuan untuk memperbaiki diri dan cara belajarnya dengan dukungan umpan balik dan kesadaran diri supaya pembelajaran lebih bermakna dan berkelanjutan. 30 Oleh sebab itu, pengalaman belajar ini wajib ada pada proses pembelajaran sejarah guna menumbuhkan growth mindset. Aria Nur Akmal. Nur Maelasari, and Lusiana Lusiana. AuPemahaman Deep Learning Dalam Pendidikan: Analisis Literatur Melalui Metode Systematic Literature Review (SLR),Ay JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan 8, 3 . : 3234Ae35, https://doi. org/10. 54371/jiip. Fatmawati. AuTransformasi Pembelajaran Sejarah Dengan Deep Learning Berbasis Digital Untuk Gen Z,Ay 38. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Pembelajaran Mendalam: Menuju Pendidikan Bermutu Untuk Semua (Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Badan Standar. Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, 2. , 33Ae34. Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 Deep learning ketika diimplementasikan dalam pembelajaran sejarah dinilai dapat membuat pembelajaran sejarah lebih menarik. Peserta didik akan dilatih untuk dapat memiliki pemahaman yang baik terhadap materi pembelajaran sejarah secara mendalam dan bermakna. 31 Deep learning dapat diintegrasikan dengan model pembelajaran lain agar tercipta pengalaman belajar yang lebih bermakna dan 32 Deep learning bisa saja diimplementasikan bersama dengan model pembelajaran yang biasa digunakan dalam pembelajaran sejarah, seperti pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran inkuiri, pembelajaran berbasis proyek, dan sejenisnya yang tentu sesuai dengan prinsip pendekatan deep learning. Media pembelajaran perlu diperhatikan juga untuk menunjang kegiatan pembelajaran sejarah. Media pembelajaran dapat mempermudah peserta didik untuk dapat memahami peristiwa sejarah yang terjadi di masa lalu, mengaitkannya dengan masa kini, serta memproyeksikan masa depan. 33 Pembelajaran sejarah dapat menerapkan berbagai penerapan teknologi digital yang kreatif serta inovatif sebagai media pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran yang berbasis teknologi digital perlu memperhatikan aspek efektivitas, efisiensi, relevansi, dan dapat diimplementasikan dalam mendukung pembelajaran sejarah yang kontekstual. 34 Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa media pembelajaran penting untuk pembelajaran sejarah karena pemahaman atas peristiwa sejarah menjadi dasar terbentuknya growth mindset pada diri peserta didik. Penilaian juga harus menjadi perhatian dalam pembelajaran sejarah dengan pendekatan deep learning untuk mendukung tumbuhnya growth mindset peserta didik. Penilaian yang dilakukan tidak hanya fokus pada hasil, tetapi juga fokus pada proses belajar sebagai sarana refleksi dari guru dan peserta didik. Penilaian harus dilakukan dengan prinsip, seperti keadilan, objektivitas, keberlanjutan, dan keterhubungan dengan tujuan pendidikan dalam rangka menciptakan pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, dan memotivasi. Penilaian juga dilakukan baik secara formatif dan sumatif. Penilaian formatif memberikan umpan balik berkala kepada peserta didik untuk dapat memahami kemajuan belajar dan terus memperbaiki diri. Penilaian sumatif berfungsi untuk mengetahui berbagai gambaran tingkat pemahaman dan penguasaan materi yang telah Penilaian diri juga diperlukan sebagai sarana refleksi terhadap kemajuan diri dalam pembelajaran yang telah dilakukan. Berdasarkan uraian yang ada, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa deep learning dalam pembelajaran sejarah mendorong peserta didik memahami materi secara mendalam, berpikir kritis, serta mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan Pendekatan ini menekankan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan Aan Suryana and Jono Jono. AuParadigma Deep Learning Dalam Pembelajaran Sejarah Abad 21: Upaya Membangun Kemampuan Berpikir Kritis Siswa,Ay J-KIP (Jurnal Keguruan Dan Ilmu Pendidika. 6, no. 534, https://doi. org/10. 25157/j-kip. Akmal. Maelasari, and Lusiana. AuPemahaman Deep Learning Dalam Pendidikan: Analisis Literatur Melalui Metode Systematic Literature Review (SLR),Ay 3234Ae35. Putut Wisnu Kurniawan. AuPemanfaatan Media Pembelajaran Sejarah Berbasis Teknologi Digital,Ay 51. Ibid. , 56. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Pembelajaran Mendalam: Menuju Pendidikan Bermutu Untuk Semua, 40. Ibid. , 41. Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 menyenangkan untuk menumbuhkan growth mindset. Proses belajar mencakup memahami, mengaplikasikan, dan merefleksi dengan didukung oleh model pembelajaran dan media digital yang relevan. Penilaian dilakukan dengan penilaian formatif, penilaian sumatif, serta penilaian diri. Tantangan Implementasi Pembelajaran Sejarah dalam Menumbuhkan Growth Mindset Pembelajaran sejarah diyakini memiliki potensi dalam mendukung proses bertumbuhnya growth mindset pada peserta didik. Potensi pembelajaran sejarah tersebut memiliki tantangan dalam proses implementasinya. Beberapa tantangan yang berpotensi dihadapi pada implementasi pembelajaran yang sejarah yang berorientasi dalam menumbuhkan growth mindset pada diri peserta didik adalah sebagai berikut. Dominasi Pendekatan Konvensional Pembelajaran sejarah yang dilakukan di sekolah secara umum masih didominasi oleh pembelajaran yang bersifat konvensional. Pembelajaran sejarah dilakukan guru secara konvensional melalui ceramah yang membacakan atau melakukan pengulangan kalimat dari isi buku teks sejarah. Peserta didik dalam pembelajaran sejarah yang demikian hanya memiliki pengalaman belajar, meliputi mendengar, menghafal, serta mencatat sajian materi yang disampaikan guru. Peserta didik tidak akan mengerti bahkan memahami berbagai makna atau nilai dari materi yang dipelajari. Peserta didik kemudian akan sulit mengaitkan kegunaan pembelajaran sejarah dengan kehidupannya. Hal tersebut mendorong persepsi peserta didik bahwa pembelajaran sejarah menjenuhkan, membosankan, serta tidak penting untuk dipelajari. 37 Oleh sebab itu, perlu guru perlu melakukan transformasi pembelajaran sejarah supaya lebih menyenangkan dan bermakna guna mendorong proses penumbuhan growth mindset peserta didik. Pelatihan Growth Mindset Guru Perlu Intensif Guru perlu meningkatkan kompetensinya supaya dapat memiliki growth 38 Pelaksanaan kegiatan penguatan growth mindset bagi guru kemudian menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Guru yang telah memiliki growth mindset akan memiliki pandangan segala macam hambatan dalam implementasi kurikulum merupakan tantangan untuk guru supaya bisa lebih berkembang. Pelatihan growth mindset bagi guru perlu dilakukan secara intensif. Pelatihan bagi guru yang tidak dilakukan secara intensif atau hanya dilakukan sekali pertemuan tidak dapat membuat pengaruh yang signifikan terhadap growth mindset guru. Oleh sebab itu, pelatihan growth mindset bagi guru perlu dilakukan secara lebih intensif supaya mendapat pengaruh signifikan terhadap growth mindset pada diri Asmara. AuPembelajaran Sejarah Menjadi Bermakna Dengan Pendekatan Kontektual,Ay 106. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Pembelajaran Mendalam: Menuju Pendidikan Bermutu Untuk Semua, iv. Sri Sugiarto et al. AuPenguatan Growth Mindset Guru Dalam Persiapan Implementasi Kurikulum Merdeka,Ay KARYA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat 2, no. : 77, https://jurnalfkip. id/KARYA_JPM/article/view/84/77. Fatin Rohmah Wahidah et al. AuGrowth Mindset Guru: Studi Efektivitas Pelatihan Menumbuhkan Growth Mindset Pada Guru,Ay Indonesian Psychological Research 4, no. : 83, https://doi. org/10. 29080/ipr. Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 guru dan berdampak growth mindset peserta didik melalui kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Kecenderungan Fixed Mindset Masyarakat yang cenderung memiliki fixed mindset masih ditemui di Indonesia saat ini. Kecenderungan fixed mindset semacam ini dapat menjadi penghambat untuk terjadinya perkembangan seorang individu maupun masyarakat secara umum. Kecenderungan fixed mindset di masyarakat dicontohkan seperti adanya cara pandang terhadap pentingnya pendidikan. Masih terdapat masyarakat Indonesia yang meyakini pendidikan tidak menjamin kesuksesan seseorang. Cara pandang yang mereka yakini didasarkan pada kondisi yang mereka lihat bahwa terdapat lulusan sarjana yang tidak memiliki pekerjaan. 41 Oleh sebab itu, kecenderungan fixed mindset ini menjadi suatu tantangan dalam rangka upaya menumbuhkan growth mindset peserta didik, khususnya melalui pembelajaran sejarah. Pembelajaran sejarah memang memiliki potensi yang besar guna mendukung proses penumbuhkan growth mindset, tetapi tantangan yang ada perlu diperhatikan supaya potensi yang ada dapat secara optimal terealisasi. Tantangan berupa dominasi pendekatan konvensional dalam pembelajaran sejarah, kurangnya pelatihan growth mindset bagi guru, serta masih adanya kecenderungan fixed mindset di masyarakat menjadi suatu tantangan yang nyata untuk dihadapi. Oleh sebab itu, diperlukan upaya kolaboratif antar pihak yang berkaitan untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut guna mendorong suksesnya pembelajaran sejarah yang mampu menumbuhkan growth mindset pada peserta didik. Kesimpulan Pembelajaran sejarah memiliki potensi untuk menumbuhkan growth mindset pada diri peserta didik. Materi pembelajaran sejarah menyajikan berbagai peristiwa dengan dimensi waktu masa lampau yang berpotensi memberikan pelajaran, sehingga peserta didik memperoleh motivasi atau dorongan dalam menumbuhkan growth mindset. Peserta didik akan terdorong supaya memiliki kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan belajar dari kesalahan berdasarkan pemahaman dari materi pembelajaran sejarah yang merupakan peristiwa di masa lampau. Pada akhirnya, peserta didik diharapkan dapat menghadapi tantangan yang ada di masa depan dengan berbekal pengetahuan dari masa Pembelajaran sejarah dapat dilakukan dengan pendekatan deep learning supaya materi pembelajaran dapat dipahami oleh peserta didik secara mendalam, menghasilkan peserta didik yang dapat berpikir kritis, serta peserta didik mampu mengaitkan pengetahuan terkait sejarah dengan peristiwa di kehidupan hari ini. Pelaksanaan pembelajaran perlu memperhatikan model pembelajaran, media pembelajaran, serta penilaian supaya growth mindset bisa tumbuh pada diri peserta didik. Penerapan berbagai metode pembelajaran lain yang dapat menciptakan pembelajaran menjadi lebih kreatif, menyenangkan, dan bermakna berpotensi untuk dapat dilakukan. Akan tetapi, kegiatan pembelajaran hendaknya masih memiliki tujuan menumbuhkan growth mindset pada diri peserta didik. Berbagai tantangan yang akan ditemui, di antaranya dominasi metode konvensional, kurangnya pelatihan bagi guru, dan kecenderungan fixed mindset di Faizah et al. AuResistensi Fixed Mindset Dalam Memengaruhi Kesadaran Masyarakat Terhadap Pendidikan,Ay Jurnal Riset Guru Indonesia 2, no. : 93, https://doi. org/10. 62388/jrgi. Jurnal REVORMA. Vol. No. Bulan November Tahun 2025 E-ISSN: 2808-4217 P-ISSN: 2808-6880 masyarakat harus diatasi melalui kolaborasi berbagai pihak supaya potensi pembelajaran sejarah untuk menumbuhkan growth mindset dapat tercapai. Bibliography