Cara Mengutip (Gaya APA): Anisa Rofiatun. J I Siti Poerwanti dan Siti Istiyati. Analisis Penerapan Nilai Sosial dalam Pembelajaran IPA Siswa Kelas V. Didaktika Dwija Indria, 14 . , 614-621. https://doi. org/10. 20961/ddi. Analisis Penerapan Nilai Sosial dalam Pembelajaran IPA Siswa Kelas V Anisa Rofiatun1. Jenny I S Poerwanti2 ,dan Siti Istiyati3 PGSD. FKIP. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Jawa Tengah. Indonesia PGSD. FKIP. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Jawa Tengah. Indonesia PGSD. FKIP. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Jawa Tengah. Indonesia Email penulis korespondensi: *anisahr03@student. Dikirim: 1 Januari 2026 Direvisi: 1 Maret 2026 Diterima: 1 April 2026 Kata Kunci: social values. IPS DOI: https://doi. org/10. 20961/ddi. Abstrak This study explores the implementation of social values in the context of Social Studies (IPS) learning in an elementary school setting. Conducted at SDN Karangasem IV, this research adopts a qualitative descriptive approach through observation, interviews, and questionnaires. The findings reveal that teachers integrated social values such as honesty, tolerance, responsibility, politeness, discipline, and mutual assistance into their instructional strategies. These strategies include cooperative learning, individual assignments, face to face instruction, teacher modeling, and value based sanctions. The integration of these approaches has led to an observable improvement in students character development, as evidenced by their behavior both inside and outside the This study suggests that IPS learning can serve as an effective medium for character education when teachers consistently apply values in contextual and pedagogically sound ways. PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Nilai sosial merupakan komponen fundamental dalam kehidupan masyarakat yang berfungsi sebagai pedoman berperilaku individu dalam lingkungan sosial. Nilai ini mencerminkan norma, etika, dan moral yang disepakati bersama dan ditanamkan sejak dini melalui berbagai institusi sosial, salah satunya adalah Jurnal Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. doi: : https://doi. org/10. 20961/ddi. A Penulis. Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons - Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 International License Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi lembaga pendidikan. Dalam konteks pendidikan dasar, nilai sosial tidak hanya menjadi bagian tambahan dalam pembelajaran, tetapi juga menjadi landasan penting bagi pembentukan karakter peserta didik (Nadhiva & Azharotunnafi, 2. Pendidikan memiliki peran krusial dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga dalam menanamkan nilai-nilai sosial yang mendasar (Cahyaningrum et al. , 2. Penanaman nilai sosial sejak dini diyakini dapat membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, namun juga berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan mampu hidup berdampingan dalam masyarakat yang heterogen (Ariyanti et al. , 2. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menjadi salah satu mata pelajaran yang berperan strategis dalam membentuk karakter sosial peserta didik (Rahmawati et al. , 2. IPS tidak hanya mengenalkan fakta dan konsep sosial, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan yang berkaitan erat dengan interaksi antarmanusia. Oleh karena itu, pembelajaran IPS idealnya tidak hanya berorientasi pada pencapaian kognitif, tetapi juga diarahkan untuk mengembangkan ranah afektif peserta didik (Hidayat, 2. Masalah Penelitian Meskipun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa belum semua siswa mampu menginternalisasi nilai-nilai sosial dengan baik. Berdasarkan hasil observasi awal di SDN Karangasem IV, masih ditemukan perilaku siswa yang kurang mencerminkan sikap sosial yang positif, seperti menyontek, tidak disiplin, serta tidak menghargai guru saat pembelajaran berlangsung (Azizah et al. , 2. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang digunakan guru belum sepenuhnya efektif dalam membentuk karakter siswa melalui integrasi nilai Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menanamkan nilai sosial disiplin, jujur, toleransi, sopan santun, dan tolong-menolong kepada peserta didiknya (Hadi. Keadaan Terkini Penelitian Guru memegang peran kunci dalam proses penanaman nilai sosial di sekolah. Tidak hanya sebagai penyampai materi, guru juga bertindak sebagai teladan, fasilitator nilai, dan pengelola lingkungan belajar yang kondusif (Husna et al. , 2. Melalui strategi pembelajaran yang tepat, guru dapat mengintegrasikan nilai sosial ke dalam kegiatan belajar sehari-hari, baik secara eksplisit melalui pengajaran langsung maupun secara implisit melalui sikap dan keteladanan (Hariandi, 2. Strategi seperti pembelajaran kooperatif, tugas individu, pendekatan tatap muka, pemberian sanksi edukatif, serta keteladanan guru terbukti memiliki pengaruh dalam membentuk perilaku sosial siswa secara bertahap (Hasanah & Himami, 2. Kebaruan,Kesenjangan Penelitian & Tujuan Penelitian ini secara khusus menyoroti proses penerapan nilai sosial oleh guru dalam pembelajaran IPS di kelas V SDN Karangasem IV, serta bagaimana hasil dari penerapan tersebut tercermin dalam perilaku dan sikap siswa selama proses Penelitian ini mengisi celah kajian yang secara spesifik mendeskripsikan dinamika nyata penerapan nilai sosial di SD melalui pendekatan Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi kualitatif deskriptif. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap upaya penguatan pendidikan karakter berbasis mata pelajaran IPS di sekolah dasar. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis studi kasus tunggal . Lokasi penelitian adalah SDN Karangasem IV. Surakarta, yang dipilih karena mudah diakses dan sesuai dengan karakteristik subjek yang diteliti. Subjek penelitian meliputi guru kelas V dan 32 siswa kelas V. Data dikumpulkan melalui observasi langsung pada proses pembelajaran, wawancara terstruktur dengan guru kelas, angket tertutup kepada siswa, dokumentasi pendukung . dministrasi sekolah, foto, daftar hadir, ds. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Validitas data diperoleh melalui triangulasi sumber dan HASIL Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai sosial dalam pembelajaran IPS di kelas V SDN Karangasem IV dilakukan secara terintegrasi melalui strategi pembelajaran, keteladanan guru, serta teguran edukatif, yang secara keseluruhan berdampak positif terhadap sikap siswa. Guru menggunakan strategi kooperatif untuk menumbuhkan kerja sama, toleransi, dan saling menghargai melalui diskusi kelompok, sementara strategi individu menekankan kejujuran dan tanggung jawab melalui tugas mandiri. Selain itu, pembelajaran tatap muka dimanfaatkan untuk membentuk sikap sopan santun dan kedisiplinan melalui interaksi langsung. Keteladanan guru juga menjadi faktor kunci, terlihat dari sikap disiplin, adil, dan komunikatif yang ditunjukkan dalam keseharian, sehingga mendorong siswa meniru perilaku positif tersebut. Dalam menghadapi pelanggaran, guru menerapkan teguran dan sanksi yang bersifat edukatif, seperti refleksi dan tugas tambahan, yang bertujuan membangun kesadaran siswa. Secara keseluruhan, pendekatan ini terbukti efektif dalam menginternalisasikan nilai-nilai sosial dan membentuk karakter siswa secara berkelanjutan. Untuk mengukur sejauh mana nilai sosial telah terinternalisasi oleh siswa, guru menyebarkan angket tertutup kepada 32 siswa kelas V. Lima indikator nilai sosial yang diukur meliputi: kejujuran, sopan santun, toleransi, disiplin, dan tolongmenolong. Gambar 1. Gambar Hasil Angket Nilai Kejujuran Siswa Kelas V Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi Sebanyak 70% siswa menyatakan AuSetujuAy bahwa mereka mengerjakan tugas tanpa mencontek. Persentase ini menunjukkan bahwa nilai kejujuran telah cukup berhasil diterapkan melalui tugas individu dan penguatan verbal guru. Hanya 3% yang menjawab AuRagu-raguAy, sementara 27% menjawab AuTidak SetujuAy, yang menandakan masih ada sebagian siswa yang belum sepenuhnya memiliki kesadaran akan pentingnya kejujuran akademik. Sementara itu. Gambar 2 tersebut memperlihatkan hasil angket pada indikator disiplin: Gambar 2. Gambar Hasil Angket Nilai Disiplin Siswa Kelas V Sebanyak 41% siswa menyatakan AuRagu-raguAy terhadap sikap disiplin, terutama dalam hal hadir tepat waktu, mengerjakan tugas sesuai jadwal, dan mematuhi aturan kelas. Hanya 24% yang memilih AuSetujuAy dan 8% AuSangat SetujuAy, sementara 27% menyatakan AuTidak SetujuAy. Data ini menunjukkan bahwa nilai disiplin merupakan aspek yang masih perlu dibina secara lebih intensif, baik melalui penguatan peraturan maupun pemberian konsekuensi yang mendidik. PEMBAHASAN Strategi Pembelajaran Berbasis Nilai Sosial Guru menerapkan strategi pembelajaran kooperatif, individu, dan tatap muka secara terintegrasi dalam pembelajaran IPS. Strategi kooperatif mendorong interaksi sosial melalui kerja kelompok yang menekankan nilai toleransi, saling menghargai, dan kerja sama (Nurbaiti et al. , 2. Dalam kegiatan kelompok, siswa diberikan topik diskusi terkait materi IPS yang mendorong mereka untuk saling berpendapat dan berbagi pemahaman. Guru secara aktif mengamati dinamika kelompok dan memberikan umpan balik untuk mengarahkan siswa menuju kerja sama yang sehat. Strategi individu digunakan untuk mengembangkan nilai kejujuran dan tanggung jawab (Wulandari & Radia, 2. Siswa diminta mengerjakan tugas secara mandiri, dan guru menegaskan bahwa jawaban harus merupakan hasil pemikiran sendiri. Strategi ini diperkuat dengan peringatan terhadap tindakan Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa tugas Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi individu yang disertai penguatan nilai dapat meningkatkan integritas akademik siswa (Husna et al. , 2. Pembelajaran tatap muka juga digunakan untuk membentuk nilai sopan santun dan kedisiplinan . Guru menanamkan nilai melalui komunikasi langsung dengan siswa, misalnya mengingatkan siswa untuk berbicara sopan, meminta izin saat keluar kelas, serta hadir tepat waktu. Pendekatan ini sesuai dengan temuan Ahmad & Amin, . , yang menyatakan bahwa interaksi langsung mempermudah penguatan nilai afektif siswa. Keteladanan dan Teguran Edukatif Guru berperan sebagai model nilai sosial dalam pembelajaran sehari-hari Observasi menunjukkan bahwa guru datang tepat waktu, menyapa siswa dengan ramah, menjaga tutur kata, dan berlaku adil kepada seluruh siswa tanpa diskriminasi (Nurbaiti et al. , 2. Keteladanan ini terbukti efektif karena siswa secara alamiah meniru perilaku guru, baik saat di dalam kelas maupun dalam interaksi informal di lingkungan sekolah. Ketika terjadi pelanggaran nilai sosial, seperti siswa yang tidak mengerjakan tugas atau berbicara saat guru menjelaskan, guru memberikan teguran secara verbal dengan nada edukatif. Dalam kasus berulang, guru meminta siswa membuat refleksi atau menyelesaikan tugas tambahan. Pendekatan ini dirancang untuk membangun kesadaran, bukan hukuman (Rosyada et al. , 2. Pendekatan ini lebih efektif dalam membentuk karakter jangka panjang dibanding hukuman langsung. Analisis Hasil Angket Nilai Sosial Hasil analisis angket menunjukkan bahwa tingkat internalisasi nilai sosial pada siswa kelas V bervariasi antar indikator. Pada aspek kejujuran, mayoritas siswa . %) menyatakan setuju bahwa mereka mengerjakan tugas tanpa mencontek, yang mengindikasikan bahwa nilai kejujuran sudah cukup tertanam melalui strategi tugas individu dan penguatan dari guru, meskipun masih terdapat 27% siswa yang belum menunjukkan sikap konsisten. Sebaliknya, pada aspek disiplin, hasilnya cenderung lebih rendah, ditandai dengan dominasi respon Auragu-raguAy sebesar 41%, serta persentase AusetujuAy dan Ausangat setujuAy yang relatif kecil . % secara keseluruha. Hal ini menunjukkan bahwa nilai disiplin belum terinternalisasi secara optimal, terutama dalam hal ketepatan waktu, kepatuhan terhadap aturan, dan tanggung jawab terhadap tugas. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih intensif dan konsisten dari guru dalam memperkuat nilai disiplin melalui pembiasaan, keteladanan, serta penerapan aturan yang jelas dan edukatif agar sikap disiplin siswa dapat berkembang secara lebih baik. Interpretasi Temuan Secara umum, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah mampu menerapkan nilai sosial seperti kejujuran, sopan santun, dan tolong-menolong dalam kehidupan sekolah (Djuwita, 2. Strategi yang diterapkan guru berjalan cukup efektif karena didukung oleh keteladanan dan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi Namun demikian, aspek disiplin masih menjadi tantangan utama yang perlu Ini menunjukkan bahwa penanaman nilai tidak cukup hanya melalui instruksi atau penugasan, melainkan perlu diperkuat dengan pembiasaan yang konsisten dan pengawasan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan temuan (Prodi et al. , 2. yang menyebutkan bahwa pembentukan nilai sosial yang bersifat struktural, seperti disiplin, memerlukan waktu dan komitmen jangka panjang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa integrasi nilai sosial dalam pembelajaran IPS terbukti efektif dalam membentuk sebagian besar aspek karakter siswa, asalkan dilakukan secara konsisten, kontekstual, dan didukung oleh pendekatan pembelajaran yang variatif dan reflektif. Tabel 1. Persentase Respon Siswa terhadap Nilai Sosial dalam Pembelajaran IPS Nilai Sosial Kejujuran Sopan Santun Toleransi Disiplin Tolong Menolong Sangat Setuju Setuju (%) (%) Ragu-ragu (%) Tidak Setuju (%) Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai kejujuran memiliki tingkat persetujuan tertinggi . % AuSetujuA. , sementara disiplin justru paling rendah, dengan 41% siswa menjawab AuRagu-raguAy. Nilai sopan santun dan tolong-menolong relatif baik, didukung respon AuSangat SetujuAy dan AuSetujuAy di atas 50%. Sebaliknya, nilai toleransi dan disiplin memerlukan perhatian lebih karena masih banyak siswa yang merasa ragu atau tidak setuju. Data ini mendukung analisis bahwa keberhasilan penanaman nilai bervariasi tergantung pendekatan guru dan konsistensi KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai sosial dalam pembelajaran IPS di kelas V SDN Karangasem IV dilakukan melalui strategi pembelajaran yang bervariasi, antara lain pembelajaran kooperatif, individu, dan tatap muka. Guru juga menggunakan pendekatan keteladanan dan sanksi edukatif untuk memperkuat internalisasi nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, sopan santun, toleransi, kedisiplinan, dan tolong-menolong. Strategi tersebut telah memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap perilaku siswa, yang tercermin dari hasil observasi dan data angket. Nilai kejujuran, sopan santun, dan kerja sama menjadi indikator yang paling berhasil ditanamkan, terbukti dari dominasi respon positif siswa. Namun, nilai disiplin masih menjadi tantangan, dengan sebagian besar siswa menyatakan ragu atau belum sepenuhnya menjalankan perilaku disiplin dalam pembelajaran. Temuan ini menegaskan bahwa penanaman nilai sosial tidak cukup dilakukan secara teoritis. Didaktika Dwija Indria Vol. No. April, 2026. Halaman. Attribution-NonCommercial-ShareAlike. Beberapa hak dilindungi tetapi harus diiringi dengan pembiasaan yang konsisten, pendekatan reflektif, dan keteladanan nyata dari guru. Dengan demikian, pembelajaran IPS memiliki potensi besar dalam penguatan pendidikan karakter jika dirancang secara kontekstual dan berbasis nilai. Peran guru menjadi faktor kunci yang menentukan keberhasilan internalisasi nilai sosial di sekolah dasar. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan pelatihan guru dan evaluasi berkelanjutan terhadap praktik pembelajaran berbasis nilai untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik. Kesimpulan ini memuat ringkasan hasil penelitian dan implikasi hasil penelitian. Kesimpulan ditulis secara singkat dan jelas. DAFTAR PUSTAKA