Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 56-64, 2025 DOI: https://doi. org /10. 51352/jim. RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DIABETES MELITUS DENGAN ULKUS DIABETIKUM DI BANJARMASIN. KALIMANTAN SELATAN. INDONESIA Submitted : 17 Januari 2025 Edited : 8 Mei 2025 Accepted : 28 Mei 2025 Annida Mujahidah Nurul Azmi. Yulistia Budianti Soemarie*. Juwita Ramadhani Fakultas Farmasi. Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari. Kalimantan Selatan. Indonesia. Email: azmiannida@gmail. ABSTRAK Ulkus diabetikum adalah luka pada kaki penderita diabetes yang sulit disembuhkan dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Terapi antibiotik merupakan salah satu pilihan pengobatan bagi penderita ulkus diabetikum. Penggunaan antibiotik yang berlebihan dapat menyebabkan resistensi, yang dapat membuat terapi menjadi kurang berhasil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase penggunaan antibiotik yang rasional dan pengaruhnya terhadap luaran terapi pada pasien ulkus diabetikum. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persentase penggunaan antibiotik yang rasional dan pengaruhnya terhadap luaran terapi pada pasien ulkus diabetikum di Rumah Sakit Banjarmasin. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan metode cross-sectional dan pengambilan data pada penelitian ini dilakukan secara retrospektif selama periode Juli-Desember 2023. Rasionalitas penggunaan antibiotik dievaluasi menggunakan metode Gyssens dan korelasi rasionalitas dengan luaran terapi dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Subjek penelitian adalah 94 pasien dengan ulkus diabetikum yang memenuhi kriteria inklusi. Rasionalitas penggunaan antibiotik dengan kategori Gyssens berada pada kategori 0 . sebanyak 65 pasien . %), kategori IIb . nterval tidak tepa. sebanyak 3 pasien . %), kategori ia . erlalu singka. sebanyak 10 pasien . %), kategori ib . erlalu lam. sebanyak 6 pasien . %), kategori IVa . ebih efekti. sebanyak 3 pasien . %), dan kategori IVc . lternatif yang lebih mura. sebanyak 7 pasien . %). Hasil Uji Chi-Square menyatakan bahwa ada korelasi yang bermakna antara rasionalitas penggunaan antibiotik dengan luaran terapi berupa penurunan derajat ulkus diabetikum. 69% pasien mendapatkan terapi antibiotik yang rasional dan 31% mendapatkan terapi yang tidak rasional berdasarkan metode Gyssens dan ditemukan adanya korelasi antara rasionalitas penggunaan antibiotik dengan luaran terapi berupa penurunan derajat ulkus diabetikum Kata kunci: antibiotik. Gyssens, ulkus Diabetikum ABSTRACT Diabetic ulcers are wounds on the feet of diabetics that are difficult to heal and have the potential to cause serious complications. Antibiotic therapy is one of the treatment options for patients with diabetic ulcers. Overuse of antibiotics can lead to resistance, which can make therapy less successful. This study aims to determine the percentage of rational antibiotic use and its effect on therapy outcomes in diabetic ulcer patients. This study aims to identify the percentage of rational antibiotic use and its effect on therapeutic outcomes in diabetic ulcer patients in Banjarmasin Hospital. This study was an observational study with a cross-sectional method and data collection in this study was carried out retrospectively during the period July-December 2023. The rationality of antibiotic use was evaluated using the Gyssens method and the correlation of rationality with therapeutic outcomes was analyzed using the chi square test. The study subjects were 94 patients with diabetic ulcers who met the inclusion criteria. The rationality of antibiotic use with the Gyssens category was in category 0 . for 65 patients . %), category This open access article is distributed under a Creative Commons Attribution (CC-BY-NC-SA) 4. 0 International license. Copyright . 2025 Jurnal Ilmiah Manuntung How to Cite . SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SAMARINDA Azmi AMN. Soemarie YB. Ramadhani J. RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DIABETES MELITUS DENGAN ULKUS DIABETIKUM DI BANJARMASIN. KALIMANTAN SELATAN. INDONESIA. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan. : 56Ae64. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 56-64, 2025 IIb . nappropriate interva. for 3 patients . %), category ia . oo shor. for 10 patients . %), category ib . oo lon. for 6 patients . %), category IVa . ore effectiv. for 3 patients . %), and category IVc . heaper alternativ. for 7 patients . %). The results of the Chi-Square Test state that there is a significant correlation between the rationality of antibiotic use and therapeutic outcomes in the form of a decrease in the degree of diabetic ulcers. 69% of patients received rational antibiotic therapy and 31% received irrational therapy based on the Gyssens method and there was a correlation between the rationality of antibiotic use and therapeutic outcomes in the form of a decrease in the degree of diabetic ulcers. Keywords: Antibiotic. Diabetic Ulcer. Gyssens PENDAHULUAN Ulkus diabetikum adalah salah satu komplikasi utama diabetes mellitus di mana pasien dengan ulkus kaki berisiko tinggi untuk diamputasi dan bahkan kematian. Sekitar 15% pasien diabetes mengalami ulkus kaki dan 15-20% di antaranya memerlukan amputasi . Ulkus diabetes diklasifikasikan menjadi tiga jenis berdasarkan etiologinya: neuropatik murni . %), iskemik murni . %), dan neuroiskemik campuran. Klasifikasi ini didasarkan pada ada atau tidaknya neuropati perifer dan kehilangan sensorik pada saraf . , penyakit arteri perifer, iskemik atau bahkan keduanya . Pemberian terapi antibiotik adalah terapi yang diberikan kepada pasien diabetes dengan ulkus diabetikum. Penyalahgunaan antibiotik dapat menyebabkan resistensi, peningkatan efek samping, biaya perawatan kesehatan yang lebih tinggi, dan bahkan Metode Gyssens digunakan untuk menilai ketepatan penggunaan antibiotik dengan 8 kriteria yang mengevaluasi berbagai aspek seperti indikasi, pemilihan, dosis, durasi, dan efektivitas. Setiap kriteria dinilai sebagai rasional atau tidak rasional, dengan total skor 0-8 yang menunjukkan tingkat kesesuaian penggunaan antibiotik. Penelitian di sebuah rumah sakit di Kudus menemukan bahwa hanya 11% pasien yang menerima terapi antibiotik yang rasional dengan antibiotik tunggal terbanyak yakni dari golongan sefalosporin, yaitu seftriakson . %) sedangkan antibiotik kombinasi yang paling banyak digunakan adalah dari golongan sefalosporin dan nitroimidazol, yaitu Sefotaksim dan Metronidazol . %) . , selain itu penelitian serupa juga dilakukan oleh Sunarti pada tahun 2022 yakni sebanyak 65% dari 65 pasien mendapatkan terapi yang rasional, sedangkan 35% pasien tidak mendapatkan terapi yang rasional dengan jumlah terbanyak pada kategori IVa (Pilihan terapi yang lebih efekti. dengan presentase 15% . Rumah Banjarmasin. Kalimantan Selatan berfungsi sebagai fasilitas kesehatan yang ditunjuk untuk merawat dan menangani orang yang didiagnosis diabetes mellitus dengan ulkus Rumah sakit ini telah mengalami peningkatan yang signifikan dalam jumlah pasien ulkus diabetikum. Hal ini terlihat dari data yang menunjukkan bahwa pada tahun 2022 terdapat 967 pasien dan meningkat secara signifikan menjadi 1. 194 pasien pada Pemilihan sampel dilakukan pada periode Juli-Desember 2023 karena pada periode tersebut ditemukan jumlah sampel terbanyak, yaitu sebesar 684 pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase penggunaan antibiotik yang rasional dan pengaruhnya terhadap luaran terapi pada pasien ulkus diabetikum. METODE PENELITIAN Bahan dan Alat Penelitian ini menggunakan pendekatan retrospektif dengan metode cross-sectional. Informasi dikumpulkan dengan meninjau rekam medis yang dirangkum dalam formulir pengumpulan data dari Rumah Sakit di Banjarmasin. Rekam medis yang digunakan adalah rekam medis pasien yang berada pada rentang bulan Juli sampai Desember 2023 dan mencakup individu yang didiagnosis diabetes melitus dan ulkus diabetikum yang mendapatkan rawat jalan di rumah sakit di Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 56-64, 2025 Literatur primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pedoman Penggunaan Antibiotik (PPAB) dan Panduan Praktik Klinis (PPK) dari rumah sakit di Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Apabila antibiotik yang diberikan tidak tercantum dalam pedoman tersebut, maka penelusuran dilanjutkan pada Peraturan Menteri Kesehatan No. Tahun 2021 tentang Pedoman Penggunaan Antibiotik, pedoman terapi dari Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), dan pedoman pada International Working Group on the Diabetic Foot (IWGDF). Literatur yang digunakan terkait dengan karakteristik obat, yaitu Lexicomp Drug Information Handbook atau Drug Information Handbook. PIONAS atau jurnal terkait. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah pasien diabetes melitus dengan diagnosis ulkus diabetikum yang memiliki klasifikasi Wagner, pasien dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan, pasien yang mendapatkan terapi antibiotik dan pasien dengan data rekam medik yang Kriteria eksklusi adalah pasien diabetes melitus dengan infeksi selain ulkus penurunan derajat ulkus yang disajikan dalam bentuk persentase. Analisis bivariat kemudian dilakukan dengan menggunakan uji chi-square untuk melihat korelasi antara rasionalitas penggunaan antibiotik berdasarkan metode Gyssens dengan luaran terapi berupa penurunan derajat ulkus HASIL DAN DISKUSI Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banjarmasin. Kalimantan Selatan dengan nomor referensi 13/II-Reg Penelitian/ RSUDU/24. Penelitian karakteristik demografi pasien, meliputi usia, jenis kelamin, penyakit penyerta, frekuensi derajat ulkus dan penggunaan antibiotik yang meliputi jenis, golongan dan rute pemberian. Sebanyak 94 responden yang memenuhi kriteria inklusi dengan ulkus diabetikum di rumah sakit di Banjarmasin dengan data rekam medik periode Juli-Desember 2023. Karakteristik Pasien Usia Data yang disajikan pada tabel 1 menunjukkan bahwa kelompok usia 19-65 tahun memiliki prevalensi yang lebih tinggi dengan nilai 66%. Usia produktif . -65 tahu. merupakan rentang usia dimana seseorang berada dalam kondisi prima untuk melakukan berbagai hal, pada usia ini ditemukan gaya hidup seperti konsumsi alkohol, garam, merokok, dan kurangnya aktivitas fisik yang dapat menimbulkan gejala komplikasi diabetes di usia dini termasuk ulkus diabetikum . Metode Penelitian Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 27. 0, dengan tingkat signifikansi yang ditetapkan pada <0,05 untuk menunjukkan hubungan yang signifikan antar variabel. Analisis univariat, yang melibatkan statistik deskriptif, dilakukan untuk memperoleh karakteristik pasien, distribusi penggunaan antibiotik, penilaian kualitas antibiotik dengan menggunakan metode Gyssens, dan luaran terapi berupa Table 1. Karakteristik Pasien Karakteristik Pasien N= 94 Kelompok 19-65 tahun Di atas 65 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 56-64, 2025 Jumlah Penyakit Penyerta Tipe Penyakit Penyerta Hipertensi Dislipidemia Jantung Asam Urat Retinopati Neuropati Tukak Lambung Klasifikasi Wagner Derajat 1 Derajat 2 Derajat 3 Derajat 4 Derajat 5 Jenis Kelamin Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien ulkus diabetikum berjenis kelamin perempuan, yaitu sebanyak 53% dari Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Setyoningsih pada 2022 yang juga menemukan bahwa perempuan merupakan mayoritas pasien diabetes tipe 2 dan komplikasi ulkus diabetikum. Hal ini dapat diakibatkan oleh adanya penurunan produksi estrogen seiring bertambahnya usia wanita, yang menyebabkan peningkatan resistensi insulin . Stres oksidatif yang berkepanjangan pada individu dengan diabetes dapat meningkatkan produksi spesies oksigen reaktif (ROS) dalam mitokondria, yang menyebabkan aktivasi peroksidasi lipid. Jika tidak dieliminasi oleh sistem antioksidan tubuh, hal ini dapat menyebabkan disfungsi sel dan bahkan kematian sel, yang pada akhirnya menghambat proses penyembuhan pada ulkus . Klasifikasi Wagner Distribusi derajat ulkus diabetikum dibagi menjadi 5 kategori dengan menggunakan skala Wagner. Derajat II memiliki jumlah penderita terbanyak yaitu sebanyak 45%, penelitian ini sejalan dengan Nisak pada 2021 bahwa hasil klasifikasi derajat ulkus pada responden didominasi oleh derajat 2 pada klasifikasi Wagner dengan persentase pasien sebanyak 60% . Bakteri yang paling banyak ditemukan pada kultur mikrobiologi yang menginfeksi derajat 2 adalah bakteri Gram positif (Clostridium spp. Staphylococcus aureus. Staphylococcus epidermidis. Streptococcus pyrogene. dan bakteri Gram negatif (Klebsiella pneumonia. Penyakit Penyerta (Komorbi. Data pada tabel 1 menunjukkan bahwa 69% pasien memiliki beberapa komorbiditas, sementara 31% hanya memiliki satu komorbiditas. Dua penyakit penyerta . teratas adalah hipertensi . %) dan dislipidemia . %). Hipertensi dan dislipidemia terjadi akibat adanya stres oksidatif yang disebabkan oleh tingginya kadar lipid dan glukosa dalam darah. Stres oksidatif ini dapat menyebabkan penumpukan plak dalam pembuluh darah yang mengakibatkan tekanan darah tidak Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 56-64, 2025 sefiksim dengan klindamisin, metronidazol dengan klindamisin, serta metronidazol dengan sefiksim dengan presentase masingmasing sebesar 21%, 11%, dan 6% di mana kombinasi sefiksim . efalosporin generasi ketig. dan klindamisin . dalam terapi ulkus diabetikum bekerja secara sinergis untuk melawan infeksi bakteri. Sefiksim bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel bakteri gram positif dan gram negatif, sedangkan klindamisin menghambat sintesis protein bakteri gram positif anaerob dan aerob. Kombinasi ini efektif terhadap berbagai bakteri yang umumnya terdapat pada infeksi ulkus diabetikum, termasuk Staphylococcus aureus. Enterococcus spp. dan Pseudomonas aeruginosa . Proteus sp. El coli. Pseudomonas aeroginosa. Acinetobacter spp dan Enterococcus sp. serta bakteri anaerob (Prevotella spp. Peptostreptococcus sp. Tabel 2 menunjukkan terapi antibiotik tunggal yang paling banyak digunakan adalah golongan antibiotik makrolida seperti Temuan ini serupa dengan Mukti pada tahun 2022 bahwa antibiotik tunggal yang paling banyak digunakan adalah klindamisin dimana golongan makrolida bekerja dengan cara menghambat sebagian besar kokus Gram positif dan sebagian besar bakteri anaerob dengan cara memodifikasi atau menghambat sintesis protein . Penggunaan antibiotik kombinasi paling banyak pada terapi pemberian Tabel 2. Distribusi Penggunaan Antibiotik Klasifikasi Terapi Antibiotik Terapi Tunggal Klindamisin Sefiksim Siprofloksasin Metronidazol Rifampisin Levofloksasin Sefadroksil Amoksisilin Kotrimoksazol Terapi Kombinasi Sefiksim Klindamisin Metronidazol Klindamisin Metronidazol Sefiksim Metronidazol Siprofloksasin Klindamisin Siprofloksasin Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Tabel 3 menunjukkan penggunaan antibiotik di antara 94 pasien dengan menggunakan metode Gyssens. Sebanyak tiga orang diberikan antibiotik yang tidak efektif . ategori IV. karena tidak sesuai dengan hasil kultur. Sebagai contoh, dua pasien dengan ulkus diabetikum derajat 1 dengan infeksi Staphylococcus aureus pada awalnya menerima antibiotik rifampisin. Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan kultur, akan lebih tepat jika mereka menerima Linezolid . ensitivitas 100%). Kotrimoksazol . ensitivitas 95%), atau N= 94 Tetrasiklin . ensitivitas 78%) karena data sensitivitas rifampisin tidak tersedia . Pasien lainnya dengan ulkus diabetikum derajat 1 Wagner diobati dengan antibiotik levofloksasin, yang tidak sesuai dengan pedoman Infectious Diseases Society of America tahun 2023 bahwa terapi antibiotik levofloksasin direkomendasikan untuk ulkus derajat Wagner 3-4, sehingga penggunaannya dalam kasus ini dianggap tidak tepat. Untuk infeksi ringan-sedang, antibiotik makrolida seperti klindamisin dapat dipertimbangkan untuk pemberian antibiotik . Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 56-64, 2025 Pada kategori IVc, tujuh pasien menerima antibiotik bermerek, yang meliputi metronidazol, cefixime, ciprofloxacin dan Antibiotik bermerek memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan dengan antibiotik generik. Distribusi penggunaan antibiotik yang dinilai tidak rasional pada terapi ulkus diabetikum di RSUD Kota Banjarmasin pada periode penelitian berdasarkan kategori Gyssens paling banyak terjadi pada kategori ia . %), terdapat 10 kasus pemberian antibiotik yang dinilai terlalu lama, yaitu pemberian tunggal sefiksim, klindamisin, dan metronidazol selama lebih dari 10 hari yang seharusnya hanya digunakan maksimal 7 hari . Dalam kasus ini, 10 pasien diobati dengan antibiotik dalam jangka waktu yang terlalu lama atau termasuk dalam kategori ia. Sebanyak 5 pasien diberikan metronidazol selama 10 hari . , 3 pasien selama 6 hari dan 2 pasien mendapatkan antibiotik sefiksim selama 10 hari dimana klindamisin dan sefiksim hanya dianjurkan pada pasien ulkus diabetikum selama 3-5 hari . Keputusan pemberian antibiotik dalam jangka waktu yang lama mungkin disebabkan oleh tidak adanya perbaikan pada kondisi klinis pasien. Namun, penggunaan antibiotik yang berlebihan, termasuk terapi antibiotik spektrum luas jangka panjang, dapat meningkatkan resistensi antibiotik dan menyebabkan efek samping pada sekitar 20% dari keseluruhan pasien, mulai dari reaksi alergi hingga infeksi Clostridioides . Table 3. Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Diabetes Melitus Dengan Ulkus Diabetikum Luaran Klinis Derajat Ulkus Kategori Parameter N=94 IVa IVb IVc IVd ia ib IIa IIb IIc Data Lengkap Ada Indikasi Antibiotik Pilihan antibiotik yang efektif Alternatif yang kurang toksik Alternatif yang lebih murah Spektrum yang lebih sempit Durasi yang kebih panjang Durasi yang lebih pendek Dosis yang tepat Interval yang tepat Rute yang tepat Waktu yang tepat Sesuai/ Rasional Membaik Tidak Tidak Membaik Berubah Table 4. Correlation of Antibiotic Use Rationality With Therapeutic Outcomes Rasionalitas Rasional Tidak Rasional Luaran Klinis Derajat Ulkus Membaik Tidak Membaik Tidak Berubah Pada kategori ib . urasi pemberian terlalu singka. , dengan total jumlah sebanyak 6 pasien yang mendapatkan terapi kombinasi klindamisin dan sefiksim pada terapi diabetes melitus dengan ulkus P-Value 0,039 diabetikum dengan derajat Wagner 1 dan memiliki durasi terapi terlalu singkat yaitu selama 2 hari dimana menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2021 penggunaan antibiotik Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 56-64, 2025 untuk diabetes melitus dengan ulkus diabetikum diberikan dengan durasi selama 3-5 hari . Temuan lain pada penelitian ini yaitu terdapat 3 kasus penggunaan antibiotik yang tidak rasional pada kategori IIb, yaitu tidak tepat interval waktu pemberian, dimana ditemukan pemberian siprofloksasin 3 kali sehari dinilai terlalu banyak, sedangkan menurut literatur siprofloksasin hanya diberikan 2 kali sehari . Begitu pula dengan pemberian levofloksasin 2 kali sehari dinilai terlalu banyak, sedangkan menurut literatur levofloksasin hanya diberikan 1 kali sehari. Hubungan antara rasionalitas dengan hasil terapi ditunjukkan pada tabel 4. Luaran terapi adalah kondisi derajat ulkus sesuai data terakhir pada rekam medik pasien berupa peningkatan derajat ulkus . engindikasikan status infeksi yang semakin melua. , penurunan derajat ulkus . engindikasikan penggunaan antibiotik yang rasiona. atau derajat ulkus yang tidak berubah setelah diberikan antibiotik dalam jangka waktu Analisis uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara rasionalitas penggunaan antibiotik dengan penurunan derajat ulkus dengan nilai p-value <0,05 . =0,. pada pasien diabetes melitus dengan ulkus diabetikum periode Juli-Desember 2023. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Stiyanto yang dilakukan pada tahun 2020 bahwa terdapat hubungan yang cukup bermakna antara rasionalitas penggunaan antibiotik dengan luaran klinis pasien . enurunan ulkus membaik/tidak membai. di Rumah Sakit Bagas Waras Klaten . Pada penelitian ini rasionalitas didefinisikan sebagai kesesuaian penggunaan obat dengan Adanya hubungan yang signifikan antara rasionalitas dengan luaran klinis pasien juga sejalan dengan penelitian Sugiyono pada 2019 yang menemukan adanya hubungan antara kesesuaian penggunaan antibiotik dengan luaran klinis pada pasien ulkus diabetikum di RSUD Kota Yogyakarta dengan menggunakan hasil uji analisis ChiSquare . Penggunaan antibiotik memerlukan perhatian khusus untuk meningkatkan kualitas hasil terapi dan mencegah resistensi antimikroba. Indikator pengendalian resistensi antibiotik adalah dengan melakukan evaluasi penggunaan antibiotik yang akan mengacu pada peresepan antibiotik yang rasional. Dengan pemberian antibiotik yang rasional diharapkan dapat mempengaruhi kualitas terapi dan pengendalian resistensi antimikroba Keberhasilan terapi pada pasien ulkus diabetikum dapat dilihat dari luaran klinis seperti penurunan suhu tubuh, penurunan jumlah leukosit sebagai tanda adanya infeksi, penurunan derajat luka atau penurunan ukuran luka atau amputasi . Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara rasionalitas dengan penurunan derajat ulkus diabetikum, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi persentase rasionalitas maka semakin rendah derajat ulkus diabetikum . SIMPULAN Rasionalitas penggunaan antibiotik dengan kategori Gyssens berada pada kategori 0 . sebanyak 65 pasien . %), kategori IIb . nterval tidak tepa. sebanyak 3 pasien . %), kategori ia . erlalu pende. sebanyak 10 pasien . %), kategori ib . erlalu panjan. sebanyak 6 pasien . %), kategori IVa . ebih efekti. sebanyak 3 pasien . %), dan kategori IVc . lternatif yang lebih mura. sebanyak 7 pasien . %) dan terdapat hubungan yang signifikan antara rasionalitas penggunaan antibiotik dengan luaran terapi yaitu penurunan derajat ulkus diabetikum dengan uji Chi-Square diperoleh nilai p-value UCAPAN TERIMAKASIH Fakultas Farmasi. Universitas Islam Kalimantan. Muhammad Arsyad Al-Banjari Banjarmasin dan Kepala Instalasi Rekam Medis sebuah Rumah Sakit di Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Indonesia. DAFTAR PUSTAKA